blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Kamis, 13 Agustus 2026

BRIN Pamerkan Riset Kuantum

  Inovasi energi baterai Inovasi riset baterai kuantum BRIN. (BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sempat menjadi sasaran roasting warganet setelah memamerkan sejumlah hasil inovasi di depan Presiden Prabowo Subianto berupa sepatu, genteng, hingga keripik. Bagi sebagian warganet, produk-produk tersebut dinilai belum mencerminkan gambaran inovasi yang seharusnya dihasilkan sebuah lembaga riset.

BRIN kemudian menunjukkan riset yang dikembangkan sebenarnya tidak berhenti pada produk yang terlihat sederhana. Salah satunya datang dari Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN yang tengah mengembangkan teknologi berbasis fisika kuantum, termasuk konsep baterai kuantum (quantum battery).

Melalui akun Instagram resminya, Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN juga memperkenalkan riset quantum magnetometry, yakni teknologi sensor kuantum berbasis berlian dengan NV Center yang dirancang untuk mengukur medan magnet dengan tingkat sensitivitas sangat tinggi.

"Nah, terkait riset futuristik, di BRIN-Q, kami sedang mengembangkan quantum magnetometry, teknologi sensor kuantum berbasis berlian (NV Center) yang mampu mengukur medan magnet dengan sensitivitas sangat tinggi," tulis akun @quantumresearch.id, dikutip Sabtu (8/8/2026).

 Apa Itu Baterai Kuantum?

Baterai kuantum (quantum battery) berbeda dari baterai biasa yang bekerja melalui reaksi elektrokimia. Baterai jenis ini menyimpan energi pada keadaan kuantum suatu sistem, misalnya atom, molekul, spin, atau sistem cahaya-materi.

Dalam fisika kuantum, banyak sistem dapat berinteraksi secara kolektif. Interaksi ini dapat menghasilkan korelasi dan koherensi.

Pada baterai kuantum yang terdiri atas banyak unit penyimpan energi, unit-unit tersebut dapat diisi secara bersamaan melalui interaksi kolektif. Secara teori, mekanisme ini dapat menghasilkan "quantum advantage", seperti peningkatan charging power dibandingkan strategi pengisian yang bekerja secara independen pada setiap unit.

 Tantangan Riset Baterai Kuantum

Hasil riset berbasis kuantum ini tidak bisa muncul begitu saja. Melainkan tergantung pada sistem, jenis interaksi, protokol pengisian, serta bagaimana sistem berinteraksi dengan lingkungannya.

Sehingga riset dengan topik kuantum ini masih terus diupayakan oleh peneliti dari berbagai dunia dan menjadi hot topic. Mereka berlomba mencari model baterai kuantum paling optimal.

Sejumlah eksperimen juga mulai mendemonstrasikan prinsip-prinsip dasar penyimpanan dan pengisian energi pada sistem kuantum. Meski demikian, riset ini memiliki banyak tantangan.

Tantangan besarnya adalah menjaga energi dan keadaan kuantum tetap tersimpan, mengurangi decoherence dan disipasi. Baterai kuantum yang paling ideal adalah yang cepat terisi.

Selain itu juga bisa lama bertehan, dan ketika dibutuhkan untuk ditransfer, ekstraksi energinya mendekati 100%. Sehingga pencarian model untuk baterai kuantum tidaklah mudah.

Riset ini aktif dilakukan oleh negara-negara maju. Salah satunya tetangga Indonesia, yakni Australia yang terdepan dalam eksperimen baterai kuantum.

Sementara Indonesia melalui BRIN, kini merupakan kontributor penting dalam pencarian model baterai kuantum yang efisien. Sudah ada delapan makalah ilmiah dari BRIN tentang baterai kuantum.

 Apakah Sepatu-Genteng Habiskan Anggaran Triliunan?

Banyak juga yang berspekulasi bahwa BRIN menghabiskan anggaran triliunan hanya untuk membuat sepatu, genteng, dan keripik. BRIN menjawab bahwa hal itu tidaklah benar. Adapun anggaran Rp 6 triliun itu mencakup banyak kebutuhan dan hanya berlaku untuk satu tahun.

Sepatu karet yang dihasilkan BRIN memiliki bahan Smart Rubber. Karet ini tidak bisa dihasilkan begitu saja melainkan dibuat menggunakan teknologi tinggi milik BRIN.

