blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label Satelit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Satelit. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Agustus 2026

BRIN Kembangkan Satelit Generasi 4

  Ditargetkan Meluncur 2027 BRIN Kembangkan Satelit Generasi 4, NEO-1. (BRIN))

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah berhasil meluncurkan tiga satelit nasional. Saat ini, Indonesia tengah mengembangkan satelit generasi ke empat yang ditargetkan meluncur tahun 2027.

Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Nur Salma Yusuf Hasanah, mengatakan satelit yang sedang dikembangkan itu adalah NEO-1.

Satelit ini akan melakukan observasi Bumi melalui penyediaan data citra satelit beresolusi tinggi dan menengah. Data tersebut akan dimanfaatkan untuk pemetaan wilayah, pemantauan pertanian dan kehutanan, pemantauan lingkungan, mitigasi bencana, dan pemantauan aktivitas kapal melalui sistem AIS (Automatic Identification System).

"Saat ini, satelit tersebut telah memasuki tahap pengujian dan integrasi. Satelit NEO-1 memiliki misi utama," ungkap Salma dikutip dari laman BRIN, Selasa (18/8/2026).

Pengembangan NEO-1 ini merupakan bagian dari upaya BRIN memperkuat kemandirian teknologi satelit nasional. Sebelumnya, BRIN telah meluncurkan satelit LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT, LAPAN-A2/LAPAN-ORARI, dan LAPAN-A3/LAPAN-IPB. Satelit-satelit ini memiliki misi yang berbeda.

 3 Generasi Satelit Indonesia

 1. Satelit LAPAN A-1

LAPAN-A1 merupakan satelit eksperimental generasi pertama yang telah beroperasi untuk observasi Bumi.

"LAPAN-A1 diluncurkan menggunakan roket Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV) C7 milik India pada 10 Januari 2007. Meski diperkirakan hanya beroperasi selama dua hingga tiga tahun, satelit tersebut hingga kini masih dapat menerima perintah dari operator, meskipun muatan kameranya sudah tidak berfungsi," ujar Salma dalam laman BRIN dikutip Selasa (18/8/2026).

 2. Satelit LAPAN A-2

Kemudian satelit LAPAN-A2 merupakan satelit eksperimental generasi kedua yang proses perancangannya sepenuhnya dilakukan di dalam negeri.

Satelit tersebut diluncurkan menggunakan roket PSLV 
C30 pada 28 September 2015 dan bertugas untuk observasi Bumi, mitigasi bencana, dan pemantauan kapal. 

 3. Satelit LAPAN A-3

Terakhir adalah LAPAN-A3 yang diluncurkan menggunakan roket PSLV C34 pada 22 Juni 2016.

Menurut Salma, LAPAN-A3 memiliki misi AIS serupa dengan LAPAN-A2, tetapi dengan cakupan data yang lebih luas.

Satelit ini dilengkapi kamera multispektral untuk memantau vegetasi, spacecam, dan magnetometer untuk memantau medan magnet Bumi. (nir/nah)

  💡  detik  

Jumat, 07 Agustus 2026

Mengenal Lampung-1, Satelit AI Pertama Indonesia

Roket pengangkut Jielong-3 Y12 lepas landas dari perairan lepas pantai Kota Haiyang, Provinsi Shandong, China timur, pada 5 Agustus 2026. Roket tersebut membawa satelit hiperspektral kembar Oriental Smart Eye (OSE), yakni Hyperspectral-01 dan Hyperspectral-02, ke orbit yang telah ditentukan. Satelit OSE Hyperspectral-01, yang diberi nama Lampung-1 oleh pihak Indonesia, merupakan hasil kerja sama sejumlah institusi dari China dan Indonesia. (Xinhua/Song Xiongye)(XINHUA/SONG XIONGYE)

Satelit Oriental Smart Eye (OSE) Hyperspectral-01 yang dinamai Lampung-1, resmi meluncur dari perairan lepas pantai Kota Haiyang, Provinsi Shandong, China, Rabu (5/8/2026) pagi.

Peluncuran satelit itu menggunakan roket pengangkut Jielong-3 Y12 ini dikembangkan bersama oleh perusahaan antariksa China, STAR.VISION, Universitas Wuhan, dan Pemerintah Provinsi Lampung, serta didukung penuh oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Lampung-1 mengukir sejarah sebagai satelit AI hiperspektral pertama milik Indonesia sekaligus satelit perdana dalam Konstelasi Satelit AI China-ASEAN.

 Spesifikasi satelit Lampung-1

Dikutip dari Xinhua, satelit Lampung-1 dirancang dengan spesifikasi teknis tinggi untuk memproses data secara mandiri di luar angkasa.

Satelit ini memiliki bobot sebesar 300 kilogram dan dibekali kapasitas komputasi AI mencapai 400 TOPS.

Keunggulan komputasi ini memungkinkan proses pencitraan, identifikasi, hingga evaluasi data dilakukan langsung di orbit sebelum dikirim kembali ke Bumi.

Selain itu, Lampung-1 membawa 22 saluran spektral yang mencakup rentang panjang gelombang 400 hingga 1.650 nanometer.

Satelit ini menawarkan resolusi spasial hingga 5 meter dengan lebar cakupan pencitraan mencapai 300 kilometer, serta didukung siklus kunjungan ulang global setiap 5 hari sekali.

Berkat pemrosesan AI di orbit, Lampung-1 hanya mengunduh hasil analisis akhir yang sudah matang sehingga transmisi data ke stasiun darat menjadi jauh lebih cepat dan efisien.

 Bermanfaat bagi sektor strategis Indonesia

Keberadaan Satelit Lampung-1 memberikan dukungan teknologi yang sangat signifikan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alam.

Pada sektor pertanian, desain spektral Lampung-1 yang disesuaikan dengan karakteristik geografis Indonesia, mampu mengidentifikasi kesehatan vegetasi, menganalisis kesuburan tanah, hingga memprediksi hasil panen secara presisi.

Untuk bidang maritim dan perairan, satelit ini dapat diandalkan dalam mengelola ekosistem laut, memantau wilayah pesisir, serta mendeteksi perubahan kualitas air.

Sementara, pada sektor kebencanaan dan ekologi, Lampung-1 mampu mengevaluasi dampak bencana alam secara langsung dari orbit untuk mempercepat mitigasi dan pemetaan area terdampak.

Tak hanya itu, analisis respons spektralnya juga sangat berguna untuk tata kelola sumber daya mineral dan pemetaan komposisi tanah nasional.

Perwakilan STAR.VISION menegaskan, desain spektral Lampung-1 dirancang dengan mempertimbangkan struktur industri dan geografis lokal, sehingga sangat ideal untuk pemantauan pertanian, pengelolaan sumber daya laut, dan penanganan bencana alam di Indonesia.

 Kerja sama berkelanjutan

Pengembangan Satelit Lampung-1 berawal dari penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Provinsi Lampung dengan STAR.VISION dan para mitra di China pada Mei 2025.

Proyek ini kemudian diperkuat melalui kolaborasi dengan BRIN, termasuk penerapan platform penginderaan jauh TerraVista serta program perintis data satelit.

