blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Rabu, 23 September 2026

Drone Elang Hitam Kejar Sertifikasi di Tahun 2027

🛩  Diusulkan masuk Proyek Strategis Nasional UCAV Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)

Lama tak terdengar kabarnya, Elang Hitam yang digadang-gadang menjadi drone MALE (Medium-Altitude Long-Endurance) pertama karya anak bangsa, dipamerkan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di ajang TNI Fair di kawasan Monumen Nasional (Monas) pada 19-20 September 2026.

Drone ini dipajang di area pameran luar ruangan di booth Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI yang menampilkan sejumlah industri pertahanan dalam negeri. Dari tampilan ukurannya, drone ini tampak lebih kecil karena yang dipajang adalah mockup 1:2.

VP of Business Development & Marketing PTDI, Heber M.F. Panjaitan mengatakan, saat ini status drone MALE Elang Hitam sudah diusulkan masuk dalam proyek strategis nasional dan dalam tahap mengejar sertifikasi dari Kementerian Pertahanan di tahun 2027.

Jadi drone MALE Elang Hitam ini baru kita usulkan masuk dalam proyek strategis nasional. Kita sudah uji terbang perdana pada Agustus 2025 lalu di Bandara Kertajati, Majalengka, tapi belum mendapatkan sertifikasi dari Kemhan. Targetnya sampai tahun depan,” ujar Heber kepada Airspace Review di lokasi pameran.

Heber menambahkan, proses pengembangan drone Elang Hitam menghadapi beberapa kendala, khususnya terkait anggaran. Sejauh ini pengembangan dan pemeliharaan drone ini menggunakan dana mandiri dari PTDI.

Pengembangannya tetap berjalan, tapi tidak bisa gaspol. Kami telah memasukkan usulannya ke Danantara juga untuk tambahan investasi pengembangannya,” ungkap Heber.

 Target Operasional Tahun 2028

Berbicara soal target operasional di tahun 2028, menyesuaikan dengan rencana strategis dari Kemhan, PTDI optimistis dapat mengejar sertifikasi drone MALE ini.

Namun, diakui memang, PTDI harus membangun prototipe lagi untuk uji terbang dan lain-lain sesuai dengan rancang bangunnya dan ini membutuhkan tambahan anggaran.

Saat ini PTDI baru membuat dua drone Elang Hitam. Yang pertama adalah drone mockup yang ditampilkan saat peluncuran (rollout) perdana pada tahun 2019, dan yang kedua adalah prototipe yang digunakan untuk uji coba terbang perdana pada 2025.

Sampai sekarang kami tetap pelihara prototipe uji terbang ini. Mulai dari engine, flight control systemnya, ground control station, dan sistem onboard di drone tersebut,” urai Heber.

Mengenai isu bahwa pengembangan drone Elang Hitam telah dialihkan untuk pangsa pasar sipil, Heber mengatakan hal itu tidak sepenuhnya benar.

Ditegaskan bahwa spek MALE Elang Hitam yang dikembangkan PTDI adalah untuk kebutuhan militer.

Adapun pengembangan untuk kebutuhan sipil, merupakan peluang pasar yang bisa dikerjasamakan lebih lanjut, misalnya dengan Kementerian Kehutanan atau badan-badan lain.

Kebutuhan sipil ini adalah peluang dari pangsa pasar MALE yang ada, jadi tidak dialihkan dari kebutuhan militer ke sipil,” tegas Heber.

 Spesifikasi Teknis dan Kemampuan Drone Elang Hitam

Elang Hitam merupakan pesawat udara nirawak (Unmanned Aerial Vehicle atau UAV) berkemampuan MALE yang dikembangkan oleh PTDI bersama konsorsium nasional guna memperkuat kemandirian teknologi pertahanan Indonesia.

Dirancang khusus untuk menjalankan misi Intelligent, Surveillance, Target Acquisition, and Reconnaissance (ISTAR) serta dapat dilengkapi dengan persenjataan (weaponized), drone ini memegang peran strategis dalam mengawasi kawasan perbatasan, wilayah terluar, hingga pengamanan jalur maritim dari berbagai ancaman penyusupan dan kegiatan ilegal.

Dari segi desain dan ukuran, Elang Hitam hadir dengan dimensi yang tergolong besar untuk kelas drone tempur dan pengawas.

Wahana ini memiliki panjang 8,73 meter, tinggi 3,27 meter, serta bentang sayap mencapai 16 meter dengan luas area sayap sebesar 12,8 meter persegi.

