blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label Pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pangan. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2026

RI Kian Diperhitungkan Usai Ekspor Pupuk ke Australia

  Menunjukkan Indonesia menjaga stabilitas pangan (antara)

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut Indonesia semakin dipercaya dan diperhitungkan dalam menjaga stabilitas pangan kawasan seiring dimulainya ekspor pupuk ke Australia di tengah ketidakpastian global.

"Ini menunjukkan Indonesia semakin dipercaya dan diperhitungkan dalam menjaga stabilitas pangan kawasan,”kata Mentan dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Hubungan kerja sama Indonesia dan Australia di sektor pangan semakin menguat. Menteri Amran mengaku menerima telepon langsung dari Menteri Pertanian Perikanan dan Kehutanan Australia Julie Collins MP yang menyampaikan apresiasi atas dukungan pasokan pupuk Indonesia.

Amran mengatakan, percakapan berlangsung hangat, Australia menyampaikan terima kasih karena Indonesia membantu menjaga ketersediaan pupuk di tengah gangguan rantai pasok akibat tekanan geopolitik global.

Pemerintah Australia mengapresiasi Indonesia telah membantu menjaga ketersediaan pasokan pupuk di tengah gangguan rantai pasok dunia akibat ketidakpastian geopolitik global yang berdampak pada pasokan energi, pangan, dan bahan baku di berbagai negara.

"Menteri Pertanian Australia menyampaikan terima kasih karena Indonesia telah membantu menyuplai pupuk ke Australia di tengah tantangan geopolitik global," ujar Amran.

Mentan Amran mengatakan, pemerintah Australia menilai langkah Indonesia mengekspor pupuk memiliki arti penting dalam menjaga ketahanan sektor pertanian di kawasan.

Menurut Amran, kondisi tersebut menunjukkan Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mendukung kebutuhan negara lain.

Ucapan terima kasih dari pemerintah Australia sebelumnya juga telah disampaikan secara langsung oleh Perdana Menteri Australia Anthony Albanese kepada Presiden Prabowo Subianto melalui komunikasi telepon.

Hal tersebut menjadi sinyal kuat bahwa kerja sama pangan antara kedua negara kini berkembang menjadi kemitraan strategis yang semakin erat.

Perdana Menteri Australia menelepon Bapak Presiden Prabowo mengucapkan terima kasih karena Indonesia menyetujui ekspor pupuk ke Australia,” kata Mentan Amran.

Komunikasi langsung antara pemimpin kedua negara tersebut dinilai menunjukkan posisi Indonesia yang semakin strategis dalam rantai pasok pangan global, khususnya sektor pupuk.

Pada pelepasan ekspor perdana pupuk urea ke Australia di Dermaga BSL PT Pupuk Kalimantan Timur, Bontang, Kamis (14/5), Mentan Amran menyampaikan ekspor tersebut menjadi bagian dari kerja sama Government-to-Government (G2G) Indonesia–Australia dalam memperkuat ketahanan pangan kawasan Asia-Pasifik.

Pada tahap awal, volume ekspor yang dikirim mencapai 47.250 ton. Jumlah tersebut merupakan bagian dari komitmen kerja sama sebesar 250.000 ton dan ditargetkan meningkat menjadi 500.000 ton dengan nilai sekitar Rp7 triliun.

Ini mencetak sejarah karena kita akan mengekspor pupuk ke beberapa negara termasuk Australia," kata Amran.

Amran menegaskan penguatan industri pupuk merupakan fondasi penting dalam percepatan program swasembada pangan nasional. Ketersediaan pupuk yang cukup, harga yang lebih terjangkau, serta distribusi yang semakin cepat menjadi kunci peningkatan produksi pertanian nasional.

Dia juga menegaskan pemerintah tetap mengutamakan kebutuhan pupuk petani di dalam negeri. Ekspor dilakukan karena produksi pupuk nasional berada dalam kondisi surplus sehingga kebutuhan petani Indonesia tetap aman dan terpenuhi.

Saat ini produksi urea nasional ditargetkan mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik sekitar 6,3 juta ton. Artinya, Indonesia masih memiliki surplus sekitar 1,5 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pasar ekspor sekaligus mendukung diplomasi pangan nasional.

Ekspor pupuk ke Australia tidak hanya mencerminkan kekuatan industri pupuk nasional, tetapi juga menandai peran baru Indonesia sebagai mitra strategis dalam menjaga ketahanan pangan global di tengah dinamika geopolitik dunia.

 👷 Antara  

Kamis, 22 Agustus 2024

Wamenlu RI Berkunjung ke Turkiye untuk Dorong Kerja Sama Strategis

 Menjadi Special Envoy Presiden 
https://backpanel.kemlu.go.id/sites/pusat/PublishingImages/Berita/2024/08/WamenluSpcEnvoy3.jpeg(Kemlu)

S
ebagai sesama negara emerging economies yang berpengaruh di kawasan, Indonesia dan Turkiye perlu mengembangan kerja sama di sektor-sektor strategis dan menyuarakan kepentingan negara berkembang (Global South). Demkian pesan utama yang disampaikan Wamenlu RI, Pahala Nugraha Mansury dalam pertemuan dengan berbagai counterpart saat berkunjung ke Ankara, Turkiye (15-16/08).

Kunjungan Wamenlu Pahala dilakukan dalam kapasitasnya sebagai Special Envoy Presiden RI untuk mengembangkan kerja sama di sektor strategis antara kedua negara. Sebagaimana diketahui, Indonesia dan Turkiye telah meluncurkan High Level strategic Cooperation Council (HLSC) pada tahun 2022. HLSC merupakan platform komunikasi di tingkat Kepala Negara untuk meningkatkan hubungan bilateral.

Pada kunjungan ini, Wamenlu Pahala secara khusus menemui counterpart-nya, Special Envoy Presiden Turkiye, Y.M. Akif Cagatay Kilic. Dalam pertemuan, keduanya membahas persiapan HLSC pertama yang kemungkinan dilakukan akhir 2024 atau awal 2025. Beberapa bidang kerja sama strategis dibahas sebagai deliverables konkrit HLSC, antara lain: kerja sama strategis di sektor pertahanan dan industri pertahanan, percepatan penyelesaian negosiasi Indonesia-Turkiye CEPA, kerja sama di bidang energi, counter-terrorism dan kerja sama antar Parlemen.

Selain itu, Wamenlu Pahala bertemu dengan Wamenlu Turkiye, Y.M. Burhanettin Duran, untuk bahas isu bilateral dalam kerangka 7​5 tahun hubungan diplomatik, isu regional yaitu keinginan Turkiye memperkuat kerja sama dengan ASEAN, serta penegasan dukungan kedua negara bagi Palestina.

Wamenlu Pahala juga bertemu dengan Secretary Industri Pertahanan Turkiye (SSB), Prof. Dr. Haluk Gorgun, serta sejumlah perusahaan inhan, guna bahas kerja sama strategis di bidang industri pertahanan yang tidak hanya mencakup procurement, namun juga joint production dan pengembangan ekosistem industri pertahanan. Sektor kerja sama ini juga dibahas lebih lanjut dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Pertahanan Turkiye, Y.M. Bikal Durdali.

Guna mendukung kerja sama strategis, khususnya di bidang pertahanan, Wamenlu Pahala bertemu dengan Wakil Menteri Keuangan, Turkiye, Y.M. Osman Celik. Keduanya membahas mengenai upaya dukungan pendanaan dan penjaminan dalam pengadaan alat-alat pertahanan. Selain itu juga penguatan kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular untuk mendukung sesama negara berkembang.

Selain itu, Wamenlu Pahala juga membahas peluang kerja sama pembangunan dengan Vice President Turkish Coordination and Cooperation Agency (TIKA), Rahman Nurdun. Wamenlu Pahala tekankan perlunya perubahan mindset negara berkembang yang dulunya menjadi penerima bantuan, menjadi emerging donors. Wamenlu Pahala juga jajaki kemungkinan kerja sama Indonesia dan Turkiye dalam menyediakan bantuan pembangunan bagi negara-negara di Afrika dan Pasifik.

