blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label BRIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BRIN. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2026

BRIN Jajaki Kerja Sama Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)

  Kunjungi Barata Indonesia Ilustrasi reaktor nuklir mini BRIN (BRIN))

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan kunjungan ke PT Barata Indonesia (Persero) untuk menjajaki peluang kerja sama dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia( 20/8) .

Kunjungan yang dilakukan langsung oleh Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir - BRIN Prof. Dr. Eng.Topan Setiadipura, M.Si, M.Eng beserta tim RTRN diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara lembaga riset dan industri nasional dalam mendukung pengembangan teknologi energi strategis.

Dalam pertemuan tersebut, membahas potensi kolaborasi riset dan pengembangan (R&D), transfer knowledge, serta penguatan kompetensi sumber daya manusia.

Sinergi ini diharapkan dapat menggabungkan kapabilitas riset BRIN dengan pengalaman dan kemampuan manufaktur Barata Indonesia.

Tim BRIN juga meninjau secara langsung fasilitas workshop Barata Indonesia untuk melihat kapasitas perancangan, prototyping, produksi, hingga pengujian kualitas sebagai bagian dari penjajakan kesiapan industri dalam mendukung kebutuhan teknologi PLTN.

Melalui kunjungan ini, BRIN dan Barata Indonesia berkomitmen melanjutkan penjajakan kerja sama melalui penyusunan roadmap, pembentukan tim kerja, serta kajian peluang riset dan transfer teknologi.

Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas industri nasional dan mendukung kemandirian energi Indonesia melalui pengembangan PLTN.

  💡  Barata Indonesia  

Sabtu, 22 Agustus 2026

BRIN Kembangkan Satelit Generasi 4

  Ditargetkan Meluncur 2027 BRIN Kembangkan Satelit Generasi 4, NEO-1. (BRIN))

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah berhasil meluncurkan tiga satelit nasional. Saat ini, Indonesia tengah mengembangkan satelit generasi ke empat yang ditargetkan meluncur tahun 2027.

Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Nur Salma Yusuf Hasanah, mengatakan satelit yang sedang dikembangkan itu adalah NEO-1.

Satelit ini akan melakukan observasi Bumi melalui penyediaan data citra satelit beresolusi tinggi dan menengah. Data tersebut akan dimanfaatkan untuk pemetaan wilayah, pemantauan pertanian dan kehutanan, pemantauan lingkungan, mitigasi bencana, dan pemantauan aktivitas kapal melalui sistem AIS (Automatic Identification System).

"Saat ini, satelit tersebut telah memasuki tahap pengujian dan integrasi. Satelit NEO-1 memiliki misi utama," ungkap Salma dikutip dari laman BRIN, Selasa (18/8/2026).

Pengembangan NEO-1 ini merupakan bagian dari upaya BRIN memperkuat kemandirian teknologi satelit nasional. Sebelumnya, BRIN telah meluncurkan satelit LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT, LAPAN-A2/LAPAN-ORARI, dan LAPAN-A3/LAPAN-IPB. Satelit-satelit ini memiliki misi yang berbeda.

 3 Generasi Satelit Indonesia

 1. Satelit LAPAN A-1

LAPAN-A1 merupakan satelit eksperimental generasi pertama yang telah beroperasi untuk observasi Bumi.

"LAPAN-A1 diluncurkan menggunakan roket Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV) C7 milik India pada 10 Januari 2007. Meski diperkirakan hanya beroperasi selama dua hingga tiga tahun, satelit tersebut hingga kini masih dapat menerima perintah dari operator, meskipun muatan kameranya sudah tidak berfungsi," ujar Salma dalam laman BRIN dikutip Selasa (18/8/2026).

 2. Satelit LAPAN A-2

Kemudian satelit LAPAN-A2 merupakan satelit eksperimental generasi kedua yang proses perancangannya sepenuhnya dilakukan di dalam negeri.

Satelit tersebut diluncurkan menggunakan roket PSLV 
C30 pada 28 September 2015 dan bertugas untuk observasi Bumi, mitigasi bencana, dan pemantauan kapal. 

 3. Satelit LAPAN A-3

Terakhir adalah LAPAN-A3 yang diluncurkan menggunakan roket PSLV C34 pada 22 Juni 2016.

Menurut Salma, LAPAN-A3 memiliki misi AIS serupa dengan LAPAN-A2, tetapi dengan cakupan data yang lebih luas.

Satelit ini dilengkapi kamera multispektral untuk memantau vegetasi, spacecam, dan magnetometer untuk memantau medan magnet Bumi. (nir/nah)

  💡  detik  

Jumat, 21 Agustus 2026

BRIN Siap Terbangkan Roket Dua Tingkat pada 2029 Mendatang

 ➶ Menggunakan roket RX-450Roket dua tingkat BRIN yang siap uji terbang pada 2029. (BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan inovasi unggulnya yakni roket dua tingkat. Roket ini ditargetkan akan uji terbang pada 2029 mendatang.