Selain memperkuat kapasitas riset nasional, keberhasilan Lampung-1 mencapai orbit menjadi tonggak penting dalam pengerahan Konstelasi Satelit AI China-ASEAN.

Mengusung prinsip pembangunan bersama dan manfaat bersama, inisiatif ini bertujuan membangun infrastruktur cerdas spasio-temporal lintas perbatasan guna mendorong pertumbuhan ekonomi digital serta keamanan lingkungan di kawasan Asia Tenggara.

 Berikut video dari Youtube :


  📡  Kompas  

Selasa, 14 April 2026

Indonesia Gandeng Rusia Bangun Fasilitas Peluncuran Roket di Papua

Bandar Antariksa dibangun di Biak (Times Indonesia)

Indonesia mendorong penguatan kerja sama dengan Rusia dalam pengembangan sektor antariksa, termasuk rencana pembangunan fasilitas peluncuran roket (spaceport) di Biak, Papua, sebagai bagian dari upaya menuju kemandirian teknologi.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Profesor Arif Satria, mengatakan kerja sama tersebut menjadi salah satu fokus utama Indonesia dalam forum Cosmonautics Day di Rusia.

Tujuan utama kunjungan kami adalah untuk mempromosikan kegiatan antariksa Indonesia dan memperkuat kerja sama dengan Rusia, khususnya dalam pengembangan sektor antariksa,” kata Arif dalam wawancara dengan Russia Today, Senin, 13 April 2026.

Ia menjelaskan, Indonesia saat ini tengah mempersiapkan pembangunan spaceport di Pulau Biak sebagai bagian dari pengembangan ekosistem antariksa nasional.

Kami sedang mempersiapkan pembangunan spaceport di Indonesia, khususnya di Pulau Biak di Papua. Ini sangat penting untuk menunjukkan komitmen kami dalam mengembangkan ekosistem antariksa, termasuk ekonomi antariksa,” ujarnya.

Menurut Arif, kerja sama dengan Rusia dinilai strategis mengingat negara tersebut merupakan salah satu pemimpin global dalam teknologi antariksa.

Dalam kunjungannya, Arif juga melakukan pertemuan dengan pimpinan Roscosmos, termasuk Direktur Jenderal Dmitry Bakanov, guna membahas skema kerja sama antara BRIN dan badan antariksa Rusia tersebut.

Selain itu, pembahasan juga dilakukan dengan Glavkosmos terkait persiapan pembangunan fasilitas peluncuran di Biak.

Pengembangan dan pengoperasian kosmodrom berbasis peluncuran Rusia di Indonesia menjadi salah satu fokus utama kerja sama kami,” jelas Arif.

Ia menegaskan, Indonesia menargetkan kemandirian di sektor antariksa melalui penguatan kapasitas teknologi dan pembangunan ekosistem yang lebih luas. “Indonesia berupaya mengembangkan kemandirian di sektor antariksa,” tegasnya.

Selain pembangunan infrastruktur, Indonesia juga tengah menyiapkan peluncuran satelit generasi baru, yang akan memiliki kemampuan lebih baik untuk mendukung pemantauan lingkungan, ketahanan pangan, dan mitigasi bencana.

Pada akhir 2026, kami berencana meluncurkan mikrosatelit baru dengan resolusi dan kemampuan yang lebih baik,” jelas Arif.

Dengan pengembangan spaceport di Biak, Indonesia menargetkan dapat melakukan peluncuran satelit secara mandiri di masa depan, yang akan menjadi tonggak penting dalam pengembangan sektor antariksa nasional.

Di masa lalu, kita fokus pada sumber daya darat dan maritim. Kini, antariksa menjadi frontier baru untuk pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Arif menambahkan, Indonesia menargetkan menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki fasilitas spaceport sendiri, dengan dukungan teknologi dan pengalaman dari Rusia.

  📡 
 Metro TV  

Minggu, 05 April 2026

Rusia-Belarus Siap Jajaki Kerja Sama Antariksa dengan Indonesia

Bandar Antariksa dibangun di Biak (Times Indonesia)

Rusia dan Belarus menyatakan kesiapan mereka untuk menjalin kerja sama strategis dengan Indonesia dalam bidang antariksa, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga eksplorasi ruang angkasa.

Pernyataan ini disampaikan dalam acara peletakan karangan bunga di Monumen Yuri Gagarin yang menjadi bagian dari peringatan Hari Kosmonautika.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menegaskan negaranya memiliki pengalaman panjang dalam pembangunan infrastruktur antariksa, termasuk pengembangan landasan peluncuran terbaru di wilayah Timur Jauh Rusia.

"Kami memiliki banyak keterampilan dan pengalaman, dan kami siap bekerja sama," ujarnya, mengutip Antara, Sabtu (4/4).

Tolchenov mengungkapkan bahwa saat ini Rusia tengah menjajaki negosiasi dengan pemerintah Indonesia terkait peluang pembangunan infrastruktur antariksa. Ia berharap proses tersebut berjalan konstruktif sehingga membuka ruang kolaborasi yang konkret.

Hal senada disampaikan Duta Besar Belarus untuk Indonesia, Raman Ramanouski. Ia menyebut eksplorasi ruang angkasa sebagai sektor yang menjanjikan bagi kedua negara.

Menurutnya, Belarus telah memiliki satelit yang menjangkau kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sehingga membuka peluang kerja sama dalam pemanfaatan data dan teknologi antariksa.

Di sisi lain, Indonesia sendiri telah lama mengkaji potensi Pulau Biak sebagai lokasi strategis untuk peluncuran satelit. Letaknya yang dekat garis khatulistiwa dinilai memberikan keuntungan efisiensi energi dan biaya, khususnya untuk peluncuran ke orbit rendah Bumi (LEO).

Melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pemerintah kini berupaya mempercepat pembangunan Bandar Antariksa Nasional di Biak. Proyek ini ditujukan untuk memperkuat kemandirian akses antariksa sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di industri global.

Plt. Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Anugerah Widiyanto, menyebut kajian pembangunan bandar antariksa di Biak sebenarnya telah dilakukan sejak 1990. Namun, studi tersebut perlu diperbarui agar selaras dengan perkembangan teknologi, kebutuhan nasional, serta kondisi lingkungan terkini.

Selain faktor geografis, peluang ekonomi juga menjadi pendorong utama. Pertumbuhan ekonomi antariksa global membuka ruang bagi Indonesia untuk terlibat lebih aktif, baik dalam layanan peluncuran maupun pengembangan teknologi berbasis satelit.

Adapun peringatan Hari Kosmonautika sendiri merupakan momen penting dalam sejarah eksplorasi ruang angkasa. Peringatan ini merujuk pada penerbangan perdana manusia ke luar angkasa oleh Yuri Gagarin pada 12 April 1961-sebuah tonggak yang mengubah arah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi global.

