blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Rabu, 11 Februari 2026

Anggaran Pertahanan 2026 Naik ke Rp 337 T

  Industri Dalam Negeri Jadi Fokus Kapal induk ringan Giuseppe Garibaldi (Navi Miltari Italiane)

Anggaran pertahanan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 naik signifikan menjadi sekitar Rp 337 triliun. Besaran ini menempatkan belanja pertahanan sebagai salah satu pos terbesar dalam postur fiskal tahun depan.

Pengamat geopolitik dari Human Studies Institute, Rasminto, menilai kenaikan anggaran tersebut menjadi ujian bagi konsistensi pemerintah dalam membangun industri pertahanan dalam negeri. Menurut dia, tanpa kebijakan penyerapan anggaran yang jelas, belanja pertahanan berpotensi kembali didominasi impor.

"APBN 2026 bisa menjadi momentum penguatan industri pertahanan nasional, atau sebaliknya, sekadar menjadi etalase belanja alutsista luar negeri dengan label modernisasi," kata Rasminto.

Dalam dokumen kebijakan fiskal, anggaran pertahanan 2026 diarahkan untuk modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), penguatan organisasi dan personel TNI, serta peningkatan kesiapan pertahanan nasional. Namun, Rasminto menilai modernisasi kerap dimaknai sebagai pembelian platform impor, bukan penguatan kapasitas industri nasional.

Secara nominal, anggaran pertahanan 2026 menempati posisi kedua terbesar dalam APBN. Meski begitu, proporsinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih di bawah 1 persen. Pemerintah menargetkan peningkatan bertahap hingga kisaran 1-1,5 persen PDB dalam jangka menengah.

"Masalahnya bukan sekadar rasio terhadap PDB. Yang lebih krusial adalah struktur belanja. Apakah uang itu memperkuat ekosistem industri nasional, atau justru memperdalam ketergantungan pada pemasok luar negeri," ujar Rasminto.

KRI BPD 322, FMP pertama produksi PAL Indonesia kerjasama Babcock (PAL)

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan mengamanatkan pemenuhan kebutuhan alutsista melalui produksi dalam negeri, dengan impor sebagai opsi terakhir. Namun dalam praktiknya, skema pengadaan strategis bernilai besar dinilai masih minim keterikatan pada transfer teknologi, offset industri, maupun kewajiban produksi lokal.

Di sisi BUMN, pemerintah membentuk holding industri pertahanan DEFEND ID pada April 2022 yang membawahi PT Len Industri, PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, dan PT Dahana. Holding ini ditujukan untuk mengonsolidasikan kemampuan produksi dan meningkatkan daya saing industri pertahanan nasional.

Sejumlah kontrak modernisasi telah diberikan kepada anggota holding tersebut, seperti modernisasi pesawat C-130 Hercules oleh PT Dirgantara Indonesia serta modernisasi kapal perang TNI AL oleh PT PAL Indonesia dengan nilai sekitar US$ 1,1 miliar. Kontrak-kontrak ini kerap disebut sebagai bentuk keberpihakan pada industri dalam negeri.

Namun, Rasminto menilai kontrak tersebut masih bersifat terbatas. "Tanpa kepastian order jangka panjang dan keberanian mengunci belanja dalam negeri, industri pertahanan tetap berada dalam posisi reaktif, bukan strategis," katanya.

Di luar BUMN, keterlibatan badan usaha milik swasta (BUMS) pertahanan mulai meningkat. PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia telah mengantongi lisensi Kementerian Pertahanan dan memproduksi selongsong peluru, proyektil, serta komponen mekanik presisi untuk pesawat, kapal, dan kendaraan taktis.

Selain itu, PT Republik Defensindo juga terlibat dalam produksi kendaraan militer serta pengembangan fasilitas produksi amunisi bersama BUMN pertahanan. Keterlibatan sektor swasta dinilai memperluas basis industri pertahanan nasional.

