blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label KNKT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KNKT. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2015

Antara AirAsia QZ8501 dan Air France yang Jatuh ke Atlantik

Investigasi AirAsiahttp://images.cnnindonesia.com/visual/2015/01/01/a5cce7da-d904-41a3-9818-b04566644f14_169.jpg?w=650Pesawat Air France. (Wikipedia Common/Joe Ravi)

Pesawat AirAsia QZ8501 sempat naik dengan kecepatan tak wajar di atas batas normal, berhenti di puncak ketinggian, lalu jatuh ke laut. Hal tersebut sama dengan yang terjadi pada Air France 447 yang jatuh ke Samudra Atlantik, 1 Juni 2009, dalam penerbangannya dari Rio de Janeiro, Brasil, ke Paris, Perancis.

Meski sempat mengalami ‘gejala’ serupa sebelum jatuh ke laut, namun menurut pakar penerbangan dan investigator swasta kasus kecelakaan pesawat Gerry Soejatman, penyebab kecelakaan AirAsia dan Air France berbeda. Saat kecelakaan AF447, Gerry ikut membantu rekannya di maskapai itu melakukan penyelidikan secara independen.

Gerry yang sempat berbincang soal QZ8501 dengan Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi, yakin dua kecelakaan pesawat tersebut dipicu oleh hal berbeda walau ada sejumlah kesamaan di antara keduanya.

Untuk diketahui, kecelakaan pesawat bisa jadi tak hanya dipicu oleh satu faktor, tapi gabungan beberapa faktor. Untuk kasus Air France 447, pesawat terkena icing, yakni terbentuknya es akibat kondisi atmosfer pada mesin atau permukaan pesawat.

“Air France terkena icing. Ada es yang mengeblok pitot (tabung untuk mengukur kecepatan pesawat). Akibatnya komputer salah mendeteksi, salah menerima data aliran udara. Sistem komputer sudah dibuat bisa menyadari kesalahan ini sehingga meminta pilot untuk menerbangkan pesawat sendiri secara manual, tidak pakai autopilot,” ujar Gerry dalam kunjungannya ke kantor CNN Indonesia, Rabu (21/1).

“Pilot AF447 yang menerbangkan pesawat secara manual, tidak mengendalikan pesawat dengan baik. Tapi jangan salahkan pilot, karena memang ada masalah yang terjadi,” kata Gerry. Ia kembali menegaskan bahwa dalam setiap kasus kecelakaan, penyebabnya kerap bukan satu faktor.

Dalam kendali manual pilot itulah, ujar Gerry, AF447 naik ke ketinggian yang cukup tinggi, mendapat peringatan stall, lalu pesawat mengalami stall. Stall ialah kondisi ketika pesawat kehilangan daya untuk terbang akibat aliran udara pada sayap terlalu lambat.

“Dalam kondisi itu (stall), pilot menahan terus pesawat itu hingga akhirnya jatuh dengan bagian bagian belakang bawah pesawat lebih dulu menyentuh laut,” kata Gerry.

Apa yang dikemukakan Gerry tersebut sama dengan hasil investigasi resmi terhadap AF447 yang menyebut pesawat itu jatuh dari ketinggian 38 ribu kaki ke laut dalam waktu empat menit.

Dalam hal tersebut, ujar Gerry, kemiripan antara kecelakaan AirAsia QZ8501 dan Air France 447 tak terelakkan. “Kasus AirAsia juga begitu. Pesawat naik, lalu jatuh dengan kemungkinan pada posisi sama (seperti AF447), yakni bagian belakang bawah pesawat lebih dulu menyentuh permukaan laut,” kata dia.

Artinya, pesawat tidak jatuh ke laut dalam posisi menukik dengan hidung pesawat lebih dulu menyentuh air laut. Hal tersebut, menurut Gerry, terlihat dari kondisi bangkai pesawat yang ditemukan.

QZ8501 ditemukan di dasar laut tidak seluruhnya dalam serpihan kecil. Bagian ekor dan badan pesawat masih tampak utuh meski terpotong dalam beberapa bagian. Potongan-potongan yang ditemukan pun cukup besar, tak pecah berkeping-keping.

Seperti pada Air France 447, stall juga terjadi pada AirAsia QZ8501. Stall warning sempat berbunyi sebelum QZ8501 jatuh ke laut, dan pilot kesulitan untuk mengembalikan pesawat ke kondisi normal atau recover.

Satu lagi kesamaan, penerbangan QZ8501 dan AF447 sama-sama dibayangi cuaca buruk. KNKT menyatakan berdasarkan foto satelit 15 menit sebelum pesawat AirAsia jatuh, terlihat ada formasi awan badai atau kumulonimbus dengan puncak di ketinggian 44 ribu kaki. Cuaca buruk pulalah yang membuat AF447 terkena icing. Saat itu pesawat berada di antara awan badai. Meski demikian, Gerry yakin kondisi QZ8501 berbeda dan pesawat itu jatuh bukan karena awan badai.

Terhadap sejumlah kesamaan antara kecelakaan AirAsia dan Air France tersebut, Gerry berkeras penyebab keduanya tak sama. Namun, ujarnya, KNKT lah yang berhak untuk membuka seluruh misteri QZ8501 dalam laporan final hasil investigasinya kelak.

Kamis kemarin (29/1), KNKT telah membeberkan laporan hasil investigasi awal mereka. Laporan itu antara lain mengungkapkan bahwa pesawat dikemudikan oleh kopilot, bukan pilot, sejak lepas landas dari Bandara Juanda, Surabaya menuju Bandara Changi, Singapura, sebelum akhirnya jatuh ke laut di Selat Karimata. Untuk diketahui, tukar posisi antara pilot dan kopilot dalam menerbangkan pesawat adalah hal biasa dalam dunia penerbangan.(agk)




  ✈️ CNN  

Perbandingan Laporan KNKT dengan Pemaparan Menhub soal QZ8501

Investigasi AirAsiahttp://images.cnnindonesia.com/visual/2014/12/28/add01ffa-3629-42c0-84c5-37f1b897b7b3_169.jpg?w=650Pesawat AirAsia. (Reuters/Enny Nuraheni)

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah membeberkan laporan hasil investigasi awal kecelakaan AirAsia QZ8501, Kamis (29/1). Beberapa hal terkuak dalam laporan itu, antara lain pesawat dikemudikan oleh kopilot, bukan pilot, sejak lepas landas dari Bandara Juanda, Surabaya menuju Bandara Changi, Singapura, sebelum akhirnya jatuh ke laut di Selat Karimata.

Beberapa hal dalam laporan KNKT terlihat sinkron dengan pemaparan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pada rapat dengan Komisi V DPR RI Selasa pekan lalu (20/1), juga selaras dengan keterangan AirNav Indonesia sehari sesudah kecelakaan terjadi, yakni 29 Desember 2014.

Misalnya, berdasarkan data faktual yang dikemukakan KNKT kemarin, posisi terakhir pesawat di layar radar menara pemandu lalu lintas udara atau air traffic controller (ATC) Bandara Soekarno-Hatta berada pada ketinggian 24 ribu kaki.