Sejumlah duta besar negara sahabat turut hadir dalam acara tersebut, mencerminkan semakin terbukanya peluang kolaborasi internasional di sektor antariksa yang kini kian kompetitif dan strategis. (tis/tis)

  📡 
CNN  

Sabtu, 14 Maret 2026

BRIN Ungkap Indonesia Berpotensi Jadi Produsen Satelit

Ilustrasi sateli LAPAN A1 telah mengudara lebih 18 tahun terus beroperasi. (ist)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa Indonesia dinilai perlu mengubah paradigma dalam industri antariksa, dari sekadar pembeli teknologi menjadi produsen satelit. Hal ini dianggap penting untuk memperkuat kemandirian teknologi sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam ekosistem industri antariksa global.

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) di BRIN, Robertus Heru Triharjanto, mengatakan selama ini Indonesia masih lebih banyak berperan sebagai pengguna atau pembeli teknologi satelit dari negara lain.

"Indonesia masih lebih banyak berperan sebagai pembeli teknologi satelit, sementara nilai strategis terbesar justru berada pada negara produsen satelit dan penyedia layanan peluncuran," kata Heru dikutip dari pernyataan tertulisnya, Jumat (13/3/2026).

Menurutnya, para peneliti kini mulai membangun kemampuan nasional secara bertahap. Pada tahap awal, sebagian besar komponen satelit memang masih diperoleh dari luar negeri. Namun secara perlahan, pengembangan komponen satelit mulai dilakukan di dalam negeri.

Beberapa teknologi yang sudah mulai dikembangkan peneliti antara lain reaction wheel, star sensor, serta sistem kamera satelit. Komponen tersebut merupakan bagian penting dalam sistem navigasi dan pengamatan satelit di orbit.

Heru menilai, kemampuan memproduksi satelit sendiri akan memberikan dampak strategis bagi Indonesia. Selain memperkuat kemandirian teknologi, hal tersebut juga dapat mendorong terbentuknya pusat keahlian, memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri, hingga membuka peluang lahirnya industri satelit nasional.

"Program ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi peneliti muda dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi melalui keterlibatan dalam proses perancangan, integrasi, hingga pengujian satelit," ujarnya.

Pengembangan teknologi satelit di Indonesia sendiri telah memiliki fondasi sejak pengoperasian satelit LAPAN-A1. Satelit tersebut mulai dikembangkan pada 2003 melalui kerja sama dengan Technical University Berlin.

Satelit tersebut kemudian diluncurkan pada 10 Januari 2007 menggunakan roket PSLV-C7 milik Indian Space Research Organisation dari Satish Dhawan Space Centre di Sriharikota, India.

Keberhasilan pengoperasian LAPAN-A1 menandai salah satu tonggak penting dalam pengembangan teknologi antariksa nasional. Menurut Heru, kemajuan teknologi satelit tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada visi, kepemimpinan, serta kerja sama tim yang kuat.

Dengan penguatan riset dan kolaborasi yang berkelanjutan, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi satelit, tetapi juga mampu tampil sebagai produsen dalam industri antariksa global. (agt/afr)

  🤝 
detik  

Sabtu, 03 Januari 2026

Kepala BRIN Targetkan RI Segera Punya Bandara Antariksa Nasional

Bandar Antariksa dibangun di Biak (Times Indonesia)

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan ambisi Indonesia untuk mempercepat kemandirian teknologi antariksa nasional, salah satunya pengembangan bandara antariksa nasional.

Bahkan, Arif menilai target kemandirian yang selama ini dipatok hingga 2040 masih bisa dipercepat, asalkan seluruh pemangku kepentingan fokus dan bekerja secara produktif.

Penegasan tersebut disampaikan Arif saat melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Sains M. Ibnoe Subroto, Rancabungur, Rabu (31/12/2025). Kunjungan ini difokuskan pada kesiapan fasilitas riset keantariksaan, persiapan peluncuran Satelit A4, serta pengembangan bandar antariksa sebagai fondasi strategis kedaulatan teknologi nasional.

"Kita tidak boleh setengah-setengah. Kalau bisa sebelum 2040, mengapa tidak lebih cepat? Kuncinya fokus, alokasi waktu, dan produktivitas," ujar Arif seperti dikutip dari website BRIN, Jumat (2/1/2026).

Kunjungan tersebut menjadi momentum konsolidasi internal BRIN di tengah tantangan pengembangan keantariksaan yang semakin kompleks. Pesatnya kemajuan teknologi global dan meningkatnya kebutuhan nasional terhadap satelit, roket, serta infrastruktur pendukung menuntut langkah yang terukur namun progresif agar Indonesia tidak tertinggal dalam kompetisi antariksa.

Dalam pertemuan itu, BRIN membahas kesiapan fasilitas pendukung peluncuran satelit dan roket yang saat ini disiapkan secara bertahap melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Salah satu fokus utama adalah optimalisasi Bandar Antariksa Biak, Papua, yang dirancang sebagai pusat peluncuran nasional.

Bandar Antariksa Biak dinilai strategis karena letaknya yang dekat dengan garis khatulistiwa, sehingga memberikan efisiensi energi dalam peluncuran wahana antariksa. Ke depan, fasilitas ini tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan domestik, tetapi juga berpotensi menjadi simpul kerja sama internasional.

Meski demikian, Arif menekankan bahwa percepatan pengembangan antariksa tidak cukup hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik. Menurutnya, tata kelola, pembagian peran, dan koordinasi antarunit menjadi faktor krusial agar program strategis berjalan efektif.

"Kita tidak boleh terjebak pada tumpang tindih kewenangan. Yang dibutuhkan adalah sistem yang terintegrasi," tegasnya.

Menanggapi isu penguatan fungsi keantariksaan nasional, Arif menjelaskan bahwa pembahasan kelembagaan masih berlangsung bersama Kementerian PAN-RB serta kementerian dan lembaga terkait. Namun ia menegaskan, efektivitas fungsi jauh lebih penting dibandingkan bentuk organisasi semata.

"Yang utama adalah bagaimana fungsi keantariksaan berjalan secara terintegrasi dan berkelanjutan," ucapnya.

Sementara itu, Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Roket BRIN, Rika Andiarti, menjelaskan bahwa pengembangan bandar antariksa telah tercantum dalam Rencana Induk Keantariksaan Nasional (Renduk) 2017-2040, yang memuat visi jangka panjang Indonesia di bidang antariksa.

Namun, implementasi Renduk menghadapi tantangan dinamika global dan percepatan teknologi yang jauh lebih cepat dari proyeksi awal. "Renduk dievaluasi setiap lima tahun. Dalam konteks saat ini, sejumlah target dan strategi perlu didefinisikan ulang agar lebih adaptif dan realistis," ujarnya.

Ia menambahkan, hingga 2040 Indonesia ditargetkan mampu meluncurkan satelit dan roket secara mandiri dari wilayah sendiri. Target inilah yang menurut Kepala BRIN masih sangat mungkin untuk dipercepat.

Arif juga mendorong para periset BRIN untuk meningkatkan intensitas dan kualitas riset, termasuk memanfaatkan peluang hibah riset internasional yang semakin terbuka. BRIN, kata dia, akan terus menyempurnakan mekanisme pendanaan dan penghargaan riset guna mendukung publikasi ilmiah serta pengembangan teknologi strategis.

"Tidak ada negara yang berjaya di antariksa dengan kerja setengah-setengah. Kesuksesan adalah fungsi dari pemanfaatan waktu," pungkas Arif. (agt/agt).