Rafale C T-0318 pesanan Indonesia sedang di ujiterbang, diperkirakan akan tiba pertengahan tahun 2026. (@Swiderek M)

Meski demikian, arah kebijakan pengadaan strategis dinilai masih menjadi tanda tanya. Rencana pengadaan 42 unit jet tempur Rafale, wacana akuisisi kapal induk ringan Giuseppe Garibaldi, serta modernisasi alutsista laut dan udara berpotensi menyerap anggaran besar jika tidak disertai kewajiban offset dan alih teknologi.

"Setiap pengadaan strategis seharusnya menjadi instrumen industrialisasi, bukan sekadar transaksi jual beli. Tanpa itu, APBN hanya menjadi pembiayaan industri pertahanan negara lain," kata Rasminto.

Ia mengakui kemandirian penuh dalam teknologi pertahanan tingkat tinggi belum dapat dicapai dalam jangka pendek. Namun ketergantungan permanen juga dinilai bukan pilihan.

"Yang dibutuhkan adalah peta jalan yang disiplin: impor hanya untuk menutup celah teknologi, sambil secara sistematis membangun kapasitas produksi dalam negeri," ujarnya.

Selain struktur belanja, Rasminto juga menyoroti terbatasnya dukungan pembiayaan jangka panjang bagi industri pertahanan nasional. Menurut dia, akses terhadap perbankan nasional masih terkendala tingginya persepsi risiko dan panjangnya siklus produksi.

"Tanpa dukungan pembiayaan nasional yang kuat, industri pertahanan akan terus bergantung pada negara atau pembiayaan asing. Ini bertentangan dengan tujuan kemandirian," katanya.

Dengan lonjakan anggaran pertahanan pada 2026, pemerintah dinilai berada pada persimpangan kebijakan. Pilihan belanja akan menentukan apakah APBN menjadi alat penguatan industri pertahanan nasional atau kembali terserap pada belanja impor berskala besar. (fdl/fdl)

  👷 
detik  

Selasa, 10 Februari 2026

PAL Indonesia Laksanakan Mandat Penguatan Industri Galangan Kapal Indonesia

  Tak hanya fokus pertumbuhan bisnis perusahaan KRI BPD 322, FMP pertama produksi PAL Indonesia (PAL)

PT PAL Indonesia memastikan kewajiban pengembangan galangan kapal akan melibatkan industri komponen lokal. Hal ini sekaligus melanjutkan arahan Danantara terkait kewajiban memasok kapal untuk BUMN pelayaran seperti Pelni, Pertamina International Shipping, hingga ASDP.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod mengatakan, sebagai BUMN di bidang industri perkapalan, pihaknya tak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis perusahaan, tetapi juga diberi mandat untuk mendorong penguatan industri galangan kapal Indonesia.

Jadi ini tidak lain adalah semua potensi pasar kapal dalam negeri diberikan kepada PT PAL dan mewajibkan kepada PT PAL untuk mendistribusikan kepada galangan-galangan kapal Indonesia,” kata Kaharuddin dalam agenda Diskusi Strategis Industri Maritim, Kamis (5/2/2026).

Dia juga menyebut pihaknya akan berupaya mengangkat potensi, kemampuan, skill dari galangan-galangan kapal Indonesia, baik dari sisi manajemen, teknologi, dan sebagainya.

Pemerintah mendorong konsolidasi industri galangan kapal nasional dengan menugaskan PT PAL Indonesia sebagai induk bagi galangan-galangan kapal di Tanah Air.

Langkah ini disebut sebagai mandat langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kapasitas industri maritim domestik dan menekan ketergantungan pada produk impor.

Bukan hanya sekadar mendistribusikan, saya diwajibkan untuk bukan hanya sekadar mendistribusikan kontrak-kontrak ini,” tuturnya.

Sejalan dengan mandat tersebut, PT PAL menegaskan tidak lagi berposisi sebagai pesaing bagi galangan lain di dalam negeri. Perannya bergeser menjadi koordinator sekaligus pembina ekosistem industri.