Dengan bobot maksimum lepas landas (Max Gross Take-Off Weight) dan pendaratan sebesar 1.300 kg, drone ini mampu menampung kapasitas bahan bakar hingga 420 liter serta membawa muatan atau payload hingga 300 kg untuk mengangkut berbagai sensor radar maupun sistem persenjataan.

Kemampuan jelajah dan efisiensi terbang Elang Hitam juga sangat andal untuk mendukung operasi ketahanan panjang.

Drone ini sanggup bertahan di udara (endurance) hingga kurun waktu kurang dari 30 jam dengan radius operasional Line of Sight (LOS) mencapai 250 km.

Elang Hitam dirancang untuk beroperasi pada ketinggian jelajah 3.000 hingga 5.000 meter dengan ketinggian maksimum (ceiling) mencapai 7.200 meter.

Dalam hal kecepatan, drone ini memiliki kecepatan jelajah antara 50 hingga 180 km/jam serta mampu memacu kecepatan jelajah maksimum hingga 235 km/jam.

Untuk pengoperasian di landasan, Elang Hitam membutuhkan jarak lepas landas dan pendaratan kurang dari 1.000 meter pada kondisi bobot maksimum di permukaan laut.

Kombinasi spesifikasi unggulan ini menjadikan Elang Hitam sebagai simbol kemajuan sekaligus benteng pengawas kedaulatan wilayah Republik Indonesia di udara. (RNS).

  🛩
Airspace Review  

Selasa, 22 September 2026

PTDI Bocorkan Rencana Bikin Ambulans Udara

 🛩 👷 🚑 Setelah perintah Presiden, TNI AU merubah salah satu helikopternya menjadi ambulan udara (dispenau)

Pengembangan ambulans terbang tengah dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI.

VP Business Development & Marketing PTDI Heber M. F Panjaitan mengatakan saat ini prosesnya masih tahap pengkajian.

Meski begitu, pihaknya menilai pesawat yang dapat fleksibel untuk kebutuhan ambulans terbang adalah pesawat NC212.

"Kita juga sedang explore untuk ambulans terbang. Jadi kita melihat platform NC212 ini cukup fleksibel untuk digunakan sebagai ambulans terbang, karena loading-unloading untuk orang sakit itu lebih mudah," ujar dia kepada detikcom dalam TNI Fair, di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Sabtu (19/9/2026).

Menurutnya, pengembangan ambulans terbang tersebut terbuka untuk dilakukan melalui kerja sama dengan pihak lain, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

"Ini bisa kita kerja samakan dengan BRIN atau pihak-pihak lain. Jadi platformnya bisa 212, bisa N219, bisa juga RM200," terangnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pemerintah akan membuat ambulans udara menggunakan helikopter dan pesawat kecil untuk membantu masyarakat di daerah yang sulit dijangkau.

Prabowo menyampaikan hal tersebut saat memberikan Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN 2027 beserta Nota Keuangan di Kompleks Parlemen, Jakarta, 14 Agustus 2026 lalu.

"Negara harus hadir sedekat mungkin dengan rakyat, untuk itu kita akan buat ambulans udara dengan heli dan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan-lapangan rumput, pasir, sungai, supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa tidak dievakuasi ketika dia sakit," kata Prabowo.

Prabowo mengatakan masih ada masyarakat yang harus menempuh perjalanan hingga 7-9 jam untuk mendapatkan layanan kesehatan. Kondisi tersebut, menurutnya, juga menyebabkan ibu yang hendak melahirkan kesulitan mendapatkan pertolongan medis.

"Untuk itu kita harus cari terobosan, salah satu jalan ada ambulans udara, bahkan nanti juga tim dokter terbang," ujarnya.

Gagasan tersebut kemudian direspons BRIN dengan mematangkan ekosistem pesawat N219 dan varian amfibinya, N219A, untuk mendukung visi ambulans terbang dan logistik medis.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan N219 dikembangkan bersama PTDI dan memiliki kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL), sehingga dapat beroperasi dari landasan yang relatif pendek. Sementara N219A dikembangkan sebagai varian amfibi yang dapat beroperasi di wilayah perairan.

Dengan karakteristik tersebut, N219 dan N219A diproyeksikan dapat mendukung evakuasi medis, khususnya bagi masyarakat di wilayah kepulauan dan daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat. (ada/ara

  🛩 detik  

AD Yordania Datangi Perusahaan Molay

  Minati produk militer lokal (Kompas)

Angkatan Beraenjata Yordania atau Jordanian Armed Forces (JAF) tertarik terhadap tactical boots buatan Indonesia yang diproduksi PT Molay Satrya Indonesia.

