blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label BRIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BRIN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Agustus 2026

Kolaborasi PT PAL Indonesia–BRIN Menuju Green Shipyard Nasional

  Transformasi Industri Maritim Hijau Indonesia
KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL (PAL)

Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksdya TNI (Purn.) Prof. Dr. Ir. Amarulla Octavian, M.Sc., mengapresiasi kapabilitas PT PAL Indonesia sebagai industri strategis nasional yang memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem maritim Indonesia. Ia memastikan BRIN siap berkolaborasi dengan PT PAL untuk mendorong kemajuan industri perkapalan nasional.

Dalam kunjungan kerjanya ke PT PAL, Prof. Octavian menyampaikan komitmen BRIN tersebut menindaklanjuti arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, agar perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri membangun kolaborasi untuk meningkatkan pertumbuhan industri perkapalan dalam negeri.

Selain pengembangan teknologi, kata dia, kolaborasi juga berfokus pada transformasi industri menuju green shipyard. “Salah satu target utama yang ingin kami dorong bersama adalah mewujudkan green shipyard, sehingga setiap produk utama yang dihasilkan PT PAL berasal dari proses produksi yang ramah lingkungan, efisien, dan berbasis inovasi".

Ia berharap transformasi menuju green shipyard tidak hanya meningkatkan daya saing industri perkapalan nasional, tetapi juga memperluas akses PT PAL ke pasar global. Menurutnya, tuntutan terhadap standar keberlanjutan yang semakin tinggi di pasar internasional menjadi peluang bagi industri nasional untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing komersial.

Pasar global semakin menuntut standar keberlanjutan. Karena itu, transformasi ini akan memperkuat kapasitas komersial PT PAL,” ujarnya.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Dr. Kaharuddin Djenod, M.Eng., menyambut baik komitmen BRIN dalam memperkuat ekosistem riset nasional untuk mendukung transformasi industri perkapalan.

Menurutnya kolaborasi dengan BRIN akan memperkuat kemampuan riset terapan, mempercepat penguasaan teknologi, dan mendukung transformasi PT PAL menuju halangan kapal modern yang lebih hijau, efisien, dan kompetitif. “Ini sejalan dengan arahan Presiden, sinergi antara industri, lembaga riset, dan perguruan tinggi akan menjadi kunci dalam memperkuat kemandirian industri perkapalan nasional” tegasnya.

Dalam pertemuan PT PAL dan BRIN juga membahas rencana implementasi kolaborasi pada riset terapan, pengembangan teknologi maritim, hilirisasi hasil penelitian, peningkatan kompetensi SDM, serta implementasi teknologi rendah emisi dan efisiensi energi sebagai bagian dari transformasi menuju green shipyard. Inisiatif tersebut sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di lingkungan PT PAL.

  👷  PAL  

Selasa, 21 Juli 2026

PT PAL dan BRIN perkuat teknologi hidrodinamika lewat kolaborasi riset

Direktur Teknologi dan Manajemen Risiko PT PAL Indonesia Briljan Gazalba dan Kepala Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN Teguh Muttaqie menandatangani Non-Disclosure Agreement (NDA) soal kolaborasi riset pengembangan teknologi hidrodinamika di Surabaya, Jumat (17/6/2026). (ANTARA/HO-PT PAL)

PT PAL Indonesia bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan teknologi hidrodinamika yang akan mendukung peningkatan kapabilitas industri perkapalan nasional melalui kolaborasi riset.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Non-Disclosure Agreement (NDA) atau Perjanjian Kerahasiaan sehingga menjadi dasar bagi PT PAL Indonesia dan BRIN untuk melakukan pertukaran informasi, pembahasan teknis, serta penjajakan berbagai program penelitian dan pengembangan yang membutuhkan perlindungan terhadap informasi strategis.

"Penguasaan teknologi merupakan kunci untuk memperkuat daya saing industri maritim nasional," kata Direktur Teknologi dan Manajemen Risiko PT PAL Indonesia Briljan Gazalba dalam keterangan di Surabaya, Sabtu.

Briljan mengatakan penguasaan teknologi hidrodinamika berperan penting dalam meningkatkan performa, efisiensi, dan keandalan platform maritim termasuk teknologi pemanfaatan bawah air.

Oleh sebab itu, kata dia, kolaborasi dengan BRIN menjadi langkah strategis untuk memperkuat penguasaan teknologi hidrodinamika dan sistem bawah air sekaligus mempercepat lahirnya inovasi yang meningkatkan daya saing industri nasional.

Selain itu, Briljan menuturkan kolaborasi antara PT PAL dan BRIN dapat mencerminkan implementasi Triple Helix yang berorientasi pada penciptaan inovasi berkelanjutan, peningkatan daya saing industri, serta penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional.

Sementara itu, Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN Dadan Moh Nurjaman menilai kolaborasi dengan PT PAL merupakan bagian dari upaya memperkuat pemanfaatan hasil riset nasional bagi kebutuhan industri strategis sekaligus mendukung terwujudnya kemandirian teknologi Indonesia.

"Sinergi dengan PT PAL diharapkan dapat mempercepat pengembangan teknologi maritim yang berdaya saing dan mendukung kemandirian bangsa,” kata Dadan.