PT PAL tidak akan menjadi kompetitor dari kalian, PT PAL akan membagikan apa yang sudah dikembangkan, baik itu dari sisi manajemen, teknologi, supply chain, dan bahkan dari sisi pengembangan SDM,” tuturnya.

Konsolidasi ini dinilai krusial mengingat besarnya potensi pasar maritim nasional yang selama ini belum sepenuhnya dinikmati industri dalam negeri. Tanpa penguatan struktur industri, sebagian besar nilai ekonomi justru mengalir ke luar negeri.

Potensi yang luar biasa besar ini, jangan sampai ketinggalan. Seperti tadi, 90% akan lari keluar. Dan potensi yang besar ini juga tidak akan memberikan impak yang cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia kalau hanya sekadar kebijakannya adalah semua pesanan kapal dalam negeri harus ke dalam negeri,” tuturnya.

Dia menilai, kebijakan yang hanya mewajibkan pemesanan kapal di dalam negeri belum cukup memberi efek berganda signifikan. Dampak ekonomi baru akan terasa kuat apabila seluruh rantai pasok, termasuk peralatan dan komponen kapal, juga dibangun di dalam negeri melalui integrasi dengan PT PAL dan galangan nasional lainnya.

Dari perhitungan sementara, dampak ekonomi sektor ini disebut sangat besar apabila tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) bisa terus ditingkatkan. Pemerintah menargetkan TKDN industri maritim dapat mencapai 50% mulai tahun depan dan meningkat secara bertahap.

Kalau semua potensi ini sudah bisa kita terapkan di dalam negeri, kemudian kita bisa meningkatkan mulai tahun depan TKDN itu di 50% dan seterusnya, maka insyaallah kita akan bisa memberikan sumbangan kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia minimal 1,8%,” tuturnya.

  👷 
Koran BUMN  

BRIN dan PT LEN Kembangkan Teknologi NVG dan Thermal Imaging

(LEN)

Melalui BRIN Goes to Industry, Len - BRIN berupaya untuk mempercepat riset, pengembangan, dan hilirisasi teknologi agar siap dimanfaatkan oleh industri strategis nasional.

Salah satunya adalah Teknologi NVG dan Thermal Imaging yang merupakan komponen krusial dalam operasi pertahanan, keamanan, dan perlindungan wilayah strategis Indonesia.

Untuk itu, Len bersama BRIN menghadirkan teknologi "mata malam" pertahanan nasional melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pengembangan teknologi Night Vision Goggle dan Thermal Imaging Devices.

Kolaborasi antara Len dan BRIN menjadi penting karena menyatukan kekuatan riset nasional dengan kapabilitas industri strategis dalam satu ekosistem inovasi terintegrasi.

BRIN berperan sebagai pusat unggulan riset dan penguasaan teknologi dasar, sementara Len memiliki pengalaman dan kapasitas dalam rekayasa sistem, industrialisasi, serta integrasi teknologi pertahanan.

Sinergi ini memungkinkan hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dihilirisasi menjadi produk siap pakai yang memenuhi kebutuhan pengguna dalam negeri.

Melalui kerja sama ini diharapkan lahir inovasi pertahanan yang andal, kompetitif, dan siap digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kolaborasi ini menegaskan komitmen bersama dalam membangun kemandirian teknologi, memperkuat ketahanan nasional, serta menjaga kedaulatan Indonesia di tengah dinamika global.

  🤝 
LEN Industri  

Senin, 09 Februari 2026

PT Pindad & BRIN Jalin Kerja Sama Riset Material Laras Senjata

  Perkuat kemandirian indhan (Pindad)

PT Pindad bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani perjanjian kerja sama dalam rangkaian kegiatan BRIN Goes to Industry pada Kamis, 5 Februari 2026 berlokasi di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta. Penandatanganan dilaksanakan oleh Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma dengan Kepala Pusat Riset Metalurgi BRIN, Ika Kartika. Kerja sama antara PT Pindad dengan BRIN bernilai strategis dalam rangka mengakselerasi hilirisasi riset menuju kemandirian industri strategis nasional.