BRIN berharap agar masyarakat lebih menyorot inovasi Smart Rubber yang menjadi hasil riset dan inovasi unggul BRIN ketimbang hanya berfokus pada bentuknya berupa sepatu atau sandal.

Smart Rubber sendiri tidak hanya digunakan untuk membuat sepatu, tetapi juga untuk berbagai kebutuhan industri seperti otomotif, penerbangan, dan keamanan.

Begitu juga dengan keripik ubi. Bukan soal keripriknya, tetapi BRIN mengajak masyarakat agar lebih fokus pada variertas unggul ubi ungu yang telah diriset dan merupakan inovasi milik BRIN. (cyu/pal)

  💡  detik  

Rabu, 12 Agustus 2026

Kemhan Dorong Indonesia Menuju Kedaulatan Teknologi Pertahanan

🛩  Bukan Sekadar Beli Drone! Ilustrasi drone pada pameran Indonesia Drone Expo 2026 (IDM)

Era perang modern telah mengalami perubahan mendasar. Teknologi sistem tanpa awak atau unmanned systems kini bukan lagi sekadar pelengkap kekuatan militer, melainkan telah menjadi bagian penting dari ekosistem pertahanan yang menghubungkan sensor, data, komunikasi, kecerdasan buatan (AI), sistem komando hingga unsur manusia sebagai pengguna.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Teknologi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kabatekhhan Kemhan) Laksamana Muda TNI Arif Harnanto dalam acara Indonesia Drone Expo 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8).

Mengusung tema “Advancing Indonesia’s Defense Capabilities through Unmanned Systems”, Arif mengemukakan perkembangan sistem tanpa awak harus dipandang sebagai bagian dari transformasi pertahanan nasional, bukan sebatas perlombaan memiliki drone sebanyak-banyaknya.

Satu pesan utama yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini adalah bahwasanya sistem tanpa awak bukan hanya sekadar sebuah sistem yang tidak diawaki,” kata Arif.

Menurutnya, sistem tanpa awak harus terintegrasi dengan jaringan sensor, data, komunikasi, komando, kecerdasan buatan, serta unsur pelaksana atau pengguna sehingga seluruh komponen dapat bekerja sebagai satu kesatuan.

Ukuran keberhasilan pembangunan sistem tanpa awak, lanjut Arif, tidak dapat hanya dilihat dari jumlah drone yang dimiliki Indonesia.

Keberhasilan kita tidak cukup diukur dari berapa banyak drone yang sudah kita miliki. Keberhasilan harus diukur dari kemampuan kita untuk mengintegrasikannya, mengoperasikannya, mempertahankannya, serta memproduksi serta mengembangkan sistem tersebut secara mandiri,” ujarnya.

Arif menjelaskan perkembangan teknologi drone juga telah mengubah karakter operasi modern.

Sistem tanpa awak memungkinkan sebuah kekuatan memperluas jangkauan pengindraan hingga mempertahankan pengawasan dalam waktu lebih lama.

Perubahan tersebut semakin cepat karena teknologi drone kini tidak lagi hanya dikuasai negara dengan industri pertahanan besar.

Ketersediaan komponen komersial, perangkat lunak terbuka, sensor berukuran kecil, komunikasi digital, AI, serta teknologi manufaktur membuat siklus inovasi berlangsung semakin singkat.

Arif menilai kondisi tersebut menciptakan tantangan serius bagi industri pertahanan konvensional.

Pasalnya, siklus pengembangan teknologi dapat bergerak lebih cepat dibandingkan siklus pengadaan sistem pertahanan konvensional.

Sistem yang hari ini kita anggap sudah unggul dapat menjadi usang dalam waktu yang sangat singkat,” tegasnya.

 Indonesia Tak Bisa Hanya Mengandalkan Platform Besar

Bagi Indonesia, kebutuhan terhadap sistem tanpa awak semakin strategis karena karakter geografis nasional yang sangat luas.

Ribuan pulau, jalur laut strategis, kawasan perbatasan, wilayah udara yang besar hingga lingkungan bawah laut membutuhkan kemampuan pengawasan yang luas dan berkelanjutan.

Dalam kondisi tersebut, Indonesia dinilai membutuhkan kombinasi sistem berawak dan tanpa awak, platform besar dan kecil, sensor tetap maupun bergerak, serta sistem strategis yang dapat diproduksi dalam jumlah banyak dan waktu relatif singkat.

