KRI BPD 322 frigate pertama PAL dan KSOT (ist)Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) mendukung PT PAL Indonesia memperkuat dan mewujudkan pembangunan kemandirian industri pertahanan nasional khususnya pada sektor maritim.
"Bagi KKIP, PT PAL memiliki posisi strategis sebagai motor penggerak kemandirian industri pertahanan maritim nasional," kata Ketua Bidang Perencanaan KKIP Laksda TNI (Purn) Darwanto dalam keterangan di Surabaya, Rabu.
Darwanto menyatakan semangat membangun kemandirian industri pertahanan perlu terus didukung, di antaranya melalui penguatan kemampuan industri nasional, penguasaan teknologi, riset, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Bagi KKIP, kata dia, PT PAL memiliki posisi strategis sebagai motor penggerak kemandirian industri pertahanan maritim nasional sehingga diharapkan mampu menjadi pusat pengembangan teknologi maritim pertahanan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Ia mengatakan KKIP pun melakukan Monitoring dan Evaluasi (Monev) ke PT PAL Indonesia untuk mengetahui perkembangan berbagai program prioritas sekaligus menghimpun masukan dari industri sebagai dasar penyusunan kebijakan yang semakin adaptif terhadap kebutuhan penguatan industri pertahanan dalam negeri.
Dalam kunjungan tersebut, KKIP meninjau perkembangan sejumlah program strategis yang tengah dijalankan PT PAL di antaranya pembangunan kapal selam, penguasaan teknologi Unmanned Surface Vehicle (USV), serta program unggulan nasional seperti Frigate Merah Putih (FMP) dan Kapal Selam Otonom (KSOT).
Program-program itu dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat penguasaan teknologi, meningkatkan kapabilitas industri galangan nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap teknologi pertahanan dari luar negeri.
Hasil monitoring dan evaluasi ini, kata Darwanto, akan menjadi masukan dalam penyusunan rekomendasi kebijakan KKIP guna memperkuat ekosistem industri pertahanan nasional, termasuk mendorong percepatan alih teknologi, peningkatan kapasitas industri, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, industri, lembaga riset, dan pengguna.
"Sinergi ini diharapkan semakin memperkokoh langkah PT PAL dalam mewujudkan industri pertahanan maritim yang mandiri, berdaya saing, dan berbasis penguasaan teknologi, sekaligus mendukung terwujudnya kedaulatan pertahanan Indonesia di masa depan," ujarnya.
Direktur Produksi PT PAL Indonesia Diana Rosa menuturkan keberhasilan transformasi industri pertahanan tidak hanya ditentukan oleh kapabilitas internal perusahaan, tetapi juga memerlukan dukungan kebijakan dan perspektif strategis dari para pemangku kepentingan.
Menurut Diana, PT PAL membutuhkan insight dan perspektif dari berbagai pihak termasuk KKIP.
"Harapannya hasil monitoring dan evaluasi ini dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan kebijakan KKIP ke depan sehingga mampu memperkuat langkah bersama dalam mewujudkan kemandirian industri pertahanan nasional," katanya.
























