  📝  antara 

Kamis, 09 Juli 2026

Prabowo dan Modi Sepakati 16 MoU

 Termasuk soal Rudal Supersonic BrahMos Presiden Prabowo Subianto menyambut kedatangan Perdana Menteri India Narendra Modi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (6/7/2026) (antara)

Pertemuan Prabowo Subianto dan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi menghasilkan 16 kesepakatan.

Salah satunya kerja sama terkait rudal jelajah supersonik BrahMos.

"Kami yakin kesepakatan-kesepakatan tersebut dapat segera diimplementasikan sehingga memberi hasil dan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara," kata Prabowo saat memberikan keterangan pers bersama PM Modi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Dokumen kerja sama yang diteken di hadapan Prabowo dan Modi itu antara lain perpanjangan perjanjian kerangka kerja antara Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia dan Indian Space Research Organisation mengenai eksplorasi dan pemanfaatan antariksa untuk tujuan damai.

Selain itu, Indonesia dan India mengumumkan 15 dokumen lainnya yang mencakup kerja sama di sejumlah bidang strategis, dari pertahanan, energi, kesehatan, kebudayaan, hingga teknologi. Berikut ini rinciannya:

1. Perpanjangan Framework Agreement antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia dan Indian Space Research Organisation (ISRO) tentang kerja sama dalam eksplorasi dan pemanfaatan antariksa untuk tujuan damai.
2. Perpanjangan protokol Nota Kesepahaman tentang kerja sama keselamatan dan keamanan maritim.
3. Nota Kesepahaman tentang kerja sama di bidang penanggulangan bencana.
4. Nota Kesepahaman tentang kerja sama di bidang mineral dan teknologi untuk rantai pasok baja.
5. Pengaturan Pelaksanaan (Implementing Arrangement) mengenai kolaborasi tenaga kesehatan.
6. Letter of Intent (LoI) untuk konservasi dan restorasi Kompleks Candi Prambanan, Indonesia.
7. Nota Kesepahaman tentang kerja sama di bidang telekomunikasi, teknologi, dan layanan.
8. Nota Kesepahaman tentang kerja sama di bidang regulasi produk medis.
9. Nota Kesepahaman tentang kerja sama di bidang pertanian.
10. Nota Kesepahaman tentang kerja sama di bidang pengelolaan dan pemanfaatan teknologi dalam penyelenggaraan pemilu.
11. Nota Kesepahaman tentang kerja sama penelitian, teknologi, dan inovasi.
12. Penandatanganan kontrak sistem pertahanan rudal BrahMos antara BrahMos dan Kementerian Pertahanan.
13. Perjanjian kerja sama rudal udara-ke-udara antara Bharat Dynamics dan Republic Corp.
14. Nota Kesepahaman antara Non-Ferrous Materials Technology Development Centre, MIDWEST Ltd., dan PT Perusahaan Mineral Nasional.
15. Strategic Joint Venture antara Steel Authority of India dan PT Krakatau Steel.
16. Nota Kesepahaman antara Indian Institute of Management Bangalore dan PT Inteligensia Grahatama. (eva/haf)

  🚀 
detik  

Senin, 29 Juni 2026

BRIN dan Pindad Jajaki Kolaborasi Riset

  🤝  Perkuat Industri Pertahanan RCWS hasil kerjasama Pindad (Pindad)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Elektronika dan Informatika (OREI) menerima kunjungan PT Pindad dalam rangka penjajakan kerja sama penelitian dan pengembangan teknologi pertahanan dan keamanan (hankam), pada Senin (22/6).

Pertemuan yang berlangsung di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun Bandung tersebut menjadi forum diskusi awal untuk mengidentifikasi potensi kolaborasi riset yang dapat mendukung penguatan industri pertahanan nasional.

Kepala OREI BRIN Budi Prawara dalam sambutannya memperkenalkan struktur organisasi, pusat-pusat riset yang berada di bawah OREI, serta berbagai kompetensi yang dimiliki para periset.

Salah satu unit yang menjadi fokus pembahasan adalah Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) yang memiliki sejumlah aktivitas riset strategis yang dinilai berpotensi untuk dikolaborasikan dengan PT Pindad.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) BRIN, Yanuandri Putrasari, memaparkan berbagai kapasitas dan pengalaman riset PRMC yang relevan untuk mendukung litbang hankam.

Menurutnya, kompetensi PRMC mencakup bidang mesin, elektro, informatika, dan sistem kendali yang terintegrasi dalam pengembangan teknologi mekatronika cerdas.

PRMC memiliki berbagai kelompok riset yang fokus pada sistem instrumentasi cerdas, mesin cerdas dan sistem otonom, dinamika dan kendali cerdas, biomekatronika, robotika dan sistem cerdas, serta fluida plasma cerdas. Kapasitas ini sangat relevan untuk mendukung pengembangan teknologi pertahanan nasional,” jelas Yanuandri.

Ia menambahkan bahwa sejumlah hasil riset yang telah dikembangkan PRMC berpotensi untuk di hilirisasi dan dikolaborasikan bersama industri pertahanan.

Salah satunya adalah pengembangan mesin nasional dua silinder 1.000 cc yang dirancang untuk mendukung industri otomotif dalam negeri.

