blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label ITB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ITB. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Oktober 2026

Bappenas dan Airbus Tingkatkan Kualitas SDM Industri Dirgantara

  Kerjasama dengan ITB Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy (kanan) dan Executive Vice President International Airbus Wouter van Wersch dalam agenda penandatanganan Nota Kesepahaman antara Airbus dengan Airnav Indonesia dan ITB di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (ANTARA/HO-Bappenas)

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy mengatakan ekosistem dirgantara Indonesia akan diperkuat dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Adapun strategi yang dilakukan ialah mengembangkan kompetensi, pendidikan dan penelitian, serta penguatan kapasitas teknologi dirgantara Indonesia, melalui kerja sama antara Bappenas dengan Airbus untuk memperkuat pengembangan kompetensi, pendidikan dan pelatihan teknis, penelitian bersama, serta eksplorasi pengembangan pusat riset di bidang dirgantara sebagai tindak lanjut Joint Declaration antara kedua belah pihak.

“Kemitraan kita dengan Airbus harus melangkah lebih jauh dari kepentingan komersial dan berkontribusi pada kemampuan teknologi, ketahanan industri, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Karena itu, kerja sama dengan ITB (Institusi Teknologi Bandung) harus mendukung pendidikan pascasarjana, pelatihan teknis yang intensif, dan penelitian bersama sehingga kita dapat memperkuat penguasaan teknologi Indonesia sekaligus membangun ekosistem dirgantara nasional yang lebih kuat,” ucapnya dalam agenda penandatanganan Nota Kesepahaman antara Airbus dengan Airnav Indonesia dan ITB, dari keterangan resmi, Jakarta, Jumat.

Kolaborasi Airbus–ITB juga diharapkan terhubung dengan agenda yang lebih luas, termasuk pengembangan kemampuan industri PT Dirgantara Indonesia, sertifikasi pesawat NC212, pengembangan N219, peningkatan kemampuan A400M, ekosistem maintenance, repair, and overhaul (MRO), serta pengembangan ekosistem dirgantara Kertajati.

Menteri Rachmat Pambudy menegaskan bahwa implementasi kerja sama perlu dilengkapi dengan rencana kerja, target terukur, institusi penanggung jawab, jadwal, serta kebutuhan sumber daya yang jelas.

“Kerja sama ini bukan hanya antara Indonesia dan Airbus, tetapi harus memperkuat keseluruhan ekosistem dirgantara Indonesia. Kita membutuhkan keterlibatan pemasok lokal, transfer teknologi, peningkatan kemampuan tenaga kerja, serta partisipasi Indonesia yang semakin besar dalam rantai pasok dirgantara global. Komitmen tersebut harus kita terjemahkan menjadi implementasi nyata yang sejalan dengan rencana pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045,” kata dia.

Executive Vice President International Airbus Wouter van Wersch menyatakan komitmen pihaknya untuk mengembangkan talenta lokal sebagai fondasi pertumbuhan industri dirgantara.

“Kami percaya Indonesia memiliki kemampuan dan talenta untuk melakukan hal tersebut. Dengan menggabungkan pengembangan industri, pembangunan talenta, dan pengembangan pesawat, kami tidak hanya menyediakan pesawat, tetapi juga membangun kemitraan strategis untuk jangka panjang,” ungkap Wouter.

Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN/Bappenas Vivi Yulaswati menambahkan bahwa kerja sama ini telah ditindaklanjuti hingga Juli 2026 melalui kelompok kerja lintas sektor dan diselaraskan dengan kebutuhan industri, ketersediaan sumber daya, serta peta jalan pengembangan ekosistem dirgantara nasional.

  🤝  antara  

Minggu, 31 Mei 2026

ITB dan BRIN Uji Coba Robot Bawah Air (ROV)

  Hasil Riset Multidisplin di Perairan Kepulauan Seribu Proses penurunan robot bawah air ke perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Tim penelitian dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaksanakan uji coba robot bawah air di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Kamis, 28 Mei 2026. Robot bawah air atau Remotely Operated Vehicle (ROV) ini merupakan produk dari penelitian bertajuk “DEEP-UNDER ROV: Development of Experimental and Exploratory Photogrammetry for Supporting Underwater Archaeological Studies Using Remotely Operated Vehicle” yang didanai oleh Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB sejak 2025 melalui Program Penelitian Dosen Muda.

Tim yang dipimpin Hilton Tnunay, Ph.D. dari Kelompok Keahlian/Keilmuan Teknik Komputer, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB ini terdiri atas anggota penelitian dari berbagai bidang ilmu, seperti Teknik Geodesi dan Geomatika, Teknik Mesin, hingga Arkeologi. Penelitian ini juga dilaksanakan melalui hubungan erat antara ITB dengan INSA Strasbourg, Prancis, serta HCU Hamburg, Jerman.