Selaras dengan rencana ini, Kepala BRIN Arif Satria menyebut persiapan telah dilakukan secara bertahap. BRIN telah membuat peta jalan terkait pengembangan roket ini.

Adapun pengembangan riset ini dibantu oleh Program Riset Invitasi Strategis (PRIS). PRIS adalah skema pendanaan bagi periset untuk yang tengah mengembangkan teknologi kunci.

"Kehadiran PRIS sangat membantu dan membuat teman-teman periset semakin bersemangat dalam menjalankan riset. Dukungan ini turut membuka ruang bagi periset untuk fokus pada pencapaian teknologi kunci. Salah satunya adalah pengembangan motor roket RX 450 yang menjadi bagian penting dalam peta jalan pengembangan roket dua tingkat," kata Arif dalam keterangannya dikutip dari laman BRIN, Kamis (20/8/2026).

 Desain Roket Akan Rampung pada 2026

Arif mengatakan teknologi kunci sudah mulai disiapkan seperti motor roket RX 450, sistem separasi, sistem kontrol, hingga telemetri. Persiapan ini pun dimatangkan lewat riset agar peta jalan solid dan realistis.

"Peta jalan tersebut disusun berdasarkan asumsi dan tingkat penguasaan teknologi pada saat itu. Setelah dilakukan evaluasi, setiap tahapan perlu dipastikan dapat dikuasai dengan baik, terutama dalam mendukung pencapaian dan perolehan data yang dibutuhkan," kata Arif.

Pada 2026, tim BRIN tengah merampungkan desain roket dua tingkat secara keseluruhan. Kemudian, dilanjutkan dengan review desain kritis roket dua tingkat, uji statis motor roket berperforma tinggi dan uji terbang sistem separasi pada 2027.

Tahapan akan berlanjut pada 2028 yakni dengan uji terbang roket tingkat pertama dan kedua secara terpisah. Menurut Arif, rencana ini merupakan bagian dari kemandirian teknologi roket nasional.

 BRIN Siapkan Bandar Antariksa

Selain roket, BRIN juga tengah mengembangkan pembangunan Bandar Antariksa. Kini BRIN sudah bermitra dengan investor untuk mensukseskannya.

Sejauh ini, rencana tersebut memasuki tahap konsolidasi pihak BRIN dan mitra. Tahun ini BRIN menargetkan desain Bandar Antariksa rampung.

Pembangunan Bandar Antariksa ini menurut Arif perlu kehati-hatian dan waktu. Setelah itu dilanjutkan dengan pembangunan fasilitas dasar pada tahun berikutnya. (cyu/cyu)

    detik  

Selasa, 18 Agustus 2026

BRIN Kembangkan Material Baterai Kendaraan Listrik dari Limbah Batu Bara

  Dengan Alih teknologi Daur ulang baterai dari limbah (Ist)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan material baterai untuk kendaraan listrik dari limbah batu bara. BRIN mengembangkan grafit artifisial dari limbah batu bara untuk bahan baku baterai dalam upaya mendukung ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Dikutip dari Antara, Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, pihaknya memproduksi grafit artifisial dari limbah batu bara. "Di sektor hulu material masa depan, BRIN tengah mengembangkan Baterai Li-ion Generasi 5V serta memproduksi grafit artifisial dari limbah batu bara," kata Arif.

Menurutnya, grafit artifisial yang tengah dikembangkan BRIN tersebut memiliki tingkat kesesuaian struktur mencapai 96,8 persen.

BRIN sendiri sudah menciptakan beberapa purwarupa kendaraan listrik. Mereka mengembangkan MEVI DELL-E (baik versi I-Seater maupun O-Seater) serta E-TRIGO yakni kendaraan listrik roda tiga yang dirancang khusus untuk niaga dan ramah bagi penyandang disabilitas.

"BRIN juga mematangkan sistem konversi hybrid (penggabungan mesin bensin, motor listrik, dan controller) yang memiliki potensi penghematan Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga 20-40 persen, serta konversi motor listrik yang memanfaatkan rangka motor eksisting dengan biaya yang jauh lebih terjangkau," kata Arif Satria.

Sementara itu, terkait kendaraan listrik Presiden Prabowo Subianto telah mengumumkan pemerintah akan memberikan insentif besar untuk motor listrik. Dalam Pidato Presiden RI dalam Rangka Penyampaian RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan, Prabowo menyebut bakal memberikan insentif yang cukup besar untuk produsen yang bisa memproduksi satu juta motor listrik buatan lokal.

"Hari ini kita akan memberikan insentif yang cukup besar untuk mereka yang bisa membangun 1 juta motor listrik yang diproduksi di dalam negeri oleh perusahaan Indonesia," ucap Prabowo baru-baru ini.