Teknologi tersebut telah mencapai tingkat kesiapan teknologi yang memungkinkan pengembangan lebih lanjut menuju tahap penerapan industri.

PRMC juga memiliki rekam jejak riset di bidang sistem persenjataan dan sistem otonom, antara lain robot penjinak bom MoroLIPI, lengan robot bersenjata, Remote Controlled Weapon System (RCWS), turret kaliber 20 mm, Electronic Optical Tracking (EOT), serta berbagai teknologi pendukung sistem kendali dan stabilisasi,’’ papar Yanuandri.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan RCWS menjadi salah satu contoh teknologi yang memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan industri pertahanan.

Sistem tersebut dirancang sebagai platform persenjataan yang dapat diintegrasikan pada kendaraan tempur, kapal tempur, maupun wahana lainnya. Beberapa tahapan pengujian performa RCWS juga pernah dilakukan bersama PT Pindad.

Kolaborasi dengan industri sangat penting agar hasil-hasil riset tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi dapat berkembang menjadi produk yang siap digunakan dan memberikan kontribusi nyata bagi kemandirian teknologi nasional,” ujar Yanuandri.

Bersamaan dengan itu, Vice President Inovasi dan Pengembangan Bisnis PT Pindad, Rakhmad Aryo, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk menjajaki peluang kerja sama yang dapat mendukung pengembangan produk dan teknologi pertahanan nasional.

Menurutnya, PT Pindad membutuhkan dukungan dari lembaga riset untuk memperkuat kemampuan inovasi dan pengembangan teknologi strategis.

Diskusi yang berlangsung antara kedua pihak membahas berbagai aspek teknis dan peluang sinergi, mulai dari sistem otonom, teknologi persenjataan, sistem kendali cerdas, hingga pengembangan komponen dan subsistem yang mendukung alat utama sistem persenjataan. nasional.

Melalui pertemuan ini, BRIN dan PT Pindad berharap dapat menindaklanjuti pembahasan menuju kerja sama yang lebih konkret, sehingga hasil-hasil riset nasional dapat semakin berkontribusi dalam memperkuat ekosistem industri pertahanan Indonesia sekaligus mendukung kemandirian teknologi bangsa.

  🤝  BRIN  

Minggu, 31 Mei 2026

ITB dan BRIN Uji Coba Robot Bawah Air (ROV)

  Hasil Riset Multidisplin di Perairan Kepulauan Seribu Proses penurunan robot bawah air ke perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Tim penelitian dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaksanakan uji coba robot bawah air di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Kamis, 28 Mei 2026. Robot bawah air atau Remotely Operated Vehicle (ROV) ini merupakan produk dari penelitian bertajuk “DEEP-UNDER ROV: Development of Experimental and Exploratory Photogrammetry for Supporting Underwater Archaeological Studies Using Remotely Operated Vehicle” yang didanai oleh Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB sejak 2025 melalui Program Penelitian Dosen Muda.

Tim yang dipimpin Hilton Tnunay, Ph.D. dari Kelompok Keahlian/Keilmuan Teknik Komputer, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB ini terdiri atas anggota penelitian dari berbagai bidang ilmu, seperti Teknik Geodesi dan Geomatika, Teknik Mesin, hingga Arkeologi. Penelitian ini juga dilaksanakan melalui hubungan erat antara ITB dengan INSA Strasbourg, Prancis, serta HCU Hamburg, Jerman.

Pengembangan robot bawah air dilaksanakan sebagai bagian dari Tugas Akhir dalam bentuk Capstone Project yang dikerjakan oleh tiga mahasiswa Teknik Elektro tingkat sarjana, Ibrahim H. Mulyana, Riswandha Mashuri, dan Wafi A. Yasin sejak pertengahan tahun 2025, dan didukung oleh Matthew Troy Putra, S.T. selaku mahasiswa Teknik Elektro tingkat magister.

Robot bawah air ini didesain untuk dapat beroperasi hingga kedalaman sampai dengan 50 meter di bawah air serta melaksanakan tugas pemetaan objek di bawah air menggunakan teknik fotogrametri.

Terlepas dari berbagai batasan cuaca dan hambatan operasional, robot dapat berfungsi dengan baik hingga kedalaman sekitar 20 meter serta mendapatkan rekaman gambar di dasar perairan dengan kualitas yang baik.

Hilton Tnunay, Ph.D. beserta tim melaksanakan pre-flight check sebelum pengujian robot bawah air dilaksanakan.

Berbagai pengembangan lanjutan masih perlu dilaksanakan agar robot dapat melaksanakan pemetaan objek bawah air secara akurat di masa yang akan datang.

Robot bawah air yang kami uji ke perairan Kepulauan Seribu kali ini merupakan hasil iterasi ketiga dari penelitian yang telah dilaksanakan sejak awal 2025. Banyak lesson learned yang tidak akan kami dapatkan jika tidak melakukan pengujian secara langsung di lapangan,” ujar Hilton.

Pengujian masih kami batasi pada musim pancaroba untuk menghindari kondisi cuaca ekstrem. Bagaimanapun, penting untuk melaksanakan pengujian robot bawah air di laboratorium secara komprehensif untuk menguji kekuatan motor-motornya ketika harus melawan arus serta ketahanan struktur ketika gelombang datang,” ujar Gabriella Alodia, Ph.D. dari Teknik Geodesi dan Geomatika ITB yang juga merupakan anggota dari penelitian tersebut.