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR, Jonan juga mengatakan posisi terakhir QZ8501 ada di ketinggian 24 ribu kaki sebelum tak bisa lagi terdeteksi radar. Poin penting yang dikemukakan Jonan saat itu ialah: pada menit-menit terakhir sebelum hilang dari radar, pesawat naik dengan kecepatan di atas batas normal, berhenti di ketinggian 36.700 kaki, lalu jatuh dengan kecepatan sangat tinggi.

Berikut butir-butir penjelasan Ketua Investigasi Kecelakaan AirAsia QZ8501 Mardjono Siswosuwarno:

✈️ Pesawat menjelajah pada ketinggian 32 ribu kaki.
✈️ Kontak awal dengan ATC Jakarta terjadi ketika pilot menginformasikan pesawat hendak berbelok ke kiri.
✈️ Saat pesawat belok ke kiri, pilot minta naik ketinggian ke 38 ribu kaki. ATC Jakarta minta pilot untuk menunggu atau standby.
✈️ Empat menit kemudian, ATC mengizinkan pilot untuk naik ketinggian, namun ke level 34 ribu kaki, bukan 38 ribu seperti yang diminta.
✈️ Pesawat sempat miring ke kiri, lalu menanjak 3.000 kaki atau 1.000 meter dalam waktu 30 detik dari level ketinggian semula di 32 ribu kaki.
✈️ Pesawat mencapai ketinggian teratas 37.400 kaki.
✈️ Pesawat turun ke ketinggian 32 ribu kaki dalam waktu 30 detik, dan terus turun perlahan.
✈️ Pesawat terlihat terakhir kali di layar radar pada ketinggian 24 ribu kaki.
✈️ Foto satelit 15 menit sebelum pesawat jatuh menunjukkan ada formasi awan badai kumulonimbus dengan puncak di ketinggian 44 ribu kaki.

Hal penting lainnya yang dikemukakan KNKT ialah: stall warning sempat berbunyi sebelum QZ8501 jatuh ke laut, dan pilot kesulitan untuk mengembalikan pesawat ke kondisi normal atau recover.

Sementara berikut butir-butir penjelasan Menteri Jonan dan Direktur Safety and Standard Airnav Indonesia Wisnu Darjono seperti telah dihimpun oleh CNN Indonesia:

✈️ Pesawat terbang di ketinggian 32 ribu kaki.
✈️ Pesawat menghubungi ATC Bandara Soekarno-Hatta, minta bermanuver ke kiri karena cuaca buruk, dan diizinkan oleh ATC.
✈️ Setelah bermanuver ke kiri, pilot kembali berkomunikasi dengan ATC, minta izin untuk menaikkan ketinggian pesawat dari 32 ribu kaki ke 38 ribu kaki.
✈️ ATC meminta pesawat untuk standby untuk mengecek lebih dulu posisi pesawat-pesawat lain yang ada di sekitarnya.
✈️ Enam detik setelah bermanuver ke kiri, pesawat mendadak naik dengan kecepatan tak wajar di atas batas normal, yakni 1.400 kaki per menit.
✈️ Lima belas detik kemudian, pesawat berada di ketinggian 33.700 kaki atau bertambah 1.700 kaki dari posisi semula di 32 ribu kaki, dengan kecepatan 6.000 kaki per menit.
✈️ Sembilan detik kemudian, kecepatan pesawat mencapai 11.100 kaki per menit.
✈️ Tiga belas detik berikutnya, pesawat berada di ketinggian 36.700 kaki. Itu adalah titik puncak QZ8501.
✈️ Enam detik setelah berada 36.700 kaki, pesawat turun sebanyak 1.500 kaki, selanjutnya turun lagi sebanyak 7.900 kaki hingga berada di ketinggian 24 ribu kaki.
✈️ Pesawat hilang dari radar.

Dari komparasi pemaparan antara KNKT dan Menteri Jonan, ada satu hal yang berbeda, yakni ketinggian puncak pesawat sebelum akhirnya jatuh ke laut. KNKT menyebut pesawat berada di ketinggian puncak 37.400 kaki, sedangkan Jonan menyebut 36.700 kaki. Dalam hal ini, yang menjadi patokan adalah laporan KNKT yang merupakan investigator resmi yang telah meneliti data radar, serpihan pesawat, satelit cuaca, maupun kotak hitam AirAsia QZ8501.(agk)




  ✈️ CNN  

Selasa, 20 Januari 2015

KNKT Minta DPR Dukung Tambahan Pinger Locator untuk Cari Black Box Pesawat

imageFoto: Raker perkembangan SAR AirAsia QZ8501 (Adit/detikcom)★

Ketua KNKT Tatang Kurniadi hadir dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR terkait perkembangan SAR Pesawat AirAsia QZ8501. Tatang mengungkapkan mengenai tantangan yang harus dihadapi KNKT dan tim SAR gabungan dalam proses evakuasi dan penyelidikan jatuhnya pesawat Airbus tersebut.

Ia juga meminta agar DPR memberikan dukungan tambahan peralatan untuk membantu jika ada insiden serupa terjadi di waktu yang akan datang.

"Tantangan yang dihadapi penyidik KNKT, tidak adanya saksi mengenai jatuhnya AirAsia karena kecelakaan di tengah laut. Lokasi titik jatuhnya ada di tegah laut sehingga kesulitan untuk menentukan lokasi jatuhnya," ujar Tatang di ruang raker Komisi V DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2015).

Lokasi yang berada di tengah laut dan jauh dari tepi pantai juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim evakuasi. Apalagi tim juga terkendala oleh komunikasi yang sulit akibat susahnya sinyal.

"Karena lokasi jauh dari pinggir pantai proses evakuasi berlangsung lebih lama, komunikasi untuk menyampaikan data dari titik lokasi itu juga sulit," kata Tatang.

Sulitnya medan yang dihadapi oleh tim evakuasi dan investigator KNKT menyebabkan hanya penyelam terlatih saja yang mampu melakukan evakuasi bagian pesawat yang jatuh di Laut Jawa di wilayah Kalimantan Tengah itu. Lokasi yang berada di tengah laut juga menyebabkan evakuasi korban hanya bisa dilakukan jika jenazah mengapung.

"Untuk evakuasi korban hanya bisa dilakukan jika jenazah korban mengapung atau terlihat secara visual, dan peralatan pinger locator yang dimiliki KNKT hanya ada 2. Kami berharap dari Komisi V bisa menambah untuk membantu kalau ada kecelakaan lagi," Tatang menjelaskan.