Kebijakan insentif itu, kata Prabowo, bisa menurunkan biaya operasional kendaraan, mengurangi konsumsi BBM impor, sekaligus membesarkan industri motor listrik nasional beserta rantai pasok baterai, komponen, perangkat lunak, serta layanan purna jualnya. Prabowo saat peresmian ekosistem motor listrik nasional sudah mengungkap bahwa biaya operasional motor listrik lebih murah ketimbang motor bensin. Bahkan bisa dihemat sampai 70 persen.

Menurut Prabowo, saat ini Indonesia sudah memiliki unsur lengkap untuk pengembangan baterai ataupun motor listrik. Ekosistemnya juga sudah terbentuk.

Prabowo juga menambahkan, motor listrik punya sejumlah keunggulan. "Penghematan bagi rakyat, penghematan bagi keluarga mereka, kita perkirakan mereka akan bayar 50 persen lebih rendah dari pengeluaran yang mereka lakukan sekarang untuk motor BBM bahkan bisa nanti turun hanya 30 persen dari biaya yang mereka keluarkan sekarang," tutur Prabowo. (rgr/lth)

  💡  Detik  

Senin, 17 Agustus 2026

BRIN Siapkan Pesawat N219 dan Versi Amfibi untuk Ambulans Terbang Baca artikel CNN Indonesia "BRIN Siapkan Pesawat N219 dan Versi Amfibi untuk Ambulans Terbang" selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260816163159-199-1393000/brin-siapkan-pesawat-n219-dan-versi-amfibi-untuk-ambulans-terbang#goog_rewarded. Download Apps CNN Indonesia sekarang https://app.cnnindonesia.com/

  🛩N219 PTDI

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mematangkan ekosistem pesawat N219 dan varian amfibinya, N219A, untuk menyukseskan visi ambulans terbang yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

"Menjawab visi ambulans terbang dan logistik medis masa depan, BRIN bersandar pada keunggulan teknologi kedirgantaraan nasional. Kami mematangkan ekosistem pesawat N219 dan varian amfibinya (N219A)," kata Kepala BRIN Arif Satria kepada Antara di Jakarta, Minggu (16/8).

N219 dikembangkan BRIN bersama PT Dirgantara Indonesia (DI). Arif menyebut pesawat tersebut memiliki kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL), yakni lepas landas dan mendarat di landasan pendek.

Kemampuan itu dilengkapi varian amfibi N219A sehingga pesawat disebut dapat mendarat di darat maupun perairan untuk evakuasi medis di wilayah kepulauan.

 Pesawat nirawak

Di luar pesawat berawak, BRIN mengembangkan Pesawat Udara Nirawak (PUNA) MALE atau Medium Altitude Long Endurance sebagai tulang punggung sistem nirawak.

Pesawat itu disebut mampu mengudara selama 24 jam nonstop dengan jarak kendali Beyond Line of Sight (BLOS) mencapai kurang lebih 2.000 kilometer.

"Platform nirawak berdaya jelajah tinggi ini memberikan sistem yang mandiri dan andal untuk berbagai misi kritis, dari pemantauan taktis hingga proyeksi logistik darurat pada masa depan," ujar Arif.

Misi yang ia sebutkan terbatas pada pemantauan dan logistik, bukan pengangkutan pasien.

 Visi Prabowo Politik

Prabowo sebelumnya menyatakan pemerintah akan menyiapkan ambulans udara berupa helikopter dan pesawat kecil untuk mempercepat evakuasi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan, terutama di daerah dengan akses sulit.

Menurut dia, ambulans udara diperlukan sebagai salah satu terobosan untuk mengatasi kesulitan akses layanan kesehatan di sejumlah daerah.

Prabowo menyebut masih terdapat masyarakat yang harus menempuh perjalanan hingga tujuh sampai sembilan jam untuk memperoleh layanan kesehatan. Termasuk di antaranya kaum ibu yang membutuhkan pertolongan saat persalinan.

"Untuk itu kita juga akan membuat ambulans udara dengan helikopter dan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan rumput, lapangan pasir, dan bisa mendarat di pinggir sungai, supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa dievakuasi kalau dia sakit," ucapnya dalam Penyampaian Pengantar Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan pada Jumat (14/8). (fea)
 

  🛩
  CNN  

Kamis, 13 Agustus 2026

BRIN Pamerkan Riset Kuantum

  Inovasi energi baterai Inovasi riset baterai kuantum BRIN. (BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sempat menjadi sasaran roasting warganet setelah memamerkan sejumlah hasil inovasi di depan Presiden Prabowo Subianto berupa sepatu, genteng, hingga keripik. Bagi sebagian warganet, produk-produk tersebut dinilai belum mencerminkan gambaran inovasi yang seharusnya dihasilkan sebuah lembaga riset.