Sistem tanpa awak dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pengawasan perbatasan, maritime domain awareness, intelijen hingga pengawasan dan pengintaian atau ISR.

Namun, Arif mengingatkan agar pembangunan teknologi tidak dimulai dari pertanyaan mengenai drone apa yang harus dibeli.

Pertanyaannya haruslah berupa sebuah pertanyaan, bukan ‘drone apa yang akan kita beli,’ tetapi pertanyaan yang lebih tepat adalah ‘masalah operasi apa yang harus kita selesaikan,’ dan ‘efek apa yang ingin dihasilkan,’ serta ‘sistem apa untuk menghasilkan efek tersebut,’” jelasnya.

  🛩
IDM 

Selasa, 11 Agustus 2026

PT PAL Garap Kapal Selam Scorpene Republik Indonesia Sudah 20 %

  👷 🤝 Target rampung 2032 Ilustrasi kapal selam Scorpene (Naval Group)

PT PAL Indonesia mulai membangun kapal selam Scorpene Evolved pertama untuk Indonesia setelah melakukan pemotongan baja perdana (first steel cutting) di galangan Surabaya pada 7 Agustus 2026.

Seperti dikutip Armyrecognition, pembangunan tersebut menjadi bagian dari program Scorpene Republik Indonesia (SRI) yang dijalankan PT PAL bersama perusahaan pertahanan asal Prancis, Naval Group. Kontrak mencakup dua unit kapal selam Scorpene Evolved dengan sistem baterai lithium-ion penuh (Full LiB).

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Muhammad Ali, mengatakan progres keseluruhan program telah mencapai 20,5%. Setiap kapal memiliki siklus pembangunan sekitar 96 bulan.

Kapal selam pertama ditargetkan menjalani pengujian dan uji laut pada 2030-2032 sebelum diserahkan kepada Indonesia pada 2032. Kapal kedua mulai dibangun pada 2027 dan ditargetkan menjalani pengujian hingga 2033 sebelum diserahkan pada tahun yang sama.

 PT PAL Bangun Kapal Selam di Dalam Negeri

Program SRI memberikan tanggung jawab lebih besar kepada PT PAL dalam proses pembangunan kapal selam. Perusahaan mengerjakan konstruksi lambung tekan, pemasangan peralatan, integrasi sistem, pengujian, perakitan akhir hingga penyerahan kapal.

Sebelum memulai pembangunan kapal operasional, PT PAL telah menyelesaikan pembuatan bagian kualifikasi baja pada Desember 2025. Proses tersebut menjadi tahap pengujian kemampuan tenaga kerja Indonesia dalam pemotongan material, pengelasan, pengendalian dimensi dan inspeksi.

Sejumlah teknisi dan tenaga pengelas Indonesia sebelumnya menjalani pelatihan di fasilitas Naval Group di Cherbourg, Prancis. Naval Group juga mengirimkan tenaga ahli ke Indonesia untuk mendukung proses transfer teknologi dan pembangunan kapal.

Meski konstruksi berlangsung di Surabaya, sejumlah komponen utama masih berasal dari Prancis. Naval Group tetap berperan dalam desain, dukungan rekayasa, transfer proses produksi dan pendampingan teknis.

 Kapal Selam Bawa Baterai Lithium-ion

Scorpene Evolved untuk Indonesia memiliki panjang sekitar 72 meter dengan bobot saat menyelam sekitar 1.600-2.000 ton. Kapal tersebut dapat melaju lebih dari 20 knot di bawah air dan menyelam hingga lebih dari 300 meter.

Sistem baterai lithium-ion menjadi salah satu peningkatan utama dibandingkan konfigurasi Scorpene sebelumnya. Sistem tersebut meningkatkan kapasitas energi, mempercepat pengisian dan memperpanjang waktu operasi kapal di laut.

Kapal selam ini memiliki jangkauan lebih dari 8.000 mil laut atau sekitar 14.800 kilometer serta daya tahan operasi hingga sekitar 78 hari. Kapal juga dirancang membawa 31 awak.

Untuk persenjataan, Scorpene Evolved memiliki enam tabung torpedo berukuran 533 milimeter dengan kapasitas hingga 18 senjata. Sistem tempur SUBTICS mengintegrasikan sensor, sonar, pengendalian tembakan dan sistem persenjataan.

Pembangunan dua Scorpene Evolved menjadi langkah penting bagi pengembangan kemampuan industri kapal selam Indonesia. PT PAL sebelumnya memiliki pengalaman merakit kapal selam kelas Nagapasa dengan bantuan Korea Selatan.