Raker yang dipimpin oleh Ketua Komisi V DPR Djemi Francis ini juga dihadiri oleh Menhub Ignasius Jonan dan Kabasarnas Marsdya FHB Soelistyo. Raker juga mengundang Kepala BMKG Andi Eka Sakya dan Direktur Utama Air Navigation Indonesia Bambang Tjahjono.(ear/nrl)

  detik  

Senin, 19 Januari 2015

Mengenang Garuda GA421 Mendarat di Sungai Bengawan Solo [II]

Pilot Abdul Rozaq Mengenang Pramugari yang Mangkat Saat GA421 Mendarathttp://images.detik.com/customthumb/2015/01/19/10/115844_abdulrozaq2.jpg?w=460Pilot Abdul Rozaq (Foto: Nograhany WK/detikcom)

Kapten pilot Abdul Rozaq menghitung jumlah penumpang dan kru setelah pesawat Boeing 737-300 Garuda Indonesia GA421 mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo, 16 Januari 2002. Ternyata ada 1 pramugari yang hilang, Santi Anggraeni. Tak ada firasat sebelumnya, selain Santi sempat menyinggung tentang pulang kampung.

Pada 15 Januari 2002, sebelum pesawat berangkat dengan rute Jakarta-Yogyakarta-Surabaya-Mataram, pilot Abdul Rozaq sempat berbincang-bincang dengan pramugari Santi.

"Tidak sedikitpun ada firasat apa-apa. Almarhumah Santi Anggraeni sempat mengatakan, pulang dari Mataram ingin pulang kampung. Kampungnya itu di Yogyakarta kalau tidak salah. Ternyata, benar-benar 'pulang kampung', tidak ada firasat. Ternyata 'pulang kampung' beneran," kenang pilot Rozaq saat ditemui di rumahnya, Komplek Garuda, Cipondoh, Tangerang, Jumat (16/12015), tepat 13 tahun pendaratan darurat GA421 di Sungai Bengawan Solo.

Tak disangka, ucapan Santi bak firasat setelah pendaratan darurat GA421 terjadi pada keesokan harinya, 16 Januari 2002. Santi yang duduk di bagian belakang pesawat terhisap keluar dan terlempar jauh.

"Dia duduk di belakang. Begitu tail atau ekor pesawat menyentuh batu besar, itu ternyata adalah tempat duduk 2 pramugari. Karena ada bagian pesawat yang terbuka karena menyentuh batu besar itu, mereka tersedot keluar. Satu terlempar jauh, satunya terlempar tidak jauh. Yang terlempar jauh, tidak tertolong," kenang Rozaq.

Bagian ekor pesawat yang terantuk batu membuat lubang terbuka di bagian bawah pesawat, yang efeknya seperti balon yang pecah. Perbedaan tekanan di dalam kabin bertekanan tinggi dan di luar kabin bisa menimbulkan efek penyedotan seperti alat vaccum yang dahsyat. Tak ayal, seragam Santi saat ditemukan sudah terlucuti semua.

"Yang saya tidak habis pikir, 2 pramugari terlempar keluar. Yang selamat itu stocking dan dalamannya terlepas kena pressure itu. Yang terlempar jauh itu uniform-nya (baju seragam) hilang semua. Ternyata setelah terlempar dari luar pesawat yang pecah seperti balon, uniform-nya terlucuti semua. Pada saat malam, ada kabar bahwa ada orang tidak berseragam ditemukan, dipertanyakan, apakah ini pramugari atau penumpang. Karena sama sekali tak ada tanda untuk mengidentifikasi," tuturnya.

"Jadi perbedaan pressure itu, di kabin dan di dalam, menyebabkan uniform pramugari terbuka semua. Tapi saya tidak tahu dia terlempar berapa jauh, juga karena sudah kebawa arus," imbuhnya.

Pramugari Santi Anggraeni, menjadi satu-satunya korban tewas dalam kecelakaan ini dari 54 penumpang, 4 pramugara-pramugari serta pilot dan kopilot. Saat mangkat dalam tugas, usianya 25 tahun dan hendak berencana melangsungkan pernikahan.

"Kapan pun, dimana pun kalau sudah waktunya meninggal sudah tak bisa mengelak lagi. Sedikitpun tidak akan mundur," kata pilot Rozaq mengenang hikmah di balik peristiwa ini.

Setelah pendaratan darurat di Sungai Bengawan Solo itu, pilot Rozaq juga harus berjuang melawan diri sendiri untuk menaklukkan trauma menerbangkan pesawat.(nwk/try)
Tim SAR yang Evakuasi GA421: Bodi Atas Utuh, Bawah Berantakanhttp://images.detik.com/albums/detiknews/garuda421/AbdulRozaq-Jembatan-2.jpgGA421 di Sungai Bengawan Solo (Foto: KNKT)

Ari Kristyono adalah salah satu orang yang datang cukup awal saat terjadi pendaratan darurat Garuda Indonesoa di Bengawan Solo, 16 Januari 2002. Saat itu Ari adalah adalah anggota SAR Universitas Sebelas Maret Solo (UNS). Saat itu SAR UNS termasuk yang dikontak langsung oleh pihak Garuda dan Basarnas untuk membantu.

Dia tiba di lokasi menjelang petang. Sejumlah pejabat militer dan kepolisian sudah berada di lokasi. Proses rescue belum dimulai. Pesawat terlihat menghadap ke selatan dengan moncong ke barat daya. Dugaan Arie, sayap pesawat kanan membentur bebatuan cadas di tepi sungai sehingga menghentikan laju pesawat dan membelokkan arahnya ke barat daya.

"Mungkin kalau tidak ada rintangan itu, pesawat masuk ke palung sungai cukup dalam di depannya. Atau kalau bisa melewati palung, sayap akan membentur pilar jembatan yang hanya beberapa puluh meter di depannya," kenang Ari, Senin (19/1/2015).

Pihak Garuda, kata Ari, segera memutuskan untuk menambat pesawat dengan tali. Namun pada tengah malam tali itu putus seiring dengan derasnya arus sungai di musim penghujan saat itu. Posisi pesawat agak bergeser. Pagi harinya Ari dan kawan-kawan segera mencari tali sling baru untuk kembali menambat pesawat naas itu.

Ari dan kawan-kawan terlibat melakukan evakuasi hingga akhir. Operasi SAR memang hanya fokus pada pesawat, peralatan vital pesawat, dan barang-barang berharga milik penumpang. Hal itu dikarenakan dalam kecelakaan 'hanya' menelan satu korban jiwa, yaitu salah satu pramugari pesawat. Seluruh penumpang selamat dan telah dievakuasi ke Solo sebelum tim SAR datang.

"Kami turun ke bawah. Memang bodi pesawat bagian atas terlihat utuh. Namun sebenarnya bagian bawah berantakan juga. Peralatan bagian bawah tercecer hingga sekitar 300 - 400 meter dari lokasi berhentinya pesawat. Bahkan kotak hitam juga terlepas dan ditemukan di dasar sungai berlumpur dengan proses pencarian cukup melelahkan dan sulit," lanjutnya.