  📡 
detik  

Senin, 08 Desember 2025

Indonesia-Rusia Jajaki Kerja Sama Pengembangan Satelit Pengamatan Bumi

Ilustrasi satelit (detik)

Indonesia menjajaki kerja sama pengembangan satelit pengamatan bumi dengan Rusia. Penjajakan ini dilakukan PT Comtelindo dengan perusahaan antariksa Rusia, Glavkosmos, melalui pertemuan resmi di kantor pusat Glavkosmos, Moskow, pada Rabu 3 Desember 2025.

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut atas undangan resmi Glavkosmos. Sekaligus, menjadi pertemuan kedua setelah penandatanganan Non Disclosure Agreement (NDA) di Langkawi, Malaysia, pada Jumat, 23 Mei 2025.

Pertemuan di Moskow tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan Glavkosmos, antara lain Deputy Director General Vitaly Safonov, Chief Manager Regional Department Luiza Amelina, serta Head of Analytics Rinat Iskakov. Sementara itu, Comtelindo diwakili Chief Executive Officer PT Comtelindo Vicky Firdaus, dan Andreyas.

"Comtelindo memasuki kerja sama dengan Glavkosmos dalam kondisi siap secara infrastruktur dan sistem," ujar Chief Executive Officer PT Comtelindo Vicky Firdaus dalam keterangannya, Jumat, 5 Desember 2025.

Pertemuan fokus pada rencana pemanfaatan Earth Observation (EO) beresolusi tinggi milik Rusia untuk kebutuhan strategis Indonesia, seperti pemantauan bencana, analisis ketahanan pangan, pemetaan perkebunan. Kemudian, pengawasan area maritim, deteksi kebakaran hutan, perubahan lahan, hingga monitoring infrastruktur dan industri lainnya.

Integrasi EO dinilai akan memberikan kemampuan observasi real time yang dapat diintegrasikan dengan Infrastruktur jaringan, IoT, dan sistem aplikasi Comtelindo yang sudah beroperasi di Indonesia.

Selain pembahasan EO, kedatangan Comtelindo ke Rusia juga bertujuan menjajaki kemitraan dengan provider satelit Low Earth Orbit (LEO) Rusia guna memperkuat konektivitas di wilayah 3T Indonesia. Integrasi LEO–Fiber–IoT dinilai strategis untuk pemerataan akses digital hingga ke daerah terpencil.

"Integrasi Earth Observation, satelit LEO, fiber, dan IoT yang kami bangun akan langsung diarahkan untuk kebutuhan strategis nasional," ujar Vicky.

Glavkosmos menyambut baik rencana tersebut dan menyatakan kesiapan melakukan kerja sama teknis maupun komersial, termasuk pengembangan pusat pemrosesan data satelit, big data analytics, serta kemungkinan kerja sama investasi dalam infrastruktur digital Indonesia.

Pertemuan ditutup dengan komitmen untuk menindaklanjuti pembahasan teknis secara lebih mendalam dalam waktu dekat. Comtelindo dan Glavkosmos menargetkan pembentukan kerangka kerja resmi kolaborasi dalam beberapa bulan ke depan.

Jika terealisasi, kemitraan ini dinilai akan menjadi langkah penting bagi Indonesia dalam memperkuat ekosistem pemantauan berbasis satelit dan membuka babak baru kerja sama teknologi ruang angkasa antara Indonesia dan Rusia.

  📡 
Metro TV  

Senin, 15 September 2025

Telkomsat dan PT Pertamina Drilling Services Indonesia Perkuat Sinergi Teknologi Satelit

Telkomsat dan PT Pertamina Drilling Services Indonesia Perkuat Sinergi Teknologi Satelit untuk mendukung keamanan dan efisiensi operasional (Telkomsat)

Direktur Utama dan Direktur Komersial Telkomsat melakukan kunjungan kerja ke PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) di Rig#15, Indramayu. Pertemuan ini menjadi wujud nyata upaya Telkomsat dalam memperkuat sinergi, menjaga kesinambungan kerja sama, serta membuka peluang kolaborasi teknologi untuk mendukung kebutuhan operasional sektor energi nasional.

Kunjungan Direksi Telkomsat disambut hangat oleh jajaran manajemen PDSI, di antaranya Direktur Keuangan dan Penunjang Bisnis, Theo Satria, serta Manager ICT, Tri Saksono Adi. Pertemuan ini berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan difokuskan pada pemanfaatan layanan satelit serta solusi digital untuk mendukung keamanan sekaligus meningkatkan produktivitas operasional pengeboran migas.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengeboran eksplorasi, eksploitasi, workover, dan well services untuk minyak dan gas, panas bumi, serta solusi pengeboran terintegrasi, PDSI menempatkan aspek Health, Safety, and Environment (HSE) sebagai prioritas utama. Lingkungan kerja rig yang penuh risiko menuntut adanya sistem pengawasan yang andal untuk mencegah potensi kecelakaan kerja maupun akses ke lokasi yang terbatas.

Dalam kunjungan tersebut, Telkomsat menegaskan dukungannya melalui implementasi produknya yang bernama Starlink Business Service (SBS) yang digunakan untuk mendukung sistem CCTV berbasis Artificial Intelligence (AI) di lokasi Rig#15. Teknologi ini tidak hanya berfungsi sebagai pengawasan, tetapi juga mampu melakukan analitik seperti visitor management, deteksi penggunaan APD, hingga predictive maintenance. Dengan integrasi perangkat GPU Engine dan modem konektivitas, satu sistem dapat menganalisis banyak kamera sekaligus, memberikan solusi proaktif bagi keamanan dan efisiensi operasional.

Namun dalam penyediaan layanan SBS, Telkomsat juga melengkapi layanannya dengan menggunakan Firewall, sebagai manajemen trafik. Telkomsat turut menawarkan potensi pengembangan layanan seperti AI HSE Safety Induction, PPE Detection, hingga Outbondcall, yang dapat membantu PDSI meningkatkan disiplin keselamatan kerja dan efektivitas operasional lapangan.

Selain SBS, Telkomsat juga menghadirkan layanan MangoStar yang digunakan oleh Pertamina EP selaku pemilik wilayah kerja sebagai solusi konektivitas yang mendukung komunikasi di area operasional dengan keterbatasan infrastruktur terestrial.

Kunjungan ini mempertegas komitmen Telkomsat dalam mendukung digitalisasi sektor migas melalui layanan satelit, sekaligus memperkokoh sinergi dengan PDSI sebagai mitra strategis dalam menghadirkan operasional pengeboran yang aman, efisien, dan berdaya saing.