BRIN kemudian menunjukkan riset yang dikembangkan sebenarnya tidak berhenti pada produk yang terlihat sederhana. Salah satunya datang dari Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN yang tengah mengembangkan teknologi berbasis fisika kuantum, termasuk konsep baterai kuantum (quantum battery).

Melalui akun Instagram resminya, Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN juga memperkenalkan riset quantum magnetometry, yakni teknologi sensor kuantum berbasis berlian dengan NV Center yang dirancang untuk mengukur medan magnet dengan tingkat sensitivitas sangat tinggi.

"Nah, terkait riset futuristik, di BRIN-Q, kami sedang mengembangkan quantum magnetometry, teknologi sensor kuantum berbasis berlian (NV Center) yang mampu mengukur medan magnet dengan sensitivitas sangat tinggi," tulis akun @quantumresearch.id, dikutip Sabtu (8/8/2026).

 Apa Itu Baterai Kuantum?

Baterai kuantum (quantum battery) berbeda dari baterai biasa yang bekerja melalui reaksi elektrokimia. Baterai jenis ini menyimpan energi pada keadaan kuantum suatu sistem, misalnya atom, molekul, spin, atau sistem cahaya-materi.

Dalam fisika kuantum, banyak sistem dapat berinteraksi secara kolektif. Interaksi ini dapat menghasilkan korelasi dan koherensi.

Pada baterai kuantum yang terdiri atas banyak unit penyimpan energi, unit-unit tersebut dapat diisi secara bersamaan melalui interaksi kolektif. Secara teori, mekanisme ini dapat menghasilkan "quantum advantage", seperti peningkatan charging power dibandingkan strategi pengisian yang bekerja secara independen pada setiap unit.

 Tantangan Riset Baterai Kuantum

Hasil riset berbasis kuantum ini tidak bisa muncul begitu saja. Melainkan tergantung pada sistem, jenis interaksi, protokol pengisian, serta bagaimana sistem berinteraksi dengan lingkungannya.

Sehingga riset dengan topik kuantum ini masih terus diupayakan oleh peneliti dari berbagai dunia dan menjadi hot topic. Mereka berlomba mencari model baterai kuantum paling optimal.

Sejumlah eksperimen juga mulai mendemonstrasikan prinsip-prinsip dasar penyimpanan dan pengisian energi pada sistem kuantum. Meski demikian, riset ini memiliki banyak tantangan.

Tantangan besarnya adalah menjaga energi dan keadaan kuantum tetap tersimpan, mengurangi decoherence dan disipasi. Baterai kuantum yang paling ideal adalah yang cepat terisi.

Selain itu juga bisa lama bertehan, dan ketika dibutuhkan untuk ditransfer, ekstraksi energinya mendekati 100%. Sehingga pencarian model untuk baterai kuantum tidaklah mudah.

Riset ini aktif dilakukan oleh negara-negara maju. Salah satunya tetangga Indonesia, yakni Australia yang terdepan dalam eksperimen baterai kuantum.

Sementara Indonesia melalui BRIN, kini merupakan kontributor penting dalam pencarian model baterai kuantum yang efisien. Sudah ada delapan makalah ilmiah dari BRIN tentang baterai kuantum.

 Apakah Sepatu-Genteng Habiskan Anggaran Triliunan?

Banyak juga yang berspekulasi bahwa BRIN menghabiskan anggaran triliunan hanya untuk membuat sepatu, genteng, dan keripik. BRIN menjawab bahwa hal itu tidaklah benar. Adapun anggaran Rp 6 triliun itu mencakup banyak kebutuhan dan hanya berlaku untuk satu tahun.

Sepatu karet yang dihasilkan BRIN memiliki bahan Smart Rubber. Karet ini tidak bisa dihasilkan begitu saja melainkan dibuat menggunakan teknologi tinggi milik BRIN.

BRIN berharap agar masyarakat lebih menyorot inovasi Smart Rubber yang menjadi hasil riset dan inovasi unggul BRIN ketimbang hanya berfokus pada bentuknya berupa sepatu atau sandal.

Smart Rubber sendiri tidak hanya digunakan untuk membuat sepatu, tetapi juga untuk berbagai kebutuhan industri seperti otomotif, penerbangan, dan keamanan.

Begitu juga dengan keripik ubi. Bukan soal keripriknya, tetapi BRIN mengajak masyarakat agar lebih fokus pada variertas unggul ubi ungu yang telah diriset dan merupakan inovasi milik BRIN. (cyu/pal)

  💡  detik  

Senin, 10 Agustus 2026

Mobil Arsinum BRIN Ubah Air Banjir Jadi Air Minum di Sumatera

  Kapasitas produksi hingga 10.000 liter air / hari Mobil Arsinum BRIN (antara))

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengirimkan mobil Arsinum, alat pengolah air menjadi siap minum—ke wilayah terdampak banjir di Sumatera untuk memenuhi kebutuhan air bersih darurat.