Pengembangan robot bawah air dilaksanakan sebagai bagian dari Tugas Akhir dalam bentuk Capstone Project yang dikerjakan oleh tiga mahasiswa Teknik Elektro tingkat sarjana, Ibrahim H. Mulyana, Riswandha Mashuri, dan Wafi A. Yasin sejak pertengahan tahun 2025, dan didukung oleh Matthew Troy Putra, S.T. selaku mahasiswa Teknik Elektro tingkat magister.

Robot bawah air ini didesain untuk dapat beroperasi hingga kedalaman sampai dengan 50 meter di bawah air serta melaksanakan tugas pemetaan objek di bawah air menggunakan teknik fotogrametri.

Terlepas dari berbagai batasan cuaca dan hambatan operasional, robot dapat berfungsi dengan baik hingga kedalaman sekitar 20 meter serta mendapatkan rekaman gambar di dasar perairan dengan kualitas yang baik.

Hilton Tnunay, Ph.D. beserta tim melaksanakan pre-flight check sebelum pengujian robot bawah air dilaksanakan.

Berbagai pengembangan lanjutan masih perlu dilaksanakan agar robot dapat melaksanakan pemetaan objek bawah air secara akurat di masa yang akan datang.

“Robot bawah air yang kami uji ke perairan Kepulauan Seribu kali ini merupakan hasil iterasi ketiga dari penelitian yang telah dilaksanakan sejak awal 2025. Banyak lesson learned yang tidak akan kami dapatkan jika tidak melakukan pengujian secara langsung di lapangan,” ujar Hilton.

“Pengujian masih kami batasi pada musim pancaroba untuk menghindari kondisi cuaca ekstrem. Bagaimanapun, penting untuk melaksanakan pengujian robot bawah air di laboratorium secara komprehensif untuk menguji kekuatan motor-motornya ketika harus melawan arus serta ketahanan struktur ketika gelombang datang,” ujar Gabriella Alodia, Ph.D. dari Teknik Geodesi dan Geomatika ITB yang juga merupakan anggota dari penelitian tersebut.

Pengujian lanjutan akan dilaksanakan pada pertengahan Oktober 2026 dengan target memetakan satu dari tiga bangkai kapal yang terdapat di perairan Kepulauan Seribu.

“Jika kita bisa melakukan pemetaan serta pemodelan objek arkeologi bawah air secara detail, kita tidak hanya dapat mengetahui kondisi objek tersebut untuk mendukung kebutuhan pariwisata, namun kita juga dapat melaksanakan penelitian terkait penyebab tenggelamnya obyek tersebut pada masanya. Dalam hal ini, kita dapat memprediksi apa yang menyebabkan kapal tersebut karam,” ujar Dr. Harry O. Sofian dari Pusat Riset Arkeometri BRIN.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi awal dari kolaborasi jangka panjang antara ITB dengan pihak-pihak terkait, utamanya dalam pengembangan teknologi observasi serta pemetaan bawah air.

 ⚓️  ITB  

Sabtu, 25 April 2026

TNI AL Pamerkan Teknologi Hidrografi di Monaco

  Garapan UI dan ITB Komandan Pushidrosal Laksamana Madya Budi Purwanto menjelaskan produk teknologi hidrografi unggulan Indonesia kepada delegasi asing dalam pameran IHO Assembly 2026 di Monaco. (Foto: Dok. Pushidrosal))

TNI AL melalui Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) hadir sebagai delegasi Indonesia dalam sidang 4th Session of the IHO Assembly 2026 di Monaco. Dalam forum internasional ini, Pushidrosal membawa produk teknologi hasil inovasi dalam negeri.

Komandan Pushidrosal Laksamana Madya Budi Purwanto memimpin langsung delegasi Indonesia di Auditorium Rainier III, Monaco, pada 19-23 April. Pertemuan ini merupakan forum pengambil keputusan tertinggi dalam International Hydrographic Organization (IHO) atau Organisasi Hidrografi Internasional.

 Inovasi HidroSDB35 dan Almanak Nautika

Dua produk unggulan yang menjadi fokus pameran adalah HidroSDB35 dan Almanak Nautika Indonesia. Teknologi ini merupakan hasil penelitian mandiri antara personel Pushidrosal dengan akademisi dari Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mendukung data pemetaan laut nasional.

Budi menjelaskan, kehadiran produk tersebut membuktikan kemampuan teknologi Indonesia di bidang hidro-oseanografi atau ilmu pemetaan laut.