Selain dengan kalangan pemerintah, Wamenlu Pahala juga melakukan pertemuan dengan sejumlah kalangan bisnis, untuk membahas potensi kerja sama di sektor prioritas yaitu: industri pertahanan, energi, pangan dan pertanian, kesehatan serta konstruksi.

Melalui kunjungan ini, diharapkan Indonesia dan Turkiye dapat bekerja sama lebih erat dan mewujudkan potensinya menjadi emerging regional and global powers.

  ⍟
Kemlu  

Minggu, 17 Oktober 2021

BUMN 'Sakit' Tidak Akan Diberi PMN

 Kekesalan Jokowi 'Meledak' di Labuan Bajo Jokowi Bertemu Bos BUMN [Laily Rachef Biro Pers Sekretariat Presiden]

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan beberapa arahan kepada Menteri BUMN Erick Thohir. Salah satu arahannya adalah, untuk tidak memanjakan BUMN yang sakit dengan penyertaan modal negara (PMN).

Jokowi mengatakan, sudah sejak 7 tahun lalu, dirinya sudah menginstruksikan untuk menggabungkan, mengkonsolidasikan, dan mereorganisasi BUMN yang dinilai saat itu sudah sangat terlalu banyak.

"Ada 108 (BUMN), sekarang sudah turun menjadi 41. Ini sebuah pondasi yang sangat baik dan diklasterkan itu juga baik. Yang paling penting ke depan yang kita bangun adalah nilai-nilai, core value," jelas Jokowi saat memberikan arahan kepada para Direktur Utama BUMN di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, seperti dikutip dalam tayangan Youtube Sekretariat Presiden, Sabtu (16/10/2021).

Tak hanya soal PMN, berikut sejumlah kekesalan Jokowi terhadap pengelolaan BUMN.

  1. Sindir BUMN Pangan 

Jokowi mengatakan ketahanan pangan penting di tengah terjadinya perubahan iklim, sehingga jika terjadi krisis pangan terjadi Indonesia bisa mengambil kesempatan untuk mendapatkan keuntungan.

Namun dia kesal dengan BUMN pangan RI. Indonesia memiliki tanah yang luas tapi perencanaan di perusahaan BUMN soal hal ini masih belum maksimal.

"Sudah diprediksi ada terjadi krisis pangan. Ini kesempatan kita karena punya tanah luas, tapi yang merancang ya jangan yang kecil-kecil lah. BUMN hanya buat kecil-kecilan," katanya.

"Udah buat kecil-kecil gak jadi lagi. Buat yang gede sekali, berpartner," tambahnya.

Dia menceritakan tujuh tahun lalu datang ke Merauke, memiliki hamparan daratan yang melimpah. Jika digabung wilayah Merauke, Mappi, dan Boven Digoel itu ada 4,2 juta hektar lahan datar.

"Namun kalau kita sendiri pertama butuh modal besar, kedua butuh teknologi. Kita gak punya kemampuan kesana makanya cari partner," katanya.

"Itu baru satu lokasi, belum lokasi lainnya yang memungkinkan membuat food estate, entah beras, jagung, singkong, dan lain-lain. tapi ya itu orientasinya jangan proyek saja. Dihitung lalu dikalkulasi," Katanya.

Jokowi mengatakan saat ini pemerintah sudah membuka pintu untuk mendatangkan partner baru untuk industri pangan. Namun belum direspons baik oleh perusahaan.

"Saya sering malu udah buka-bukan pintu, tapi gak ada respon ke sana. Itu investasi memang ribuan triliun, tapi kalau mau gede kita harus berpikiran gede," katanya.

  2. 'Disuntik' APBN Melulu 

Jokowi menegaskan dia tidak ingin BUMN Indonesia manja. Ketika ada persoalan keuangan perusahaan langsung minta suntikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Suntikan tersebut diberikan melalui Penyertaan Modal Negara (PMN). Nilainya juga tidak sedikit, sampai triliunan setiap tahunnya.

"Kalau yang lalu-lalu, BUMN-BUMN terlalu keseringan kita proteksi, sakit tambahi PMN, sakit suntik PMN. Maaf, terlalu enak sekali. dan akhirnya itu yang mengurangi nilai-nilai yang tadi saya sampaikan," ujar Jokowi.

BUMN, kata Jokowi harus berani menghadapi kompetisi dengan perusahaan swasta dalam dan luar negeri. Sehingga bisa memberikan kontribusi besar buat negara. Bukan malah selalu meminta pertolongan negara.

"Berkompetisi gak berani, bersaing gak berani, mengambil risiko gak berani, bagaimana profesionalisme itu tidak dijalankan. Jadi tidak ada yang namanya proteksi-proteksi," ujar Jokowi lagi.

Jokowi memerintahkan kepada Erick agar BUMN bisa secepatnya untuk bisa bersaing di dunia internasional.

"Sudah Pak Menteri [Erick Thohir], lupakan yang namanya proteksi-proteksi itu. Yang mau kita bawa BUMN ini go global, bersaing di internasional. Ya mulai harus menata, adaptasi pada model bisnisnya, teknologinya. Yang penting ini," kata Jokowi menegaskan.

  3. Sembrono Garap Proyek 

Presiden Jokowi pun terlihat kesal dengan banyaknya BUMN yang tidak cermat dalam mengkalkulasi proyek. Akibatnya, BUMN sering merugi hingga akhirnya meminta uang dari negara melalui PMN.

"Jadi sekali lagi, tadi udah disampaikan pak menteri [Erick Thohir]. Berani berkompetisi, tolong dihitung karena apapun BUMN ini perusahaan negara, sosial impactnya dihitung juga," katanya.

"Dan yang paling penting, review terus keenomiannya, berhitung, kalkulasi. Sehingga kita tau pertumbuhan ke depan itu seperti apa," lanjutnya.

Secara khusus, Jokowi juga sudah memberi arahan kepada Menteri BUMN Erick Thohir untuk tidak memanjakan BUMN yang sakit dengan PMN.

Jokowi mengaku sudah terlalu sering memberikan proteksi, yakni ketika sakit ditambahi PMN. Namun, ke depan Jokowi menyebut proteksi seperti itu tidak ada lagi.

"Jangan sampai lagi karena urusan penugasan pemerintah, saya bisa memberikan penugasan, nih penugasan bangun jalan tol. Tapi ya dihitung dong, ada kalkulasinya. Dan diberitahu, ini IRR internal recovery returnnya sekian, kami membutuhkan suntikan dari APBN sekian," sebutnya.

BUMN harus mengkalkulasi proyek mana yang menjadi prioritas hingga layak untuk digarap. Jika tidak, maka tidak perlu memaksakan.

"Jangan pas dapat penugasan rebutan, tidak ada kalkulasi karena penugasan, kemudian ngambil pinjaman jangka pendek, padahal infrastruktur itu untuk jangka panjang. Udah gak ketemu," Ujar Jokowi.

"Itu tugas saudara-saudara untuk ngitung kalau ada penugasan, kalau gak logis, dibuat logis tapi dengan kalkulasi. Ini yang kultur yang dulu-dulu tinggalkan. Karena sekarang transformasi bisnis, adaptasi teknologi sudah menjadi keharusan, tidak bisa tidak," tegasnya.

  4. Bikin Malu 
Jokowi Bertemu Bos BUMN [Laily Rachef Biro Pers Sekretariat Presiden]

Presiden Jokowi pun geram karena begitu banyak kesempatan BUMN di Indonesia untuk diajak kerja sama oleh perusahaan multinasional, tapi ajakan kerja sama itu tidak disambut dengan baik.

"Kita sudah bukain pintu, gak ada respons apa-apa ya gimana. Kadang saya sering malu," ujar Jokowi.