Pengujian lanjutan akan dilaksanakan pada pertengahan Oktober 2026 dengan target memetakan satu dari tiga bangkai kapal yang terdapat di perairan Kepulauan Seribu.

Jika kita bisa melakukan pemetaan serta pemodelan objek arkeologi bawah air secara detail, kita tidak hanya dapat mengetahui kondisi objek tersebut untuk mendukung kebutuhan pariwisata, namun kita juga dapat melaksanakan penelitian terkait penyebab tenggelamnya obyek tersebut pada masanya. Dalam hal ini, kita dapat memprediksi apa yang menyebabkan kapal tersebut karam,” ujar Dr. Harry O. Sofian dari Pusat Riset Arkeometri BRIN.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi awal dari kolaborasi jangka panjang antara ITB dengan pihak-pihak terkait, utamanya dalam pengembangan teknologi observasi serta pemetaan bawah air.

 ⚓️  ITB  

Rabu, 13 Mei 2026

BRIN Kembangkan Teknologi Produksi Kapal

  Perkuat Daya Saing Galangan Nasional (BRIN)

Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan riset teknologi produksi kapal.

Pengembangan ini ditujukan untuk memperkuat daya saing galangan kapal nasional, khususnya galangan kelas menengah. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) dengan dukungan LPDP pada periode 2022–2025.

Pengembangan riset ini dilatarbelakangi kebutuhan industri galangan nasional untuk meningkatkan efisiensi pembangunan kapal, ketepatan waktu produksi, serta pemenuhan standar mutu.

Selama ini, tantangan yang dihadapi galangan kapal tidak hanya berkaitan dengan kemampuan desain, tetapi juga kesiapan teknologi produksi, perencanaan pekerjaan, pengendalian mutu, dan pengelolaan sumber daya di lapangan.

Dalam kegiatan riset, desain Kapal Mini LNG 36 TEUs digunakan sebagai studi kasus. Desain kapal tersebut merupakan salah satu hasil Prioritas Riset Nasional (PRN) pada era BPPT dan telah memperoleh persetujuan klasifikasi dari Biro Klasifikasi Indonesia (BKI).

Dengan status tersebut, desain kapal dapat dijadikan contoh penerapan teknologi produksi kapal yang dapat diadaptasi di galangan nasional.

Ketua tim riset PRTH BRIN, Prof. Buana Ma’ruf, Senin, (12/5), mengatakan bahwa peningkatan daya saing industri galangan nasional memerlukan penguatan aspek teknologi produksi kapal.

Galangan kapal nasional tidak cukup hanya memiliki kemampuan membangun kapal, tetapi juga perlu didukung proses produksi yang terencana, terukur, dan terintegrasi sejak tahap awal pembangunan. Melalui riset ini, BRIN menyusun acuan teknologi produksi yang dapat membantu galangan meningkatkan efisiensi, mutu, dan ketepatan waktu pembangunan kapal,” ujar Buana.

Melalui riset tersebut, BRIN menyusun sejumlah dokumen acuan teknologi produksi kapal yang dapat digunakan galangan dalam merencanakan dan mengendalikan proses pembangunan kapal.

Acuan tersebut mencakup spesifikasi teknis, rencana mutu, pembagian blok pembangunan kapal, urutan pekerjaan, strategi pembangunan, rencana pemeriksaan dan pengujian, pengendalian akurasi penyambungan blok lambung kapal, hingga perencanaan jadwal dan kebutuhan tenaga kerja.

Penerapan rancangan proses produksi dilakukan bersama PT Industri Kapal Indonesia (Persero) atau PT IKI di Makassar. Dari studi kasus tersebut, tim riset berhasil menyusun model perencanaan pembangunan kapal yang lebih terstruktur dan terintegrasi.

Selain itu, hasil riset juga didiskusikan bersama Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO) serta sejumlah praktisi galangan kapal nasional.

Keterlibatan mitra industri dilakukan untuk memberikan masukan dan penyempurnaan agar hasil riset dapat diterapkan secara optimal oleh galangan kapal kelas menengah nasional.

Buana menjelaskan bahwa hasil kajian menunjukkan proses pembangunan kapal dapat direncanakan lebih efisien dibandingkan pendekatan konvensional.

Pada studi kasus Kapal Mini LNG 36 TEUs di PT IKI, waktu pembangunan kapal yang semula direncanakan sekitar 16 bulan dapat dipersingkat menjadi 12 bulan melalui penerapan teknologi produksi yang mengintegrasikan pekerjaan lambung kapal dengan perlengkapannya,” ia menjelaskan.

Ia menambahkan, penerapan teknologi produksi kapal juga memungkinkan kebutuhan bahan baku dan tenaga kerja direncanakan lebih baik sehingga pengendalian pekerjaan menjadi lebih terukur.

Dalam praktik pembangunan kapal, pekerjaan ulang kerap terjadi akibat ketidaksesuaian ukuran dan bentuk blok saat proses penyambungan di lapangan.