“Produk ini mencerminkan kemandirian teknologi nasional. Hal ini menunjukkan kontribusi nyata Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan dunia,” ujar Budi, dikutip dari keterangan Dispenal, Rabu (22/4).

Ia menambahkan, keterlibatan para pakar domestik menjadi kunci dalam inovasi ini. “Penelitian ini merupakan kolaborasi dengan putra-putri terbaik bangsa untuk menghasilkan perangkat pendukung keselamatan pelayaran,” lanjutnya.

 Tentukan Kebijakan Strategis Maritim

Selain pameran teknis, delegasi Indonesia berperan aktif dalam merumuskan rencana strategis IHO periode 2027–2032. Forum ini membahas laporan kegiatan organisasi serta menetapkan anggaran tiga tahunan untuk kepentingan hidrografi global.

Partisipasi aktif ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kerja sama internasional sesuai instruksi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali, yang menekankan pentingnya peran Indonesia dalam mendukung keselamatan pelayaran dunia serta memperkuat kedaulatan maritim.

Melalui forum ini, TNI AL memastikan pemanfaatan informasi hidrospasial atau data keruangan laut dapat terintegrasi secara modern. Langkah tersebut bertujuan untuk menjamin keamanan navigasi kapal-kapal yang melintasi perairan internasional. (at)

 ⚓️ 
IDM  

Jumat, 10 Oktober 2025

Drone Tak Biasa Buatan ITB

 Drone insspeksi 
https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2025/10/09/drone-buatan-itb-1759985421535_169.jpeg?w=700&q=90(Detik)

I
nstitut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan drone dengan fungsi lain dari drone pada umumnya. Drone ini tak hanya dapat merekam suasana dari atas udara untuk kebutuhan fotografi, videografi, film dokumenter, hingga pengawasan atau pemetaan dan survei wilayah.

Drone yang dikembangkan Dr. Ir. Yazdi I. Jenie dari ZEKE03 Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB memiliki fungsi melakukan inspeksi ruang terbatas yang tidak dapat dijangkau atau sulit dijangkau manusia.

Jika umumnya drone memiliki baling-baling, kamera dan terbang ke atas langit, drone ini memiliki roda yang berfungsi untuk berjalan di atas bangunan atau berjalan secara vertikal dari bawah ke atas gedung. Selain itu, drone ini bisa berjalan secara horizontal untuk menyusuri pipa atau gorong-gorong.

"Ini sebetulnya kalau kita namakan itu sistem inspeksi ruang terbatas berbasis mikro drone," kata Dr. Ir. Yazdi I. Jenie dijumpai dalam kegiatan Innovibes Day Vol.1 di ITB Innovation Park, Summarecon, Kota Bandung, Kamis (9/10/2025).

Yazdi mengungkapkan, kadang-kadang setiap perusahaan atau lainnya memiliki kebutuhan untuk inspeksi, misalnya di dalam perpipaan, gorong-gorong, ruang bawah tanah, atau dalam tanki. Menurutnya, pemeriksaan dengan manual itu biasanya melibatkan orang banyak, naik turun tangga, memanjat dan lainnya.

"Kita mikir bagaimana kalau kita bisa memanfaatkan drone. Kan drone dimanfaatkan di mana-mana. Tetapi drone untuk masuk ke ruang-ruangan terbatas tersebut ternyata nggak populer. Cuma satu perusahaan yang punya profesional drone inspeksi namanya Flyability Elios dan dia memonopoli pasar drone inspeksi ruang terbatas tersebut," ungkapnya.

Yazdi mengisahkan, tidak mudah mengembangkan drone inspeksi ini. Tantangannya tidak seperti drone-drone populer, karena drone ini harus terbang tanpa GPS, harus terbang di ruang yang banyak angin, dan harus memiliki pelindung.

"Nah, kita usulkan, kita bikin sendiri, tapi guard-nya itu guard yang berbeda. Ini adalah contoh pertama, kita bikin yang kecil-kecilan dulu karena kita ingin tahu drone itu kalau terus dikasih roda seperti apa. Ini bisa manjat, bisa langsung manjat ke atas menempel ya ke tembok. Terbang biasa bisa dan bisa nempel di bawah. Bisa nempel di bawah ini untuk inspeksi ruang-ruang terbatas," jelasnya.

Disinggung mengapa ITB membuat drone inspeksi ini, Yazdi menyebut, drone ini dibuat karena permintaan dari industri. Dalam pengembangannya pihaknya juga bekerjasama dengan Terra Drone Indonesia, perusahaan operator drone terbesar di Indonesia yang memiliki banyak klien untuk melakukan inspeksi.