Jokowi menceritakan, bagaimana Perdana Menteri India Narendra Modi datang langsung ke Indonesia untuk mengajak kerja sama perusahaan pelat merah di dalam negeri.

Bahkan, kata Jokowi, PM India tersebut sampai menanyakan dirinya hingga berulang kali untuk memastikan. Namun, tidak satu pun BUMN yang bergerak dibidang kesehatan meresponnya.

"India datang sendiri Perdana Menteri Narendra Modi. Di sini gak merespons, gimana. Sampai nanyain dua kali ke saya, sudah mengirim tim ke sini, tidak ada tindak lanjut. Karena paling pas harus dari sana, murah. Obat-obat generik. Ini ada apa?," ujarnya.

"Yang penting lagi, bahan baku obat. Kita ini sumber bahan baku banyak sekali," kata Jokowi melanjutkan.

  5. Ketinggalan Zaman 

Jokowi mengungkapkan saat ini seluruh lini bisnis harus mulai beradaptasi pada model bisnis dan teknologinya, apalagi di tengah situasi pandemi Covid-19 saat ini.

Jokowi mengungkapkan saat ini beberapa BUMN telah beradaptasi dengan modal bisnis dan teknologi yang baru. Tapi, kata Jokowi di saat berbagai BUMN tersebut sudah berhasil beradaptasi, BUMN infrastruktur masih jalan di tempat.

"Adaptasi pada model bisnis yang baru dan teknologinya. Ada yang sudah masuk ke sana, cepat adaptasi. Perbankan, bank-banknya sudah masuk ke sana, Telkom, Telkomsel. Yang lain belum. Maaf, yang BUMN infrastruktur, yang transportasi belum," ujar Jokowi.

Oleh karena itu, cara paling cepat untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, yang harus didahulukan adalah beradaptasi. Setelah beradaptasi, cara yang paling cepat untuk mengembangkan model bisnis adalah dengan mengajak kerjasama perusahaan multinasional.

"Perusahaan global yang paling baik, ajak, pasti mau dengan kita. Kita sudah dinilai prospek ke depannya, 10-20 tahun akan datang kita akan menjadi ekonomi terbesar keempat dunia kok. Siapa yang gak mau, mau semua," kata Jokowi.

Mantan Gubernur DKI ini juga meminta, setiap BUMN infrastruktur diberi penugasan seperti membangun jalan tol, untuk dihitung dengan seksama nilai keekonomiannya. Karena BUMN sebagai perusahaan negara, harus dihitung dampak sosialnya, sehingga negara memiliki perhitungan seperti apa pertumbuhannya ke depan.

"Jangan sampai lagi karena urusan penugasan pemerintah. Saya bisa memberikan penugasan, nih penugasan bangun jalan Tol. Tapi ya dihitung dong. Ada kalkulasinya, dan diberitahu, ini IRR, internal recovery returnnya sekian, kami membutuhkan suntikan dari APBN sekian."

"Jangan pas dapat penugasan rebutan, tidak ada kalkulasi karena penugasan, kemudian mengambil pinjaman jangka pendek. Padahal infrastruktur itu untuk jangka panjang. Udah gak ketemu," tegas Jokowi.

Secara lugas Jokowi meminta kepada para pimpinan BUMN untuk secara arif menghitung segala pembangunan yang ada di bawah tanggung jawabnya. Budaya kuno yang dapat menghancurkan bisnis BUMN, diminta untuk ditinggalkan.

"Itu tugas saudara-saudara untuk menghitung kalau ada penugasan. Kalau tidak logis, dibuat logis dengan kalkulasi. Ini yang kultur-kultur yang dahulu, tinggalkan. Karena sekarang transformasi bisnis, adaptasi teknologi sudah menjadi keharusan, tidak bisa tidak," ujarnya.

  6. Birokratif 

Jokowi juga mengingatkan agar proses perizinan investasi di tiap BUMN tidak berbelit-belit layaknya birokrat.

"Jangan sampai yang namanya BUMN itu seperti birokrasi, ruwet," tegas Jokowi.

Eks Wali Kota Solo ini mencontohkan seperti izin pembangkit listrik sangat banyak. Untuk pembangunan pembangkit listrik, kata Jokowi, dibutuhkan setidaknya 259 izin.

"Meskipun namanya beda-beda, ada izin rekomendasi, surat pernyataan, sama saja. Itu izin. Dan jumlahnya 259 izin. Kalau di bawa koper, mungkin 10 koper ada," jelasnya.

Bahkan, Jokowi pernah menerima keluhan bahwa dibutuhkan waktu tujuh tahun untuk mendapatkan izin pembangkit listrik. Hal-hal seperti itu, kata dia, harus dipangkas.

"Siapa yang mau invest kalau berbelit-belit seperti itu? Di kementerian berbelit, di daerah berbelit, masuk ke BUMNnya berbelit lagi. Lari semua," tegasnya.

 ⍟ CNBC  

Rabu, 09 Agustus 2017

[Video] Barter Komoditas Dengan Sukhoi 35

✈️ Lavrov Sempat Bahas Sukhoi dengan Retno✈️ Pesawat Su35 Rusia [presstv]

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov berkunjung ke Jakarta dan menemui Menlu RI Retno LP Marsudi pada Rabu (9/8).

Dalam pertemuan itu, keduanya sempat membahas perjanjian barter hasil kebun Indonesia dengan sejumlah pesawat tempur Sukhoi SU-35 buatan Rusia.

[Kesepakatan pertukaran pesawat Sukhoi] sempat dibahas meski tidak secara spesifik,” ucap Menlu Retno usai bertemu dengan Lavrov di kementeriannya di Jakarta.

Topik ini dibahas seiring dengan rencana Indonesia menukar 11 jet tempur Sukhoi dari Rusia dengan hasil komoditas perkebunan utama Indonesia seperti minyak kelapa sawit, kopi, dan teh.

Kesepakatan perdagangan ini disepakati Moskow-Jakarta sekitar Kamis (3/8) lalu.

Dalam kesempatan berbeda, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, kesepakatan ini tertuang dalam penandatangan nota kesepahaman atau MoU antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia, yakni PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau PII dengan BUMN Rusia, Rostec, pada lawatan Indonesia ke Rusia.

Dengan kesepakatan dagang ini, Indonesia diharapkan bisa meningkatkan volume ekspor hasil perkebunan Indonesia dan di saat bersamaan bisa menguatkan armada F-5 angkatan udara Indonesia.

Perjanjian dagang kedua negara ini dilakukan tak lama setelah Moskow mendapat sanksi ekonomi baru dari Eropa dan Amerika Serikat.

Enggar menekankan, ini merupakan saat yang tepat untuk memanfaatkan situasi guna memperluas pasar komoditas Indonesia.

Ini peluang yang tidak boleh hilang dari genggaman kita. Potensi hubungan ekonomi yang memanfaatkan situasi embargo dan kontra embargo ini melampaui isu-isu perdagangan dan investasi," papar Enggar, sekitar awal pekan ini, di Jakarta.

Selain membahas kesepakatan dagang, Retno menuturkan pertemuannya dengan Lavrov juga membahas rencana penguatan hubungan kedua negara menjadi mitra strategis.

Dengan kemitraan tersebut, Indonesia-Rusia tak hanya memperdalam kerja sama bidang ekonomi, sosial, budaya, dan politik tapi juga meningkatkan koordinasi kedua negara pada sejumlah bidang sensitif, termasuk keamanan dan pertahanan.

Di pertemuan itu, Lavrov juga menekankan bahwa Rusia akan terus mendorong upaya Indonesia memberantas terorisme di kawasan seiring dengan meningkatnya ancaman penyebaran ISIS di Asia khususnya Asia Tenggara, terutama dengan adanya gempuran kelompok militan Maute yang berbaiat pada ISIS di Marawi, Filipina. (les)

 Berikut video liputan CNN : 


  ✈️ CNN  

Jumat, 31 Juli 2015

Presiden berkeyakinan masa depan dunia ada di Khatulistiwa

Presiden Joko Widodo (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

Presiden Joko Widodo menyebut masa depan dunia ada di sekitar garis khatulistiwa karena intensitas sinar matahari yang terus menerus membuat produksi pangan, energi, dan air tetap melimpah di wilayah ini.