Mobil ini mampu mengolah air keruh menjadi air minum sesuai standar Kementerian Kesehatan dan diberangkatkan pada Minggu (14/12/2025).

Arsinum dapat memanfaatkan berbagai sumber air, mulai dari air tanah, PAM, air hujan, hingga air berlumpur banjir, dengan kapasitas produksi hingga 10.000 liter air siap minum per hari atau sekitar 7 liter per menit.

Biaya operasional produksinya tercatat sekitar Rp2.500 per 20 liter, sehingga dinilai efisien untuk penanganan bencana.

BRIN mengirimkan tiga unit Arsinum ke Sumatera, masing-masing dua unit untuk Aceh Tamiang dan satu unit untuk Tapanuli Tengah.

Kepala BRIN Arif Satria menyebut kehadiran Arsinum dapat mempercepat pemulihan pascabencana, terutama dalam memastikan ketersediaan air minum di lokasi terdampak. Arif menjelaskan, SMR yang dikembangkan BRIN memiliki kapasitas sekitar 50 megawatt (MW).

  💡  Berita Satu  

Minggu, 09 Agustus 2026

BRIN Sudah Kembangkan Reaktor Nuklir Mini

  Reaktor Nuklir Mini 50 MW (BRIN))

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkapkan telah mengembangkan teknologi Small Modular Reactor (SMR) atau reaktor nuklir modular kecil yang siap ditawarkan untuk dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik. Dia mengatakan untuk membuat proyek itu dibutuhkan nilai investasi sekitar Rp 2,5 triliun.

Arif menjelaskan, SMR yang dikembangkan BRIN memiliki kapasitas sekitar 50 megawatt (MW). Kapasitas itu memang lebih kecil dibandingkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) konvensional.

"Kecil masih sekitar 50 megawatt. Tapi memang namanya small, paling tidak kita punya teknologinya," kata Arif, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (7/8/2026).

Dia menjelaskan desain teknologi SMR yang telah siap, termasuk untuk reaktor generasi ketiga maupun keempat yang dinilai memiliki tingkat keselamatan yang tinggi. Sehingga saat ini menunggu pihak yang berminat mengadopsi teknologi tersebut, karena implementasi itu membutuhkan dukungan investasi.

"Tapi BRIN juga siap dengan dua level: satu generasi tiga, dua generasi empat. Nah, dengan dua generasi yang sudah kita siapkan ini, ini tinggal nunggu siapa yang akan pakai teknologinya BRIN ini. Karena untuk itu kan butuh investasi. Berapa investasinya? Rp2,5 triliun. Itu kecil, tidak besar. Kalau kita mau coba, ya, BRIN sudah siap untuk itu," tuturnya.

Meskipun begitu, BRIN masih terus menyempurnakan desain dan model SMR sebagai bagian dari pengembangan teknologi nuklir nasional. Di sisi lain, riset teknologi nuklir BRIN saat ini juga difokuskan untuk mendukung sektor nonkelistrikan.

"Yang jelas, BRIN untuk teknologi nuklir yang berkaitan dengan energi ya itu SMR yang sedang kita siapkan desainnya, modelnya. Namun yang sekarang kita arahkan adalah pemanfaatannya untuk pangan dan kesehatan," katanya.

Dia menyebut penggunaan teknologi nuklir untuk sektor kesehatan seperti radiofarmaka untuk identifikasi penyakit kanker. Selain itu juga untuk metode pengawetan buah-buahan supaya lebih lama ketika ingin melakukan ekspor. (pgr/pgr)

  💡  CNBC  

Jumat, 07 Agustus 2026

Mengenal Lampung-1, Satelit AI Pertama Indonesia

Roket pengangkut Jielong-3 Y12 lepas landas dari perairan lepas pantai Kota Haiyang, Provinsi Shandong, China timur, pada 5 Agustus 2026. Roket tersebut membawa satelit hiperspektral kembar Oriental Smart Eye (OSE), yakni Hyperspectral-01 dan Hyperspectral-02, ke orbit yang telah ditentukan. Satelit OSE Hyperspectral-01, yang diberi nama Lampung-1 oleh pihak Indonesia, merupakan hasil kerja sama sejumlah institusi dari China dan Indonesia. (Xinhua/Song Xiongye)(XINHUA/SONG XIONGYE)

Satelit Oriental Smart Eye (OSE) Hyperspectral-01 yang dinamai Lampung-1, resmi meluncur dari perairan lepas pantai Kota Haiyang, Provinsi Shandong, China, Rabu (5/8/2026) pagi.

Peluncuran satelit itu menggunakan roket pengangkut Jielong-3 Y12 ini dikembangkan bersama oleh perusahaan antariksa China, STAR.VISION, Universitas Wuhan, dan Pemerintah Provinsi Lampung, serta didukung penuh oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Lampung-1 mengukir sejarah sebagai satelit AI hiperspektral pertama milik Indonesia sekaligus satelit perdana dalam Konstelasi Satelit AI China-ASEAN.