  📡 
Telkomsat  

Minggu, 14 September 2025

Telkomsat dan PT Len Industri (Persero) Tandatangani MoU untuk Perkuat Kolaborasi Pertahanan Berbasis Satelit

Telkomsat dan PT Len Industri (Persero) Tandatangani MoU untuk Perkuat Kolaborasi Pertahanan Berbasis Satelit (Telkomsat)

PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Len Industri (Persero) dalam upaya memperkuat sistem pertahanan nasional melalui pengembangan infrastruktur komunikasi dan digital berbasis satelit. Penandatanganan ini dilakukan oleh Direktur Utama Telkomsat, Lukman Hakim Abd Rauf dan Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Prof. Joga Dharma Setiawan, Ph.D., yang turut disaksikan oleh Sekretaris Jendral Kementerian Pertahanan Republik Indonesia sekaligus sebagai Komisaris Utama PT Len Industri (Persero), Letnan Jenderal TNI Tri Budi Utomo, S.E.; Komisaris Telkom, Rizal Mallarangeng; dan Direktur Wholesale & International Service Telkom, Honesti Basyir.

Sinergi strategis antar BUMN tersebut mencerminkan dukungan pengembangan teknologi satelit dan sistem pertahanan nasional, yang selaras dengan program Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto, yakni memantapkan sistem pertahanan keamanan negara sekaligus mendorong kemandirian bangsa melalui penguasaan teknologi mutakhir.

Direktur Wholesale & International Service Telkom Indonesia, Honesti Basyir, dalam sambutannya menekankan pentingnya konektivitas dalam mendukung ketahanan nasional. “Perkembangan digital, termasuk artificial intelligence, sebesar apapun tetap membutuhkan konektivitas. Indonesia dengan hampir 17.000 pulau menjadikan kebutuhan konektivitas bukan sekadar kepentingan bisnis semata, melainkan bagian dari ketahanan nasional. Momentum penandatanganan MoU ini bukan hanya seremonial, melainkan langkah konkret kolaborasi untuk membangun ekosistem pertahanan berbasis satelit yang mandiri. Kami percaya, kerja sama antara Telkomsat dan PT Len Industri (Persero) akan menjadi landasan penting untuk mewujudkan kedaulatan digital sekaligus memperkuat sistem pertahanan negara,” ujarnya.

Komisaris Telkom, Rizal Mallarangeng, menambahkan bahwa kolaborasi ini merupakan awal dari langkah strategis yang lebih besar. “Kehadiran MoU antara Telkomsat dan PT Len Industri (Persero) adalah sebuah awal, bukan akhir. Ini merupakan fondasi untuk mempererat hubungan, tidak hanya dengan Kementerian Pertahanan, tetapi juga dalam mendukung perkembangan PT Len Industri (Persero) sebagai BUMN strategis di sektor pertahanan. Komunikasi adalah elemen paling penting dalam pertahanan. Oleh karena itu, kerja sama ini sangat strategis untuk memperkuat kedaulatan bangsa dan memicu lahirnya inovasi pertahanan berbasis teknologi satelit,” ungkapnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan RI, Letnan Jenderal TNI Tri Budi Utomo, turut menyampaikan apresiasinya. “Kami sangat mengapresiasi adanya sinergi antara Telkomsat dengan PT Len Industri (Persero) untuk menghadirkan inovasi teknologi berbasis satelit yang dapat mendukung misi negara dalam memperkuat sistem pertahanan nasional, bukan hanya di darat, laut, dan udara, namun juga di angkasa,” ujarnya.

Lingkup kerja sama yang diatur dalam MoU ini meliputi komitmen dalam penyediaan kapasitas satelit Merah Putih 2 untuk mendukung dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu, kedua pihak bersepakat untuk berkolaborasi dalam pengembangan, pembangunan, pengorbitan, hingga pengoperasian satelit nasional yang mandiri dengan memanfaatkan konstelasi satelit geostationer (GSO) maupun non-geostationer (NGSO).

Tidak hanya itu, kerja sama ini juga diarahkan pada pembangunan teknologi dan fasilitas strategis seperti : command center; wahana peluncuran satelit nasional; pusat riset dan pengembangan; fasilitas produksi satelit nasional; serta pengembangan bisnis satelit di skala regional dan global. Hal ini diharapkan mampu memperkuat daya saing Indonesia dalam ekosistem teknologi satelit internasional.

Melalui MoU ini, Telkomsat dan PT Len Industri (Persero) menegaskan komitmen untuk membangun kerja sama berkelanjutan dalam rangka mendukung sistem pertahanan nasional yang unggul, modern, dan mandiri.

  📡 
Telkomsat  

Jumat, 12 September 2025

Satelit Nusantara 5 Perkuat Konektivitas Digital Nasional

Infografis satelit Nusantara 5 (antara)

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan bahwa peluncuran Satelit Nusantara Lima (N5) memperkuat konektivitas digital nasional, meningkatkan akses terhadap layanan digital di seluruh wilayah.

"Satelit Nusantara Lima adalah jembatan yang menghubungkan Indonesia tanpa batas," katanya di Jakarta, Jumat.

"Internet cepat bukan hanya soal teknologi, tapi soal kesempatan yang sama. Anak-anak di Maluku dan Papua akan punya akses belajar yang sama dengan anak-anak di Jakarta, pasien di pulau kecil bisa konsultasi dengan dokter terbaik, dan UMKM kita bisa bersaing di dunia digital. Inilah makna pemerataan digital yang sesungguhnya," ia menjelaskan.

Satelit N5 dimiliki oleh PT. Satelit Nusantara Lima (SNL), anak usaha PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN), melalui kerja sama global dengan Boeing Satellite Systems, Hughes Network Systems, dan SpaceX.

Satelit ini diluncurkan menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX di Cape Canaveral, Amerika Serikat, pada 10 September 2025.

Satelit N5 akan menempati slot orbit strategis 113 derajat Bujur Timur, sehingga bisa mencakup seluruh wilayah Indonesia.

Dengan kapasitas 160 Gbps, N5 menjadi satelit komunikasi terbesar di Asia Tenggara.

Peluncuran satelit N5 menjadi tonggak sejarah baru setelah peluncuran Palapa A1 pada 1976, Nusantara Satu pada 2019, dan SATRIA-1 pada 2023.

Kehadiran satelit ini dapat meningkatkan penyelenggaraan layanan pendidikan jarak jauh, layanan kesehatan digital, usaha mikro kecil dan menengah berbasis daring, serta penyediaan akses informasi dan hiburan masyarakat hingga di daerah pelosok.

Dengan satelit N5, Indonesia juga bisa menegaskan posisi sebagai penyedia dan pengelola satelit serta salah satu pusat konektivitas digital.

  📡 
antara  

Kamis, 11 September 2025

PSN, BRIN dan PT LEN Perkuat Infrastruktur Teknologi Satelit Nasional

Penandatanganan perjanjian kerjasama dan nota kesepahaman (MOU) antara PSN dengan BRIN di ajang Indo Defence Expo and Forum 2025, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (12/6/2025). (Antara/HO/PT.PSN)

PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT LEN Industri (Persero) menjalin kerjasama dalam memperkuat infrastruktur teknologi satelit nasional.

Direktur Utama PSN Adi Rahman Adiwoso dalam keterangannya di Jakarta, Selasa menyatakan kerjasama dengan BRIN untuk melakukan penelitian dan pengembangan antena phased array untuk komunikasi satelit pada stasiun bumi.

Antena phased array merupakan teknologi mutakhir yang memungkinkan pengendalian arah pancaran sinyal tanpa mekanisme pergerakan fisik, sehingga lebih cepat, presisi, dan tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrem.