Penandatanganan perjanjian kerja sama ini mengenai Riset Pengembangan Material untuk Laras Senjata Berbasis Baja Paduan. Tujuan kerja sama ini adalah peningkatan kemandirian industri pertahanan melalui penggunaan material dan proses dalam negeri. Laras merupakan komponen utama dalam senjata api yang memerlukan ketahanan tinggi dari ledakan serta gesekan dengan amunisi yang meluncur.

Mengawali kegiatan, Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Hendrian menyampaikan bahwa hari ini merupakan momen penandatanganan kerja sama strategis antara BRIN dengan berbagai pihak.

Selanjutnya akan ada penandatanganan antara BRIN dengan PT Len Industri (Persero), lalu PT Pindad, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Chroma International dan PT Nuon Digital Indonesia dengan Asosiasi Game Indonesia. Saya juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi, bahwa hari ini kita mengumpulkan periset-periset, universitas hingga industri strategis dan menjalin kerja sama. Kita berharap dengan berbagai kerja sama ini dapat mengakselerasi hilirisasi kemandirian industri strategis nasional.” Ucap Hendrian.

Sekretaris Utama BRIN, Nur Tri Aries Suestiningtyas mewakili Kepala BRIN menyampaikan permohonan maaf karena berhalangan hadir pada penandatanganan kerja sama hari ini. Beliau juga menyampaikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang mendorong kemandirian industri strategis nasional.

Saya mengucapkan permohonan maaf dari Kepala BRIN yang sedianya hadir pada pagi hari ini namun berhalangan karena ada kegiatan mendesak. Kami menyampaikan apresiasi terhadap seluruh mitra industri, perguruan tinggi, dan asosiasi insinyur professional atas kerja samanya dalam hilirisasi dan komersialisasi riset inovasi terkait industri mineral, industri proses, industri pertahanan maupun industri nuklir.” Jelas Sekretaris Utama BRIN.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma menyampaikan bahwa kerja sama kali ini dengan BRIN bukanlah kali pertama. Beliau juga berharap bahwa hasil penelitian bersama ini dapat memaksimalkan tingkat kandungan dalam negeri terlebih bahan baku yang dibutuhkan ada di Indonesia.

Sebelumnya, PT Pindad dengan BRIN sudah memiliki rekam jejak kerja sama bernilai strategis yang sudah menjadi produk, antara lain teknologi modifikasi cuaca dan Roket Rhan 122. Kerja sama kali ini juga bersifat strategis karena di Indonesia belum ada yang memproduksi material laras dan Pindad mendapatkan nilai manfaat yang besar. Apabila kita melihat TKDN produk senjata Pindad sudah mencapai 60-70%, dan hasilnya akan lebih maksimal dengan material laras senjata hasil dalam negeri.” Jelas Prima Kharisma.

Melalui kerja sama dengan BRIN, PT Pindad memperkuat sinergi antara industri pertahanan dan Lembaga riset nasional dalam mendorong penguasaan teknologi material strategis. Kerja sama ini diharapkan dapat mempercepat hilirisasi riset menjadi produk serta mendukung terwujudnya kemandirian industri pertahanan nasional.

  🤝 
Pindad  

Minggu, 08 Februari 2026

PTDI Mengincar Tambahan Pesanan Domestik untuk Program N219 dan CN235

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDrf0KzhTtDd-klCMlg6y7WWCRgTqkrQ5UBzWpumxlIH4jQ5xbSfSVLgXScGEE-7G0XA7oTWlu2SKA0UJGcTPFIPtTgT5jNZM4pzmX556uoTcjok3Bhcq0PDkVswSCoQ-qP5IKrE40M7Q/s1200/Eay8Ho9UYAEF22p.jpgN219 (Akangaviation)
I
ndonesian Aerospace, juga dikenal sebagai PTDI, yakin tahun ini akan melihat momentum pesanan yang signifikan di seluruh portofolio produknya dari pemerintah negara asalnya.