 Spesifikasi satelit Lampung-1

Dikutip dari Xinhua, satelit Lampung-1 dirancang dengan spesifikasi teknis tinggi untuk memproses data secara mandiri di luar angkasa.

Satelit ini memiliki bobot sebesar 300 kilogram dan dibekali kapasitas komputasi AI mencapai 400 TOPS.

Keunggulan komputasi ini memungkinkan proses pencitraan, identifikasi, hingga evaluasi data dilakukan langsung di orbit sebelum dikirim kembali ke Bumi.

Selain itu, Lampung-1 membawa 22 saluran spektral yang mencakup rentang panjang gelombang 400 hingga 1.650 nanometer.

Satelit ini menawarkan resolusi spasial hingga 5 meter dengan lebar cakupan pencitraan mencapai 300 kilometer, serta didukung siklus kunjungan ulang global setiap 5 hari sekali.

Berkat pemrosesan AI di orbit, Lampung-1 hanya mengunduh hasil analisis akhir yang sudah matang sehingga transmisi data ke stasiun darat menjadi jauh lebih cepat dan efisien.

 Bermanfaat bagi sektor strategis Indonesia

Keberadaan Satelit Lampung-1 memberikan dukungan teknologi yang sangat signifikan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alam.

Pada sektor pertanian, desain spektral Lampung-1 yang disesuaikan dengan karakteristik geografis Indonesia, mampu mengidentifikasi kesehatan vegetasi, menganalisis kesuburan tanah, hingga memprediksi hasil panen secara presisi.

Untuk bidang maritim dan perairan, satelit ini dapat diandalkan dalam mengelola ekosistem laut, memantau wilayah pesisir, serta mendeteksi perubahan kualitas air.

Sementara, pada sektor kebencanaan dan ekologi, Lampung-1 mampu mengevaluasi dampak bencana alam secara langsung dari orbit untuk mempercepat mitigasi dan pemetaan area terdampak.

Tak hanya itu, analisis respons spektralnya juga sangat berguna untuk tata kelola sumber daya mineral dan pemetaan komposisi tanah nasional.

Perwakilan STAR.VISION menegaskan, desain spektral Lampung-1 dirancang dengan mempertimbangkan struktur industri dan geografis lokal, sehingga sangat ideal untuk pemantauan pertanian, pengelolaan sumber daya laut, dan penanganan bencana alam di Indonesia.

 Kerja sama berkelanjutan

Pengembangan Satelit Lampung-1 berawal dari penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Provinsi Lampung dengan STAR.VISION dan para mitra di China pada Mei 2025.

Proyek ini kemudian diperkuat melalui kolaborasi dengan BRIN, termasuk penerapan platform penginderaan jauh TerraVista serta program perintis data satelit.

Selain memperkuat kapasitas riset nasional, keberhasilan Lampung-1 mencapai orbit menjadi tonggak penting dalam pengerahan Konstelasi Satelit AI China-ASEAN.

Mengusung prinsip pembangunan bersama dan manfaat bersama, inisiatif ini bertujuan membangun infrastruktur cerdas spasio-temporal lintas perbatasan guna mendorong pertumbuhan ekonomi digital serta keamanan lingkungan di kawasan Asia Tenggara.

 Berikut video dari Youtube :


  📡  Kompas  

Rabu, 05 Agustus 2026

Aplikasi MonMang Karya BRIN Digunakan di 27 Negara

  🖥 Dikembangkan Menuju Standar Pemantauan Mangrove Global Aplikasi MonMang Karya BRIN Digunakan di 27 Negara (BRIN)

Aplikasi MonMang (Monitoring Mangrove) yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperluas jangkauan pemanfaatannya sebagai instrumen pemantauan ekosistem berbasis data. Hingga kini, aplikasi tersebut telah digunakan di 27 negara dan terpasang pada lebih dari 1.500 perangkat seluler. Untuk menjawab kebutuhan pengguna yang semakin luas, BRIN bersama Blue Ventures Indonesia mengembangkan MonMang versi 3.0 agar semakin adaptif terhadap pengelolaan mangrove di tingkat global.

Pengembangan tersebut menjadi fokus dalam Workshop Pengembangan dan Standardisasi Kolaboratif Aplikasi MonMang 3.0 untuk Pengelolaan Mangrove dan Perikanan Berbasis Masyarakat Tingkat Global yang diselenggarakan di BRIN Thamrin, Jakarta, Kamis (30/7).

Kepala Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Decky Indrawan Junaedi, mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis dalam pengelolaan mangrove dunia. Sebagai salah satu global mangrove hotspot, Indonesia membutuhkan sistem pemantauan yang mampu menghasilkan data akurat untuk mendukung pengambilan kebijakan berbasis bukti.