President Director PT Molay Satrya Indonesia, Arie Setya Yudha mengatakan, produk tactical boots telah dikembangkan untuk kebutuhan Mabes Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polri.

"Salah satu produk yang diperkenalkan adalah tactical boots yang telah menjadi produk unggulan Molay dan selama sekitar lima tahun dipercaya untuk mendukung kebutuhan TNI," ucap Arie usai kunjungan beberapa delegasi JAF, di Kantor Molay, Jakarta Selatan, Sabtu (19/9/2026).

Arie menyebut, Yordania menjadi negara kedua yang tertarik dengan produk perlengkapan taktikal lokal Indonesia setelah pasukan militer Zimbabwe pada 2023.

"Iya, ini negara kedua yang sudah melakukan visit ke Indonesia juga. Waktu itu kita juga sudah bisa men-deliver sepatu untuk pasukan-pasukan mereka (Zimbabwe), dan itu juga menjadi suatu step forward buat kita," ujarnya.

Arie mengatakan, pengalaman memasok produk ke negara lain menunjukkan bahwa produk buatan Indonesia memiliki peluang untuk bersaing di pasar internasional. "Ini membuktikan bahwa ternyata produk-produk yang di Indonesia ini memang bisa bersaing di kancah internasional," kata Arie.

Ia menjelaskan, Molay bergerak dalam produksi perlengkapan perorangan taktis, antara lain rompi antipeluru, sepatu, tas, pakaian, dan topi.

Beroperasi sejak 2009, Molay mulai memasok produk kepada Brimob serta pasukan khusus kepolisian sejak 2012.

"Kita sudah dari 2009 dan memang dari awal kita mengedepankan kualitas dan memang itu sesuai sama kebutuhan-kebutuhan yang ada di lapangan," ujarnya.

Molay kemudian mulai mendapatkan kontrak langsung dengan Mabes TNI dan Mabes TNI AD sejak 2023.

"Sudah mulai dipercaya secara berkontrak langsung itu semenjak 2023 di Mabes TNI dan di Mabesad sampai sekarang," kata Arie.

Menurut Arie, peluang pasar internasional kini terbuka karena sejumlah negara berupaya mencari alternatif pemasok untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu negara.

  💥 
Kompas  

Senin, 21 September 2026

PTDI Akan Garap 15% Airframe Jet Tempur KF-21

  Dorong Kontrak Pengadaan 16 Unit untuk TNI AU
Pesawat tempur KF-21 Boramae (KAI)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah mengantongi Industrial Collaboration Agreement (ICA) dengan Korea Aerospace Industries (KAI) asal Korea Selatan untuk memproduksi 15% bagian airframe (kerangka pesawat) jet tempur KF-21 Boramae bagi TNI Angkatan Udara (TNI AU).

ICA ini merupakan kelanjutan dari selesainya Fase EMD (Engineering and Manufacturing Development) KF-21 antara PTDI dan KAI pada Mei lalu, yang memungkinkan pesawat untuk selanjutnya memasuki fase produksi massal dan tahap komersialisasi.

Saat ini PTDI dan KAI bersama-sama mendorong tercapainya kontrak pengadaan 16 unit KF-21 oleh Kementerian Pertahanan untuk TNI AU dengan perkiraan nilai mencapai 2,9 miliar dolar AS (sekitar Rp 51,65 triliun). Target pengiriman tiga pesawat pertama diproyeksikan pada akhir 2028 atau awal 2029.

VP of Business Development & Marketing PTDI, Heber M.F. Panjaitan, menyampaikan hal tersebut dalam perbincangan dengan Airspace Review di ajang TNI Fair yang berlangsung di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat pada Sabtu (19/9).

Ia menjelaskan, melalui kesepakatan ICA dengan KAI, PTDI akan memperoleh nilai tambah yang sangat krusial dalam memperkuat kapasitasnya sebagai entitas industri dirgantara nasional. “Dengan membeli KF-21 ini, ada nilai tambah yang sudah kami susun dalam ICA tersebut yang akan didapatkan oleh PTDI untuk meningkatkan kemampuan menuju kemandirian industri dalam negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, PTDI akan menerima kucuran investasi sekitar 100-an juta dolar AS (lebih dari Rp 1,78 triliun) guna memaksimalkan fasilitas produksi di hanggar milik Kementerian Pertahanan di Bandung. Investasi tersebut, merupakan bagian dari total nilai kontrak yang akan didapat Indonesia.