Yang terpenting, ini akan mencakup komitmen untuk pesawat angkut turboprop ganda N219 yang dikembangkan di dalam negeri.

Pesawat N219 yang dirancang dan diproduksi secara lokal merupakan program penting bagi PTDI.

Berbicara kepada FlightGlobal di pameran udara Singapura, Gita Amperiawan, direktur utama PTDI, mengatakan perusahaan mengantisipasi komitmen 30 unit dari Kementerian Pertahanan negara tahun ini.

Pesanan lebih lanjut sekitar tiga pesawat diharapkan untuk layanan transportasi regional dari sebuah provinsi di Indonesia yang tidak disebutkan namanya, tergantung pada pendanaan pemerintah pusat, katanya.

Kesepakatan ini akan memberikan momentum baru untuk pesawat 19 tempat duduk bertenaga Pratt & Whitney Canada PT6.

Sementara itu, PTDI sedang mempersiapkan pengiriman N219 pertama ke Angkatan Darat Indonesia akhir tahun ini, sebagai bagian dari pesanan enam pesawat yang dimulai sejak tahun 2023. Perusahaan ini juga memiliki tiga pesanan dari Angkatan Laut Indonesia.

Amperiawan menyoroti pentingnya program ini bagi perusahaan, dengan mencatat bahwa pesawat ini “dirancang dan dibangun 100% oleh insinyur Indonesia” dan merupakan produk pertama mereka yang menjalani proses sertifikasi tipe lengkap. Sebelumnya, PTDI telah memproduksi pesawat lain berdasarkan lisensi, termasuk CASA C212.

PTDI juga sedang mengembangkan varian amfibi dari N219, yang diharapkan Amperiawan akan “siap memasuki pasar” sekitar tahun 2028.

Selain itu, perusahaan pembuat pesawat ini mengharapkan bagian pertama dari pesanan bertahap dari Kementerian Pertahanan Indonesia untuk pesawat turboprop ganda CN235 – sebuah program yang dikembangkan bersama dengan Airbus Defence & Space.

Kami beruntung pemerintah benar-benar mendukung industri pertahanan Indonesia,” katanya. “Ini akan menjadi pesanan terbesar dalam sejarah kami.”

Batch awal diperkirakan terdiri dari sekitar 30 unit, dengan komitmen lanjutan juga diantisipasi.

Sementara itu, diskusi terus berlanjut antara Indonesia dan Turki mengenai offset industri untuk akuisisi pesawat tempur generasi kelima Turkish Aerospace (TAI) Kaan oleh Indonesia.

Jakarta akan mengakuisisi 48 unit jet TAI berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani pada Juni 2025. Meskipun pengiriman awal akan dilakukan dari Turki, PTDI berharap untuk melakukan perakitan akhir sejumlah pesawat yang belum ditentukan serta mengintegrasikan konten lokal.

  Flight Global  

BRIN Kawal Riset Tank Ringan Nasional melalui Kolaborasi Industri

 🤝 Hingga tahap sertifikasi BRIN riset tank ringan nasional (BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat perannya dalam mendukung kemandirian industri pertahanan nasional melalui pengembangan riset kendaraan tempur tank ringan. Riset ini dikawal secara komprehensif hingga tahap kesiapan dan sertifikasi, serta dilaksanakan melalui skema kolaborasi dengan mitra industri.

Perkembangan riset tersebut disampaikan dalam rangkaian International Conference on Sustainable Energy Engineering and Application (ICSEEA) 2026 yang digelar di Hotel Trembesi BSD, Serpong, Tangerang Selatan. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Lukman Shalahuddin, menjelaskan bahwa riset kendaraan tempur tank ringan merupakan bagian dari prioritas riset strategis industri pertahanan.

BRIN mengawal pengembangan kendaraan ini hingga mencapai tahapan sertifikasi. Masih terdapat sejumlah tantangan teknis, sehingga kami memastikan kendaraan benar-benar siap sebelum dinyatakan ready,” ujar Lukman pada Selasa (3/2).