Yazdi menyebut, drone ini diciptakan pada tahun 2022 dengan ukuran kecil, lalu dikembangkan dengan ukuran lebih besar di tahun 2023 dan 2024. Meski belum dikomersialisasikan, dia menuturkan jika drone inspeksi ini sudah dilakukan demonstrasi di beberapa tempat.

"Kita masih belum sampai terjual atau dipakai secara komersil. Kita demonstrasikan di dalam Sabuga, karena kita ingin ITB juga tahu kalau kita punya drone inspeksi dan beberapa tempat lainnya," tuturnya.

"Ke depannya sebetulnya kita mengincar komersialisasi. Tapi ini masalahnya ada di baterai sekarang. Karena kita cuma bisa terbang mungkin sampai 8 menit seperti itu. Pihak mitra kita mintanya sampai 12 menit. Jadi kita sedang kembangkan lebih besar lagi," tambahnya.

Menurut Yazdi, pengembangan drone inspeksi ini mendapatkan dukungan dari Kemendikti Saintek. Target tahun ini, Yazdi menyebut ingin melakukan komersialisasi. "Tahun ini kita mengincar komersialisasi. Jadi proyek kita ada satu bagian untuk membahas bisnis modelnya sama mitra. Kemudian mitra sudah komitmen juga akan mulai menggunakan drone inspeksi ini," tambahnya. (wip/orb)

  🚁
detik  

Sabtu, 16 Agustus 2025

PT SAS Aero Sishan Kembangkan Alutsista Terintegrasi

  Kolaborasi Tripe Helix Presentasi Direktur PT SAS Aero Sishan pada KSTI 2025 di Bandung (ist)

Direktur PT SAS Aero Sishan, Roland Wala hadir sebagai pembicara di Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 yang berlangsung pada 7–9 Agustus 2025 di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB.

Dalam sesi startup pitch bertema “Sistem Pertahanan Terintegrasi (Integrated Defense Systems)”, Roland memaparkan inovasi terbaru PT SAS dalam mewujudkan konsep pertahanan terintegrasi.

Pada acara Konversi Sains, Teknologi & Industri Indonesia (KSTI) ITB 2025, PT SAS Aero Sishan menampilkan infografis produk utama dari PT SAS Aero Sishan yang sedang dalam tahap pengembangan & prototipe.

Pada sesi di acara KSTI 2025, direktur SAS memaparkan proyek riset & pengembangan alutsista terbarunya melalui kolaborasi model Tripe Helix yang melibatkan berbagai mitra riset dari Industri, Institut, Universitas, Balitbang Kemhan & TNI yang dikembangkan secara berkala, dengan rentang waktu 2025-2027.

  Beberapa produk & proyek PT SAS di antaranya : 
💥 Kendaraan Launcher Missile Rhan 450

PT SAS berkontribusi dalam konsorsium roket nasional untuk pengembangan roket Rhan-450.

Dalam presentasi terlihat image kendaraan peluncur roket Rhan-450. Dari media militer, diyakini kendaraan peluncur roket ini menggunakan sasis truk Kamaz.

💥 Kendaraan MLRS Rhan 122B - DS-240 Arjuna (TKDN 66%)

PT SAS berkontribusi juga dalam pengembangan roket balistik Rhan-122B. Bentuk prototipe kendaraan peluncur ini beda dari yang biasa di tampilkan media terdahulu. Nampak sepintas sejenis dengan kendaraan peluncur roket marinir.

Dilengkapi sistem autoloader dan dikendalikan melalui komputer balistik, menjamin akurasi tembakan yang tinggi di medan pertempuran.

Keterlibatan ini mencerminkan peran PT SAS sebagai mitra teknologi dalam pengembangan sistem persenjataan dalam negeri, khususnya pada aspek sistem peluncur.

💥 Kendaraan Mortar System Kal. 81 mm & 120 mm
(TKDN 77%)

Dari beberapa produk yang disebut dalam kemitraan strategis, salah satunya adalah kendaraan pengangkut mortir “Bajra”, yang sepintas merupakan mortir swagerak (self propelled) yang dipasang pada platform kendaraan 4×4.

Kendaraan ini tidak hanya membawa amunisi, melainkan juga dilengkapi peluncur mortir mekatronik kaliber 81 atau 120 mm di bagian belakang.

💥 Weaponized Drone (TKDN 55%)

Uji Demo Weaponied Drone Tahap ll-ll TA. 2024 dilaksanakan di Pusdiklatpasus, Batujajar, Bandung, Jawa Barat. (17/10/2024).

Drone ini dikendalikan oleh dua operator, yaitu operator drone dan operator senjata, yang bekerja sama untuk melaksanakan misi secara efektif.