Seingat Ari, ada empat benda yang saat itu sangat dicari. Kepada personel SAR UNS yang saat itu ikut mencari, Basarnas selalu menekankan prioritas pencarian pada empat benda tersebut yaitu kotak hitam, gear box yang berfungsi untuk mengatur distribusi bahan bakar, aki pesawat dan kursi yang diduduki oleh pramugari yang meninggal. Keempat benda itu akan dijadikan bahan pengkajian bagi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

"Semua ketemu, kecuali kursi pramugari. Kotak hitam ditemukan oleh pasukan dari Kopaska sekitar 3-4 hari setelah kecelakaan. Yang paling akhir ketemu adalah aki pesawat. Aki ditemukan masih menempel ketika sayap pesawat diangkat. Semua roda juga ditemukan. Kami menemukan dua roda belang yang telah terlepas jauh dari badan pesawat. Satu roda ditemukan tim lain," ujarnya.

Pencarian kotak hitam, menurut Ari, sangat rumit. Kotak hitam dipastikan terlepas ketika pesawat mendarat di tengah sungai. Semua alat yang mendeteksi sinyal telah diturunkan namun tetap tidak ada tanda-tanda sinyal kotak hitam.

Akhirnya, pencarian dilakukan secara manual. Caranya, dilakukan 'penyapuan' dasar sungai. Kopaska menyapu daerah sekitar ceceran onderdil pesawat. Dipasang tali-tali di dasar sungai. Daerah yang sudah 'disapu' diberi tanda khusus, sedangkan daerah yang sedang 'disapu' diberi bidang kotak dengan batas tali. Begitu terus selanjutnya.

"Akhirnya berhasil ditemukan di dalam lumpur sungai. Setelah semua peralatan vital ditemukan dan dibawa ke Jakarta, selanjutnya proses evakuasi dilanjutkan dengan memotong-motong badan pesawat untuk diangkat dari sungai," kata dia.(mbr/nwk)
Sigapnya Warga Desa Serenan dan Rumah yang Berjasa dalam Evakuasi GA421http://images.detik.com/customthumb/2015/01/19/10/124924_pilotabdulrozaqmuchus.jpg?w=460Rumah kosong tempat evakuasi penumpang. Gambar kiri diambil tahun 2002 (Foto via Pilot Abdul Rozaq) dan gambar kanan diambil hari ini (Foto: Muchus Budi R/detikcom)

Kecelakaan pesawat Garuda di Bengawan Solo menyisakan cerita dan kenangan mendalam, khususnya bagi warga RT 9 RW 4, Desa Serenan, Juwiring, Klaten. Mereka adalah orang yang pertama kali datang dan membantu para penumpang pesawat yang jatuh di sungai, timur rumah mereka.

Umar, saat itu adalah ketua RW setempat. Rumah miliknya paling dekat dengan lokasi, hanya sekitar 100 meter dari bibir sungai. Rumah dua lantai itu memang hanya digunakannya untuk gudang mebel sebelum dipasarkan. Lokasi jatuhnya pesawat memang merupakan kawasan sentra industri mebel dan kerajinan kayu.

"Kami segera datang ke lokasi setelah melihat pesawat jatuh. Kami segera memberikan pertolongan. Seluruh penumpang kami bawa ke pinggir sungai. Setelah dikumpulkan di rumah gudang milik saya ini. Selanjutnya semua dikirim ke Solo untuk mendapatkan perawatan, karena sebagian besar mengalami luka meskipun luka ringan," ujarnya.
http://images.detik.com/albums/detiknews/garuda421/GA421-Lokasi-AbdulRozaq-Muchus.jpgFoto atas diambil tahun 2002 (Foto: via Pilot Abdul Rozaq)

Umar juga memaparkan semua penumpang saat itu masih berada di dalam pesawat. Sedangkan seorang pramugari terpental dari pesawat dalam kondisi luka, terseret arus sungai. Pramugari tersebut berhasil ditolong dan selanjutnya dibawa ke rumah Umar dan dibawa ke Solo untuk dirawat.

Sedangkan seorang pramugari lainnya, ditemukan sekitar 1,5 km dari lokasi jatuh pesawat sudah dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Pramugari yang belakangan diketahui bernama Santi Anggraeni itu ditemukan oleh seorang pemancing di Desa Sidowarno pada Rabu (16/1/2002) sore.

"Pramugari itu ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dan hanya mengenakan pakaian dalam. Mungkin seluruh pakaiannya terlepas saat tersedot keluar an terlempar dari badan pesawat," ujar Umar.

Rumah Umar itu masih berjasa untuk tahapan operasi selanjutnya. Tim SAR dan para penyelam Kopaska menggunakan rumah tersebut sebagai posko hingga operasi selesai.

Kini rumah tersebut tidak hanya digunakan sebagai gudang, namun juga digunakan untuk produksi mebel oleh Umar.
http://images.detik.com/albums/detiknews/garuda421/GA-421-BalaiDesa-2-Muchus.jpg(Foto: Muchus Budi R/detikcom)

Pihak Garuda juga tidak begitu saja melupakan budi baik warga sekitar atas kejadian kecelakaan yang menimpa pesawatnya. Di desa itu, Garuda juga melakukan pengerasan jalan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat.

Garuda membangunkan sebuah gedung serba-guna untuk warga, dan membangun sebuah fasilitas reservoir untuk pengadaan air bersih bagi warga.(mbr/nwk)
Perjuangan Pilot Abdul Rozaq Melawan Trauma Menerbangkan Pesawat http://images.detik.com/customthumb/2015/01/19/10/132237_abdulrozaq2.jpg?w=460Pilot Abdul Rozaq kala ditemui di rumahnya (Foto: Nograhany WK/detikcom)

Trauma menerbangkan pesawat. Itu yang dirasakan kapten pilot Abdul Rozaq setelah berhasil melakukan pendaratan darurat pesawat Garuda Indonesia GA412 pada 16 Januari 2002. Kebanyakan orang yang trauma naik pesawat bisa beralih moda transportasi. Namun, sebagai seorang pilot, tentulah Abdul Rozaq tak bisa 'lari' begitu saja. Sebagai manusia biasa, bagaimana pergulatan pilot Rozaq melawan hambatan psikologisnya itu?

"Setelah selesai peristiwa itu, saya disidang KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi). Saya di-grounded, tidak boleh terbang 6 bulan," tutur pilot Rozaq berkisah pada detikcom di rumahnya, Komplek Garuda, Cipondoh, Tangerang, Jumat (16/1/2015) lalu.

Hari-hari selama 6 bulan itu, sempat membuat lulusan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug tahun 1979 itu berpikir untuk mengundurkan diri dan pindah profesi. Namun karena berbagai pertimbangan yang matang, maka niat itu diurungkan.

"Saya sempat berpikiran ingin berhenti sebenarnya. Cari karir yang lain. Tapi ya sudahlah dijalani saja," jelasnya.

Pihak Garuda menyediakan psikolog untuk mengawasi ketat perkembangan psikologis pilot Rozaq. Dia juga harus menjalani tes kecemasan.

"Tes pertama, diketahui saya masih trauma, tingkat stresnya masih tinggi. Tes kedua masih (trauma). Barulah di tes ketiga dan keempat, baru dirilis. 6 bulan itu saya ditraining kembali, harus masuk ke kelas, masuk simulator. Harus dijalani," imbuhnya.