Menurutnya, tahap awal riset difokuskan pada optimasi kinerja kendaraan, meliputi desain dan struktur bodi, pemilihan material, serta sistem penggerak. Pengembangan ini ditujukan untuk memastikan kendaraan mampu beroperasi secara andal dalam berbagai kondisi ekstrem.

P8 Light Tank (SSE)

Lukman menambahkan, cakupan riset ke depan akan diperluas tidak hanya pada kendaraan tempur tank ringan, tetapi juga mencakup pengembangan berbagai varian kendaraan taktis lainnya. Setelah fase optimasi tank ringan, pengembangan akan dilanjutkan pada varian seperti Armoured Personnel Carrier (APC) yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional militer, termasuk evakuasi dan dukungan medis.

Skema kolaborasi riset ini dirancang melibatkan tiga pihak, yakni BRIN, TNI Angkatan Darat, dan PT Sentra Surya Ekajaya (SSE). Saat ini, kerja sama antara BRIN dan PT SSE telah berjalan, sementara penjajakan kolaborasi dengan TNI AD masih berlangsung dan ditargetkan terealisasi dalam tahun ini, imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Project Manager PT SSE, Mardjuki, menyampaikan apresiasi terhadap peran BRIN sebagai mitra riset strategis. Menurutnya, BRIN memberikan dukungan keilmuan yang signifikan, mulai dari pengembangan mesin hingga struktur kendaraan.

Kolaborasi dengan BRIN memberikan kontribusi penting dalam memastikan aspek teknis kendaraan dikembangkan secara ilmiah dan terukur. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut dan diperluas ke pengembangan kendaraan lainnya,” ujar Mardjuki.

Melalui kolaborasi riset ini, BRIN menegaskan komitmennya dalam menjembatani riset dan kebutuhan industri, sekaligus mendorong lahirnya inovasi teknologi pertahanan yang siap diimplementasikan dan berdaya saing nasional. (aj/ed:ugi)

  ♞  BRIN  

Sabtu, 07 Februari 2026

PT PAL Indonesia Disiapkan Jadi Holding Galangan Kapal BUMN

Fregat Merah Putih KRI BPD 322 produksi PAL (FMI fb)

PT PAL Indonesia sedang disiapkan menjadi induk atau holding khusus bagi galangan kapal Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai bagian dari konsolidasi industri maritim nasional.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod menyebutkan bahwa kajian mengenai pembentukan holding tersebut saat ini sedang dibahas di Danantara.

Danantara sedang melakukan konsolidasi industri galangan kapal BUMN … PT PAL diperintahkan untuk menjadi induk dari galangan-galangan kapal BUMN. Tetapi bentuknya seperti apa, ini masih dalam proses pembahasan,” kata Kaharuddin usai Diskusi Strategis Industri Maritim di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan kajian konsolidasi sudah berjalan sejak tahun lalu dan mencakup empat BUMN yang memiliki galangan kapal, yakni PT PAL Indonesia, PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (DPKB), PT Dok & Perkapalan Surabaya (DPS), dan PT Industri Kapal Indonesia (IKI).

Meski konsolidasi BUMN tengah digodok, Kaharuddin menegaskan bahwa peran galangan kapal swasta tetap sangat penting.

Kita akan terus berjalan secara paralel. Selain BUMN, kita juga membutuhkan industri galangan kapal swasta. Dan justru ini yang lebih banyak,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam Rapat Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (4/2), Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menegaskan bahwa PT PAL akan berperan sebagai anchor atau jangkar bagi perusahaan-perusahaan perkapalan nasional.

Ia menyampaikan bahwa proyek-proyek maritim, khususnya pembangunan kapal BUMN, diwajibkan untuk dilakukan melalui PT PAL Indonesia.

Menurut dia, kewajiban tersebut bertujuan untuk memperkuat dan meningkatkan kapasitas industri perkapalan nasional.

Oleh karena itu, BUMN pelayaran seperti PT Pertamina International Shipping (PIS), PT Pelni, dan ASDP diwajibkan membangun kapal melalui PT PAL Indonesia.