Operator Drone bertanggung jawab untuk mengendalikan pergerakan dan navigasi drone. Mereka memantau lingkungan sekitar dan memastikan drone dapat beroperasi dengan aman, menghindari rintangan dan mencapai lokasi target.

Sedangan operator Senjata bertugas engendalikan sistem senjata dan bertanggung jawab untuk menilai target dan melakukan tembakan. Mereka menggunakan perangkat lunak canggih untuk menganalisis data dan memastikan bahwa setiap tembakan dilakukan dengan akurat dan efektif.

💥 Kendaraan Taktis Full Tracked


Kendaraan taktis ini dikembangkan bersama Balitbang Kemhan pada tahun ajaran 2025 menggunakan track system.

Sebagai kendaran taktis multiperan, rantis ini dikembangkan dengan beberapa varian seperti Launcher Rocket kaliber 70 mm, Surveilance, Recovery, Angkut Personil, & Logistik.

💥 Kendaraan Launcher Rocket kal. 70 mm

Sebagai sistem peluncur roket berpemandu menggunakan roket kaliber 70 mm, dikembangkan bersama PT Dirgantara Indonesia.

Sistem ini dirancang untuk meningkatkan akurasi dan daya tembak dalam menghadapi target yang bergerak.

Dengan pemandu yang presisi, sistem ini memberikan tembakan tepat sasaran dari udara maupun darat dalam pertempuran.

💥 Proyek Modernisasi Meriam Cannon Arhanud TNI AD

Program pengembangan tahun ajaran 2025-2027, Prototipe modernisasi meriam kaliber kecil merupakan kolaborasi Triple Helix.

Program ini bertujuan menggantikan alutsista yang rusak dengan sistem full elektrik penggerak mpdern. Dengan menambahkan kemampuan seperti Weapon Control System dan Optronic Camera.

  💥  Garuda MiLiter  

Jumat, 15 Agustus 2025

PT Pindad Tandatangani MOU & Tampilkan Produk Inovatif

  Dalam KSTI 2025 PT Pindad Tandatangani MOU & Tampilkan Produk Inovatif (Pindad)

PT Pindad menjalin kerja sama strategis pengembangan bahan bakar nabati dengan ITB, Pertamina, dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui penandatanganan MoU pada Kamis, 7 Agustus 2025 di Sabuga ITB, Bandung.

Penandatanganan ini merupakan bagian dari agenda Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 yang dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto yang didampingi 7 menteri kabinet, dihadiri para Direktur Utama BUMN, tokoh akademis, serta dua penerima nobel yang hadir sebagai pembicara utama.

Dalam siaran pers resmi Kemdiktisaintek, Presiden RI menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8% dalam lima tahun ke depan, melalui strategi industrialisasi nasional yang bertumpu pada hilirisasi, penguasaan teknologi, dan penguatan sumber daya manusia (SDM). Visi ini sejalan dengan Asta Cita ke-4 yaitu “Memperkuat pembangunan SDM, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas” dan Asta Cita ke-5, yaitu “Melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri”.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyoroti urgensi penguatan kapasitas teknologi dan talenta nasional sebagai fondasi transformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economy). Dengan potensi sumber daya alam strategis, Indonesia memiliki peluang besar untuk melakukan hilirisasi dan lompatan industrialisasi bernilai tambah tinggi. Transformasi ini diyakini sebagai langkah kunci memperkuat daya saing bangsa dan mewujudkan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

“Tentunya sangat dibutuhkan pengembangan sains, penguasaan sains, melahirkan SDM-SDM unggul, mampu mengelola maupun menghasilkan hasil-hasil riset dan inovasi yang berkontribusi untuk pengembangan berbagai industri di Indonesia. Jadi tadi Pak Presiden menyampaikan juga bagaimana tantangan kita mengelola industri kendaraan bermotor, bagaimana kita mampu mengembangkan industri elektronika dan semikonduktor. Juga disampaikan juga bagaimana mengoptimalkan pengelolaan sawit.” ucap Mendiktisaintek.

PANDU TEV (Tactical Electric Vehicle) produksi Pindad (Pindad)

PT Pindad turut menampilkan berbagai produk alat peralatan pertahanan keamanan (alpalhankam) unggulan dalam ajang pameran KSTI 2025 yang berlangsung hingga 9 Agustus 2025.

PT Pindad menghadirkan produk kendaraan inovatif, PANDU TEV (Tactical Electric Vehicle) yang diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Indo Defence 2025.

Kendaraan ini menggunakan teknologi NMC Battery dan ideal untuk mendukung kebutuhan operasi militer senyap, mobilisasi personel dan menunjang operasional TNI dengan kemampuan manuver yang gesit di berbagai medan.