Saat masuk simulator pertama kali, instruktur mengkondisikan kasus dalam simulator itu persis seperti pendararan darurat yang dialaminya 6 bulan sebelumnya. Kasus simulatornya adalah kedua mesin pesawat mati.

"Kasusnya sama persis seperti kasus saya 6 bulan lalu. Mesin-mesin dimatikan semua. Saya sangat..sangat takut. Kejadian di simulator itu seperti kasus saya," kata Rozaq.

Setelah menjalani pelatihan terbang, masuk simulator akhirnya Rozaq diizinkan untuk menerbangkan pesawat kembali. Namun, dia tidak langsung menjadi Pilot in Command (PIC) melainkan mesti diawasi instruktur dulu untuk beberapa saat.
http://images.detik.com/albums/detiknews/garuda421/AbdulRozaq-Anak-5.jpgPilot Abdul Rozaq (kiri) sedang terbang bersama putra ketiganya yang mengikuti jejaknya, Trian (kanan). (Foto: Pilot Abdul Rozaq)

"Masih diawasi instruktur, dilihat sudah bisa atau belum. Pertama kali terbang, tangan saya gemetaran. Kedua kali sudah mulai normal kembali, sampai 3-4 kali landing (pendaratan). Pertama gemetaran, kedua ketiga kali sudah mulai normal kembali," tuturnya kalem.

Namun, selain sisi teknis profesional yang harus dilatih, pendaratan darurat di Sungai Bengawan Solo menimbulkan dampak yang besar dari sisi spiritual Rozaq. Rozaq bergabung dengan Emotional Spiritual Quotient (ESQ) Ary Ginanjar.

"Ada salah satu materinya, ada rumusnya satu dibanding nol sama dengan tidak terhingga. Rumus itu menunjukkan bagaimana kepasrahan, kemudian melakukan usaha semaksimal mungkin, hasilnya tidak perlu kita tahu. Berusaha semaksimal mungkin, hanya Tuhan yang menentukan," tutur Rozaq memetik hikmah kejadian yang nyaris merenggut nyawanya itu.

Dari detik-detik menegangkan menjelang pendaratan darurat karena mesin pesawat mati, Rozaq juga menyampaikan peranan doa dan menggantungkan harapan pada Tuhan sangatlah penting. Di saat semua mesin pesawat mati, ilmu-ilmu yang diketahuinya tentang penerbangan serasa tidak berarti.

"Berusaha semaksimal mungkin, berdoa, Tuhan mendengar dan kemudian diputuskan (hasil akhirnya). Saat itu semua ilmu IQ, ilmu apapun tidak ada lagi, kita pasrah saja," pesan Rozaq.

"Kapan pun, dimana pun, kalau sudah waktunya meninggal, sudah tak bisa mengelak lagi. Sedikitpun tidak akan mundur. Pasrah saja untuk mengurangi stres sendiri. Kalau berpikir itu terus (trauma pendaratan darurat GA421), nanti tidak maju-maju," nasihatnya.

Bahkan, Rozaq dan para penumpang GA421 saling membagi pengalaman spiritual itu, yang sebagiannya masih berhubungan baik hingga sekarang, setelah 13 tahun peristiwa itu berlalu.(nwk/try)

  ★ detik  

Selasa, 13 Januari 2015

Basarnas pastikan CVR AirAsia telah diangkat dari Laut Jawa

Basarnas memastikan Rekaman Percakapan di Kokpit atau Cockpit Voice Recorder [CVR] pesawat AirAsia QZ8501 telah diangkat dari perairan Selat Karimata dan berada di KRI Banda Aceh. Rekaman Data Penerbangan FDR telah ditemukan pada Senin (12/01)

Direktur operasi Basarnas SB Supriadi mengatakan CVR yang merupakan bagian dari kotak hitam itu masih dalam kondisi utuh, dan akan dibawa ke Pangkalan Bun, Kota Waringin Barat Kalimantan Tengah.

"Yang sudah diangkat adalah CVR, dan sekarang ada di KRI Banda aceh, kondisi masih utuh dalam keadaan baik, nanti akan diserahkan ke KNKT," jelas Supriadi kepada wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari ketika dihubungi melalui telepon.

Supriadi mengatakan Rekaman Percakapan di Kokpit CVR tersebut akan diserahkan ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi KNKT di Pangkalan Bun dan akan diteliti.

Sebelumnya, Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi KNKT Tatang Kurniadi mengatakan Indonesia akan memimpin proses penyelidikan dan akan menganalisa seluruh data yang berada di FDR, tetapi juga melibatkan sejumlah negara untuk memberikan masukan yang dibutuhkan, seperti Singapura, Korea Selatan, Inggris, AS dan Prancis.
Kotak hitam pesawat terdiri dari dua bagian yaitu Flight Data Recorder [FDR] atau Rekaman Data Penerbangan dan Cockpit Voice Recorder [CVR] atau Rekaman Percakapan di Kokpit.

Dalam kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 ini, dua bagian kotak hitam terpisah, sebelumnya Rekaman Data Penerbangan FDR telah diangkat dari perairan Selat Karimata pada Senin (12/01).

Supriadi mengatakan para penyelam juga menemukan bagian badan pesawat di jarak 1,7 km dari bagian ekor, tetapi belum diketahui apakah akan diangkat atau tidak.

Pesawat AirAsia nomor penerbangan QZ8501 hilang kontak dalam perjalanan dari Surabaya ke Singapura pada Minggu (28/12) pagi. Pesawat itu mengangkut 162 penumpang, sebagian besar merupakan warga negara Indonesia.

  BBC  

Minggu, 11 Januari 2015

Pencarian Black Box AirAsia QZ8501

Black Box Air Asia QZ8501 Terdeteksi Tiga Kapal Pencari Tim penyelam mencoba mengangkat ekor pesawat Air Asia QZ8501.

Sinyal black box (kotak hitam) pesawat Air Asia QZ8501 mulai terdeteksi di tengah-tengah upaya pengangkatan bagian ekor pesawat.

"Ya betul ada terdeteksi, 1 km arah timur dari penemuan ekor," ujar Direktur operasional Basarnas SB Supriyadi, Ahad (11/1).

Sinyal black box, ujarnya, terdeteksi oleh tiga kapal yang berada tidak jauh dari ekor pesawat. Posisi kotak hitam yang berada di luar kotak hitam itu, disebutnya karena diduga terlempar dari bagian ekor pesawat yang hilang kontak pada 28 Desember 2014 lalu itu.

Ketiga kapal yang berhasil menemukan sinyal black box pesawat Air Asia tersebut, yaitu Baruna Jaya, Java Interior, dan Geo Survey.

"Ini lagi mau dicek dengan melakukan penyelaman. Lagi kita kirim penyelam dari kapal KN Pacitan ke kapal-kapal itu," kata Supriyadi.
Baruna Jaya Fokus Temukan Kotak Hitam Kapal Baruna Jaya IV BPPT bergerak melakukan pencarian pesawat AirAsia QZ 8501 yang jatuh di perairan Belitung, Ahad (28/12).