  🤝  antara  

Pindad Gandeng Perusahaan Ashok Leyland, asal India

  Kembangkan Bus Listrik (Pindad)

Perusahaan otomotif asal India yang merupakan bagian dari Hinduja Group, Ashok Leyland, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Pindad pada Rabu (4/2) di kantor pusat Pindad Bandung. Penandatanganan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kerja sama bilateral Indonesia dan India di sektor mobilitas berkelanjutan dan teknologi pertahanan.

Ashok Leyland dikenal sebagai salah satu produsen kendaraan komersial dan pertahanan global. Sementara itu, PT Pindad merupakan BUMN yang bergerak di bidang peralatan pertahanan dan industri. Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan dan manufaktur bersama Bus Listrik (EV) serta kendaraan pertahanan yang dirancang sesuai kebutuhan mobilitas dan keamanan nasional Indonesia.

Kerja sama tersebut menggabungkan pengalaman global Ashok Leyland dalam platform kendaraan listrik komersial dan solusi mobilitas pertahanan dengan kapabilitas rekayasa serta kekuatan manufaktur lokal PT Pindad. Sinergi ini juga diharapkan memperkuat ekosistem industri pertahanan dan otomotif nasional.

Penandatanganan MoU dihadiri oleh Direktur Utama PT Pindad, Sigit P Santosa; Presiden Operasi Internasional, Pertahanan, LCV & PSB Ashok Leyland, Amandeep Singh; serta Advisor to the Board Hinduja Auto, Lord Tariq.

Indonesia saat ini tengah mempercepat transisi menuju transportasi berkelanjutan sekaligus memodernisasi kemampuan pertahanannya. Kerja sama ini dinilai sejalan dengan agenda nasional dalam mendorong adopsi kendaraan listrik, efisiensi energi, serta peningkatan produksi platform pertahanan di dalam negeri.

Fokus utama dalam MoU mencakup pelaksanaan pengembangan bersama bus listrik dan kendaraan pertahanan. Produk yang dikembangkan nantinya ditargetkan mampu menjawab tantangan kondisi geografis, infrastruktur, dan kebutuhan operasional di Indonesia.

Kemitraan dengan Pindad memungkinkan kami untuk bersama-sama mengembangkan produk yang secara khusus sesuai dengan kondisi medan, infrastruktur, dan kebutuhan operasional Indonesia,” ungkap Amandeep Singh melalui keterangan resminya. (UDA)

  🤝 
Medcom  

Jumat, 06 Februari 2026

PT DI dan Sari Bahari Teken “Letter of Intent” Produksi Bersama Roket 70 dan 80 MM

  Akan dijual ke pasar Internasional PT Dirgantara Indonesia dan PT Sari Bahari menekan letter of intent produksi bersama roket kaliber 70 mm dan 80 mm di sela acara Singapore Airshow 2026. (Foto: Dok. PT DI)

PT Dirgantara Indonesia (DI) dan industri pertahanan dalam negeri, PT Sari Bahari, meneken letter of intent (LoI) untuk produksi bersama roket kaliber 70 mm dan 80 mm.

Penandatanganan dilaksanakan pada hari kedua pelaksanaan Singapore Airshow 2026 di Singapura, Rabu (4/2) waktu setempat. Dokumen kerja sama tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PT DI Arif Faisal dan Vice President Director PT Sari Bahari Putra Prathama Nugraha di booth PT DI A-L31.

Kesepakatan mencakup rencana kerja sama penjualan roket kaliber 70 mm dan 80 mm, sekaligus penjajakan peluang pemasaran bersama untuk kedua jenis roket tersebut ke pasar internasional.

Kerja samanya kolaborasi produksi antara PT DI dan Sari Bahari, penjualannya nanti joint marketing,” kata Putra Prathama kepada Indonesia Defense Magazine (IDM), Kamis (5/2).

Kolaborasi diarahkan untuk memperluas jangkauan distribusi produk roket nasional, meningkatkan eksposur di pasar global, serta memperkuat daya saing industri pertahanan Indonesia di tingkat internasional.

