blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label UNS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UNS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Agustus 2021

INKA dan BPPT Bakal Bikin Kereta Cepat Tenaga Baterai

Tidak hanya dengan BPPT saja, INKA juga berkolaborasi dengan konsorsium Prioritas Riset Nasional Teknologi Perkeretaapian. Di dalamnya terdapat sejumlah perguruan tinggi seperti ITB, ITS, UNS, dan UGM dan beberapa industri yang terkait dengan perkeretaapian, yakni PT INKA (Persero) dan PT Pindad (Persero) Model kereta cepat ITS dan model Kereta Cepat BPPT [redigest]

PT INKA (Persero) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta beberapa perguruan tinggi dan perusahaan sedang menyiapkan rencana membuat kereta cepat dengan kemampuan melaju lebih dari 200 kilometer per jam. Kereta ini nantinya akan dioperasikan di rute Makassar-Pare Pare.

Tidak hanya cepat, kereta tersebut akan menggunakan teknologi baterai. "Kami siap mengoperasikan kereta cepat produk anak negeri yang diketuai oleh BPPT, dengan teknologi "hybrid battery" pada tahun 2022," ujar Direktur Pengembangan INKA Agung Sedaju dalam seminar daring bertajuk "Kesiapan Jalur Kereta Makassar–Pare Pare" di Madiun, mengutip Antara, Rabu (18/8/2021).

Tidak hanya dengan BPPT saja, INKA juga berkolaborasi dengan konsorsium Prioritas Riset Nasional Teknologi Perkeretaapian. Di dalamnya terdapat sejumlah perguruan tinggi seperti ITB, ITS, UNS, dan UGM dan beberapa industri yang terkait dengan perkeretaapian, yakni PT INKA (Persero) dan PT Pindad (Persero)

Direktur Pusat Teknologi Sistem dan Prasarana Transportasi BPPT Muljadi Sinung Harjono mengatakan bahwa BPPT memiliki target untuk segera membuat prototipe kereta cepat dengan kecepatan di atas 200 kilometer/jam.

"Pada tahun 2020, kami sudah menyelesaikan target DR dan O ("design requirement and objective") atau pre-spesifikasi teknis. Serta penyelesaian "basic and manufacture design" di tahun 2021. Sedang di tahun 2022, kami ada rencana anggaran pembangunan sarana prototipe kereta api cepat," kata Muljadi Sinung.

Maka dari itu, lanjutnya, diperlukan lokasi untuk uji sebenarnya kereta api cepat dengan kecepatan di atas 200 kilometer/jam sepanjang 20 kilometer dengan lebar "track" yang mencukupi.

Dia menambahkan, setelah prototipe tersebut jadi, di akhir tahun 2022, harapannya prototipe tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari armada kereta api penumpang yang dapat memenuhi kebutuhan lapangan.

  🚆
Bisnis  

Kamis, 11 Agustus 2016

TNI-UNS Military Festival

Pameran Alutsista TNI di Solo https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2hJilc9WrkXz5ea3kQ0dETb7xcTaJlMvmcxYhQ4kj9t0L9_pTUTAwJs3ixahICJ7aG-6Dpmfrz1xnpcpL6ucRzNbbf0WdEGjgpWHv5bC5GpN6uFFzHh0FWMCbQ4GxdasKCPTsQQy3fOuC/s1600/IMG_RCWS+by+Dislitbang+%2526+PT+Indomesin+Tridaya+Bangsa+%255Baderessag%255D.jpgRCWS by Dislitbang & PT Indomesin Tridaya Bangsa (aderessag@def.pk)

Suasana kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta terlihat berbeda, kemarin. Sepanjang bulevar, halaman gedung Rektorat hingga auditorium dipenuhi belasan kendaraan tempur berat, seperti tank, panser, dan lainnya.

Mulai Selasa (9/8) sore, bermacam kendaraan tempur taktis serta alat utama sistem persenjataan (Alutsista) ditempatkan di kampus. Namun, bukannya membuat suasana mencekam, kendaraan berat itu malah dikerumuni warga. Mereka asyik berselfie di antara kendaraan berat tersebut.

[​IMG][Universitas Sebelas Maret & Reyzha Dwi Aryanto]

Di jalan depan gedung Rektorat UNS, berdiri sebuah Leopard 2A4 atau tank tempur yang terlihat dinaiki sekelompok orang yang asyik berfoto-foto. Di sisi lain, terdapat dua tank jenis Marder IA3 yang juga menarik minat masyarakat. Kendaraan militer berbobot 33,5 ton tersebut, diparkir di sayap barat halaman Rektorat.

Masyarakat diperkenankan untuk naik ke bagian atas kendaraan, namun tak diizinkan untuk masuk ke bagian dalamnya. Pameran Alutsista tersebut, kemarin secara resmi dibuka oleh Menteri Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, yang didampingi Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Muhammad Nasir.

 Saksikan Pameran 
http://defence.pk/attachments/harteknas-1-jpg.324641/Usai membuka pameran, Menko bersama Menristek yang didampingi Rektor UNS Prof Dr Ravik Karsidi berkeliling menyaksikan pameran dengan kereta kencana. Selanjutnya Menko memberikan pembekalan pada mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi di Auditorium UNS. Sebelum pembukaan festival, dilakukan kirab Marching Band Taruna AAU dan Alutsista melalui Jalan KH Dewantoro dan Jalan Sutami.