PT Pindad juga menghadirkan berbagai produk pertahanan lainnya, meliputi senjata hasil pengembangan terbaru yaitu SS Amphibious dan SPS-1.

SS Amphibious adalah senapan serbu kaliber 5,56 x 45 mm yang dirancang untuk bisa menembak di darat dengan jarak efektif 200 meter dan mampu menembak di bawah air dengan jarak efektif 20 meter.

Sedangkan SPS-1 merupakan solusi pertahanan anti drone pertama di Indonesia, dengan 2 metode, soft kill dan hard kill.

Metode soft kill dengan memblokir akses sinyal drone target dan metode hard kill adalah menghancurkan drone target dengan cara ditembak menggunakan amunisi kaliber 5,56 x 45 mm.

KSTI 2025 adalah forum nasional dan internasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan 4 kegiatan utama; Arahan Presiden kepada Ilmuwan Indonesia, sesi diskusi dengan Nobel Laureate & Prominent Scholars, Business Matching serta pameran hasil riset & industri. Mengangkat tema “Sains dan Teknologi untuk Kemandirian dan Daya Saing Bangsa”, konvensi ini mempertemukan ribuan ilmuwan, teknokrat, pelaku industri dan pengambil kebijakan untuk mendorong integrasi riset, pendidikan tinggi, dan industri dalam membangun ekonomi berbasis sains dan teknologi. Konvensi ini bertujuan sebagai forum strategis untuk merumuskan peta jalan riset dan inovasi di 8 sektor strategis yang menjadi fokus utama, meliputi energi, pertahanan, digitalisasi (kecerdasan buatan dan semikonduktor), hilirisasi dan industrialisasi, Kesehatan, pangan, maritim, material, dan manufaktur maju.

Pada sesi hari pertama KSTI, Direktur Utama PT Pindad, Sigit P. Santosa menjadi pembicara KSTI 2025 dalam panel diskusi jajaran Direktur Utama BUMN. Sementara itu pada hari ke-2, Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma menjadi narasumber di fokus bidang pertahanan sesi manufaktur pertahanan dalam negeri.

Melalui partisipasi di KSTI 2025, PT Pindad menegaskan posisi sebagai industri pertahanan nasional berbasis teknologi dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan mengintegrasikan riset, teknologi dan kebutuhan industri, konvensi ini menjadi langkah nyata menuju Indonesia Emas 2045 yang berdaulat secara teknologi dan berdaya saing global.

  💫 
Pindad  

Rabu, 13 Agustus 2025

ITB Pamer Pabrik Katalis Merah Putih di KSTI 2025

  Pertama di Indonesia Pabrik Katalis Merah Putih Resmi Berproduksi, Kapasitas Hingga 800 Ton Per Tahun. (Kontan)

Institut Teknologi Bandung (ITB) pamerkan hasil inovasi periset di Konvensi Sains dan Teknologi (KSTI) 2025, salah satunya pabrik katalis pertama di Indonesia.

Menurut Rektor ITB Prof Tatacipta Dirgantara, pihaknya sangat mendukung riset di bidang katalis hingga kelapa sawit. ITB pun telah menggandeng beberapa pihak untuk mengembangkan inovasi tersebut.

"Tadi kami menandatangani nota kesepahaman antara ITB, Badan Pengelola Dana Perkebunan dengan Pertamina dan PT Pindad untuk menghilirkan produk-produk ITB terutama yang terkait dengan bensin sawit, katalis agar dapat mendukung ketahanan energi nasional," ujarnya di Gedung Sabuga ITB pada Kamis (7/8/2025).

Dalam pameran KSTI, ITB menampilkan informasi mengenai pembangunan pabrik katalis dan hasil produknya. Rancangan tersebut kini dinamakan Pabrik Katalis Merah Putih.

"Tahun 2020 akhirnya didirikan PT Katalis Energi Indonesia di Indonesia. Kemudian di tahun 2022 akhir hingga tahun 2023 itu sudah mulai produksi PT KSI," tutur Megy sebagai penanggung jawab pameran Pabrik Katalis Merah Putih saat ditemui di booth pameran milik ITB.

Perempuan yang juga mahasiswa S2 sekaligus asisten laboratorium ITB tersebut mengatakan Pabrik Katalis Merah Putih didirikan dengan berkolaborasi dengan PT Pertamina Lubricants dan PT Pupuk Kujang Cikampek.

"Jadi kita sama-sama kerja sama, berkolaborasi, dengan satu visi, satu tujuan, untuk mengembangkan Pabrik Katalis Merah Putih ini," katanya.