Oleh karena itu, BRIN juga menyusun acuan pengendalian ketepatan pekerjaan untuk membantu galangan mengurangi potensi pekerjaan ulang, menekan pemborosan waktu, serta menjaga mutu hasil produksi.

Selama pelaksanaan riset, BRIN menghasilkan tujuh dokumen teknis teknologi produksi kapal, tiga kekayaan intelektual berupa satu paten dan dua hak cipta, serta tujuh karya tulis ilmiah.

Melalui riset ini, BRIN mendorong galangan kapal nasional kelas menengah untuk meningkatkan produktivitas, mutu, dan ketepatan waktu pembangunan kapal.

Dengan dukungan teknologi produksi kapal yang lebih baik, galangan nasional diharapkan mampu meningkatkan daya saing di pasar global sekaligus memenuhi kebutuhan kapal niaga di dalam negeri.

  👷 BRIN  

Selasa, 28 April 2026

Kampus Muhammadiyah Sukses Buat Rudal Anti-Pesawat

🚀 Gandeng TNI Rudal Merapi (UAD)

Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Prof Muchlas, mengungkapkan perkembangan signifikan dalam proyek pengembangan rudal anti-pesawat Merapi-R yang digarap bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).

Rudal tersebut bahkan dinilai berpotensi menjadi embrio sistem pertahanan udara mirip “Iron Dome” versi Indonesia.

Prof Muchlas menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari tim peneliti, uji fungsi rudal Merapi-R telah menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Secara uji fungsi, Rudal Merapi siap dikembangkan menjadi senjata untuk keperluan perang, bahkan sangat taktis untuk dikembangkan menjadi embrio Iron Dome versi Indonesia,” ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Senin (30/3/2026).

Meski demikian, dia menegaskan bahwa tidak semua spesifikasi teknis dapat dipublikasikan secara terbuka.

Hal ini berkaitan dengan aspek strategis dan keamanan nasional. Namun, sejumlah spesifikasi umum telah diungkap kepada publik.

"Spesifikasi tidak dapat disampaikan secara terbuka, tetapi secara umum telah dirilis," ucapnya.

Rudal Merapi-R diketahui merupakan jenis rudal panggul atau Man Portable Air Defence System (MANPADS)/dengan kaliber 70 mm.

Sistem ini dirancang untuk digunakan secara mobile oleh prajurit di lapangan. Dengan bobot sekitar 10 kilogram, rudal ini tergolong ringan dan mudah dibawa.

Dari sisi performa, rudal ini memiliki jangkauan efektif hingga 3.000 meter dan mampu melesat dengan kecepatan lebih dari 650 kilometer per jam.

Sistem pemandunya menggunakan teknologi penjejak inframerah (infrared seeker) dengan fitur fire and forget, yang memungkinkan rudal mengunci target secara otomatis setelah diluncurkan.

Secara desain, Merapi-R dilengkapi sirip lipat (canard dan fin-tail) yang akan terbuka setelah keluar dari tabung peluncur, guna menjaga stabilitas dan akurasi saat menuju sasaran.

Pengembangan rudal ini melibatkan kolaborasi lintas lembaga, yakni tim CIRNOV UAD bersama PT Dahana, Dislitbangad, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kolaborasi ini menjadi bukti kontribusi perguruan tinggi dalam penguatan teknologi pertahanan nasional.

Dia berharap pengembangan Merapi-R dapat terus berlanjut hingga tahap produksi dan operasional, sehingga mampu memperkuat sistem pertahanan udara Indonesia di masa depan.

Project Leader sekaligus Kepala CIRNOV UAD, Prof Hariyadi menyampaikan bahwa penyempurnaan akan selalu dilakukan agar kualitas produk riset itu dapat memenuhi standar industri pertahanan dan keamanan (hankam) dan digunakan oleh TNI sebagai suatu persembahan anak bangsa kepada negara Indonesia tercinta.

   🚀 Republika  

Selasa, 14 April 2026

Indonesia Gandeng Rusia Bangun Fasilitas Peluncuran Roket di Papua

Bandar Antariksa dibangun di Biak (Times Indonesia)

Indonesia mendorong penguatan kerja sama dengan Rusia dalam pengembangan sektor antariksa, termasuk rencana pembangunan fasilitas peluncuran roket (spaceport) di Biak, Papua, sebagai bagian dari upaya menuju kemandirian teknologi.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Profesor Arif Satria, mengatakan kerja sama tersebut menjadi salah satu fokus utama Indonesia dalam forum Cosmonautics Day di Rusia.

Tujuan utama kunjungan kami adalah untuk mempromosikan kegiatan antariksa Indonesia dan memperkuat kerja sama dengan Rusia, khususnya dalam pengembangan sektor antariksa,” kata Arif dalam wawancara dengan Russia Today, Senin, 13 April 2026.

Ia menjelaskan, Indonesia saat ini tengah mempersiapkan pembangunan spaceport di Pulau Biak sebagai bagian dari pengembangan ekosistem antariksa nasional.

Kami sedang mempersiapkan pembangunan spaceport di Indonesia, khususnya di Pulau Biak di Papua. Ini sangat penting untuk menunjukkan komitmen kami dalam mengembangkan ekosistem antariksa, termasuk ekonomi antariksa,” ujarnya.