Pada kirab tersebut, diikuti di belakangnya sejumlah tank yang diperkenankan untuk dinaiki masyarakat. ”Kegiatan TNI-UNS Military Festival merupakan rangkaian Listrik Lustrum VIII dan peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas),” kata Ketua Panitia TNI-UNS Military Festival, Ary Setyawan.

Berbagai Alutsista statis dan dinamis, seperti Tank AMX-13 Modernization yang miliki berat 17,8 ton, Tank Marder IA3, miliki berat 33,5 ton, Kendaraan Peluncur Roket miliki 28 ton, Meriam 155M Caesar 155/52, Tank Leopard 2A4 miliki berat 55,15 ton, dan sebagainya dipamerkan di sembilan zona di kampus tersebut. TNI-UNS Technomilitary Festival kali ini, menurut Ary, diikuti kesatuan, antara lain, Lanud Adi Soemarmo, Lanal Semarang, Brigif 6/2 Kostrad, Grup 2 Kopassus, Yonkav2/tank.KIKAVSER2/BS, Yonarmed 3/105 Tarik, Yonarhanudse 15, dan sebagainya.

  ♚ suaramerdeka  

Jumat, 30 Agustus 2013

Prans Water Filter Ubah Air Sungai Jadi Layak Minum

PictureSolo • Pranoto, seorang doktor sekaligus dosen program studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta memperkenalkan alat penjernih air yang diberi nama Prans Water Filter.

"Penjernih air ini dihasilkan dari penelitian tentang pemanfaatan alofan vulkanik sebagai adsorben penjernihan air," jelas Pranoto.

Prans Water Filter, menurut Pranoto, terdiri dair magnet alofan aktif, arang aktif dan resin penukar ion. Magnet berfungsi menjadikan air bersih tanpa serbuk besi, merkuri, tembaga, zink dan sebagainya. Alofan aktif berfungsi menyerap ion logam berat, sedangkan arang aktif berfungsi menghilangkan bau dan juga sebagai penyerap logam.

"Kemudian resin penukar ion berfungsi untuk menghilangkan zat besi, mangan dan bahan kimia lainnya yang mencemari air," imbuhnya.

Pranoto mengungkap, riset sehingga menghasilkan Prans Water Filter diilhami dari adanya program jangka pendek dan mendesak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang akan memanfaatkan sungai sebagai alternatif sumber air bakunya. PDAM, kata Pranoto, baru mencukupi kebutuhan air bersih untuk masyarakat perkotaan sebesar 60 persen. Untuk itu PDAM membutuhkan sumber dengan mengambil air baku dari air sungai, yang diharapkan akan mencukupi sisa 40 persennya.

"Model Prans Water Filter diharapkan dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi PDAM perkotaan sebagai metode alternatif pengelolaan air sungai menjadi air minum," kata Pranoto.


  okezone 

Jumat, 17 Mei 2013

Dua mobil buatan mahasiswa UNS siap bertarung di Malaysia

Dua mobil yang dinamakan Estungkara dan Samudra buatan 17 mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, siap diikutkan dalam ajang Shell Eco Marathon (SEM) Asia 2013 di Sirkuit Sepang, Malaysia, 4 hingga 7 Juli 2013.

Mobil hemat bahan bakar ini diperkenalkan dan diluncurkan di kampus setempat, oleh Rektor UNS Rafik Karsidi, Jumat (17/5).

UNS Solo berencana memberangkatkan dua tim yakni tim Bengawan satu dan tim Bengawan dua. Mereka akan membawa dua mobil, yakni Estungkara untuk kategori Prototype Gasoline dan Samudra untuk kategori Urban Gasoline.

"Ada 17 mahasiswa dari Fakultas Teknik UNS, yang akan berangkat ke Malaysia. Jumlah peserta saat ini ada 150 tim, yang merupakan hasil dari seleksi dari 300 tim yang mendaftar," ujar Manajer Tim Bengawan Dewi Utami.

Menurut Dewi, dari Indonesia, selain UNS, universitas lain yang juga meloloskan dua tim adalah Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Sumatera Utara (USU), Institute Teknologi Bandung (ITB), serta Institute Teknologi Surabaya (ITS).

"Mobil Estungkara sesuai uji coba, bisa menempuh jarak 90 kilometer, untuk setiap liternya. Sementara untuk Samudra bisa menempuh 100 kilometer untuk setiap liternya," katanya.

Selain hemat bahan bakar, mobil Samudra juga sangat ringan yakni hanya 80 kilogram, karena menggunakan bahan komposit untuk body mobilnya. Sedangkan untuk berat mobil Estungkara lebih ringan yakni hanya 60 kg.

"Kami sudah melakukan ujicoba untuk mobil Samudra sejauh 80 km, sedangkan untuk kompetisinya hanya sejauh 40 km," ujarnya.

Rektor UNS, Prof Dr Ravik Karsidi, mengatakan mahasiswa harus membuat inovasi untuk mengatasi mahalnya harga BBM. Kedua mobil tersebut seluruhnya merupakan hasil buatan mahasiswa. Untuk Estungkara, bodi mobil dibuat dari alumunium yang ringan dan Samudera dibuat dari bahan komposit.

"Mahasiswa harus mampu membuat sesuatu yang baru dan berpikir inovatif. Sehingga bisa bermanfaat bagi bangsa," ungkapnya.

Kompetisi SEM Asia 2013, adalah sebuah kompetisi tahunan yang diadakan oleh Shell Oil sebagai ajang kompetisi para pemuda untuk merancang dan menciptakan sebuah kendaraan hemat bahan bakar.