Presiden Jokowi saat membuka Musyawarah Nasional VIII Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur, Jumat, mengatakan posisi ini adalah anugerah Tuhan bagi rakyat Indonesia.

"Ini adalah anugerah dari Allah sehingga kalau manajemen tidak baik bisa kita perbaiki pada saatnya nanti dan kita harus optimistis untuk bisa, Indonesia bisa menjadi pemasok pangan untuk dunia," katanya.

Menurut dia banyak peluang yang bisa dimasuki petani Indonesia karena tercatat konsumsi beras dunia mencapai 450 juta ton per tahun, singkong 450 juta ton per tahun, dan ikan 100 juta ton per tahun.

Oleh karena itu, ia menegaskan peningkatan produksi pangan Indonesia harus mulai ditangani serius. "Saya menggarisbawahi bahwa memang harus ada kerja sama antara pemerintah, Kementerian Pertanian, dengan HKTI," katanya.

Presiden yakin Indonesia bisa menjadi pemasok pangan dunia, namun pada beberapa tempat seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) selalu menghadapi masalah air padahal lahan tersedia.

"Bagaimana mau nanam, airnya saja tidak ada. Oleh sebab itu, 49 waduk yang akan dibangun 7 di antaranya di NTT, mulai tahun ini semuanya dibangun," kata dia.

Ia menambahkan jika sudah ada waduk maka lahan perkebunan bisa ditanami.

Selain itu di Merauke terdapat lahan subur seluas 4,6 juta hektare namun pembangunan waduk sejak zaman Belanda tidak ditindaklanjuti.

"Waktu saya cek hasil produksi petani 5-6 ton per hektare, ada yang 8 ton per hektare, bayangkan kalau 4,6 juta hektare bisa ditanami dengan hasil 8 ton per hektare maka dari satu kabupaten bisa 120 juta ton produksi," katanya.

Namun ia menambahkan perlu ada mekanisasi pertanian karena saking luasnya lahan sehingga tidak bisa digarap secara tradisional.

Presiden menyampaikan pentingnya mewujudkan kedaulatan pangan, diversifikasi beras, dan meningkatkan fungsi dan peran HKTI berdampingan dengan pemerintah untuk membangun manajemen dan mengorganisir petani dengan lebih baik.

   antara  

Senin, 23 Juni 2014

"Negara Maju Tak Rela Indonesia Swasembada Pangan"

Mereka membidik Indonesia sebagai pasar produk pertaniannya. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsEiXbeNn-Wb0OQgmkZXJkSzyeuB0O3JGwVRfW4K7-ZwuXA1zzNFGIEhlJ5DFLpn-wZ7LX-3VwwOLYm_2_TmvVeLyrHoysy5_LCGTNkMHOSz_9k4Kb2I6Kkk99zagnGLZGHYD9HTl4lOI/s1600/Anoa+RCWS+Garuda+Militer.gifIlustrasi Pemandangan Sawah Ubud

P
erhimpunan Insinyur Pertanian Indonesia (Pispi) mengungkapkan alasan Indonesia masih bergantung impor produk pertanian. Negara maju rupanya tak rela Indonesia bisa swasembada pertanian.

"Negara-negara maju tidak menginginkan kita swasembada," kata Ketua Umum Pispi Arif Satria, di Jakarta, Sabtu 21 Juni 2014.

Arif mengatakan, bahwa negara-negara yang tergabung di dalam Organisation Economic for Cooperation Development (OECD), seperti Amerika Serikat dan Australia, membidik Indonesia sebagai pasar produk pertanian mereka.

"Negara maju menginginkan produk yang diproduksi menjadi sesuatu yang dikonsumsi di sini," kata dia.

Negara-negara tersebut, lanjut Arif, tak rela Indonesia bisa mandiri dalam pangan, mulai dari sapi hingga beras. Untuk itu, Arif menginginkan adanya pemerintah yang berani mengambil langkah tegas untuk menyikapi masalah ini. "Kita perlu pemimpin yang berani melawan ini," ujar dia.(ita)

  ★ Vivanews  

Minggu, 02 Desember 2012

Sereal ubi jalar UNY

http://img.antaranews.com/new/2012/12/thumb/20121201serubi.jpgYogyakarta - Tim mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan mengembangkan sereal berbahan ubi jalar.

"Sereal berbahan ubi jalar atau Ipomoea batatas Poir itu kami beri nama Serubi. Serubi merupakan minuman seduh berenergi tinggi untuk meningkatkan nilai ekonomi ubi jalar," kata ketua tim, Nopi Yudi Pramono, di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, sereal untuk sarapan itu akan dapat meningkatkan nilai ekonomi ubi jalar yang menyehatkan dan mudah dibuat.

"Kandungan gizi yang dimiliki ubi jalar sangat melimpah, antara lain karohidrat, protein, vitamin, dan berbagai mineral yang dibutuhkan oleh tubuh," katanya.

Ia mengatakan, jenis produk yang dihasilkan Serubi adalah minuman dalam kemasan terbuat dari bahan ubi jalar yang mudah disajikan, sehat, dan mengenyangkan dengan harga terjangkau.

"Kandungan karbohidrat yang terkandung dalam 100 gram ubi jalar merah mencapai 27,9 gram. Ubi jalar merah mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral, kalsium, vitamin A, vitamin C, dan beberapa zat tubuh lainnya," katanya.

Dengan kandungan gizi ubi jalar tersebut, kata dia, akan dihasilkan produk sereal yang dapat digunakan sebagai pengganti sarapan.

Menurut dia, Serubi dipasarkan melalui warung-warung dan toko-toko, agar masyarakat dapat secara mudah memperoleh produk tersebut.

"Selain itu, kami juga mengadakan kerja sama dengan koperasi mahasiswa di UNY yang dapat dijadikan tempat mahasiswa berlatih berwirausaha. Produk yang sudah jadi dijual di koperasi mahasiswa agar mahasiswa dan masyarakat dapat memperoleh Serubi dengan mudah," katanya.

Ia mengatakan, pembuatan sereal ubi jalar dengan bahan baku tepung ubi jalar. Tepung ini kemudian disangrai sampai matang kemudian dicampur dengan susu dan gula agar siap dihidangkan.

"Perbandingan untuk tepung ubi jalar, gula, dan susu adalah 2:2:1. Dengan perbandingan ini diperoleh rasa sereal yang pas tanpa kehilangan rasa khas ubi jalar," katanya.

Menurut dia ,setelah dicampur kemudian dikemas dengan berat 30 gram setiap bungkus. Beratnya sudah disesuaikan dengan penyajian untuk 150 mililiter air hangat.

"Biaya produksi untuk satu bungkus Serubi sebesar Rp780 sehingga dapat dijual dengan harga Rp1.000 per bungkus. Biaya produksi tersebut terdiri atas pembelian tepung ubi, gula, susu, dan biaya untuk pembuatan kemasan," katanya.

Anggota tim yang mengembangkan Serubi, antara lain Suhufa Alfarisa, Tri Nugroho, dan Dwi Ana Rizki.(L.B015*H010/H008)


Kamis, 29 November 2012

Teknologi Nuklir Dibutuhkan untuk Ketahanan Pangan

Terbukti Mampu Ciptakan Produk Unggulan

Krisis ketersediaan pangan telah menjadi permasalahan global dan juga berpengaruh di tingkat nasional. Bahkan krisis pangan menyebabkan negara harus mengimpor kebutuhan pangan dalam jumlah besar, untuk menjamin ketersediaan pangan nasional.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), selama bulan Januari-Juni 2011, impor pangan Indonesia mencapai 11,33 juta ton dengan nilai US$ 5,36 miliar atau kurang lebih Rp 45 triliun. Barang impor mulai dari beras, jagung, terigu, gula garam, telur, ayam, daging sapi, singkong, bawang merah, cabai hingga buah-buahan.