Semua permesinannya akan direvitalisasi, plus diberikan kemampuan komposit oleh KAI. Ini yang paling diincar industri penerbangan, yaitu Automated Fiber Placement (AFP),” ungkap Heber.

Sebagai tambahan informasi, AFP merupakan teknologi fabrikasi otomatis berbasis lengan robotik untuk menyusun dan menempelkan pita serat karbon (carbon fiber tows/prepreg) ke cetakan (mandrel/mold) dengan tingkat presisi dan kecepatan tinggi.

Guna mendukung penguasaan teknologi ini, KAI selain akan melengkapi berbagai fasilitas yang dibutuhkan tersebut, juga akan memberikan pelatihan kualifikasi secara intensif bagi puluhan teknisi dan insinyur PTDI.

"Ini merupakan benefit yang luar biasa tentunya bagi PTDI, di mana kita membeli 16 unit jet tempur KF-21 dan sekaligus mendapatkan nilai-nilai tambah tersebut," pungkas Heber.

 Dimulai pada 2010

Program KF-X/IF-X resmi dimulai pada 2010 melalui penandatanganan kesepakatan awal antara Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan untuk merancang jet tempur generasi 4,5 secara bersama.

Indonesia sepakat menanggung 20 persen biaya pengembangan dengan imbalan alih teknologi (transfer of technology) serta hak memproduksi pesawat untuk kebutuhan TNI AU.

Perjalanan panjang proyek kolaborasi ini melalui berbagai tahapan krusial, mulai dari fase pengembangan konsep (Technology Development), desain detail, hingga penyelesaian rancangan akhir (Critical Design Review).

Seiring berjalannya waktu, penamaan program ini berevolusi dan resmi diperkenalkan ke publik sebagai KF-21 Boramae saat peluncuran unit prototipe pertamanya pada April 2021.

Meskipun dinamika negosiasi ulang serta penyesuaian porsi pendanaan sempat mewarnai perjalanan kemitraan ini, kedua negara tetap mempertahankan komitmen utama untuk menyelesaikan program pengujian.

Keberhasilan penerbangan perdana prototipe KF-21 pada Juli 2022 menjadi bukti nyata pencapaian teknis dari kerja sama strategis Korea Selatan dan Indonesia.

Kini, dengan tuntasnya Fase EMD dan dimulainya kesepakatan produksi komponen airframe oleh PTDI, sejarah panjang KF-X/IF-X memasuki babak baru yang makin konkret.

Pencapaian ini menegaskan transformasi hubungan kedua negara dari sekadar kerja sama riset menjadi kemitraan manufaktur pertahanan tingkat lanjut. (RNS)

  ★ Airspace Review   

PT DI Dapatkan Kontrak Harwat Pesawat Terbang/Helikopter TNI AU

 🛩 👷 Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Koharrmatau dan PT DI (PTDI)

PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) dan Komando Pemeliharaan Materiel Angkatan Udara (Koharmatau) memperkuat kolaborasi dalam mendukung keberlanjutan pemeliharaan pesawat terbang dan helikopter milik TNI Angkatan Udara (TNI AU). Kolaborasi ini diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Pendayagunaan Sumber Daya dan Pemanfaatan Fasilitas Pemeliharaan Pesawat Terbang/Helikopter.

PKS ini ditandatangani oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, dan Komandan Koharmatau, Rudolf P. Buulolo di Ruang Rapat Basir Surya, Koharmatau, Kamis (17/09). Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mengintegrasikan kapabilitas industri PTDI dengan sumber daya dan fasilitas yang dimiliki TNI AU untuk memperkuat dukungan terhadap pemeliharaan armada udara TNI AU.

Pada kesempatan ini, kedua pihak juga menandatangani dokumen perjanjian Side Letter sebagai tindak lanjut terhadap kerja sama pemeliharaan pesawat terbang/helikopter, serta kerja sama pengadaan suku cadang dan Harwat pesawat CN235 milik TNI AU. Dalam hal ini, Koharmatau akan memberikan dukungan berupa penyediaan personel, peralatan, fasilitas, dan Ground Support Equipment (GSE). Sementara itu, PTDI akan menyediakan personel yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan, termasuk dukungan teknis dan pemeliharaan guna menjaga kesiapan operasional pesawat milik TNI AU.