Shell Eco-marathon sudah dilaksanakan sejak tahun 1985 di Eropa (Prancis) dan belakangan dilaksanakan tiap tahunnya untuk 3 benua yaitu Amerika, Eropa dan Asia. Untuk Asia, tahun ini merupakan kompetisi ketiga sejak tahun 2010 yang diadakan di Sepang International Circuit (SIC) Malaysia. Adapun konsep kompetisi sangat sederhana, yaitu pemenangnya adalah mobil dengan penggunaan bahan bakar yang paling irit.(mdk/bal)


  Merdeka  

Kamis, 02 Mei 2013

Mobil Listrik UNY Siap Berkompetisi di Korea

Mobil Listrik UNY Siap Berkompetisi di Korea  Yogyakarta - Tim mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta bersiap memboyong mobil listrik besutannya ke Korea Selatan, Kamis, 2 Mei 2013. Mobil UNY EVO yang memiliki bentuk mirip mobil Formula 1 itu akan menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia pada Kompetisi International Student Green Car di Seoul selama 24 hingga 25 Mei 2013 mendatang.

Ahmad Yulianto, koordinator tim perancang UNY EVO, mengatakan mobil itu memiliki kapasitas setara tujuh tenaga kuda. Komponennya terdiri atas empat buah baterai 12 volt 80 AH, dua motor listrik jenis BLDC 3 Kw, dan badan berbahan carbon fiber. Beratnya sekitar 165 kg, panjang 230 cm, lebar 130 cm, dan tinggi 85 cm. "Kecepatan maksimal bisa 75 km per jam. Baterai yang kami pasang tahan untuk jarak 45 km atau bisa tahan sejam lebih," ujarnya.

Mahasiswa jurusan Pendidikan Teknik Otomotif, Fakultas Teknik UNY, angkatan 2008 itu menambahkan konsep rancangan mesin mobil listrik ini berbeda serta memiliki sejumlah keunggulan. Salah satunya adalah sistem mesinnya yang memakai dua motor listrik yang diaktifkan dengan konsep electric diferensial. Konsep ini membuat jumlah putaran roda bagian belakang bisa berbeda dari roda lain saat berbelok. "Ini mencegah ban selip atau kehilangan kendali ketika mobil berbelok di tikungan tajam dalam kecepatan tinggi," katanya.

Yulianto menerangkan mobil itu juga memakai sistem suspensi mirip teknologi mobil Formula 1. Karena itu, kata dia, meski digunakan berbelok di tikungan tajam dalam kecepatan maksimum, roda belakang mobil tak mudah terangkat ke atas. "Sistem rem memakai kaliber motor dan master rem mobil," ujar dia. Meski begitu, mobil itu masih butuh sejumlah penyempurnaan, terutama di sistem kemudi. Perhitungan perbandingan setara antara kecepatan dan susut kemudi masih belum sempurna.

Koordinator dosen pembimbing tim perancang mobil UNY EVO, Zainal Arifin, mengatakan prototipe mobil ini sudah bisa dikembangkan sebagai mobil city car yang murni memakai tenaga baterai. Kata dia, jurusan pendidikan teknik otomotif sudah berencana mengembangkannya menjadi mobil urban yang berkapasitas empat orang penumpang. "Mobil UNY EVO ini rancangan generasi keempat," kata dia.


  Tempo  

Rabu, 01 Mei 2013

Selamatkan Pantai, Mahasiswa UNS Ciptakan Land Sea Belt

http://202.46.15.98/file/gallery/2013/04/uns.jpgEmpat mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) menciptakan Land Sea Belt sebagai upaya penyelamatan pantai dari kerusakan lingkungan akibat abrasi dan krisis ikan segar. Keempat mahasiswa tersebut adalah Eka Feri Rudianto, Hidayat Zainuddin, Akbar Hantar Rochamadhon, dan Hardiyanto Agung Nugroho.

Koordinator tim, Eka Feri Rudianto menuturkan Land Sea Belt merupakan dek apung ramah lingkungan yang berfungsi menjaga keseimbangan alam dan manusia. Pembuatannya didasarkan atas realita di desa Kandang Panjang, pesisir utara Kabupaten Pekalongan. “Konsep Land Sea Belt ini berdasarkan riset dan survei yang kita lakukan di daerah pantai utara Pekalongan karena penangkapan ikan yang berlebihan menyebabkan nelayan kesulitan mendapatkan ikan. Selain itu, karena kerusakan garis pantai yang semakin tergerus akibat abrasi,” ungkap Feri. Berdasarkan riset, garis pantai di pesisir utara Pekalongan telah mengalami kemunduran 10-15 meter dalam kurun waktu enam tahun akibat abrasi.

“Land Sea Belt sebagai dek apung dapat difungsikan sebagai keramba ikan yang dapat memecah gelombang penyebab abrasi, melindungi tempat persemaian bakau shelter edukasi, shelter nelayan, bahkan dapat dikelola sebagai pembangkit listrik tenaga ombak,” urainya. Ia pun mencontohkan, hubungan Land Sea Belt dengan hutan bakau adalah simbiosis mutualisme. Tanaman bakau yang masih dalam tahap persemaian membutuhkan pelindung dari ombak agar dapat tumbuh kokoh. Sedangkan, ikan dalam keramba di dek apung membutuhkan hutan bakau sebagai sumber makanannya. “Dua hal ini tidak dapat dipisahkan

karena sama-sama saling membutuhkan. Kemudian dalam perkembangannya, dek apung menyesuaikan dengan pertumbuhan hutan bakau,” tandas Feri.