  Fungsi Pabrik Katalis Merah Putih 
Megy menjelaskan pabrik dibangun untuk memenuhi kebutuhan katalis dalam negeri. Terutama untuk industri kimia, pengilangan minyak, dan industri energi.

Produksi katalis ini utamanya untuk bahan bakar hijau (green fuel). Pabrik tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan impor katalis, memenuhi kebutuhan dalam negeri, serta mendukung energi baru terbarukan (EBT).

Katalis sendiri merupakan zat yang mampu mempercepat reaksi kimia. Katalis juga sekaligus mengarahkan jalannya reaksi kimia dalam proses mengubah bahan baku menjadi produk yang diinginkan.

"Katalis itu sebenarnya fungsinya mempercepat reaksi, tapi tidak ikut mereaksi. Tapi dia juga mengarahkan, kita ingin produk yang seperti apa sih, itulah fungsinya katalis," kata Megi.

Megi memberikan analogi, misalnya biasanya kita memasak mie dalam waktu 5 menit. Ternyata ada suatu alat teknologi (katalis) yang bisa memasak mie selama waktu 2 menit.

Adapun kapasitas produksi pabrik ini bisa mencapai 800 ton per tahun. Dengan adanya pabrik katalis buatan ilmuwan negeri ini, diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor katalis dan meningkatkan kemandirian energi nasional.

  Katalis Merah Putih Ramah Lingkungan 
Selain fungsinya yang bisa mempercepat produksi bahan bakar, Pabrik Katalis Merah Putih ramah lingkungan. Megy menerangkan hal itu bisa terjadi karena pabrik katalis memanfaatkan pengelolaan sawit.

"Jadi kita bener-bener jadi dari energi terbarukan, jadi karena dari tanaman sawit, artinya dari biomasa, harapannya tuh kita lebih ramah lingkungan," kata Megy.

"Karena sumber energi fosil ternyata kan banyak karbon, banyak isu-isu lingkungan, harapannya dengan adanya kegunaan sawit, di satu sisi isu lingkungannya lebih ramah lingkungan, kita mempulihdayakan petani-petani lokal kami dari perkebunan sawit," sambungnya.

Pabrik Katalis Merah Putih juga merupakan jawaban dari semakin berkurangnya minyak fosil pada 2030 ke atas. Sehingga peneliti dapat mulai mengembangkan katalis semodel ini.

Rektor ITB mengatakan, selain Pabrik Katalis Merah Putih, produk inovasi ITB lainnya telah banyak yang dilirik industri. Ia berharap ajang KSTI ini semakin membuka jalan kerja sama dengan perusahaan besar.

"Selain itu selama pameran ini juga banyak dipamerkan produk-produk riset dari ITB dan dari universitas lain yang sebagian sudah siap untuk dihilirkan menjadi industri," kata Tatacipta.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) dalam kesempatan yang sama turut mendorong ITB untuk memaksimalkan pemanfaatan inovasi yang dilahirkan. Ia berharap produk riset di Indonesia bisa mencapai skala besar.

"Nantinya akan ditujukan atau dihubungkan dengan industri-industri, harapannya adalah produk-produk riset itu berlanjut dengan skala yang lebih besar, sehingga betul-betul muncul industri-industri baru berbasis sains dan teknologi," ujar Brian. (cyu/nah)

  👷 
detik  

Drone Tempur Strategis Pertama Indonesia

🛩  Elang Hitam UAV MALE UAV Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)

Indonesia memasuki jajaran elit pengembang drone MALE dengan keberhasilan uji terbang UAV Elang Hitam buatan dalam negeri—yang dirancang untuk terbang selama 24 jam di ketinggian 20.000 kaki dan membentuk masa depan kekuatan udara regional.

Elang Hitam (Elang Hitam) adalah wahana udara nirawak (UAV) Medium Altitude Long Endurance (MALE) pertama yang dikembangkan di dalam negeri, dirancang untuk menyediakan solusi lokal bagi negara untuk pengawasan strategis, pengintaian, dan operasi drone yang berpotensi bersenjata.

  Pengantar Elang Hitam 
Elang Hitam merupakan lompatan teknologi besar bagi sektor kedirgantaraan dan pertahanan Indonesia.

Diklasifikasikan sebagai UAV kelas MALE, drone ini dirancang untuk terbang di ketinggian hingga 20.000 kaki dan dapat tetap mengudara hingga 24 jam—menempatkannya di kelas operasional yang sama dengan drone internasional canggih seperti MQ-9 Reaper (AS), Bayraktar Akinci (Turki), dan Heron TP (Israel).