Pengembangan antena phased array ini akan menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun sistem komunikasi satelit generasi berikutnya yang tidak hanya lebih andal dan efisien, tetapi juga mampu menjawab tantangan kebutuhan konektivitas yang semakin kompleks di masa depan,” katanya.

Menurut dia, dengan menyinergikan sumber daya, pengetahuan, dan kompetensi yang dimiliki oleh BRIN sebagai lembaga riset nasional dan PSN sebagai pelaku industri satelit diharapkan dapat menghasilkan antena phased array yang berukuran compact, memiliki daya saing tinggi, dan bertaraf internasional, sehingga dapat diimplementasikan secara efektif dalam sistem komunikasi satelit pada stasiun bumi.

"Dengan menyatukan pengalaman industri yang dimiliki PSN dan keunggulan riset dari BRIN, diharapkan tercipta solusi teknologi yang relevan, aplikatif, dan berdaya saing tinggi guna mendukung transformasi digital dan kedaulatan teknologi nasional,” ujar Adi Rahman.

Sementara itu kerjasama PSN dengan PT LEN Industri merupakan bentuk sinergi strategis yang menggabungkan seluruh kemampuan, sumber daya, dan keahlian yang dimiliki oleh kedua perusahaan untuk mengoptimalkan pelayanan serta pemanfaatan teknologi satelit di Indonesia.

Kerja sama dengan PT LEN Industri merupakan langkah penting dalam memperkuat ekosistem teknologi satelit nasional," katanya.

Dengan menggabungkan kekuatan PSN di bidang operasional satelit dan pengalaman LEN di sektor industri pertahanan dan elektronika, tambahnya, diharapkan dapat mendorong terciptanya solusi teknologi yang tidak hanya relevan untuk kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memiliki daya saing global.

Dikatakannya, penandatanganan perjanjian kerjasama dan nota kesepahaman (MOU) antara PSN dengan BRIN dan PT LEN Industri telah dilakukan dalam rangkaian ajang Indo Defence Expo and Forum 2025, di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada 12 Juni 2025.

"Indonesia tidak bisa terus bergantung pada teknologi luar negeri jika ingin mandiri dalam infrastruktur strategis seperti satelit. Kolaborasi dengan BRIN dan LEN adalah bentuk nyata dari upaya kami membangun teknologi satelit yang lahir dari kemampuan bangsa sendiri,” demikian Adi Rahman.

  📡 
antara  

Selasa, 09 September 2025

Peluncuran Satelit Nusantara Lima Tertunda 60 Menit Gegara Cuaca

Satelit Nusantara Lima siap meluncur. (Foto: Pasifik Satelit Nusantara)

Peluncuran Satelit Nusantara Lima (SNL) milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) mengalami penundaan sekitar 60 menit akibat kondisi cuaca di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat. Awalnya dijadwalkan pada 8 September 2025 pukul 20.02 waktu setempat atau 9 September 2025 jam 19.02 WIN. Peluncuran kini kembali ke jadwal awal pukul 20.30 waktu Orlando atau di Indonesia 08.00 WIB.

Satrio Adiwicaksono, Project Director Satelit Nusantara Lima, menjelaskan bahwa penundaan ini disebabkan oleh kondisi cuaca yang kurang mendukung.

"Kita ada kemungkinan penundaan 60 menit karena cuaca. Jadi, kita menunggu prakiraan cuaca terakhir. Mungkin kita masih punya jendela peluncuran selama satu setengah jam, mulai dari pukul 20.30 waktu Orlando. Mudah-mudahan, saat jendela peluncuran terbaik terbuka, kondisi cuaca seperti angin dan petir sudah membaik," ujarnya saat berbincang di Kennedy Space Visitor Center, Senin (8/9/2025).

Menurut Satrio, jendela peluncuran akan dibuka mulai pukul 20.30 hingga 22.32 waktu Orlando. Jika cuaca membaik, peluncuran diharapkan dapat berlangsung sesuai jadwal malam ini di Orlando.

Namun, jika kondisi tidak memungkinkan, tim PSN dan SpaceX akan mengevaluasi ulang untuk peluncuran pada hari berikutnya. "Jika hingga pukul 22.30 cuaca masih tidak memungkinkan, peluncuran kemungkinan akan dijadwal ulang ke hari berikutnya dengan jam yang serupa," ungkap Satrio.

"Jam-jam ini dipilih karena di bulan September ini paling optimal untuk mengantar Satelit Nusantara Lima ke orbit 113 derajat bujur timur," tambahnya.

Satrio juga menyebutkan bahwa faktor cuaca seperti hujan dan petir menjadi perhatian utama, meskipun secara teknis semua persiapan telah rampung.

"Secara teknis, semua sudah oke. Satelit sudah dierektor, siap diluncurkan. Menurut informasi dari SpaceX, proses fueling roket P-35 akan segera dimulai. Tinggal menunggu kesiapan dan kondisi cuaca yang lebih baik," jelasnya.

Satelit Nusantara Lima, yang akan diluncurkan menggunakan roket SpaceX Falcon 9, mengusung teknologi Very High Throughput Satellite (VHTS) dengan kapasitas 160 Gbps, terbesar di Asia. Satelit ini dirancang untuk meningkatkan konektivitas di Indonesia dan Asia Tenggara, terutama di wilayah yang sulit dijangkau serat optik dan jaringan seluler. (rns/rns)

  📡 
detik  

Minggu, 07 September 2025

Sejarah Satelit Indonesia

  🛰 Perkembangan satelit di Indonesia dari satelit Palapa, Telkom, Nusantara hingga satelit SATRIA. Daftar satelit komersial yang pernah dan dimiliki Indonesia (ubiqu)

Sejarah satelit di Indonesia tidak terlepas dari dimulainya peluncuran satelit Palapa A1 dari Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral, Amerika Serikat, pada 9 Juli 1976.

Pada masa tersebut, Indonesia adalah negara pertama di Asia dan negara ketiga di dunia yang mengoperasikan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) menggunakan Satelit GEO setelah Amerika Serikat dan Kanada.

Nama PALAPA diberikan Presiden Soeharto untuk satelit tersebut, mengacu pada sumpah Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit pada tahun 1334, yang menyatakan tidak akan pensiun dini sebelum nusantara bersatu di bawah panji-panji Kerajaan Majapahit.

Palapa A1 menjadi SKSD pertama di Indonesia yang memberikan layanan telepon dan faksimili antar kota di Indonesia. Lalu, SKSD juga berkembang menjadi infrastruktur utama pendistribusian program televisi nasional. Palapa A1 menjadi tonggak sejarah satelit di Indonesia yang kemudian diikuti dengan satelit-satelit berikutnya.

Setelah satelit Palapa hadir dengan beberapa generasinya, Indonesia terus meluncurkan beberapa satelit lainnya seperti Telkom, Cakrawarta, Indostar, Garuda dan PSN. Di Indonesia sendiri setidaknya saat ini tercatat ada 4 operator satelit nasional yang memiliki dan mengelola satelitnya sendiri, antara lain: TELKOM, PSN, MNC dan BRI.