Land Sea Belt yang diciptakan keempat mahasiswa tersebut sangat fleksibel dan mudah untuk dipasang. “Land Sea Belt ini bentuknya seperti puzzle. Setiap modul berukuran 25 meter. Jadi dek apung ini sangat fleksibel letak dan jumlahnya karena mengikuti pergerakan garis pantai,” kata Feri. Untuk materialnya, dapat dipakai kayu laban yang dipakai nelayan untuk membuat kapal. Sehingga, masyarakat yang ingin menggunakan Land Sea Belt dapat membuatnya sendiri.

Meskipun demikian, Land Sea Belt yang didesain saat ini hanya mampu digunakan di lokasi tertentu, seperti di daerah Pantura atau pantai daerah lain yang memiliki ombak kecil dan angin berkecepatan sedang. “Memang lokasi untuk Land Sea Belt ini khusus (daerah pantura), tidak seperti di pantai selatan yang angin dan ombaknya besar,” ujar Feri.

Land Sea Belt yang diciptakan keempat mahasiswa ini mengusung mereka menjadi juara kedua Student Category dalam sayembara FuturArc yang diselenggarakan oleh Building dan Construction Interchange (BCI) Asia pada 2011 lalu. Pembuatan konsep Land Sea Belt sendiri membutuhkan waktu tiga bulan. “Kita mulai membuat konsep pada September 2011, selesai sekitar 3 bulan kemudian dan langsung kita ajukan untuk FuturArc BCI Asia karena batas waktu pengumpulan konsep akhir Desember 2011,” imbuh Feri.

FuturArc Prize sendiri merupakan sayembara desain arsitektur yang diselenggarakan untuk mencari solusi perancangan/desain berwawasan lingkungan yang menyeluruh di Asia Pasifik. Hal ini bertujuan untuk menjadi katalisator perubahan, lumbung gagasan dan solusi untuk desain berkelanjutan. FuturArc terdiri dari dua kategori yakni Professional Category dan Student Category. “Juara I itu dari Filipina, juara II dari UNS, yang juara III dari UGM,” ujar Hidayat, salah satu anggota tim yang menemani Feri saat itu.

Dalam acara FuturArc, keempat mahasiswa tersebut dituntut untuk menyampaikan desain dan konsep untuk memecahkan permasalahan nonarsitektural secara arsitektur. “Disana, kita menyampaikan desain dan konsep. Fokusnya adalah kita dapat memecahkan permasalahan non arsitektural secara arsitektur. Dalam artian membuat suatu wadah yang dapat digunakan sebagai aktivitas manusia namun itu juga sebagai solusi atas isu-isu lingkungan. Saat itu jurinya dari India, Thailand, Inggris, Indonesia, dan Singapura,” kisah dia. Kemenangan Land Sea Belt dalam ajang itu, menurutnya, karena mengusung isu kerusakan lingkungan yang masih hangat, mudah diaplikasikan, dan multifungsi.

Keberadaan Land Sea Belt tidak hanya terhenti pada ajang FuturArc tersebut, melainkan juga diperkenalkan kepada masyarakat luas melalui berbagai diskusi. “Kemarin kita sudah diikutkan dalam diskusi di Jogja dan Semarang. Dalam waktu dekat kita juga akan ke Bandung,” tandas Feri.

  UNS  

Senin, 29 April 2013

Hemat dengan Genderuwo

http://202.46.15.98/file/gallery/2013/04/genderuwo.jpgPenggunaan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia kini tengah diliputi kelangkaan suplai dalam negeri. Kasus terakhir, solar sempat menghilang dari pasaran karena terbatasnya stok solar dan mengakibatkan antrian kendaraan yang panjang di berbagai kota. Kelangkaan dan keterbatasan produksi BBM ini pun mendorong Dr. Ir.Endang Yuniastuti, MSi untuk meneliti biofuel dengan bahan dari tanaman genderuwo sebagai pengganti BBM.

"Tanaman yang memiliki nama latin Sterculia Foetida Linn ini banyak tumbuh di sekitar pemakaman karena itu banyak masyarakat yang menyebutnya tanaman genderuwo," ungkap dosen Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS).

Penggunaan bio fuel Genderuwo diakui olehnya sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan. Ia menyebutkan bahwa bio fuel ini telah diujicobakan pada sejumlah mesin industri dan mesin kendaraan 2 tak-4 tak. "Dari hasil ujicoba, bio fuel tanaman genderuwo memiliki tingkat emisi yang sangat rendah dan tidak menghasilkan polutan sehingga ramah bagi lingkungan," tuturnya.

Keuntungan lain dari penggunaan bio fuel genderuwo, lanjut Endang, adalah harganya yang terjangkau bagi masyarakat. Ia menyebutkan, dari hasil kalkulasinya harga bio fuel genderuwo kurang dari Rp 3.000 per liternya. Sebagai perbandingan, bio fuel tanaman genderuwo lebih efisien daripada tanaman bio fuel lainnya, seperti jarak. "Campuran bio fuel genderuwo dengan solar dapat 1:10 hingga 1:50, sedangkan tanaman jarak hanya 1:1. Jadi, bio fuel ini lebih efisien," tandas dia.