Adapun data impor pangan selama Januari-Maret 2012 dari Pelindo II cabang Tanjung Priok menunjukkan impor beras sebanyak 330.539 ton, jagung 33.700 ton, tapioka 7.422 ton, gandum 546.932 ton dan garam 25.400 ton.

“Teknologi nuklir untuk pangan saat itu dirasakan sangat besar manfaatnya untuk menjawab solusi masalah ketahanan pangan,” kata Deputi Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), dalam Executive Forum ‘Nuklir untuk Pangan’, di Jakarta.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi nuklir tidak melulu untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dan senjata nuklir. Buktinya, Batan telah menghasilkan benih padi varietas unggul dengan teknologi mutasi radiasi yang lebih murah, cepat dipanen, tahan lama dan enak rasanya.

Ketua Umum Tani Nelayan, Winarno Tohir, mengakui hasil teknologi nuklir untuk produk pangan, seperti benih padi Mirah. Belum lagi pemuliaan kedelai Mutiara I yang dikembangkan dalam skala besar.

“Kami sangat membutuhkan teknologi nuklir ini karena hasil panennya cukup menjanjikan, Sayangnya, teknologi nuklir ini belum mampu menjawab ketersediaan pangan. Terbukti, sebagian besar kebutuhan pangan kita hasil impor. Mulai bawang, beras, jagung, terigu, gula, garam, telur, ayam, daging sapi, singkong, cabai, hingga buah-buahan. Kita harus bisa menghentikan ketergantungan pangan ini melalui teknologi nuklir,” kata Tohir. @hidayat


Senin, 15 Oktober 2012

Petani Berminat Terhadap Padi Hasil Rekayasa Teknologi

batan1510Jakarta - Deputi Bidang Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir (PHLPN) Batan, Ferhat Aziz mengatakan, semakin banyak petani yang berminat menggunakan benih padi hasil rekayasa teknologi radiasi nuklir.

Mereka semakin yakin benih padi yang dihasilkan Batan seperti varietas Bestari aman digunakan dan hasilnya lebih baik.“Beras mutasi radiasi nuklir tidak berbahaya untuk dikonsumsi,” katanya.

Menurutnya, secara alamiah mutasi sendiri sudah berlangsung sejak lama jadi bukan menjadi alasan untuk ditakuti. Sudah menjadi tugas Batan terus mengembangkan benih yang lebih baik dengan teknologi mutasi radiasi.

Saat ini pihak Batan tengah giat memperkenalkan salah satu hasil pemuliaan padi dengan teknologi radiasi tersebut yakni varietas Bestari kepada petani di Kabupaten Lombok Timur.

Kawasan ini dikenal sebagai salah satulumbung padi yang cukup penting. Sebab padi yang dihasilkan sudah surplus karena untuk konsumsi lokal hanya sekitar 50%, sisanya dikirim ke daerah lain dan untuk konsumsi nasional.

“Meski tergolong surplus tetapi produktifitas rata-ratanya baru sekitar 5 ton/ha GKG (gabah kering giling) dan untuk padi gogo sekitar 3,1 ton/ha GKG. Karena itulah Batan memperkenalkan varietas Bestari kepada mereka yang didaerah tersebut mampu berproduksi sekitar 7 ton/ha GKG.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Hanah mengucapkan terima kasih kepada Batan yang telah memperkenalkan bibit unggul tersebut. Namun demikian ia menyatakan perlunya sosialisasi lebh lanjut karena masyarakat banyak yang tidak mengetahui Batan itu apa?. Sedangkan petani lainnya Sanusi mengatakan Bestari ternyata punya kelebihan yaitu tahan baik di musim panas maupun musim hujan. (faisal)

Teks : Panen padi hasil varietas Bestari di Lombok Timur (batan)

Jumat, 28 September 2012

Bioteknologi, Solusi Hadapi Krisis Pangan  

http://image.tempointeraktif.com/?id=138386&width=200Jember - Bioteknologi adalah jalan keluar atau solusi menghadapi tantangan dan ancaman krisis pangan dunia, termasuk Indonesia. Koordinator Asia bidang Program Keamanan Hayati (program for biosafety system) Julian Adams mengatakan bahwa rekayasa genetika tanaman pangan dengan bioteknologi harus dilakukan dan dikembangan demi mengantisipasi ancaman krisis pangan dunia yang diramalkan akan memuncak mulai tahun 2050 kelak.

"Bioteknologi juga bisa menjadi jawaban perubahan iklim global, krisis air, sekaligus pengurangan pestisida dan emisi karbon dunia," ujar Julian Adams usai berbicara dalam seminar Agricultural Biotechnology di Universitas Jember, Kamis, 27 september 2012.

Pakar bioteknologi dari University of Michigan itu menambahkan badan pangan dunia (FAO) meramalkan akan terjadi peningkatan kebutuhan pangan sebanyak 60 persen agar penduduk dunia tidak terpuruk dalam kemiskinan dan kelaparan. "Pemuliaan varietas tanaman pegangan, seperti beras, jagung, tebu, dan gandum dengan memanfaatkan bioteknologi harus terus dilakukan," kata dia.

Rekayasa genetika itu, katanya, harus dilakukan untuk mendapatkan beberapa varietas tanaman yang memiliki ketahanan perubahan iklim. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir perubahan iklim tidak bisa diprediksi. Akibatnya, mulai banyak terjadi kekeringan dan banjir yang sangat merugikan tanaman para petani sebagai produsen pangan.

Pakar ilmu biologi molekuler dari Universitas Jember, Bambang Sugiharto, mengatakan, perubahan iklim serta pertumbuhan penduduk yang semakin cepat merupakan ancaman ketahanan pangan. Dampak perubahan iklim yang membuat terganggunya organisme tanaman dan kondisi tanah ikut berpengaruh pada produksi pangan. "Pemerintah dan praktisi pertanian harus serius mencari solusi yang cepat dan tepat guna. Bioteknologi bisa menjadi jawabannya," katanya.

Bioteknologi untuk pemuliaan varietas tanaman saat ini berbeda dengan beberapa tahun lalu. "Dulu, bioteknologi dengan cara eksploitasi potensi kimiawi mikroba untuk mengahasilkan barang atau jasa, sekarang dengan memilih dan mengembangkan sifat genetis yang unggul," katanya.

Dengan teknologi rekayasa genetika atau genetic engineering, para pemulia dapat merakit varietas-varietas baru yang tahan dengan permasalahan pertanian, seperti penyakit dan hama, genangan air, salinitas, dan kekeringan. Rekayasa genetika itu, kata dia, membuat "organisme baru" produk bioteknologi dengan sifat-sifat yang menguntungkan bagi manusia seperti jagung dan padi tahan hama serta tahan cuaca ekstrim.

Di beberapa negara seperti Jepang dan Thailand, kata Sugiharto, penggunaan bioteknologi mulai dari hulu sampai hilir sudah bisa dimanfaatkan masyarakat, termasuk para petani. "Mereka telah mendapatkan manfaat secara ekonomis dengan meningkatnya produksi pangan, pengurangan biaya pestisida dan tenaga kerja, efisiensi lahan dan pengolahan tanah serta dampak positif terhadap lingkungan dengan berkurangnya emisi gas rumah kaca," kata penemu tebu yang tahan terhadap kekeringan itu.

Rabu, 05 September 2012

IPB Kampanyekan Makan Beras Analog

IPB Kampanyekan Makan Beras AnalogBogor - Institut Pertanian Bogor (IPB) mengkampanyekan makan beras analog yang diikuti lebih dari 4.200 peserta bertempat di gedung Graha Widya Wisuda IPB, Kampus Dramaga, Sabtu (1/9).
"Kami menyiapkan sekitar 400 kilogram lebih beras analog yang dimasak dan disajikan dalam bentuk nasi kotak," kata Slamet Budijanto penemu beras analog.