Kolaborasi ini mencerminkan komitmen PTDI sebagai industri pertahanan untuk memberikan dukungan berkelanjutan terhadap pesawat yang telah diproduksi dan dioptimalkan pemanfaatannya bagi pengguna (end-user), dalam hal ini, TNI AU. ”Kerja sama ini menjadi hal penting untuk memastikan kemampuan armada tetap terjaga dan memenuhi Optimum Essential Force TNI AU. Bagi kami, kerja sama ini juga merupakan bentuk komitmen untuk terus mendukung kebutuhan pemeliharaan alutsista TNI AU, melalui kemampuan teknis sumber daya manusia, serta fasilitas yang dimiliki masing-masing pihak, diharapkan kegiatan pemeliharaan dapat dilaksanakan secara lebih terkoordinasi sesuai dengan kebutuhan,” ujar Gita Amperiawan, Direktur Utama PTDI.

Sementara itu, Komandan Koharmatau, Rudolf P. Buulolo, mengatakan, ”Saya memandang bahwa kerja sama ini memiliki arti penting, bukan hanya dalam mendukung pelaksanaan pemeliharaan, tetapi juga dalam meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, memperkuat transfer pengetahuan dan pengalaman, serta membangun kemampuan pemeliharaan yang semakin mandiri dan berkelanjutan.” .

  🛩 PTDI  

Minggu, 20 September 2026

PTDI Targetkan Produksi 150 Unit N219

 🛩 Buat Daerah 3T 🛩 N219  (PTDI)

PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI meningkatkan produksi pesawat komersial N219 berkapasitas 19 penumpang.

VP Business Development & Marketing Heber M. F. Panjaitan menjelaskan pesawat N219 diproduksi untuk melayani rute-rute perintis seperti daerah 3 T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar).

Pesawat N219 diyakini dapat menghubungkan daerah-daerah yang sulit dijangkau dengan darat maupun laut. Heber menekankan, pesawat N219 ini diproduksi dengan peruntukan dual use, bisa untuk kebutuhan sipil/komersial maupun militer.

"Untuk komersial potensi lebih dari 150 unit untuk memenuhi rute-rute perintis, itulah tadi buat yang N219. Jadi cukup besar yang layak bangsa pasarnya. Dan ada 30 unit penugasan Kemhan yang tadi saya bilang, 30 unit dari penugasan Presiden, untuk memenuhi kebutuhan di kementerian lembaga. Jadi memang cukup besar bangsa pasarnya, 150 plus 30 itu, 180 unit," kata dia kepada detikcom dalam TNI Fair, di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Sabtu (19/9/2026).

Untuk mengejar pasar tersebut, PTDI menargetkan peningkatan kapasitas produksi N219 secara bertahap. Pada 2026, Heber mengungkap sudah ada kontrak 13 unit, yaitu 4 untuk komersial, 6 permintaan dari TNI AD dan 3 dipesan oleh PT BIBU Agro Maritim, anak usaha PT BIBU Panji Sakti.

Selain itu, terdapat 3 unit N219 yang sudah masuk tahap Perjanjian Pengadaan Barang dan Jasa (PPBJ) dari Kementerian Pertahanan.

"Untuk N219 sendiri, yang sudah kontrak itu ada 6 dari TNI AD, kemudian ada 4 dari Mitra Aviasi Perkasa, kemudian ada 3 dari BIBU Panji Sakti," tambahnya.

PTDI menyebut harga N219 berada di kisaran US$ 9 juta-US$ 10 Juta per unitnya. Namun harga itu belum termasuk jika ada permintaan modifikasi tertentu.

"Kalau kita lihat kan pesawat ini kami sudah memiliki pricing sekitar 9 juta sampai 10 juta dolar kisaran harga satu pesawat ini untuk basic configuration. Jadi tinggal dikalikan dengan unitnya, satuannya untuk basic, kecuali ada modifikasi-modifikasi tertentu, mungkin ada peningkatan harga," ujarnya.

 Produksi Pesawat PTDI

Secara keseluruhan, kapasitas produksi PTDI pada 2026 ditargetkan mencapai 28 unit. Jumlah tersebut terdiri dari 6 unit NC212, 4 unit CN235, 2 unit N219, dan 16 unit helikopter.

"Produksinya, kapasitas kita tahun 2026 ini ada 28 unit. Gabungan daripada 6 unit NC212i, 4 CN235, 2 N219, dan 16 helikopter. Kita akan targetkan naik bertahap lewat ekspansi CN235 ke 6-8 unit per tahun, terus sampai ke 10-12 unit per tahun. Terus untuk N219, dari 6 meningkat ke 12 unit per tahun. Ekspornya tentunya negara-negara yang kita targetkan itu wilayah Asia Pasifik, Afrika, dan juga Amerika Latin," jelasnya.