Melalui program SRI, Indonesia memperluas peran dari perakitan menuju konstruksi, integrasi dan pengujian kapal selam di dalam negeri. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan mempertahankan kompetensi industri pertahanan nasional.

PT PAL diperkirakan dapat menangani pembangunan atau pemeliharaan hingga empat kapal selam Scorpene secara bersamaan. Namun, kontrak saat ini baru mencakup dua unit.

Keberlanjutan produksi akan menjadi faktor penting untuk mempertahankan tenaga ahli, pemasok dan kompetensi yang dibangun melalui program tersebut. Jika Indonesia menambah pesanan, fasilitas produksi di Surabaya berpotensi berkembang menjadi basis pembangunan kapal selam berkelanjutan.

Kapal selam pertama ditargetkan masuk tahap pengujian pada 2030 dan diserahkan pada 2032, sedangkan kapal kedua dijadwalkan beroperasi pada 2033. (DH)


   👷  IDN   

Senin, 10 Agustus 2026

Mobil Arsinum BRIN Ubah Air Banjir Jadi Air Minum di Sumatera

  Kapasitas produksi hingga 10.000 liter air / hari Mobil Arsinum BRIN (antara))

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengirimkan mobil Arsinum, alat pengolah air menjadi siap minum—ke wilayah terdampak banjir di Sumatera untuk memenuhi kebutuhan air bersih darurat.

Mobil ini mampu mengolah air keruh menjadi air minum sesuai standar Kementerian Kesehatan dan diberangkatkan pada Minggu (14/12/2025).

Arsinum dapat memanfaatkan berbagai sumber air, mulai dari air tanah, PAM, air hujan, hingga air berlumpur banjir, dengan kapasitas produksi hingga 10.000 liter air siap minum per hari atau sekitar 7 liter per menit.

Biaya operasional produksinya tercatat sekitar Rp2.500 per 20 liter, sehingga dinilai efisien untuk penanganan bencana.

BRIN mengirimkan tiga unit Arsinum ke Sumatera, masing-masing dua unit untuk Aceh Tamiang dan satu unit untuk Tapanuli Tengah.

Kepala BRIN Arif Satria menyebut kehadiran Arsinum dapat mempercepat pemulihan pascabencana, terutama dalam memastikan ketersediaan air minum di lokasi terdampak. Arif menjelaskan, SMR yang dikembangkan BRIN memiliki kapasitas sekitar 50 megawatt (MW).

  💡  Berita Satu  

Minggu, 09 Agustus 2026

BRIN Sudah Kembangkan Reaktor Nuklir Mini

  Reaktor Nuklir Mini 50 MW (BRIN))

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkapkan telah mengembangkan teknologi Small Modular Reactor (SMR) atau reaktor nuklir modular kecil yang siap ditawarkan untuk dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik. Dia mengatakan untuk membuat proyek itu dibutuhkan nilai investasi sekitar Rp 2,5 triliun.

Arif menjelaskan, SMR yang dikembangkan BRIN memiliki kapasitas sekitar 50 megawatt (MW). Kapasitas itu memang lebih kecil dibandingkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) konvensional.

"Kecil masih sekitar 50 megawatt. Tapi memang namanya small, paling tidak kita punya teknologinya," kata Arif, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (7/8/2026).

Dia menjelaskan desain teknologi SMR yang telah siap, termasuk untuk reaktor generasi ketiga maupun keempat yang dinilai memiliki tingkat keselamatan yang tinggi. Sehingga saat ini menunggu pihak yang berminat mengadopsi teknologi tersebut, karena implementasi itu membutuhkan dukungan investasi.

"Tapi BRIN juga siap dengan dua level: satu generasi tiga, dua generasi empat. Nah, dengan dua generasi yang sudah kita siapkan ini, ini tinggal nunggu siapa yang akan pakai teknologinya BRIN ini. Karena untuk itu kan butuh investasi. Berapa investasinya? Rp2,5 triliun. Itu kecil, tidak besar. Kalau kita mau coba, ya, BRIN sudah siap untuk itu," tuturnya.

Meskipun begitu, BRIN masih terus menyempurnakan desain dan model SMR sebagai bagian dari pengembangan teknologi nuklir nasional. Di sisi lain, riset teknologi nuklir BRIN saat ini juga difokuskan untuk mendukung sektor nonkelistrikan.