Kapal riset Baruna Jaya I diminta fokus menemukan kotak hitam pesawat Air Asia QZ8501 yang jatuh di perairan Teluk Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Perekayasa madya BPPT Yudo Haryadi melalui sambungan telpon kepada Antara di Pangkalan Bun, Kalteng, Minggu mengatakan penekanan pencarian Baruna Jaya I dari Basarnas untuk mencari kotak hitam dulu.

Pergerakan kapal riset ini pun, menurut dia, berada di bawah koordinasi Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT). "Ada tiga kapal yang membawa 'pinger locator' yang di berada di lokasi pencarian dan itu dikoordinasikan oleh KNKT," ujar dia.

Sejauh ini, menurut dia, "pinger locator" Baruna Jaya I baru menangkap indikasi signal atau ping kotak hitam pesawat yang dicari di beberapa lokasi. Namun belum ada yang terkonfirmasi hingga pencarian hari ke-14.

Saat ini, Yudo mengatakan Baruna Jaya I masih mencoba mencari atau menangkap signal dari kotak hitam di radius yang tidak begitu jauh dari penemuan ekor pesawat. "Pinger locator" dapat menangkap signal dari kotak hitam sekitar enam kilometer.

Kapal riset ini, menurut dia, masih "disiplin" menyisir sektor prioritos kedua untuk menemukan kotak hitam sesuai dengan arahan Badan SAR Nasional.

Sebelumnya, Direktur Operasional Basarnas Marsekal Pertama SB Supriyadi mengatakan kotak hitam yang menyimpan Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) dari pesawat Air Asia QZ8501 diduga telah terpisah dari ekor pesawat.

"(Kotak hitam) tidak ada (di ekor pesawat). Jadi kemungkinan sudah berpisah dengan ekornya," katanya.

Hanya saja, ia mengatakan letak pasti dari benda yang mengeluarkan signal tersebut belum dapat ketahui. "Letaknya belum bisa kita pastikan, masih berupa kemungkinan-kemungkinan. Namun beberapa kapal pencari yang membawa 'pinger locater' menangkap signal yang berada satu kilometer (km) sebelah tenggara dari ekor pesawat yang telah ditemukan," ujarnya.

"Lebih dan kurangnya seperti itu, sehingga sekarang upaya mendeteksi dengan pinger ini terus dilakukan supaya dapat lokasinya yang tepat, sehingga nanti penyelam bisa turun ke lokasi yang tepat," ujar dia.
Sinyal Ping QZ 8501 Diduga Berhasil Diidentifikasi Potongan bagian ekor pesawat AirAsia QZ8501 setelah berhasil diangkat dari dasar laut dengan menggunakan "floating bag" oleh tim penyelam gabungan TNI AL dan ditempatkan di atas kapal Crest Onyx, di perairan Laut Jawa, Sabtu (10/1).

Kapal riset Baruna Jaya I (BJ1) tengah mengidentifikasi sinyal PING yang diduga kotak hitam pesawat Air Asia QZ 8501 yang jatuh di perairan Teluk Kumai, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi dan Pengembangan Sumberdaya Alam Ridwan Djamaluddin dalam keterangannya di Teluk Kumai, Kalteng, Ahad (11/1), mengatakan temuan sinyal tersebut berada sekitar empat kilometer (km) dari area temuan ekor pesawat Air Asia QZ 8501. Ia menduga kuat obyek tersebut adalah kotak hitam yang tengah menjadi fokus pencarian tim SAR gabungan. Saat ini, ada tiga Kapal Survei yang dikoordinasikan Basarnas yang tengah melakukan verifikasi terhadap dugaan obyek kotak hitam tersebut.

"Mudah-mudahan tidak salah. Karena tiga alat dari tiga kapal, ketika memanggil, pingnya menjawab dari kotak hitam," katanya.

Sementara itu Penanggung Jawab Puskodal Operasi Baruna Jaya I BPPT Imam Mudita mengatakan dugaan obyek tersebut berada sekira 4,5 km dari area temuan ekor pesawat Air Asia QZ 8501. "Frekuensi kotak hitam 37,5 khz, terus kita dengarkan dan dipantau koordinatnya," ujar dia.

Sebelumnya, Direktur Operasional Basarnas Marsekal Pertama SB Supriyadi mengatakan kotak hitam yang menyimpan Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) dari pesawat Air Asia QZ 8501 diduga telah terpisah dari ekor pesawat. "(Kotak hitam) tidak ada (di ekor pesawat). Jadi kemungkinan sudah berpisah dengan ekornya," katanya.

Hanya saja, ia mengatakan letak pasti dari benda yang mengeluarkan signal tersebut belum dapat ketahui. "Letaknya belum bisa kita pastikan, masih berupa kemungkinan-kemungkinan. Namun beberapa kapal pencari yang membawa 'pinger locater' menangkap signal yang berada satu kilometer (km) sebelah tenggara dari ekor pesawat yang telah ditemukan".

"Lebih dan kurangnya seperti itu, sehingga sekarang upaya mendeteksi dengan pinger ini terus dilakukan supaya dapat lokasinya yang tepat, sehingga nanti penyelam bisa turun ke lokasi yang tepat," ujar dia.
Black Box Air Asia QZ8501 Diperkirakan Berada 4 Kilometer dari Ekor Pesawat Serpihan pesawat Air Asia QZ8501 disimpan di ruang Disasater Victim Identification (DIV) Polri di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kalteng, Kamis (8/1). (Antara/Prasetyo Utomo)

Kapal riset Baruna Jaya I (BJ1) tengah mengidentifikasi sinyal PING yang diduga kotak hitam pesawat Air Asia QZ8501 yang jatuh di perairan Teluk Kumai, Kalimantan Tengah.

“Temuan sinyal tersebut berada sekitar empat kilometer dari area temuan ekor pesawat Air Asia QZ 8501,” terang Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi dan Pengembangan Sumberdaya Alam Ridwan Djamaluddin, Ahad (11/1).

Ia menduga, obyek tersebut adalah kotak hitam yang tengah menjadi fokus pencarian tim SAR gabungan. Untuk memastikannua, tiga kapal survei yang dikoordinasikan Basarnas tengah memverifikasi obyek tersebut.

"Mudah-mudahan tidak salah. Karena tiga alat dari tiga kapal, ketika memanggil, ping-nya menjawab dari kotak hitam," katanya.

Sementara itu Penanggung Jawab Puskodal Operasi Baruna Jaya I BPPT Imam Mudita mengatakan dugaan obyek tersebut berada sekitar 4,5 km dari area temuan ekor pesawat AirAsia QZ 8501.

"Frekuensi kotak hitam 37,5 khz, terus kita dengarkan dan dipantau koordinatnya," ujar dia.