Arif Faisal menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian dari rantai pasok global industri pertahanan.

Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi perluasan pasar internasional produk roket nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui sinergi kapabilitas antarpelaku industri pertahanan dalam negeri,” ujar Arif, dikutip dari laman PT DI.

Kerja sama tersebut juga sejalan dengan komitmen PT DI dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui penguatan portofolio produk, peningkatan skala bisnis, serta perluasan jejaring mitra strategis, baik dalam maupun luar negeri. (nma)

  🚀 
IDM  

Kamis, 05 Februari 2026

PTDI Pamerkan Pesawat Pemburu Kapal Selam di Singapura

Incar Asia PasifikCN235 spesial mision (PTDI)

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) hadir dalam pameran dirgantara Singapore Airshow 2026, dengan memamerkan pesawat pemburu kapal selam, CN235-220 Anti-Submarine Warfare (ASW), sebagai ujung tombak untuk merebut kontrak baru di kawasan Asia-Pasifik.

PT DI menyebut langkah strategis ini, diambil guna memperkuat portofolio bisnis serta memastikan keberlanjutan program pesawat nasional di pasar internasional. Dalam ajang yang berlangsung pada 3-8 Februari 2026 di Changi Exhibition Centre tersebut, mereka memposisikan diri bukan sekadar produsen pesawat, melainkan integrator sistem misi khusus (special mission) yang kompetitif.

"PT DI menargetkan perolehan kontrak penjualan pesawat serta pengembangan kerja sama strategis guna memperkuat portofolio bisnis dan memastikan keberlanjutan program pesawat PT DI, baik di pasar domestik maupun global," kata Manajer Komunikasi Perusahaan & Hubungan Kelembagaan PT DI, Adi Prastowo, di Bandung, Rabu.

PT DI mengungkapkan, salah satu daya tarik utama yang diusung, adalah integrasi teknologi Mission Integration and Management System (MIMS) Airborne hasil kolaborasi dengan Scytalys, perusahaan perangkat lunak asal Yunani.

Teknologi ini memungkinkan pesawat CN235-220 ASW melakukan deteksi, identifikasi, hingga klasifikasi target di wilayah perairan secara presisi melalui Common Tactical Picture (CTP) yang terintegrasi.

Selain sang pemburu kapal selam, dalam pameran tersebut, PT DI juga memperkenalkan N219 Maritime Surveillance Aircraft (MSA).

Pesawat ini dirancang sebagai solusi pengawasan maritim adaptif yang mampu memantau lebih dari 200 target secara simultan melalui radar ultra-light dengan jangkauan hingga 160 mil laut.

Dengan endurance atau ketahanan terbang lebih dari 5,5 jam, N219 MSA diproyeksikan menjadi mata yang andal untuk operasi patroli maupun Search and Rescue (SAR) di wilayah perairan strategis.

Rekam jejak PT DI di kancah global menjadi modal kuat dalam pameran kali ini. Saat ini, seri CN235 telah dioperasikan secara luas oleh Angkatan Laut dan Penjaga Pantai Turki, Tentera Udara Diraja Malaysia, hingga Penjaga Pantai Korea Selatan (Korea Coast Guard).

"PT DI juga terus aktif menjajaki peluang dengan sejumlah calon pelanggan di kawasan Asia Pasifik," ujar dia.

Ekosistem industri pertahanan nasional turut diperkuat dengan kehadiran dua anak perusahaan, yakni PT Nusantara Turbin & Propulsi (PT NTP) untuk layanan perawatan mesin (MRO) dan IPTN North America, Inc. (INA, Inc.) guna memperluas jejaring di pasar Amerika.

Selain pesawat berawak, PT DI juga menampilkan inovasi masa depan berupa pesawat tanpa awak Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) MALE Elang Hitam dan roket FFAR 70mm, yang menegaskan transformasi perusahaan dalam mengadopsi teknologi kedirgantaraan mutakhir.


  🛩
antara  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More