Untuk mendapatkan bio fuel ini, tanaman genderuwo diolah melalui proses ekstrasifikasi, yaitu biji tanaman genderuwo yang telah tua kemudian dihancurkan dan diperas untuk diambil asam lemaknya. Kandungan minyak yang tinggi terutama asam lemak sterkulat inilah yang menjadikan tanaman yang memiliki sebutan fruits of mystis ini menjadi potensial sebagai biofuel. Proses tersebut menghasilkan bio fuel hingga 80%. "Untuk skala lab bisa mencapai 80%, jika dikompres biasa 70%. Padahal tanaman jarak hanya sebesar 35%," terangnya.

Bio fuel yang dihasilkan dari tanaman genderuwo inipun dapat diolah menjadi bio diesel sebagai bahan bakar mesin diesel. Berdasarkan penelitiannya sejak 2008, ia mengatakan bahwa titik didih bio fuel genderuo mencapai 220 derajat, sehingga dapat digunakan sebagai subtitusi bahan bakar solar. "Titik didih solar hanya 180 derajat, sedangkan bio diesel dari tanaman genderuwo mencapai 220 derajat. Jadi sudah cukup untuk menggantikan solar sebagai bahan bakar mesin diesel," tegasnya.

Endang pun menjamin ketersediaan pasokan bahan baku biji tanaman genderuwo bila akan dilakukan produksi massal bio fuel tersebut. "Tanaman ini biasa tumbuh di dataran rendah dan memiliki masa produksi relatuf lebih lama. Tanaman ini juga dapat bertahan hingga ratusan tahun dengan menghasilkan sepanjang waktu. Ia setiap saat berbunga dan menghasilkan buah. Tetapi musim besarnya sekitar Februari-Maret," kata Endang.

Saat ini dia telah menawarkannya ke Pertamina untuk produksi massal. "Yang seharusnya memproduksi secara massal adalah pemerintah. Saya tidak punya lahan untuk budidaya tanaman ini," ujarnya. Ia berharap hasil penelitiannya ini dapat dipergunakan untuk kesejahteraan masyarakat, sehingga tidak hanya sebatas penelitian.


  UNS  

Jumat, 26 April 2013

Tiga Mahasiswa UNS Ciptakan Gold Messenger

http://202.46.15.98/file/gallery/2013/04/gm.jpgTiga mahasiswa Jurusan Olahraga Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Zandra Dwanita Widodo, Hendrik Priyo Utomo dan Bughy Rubiyanto berhasil menciptakan sistem teknologi komunikasi canggih yang diberi nama Gold Messenger.

Koordinator Tim Gold Messenger, Zandra Dwanita Widodo, mengatakan Gold Messenger ciptaannya tersebut dibuat tanpa abonemen dan tanpa pulsa. Meskipun demikian sistem teknologi komunikasi tersebut mampu memberikan kemudahan dan kelancaran kepada penggunannya. Menurut Zandra, pengembangan aplikasi komunikasi Gold Messenger ini, berawal dari sering lambatnya messenger yang digunakan. Sedangkan aplikasi yang dikembangkannya dapat mengirim pesan lebih cepat, karena servernya berada di Indonesia.

“Keunggulan Gold Messenger ini adalah servernya berada di Indonesia. Jadi cepat mau kirim pesan teks, gambar, video, audio secara instan tanpa lelet, karena servernya berkapasitas besar,” jelasnya kepada wartawan.

Zandra bersama dua rekannya tersebut mempunyai cita-cita mewujudkan Indonesia menjadi bangsa yang mandiri. Sehingga dirinya beserta dua rekannya tersebut sebagai konseptor, menciptakan produk berbiaya murah untuk melepaskan belenggu keragaman alat komunikasi produk asing yang selama ini tersedia di pasaran.

“Selama ini kan pengguna sistem komunikasi di Indonesia harus membayar lebih dari Rp7 triliun per tahun kepada provider asing. Jadi dengan adanya Gold Messenger ini Indonesia akan lebih banyak menghemat pembiayaan untuk komunikasi,” kata mahasiswa jurusan Olahraga FKIP UNS ini.

Lebih lanjut Zandra mengatakan, pihaknya akan terus mengupayakan pelayanan sistem komunikasi Gold Messenger selalu gratis dan dikembangkan untuk mendukung berbagai jenis perangkat keras terbaru. Ia mengatakan, software akan secara periodik diperbaiki, di update dan ditambah fiturnya. “Ini demi peningkatan kualitas dan kenyamanan pengguna,” pungkasnya.


Jumat, 18 Januari 2013

UNS Targetkan 10% Penelitian Ilmiah Masuk Jurnal Internasional

Solo Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menargetkan sekitar 10 persen jurnal ilmiah dosen dapat terpublikasikan secara internasional pada 2013 ini.

Upaya ini dilakukan mengingat masih minimnya jumlah publikasi jurnal ilmiah internasional UNS pada tahun – tahun sebelumnya. Hal ini disampaikan oleh Ketua LPPM UNS Prof Dr Ir Darsono Msi.

“Paling tidak sepuluh persen bisa terpublikasi secara internasional. Angka yang dimaksud yakni 10 persen dari 600 orang (dosen) yang aktif dan menjadi ujung tombak kami,” ujar Darsono.

Pada 2012, UNS terbilang minim dalam hal publikasi jurnal ilmiah internasional. Hanya ada sejumlah 22 artikel yang tercantum dalam jurnal internasional.

Disinggung mengenai kendala yang dihadapi oleh para dosen sehingga mengakibatkan minimnya jumlah jurnal ilmiah internasional, dia mengungkapkan hal itu didasari oleh beberapa faktor.