"Yang jelas, BRIN untuk teknologi nuklir yang berkaitan dengan energi ya itu SMR yang sedang kita siapkan desainnya, modelnya. Namun yang sekarang kita arahkan adalah pemanfaatannya untuk pangan dan kesehatan," katanya.

Dia menyebut penggunaan teknologi nuklir untuk sektor kesehatan seperti radiofarmaka untuk identifikasi penyakit kanker. Selain itu juga untuk metode pengawetan buah-buahan supaya lebih lama ketika ingin melakukan ekspor. (pgr/pgr)

  💡  CNBC  

Sabtu, 08 Agustus 2026

Barata Indonesia Dan Produksi Komponen Kapal

  Teknologi lokal dan kualitas global 
 Berikut video dari YouTube : 



  🎥  YouTube 

PT PAL Mulai Bangun Kapal Selam Scorpene

  👷 🤝 Target Rampung Delapan Tahun (Humas PAL)

PT PAL Indonesia resmi memulai pembangunan kapal selam Scorpene untuk TNI Angkatan Laut (TNI AL) melalui seremoni first steel cutting di Surabaya, Jawa Timur.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan pembangunan kapal selam tersebut ditargetkan selesai dalam waktu 96 bulan atau sekitar delapan tahun.

"Alhamdulillah berjalan lancar dan pembangunan kapal selam ini akan berlangsung selama 96 bulan, kurang lebih delapan tahun," ujar Ali dalam keterangan resmi, Jumat (7/8/2026).

Menurut Ali, proses first steel cutting dilakukan sekitar 12 bulan setelah kontrak pembangunan berlaku efektif. Hingga saat ini, progres proyek telah mencapai sekitar 20,5 persen.

Ia berharap pembangunan kapal selam dapat berjalan sesuai jadwal sehingga proses penyerahan kepada TNI AL juga berlangsung tepat waktu.

"Kami berharap ini bisa terbangun dengan tepat waktu. Jadi, delivery time-nya bisa tepat waktu," katanya.

Ali menjelaskan kapal selam Scorpene yang dibangun PT PAL bersama Naval Group Prancis merupakan generasi terbaru dengan kemampuan lebih canggih dibandingkan versi sebelumnya.

Kapal selam tersebut memiliki panjang hampir 72 meter, sekitar 10 meter lebih panjang dibanding kapal selam TNI AL yang saat ini beroperasi.

Selain mampu menyelam lebih lama dan lebih dalam, Scorpene juga dibekali sistem persenjataan berupa torpedo dan peluru kendali yang dapat ditembakkan dari bawah laut.

"Selain torpedo, ia dilengkapi juga dengan peluru kendali. Ini merupakan hal yang baru mungkin bagi kita untuk menembakkan peluru kendali dari bawah air," ujarnya.

Untuk mendukung pengoperasian kapal selam tersebut, TNI AL telah membentuk satuan tugas pengawak dan secara bertahap mengirim personel ke Prancis untuk mengikuti pelatihan bersama Angkatan Laut Prancis dan Naval Group.

Ali menilai pembangunan Scorpene di dalam negeri menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.

"Ini pertama kali kita membangun kapal selam dari awal di Indonesia. Di negara-negara ASEAN mungkin kita yang pertama kali membangun kapal selam di dalam negeri," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod mengatakan dimulainya proses first steel cutting menunjukkan kemitraan antara PT PAL dan Naval Group berjalan sesuai rencana.

Menurut dia, kerja sama tersebut tidak hanya mencakup pembangunan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga menjadi bagian dari proses transfer teknologi antara Indonesia dan Prancis guna memperkuat kemampuan industri pertahanan nasional.


   👷  Kompas   

Jumat, 07 Agustus 2026

Mengenal Lampung-1, Satelit AI Pertama Indonesia

Roket pengangkut Jielong-3 Y12 lepas landas dari perairan lepas pantai Kota Haiyang, Provinsi Shandong, China timur, pada 5 Agustus 2026. Roket tersebut membawa satelit hiperspektral kembar Oriental Smart Eye (OSE), yakni Hyperspectral-01 dan Hyperspectral-02, ke orbit yang telah ditentukan. Satelit OSE Hyperspectral-01, yang diberi nama Lampung-1 oleh pihak Indonesia, merupakan hasil kerja sama sejumlah institusi dari China dan Indonesia. (Xinhua/Song Xiongye)(XINHUA/SONG XIONGYE)

Satelit Oriental Smart Eye (OSE) Hyperspectral-01 yang dinamai Lampung-1, resmi meluncur dari perairan lepas pantai Kota Haiyang, Provinsi Shandong, China, Rabu (5/8/2026) pagi.