  Palapa A 
Satelit pertama Indonesia ini memiliki spesifikasi yang mirip dengan satelit domestik yang digunakan Kanada dan Amerika Serikat karena dibuat oleh perusahaan yang sama Hughes Aircraft Company dengan model HS-333.

Palapa A memiliki 12 transponder dengan kapasitas setara 6.000 sirkut suara atau 12 saluran televisi warna, memiliki masa aktif hingga 7 tahun dengan tinggi satelit 3.41 meter, diameter 1.9 meter dan berat saat peluncuran sebesar 574 kg.

Area coverage satelit Palapa meliputi Indonesia dan Asia Tenggara — Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina. Dikendalikan dan dioperasikan oleh PERUMTEL (sekarang TELKOM). Transponder dialokasikan untuk sistem komunikasi yang digunakan oleh PERUMTEL, siaran TVRI dan juga Kementrian Pertahanan dan Keamanan. Negara ASEAN juga memanfaatkan transponder satelit Palapa A yaitu Filipina, Thailand dan Malaysia.

  Palapa B 
Palapa B adalah penerus dari satelit Palapa A, generasi kedua satelit Indonesia yang dibuat oleh perusahaan Hughes Space and Communication Company dengan model HS-376.

Palapa B mempunyai kapasitas yang 2 kali lebih besar dari generasi sebelumnya, memiliki 24 transponder dengan daya listrik 4 kali lipat. Satelit ini memiliki diameter 2.16 meter, tinggi 6.96 meter dan berat sebesar 691.73 kg pada saat peluncuran.

Khusus Palapa B2, mengalami keagalan pada saat penempatan orbit. Satelit ini kemudian diambil dan diperbaiki oleh Hughes dan diluncurkan kembali dengan nama Palapa B2R. Satelit Palapa B ini juga dikendalikan dan dioperasikan oleh PERUMTEL.

  Palapa C 
Satelit ini dibuat oleh perusahaan yang sama dengan 2 generasi satelit sebelumnya, Hughes Space and Communication Company dengan platform HS-601 yang berbeda dengan bentuk satelit sebelumnya.

Palapa C memiliki 30 transponder C-band dan 4 transponder Ku-band. Dengan area coverage meliputi Indonesia, Asia Tenggara, sebagaian China, India dan Jepang hingga Australia. Berbeda dengan Palapa A dan Palapa B yang dioperasikan oleh PERUMTEL, Palapa C dioperasikan oleh SATELINDO (sekarang INDOSAT)

Untuk Palapa C1 terjadi gangguan pada sistem pengisian dayanya sehingga satelit tidak memiliki tenaga cadangan pada saat musim gerhana (yang terjadi selama 2 kali dalam setahun). Palapa C2 diluncurkan untuk menggantikan satelit Palapa C1.

  Palapa D 
Palapa D merupakan satelit pengganti Palapa C yang ditempatkan di slot orbit 113 BT.

Satelit ini dibangun oleh Thales Alenia Space dari Perancis menggunakan platform SpaceBus 4000-B3 yang cukup efesien dan bertenaga.

Palapa D membawa 35 transponder C-band dan 5 transponder Ku-band dengan coverage area hingga benua Asia, Asean dan seluruh Indonesia, dengan umur satelit hingga 15 tahun. Palapa D memasuki masa pakai hingga deorbit tahun 2020.

  Cakrawarta/Indostar 
Cakrawarta adalah satelit milik perusahaan PT. Media Citra Indostar (MCI), anak perusahaan MNC Group yang digunakan untuk penyiaran Direct to Home (DTH) Indovision. Satelit Cakrawarta-1/Indostar-1 dikembangkan oleh Orbital Science Corporation yang merupakan basis dari platform STAR Bus pertama dengan desain masa pakai hingga 14 tahun.

Satelit ini merupakan satelit penyiaran DTH pertama di Asia, yang diluncurkan menggunakan roket Ariane dari Kourou, Guyana Prancis, sekaligus menjadi satelit komersial pertama di dunia yang menggunakan frekuensi S-band. Fruekensi S-band ini cocok digunakan di Indonesia yang beriklim tropis dan lebih tahan cuaca daripada fruekensi C-band dan Ku-band.

Pada April 1998, terjadi masalah teknis di satelit Cakrawarta-1 berupa anomali pada regulator daya listrik yang berdampak 2 dari 5 transponder satelit tidak bisa digunakan pada saat memasuki gerhana.

Satelit Indostar-2 digunakan untuk menggantikan satelit Cakrawarta-1/Indostar-1 yang telah habis masa pakainya. Indostar-2 semula bernama Protostar-2 yang kemudian berganti nama setelah MCI membelinya dari Protostar, Ltd. Indostar-2 menggunakan platform 3 aksis BSS-601HP milik Boeing Satellite System dengan kapasitas hingga 10 transponder S-band dengan coverage seluruh Indonesia.

  Garuda 
Satelit Garuda-1 merupakan satelit pertama yang digunakan untuk pasar komunikasi telepon bergerak di Asia. Satelit ini dimiliki oleh Asia Cellular Satellite (ACeS yang merupakan gabungan dari Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Lockheed Martin Global Telecommunications (LMGT), Philippines Long Distance Telephone Company (PLDT) dan Jasmine International Overseas Company Ltd.

Menggunakan platform A2100AXX dari Lockheed Martin Commercial Space Systems (LMCSS), Garuda-1 merupakan salah satu satelit telekomunikasi paling kuat yang pernah dilucurkan, Beroperasi pada frekuensi L-band via 140 spotbeam yang melingkupi seluruh Asia, menawarkan layanan telepon bergerak berbasis satelit.

Garuda-2 semula dimaksudkan sebagai back-up untuk satelit Garuda-1, kemudian diproyeksikan untuk memperluas coverage ke Asia Tengah, Asia Barat, Timur Tengah, Eropa dan Afrika Utara, namun akhirnya proyek ini kemudian dibatalkan dan tidak diteruskan.

  M2A (Multi Media Asia) 
PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN) sebagai perusahaan satelit swasta pertama di Indonesia melakukan penandatanganan kontrak dengan Space Sytem/Loral (SS/L) untuk pengadaan sistem satelit M2A menggunakan bus/platform SSL-1300S dengan kemampuan daya listrik 10.4 kilowatt dan masa pakai hingga 12 tahun. Desain antennanya mampu meberikan jangkauan multi-beam untuk wilayah Asia Pasifik, termasuk Australia, India, China, Indochina, Korea, Jepang dan negara Asean.

Dengan estimasi berat sekitar 1960 kg, kapasitas satelit M2A ekuivalen dengan 84 transponder C-band dengan 200.000 sirkuit simultan, sehingga pada saat itu desain satelit ini merupakan satelit C-band paling kuat dan mumpuni. Satelit ini rencananya akan digunakan untuk sistem telepon, akses data, faksimili, internet dan layanan multimedia.

Sayangnya pada tahun 1997 – 1998 terjadi krisis moneter yang menghantam Indonesia, sehingga berimbas pada proyek satelit ini yang akhirnya dibatalkan untuk selamanya.