Di antaranya yakni atmosfir internasional yang diakuinya masih belum optimal, dan kendala pemakaian bahasa Inggris yang harus digunakan dalam penulisan jurnal ilmiah internasional. Selain itu masalah biaya juga menjadi salah satu faktor hambatan lainnya.


Rabu, 16 Januari 2013

FT UNS Kembangkan Pengolah Limbah Mobile

Solo Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil mengembangkan pengolah limbah batik yang bisa dipindahkan (mobile) yang mereka namakan Upal-RE. Dengan teknologi ini, air limbah pewarnaan batik bisa diolah sehingga menjadi air baku.

Teknologi tersebut cocok digunakan untuk sentra batik yang berada di perkampungan karena simpel dan mudah dipindahkan. Selain itu, biaya operasionalnya juga sangat murah yakni Rp 3.000 untuk sekali pengolahan 250 liter.

''Limbah pewarnaan batik adalah yang paling sulit untuk dinetralkan jika menggunakan pengolahan secara biologis, fisika maupun kimiawi. Namun dengan reaktor elektrokimia, limbah bisa diproses sehingga menjadi air baku yang aman,'' kata peneliti Upal-RE Ir Budi Utomo MT.

Budi memaparkan, alat yang bentuknya sangat ringkas, dilengkapi dengan genset dan kereta dorong tersebut terdiri atas bak dari bahan fiber yang dilengkapi peralatan elektrokimia dari logam dan besi untuk memproses limbah pewarnaan batik. Untuk menggunakannya juga sangat mudah yakni limbah batik dimasukkan ke dalam bak berkapasitas 250 liter tersebut lalu tinggal menekan tombol on. Setelah menyala, larutan elektrolit akan menimbulkan gelembung udara (flok) sehingga membawa partikel mengambang.

Dalam waktu 40 menit, reaktor elektrokimia tersebut akan mengurai zat pewarna yang mengambang di bagian atas dan air yang ada bagian bawah. Air yang sudah terurai dari zat pewarna sudah berubah warna menjadi lebih bening dan tinggal dialirkan dari katup di bagian bawah.

Penemuan teknologi ini tak hanya menghasilkan air yang lebih jernih tetapi juga mengurangi kandungan bahan berbahaya yang terkandung dalam limbah. ''Air tersebut sudah memenuhi standar untuk disebut air baku karena sudah memenuhi batas baku mutu air,'' kata Budi.

Setelah air dilirkan ke katup, endapan yang mengambang di atas air akan menjadi keras, menjadi seperti lempeng berwarna gelap. Lempeng tersebut bisa dimanfaatkan untuk campuran bahan bangunan dan lainnya, namun memerlukan proses lebih lanjut.

Budi mengemukakan, pemrosesan air limbah pewarna yang sintetis maupun warna alami prosesnya sama. Perbedaannya pada hasilnya dimana untuk zat pewarna alami efisiensinya mencapai 85 persen, sedangkan zat pewarna sintetis hanya 75 persen.

Dengan kata lain, pewarna alami lebih mudah proses penguraiannya. Alat ini menggunakan sumber listrik bertegangan litrik 220 volt dan membutuhkan daya sekitar 4.000 watt. Untuk mengantisipasi supaya tidak menyulitkan untuk pasokan daya listriknya, alat ini juga sudah dilengkapi genset bertenaga 50.000 watt.

Untuk prototipe alat tersebut, Budi mengaku menghabislan dana sebesar Rp 35 juta. Ia berharap bisa menekan biaya produksi dan meningkatkan kapasitas pengolahan limbah sehingga pelaku industri kecil seperti perajin batik mampu membeli alat pengolah limbah tersebut, minimal secara berkelompok.(Evie Kusnindya / CN34 / JBSM )


Senin, 26 November 2012

UNS Akan Dirikan Pusat Unggulan Bidang Air

fotoSurakarta - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta akan mendirikan pusat unggulan bidang air, struktur, dan energi terbarukan, bekerja sama dengan Karlsruhe Institute of Technology Jerman. Rektor UNS Surakarta Ravik Karsidi mengatakan pusat unggulan tersebut direncanakan menjadi satu dari lima pusat unggulan hasil kerja sama Indonesia-Jerman.

Pusat unggulan bidang air, struktur, dan energi terbarukan bergerak di bidang akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat. "Kami sudah memiliki gambaran, apa yang ke depan akan dilakukan oleh pusat unggulan," katanya kepada wartawan di kampus UNS, Senin, 26 November 2012.

Untuk bidang akademik, ada program pertukaran dosen/mahasiswa, kerja sama bimbingan tesis dan disertasi, dan beberapa guru besar Karlsruhe Institute of Technology bersedia menjadi guru besar tamu. Bidang penelitian menekankan kepada penelitian terapan.

Kemudian untuk pengabdian masyarakat, UNS bersama Karlsruhe Institute of Technology akan memanfaatkan sungai bawah tanah yang membentang dari Gunung Kidul ke Tulungagung untuk dijadikan sumber air bagi warga di atasnya.

"Kami akan membendung air sungai bawah tanah dan menaikkannya setinggi 200 meter dengan turbin. Nanti bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk air minum," Sekretaris Program Studi Pasca Sarjana Teknik Sipil UNS Syafii menambahkan dalam kesempatan yang sama. Rencananya, proyek tersebut akan dipusatkan di Pacitan atau Wonogiri.