Peluncuran satelit itu menggunakan roket pengangkut Jielong-3 Y12 ini dikembangkan bersama oleh perusahaan antariksa China, STAR.VISION, Universitas Wuhan, dan Pemerintah Provinsi Lampung, serta didukung penuh oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Lampung-1 mengukir sejarah sebagai satelit AI hiperspektral pertama milik Indonesia sekaligus satelit perdana dalam Konstelasi Satelit AI China-ASEAN.

 Spesifikasi satelit Lampung-1

Dikutip dari Xinhua, satelit Lampung-1 dirancang dengan spesifikasi teknis tinggi untuk memproses data secara mandiri di luar angkasa.

Satelit ini memiliki bobot sebesar 300 kilogram dan dibekali kapasitas komputasi AI mencapai 400 TOPS.

Keunggulan komputasi ini memungkinkan proses pencitraan, identifikasi, hingga evaluasi data dilakukan langsung di orbit sebelum dikirim kembali ke Bumi.

Selain itu, Lampung-1 membawa 22 saluran spektral yang mencakup rentang panjang gelombang 400 hingga 1.650 nanometer.

Satelit ini menawarkan resolusi spasial hingga 5 meter dengan lebar cakupan pencitraan mencapai 300 kilometer, serta didukung siklus kunjungan ulang global setiap 5 hari sekali.

Berkat pemrosesan AI di orbit, Lampung-1 hanya mengunduh hasil analisis akhir yang sudah matang sehingga transmisi data ke stasiun darat menjadi jauh lebih cepat dan efisien.

 Bermanfaat bagi sektor strategis Indonesia

Keberadaan Satelit Lampung-1 memberikan dukungan teknologi yang sangat signifikan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alam.

Pada sektor pertanian, desain spektral Lampung-1 yang disesuaikan dengan karakteristik geografis Indonesia, mampu mengidentifikasi kesehatan vegetasi, menganalisis kesuburan tanah, hingga memprediksi hasil panen secara presisi.

Untuk bidang maritim dan perairan, satelit ini dapat diandalkan dalam mengelola ekosistem laut, memantau wilayah pesisir, serta mendeteksi perubahan kualitas air.

Sementara, pada sektor kebencanaan dan ekologi, Lampung-1 mampu mengevaluasi dampak bencana alam secara langsung dari orbit untuk mempercepat mitigasi dan pemetaan area terdampak.

Tak hanya itu, analisis respons spektralnya juga sangat berguna untuk tata kelola sumber daya mineral dan pemetaan komposisi tanah nasional.

Perwakilan STAR.VISION menegaskan, desain spektral Lampung-1 dirancang dengan mempertimbangkan struktur industri dan geografis lokal, sehingga sangat ideal untuk pemantauan pertanian, pengelolaan sumber daya laut, dan penanganan bencana alam di Indonesia.

 Kerja sama berkelanjutan

Pengembangan Satelit Lampung-1 berawal dari penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Provinsi Lampung dengan STAR.VISION dan para mitra di China pada Mei 2025.

Proyek ini kemudian diperkuat melalui kolaborasi dengan BRIN, termasuk penerapan platform penginderaan jauh TerraVista serta program perintis data satelit.

Selain memperkuat kapasitas riset nasional, keberhasilan Lampung-1 mencapai orbit menjadi tonggak penting dalam pengerahan Konstelasi Satelit AI China-ASEAN.

Mengusung prinsip pembangunan bersama dan manfaat bersama, inisiatif ini bertujuan membangun infrastruktur cerdas spasio-temporal lintas perbatasan guna mendorong pertumbuhan ekonomi digital serta keamanan lingkungan di kawasan Asia Tenggara.

 Berikut video dari Youtube :


  📡  Kompas  

Pesud CN-235 Skuadron 800 Ikut Andil Dalam Latopsfib TNI 2026

 Di Dabo Singkep, Kepri https://www.tnial.mil.id/brt/img/IMG-20260805-190828.jpegCN235 MPA TNI AL (Dispenal)
U
nsur pesawat udara CN-235/220 MPA Skuadron Udara 800 Wing Udara 3 turut ambil bagian dalam Latihan Operasi Amfibi Terintegrasi TNI 2026 yang dilaksanakan di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Selasa (04/08/2026).