"Monitoring mangrove ini sangat membutuhkan evidence-based policy making. Data yang reliable dan akurat sangat kita butuhkan untuk pengelolaan berkelanjutan, restorasi, hingga diplomasi lingkungan Indonesia di tingkat global," ujar Decky.

Menurutnya, MonMang dikembangkan sejak 2019 sebagai inovasi digital yang menghubungkan kebutuhan penelitian dengan partisipasi masyarakat. Melalui aplikasi berbasis perangkat bergerak tersebut, pengguna dapat mengumpulkan, mencatat, dan mengolah data kondisi mangrove secara lebih cepat sehingga menghasilkan informasi mengenai kesehatan ekosistem sekaligus membantu menentukan kawasan yang berpotensi direstorasi.

Decky menjelaskan bahwa MonMang juga mengadopsi pendekatan citizen scientist, sehingga masyarakat dapat terlibat langsung dalam pengumpulan data ilmiah di lapangan.

"MonMang adalah wujud inovasi teknologi digital berbasis mobile application untuk memfasilitasi citizen scientist di era gadget. Kami di BRIN sangat terbuka untuk berkolaborasi guna meningkatkan kualitas data serta memperluas cakupan pemantauan mangrove di Indonesia," katanya.

Pemanfaatan MonMang tidak lagi terbatas di Indonesia. Melalui kolaborasi dengan berbagai mitra nasional dan internasional, aplikasi ini telah digunakan di 27 negara. Bahkan, peneliti BRIN pernah diundang ke Fiji untuk memberikan pelatihan kepada pengguna aplikasi tersebut.

Koordinator Kegiatan Kolaborasi Riset BRIN–Blue Ventures Indonesia, Udhi Eko Hernawan, mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa inovasi yang dikembangkan BRIN mampu menjawab kebutuhan pemantauan ekosistem mangrove di berbagai kawasan dunia.

"MonMang ini sudah dikenal di berbagai negara, bahkan peneliti kita pernah diundang ke Fiji untuk melatih pengguna di sana. Melalui kolaborasi ini, kita ingin aplikasi karya anak bangsa ini juga makin dioptimalkan oleh kementerian dan lembaga di dalam negeri," ujar Udhi.

Di Indonesia, aplikasi tersebut telah dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan kawasan mangrove berbasis masyarakat. Perwakilan Blue Ventures Indonesia, Miftahul Khausar, menjelaskan bahwa mitra lokal menggunakan MonMang untuk memantau kawasan mangrove seluas 2.523 hektare di Desa Sinaka, Mentawai, Sumatra Barat, serta 273 hektare di Sahari, Maluku.

Hasil pemantauan menunjukkan kondisi mangrove berada pada kategori sangat baik hingga sedang, dan informasi tersebut dimanfaatkan sebagai salah satu dasar pengelolaan perikanan berbasis masyarakat.

"Melalui penggunaan MonMang, mitra kami di Mentawai dan Maluku dapat mengidentifikasi ribuan hektare mangrove dalam kategori sangat baik hingga sedang. Data ini langsung dimanfaatkan masyarakat sebagai dasar pengelolaan perikanan berbasis komunitas," jelas Miftahul.

Untuk meningkatkan pemanfaatannya, BRIN kini mengembangkan MonMang 3.0 dengan menghimpun masukan langsung dari pengguna. Pengembangan difokuskan pada penyempurnaan fitur pemetaan, identifikasi jenis mangrove, pengelolaan data lapangan, serta perluasan pilihan bahasa.

Menurut Udhi, selain mendukung Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, MonMang 3.0 juga diarahkan agar mendukung Bahasa Prancis dan berpotensi mengakomodasi berbagai bahasa lokal sesuai kebutuhan pengguna.

"Dunia digital bergerak sangat cepat. Untuk MonMang 3.0, kita butuh masukan dari para pengguna di lapangan untuk mengidentifikasi kebutuhan prioritas, mulai dari memperluas fitur pemetaan, identifikasi jenis, hingga penambahan bahasa seperti Bahasa Prancis dan bahasa lokal," tutur Udhi.

Melalui pengembangan tersebut, BRIN berharap MonMang semakin memperkuat posisinya sebagai platform pemantauan mangrove berbasis data yang mendukung kerja peneliti sekaligus memperluas partisipasi masyarakat dalam pengumpulan data ilmiah. Kolaborasi lintas lembaga, komunitas, dan negara diharapkan semakin memperkuat pemanfaatan hasil riset Indonesia untuk mendukung pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan. (bel,rh/ed:pur)

  👷 BRIN  

Sabtu, 01 Agustus 2026

Kolaborasi PT PAL Indonesia–BRIN Menuju Green Shipyard Nasional

  Transformasi Industri Maritim Hijau Indonesia
KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL (PAL)

Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksdya TNI (Purn.) Prof. Dr. Ir. Amarulla Octavian, M.Sc., mengapresiasi kapabilitas PT PAL Indonesia sebagai industri strategis nasional yang memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem maritim Indonesia. Ia memastikan BRIN siap berkolaborasi dengan PT PAL untuk mendorong kemajuan industri perkapalan nasional.