Untuk struktur, fokusnya pada membuat struktur bangunan tahan gempa karena Indonesia berada di wilayah rawan gempa. Kemudian, untuk energi terbarukan, bagaimana menciptakan energi dari nonfosil. "Kami sudah memiliki laboratoriumnya. Mereka juga sudah ada, sehingga nanti tinggal berkolaborasi," katanya.

Dia menilai tiga bidang di atas dapat membantu menyelesaikan masalah yang sering dihadapi masyarakat. Yaitu soal ketersediaan air bersih, bangunan tahan gempa, dan energi terbarukan.

Pusat unggulan akan diresmikan pada 11 Maret 2013. Tiga tahun pertama, Karlsruhe Institute of Technology menjadi koordinator kegiatan. Kemudian secara bertahap dialihkan ke UNS dalam jangka waktu maksimal 9 tahun.

Selain dengan Karlsruhe Institute of Technology, UNS juga menjalin kerja sama dengan Universitas Gottingen di bidang pertanian, biosains, dan kimia untuk penelitian bersama, double degree, dan bimbingan mahasiswa doktoral.

Lalu dengan Universitas Fraiborg Uni Klinikum untuk bidang kedokteran dan pengembangan rumah sakit pendidikan UNS. "Kami juga akan bersama meneliti jantung, psikiatri, kesehatan rumah sakit, dan biomolekuler," ujar Dekan Fakultas Kedokteran UNS, Zainal Arifin Adnan.



© Tempo.Co

Minggu, 25 November 2012

Aplikasi Gold Messenger Kreasi UNS

Bosan Lemot, Tiga Anak Muda Solo Luncurkan Gold Messenger

Solo -  Tiga anak muda Solo, Jawa Tengah, berhasil membuat platform atau sistem komunikasi terintegrasi layaknya aplikasi yahoo messenger dan whatsapp.

Aplikasi yang diberi nama Gold Messenger itu diluncurkan ketiga anak muda itu sejak 17 Nopember lalu. Ketiganya adalah Zandra Dwanita Widodo, Hendrik Priyo Utomo, dan Bughy Rubiyanto.

Mereka tercatat sebagai mahasiswa jurusan Pendidika Olahraga dan Kesehatan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS).

Dalam paparannya di hadapan wartawan, Kamis (22/11), Zandra selaku koordinator Tim Konseptor mengklaim Gold Messenger memiliki sejumlah keunggulan jika dibandingkan dengan aplikasi serupa. Salah satunya adalah keluwesan penggunaannya.

Gold Messenger bisa digunakan untuk berkomunikasi antar PC, notebook, tablet, dan hampir semua mobile device. Baik yang berbasis android, symbian, java, windows phone, pocket PC dan sebagainya tanpa mengganggu aplikasi yang sudah ada sebelumnya.

Satu lagi nilai tambah Gold Messenger adalah kemampuannya mengirim data berupa video, gambar, atau audio secara instan dan tanpa lelet. Itu karena Gold Messenger didukung sebuah server berkapasitas besar yang berlokasi di Indonesia.

Ide membuat Gold Messenger ini, menurut Zandra, juga tidak terlepas dari kejengkelan mereka terhadap aplikasi messenger asing yang sering lelet karena servernya di luar negeri. Di samping itu, ia dan dua rekannya sangat menginginkan Indonesia memiliki platform sistem komunikasi terintegrasi sendiri.

"Kemunculan Gold Messenger ini kami harap menjadi tonggak resistensi terhadap eksploitasi produk asing terhadap kemandirian dan kesejehteraan rakyat Indonesia," tegas Zandra. (FR/OL-01)


© Media Indonesia

Kamis, 30 Agustus 2012

Sepeda Hibrid Ala UNS

http://image.tempointeraktif.com/?id=137201&width=200Surakarta--Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta sejak awal 2012 sudah mengembangkan sepeda yang memadukan tenaga manusia dengan tenaga listrik atau sepeda hibrid. Menurut dosen pembimbing sepeda hibrid UNS Muhammad Nizam, ide dasarnya seperti sepeda onthel yang dilengkapi dengan mesin berbahan bakar bensin.

"Bedanya, kami mengganti mesin berbahan bakar bensin dengan tenaga listrik," katanya kepada wartawan di kampus setempat, Rabu, 29 Agustus 2012. Ada 8 mahasiswa Diploma III Teknik Mesin UNS yang terlibat dalam proyek di atas.

Dia mengakui di pasaran sudah ada sepeda hibrid serupa. Hanya saja, di pasaran kebanyakan menggunakan rangka dasar sepeda motor. Sehingga kalau tiba-tiba ngadat, tidak ada jalan lain selain memperbaiki sumber energi listriknya agar bisa jalan. "Sementara sepeda listrik buatan kami, kalau listrik berhenti bekerja, masih bisa dikayuh layaknya sepeda onthel," ujarnya.

Dia mengatakan UNS masih mengimpor motor penggerak roda dan baterai litium ion. Keduanya memang tidak diproduksi di Indonesia sehingga harus mendatangkan dari negara lain. Tapi untuk bodi, "Kami membuat sendiri."

UNS membuat dua jenis sepeda hibrid, yaitu model downhill dan sepeda lipat. Model downhill memiliki berat sekitar 60 kilogram sedangkan model sepeda lipat bobotnya antara 45-50 kilogram. "Sepeda mampu menahan bobot pemakai maksimal 100 kilogram," katanya.