Pesud CN-235 MPA Wing Udara 3 memegang fungsi peran sebagai mata di udara dengan melaporkan situasi medan latihan dengan koordinasi secara real time bagi unsur KRI sebagai operasi laut dan Marinir sebagai operasi amfibi.

Selain melaporkan situasi dan koordinasi antar unsur, Pesud CN-235 juga memberikan tampilan visual melalu VDL yang di kirimkan secara realtime yang terintegrasi dengan pusat komando latihan. Sehingga dapat menampilkan kegiatan latihan dari udara.

    TNI AL  

Kamis, 06 Agustus 2026

TNI Uji Perang Modern di Dabo Singkep

 Luncurkan Drone Laut Kamikaze USV produksi PT PAL ikut dalam latihan terintegrasi di Dabo Singkep (PAL)

TNI Angkatan Laut meluncurkan drone laut kamikaze dalam latihan terintegrasi 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8). Uji coba kapal tanpa awak ini menjadi sorotan utama dalam peragaan strategi perang modern berbasis Perisai Trisula Nusantara.

Prajurit TNI AL melepas kapal tanpa awak atau Unmanned Surface Vehicle (USV) kamikaze langsung dari pintu dok basah (well deck) KRI dr. Soeharso-991. Kapal nirawak rakitan PT PAL Indonesia ini mengusung desain bodi kelabu bersudut lancip dan berprofil rendah agar sulit terdeteksi radar lawan.

Untuk memandu serangan, tiang atas kapal dipasangi kamera sensor elektro-optik yang memancarkan visual navigasi jarak jauh dan mengunci sasaran secara akurat. Sementara sistem pendorongnya memanfaatkan mesin bensin konvensional yang terlihat dari dua lubang pembuangan gas di bagian belakang.

Saat simulasi berlangsung, kapal tanpa awak ini melaju kencang menerjang gelombang menuju target di dekat pantai. Kapal ini menabrakkan diri ke sasaran untuk menguji sistem kendali otonom yang adopsinya mirip dengan teknologi Kapal Selam Otonom (KSOT).

Selain drone laut, TNI AL menguji drone udara bunuh diri (loitering munition) jenis KI-50 buatan industri pertahanan dalam negeri. Drone peledak ini lepas landas dari geladak helikopter kapal perang untuk menghantam posisi lawan.

Rangkaian latihan terintegrasi 2026 ini diawali dengan peretasan siber untuk melumpuhkan pasokan listrik musuh. Prajurit Komando Pasukan Katak (Kopaska) kemudian menyusup ke perairan untuk menyabotase kabel bawah laut dan menyebar ranjau.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma TNI Tunggul menyampaikan, gempuran rudal langsung dieksekusi begitu pertahanan musuh lumpuh.

USV kamikaze diluncurkan dari pintu dok basah KRI dr. Soeharso-991 dalam simulasi perang modern. (Dok. Dispenal)

Peluru kendali C-705 yang ada di KRI ditembakkan dengan sasaran musuh di darat sehingga fasilitas musuh lumpuh,” terang Tunggul, dikutip dari keterangan Dispenal, Kamis (6/8).

KRI Sampari-628 meluncurkan dua rudal C-705 buatan Cina tepat ke sasaran darat. Tunggul menambahkan, serangan berlanjut lewat bantuan tembakan kapal dari KRI Prabu Siliwangi-321, KRI Sultan Iskandar Muda-367, dan KRI RE Martadinata-331, disusul tembakan roket MLRS Korps Marinir.

Latihan ini menitikberatkan pada kecepatan pengambilan keputusan, koordinasi, serta efektivitas pelaksanaan operasi gabungan,” jelasnya.

Pesawat tempur Rafale dan F-16 TNI AU lantas menghujani posisi musuh dengan bom MK-82, sebelum pasukan lintas udara TNI AD menerjunkan personel dari pesawat C-130 Hercules.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin meninjau langsung latihan ini bersama Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanro dan para kepala staf angkatan.

Penggunaan produk industri pertahanan dalam negeri menjadi bukti, Indonesia terus memperkuat kemandirian pertahanan nasional sekaligus meningkatkan daya tangkal dalam menghadapi berbagai ancaman,” tegas Sjafrie. (at)

  ★ IDM   

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More