Menurut Arif, kerja sama dengan Rusia dinilai strategis mengingat negara tersebut merupakan salah satu pemimpin global dalam teknologi antariksa.

Dalam kunjungannya, Arif juga melakukan pertemuan dengan pimpinan Roscosmos, termasuk Direktur Jenderal Dmitry Bakanov, guna membahas skema kerja sama antara BRIN dan badan antariksa Rusia tersebut.

Selain itu, pembahasan juga dilakukan dengan Glavkosmos terkait persiapan pembangunan fasilitas peluncuran di Biak.

Pengembangan dan pengoperasian kosmodrom berbasis peluncuran Rusia di Indonesia menjadi salah satu fokus utama kerja sama kami,” jelas Arif.

Ia menegaskan, Indonesia menargetkan kemandirian di sektor antariksa melalui penguatan kapasitas teknologi dan pembangunan ekosistem yang lebih luas. “Indonesia berupaya mengembangkan kemandirian di sektor antariksa,” tegasnya.

Selain pembangunan infrastruktur, Indonesia juga tengah menyiapkan peluncuran satelit generasi baru, yang akan memiliki kemampuan lebih baik untuk mendukung pemantauan lingkungan, ketahanan pangan, dan mitigasi bencana.

Pada akhir 2026, kami berencana meluncurkan mikrosatelit baru dengan resolusi dan kemampuan yang lebih baik,” jelas Arif.

Dengan pengembangan spaceport di Biak, Indonesia menargetkan dapat melakukan peluncuran satelit secara mandiri di masa depan, yang akan menjadi tonggak penting dalam pengembangan sektor antariksa nasional.

Di masa lalu, kita fokus pada sumber daya darat dan maritim. Kini, antariksa menjadi frontier baru untuk pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Arif menambahkan, Indonesia menargetkan menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki fasilitas spaceport sendiri, dengan dukungan teknologi dan pengalaman dari Rusia.

  📡 
 Metro TV  

Selasa, 07 April 2026

RI Siap Kembangkan Teknologi 6G

  Fokus Riset Antena Ilustrasi 6G (Ist)

Idonesia mulai menyiapkan pengembangan teknologi 6G. Salah satu upaya tersebut dilakukan lewat riset antena yang dikembangkan oleh peneliti Pusat Riset Telekomunikasi (PRT) badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Berbeda dari generasi sebelumnya, pengembangan 6G kali ini tidak hanya fokus pada peningkatan kecepatan jaringan, tapi juga menuntut inovasi pada desain perangkat, terutama antena yang menjadi komponen utama dalam sistem komunikasi.

Peneliti PRT BRIN Yohanes Galih Adhiyoga menjelaskan salah satu pendekatan yang banyak dikaji saat ini adalah penggunaan antena mikrostrip multilayer. Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan gain dan mengontrol pola radiasi sinyal, meski memiliki tantangan dalam integrasi dengan perangkat elektronik modern.

"Riset tersebut turut dikembangkan PRT BRIN. Salah satu fokusnya adalah pengembangan antena mikrostrip, baik single-layer maupun multilayer, untuk menjawab kebutuhan komunikasi generasi mendatang," kata Yohanes, melansir Detik, Kamis (2/4).

Menurut dia dalam sistem komunikasi generasi terbaru, antena tidak lagi berdiri sendiri sebagai komponen tunggal. Desainnya harus mempertimbangkan interaksi dengan berbagai komponen aktif seperti integrated circuit (IC), transistor, filter, hingga jaringan pencatu dalam satu perangkat.

Hal ini menjadikan pengembangan antena sebagai bagian dari rekayasa sistem yang lebih kompleks, bukan sekadar perancangan struktur radiasi.

Yohanes juga menekankan bahwa riset 6G merupakan upaya jangka panjang yang perlu dipersiapkan sejak dini, meskipun implementasi 5G saat ini masih terus berkembang.

"Saat ini, 5G memang masih dalam tahap pengembangan, tetpai riset tidak bisa berhenti di situ. Kita harus menyiapkan teknologi berikutnya," jelas Yohanes.

"Jadi, ketika 6G benar-benar diimplementasikan, kita tidak hanya mengganti nama, tetapi juga menghadirkan peningkatan kecepatan, latensi, dan performa yang sesuai dengan spesifikasi," kata dia menambahkan.

Dalam pengembangan sistem komunikasi generasi terbaru, antena tetap menjadi komponen krusial karena berfungsi sebagai jalur utama keluar masuknya sinyal.

"Kami di kelompok riset antena hanya menangani sebagian kecil dari sistem 6G, yaitu antena sebagai komponen pasifnya. Namun, antena tetap menjadi komponen yang sangat penting karena menjadi pintu utama keluar-masuknya sinyal," tutur dia.

Riset antena 6G yang dikembangkan di BRIN meliputi berbagai jenis antena mikrostrip, baik multi-layer maupun single-layer. Maisng-masing desain memiliki keunggulan yang berbeda, tergantung parameter yang ingin ditingkatkan.

Beberapa antena dirancang untuk menghasilkan gain tinggi dan pola radiasi yang optimal, sementar lainnya difokuskan pada bandwith yang lebih besar. Perbedaan karakteristik ini menunjukkan trade-off dalam desain antena, sehingga pemilihan struktur harus disesuaikan dengan kebutuhan aplikasi.