Sekali mengisi tenaga selama 3 jam, dia mengatakan sepeda mampu berjalan dengan tenaga listrik sejauh 40-50 kilometer dengan kecepatan 30-40 kilometer per jam. Untuk membuat purwarupa dua sepeda di atas, dia sudah menghabiskan anggaran Rp 6-7 juta untuk masing-masing sepeda.

Untuk pemakaian normal, dia mengklaim sepeda bisa dipakai antara 4-5 tahun. Sementara daya tahan baterai bisa untuk seribu kali pengisian. "Saat ini kami masih terus mengembangkan. Terutama agar nantinya benar-benar disuplai tenaga listrik dan tidak perlu tenaga manusia," ujarnya.

Nizam belum memikirkan soal produksi massal. Karena tergantung ketersediaan komponen dan suku cadang, serta kebijakan universitas. "Paling tidak kami menginginkan bisa dipakai di lingkup UNS dulu, sekaligus untuk evaluasi dan pengembangan. Setelah itu baru diproduksi massal dan dijual ke masyarakat umum," katanya.

Staf humas dan kerjasama UNS Bachtiar mengatakan sepeda hibrid UNS akan dipamerkan pada pameran Hari Teknologi Nasional yang diselenggarakan di Bandung pada 30 Agustus. "Kami juga memamerkan mobil listrik UNS, yang masuk dalam program nasional pengembangan mobil listrik," ujarnya.

(Tempo.Co)

Rabu, 02 Mei 2012

KERJASAMA KONSORSIUM PENELITIAN KAPAL PERANG NASIONAL TYPE DESTROYER TAHUN 2012 – 2014

altAkademi Angkatan Laut (28/04/12),- Indonesia masih belum mandiri dalam bidang pertahanan dan alat utama sistem senjata (alutsista). Dengan berbekal keinginan yang kuat untuk mewujudkan kedaulatan sistem pertahanan nasional, ITS melalui Konsorsium Pengembangan Kapal Perang Nasional (KPKPN) menggagas pembuatan kapal perang anti radar. Tak tanggung-tanggung, riset ini didanai pemerintah senilai Rp 1,8 Miliar tiap Tahunnya. ITS tak bekerja sendiri, mengingat riset ini adalah riset nasional, maka ITS dibantu oleh beberapa perguruan tinggi negeri lain. Yaitu Akademi Angkatan Laut (AAL), Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Universitas Indonesia (UI), Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Konsorsium ini bermula dari workshop inisiasi bidang kapal perang yang dilaksanakan Agustus 2011 lalu. Dari workshop itulah ITS mengambil langkah lebih lanjut terkait penelitian kapal perang tersebut. Termasuk pembuatan proposal untuk kemudian diajukan ke pemerintah. ''Pembuatan proposal untuk konsorsium ini telah selesai sejak akhir tahun 2011,'' ungkap Hendro Nurhadi Dipl Ing PhD, Ketua KPKPN. Baru seteleh itu, digelar workshop nasional bidang kapal perang pada akhir Februari lalu.

Penggarapan kapal perang ini dibagi menjadi tujuh kelompok kerja berdasarkan bagian kelengkapan kapal. Ketujuh kelompok kerja tersebut masing-masing menangani karakterisasi komposit, metalurgi fisik, ship standard and Mission Requirement, auto pilot, steering control, material untuk radar dan Combat Material System (CMS). Dari pembagian tersebut, Mayor Laut (E) Oman Sukirman, M.T dari AAL berperan dalam kegiatan Ship Standard and Mission Requirement serta pengumpulan data primer, Prof. Dr. Kuncoro Diharjo dari UNS turut serta dalam pembuatan karakterisasi komposit. Sedangkan metalurgi fisik ditangani oleh Prof Dr Ir Bondan Tiara Sofyan dari UI.

“Kapal yang banyak sekarang ini sebagian besar merupakan produk-produk lama. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika Indonesia terus menerus bergantung pada negeri lain padahal potensi dalam negeri sangat besar” papar Mayor Oman dalam paparan sesi ke-2 workshop di Nasdec (22/2).

Keunggulan kapal perang ini nantinya yaitu dibuat dengan material anti radar. ''Anti radar baru pertama kali diterapkan di pesawat tempur Amerika. Konon wartawan tidak bisa mendekat dari jarak 100 meter,'' jelas Drs Mochamad Zainuri M.Si yang juga ditemui saat konferensi pers diskusi ilmiah di Nasdec (22/2). Zainuri yang telah meneliti bahan anti radar sejak tahun 2005 itu mengungkapkan bahwa material anti radar yang digunakan pada kapal tersebut dibuat dari pasir besi. Hingga saat ini, material tersebut telah berhasil dibuat dan dapat menyerap radar hingga 99 persen.

“Kerjasama penelitian dengan perguruan tinggi besar, tentu sangat mengangkat bendera AAL dimata akademisi di seluruh Indonesia. Apalagi kerjasama besar ini hanya melibatkan perguruan tinggi yang memiliki peneliti-peneliti yang dianggap oleh Kementerian Ristek paling berkompeten” kata Gubernur AAL Laksda TNI Agus Purwoto.

Jenderal berbintang dua ini menegaskan pula bahwa dirinya sangat mendukung bentuk kerjasama ini apalagi bila melibatkan Kadet dan Dosen AAL secara aktif. “Hal tersebut guna lebih meningkatkan kemampuan analisis para Dosen AAL maupun Kadet, serta lebih menimbulkan kemauan untuk mengembangkan Alutsista yang ada khususnya milik TNI AL” tegas orang nomor satu di AAL ini. (bagpen AAL).

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More