Slamet yang juga Direktur Fakultas Teknologi Pertanian, menyebutkan beras analog tersebut memiliki kadar protein 8 persen, keunggulan diseratnya di atas 4 persen.

Ia menjelaskan, beras analog masuk dalam daftar 1 dari 103 inovasi nasional, dan pada tahun 2011 mendapat penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Slamet menyebutkan, saat ini pihaknya terus berupaya mematangkan alat dan produktivitas beras analog agar bisa diproduksi secara masal.

Menurutnya, ia mampu menghasilkan 240 kilogram beras analog per bulan dengan peralatan seadanya yang ada di laboratorium IPB.

"Kami berharap ada pihak swasta yang mau membantu memproduksi beras analog untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Karena sumber karbohidrat saat ini masih didominasi oleh padi," katanya.

Slamet menyebutkan, walaupun Indonesia merupakan negara produksi padi nomor 1 dunia, tapi masyarakat Indonesia juga pemakan beras terbesar di dunia yakni 98 persen per orang per tahun.

Sebelum kegiatan kampanye dimulai, Menteri Pertanian Suswono secara resmi meluncurkan beras analog IPB.

Menteri mengatakan, hadirnya beras analog karya IPB membuktikan Indonesia mampu berinovasi menciptakan banyak mode pangan.(Ant/OL-9)

 Beras Analog IPB Bukti Indonesia Mampu Berinovasi

Menteri Pertanian Suswono mengatakan hadirnya beras analog karya Institut Pertanian Bogor membuktikan Indonesia mampu berinovasi menciptakan banyak mode pangan.

"Beras analog ini salah satu inovasi IPB, bahan utamanya berasal dari negeri sendiri seperti singkong, sagu dan jagung. Ini adalah bukti, bahwa Indonesia mampu menciptakan, mode pangan berbeda," kata Menteri saat meluncurkan beras analog dalam acara Dies Natalis IPB ke-49, di Kampus Darmaga, Bogor, Sabtu (1/9).

Menteri mengatakan, Indonesia merupakan negara yang memproduksi beras terbesar di dunia. Namun, Indonesia juga mengkonsumsi beras terbesar sehingga kebutuhan akan beras menjadi sangat besar.

Hadirnya inovasi beras analog, lanjut Menteri, dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Karena lanjut menteri sumber karbohidrat tidak hanya dari beras tapi banyak sumber lainnya.

"Indonesia kaya akan sumber pangan. Sumber karbohidrat tidak hanya beras, tapi dari pangan lainnya seperti ubi, sagu, singkong, jagung dan masih banyak lagi," kata Menteri di hadapan 4.200 mahasiswa baru IPB angkatan 49.

Menteri menyebutkan, masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir akan krisis pangan. Indonesia tidak akan mengalami krisis pangan karena sumber karbohidrat di Indonesia tidak hanya bersumber dari beras.

Ada banyak sumber daya alam di Indonesia yang bila diolah secara baik dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya. 

"Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia dan sumber daya alam. Kita memiliki sumber karbohidrat cukup banyak, tidak hanya beras. Jadi jangan khawatir Indonesia tidak mungkin kekurangan pangan," kata Menteri.(Ant/OL-9)

Kamis, 23 Agustus 2012

Batan temukan varietas padi unggul

Menristek Gusti Mohammad Hatta (FOTO ANTARA)
Banjarmasin - Menteri Riset dan Teknologi H Gusti Muhammad Hatta mengungkapkan, Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dalam kegiatan penelitiannya juga memukan varietas padi unggul.

"Jadi keliru kalau ada yang beranggapan Batan cuma melakukan kegiatan yang bekaitan dengan masalah atom," ujar saat silaturrahim Idul Fitri 1433 Hijriah, di Banjarmasin, Rabu.

Ia menerangkan, varietas padi unggul temuan Batan tersebut hanya berusia 90 hari atau sekitar tiga bulan sudah bisa panen.

Keunggulan varietas padi temuan Batan tersebut juga pada tingkat produktivitas, lanjutnya dalam silaturrahim dengan Ikatan Alumnus Universitas Lambung Mangkutat (IKA Unlam) Banjarmasin.

"Kalau varietas padi lain mungkin tingkat produktivitasnya cuma sekitar lima ton, tapi temuan Batan bisa mencapai 9--10 ton/hektare," lanjut menteri asal urang banua Kalsel tersebut.

Menurut mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup (Meneg LH) itu, penelitian terhadap varietas padi sebagai salah satu wujud tanggung jawab bersama, untuk peningkatan produksi padi, guna menjaga ketahanan pangan nasional.

Selain itu, guna lebih meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, lanjutnya didampingi Ny Violet Gt Hatta.

"Memang ketahanan pangan kita secara nasional saat ini cukup baik, namun ke depan harus tetap  dipertahankan dan ditingkatkan," demikian M Hatta.

Keberadaan HM Hatta bersama nyonya di Banjarmasin, dalam rangkaian belebaran bersama keluarga, sejak 21 Agustus lalu selama dua hari.

Dalam kesempatan kunjungan tersebut, Pengurus IKA Unlam memasangkan jaket almamater warna kuning kepada Menristek dan Ny Violet Gt Hatta.

Pemasangan jaket almamater Unlam tersebut oleh Ketua Pengarah IKA perguruan tinggi negeri tertua di Kalsel itu, H Gusti Rusdi Effendi AR yang juga Pemimpin Umum Banjarmasin Post Group.(ANT)
(Antara)

Jumat, 11 Mei 2012

Menristek canangkan Sulawesi pusat riset kakao

Makassar (ANTARA News) - Kementerian Riset dan Teknologi bersama Wakil Gubernur Sulawesi Selatan mencanangkan Pusat Riset dan Pengembangan Rumput Laut dan Kakao.

"Indonesia kaya sekali. Produksi kakao kita nomor tiga di dunia, tapi kita masih mengekspornya mentah-mentah tanpa mengolahnya lebih dulu, juga rumput laut," kata Menteri Ristek Gusti Muhammad Hatta pada Rapat Koordinasi SDM dan Iptek Koridor Sulawesi antara Kemristek, para pejabat badan litbang di Sulawesi dan peneliti Universitas Hasanuddin di Makassar, Jumat.

Menteri mengatakan, Struktur ekonomi Indonesia saat ini masih terfokus pada pertanian dan industri yang mengeksploitasi hasil alam, sedangkan industri yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah produk masih terbatas.

Padahal ketersediaan sumberdaya alam tidak tanpa batas, sementara kebutuhan pembiayaan untuk pelaksanaan pembangunan terus meningkat.

"Jika sumber daya alam sudah habis, ekonomi kita akan bertumpu pada impor. Defisit sumber daya alam ini dapat menimbulkan permasalahan besar," katanya.

Ia menyesalkan, eksploitasi sumberdaya alam masih terus berlangsung baik kekayaan hutan yang kayunya diekspor tanpa diolah, batubara yang diekspor mentah-mentah, termasuk aluminium.

"Padahal aluminium yang kalau diekspor mentah hanya menghasilkan sekali, kalau diolah dulu sebelum diekspor nilai tambahnya jadi delapan kali dan kalau diolah lebih panjang lagi bisa 30 kali lipat," katanya.

Jadi, ujarnya, harus segera ada upaya meningkatkan SDM dan Iptek untuk menghasilkan nilai tambah dari kekayaan alam yang ada dan membuat kita tak selalu tergantung pada alam.(D009)



ANTARA News

Minggu, 15 April 2012

IPB Ciptakan Produk Pangan Mirip Beras

BOGOR--MICOM: Peneliti dari F-Technopark Institut Pertanian Bogor melahirkan produk pangan alternatif mirip beras, yang diberi nama "beras analog".

"Produk mirip beras yang kita kembangkan dibuat dari tepung lokal selain beras dan terigu," kata Direktur F-Tecnopark Fakultas Teknologi Pertanian IPB Dr Slamet Budijanto di Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/4).