Ia mengungkap tantangan terbesar dalam pengembangan antena saat ini terletak pada integrasi dengan komponen aktif di dalam perangkat.

Kompleksitas tersebut semakin meningkat karena perangkat modern seperti smartphone kini memuat berbagai fungsi komunikasi dalam satu sistem. Oleh karena itu, antena harus mampu bekerja secara optimal tanpa terpengaruh maupun mengganggu komponen lain di dalam perangkat.

Kepala PRT BRIN Nasrullah Armi menilai sektor telekomunikasi akan terus berkembang pesat dan membutuhkan sumber daya manusia yang siap menghadapi teknologi masa depan.

"Kesempatan di bidang ini masih sangat luas. Mahasiswa perlu mulai menentukan minat sejak sekarang, karena riset 6G akan terus berkembang dan membutuhkan banyak talenta," jelas Nasrullah.

  📡  CNN  

Minggu, 05 April 2026

Rusia-Belarus Siap Jajaki Kerja Sama Antariksa dengan Indonesia

Bandar Antariksa dibangun di Biak (Times Indonesia)

Rusia dan Belarus menyatakan kesiapan mereka untuk menjalin kerja sama strategis dengan Indonesia dalam bidang antariksa, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga eksplorasi ruang angkasa.

Pernyataan ini disampaikan dalam acara peletakan karangan bunga di Monumen Yuri Gagarin yang menjadi bagian dari peringatan Hari Kosmonautika.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menegaskan negaranya memiliki pengalaman panjang dalam pembangunan infrastruktur antariksa, termasuk pengembangan landasan peluncuran terbaru di wilayah Timur Jauh Rusia.

"Kami memiliki banyak keterampilan dan pengalaman, dan kami siap bekerja sama," ujarnya, mengutip Antara, Sabtu (4/4).

Tolchenov mengungkapkan bahwa saat ini Rusia tengah menjajaki negosiasi dengan pemerintah Indonesia terkait peluang pembangunan infrastruktur antariksa. Ia berharap proses tersebut berjalan konstruktif sehingga membuka ruang kolaborasi yang konkret.

Hal senada disampaikan Duta Besar Belarus untuk Indonesia, Raman Ramanouski. Ia menyebut eksplorasi ruang angkasa sebagai sektor yang menjanjikan bagi kedua negara.

Menurutnya, Belarus telah memiliki satelit yang menjangkau kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sehingga membuka peluang kerja sama dalam pemanfaatan data dan teknologi antariksa.

Di sisi lain, Indonesia sendiri telah lama mengkaji potensi Pulau Biak sebagai lokasi strategis untuk peluncuran satelit. Letaknya yang dekat garis khatulistiwa dinilai memberikan keuntungan efisiensi energi dan biaya, khususnya untuk peluncuran ke orbit rendah Bumi (LEO).

Melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pemerintah kini berupaya mempercepat pembangunan Bandar Antariksa Nasional di Biak. Proyek ini ditujukan untuk memperkuat kemandirian akses antariksa sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di industri global.

Plt. Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Anugerah Widiyanto, menyebut kajian pembangunan bandar antariksa di Biak sebenarnya telah dilakukan sejak 1990. Namun, studi tersebut perlu diperbarui agar selaras dengan perkembangan teknologi, kebutuhan nasional, serta kondisi lingkungan terkini.

Selain faktor geografis, peluang ekonomi juga menjadi pendorong utama. Pertumbuhan ekonomi antariksa global membuka ruang bagi Indonesia untuk terlibat lebih aktif, baik dalam layanan peluncuran maupun pengembangan teknologi berbasis satelit.

Adapun peringatan Hari Kosmonautika sendiri merupakan momen penting dalam sejarah eksplorasi ruang angkasa. Peringatan ini merujuk pada penerbangan perdana manusia ke luar angkasa oleh Yuri Gagarin pada 12 April 1961-sebuah tonggak yang mengubah arah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi global.

Sejumlah duta besar negara sahabat turut hadir dalam acara tersebut, mencerminkan semakin terbukanya peluang kolaborasi internasional di sektor antariksa yang kini kian kompetitif dan strategis. (tis/tis)

  📡 
CNN  

Sabtu, 14 Maret 2026

BRIN Ungkap Indonesia Berpotensi Jadi Produsen Satelit

Ilustrasi sateli LAPAN A1 telah mengudara lebih 18 tahun terus beroperasi. (ist)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa Indonesia dinilai perlu mengubah paradigma dalam industri antariksa, dari sekadar pembeli teknologi menjadi produsen satelit. Hal ini dianggap penting untuk memperkuat kemandirian teknologi sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam ekosistem industri antariksa global.

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) di BRIN, Robertus Heru Triharjanto, mengatakan selama ini Indonesia masih lebih banyak berperan sebagai pengguna atau pembeli teknologi satelit dari negara lain.

"Indonesia masih lebih banyak berperan sebagai pembeli teknologi satelit, sementara nilai strategis terbesar justru berada pada negara produsen satelit dan penyedia layanan peluncuran," kata Heru dikutip dari pernyataan tertulisnya, Jumat (13/3/2026).