Pesawat ini juga dipamerkan dalam ajang TNI Fair yang digelas di Monumen Nasional (Monas) pada 19-20 September 2026. Pameran tersebut menjadi ajang bagi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk menampilkan sejumlah produk dan kapabilitas industri kedirgantaraan yang telah dikontrak maupun yang berpotensi memenuhi kebutuhan TNI.

Produk yang ditampilkan antara lain pesawat CN235, NC212/NC212i, N219, helikopter, hingga sejumlah teknologi pendukung pertahanan.

Selain produk pesawat, PTDI menampilkan berbagai kerja sama dan pengembangan teknologi pertahanan, termasuk kerja sama dengan sejumlah mitra asing serta pengembangan drone. PTDI juga memperkuat kapabilitas pemeliharaan dan perawatan mesin pesawat melalui anak usahanya, PT Nusantara Turbin dan Propulsi (NTP).

Selain produk pesawat, PTDI menampilkan berbagai kerja sama dan pengembangan teknologi pertahanan, termasuk kerja sama dengan sejumlah mitra asing serta pengembangan drone. PTDI juga memperkuat kapabilitas pemeliharaan dan perawatan mesin pesawat melalui anak usahanya, PT Nusantara Turbin dan Propulsi (NTP).

Keikutsertaan PTDI dalam pameran ini juga menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas pasar dan meningkatkan kapasitas produksi. (ada/ara) .

  🛩 detik  

Sabtu, 19 September 2026

Perbaikan Kapal Induk Garibaldi akan Dilakukan PT PAL dan Fincantieri

   Difokuskan untuk OMSP https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7uSgHIaMP7I8ifc6lxj-qORK7lxkqMywkhgorUov9nHSKidmSjWf2rw8jpkHpmD-STJ9kSrkuc5PuAL6n0Td56vADeqiVfjEw1upJ5LgJ6Zuiy8svET2RSQyDPPiD6n-qEGS0oJoSrzYzyNNt2v1Qb_7-6KC6dnawFEuWOi4Lkxr8CkEJLRdsU126-C_U/s2048/IMG_0758.jpegITS Garibald berlabuh di Tanjung Priok (Rihan)

Kapal induk hibah dari pemerintah Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, akan dilakukan perbaikan atau refurbishment oleh industri pertahanan dalam negeri, PT PAL Indonesia bersama galangan asal Italia, Fincantieri.

Selain itu, perusahaan asal Italia lain, Leonardo S.p.A juga dilibatkan untuk urusan senjata eks kapal induk Angkatan Laut Italia tersebut.

“(Perbaikan) kerja sama antara PT PAL dengan Fincantieri, dengan beberapa mungkin ada dari Leonardo, ada juga dari perusahaan lain untuk peralatannya,” kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali saat menyambut kedatangan ITS Giuseppe Garibaldi di Dermaga 107, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat (18/9).

KSAL Ali menyampaikan, Kementerian Pertahanan RI telah menyiapkan biaya refurbishment maupun retrofit kapal induk Garibaldi.

Nantinya, kapal induk Garibaldi akan difokuskan untuk operasi militer selain perang (OMSP), dengan diharapkan bisa membawa banyak helikopter dan kendaraan nirawak atau drone. Garibaldi juga diharapkan bisa beroperasi sampai 15-20 tahun lagi.

Kapal ini nantinya akan lebih kita gunakan untuk kepentingan OMSP. Namun, juga bisa digunakan untuk kepentingan militer untuk perang (OMP), tapi kita fokuskan untuk OMSP, di mana negara kita ini banyak bencana alam. Jadi kita sangat butuh kapal atau platform yang bisa membawa banyak helikopter,” tutur KSAL.

KSAL menambahkan, dengan helikopter, logistik akan bisa banyak didrop dengan cepat dan bisa menjangkau daerah terpencil sekali pun.

Jadi ini bisa membawa 14 helikopter, mungkin bisa lebih, tergantung ukuran helikopternya,” kata Ali.

Ali mengatakan, kapal induk Garibaldi sebenarnya sudah bisa berlayar. Namun, peralatan dan senjata harus tetap disesuaikan dengan kebutuhan operasi TNI dan TNI AL. Sebab, kebutuhan operasi militer Indonesia tidak sama dengan militer Italia.

 Target selesai 3-4 bulan

Sementara itu, Direktur Utama PT PAL Kaharuddin Djenod menargetkan perbaikan dan retrofit kapal induk Garibaldi bisa selesai dalam tiga hingga empat bulan.