  ★ Republika  

Sabtu, 10 Januari 2015

Detik-detik Ekor AirAsia QZ8501 Diangkat ke Kapal Crest Onyx

Foto: Angling/detikcom

Setelah 3 hari ditemukan, ekor AirAsia QZ8501 akhirnya muncul ke permukaan laut. Ekor pesawat itu lalu dibawa naik ke kapal Crest Onyx oleh tim SAR gabungan.

Saat ekor QZ8501 muncul ke permukaan di Selat Karimata, Sabtu (10/1/2014), tepuk tangan membahana dari Panglima TNI Jenderal Moeldoko dan pejabat lainnya yang memantau dari KRI Banda Aceh.

Selama ini, pengangkatan ekor terhambat gelombang yang tinggi dan angin kencang di sekitar Selat Karimata. Ekor ditemukan di kedalaman 35 meter.

Berikut detik-detik diangkatnya ekor AirAsia diangkat ke kapal Crest Onyx:
1. Ekor Naik ke Permukaan Ekor QZ8501 terangkat ke permukaan laut pada pukul 11.50 WIB. Ekor seberat 10 kg itu dikaitkan dengan floating bag dengan 4 tabung udara.

Kemudian 2-3 tabung udara lagi ditambahkan. Munculnya ekor ke permukaan mendapat tepuk tangan dari Panglima TNI Jenderal Moeldoko yang memimpin operasi pengangkatan ekor AirAsia. Moeldoko bahkan menginap dari Kamis (8/1/2015) lalu.

Beberapa anggota TNI AL terlihat mengawal proses pengangkatan ini dari permukaan laut dengan menggunakan 2 kapal karet.
2. Ekor Ditarik ke Crest Onyx Setelah terangkat ke permukaan laut, ekor QZ8501 ditarik dengan menggunakan crane dari kapal Crest Onyx. Sekitar pukul 14.00 WIB, proses penarikan ekor masih berlangsung.

Potongan ekor pesawat ini nantinya akan dibawa ke Pangkalan Bun untuk kepentingan penyelidikan.
3. Ekor Berhasil Dinaikkan ke Kapal Ekor QZ8501 akhirnya naik ke kapal Crest Onyx. Ekor yang berwarna merah dengan tulisan berkelir putih itu bisa dilihat dengan mata telanjang.

Dari sini, merujuk pada pernyataan Jenderal TNI Moeldoko, tim akan mengecek ada tidaknya black box di dalam bagian pesawat itu.
4. Black Box Dicari Setelah ekor dinaikkan ke kapal Crest Onyx, tim SAR gabungan masih membutuhkan konfirmasi untuk memastikan keberadaan black box. Panglima TNI Jenderal Moeldoko yakin akan adanya black box di ekor tersebut.

"Saya yakin di ekor, perkembangan pukul 10.00 WIB sinyal melemah. Anak buah kami saya tarik karena frekuensi (ping) mengecil. Penyelam ada yang standby di Jadayat. Nanti juga kerahkan kekuatan Basarnas menggunakan teknologi mungkin Amerika atau Rusia," kata Moeldoko, di KRI Banda Aceh, di Selat Karimata.(nik/gah)

  ★ detik  

Kamis, 01 Januari 2015

Kisah Pilot Garuda Lolos Awan Badai dengan Pesawat Crash

Pesawat Garuda Indonesia. (Reuters/Beawiharta)

Pesawat AirAsia QZ8501 rute Surabaya-Singapura hilang kontak tak lama setelah menghindari awan kumulonimbus Minggu pagi (28/12). Ada dugaan pesawat tersebut gagal menghindar dari awan badai yang menjulang 52 ribu kaki di langit di atas perairan antara Tanjung Pandan dan Pontianak.

Bila itu terjadi, pun bukan kali pertama ada pesawat yang memasuki kumulonimbus. Seorang pilot Garuda Indonesia, Abdul Rozaq, berbagi kisah saat pesawat yang ia piloti terjebak di tengah awan badai dan putus komunikasi dengan menara pemantau lalu-lintas udara atau air traffic controller (ATC) bandara.

Rozaq adalah pilot dari pesawat Garuda Indonesia 421 yang mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo, Jawa Tengah, 16 Januari 2002. Saat itu satu awak kabin tewas, 12 penumpang mengalami luka berat, dan 10 penumpang luka ringan. Namun Rozaq lolos dari maut dan hingga kini setia pada profesinya sebagai pilot.

Pendaratan darurat GA 421 ketika itu diawali dengan cuaca buruk di langit sekitar Solo. Kumulonimbus menghadang laju pesawat. Boeing 737-200 yang dipiloti Rozaq tak bisa menghindar dari awan badai itu. Pesawat itu tak bisa bermanuver ke kanan atau ke kiri.

“Saat itu di kanan pesawat ada gunung. Jadi mau-tidak mau saya harus masuk awan kumulonimbus. Peristiwa berlangsung cepat,” ujar Rozaq mengenang pengalaman pahitnya di Kantor Otoritas Bandara Wilayah 1 Soekarno-Hatta, Senin malam (29/12).

GA 421 waktu itu menempuh rute Mataram-Yogyakarta. Ketinggian pesawat 23 ribu kaki. Saat masuk kumulonimbus, GA 421 sudah tak bisa berkomunikasi dengan ATC terdekat. Rozaq kehilangan pemandu di darat. Dia harus mengambil keputusan apapun seorang diri.

“Saya mengendarai pesawat secara manual karena komunikasi terputus. Pesawat lalu turun hingga ketinggian 7 ribu kaki hanya dalam waktu lima menit. Pada ketinggian itu, saya bisa melihat ada sungai,” kata pria 58 tahun itu. Ia belakangan tahu sungai itu adalah Bengawan Solo.

GA 421 pun mendarat darurat di Bengawan Solo, crash. Rozaq beruntung karena lolos dari maut. Namun satu krunya harus meregang nyawa meski semua penumpang selamat. Pengalaman buruk itu membuat Rozaq memberi sedikit pesan kepada rekannya sesama pilot jika suatu saat menghadapi situasi yang sama dengan dia.

“Saat masuk kumulonimbus, pilot harus mencari gumpalan awan paling tipis agar lebih mudah dilewati dan turbulensi yang terjadi tidak begitu besar,” ujar pilot dengan 26 ribu jam terbang itu.

Kumulonimbus memiliki karakteristik beragam. Awan yang dihadapi Rozaq ketika itu, menurutnya, sangat besar dan tebal. Untuk menghindari kumulonimbus, ujar Rozaq, paling aman dengan menggeser pesawat ke kanan atau ke kiri, bukan dengan menaikkan ketinggian pesawat, sebab kumulonimbus biasanya menjulang tinggi.(agk)

  ★ CNN  

Rabu, 31 Desember 2014

5 Alat Canggih ini Bakal Dilibatkan Mencari Black Box AirAsia

http://images.detik.com/content/2014/12/31/10/163441_cdblackboxadamairknkt.jpgPengangkatan black box Adam Air (Foto: KNKT)

Setelah serpihan pesawat AirAsia ditemukan, tahap pencarian selanjutnya adalah mencari black box, yang bisa menjadi kunci penyebab AirAsia jatuh ke laut. Laut Jawa, tempat ditemukannya serpihan-serpihan itu, berkedalaman 25-30 meter. Maka, selain melibatkan penyelam, alat-alat canggih juga dilibatkan seperti ini:
Pinger Detector http://images.detik.com/content/2014/12/31/10/163531_pingerdetectorsnoaagov.jpg(Foto: noaa.gov)

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) berusaha mencari tahu keberadaan black box pesawat AirAsia QZ8501. Alat yang digunakan berupa 6 buah Pinger Detection.