  Telkom 1 – 3S 
Karena brand name Palapa telah diambil alih oleh SATELINDO dan lifetime satelit Palapa-B2R akan berakhir, PT. Telkom menunjuk Lockhead Martin Commercial Space Systems (LMCSS) untuk mebangun satelit pengganti Palapa-B2R dengan nama Telkom-1 menggunakan platform A2100A.

Telkom-1 memiliki 24 transponder C-band dan 12 transponder extended C-band yang digunakan untuk aplikasi telekomunikasi, termasuk trafik digital kecepatan tinggi untuk VSAT. Memiliki coverage yang luas dengan jangkauan seluruh Indonesia, sebagian Asia Tenggara dan Australia Utara.

Meskipun diperkirakan masih dapat beroperasi hingga 2020, pada Agustus 2017 lalu satelit Telkom-1 mengalami anomali dan kegagalan sistem yang berimbas pada terganggunya siaran televisi, ribuan koneksi ATM Bank dan VSAT di seluruh Indonesia. Rencanaya satelit Telkom-4/Merah Putih akan diluncurkan pada 2018 untuk menggantikan satelit Telkom-1 ini.

Telkom-2 dibuat oleh Orbital Sciences dengan platform Star-2 dan diluncurkan dengan roket Ariane-5 pada November 2005 merupakan satelit pengganti untuk Palapa-B4. Memiliki kapasitas 24 transponder C-band dengan rancangan masa aktif hingga 15 tahun. Satelit Telkom-2 sendiri telah berhasil de-orbit pada 13 Juni 2021 setelah usai masa baktinya.

Telkom-3 adalah satelit Telkom yang gagal mencapai orbitnya, satelit ini dibuat oleh JSC Information Satellite System Academician M.F. Reshetnev dengan platform Ekspress-1000N, dengan 32 transponder C-band dan 10 transponder Ku-band dan rancangan masa aktif hingga 15 tahun.

Telkom-3S merupakan satelit pengganti Telkom-3 yang dibuat oleh Thales Alenia Space menggunakan platform generasi baru Spacebus-400B2 dengan 24 transponder C-band, 8 transponder extended C-band dan 10 transponder Ku-band. Satelit ini memiliki coverage Indonesia dan Asia Tenggara, diluncurkan pada 2017 lalu dengan menggunakan roket Arianespace.

  BRISat 
BRISat merupakan satelit milik Bank Rakyat Indonesia (BRI), dibuat oleh SSL dengan menggunakan platform SSL 1300. Memiliki kapasitas 36 transponder C-band dan 9 transponder Ku-band, berhasil diluncurkan pada 19 Juni 2016 menggunakan Ariane V dari Guyana Perancis. BRI menjadi bank pertama di dunia yang memiliki dan mengoperasikan satelitnya sendiri untuk mendukung usaha perbankannya.

  Satelit Merah Putih 
Space System Loral (SSL) dipilih Telkom untuk membuat Telkom-4/Satelit Merah Putih yang diproyeksikan sebagai pengganti satelit Telkom-1, menggunakan platform SSL-1300 dengan kapasitas besar 60 transponder C-band dan masa aktif hingga 15 tahun.

Satelit Merah Putih berhasil di luncurkan pada tanggal 7 Agustus 2018 dari Cape Canaveral, Florida menggunakan roket Space-X, dan menjadikan satelit ini sebagai satelit dengan kapasitas terbesar yang dimiliki oleh Telkom.

  Nusantara Satu (PSN VI) 
PSN-VI atau Nusantara Satu adalah satelit milik PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN) yang beroperasi di slot orbit 146 BT, dibangun oleh SSL dan diluncurkan pada 22 February 2019 menggunakan Falcon-9 milik Space-X.

Nusantara Satu adalah satelit broadband internet pertama Indonesia dengan teknologi High Throughput Satellite (HTS), memiliki bandwidth yang besar dengan jumlah transponder 26 C-band, 12 Ext C-band dan 8 Ku-band spot beams, dengan total bandwidth hingga 15 Gbps, menjadikannya sebagai satelit dengan kapasitas terbesar di Indonesia untuk saat ini.

  Nusantara Dua 
Satelit Nusantara Dua adalah satelit yang direncanakan untuk menggantikan satelit Palapa-D di slot orbit 113 Bujur Timur, untuk memfasilitasi layanan broadband dan broadcast (penyiaran) di tanah air.

Satelit ini merupakan joint venture antara Pasifik Satelit Nusantara (PSN) berkolaborasi dengan Indosat Ooredoo, melalui perusahaan PT Palapa Satelit Nusa Sejahtera (PSNS). Satelit Nusantara Dua sendiri dibuat oleh China Great Wall Industry Corporation. Satelit ini memiliki bobot 5.550 kilogram dengan transponder FSS C-band 20×36 MHz, dan High Throughput Satellite (HTS) 9,5 Gbps.

Sayangnya saat proses peluncuran 9 April 2020 terjadi anomali pada stage ke-3 dari roket peluncur yang mengakibatkan satelit gagal mencapai orbit.

  SATRIA (Nusantara Tiga) 
Pada April 2019 Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) mengumumkan konsorsium PSN memenangkan tender pengadaan Satelit SATRIA.

Satelit Satria atau Satelit Republik Indonesia (SATRIA) adalah Satelit Multifungsi (SMF) yang dirancang khusus untuk koneksi internet dengan kapasitas bandwidth hingga 150 Gbps. Satelit ini dibuat oleh perusahaan Perancis, Thales Alenia Space dan rencana akan diluncurkan pada tahun 2023 menggunakan roket SpaceX.

  Satelit LAPAN dan INSPIRE 

Selain satelit-satelit komersial tersebut, Indonesia melalui Program Satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) juga telah membuat dan meluncurkan beberapa satelit antara lain:

INASAT-1 (Indonesia Nano Satelit-1), satelit nano yang beratnya sekitar 10 – 15 kg dan menggunakan frekuensi VHF/UHF. INASAT-1 adalah satelit karya anak bangsa pertama yang dirancang bersama oleh PT. Dirgantara Indonesia dan LAPAN pada tahun 2006, dengan kemampuan orbit hingga 6 – 12 bulan.

🛰 LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT, satelit mikro yang dibuat pada tahun 2007 dengan berat sekitar 57 kg dan digunakan untuk penginderaan situasi bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir dan lain-lain.

🛰 LAPAN-A2/LAPAN ORARI, mulai dibangun pada tahun 2008, didesain guna mendukung penanganan bumi, monitoring lalu-lintas kapal laut dan komunikasi radio amatir. Satelit ini dilepas oleh Presiden RI Joko Widodo pada tanggal 3 September 2015 untuk dikirim ke India dan diluncurkan dari sana.

🛰 LAPAN-A3/LAPAN IPB, diluncurkan pada 31 Mei 2016 yang digunakan untuk memantau lahan pertanian dan pemantauan maritim.

Selain LAPAN juga terdapat konsorsium INSPIRE (Indonesia Nano Satellite Program for Research and Education) yang mengembangkan proyek satelit nano Indonesian Inter University Satellite – 1 (IiNUSAT-1) dan berhasil diluncurkan pada tahun 2012.

  📡 
ubiqu  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More