Kami dalam waktu dekat bersama Fincantieri akan terus mengasesmen semuanya, kami akan lihat mana-mana yang perlu diperbaiki,” tutur Djenod.

Djenod mengatakan, perbaikan juga meliputi sistem power atau kelistrikan pada kapal. “Kalau sekarang masih menggunakan gas turbin, kami melihat itu kemungkinan diganti dengan power yang lain,” kata dia.

Meskipun difokuskan untuk OMSP, kapal induk Garibaldi nantinya tetap dipasang senjata dengan melibatkan Leonardo S.p.A.

Rencananya, kapal induk Garibaldi akan diberi nama KRI Sriwijaya. Pemberian nama atau ship naming akan digelar pada 24 September 2026. .

    IDM   

Jumat, 18 September 2026

PAL Menargetkan Produksi Massal Torpedo Piranha

   Mulai tahun 2027 Torpedo Piranha desain PAL ( PAL)

Perusahaan galangan kapal milik negara Indonesia, PT PAL Indonesia, telah memaparkan rencana untuk memulai produksi massal torpedo ringan buatan dalam negeri, Piranha, pada Januari 2027.

PT PAL menyampaikan rencana tersebut pada 9 September dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh asosiasi awak kapal selam TNI Angkatan Laut dan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal).

Materi presentasi dari seminar tersebut diperoleh Janes dari seorang sumber yang menghadiri acara itu.

Baik PT PAL maupun Kementerian Pertahanan RI belum mengumumkan secara resmi adanya kontrak produksi untuk senjata tersebut.

Dalam slide presentasi, PT PAL mendeskripsikan Piranha sebagai torpedo ringan untuk peperangan anti-kapal selam (ASW) dengan jangkauan lebih dari 15 km, kecepatan maksimum 40 knot, dan hulu ledak seberat 50 kg.

Senjata ini ditampilkan sebagai upaya pengembangan mandiri yang bertujuan mendukung ambisi Indonesia untuk mencapai kemandirian lebih besar dalam teknologi peperangan bawah air.

Menanggapi pertanyaan dari Janes, PT PAL menyebut partisipasinya dalam seminar tersebut sebagai kesempatan untuk menunjukkan transformasi perusahaan yang sedang berlangsung, dari sekadar pengembangan platform menuju kemampuan sistem terintegrasi.

"Sejalan dengan arah pengembangan ini, PT PAL Indonesia terus mendorong kemajuan teknologi pertahanan maritim melalui wahana permukaan tanpa awak (USV), wahana bawah air otonom (AUV), dan torpedo Piranha," ujar pihak PT PAL.

"Pengembangan ketiga sistem ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan operasional dengan memanfaatkan teknologi tanpa awak dan otonom, serta integrasi sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan misi," tambah perusahaan tersebut.

Pada Oktober 2025, PT PAL melakukan uji coba penembakan Piranha dari prototipe kapal selam otonom (KSOT) miliknya.

Uji coba tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, yang menyebut penembakan itu sebagai tonggak pencapaian penting bagi negara.

   👷  Jane’s 

Kamis, 17 September 2026

TNI AL Siapkan 310 Personel untuk Jadi Awak Kapal Induk KRI Sriwijaya

   https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNWD-c9Q3xCRxJqs_XTc07pVJGoIsgZlH9ReGaMjw8yDqgX1pmGcamxApxRmt_nEuddd0GQOwrZIbGftc0PYT2OK2Te5ClGjKQBcf7tGCilPZrS5VyertemC-dMF0JMfXzXHQVE6sz0YQtq63C3k5yh2EE0dbUe8-wKHNjJJUXeCcqesAepEwdvi0DKcvn/s1200/IMG_0755.jpegITS Garibaldi ketika dikawal 2 Brawijaya class di perairan Indonesia (Dispenal)

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) menyiapkan 310 personel untuk menjadi calon awak kapal induk KRI Sriwijaya.

Dikutip dari siaran pers Komando Armada (Koarmada) RI di Jakarta, Kamis, dijelaskan upaya penyiapan itu dilakukan dengan cara memberikan berbagai pelatihan kepada para calon awak kapal.

"Materi diberikan sebagai bekal pengetahuan, keterampilan, dan profesionalisme yang harus dimiliki setiap prajurit, sebelum mengemban tugas sebagai pengawak KRI Sriwijaya," ujar Kepala Dinas Penerangan Koarmada RI Kolonel Laut (P) Wishnu Ardiansyah.