"Ada 6 Pinger Detector yang akan dipakai untuk mencari sinyal emergency yang menempel di blackbox (kotak hitam)," kata Kepala KNKT Tatang Kurniadi, saat dihubungi detikcom, Selasa (30/12/2014) malam.

Alat emergency yang dimaksud Tatang adalah Underwater Locator Beacon (ULB) yang menempel di black box yang mengeluarkan sinyal darurat. Pinger detector selanjutnya akan mendeteksi bunyi tersebut.

"Bisa mendeteksi suara hingga 200 meter," ujar Tatang.

Enam alat Pinger Detector yang akan digunakan merupakan milik KNKT, KNKT Singapura dan KNKT Inggris. Rencananya, tim pencari blackbox ini akan mulai bergerak dari Tanjung Pandan sekitar pukul 06.00 WIB.
Remote Operator Vehicle (ROV) http://images.detik.com/customthumb/2014/12/31/10/163624_rovnoaagov.jpg?w=460Bila lokasi black box sudah diketemukan, maka robot yang disebut Remote Operated Vehicle (ROV) akan digunakan. Alat ini akan mengangkat benda-benda dalam laut yang dalam.

ROV digunakan untuk banyak hal di dalam air, beberapa di antaranya untuk kepentingan eksplorasi minyak lepas pantai, termasuk perakitan pipa, elektronik, dan konstruksi.

ROV ini juga digunakan untuk mengangkat black box Adam Air di perairan Majene Sulbar dari kedalaman laut 2.000 meter. ROV yang digunakan untuk mengangkat AdamAir saat itu adalah jenis ROV Remora yang bisa menjelajah hingga kedalaman 6 ribu meter.

Yang akan membawa ROV dalam SAR AirAsia adalah tim survei yang beranggotakan Ikatan Surveyor Indonesia dan Asosiasi Kontraktor Survey Laut Indonesia membawa sejumlah peralatan canggih yang biasa digunakan untuk pemetaan bawah laut.

"Jadi nanti kami akan cari objek dengan sonar, setelah itu akan dibuat peta dalam bentuk 3D setelah itu ROV akan diturunkan untuk mengambil gambar visual berupa video dan foto," kata kata Ketua Ikatan Alumni Geodesi ITB yang tergabung dalam tim survei, Henky Suharto, di pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (31/12/2014).
Multibeam Echosounder http://images.detik.com/customthumb/2014/12/31/10/163658_mechosounderwikipedia.jpg?w=460Multibeam echosounder, menurut situs National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), alat ini digunakan untuk survei di laut dalam, menentukan letak kedalaman benda seperti bangkai kapal, penghalang, dan objek-objek lainnya.

Alat ini juga akan dibawa tim survei dari Ikatan Surveyor Indonesia dan Asosiasi Kontraktor Survey Laut Indonesia.

Alat ini, seperti sistem sonar lainnya, memancarkan gelombang suara dalam bentuk kipas yang dari langsung di bawah lambung kapal. Sistem ini mengukur dan mencatat waktu yang dibutuhkan sinyal akustik dari transmitter atau pemancar ke dasar laut atau objek dan kembali lagi. Dari pergerakan sinyal akustik itu, bisa diketahui jarak kedalaman benda.

Dengan cara ini alat ini menghasilkan cakupan area luas survei. Cakupan area di dasar laut tergantung pada kedalaman air, biasanya dua sampai empat kali kedalaman air.
Side Scan Sonar http://images.detik.com/content/2014/12/31/10/163729_sidescansonarnoaagov.jpggifTim dari Ikatan Surveyor Indonesia dan Asosiasi Kontraktor Survey Laut Indonesia juga akan membawa side scan sonar. Side scan sonar adalah sistem khusus untuk mendeteksi benda-benda di dasar laut. Kebanyakan sistem pemindaian samping tidak dapat memberikan informasi mendalam.

Seperti sonar lainnya, side scan sonar ini memancarkan energi suara dan menganalisa sinyal kembali (echo/gaung) yang kembali dari dasar laut atau benda lainnya. Side scan sonar biasanya terdiri dari tiga komponen dasar: towfish, kabel transmisi, dan unit pengolahan.
Submersible Vehicle http://images.detik.com/customthumb/2014/12/31/10/163802_siblevehiclewikipedia.jpg?w=460Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) menyatakan butuh suatu alat bernama submersible vehicle untuk mengevakuasi pesawat AirAsia bernomor penerbangan QZ 8501. Tapi Indonesia tak punya alat itu dan harus meminjamnya dari mancanegara. Apa sebenarnya submersible vehicle itu?

Submersible vehicle bila diterjemahkan tentu saja berarti kendaraan selam. Namun bukan berarti ini sama dengan kapal selam. Bila diperhatikan, submersible vehicle terlihat lebih ringkas secara ukuran. Dikutip dari berbagai sumber, submersible vehicle merupakan kendaraan kecil yang didesain untuk menjangkau kedalaman lautan, bahkan hingga kedalaman bertekanan tinggi yang tak mungkin manusia bisa berada pada titik kedalaman itu.

Submersible vehicle tak bisa beroperasi sendiri layaknya kapal selam, melainkan butuh 'kapal induk' yang berada di atas permukaan air. Kendaraan yang tidak sepenuhnya otonom ini masih membutuhkan dukungan dari kapal di permukaan laut, mereka dihubungkan oleh semacam tali atau saluran.

Submersible hanya memuat sedikit awak dengan ruang yang sempit. Kendaraan ini dirancang sedemikian rupa untuk tahan terhadap tekanan air yang tinggi di kedalaman laut. Ada pula sejenis submersible yang dinamakan marine remotely operated vehicles (MROV) yang tak menggunakan awak.

Namun demikian, submersible jenis apa yang bakal digunakan untuk mengevakuasi AirAsia? Pihak Basarnas belum jelas betul menjelaskannya. Hanya saja, submersible itu bukan ROV yang tak berawak.

"Kita masih belum bisa bicara lebih jauh, karena ini masih minta bantuan. Sekarang masih fokus untuk pencarian. Kalau submersible vehicle itu untuk evakuasi. Kalau nanti sudah ketemu lokasinya dan ketemu kedalamannya, baru submersible dibutuhkan. Submersible ini biasanya ada awaknya, dan awaknya mengoperasikan," kata Kepala Humas Basarnas Dianta Bangun di Kantor Basarnas, Kemayoran, Jakarta, Senin (29/12).(nwk/nrl)

   detik  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More