Ia menjelaskan, peneliti di perguruan tinggi dan badan penelitian, ada yang menyebutnya "beras artifical", "beras tiruan" dan lainnya.

Dikemukakannya bahwa produk pangan tersebut dirancang khusus untuk menghasilkan sifat fungsional dengan menggunakan bahan tepung lokal, seperti sorgum, sagu, umbi-umbian dan bisa ditambahkan "ingridient" pangan, seperti serat, antioksidan dan lainnya yang diinginkan.

Menurut dia, di luar negeri seperti China dan Filipina, diproduksi dari beras menir menjadi beras utuh untuk kebutuhan fortifikasi vitamin atau mineral tertentu.

"Di antaranya untuk fortifikasi zat besi," katanya menambahkan.

Mengenai teknologi pembuatannya, menurut dia, Technopark menggunakan teknologi ekstrusi menggunakan "tween screw extruder" dengan "dye" yang dirancang khusus dengan mengatur kondisi proses dan formulanya.

Secara umum, teknologi ekstrusi memungkinkan untuk melakukan serangkaian proses pengolahan seperti mencampur, menggiling, memask, mendinginkan, mengeringkan dan mencetak dalam satu rangkaian proses.

Rincian tahapan proses dalam pembuatan beras analog itu, pertama melakukan formulasi penimbangan bahan-bahan yang diperlukan, kedua pencampuran dengan menggunakan "mixer" sampai campuran bahan rata (homogen).

Ketiga, penambahan air dan dilakukan pencampuran menggunakan "mixer" sampai air bercampur dengan baik dan rata. Keempat, bahan yang tercampur dengan baik dimasukkan ke dalam "hopper".

Tahap kelima, adonan dilakukan ke dalam ekstruder dengan kondisi proses dengan mengatur T, V "auger", V "screew", dan V "piasu", sehingga didapatkan bentuk beras yang diinginkan.

Sedangkan tahapan keenam pengeringan dan ketujuh pengemasan.

Mengenai bahan baku, ia menjelaskan yang digunakan dari sumber karbohidrat adalah tepung umbi-umbian, seperti ubikayu, ubijalar, talas, garut ganyong dan umbi lainnya, tepung jagung, tepung sorgum, tepung hotong, sagu, dan sagu aren.

Untuk sumber protein berasal dari kedelai, kacang merah atau sumber lainnya.

Sedangkan "ingridient" lainnya berupa "stabilized rice bran" (sumber serat), minyak merah (antioksidan), vitamin, mineral, serta "ingridient" lainnya. (Ant/X-12/ip)


MediaIndonesia

Kamis, 26 Januari 2012

Kementerian Pertanian Tetapkan Maluku Proyek Percontohan Pangkin

Jurnas.com | KEMENTERIAN Pertanian menetapkan Maluku sebagai salah satu dari sembilan provinsi yang menjadi proyek percontohan pangan untuk orang miskin (Pangkin) pada 2012. Hal itu dikatakan Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) setempat, Polly Kayhattu. "Program Pangkin untuk 2012 masih dalam tahapan sosialisasi yang untuk tahap pertama meliputi kebupaten Maluku Tengah, Maluku Tenggara dan Seram Bagian Timur, "katanya ketika dikonfirmasi di Ambon, Kamis (26/1).

Pangkin diprogramkan menggantikan beras untuk orang miskin (Raskin) dengan memanfaatkan bahan pangan lokal.

Program itu merupakan hasil dari seminar yang diselenggarakan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dengan thema " Membangun Sinergi Sistem Penguatan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pangan di Daerah Kepulauan Indonesia Timur" di Ambon pada 19 Juli 2011.

"Jadi anggota Wantimpres, Ginandjar Kartasasmita telah mengajukan rekomendasi pemerintah provinsi (Pemprov) Maluku ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ditindaklanjuti dengan Kementerian Pertanian menetapkan daerah ini menjadi proyek percontohan Pangkin untuk menggantikan Raskin," ujar Polly.

Ia mengemukakan, program tersebut nantinya didukung dengan peralatan dari Badan Riset dan Teknologi yang mampu memproduksi Pangkin yang mengolah tepung sagu serta umbi-umbian seperti ketela pohon dan jagung.

"Pemanfaatan tiga pangan lokal ini juga diprioritaskan untuk daerah yang memiliki potensi dan diproduksi masing-masing daerah," katanya.

Pangkin sagu di kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Timur, sedangkan umbi-umbian, terutama ketela pohon di Maluku Tenggara. Pangkin diprogramkan agar penampilannya seperti Raskin yang disalurkan Perum Bulog.

Perum Bulog yang nantinya mendesain kantongnya agar Pangkin terawat sebagaimana Raskin. Pangkin butuh sosialisasi agar masyarakat menerimanya sebagai pengganti Raskin yang kenyataannya Maluku masih kekurangan beras, sehingga harus dipasok dari Surabaya (Jatim) maupun Makassar (Sulsel)."Maluku baru mampu memproduksi 58.500 ton beras, sedangkan kebutuhan 1,5 juta jiwa penduduk setempat mencapai 120.700 ton sehingga dengan program Pangkin diharapkan mampu memenuhi kandungan karbohidrat tersebut," ujarnya.(Antara)


Jurnas.com

Rabu, 03 Agustus 2011

Besar Kecil Normal Bagikan 0 Padi Wisanggeni, Varietas Unggulan Baru dari Jawa Timur

Jumari, 40 tahun, petani asal Desa/Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menunjukkan hasil padi dari benih “Wisanggeni” yang ditemukannya. TEMPO/Ishomuddin

TEMPO Interaktif, Surabaya - Dinas Pertanian Jawa Timur berhasil melakukan uji coba penanaman padi varietas baru yang diberi nama Wisanggeni. Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Wibowo Ekoputro menjelaskan bahwa padi Wisanggeni merupakan hasil temuan seorang petani asal Kabupaten Ngawi, Jumari, yang juga Ketua Gabungan Kelompok Tani Mulyo di Kabupaten Ngawi.

Menurut Wibowo, uji coba dilakukan sejak tiga bulan lalu pada areal seluas 500 hektare di tiga kabupaten, yaitu Ngawi, Madiun, dan Nganjuk. "Pada 10 Agustus mendatang, panen perdana akan kami lakukan," kata Wibowo, Rabu, 3 Agustus 2011.

Hasil riset yang dilakukan Dinas Pertanian menyebutkan bahwa varietas Wisanggeni ternyata mampu menghasilkan buliran padi lebih bagus dibanding padi varietas biasa.

Selain itu, padi Wisanggeni terbukti tahan terhadap serangan hama, juga tidak rebah dan roboh ketika ditiup angin maupun saat terkena hujan.

Satu rumpun Wisanggeni memiliki 20-30 batang atau lebih banyak dibanding padi biasa yang hanya berkisar antara 10-20 batang.

Banyaknya batang membuat padi Wisanggeni mampu menghasilkan gabah kering panen 7-8 ton per hektare atau lebih banyak dibanding padi biasa yang hanya mampu menghasilkan gabah kering panen seberat 5-6 ton per hektare. "Benih Wisanggeni berasal dari gabungan 20 benih padi lokal," papar Wibowo.

Dari hasil penggabungan yang dilakukan Jumari, ditemukan dua varian benih Wisanggeni. Terdiri dari varian dengan masa tanam sedang, yakni 90-95 hari dan mampu menghasilkan sekitar 6-7 ton gabah per hektare dan varian dengan masa tanam 100-110 hari dan menghasilkan gabah 9-10 ton per hektare.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo berjanji segera mematenkan bibit padi Wisanggeni temuan Jamari tersebut. Bahkan awal Januari 2011 lalu, Soekarwo secara khusus telah memperkenalkan bibit padi Wisanggeni kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Kalau panen nanti berhasil, pasti langsung kami patenkan," ucap Soekarwo.