Para pengajar yang dihadirkan dipastikan memiliki latar belakang yang relevan dengan kebutuhan pengetahuan para calon awak kapal.

Salah satu yang telah memberikan pengarahan kepada para calon awak kapal, yakni Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) RI Laksamana Madya TNI Denih Hendrata di Gedung Canopus, Kolat Armada RI, Jakarta Utara, Rabu (16/9).

Kendati demikian, Wishnu tidak menjelaskan secara rinci materi apa saja yang diberikan kepada para personel.

Dia juga tidak menjelaskan secara rinci sejak kapan proses pendidikan tersebut berlangsung. "Dapat dipastikan pembentukan calon pengawak dilaksanakan melalui pelatihan yang terarah, disiplin dan berorientasi pada kesiapan operasional," kata dia.

Dengan adanya pelatihan tersebut, TNI AL berharap para calon awak kapal KRI Sriwijaya mendapatkan ilmu yang cukup agar mampu mengawaki kapal induk dengan lebih maksimal. .

    antara   

Rabu, 16 September 2026

First Vehicle Pre delivery Acceptance Test Successfully Completed In the Kaplan APC

 Program developed by FNSS and PT PINDADAPC Kaplan (FNSS)

F
ollowing the contract signed between PT Pindad and the Indonesian Ministry of Defense to meet the Indonesian army's requirement for a 30-ton class tracked armoured personnel carrier, the first KAPLAN APC (HARIMAU APC) was manufactured at FNSS facilities under the "KAPLAN Armoured Personnel Carrier (KAPLAN APC) Development and Production Agreement" signed between PT Pindad and FNSS. The vehicle's pre-delivery acceptance tests were successfully carried out in Türkiye with the participation of PT Pindad.

Following the shipment of the HARIMAU APC to Indonesia, final acceptance tests will be carried out together with the end user. Production activities for the second vehicle, to be manufactured at PT Pindad's facilities in Indonesia, are also continuing at the same time.

The KAPLAN APC (HARIMAU APC) Project, a continuation of the success achieved in the KAPLAN MT (HARIMAU) Project, has once again demonstrated FNSS's experience and success in technology transfer and local production.

KAPLAN APC The structural design will enable vehicle to accommodate a crew of 13 personnel, including driver, commander, and a gunner. The vehicle will be developed to operate under all terrain and weather conditions. Its advanced suspension system will reduce internal vibration and improve traction. The vehicle will feature an open architecture electronics infrastructure, facilitating easy integration of various mission-critical systems, including a Battlefield Management System and 360° Situational Awareness System that provides both day and night vision for the crew.

The KAPLAN APC will be equipped with modular protection systems to effectively counter evolving battlefield challenges, providing a unique protection against ballistic and mine threats. In addition to its high personnel carrying capacity, the KAPLAN APC will be designed as the fastest vehicle in its class. Additionally, based on user requirements, the KAPLAN APC can be optionally fitted with an active protection system to defend against anti-tank missiles and rocket-propelled grenades.

The vehicle will be equipped with an automatic fire suppression system, an A/C system, and CBRN system, achieved through maintaining a sealed internal environment. These features will be designed to ensure the crew's survival and maintain their combat effectiveness in most challenging conditions.

The KAPLAN APC will be designed as a modular vehicle capable of integrating both manned and unmanned turret systems. It can be equipped with light and medium calibers such as 30 mm or 35 mm as well as 120 mm mortars and anti-tank guided missile systems.

This modular design will enable the KAPLAN APC to be configured for a wide array of missions, including mechanized infantry, reconnaissance, command and control, force protection, medical evacuation, rescue operations, combat engineering, and both direct and indirect fire support.

All these configurations are built on an armored combat vehicle platform that is equipped with a powerful engine and an automatic transmission, ensuring mobility capabilities compatible with modern main battle tanks.

The extensive use of identical parts and subsystems in the KAPLAN APC, with KAPLAN MT and other configurations within the KAPLAN tracked vehicle family, will offer significant advantages. Additionally, the vehicle will share common subsystems with the Armored Amphibious Assault Vehicle (ZAHA), which FNSS has deployed to the Turkish Naval Forces Marine Infantry Brigade. These features will ensure the KAPLAN APC's reliability, logistical integration, and ease of service, leveraging proven components from a battle-proven vehicle family used by the Turkish and Indonesian armies. This advantage will also reduce logistical burdens for global users, improve mean time between failures (MTBF), and enhance combat readiness.

 
FNSS  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More