Dalam kunjungan kerjanya ke PT PAL, Prof. Octavian menyampaikan komitmen BRIN tersebut menindaklanjuti arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, agar perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri membangun kolaborasi untuk meningkatkan pertumbuhan industri perkapalan dalam negeri.

Selain pengembangan teknologi, kata dia, kolaborasi juga berfokus pada transformasi industri menuju green shipyard. “Salah satu target utama yang ingin kami dorong bersama adalah mewujudkan green shipyard, sehingga setiap produk utama yang dihasilkan PT PAL berasal dari proses produksi yang ramah lingkungan, efisien, dan berbasis inovasi".

Ia berharap transformasi menuju green shipyard tidak hanya meningkatkan daya saing industri perkapalan nasional, tetapi juga memperluas akses PT PAL ke pasar global. Menurutnya, tuntutan terhadap standar keberlanjutan yang semakin tinggi di pasar internasional menjadi peluang bagi industri nasional untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing komersial.

Pasar global semakin menuntut standar keberlanjutan. Karena itu, transformasi ini akan memperkuat kapasitas komersial PT PAL,” ujarnya.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Dr. Kaharuddin Djenod, M.Eng., menyambut baik komitmen BRIN dalam memperkuat ekosistem riset nasional untuk mendukung transformasi industri perkapalan.

Menurutnya kolaborasi dengan BRIN akan memperkuat kemampuan riset terapan, mempercepat penguasaan teknologi, dan mendukung transformasi PT PAL menuju halangan kapal modern yang lebih hijau, efisien, dan kompetitif. “Ini sejalan dengan arahan Presiden, sinergi antara industri, lembaga riset, dan perguruan tinggi akan menjadi kunci dalam memperkuat kemandirian industri perkapalan nasional” tegasnya.

Dalam pertemuan PT PAL dan BRIN juga membahas rencana implementasi kolaborasi pada riset terapan, pengembangan teknologi maritim, hilirisasi hasil penelitian, peningkatan kompetensi SDM, serta implementasi teknologi rendah emisi dan efisiensi energi sebagai bagian dari transformasi menuju green shipyard. Inisiatif tersebut sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di lingkungan PT PAL.

  👷  PAL  

Selasa, 21 Juli 2026

PT PAL dan BRIN perkuat teknologi hidrodinamika lewat kolaborasi riset

Direktur Teknologi dan Manajemen Risiko PT PAL Indonesia Briljan Gazalba dan Kepala Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN Teguh Muttaqie menandatangani Non-Disclosure Agreement (NDA) soal kolaborasi riset pengembangan teknologi hidrodinamika di Surabaya, Jumat (17/6/2026). (ANTARA/HO-PT PAL)

PT PAL Indonesia bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan teknologi hidrodinamika yang akan mendukung peningkatan kapabilitas industri perkapalan nasional melalui kolaborasi riset.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Non-Disclosure Agreement (NDA) atau Perjanjian Kerahasiaan sehingga menjadi dasar bagi PT PAL Indonesia dan BRIN untuk melakukan pertukaran informasi, pembahasan teknis, serta penjajakan berbagai program penelitian dan pengembangan yang membutuhkan perlindungan terhadap informasi strategis.

"Penguasaan teknologi merupakan kunci untuk memperkuat daya saing industri maritim nasional," kata Direktur Teknologi dan Manajemen Risiko PT PAL Indonesia Briljan Gazalba dalam keterangan di Surabaya, Sabtu.

Briljan mengatakan penguasaan teknologi hidrodinamika berperan penting dalam meningkatkan performa, efisiensi, dan keandalan platform maritim termasuk teknologi pemanfaatan bawah air.

Oleh sebab itu, kata dia, kolaborasi dengan BRIN menjadi langkah strategis untuk memperkuat penguasaan teknologi hidrodinamika dan sistem bawah air sekaligus mempercepat lahirnya inovasi yang meningkatkan daya saing industri nasional.

Selain itu, Briljan menuturkan kolaborasi antara PT PAL dan BRIN dapat mencerminkan implementasi Triple Helix yang berorientasi pada penciptaan inovasi berkelanjutan, peningkatan daya saing industri, serta penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional.

Sementara itu, Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN Dadan Moh Nurjaman menilai kolaborasi dengan PT PAL merupakan bagian dari upaya memperkuat pemanfaatan hasil riset nasional bagi kebutuhan industri strategis sekaligus mendukung terwujudnya kemandirian teknologi Indonesia.

"Sinergi dengan PT PAL diharapkan dapat mempercepat pengembangan teknologi maritim yang berdaya saing dan mendukung kemandirian bangsa,” kata Dadan.

  📝  antara 

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More