Soekarwo juga berjanji akan memberikan kesempatan kepada para petani untuk meniru Jumari dalam menciptakan bibit-bibit padi varietas baru. "Kami pasti memberikan bantuan dana untuk menunjang kreativitas mereka."[FATKHURROHMAN TAUFIQ]



TEMPOInteraktif

Selasa, 12 April 2011

Produksi Pangan Digenjot Melalui Pemanfaatan Teknologi Nuklir

BANJARMASIN--MICOM: Pemerintah akan memanfaatkan teknologi atom dan nuklir untuk menunjang peningkatan produksi pangan nasional. Itu dilakukan guna mengantisipasi ancaman krisis pangan akibat pengaruh perubahan iklim dunia.

Demikian dikemukakan Kepala Balai Penelitian dan Pembangunan Pertanian RI Haryono di sela-sela Rapat Koordinasi Peningkatan Produksi Beras Nasional di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (11/4).

"Upaya peningkatan produksi pangan yang kita lakukan selama ini baru secara konvensional. Ke depan kita akan memanfaatkan teknologi atom dan nuklir," ujarnya.

Ia mengkui, sebenarnya pemanfaatan teknologi nuklir untuk pengembangan pertanian sudah dilakukan pemerintah, tetapi dalam cakupan kecil. Pemanfaatan teknologi nuklir dan atom diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan nasional secara signifikan.

Saat ini, katanya, pemerintah menarget produksi padi nasional 70,8 juta ton atau naik 7% dari produksi 2010. Produksi padi dari total luas tanam sekitar empat juta hektare itu masih berpotensi untuk ditingkatkan melalui berbagai strategi, seperti penambahan luas tanam dan peningkatan produktifitas lahan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) produktivitas rata-rata lahan pertanian Indonesia baru 5,06 ton per hektare. Padahal potensi produksi maksimal lahan pertanian bisa mencapai delapan ton. (DY/OL-01)


MediaIndonesia

Jumat, 21 Januari 2011

Tepung Suweg Siap Menyaingi "Oatmeal"

illustrasi

Suweg sebagai jenis umbi-umbian besar jarang diolah dan dikonsumsi masyarakat karena dengan cara pengolahan biasa bisa menimbulkan gatal-gatal di lidah. Namun dengan pengolahan khusus dan dijadikan tepung, suweg ternyata memiliki kandungan serat lebih besar dibanding oatmeal—dikenal sebagai pangan pengontrol kadar kolesterol.

Tepung suweg (Amorphophallus campanulatus BI) siap menyaingi oat instan, makanan kesehatan untuk menjaga kolesterol darah tetap rendah,” kata peneliti Didah Nur Faridah dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor, Kamis (20/1).

Tepung suweg ketimbang tepung garut ternyata kandungan seratnya lebih tinggi. Tepung garut memiliki nilai total serat pangan hanya 9,89 persen sementara serat tepung suweg yang teruji ternyata mencapai 15,09 persen.

”Tepung suweg memiliki prospek bagus untuk makanan kesehatan. Namun, sampai sekarang belum ada industri yang memproduksinya,” kata Didah.

Kesulitan untuk memproduksi tepung suweg adalah sulitnya mendapatkan pasokan bahan bakunya. Selama ini suweg belum menjadi tanaman budidaya, bahkan sebagian besar justru dianggap tanaman liar.

Umbi suweg berbentuk setengah bola dengan diameter mencapai 35 sentimeter. Bobot maksimalnya bisa mencapai 15 kilogram per umbi.

Menurut Didah, bagian yang dapat dimakan sebesar 86 persen. Cara mengonsumsi yang lazim dengan mengukus.

Ketika dijadikan tepung suweg, dapat digunakan sebagai bahan baku mi atau roti. Dijadikan bubur pun bisa.

Selain kandungan serat, diuji pula indeks glikemik (IG) untuk mengetahui kecepatan bahan karbohidrat tersebut melepas glukosa ke dalam darah.

Bahan pangan dengan parameter IG makin rendah akan makin baik terutama bagi penderita diabetes melitus. Patokannya, IG di bawah 55 tergolong rendah.

IG pada rentang 55-70 tergolong sedang. Kemudian IG dengan angka di atas 70 tergolong tinggi.

”IG pada tepung suweg mencapai 36. Ini tergolong sangat rendah karena jauh di bawah patokan IG rendah dengan angka indeks 55,” kata Didah.

Dengan serat pangan yang tinggi dan indeks glikemik yang rendah, tepung suweg bermanfaat untuk mencegah timbulnya kanker usus besar, divertikular, kardiovaskular, kegemukan, kolesterol tinggi, dan kencing manis atau diabetes.

”Tepung suweg memiliki fungsional sebagai hipoglikemik dan hipokolesterolemik,” kata Didah.

Mendorong budidaya

Didah menempuh dua periode untuk meriset tepung suweg ini. Pada awalnya, tahun 2003 hingga 2004. Kemudian dilanjutkan pada 2007 hingga mampu mengukur kandungan serat pangan dan indeks glikemiknya.

”Dengan hasil riset ini, saya mendorong supaya petani mau membudidayakan suweg,” katanya.

Didah pernah membeli suweg di Sumedang, Jawa Barat. Harganya masih sangat murah, tetapi memang jarang ada.

Suweg merupakan tanaman jenis umbi dataran rendah hingga ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Tanaman dengan bentuk umbi setengah bola ini diduga berasal dari India. Kemudian suweg tersebar ke Asia Tenggara sampai kepulauan di Samudra Pasifik.

Dengan usia tanam satu tahun, umbi suweg bisa tumbuh mencapai diameter 35 cm. Ini jika ditunjang kesuburan dan kelembaban tanah yang memadai. Suweg juga bagus untuk tumbuh di bawah naungan pepohonan yang menutup sedikitnya 40 persen dari paparan sinar matahari.

Tangkai daun tumbuh di pusatnya. Tangkai daun tumbuh tegak bisa mencapai ketinggian 60-90 cm. Jika daunnya mulai layu, berarti suweg siap dipanen ketika daunnya menunjukkan tanda-tanda mulai layu. Batangnya pun mulai menampakkan warna menguning.

Kulit umbi suweg berwarna coklat tua dengan daging umbi yang berwarna jingga kusam sampai kemerah-merahan. Daging umbi suweg memang bisa menimbulkan gatal karena mengandung kalsium oksalat.

Kalsium oksalat sebenarnya terdapat di hampir seluruh bagian tanaman suweg yang berbentuk jarum halus (raphide). Seperti talas, gatal-gatal akibat mengonsumsi suweg bisa dicegah dengan berbagai cara, di antaranya dengan perendaman ke dalam air yang cukup lama sebelum dimasak.

Kemudian, penyebab gatal itu bisa dihilangkan dengan pemanasan secara intensif. Selain itu, kalsium oksalat dapat dilarutkan dengan asam kuat.

Didah mengatakan, asam kuat yang mudah ditemui di pasaran adalah asam klorida. Namun, asam klorida pun mengandung toksik sehingga sebaiknya digunakan dalam ukuran sangat sedikit.

Asam klorida yang dipakai memiliki kandungan 0,25 persen. Itu pun hanya untuk merendam suweg yang sudah dikupas dan diiris-iris selama 4 menit. Untuk menetralkan kembali kandungan asamnya, dilanjutkan dengan perendaman irisan suweg di larutan kalsium karbonat (soda kue) sebanyak 1 persen selama 5 menit.

Suweg pun siap diolah. Jika ingin ditepung, suweg harus dikeringkan sampai kandungan air maksimal 10 persen. Selanjutnya suweg siap digiling menjadi tepung dengan ayakan 60 mesh.

Melihat khasiatnya, tepung suweg memiliki prospek ekonomi yang bagus. Tentunya berkat riset ilmiah seperti yang dilakukan Didah dan kerabatnya di perguruan tinggi selama ini yang patut mendapatkan apresiasi.[Nawa Tunggal]


KOMPAS

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More