Menurutnya, para peneliti kini mulai membangun kemampuan nasional secara bertahap. Pada tahap awal, sebagian besar komponen satelit memang masih diperoleh dari luar negeri. Namun secara perlahan, pengembangan komponen satelit mulai dilakukan di dalam negeri.

Beberapa teknologi yang sudah mulai dikembangkan peneliti antara lain reaction wheel, star sensor, serta sistem kamera satelit. Komponen tersebut merupakan bagian penting dalam sistem navigasi dan pengamatan satelit di orbit.

Heru menilai, kemampuan memproduksi satelit sendiri akan memberikan dampak strategis bagi Indonesia. Selain memperkuat kemandirian teknologi, hal tersebut juga dapat mendorong terbentuknya pusat keahlian, memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri, hingga membuka peluang lahirnya industri satelit nasional.

"Program ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi peneliti muda dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi melalui keterlibatan dalam proses perancangan, integrasi, hingga pengujian satelit," ujarnya.

Pengembangan teknologi satelit di Indonesia sendiri telah memiliki fondasi sejak pengoperasian satelit LAPAN-A1. Satelit tersebut mulai dikembangkan pada 2003 melalui kerja sama dengan Technical University Berlin.

Satelit tersebut kemudian diluncurkan pada 10 Januari 2007 menggunakan roket PSLV-C7 milik Indian Space Research Organisation dari Satish Dhawan Space Centre di Sriharikota, India.

Keberhasilan pengoperasian LAPAN-A1 menandai salah satu tonggak penting dalam pengembangan teknologi antariksa nasional. Menurut Heru, kemajuan teknologi satelit tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada visi, kepemimpinan, serta kerja sama tim yang kuat.

Dengan penguatan riset dan kolaborasi yang berkelanjutan, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi satelit, tetapi juga mampu tampil sebagai produsen dalam industri antariksa global. (agt/afr)

  🤝 
detik  

Kamis, 12 Maret 2026

BRIN dan Bappenas Bahas Riset Teknologi Penerbangan dan Roket untuk Perencanaan Pembangunan

(BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan berbagai hasil riset teknologi penerbangan dan roket yang tengah dikembangkan kepada delegasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas di Pusat Riset BRIN Rumpin, Bogor, Kamis (6/3).

Pemaparan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemanfaatan hasil penelitian dalam mendukung perencanaan pembangunan nasional di sektor kedirgantaraan dan keantariksaan.

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menjelaskan bahwa tim Bappenas ingin memperoleh gambaran menyeluruh mengenai arah pengembangan riset kedirgantaraan di BRIN. Delegasi tersebut berasal dari Kedeputian Infrastruktur Bappenas yang kini memiliki direktorat dengan nomenklatur baru di bidang kedirgantaraan dan keantariksaan.

Dalam pertemuan tersebut, ORPA memaparkan berbagai riset strategis yang sedang berlangsung di Pusat Riset Teknologi Penerbangan dan Pusat Riset Teknologi Roket. Penelitian tersebut mencakup pengembangan teknologi sistem penerbangan, desain dan uji komponen pesawat, hingga teknologi roket untuk mendukung penguasaan teknologi antariksa nasional.

Selain hasil penelitian, BRIN juga menyampaikan kondisi sumber daya manusia peneliti, fasilitas dan infrastruktur riset, serta jaringan kolaborasi dengan industri kedirgantaraan dan antariksa di Indonesia. Informasi tersebut menjadi bagian dari pemetaan kapasitas riset nasional yang dapat mendukung pengembangan industri berbasis teknologi tinggi.

Pemaparan tersebut bertujuan untuk menunjukkan posisi dan kontribusi pusat-pusat riset BRIN dalam ekosistem industri kedirgantaraan dan antariksa nasional. Melalui riset yang berkelanjutan, BRIN berupaya memperkuat kemandirian teknologi sekaligus menyediakan basis ilmiah bagi perumusan kebijakan pembangunan,” ujar Heru.

Sementara itu, Direktur Transmisi, Ketenagalistrikan, Kedirgantaraan, dan Antariksa Bappenas, Yusuf Suryanto, menegaskan bahwa hasil riset memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan nasional.

Perencanaan pembangunan nasional membutuhkan hasil riset agar kebijakan yang dihasilkan lebih berkualitas, komprehensif, dan berdampak nyata. Tantangannya adalah bagaimana hasil riset tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat pembangunan,” ujarnya.

Yusuf menambahkan bahwa sinergi antara lembaga perencanaan dan lembaga riset menjadi kunci untuk mendorong pemanfaatan hasil penelitian secara lebih luas, termasuk dalam penyusunan program pembangunan dan kebijakan strategis di sektor kedirgantaraan dan keantariksaan.

Melalui kunjungan tersebut, Bappenas juga menghimpun berbagai masukan teknis dan strategis dari para peneliti BRIN. Masukan tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pembangunan yang berbasis riset dan inovasi.

Kolaborasi antara BRIN dan Bappenas diharapkan dapat memperkuat ekosistem riset kedirgantaraan dan antariksa di Indonesia, sekaligus mendorong pemanfaatan hasil penelitian untuk mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan.

  🤝 
BRIN  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More