Jumat, 14 Februari 2014

Kapal angkut BBM terbesar sejagat milik Pertamina

Jakarta Sebuah kapal nampak mencolok di dermaga Tanjung Uban, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Badan kapal berwarna oranye menyala, bertuliskan 'Pertamina Gas I' dalam huruf putih di ujung depan kedua sisi kapal itu.

Sebelum berlabuh di Indonesia, kapal itu menempuh perjalanan panjang dari Korea Selatan. Pada 23 September 2013, moda transportasi laut berjenis very large gas carrier (VLGC) itu rampung dan siap dikirim ke Tanah Air.

Dengan tulisan di badan kapal sudah bisa ditebak bahwa kapal itu milik PT. Pertamina. Kehadiran kapal itu menambah jumlah armada pengangkut dan pendistribusi BBM milik Pertamina. Saat ini Pertamina memiliki 57 kapal pengangkut BBM.

Kapal ini disebut-sebut memenuhi persyaratan badan klasifikasi International yang disertifikasi oleh Lloyd Register Inggris itu. Bahkan, Pertamina mengklaim kapal ini sebagai kapal pengangkut BBM terbesar di dunia. Kapal ini jadi kebanggaan Pertamina karena ukurannya terbesar sejagat buat kategori pengangkut produk migas.

Pembelian kapal ini merupakan bagian dari Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2012-2016. Selama periode itu, perusahaan pelat merah ini menggelontorkan dana hingga USD 2,4 miliar.

Pertamina sejak lama terlalu bergantung pada penyewaan kapal swasta untuk distribusi bahan bakar di Tanah Air. Total, perusahaan pelat merah itu mengoperasikan 187 kapal untuk kepentingan distribusi.

Merdeka.com merangkum fakta-fakta seputar kapal terbesar di dunia milik perusahaan pelat merah ini. Berikut paparannya.

1. Telan dana Rp 918 miliar


PT Pertamina (Persero) selaku pemilik kapal girang luar biasa. Setelah berbulan-bulan digarap para pekerja Hyundai Heavy Industries di Kota Ulsan, Korsel, akhirnya pengangkut elpiji itu lahir.

Dengan adanya 'Pertamina Gas I', maka BUMN energi itu memiliki 57 kapal secara keseluruhan untuk mendistribusikan BBM. Pembuatan kapal dimulai pada 26 Januari 2012, menelan dana hingga USD 76 juta atau setara Rp 918,4 miliar.

2. Terbesar di dunia

PT Pertamina (Persero) resmi mendapat tambahan armada pengangkutan elpiji untuk distribusi ke Indonesia Timur. Penyerahan resmi kapal diberi nama Pertamina Gas I oleh Hyundai asal Korea Selatan selaku pabrikan perakit akan dilakukan Selasa (12/2), di Tanjung Uban, Batam, Kepulauan Riau.

Kapal berjenis Very Large Gas Carrier (VLGC) ini diklaim Badan Usaha Milik Negara bidang energi itu sebagai kapal yang tak punya pesaing dari segi ukuran.

"Ini merupakan kapal VLGC terbesar pertama di dunia yang dibangun dengan kerjasama antara Pertamina dan Hyundai selaku galangan kapal terbesar dunia," kata Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya di Batam, Selasa (11/2).

3. Ukuran dua kali lapangan sepak bola


Kapal ini jadi kebanggaan Pertamina karena ukurannya terbesar sejagat buat kategori pengangkut produk migas. Panjang 'Pertamina Gas I' kurang lebih dua kali lapangan bola. Sementara lebar kapal ini mencapai 36 meter, kedalaman 22,3 meter, bobot mati 54,4 ton, dan sanggup membawa muatan 84.000 cubic metric (setara dengan 50.000 ton) elpiji.

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya yang juga hadir di kesempatan itu ikut bungah. Dia mengklaim, kendati digarap Hyundai, insinyur dari pihaknya ikut berperan merancang kapal pengangkut terbesar di dunia ini.

"Kerja sama tersebut dimulai dari tahapan desain, pengawasan hingga pengiriman dari Korea Selatan ke Indonesia juga diawaki penuh oleh crew Pertamina," serunya.

4. Gudang penyimpanan BBM

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya bangga, kapal raksasa itu multifungsi. Tak cuma buat mengangkut elpiji, tapi bisa pula difungsikan sebagai gudang penyimpanan BBM bergerak (floating storage).

"Sekaligus sebagai dermaga untuk memindahkan muatan ke kapal-kapal elpiji kecil untuk distribusi ke berbagai wilayah," kata dia.

Mulai sekarang, lautan Indonesia akan dijelajahi oleh kapal berukuran jumbo ini. Pertamina sudah menegaskan, prioritas distribusi 'Pertamina Gas I' adalah kawasan timur Indonesia.

5. Buah karya Indonesia-Korea Selatan

Perusahaan pelat merah ini menggandeng pabrikan Hyundai asal Korea Selatan buat memproduksi kapal tersebut. Biaya produksinya menelan dana hingga USD 76 juta.

Hanung mengatakan insinyur Pertamina ikut mendesain kapal itu, buat disesuaikan dengan kebutuhan pengangkutan di wilayah perairan Tanah Air.

Kerja sama Pertamina-Hyundai berjalan dari tahapan desain, pengawasan hingga delivery dari Korea Selatan ke Indonesia juga diawaki penuh kru Pertamina.

Hanung mengklaim biaya sewa kapal Pertamina bisa ditekan dengan kepemilikan alat angkut sendiri. Itu sebabnya VLGC buatan Korsel ini diarahkan ke rute-rute distribusi yang berbiaya tinggi, terutama Indonesia timur. (mdk/noe)

  ♞ Merdeka  

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More