Drone ini dirancang untuk mendukung berbagai misi jangka panjang, termasuk pengawasan perbatasan, patroli maritim, pengumpulan intelijen, akuisisi target, dan penilaian kerusakan pertempuran, dengan potensi peningkatan di masa mendatang untuk kemampuan serang menggunakan amunisi berpemandu presisi.

 Siapa yang Membangun Elang Hitam? 
Drone Elang Hitam merupakan hasil kolaborasi nasional multi-lembaga yang dipelopori oleh PT Dirgantara Indonesia (PT Dirgantara Indonesia).

Proyek strategis ini didukung oleh konsorsium pengembangan drone domestik yang meliputi:

👷​ Kementerian Pertahanan Indonesia
👷​ TNI-AU
👷​ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
👷​ Institut Teknologi Bandung (ITB)

Desain, rekayasa, dan integrasi sistem Elang Hitam sepenuhnya dipimpin oleh para insinyur dan institusi Indonesia, menjadikannya tonggak penting dalam kemandirian teknologi nasional.

 Fitur Teknis Utama 
UAV Elang Hitam menggabungkan beberapa subsistem canggih, termasuk:

🛩 Sistem Kontrol Penerbangan Otomatis: Memungkinkan lepas landas, terbang, dan mendarat secara otonom.
🛩 Sistem Komunikasi Jarak Jauh: Memungkinkan komando dan kendali waktu nyata dari stasiun darat dalam jarak yang sangat jauh.
🛩 Desain Arsitektur Terbuka: Mendukung peningkatan modular, interoperabilitas sistem, dan integrasi muatan dan sensor baru.
🛩 Daya Tahan 24 Jam: Cocok untuk misi jangka panjang di darat dan laut.
🛩 Ketinggian Langit-Langit: Hingga 20.000 kaki, memungkinkan pengintaian di ketinggian tinggi sambil tetap berada di luar jangkauan sebagian besar ancaman berbasis darat.

Fitur-fitur ini menjadikan Elang Hitam sebagai platform drone MALE yang kredibel dengan kemampuan strategis yang selaras dengan persyaratan operasional Angkatan Udara Indonesia.

 Di Mana Diuji? 
Uji terbang pertama Elang Hitam yang berhasil dilakukan pada 28 Juli di Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati, Kabupaten Majalengka.

Uji coba ini menandai titik validasi penting bagi program ini, yang menunjukkan kelaikan udara pesawat, kemampuan terbang otonom, dan integrasi sistem—yang semuanya penting untuk sertifikasi dan penerapan di masa mendatang.

 Mengapa Elang Hitam Penting 
Menurut Direktur Pemasaran, Teknologi, dan Pengembangan PT DI, Mohammad Arif Faisal, uji terbang ini lebih dari sekadar tonggak teknis—ini merupakan deklarasi kesiapan Indonesia untuk memproduksi drone strategisnya sendiri.

“Ini bukan sekadar uji terbang,” ujar Arif.

“Ini bukti bahwa Indonesia kini mampu memproduksi UAV strategis menggunakan teknologi dalam negeri.”

Seiring negara-negara di Indo-Pasifik menghadapi ancaman keamanan yang terus berkembang dan mengadopsi doktrin kekuatan udara baru, Elang Hitam memposisikan Indonesia sebagai inovator UAV regional, yang mampu mengoperasikan drone dalam negeri alih-alih bergantung pada impor yang mahal.

Hal ini juga mencerminkan strategi nasional yang lebih luas untuk mengurangi ketergantungan pada sistem militer asing dan memperkuat kemandirian dalam manufaktur pertahanan.

  Apa Langkah Selanjutnya untuk Elang Hitam? 
Elang Hitam akan menjalani uji terbang lanjutan dan proses sertifikasi yang ketat untuk memvalidasi rangka pesawat, avionik, tautan data, dan sistem kendalinya.

Setelah menyelesaikan fase ini, platform tersebut akan memasuki tahap produksi massal dan layanan operasional di Angkatan Bersenjata Indonesia.

Ke depannya, Indonesia mungkin akan menjajaki varian bersenjata Elang Hitam, yang memposisikannya tidak hanya sebagai alat pengintaian tetapi juga sebagai UCAV (unmanned combat aerial vehicle) berkemampuan tempur untuk misi serangan presisi.

Dengan meningkatnya minat regional terhadap drone MALE yang terjangkau, keberhasilan produksi bahkan dapat membuat Elang Hitam ditawarkan untuk ekspor, terutama ke pasar Asia Tenggara dan Afrika.

Drone Elang Hitam merupakan langkah awal Indonesia ke arena UAV strategis, yang menandakan ambisi bangsa untuk menjadi pemimpin regional dalam sistem tak berawak dan produsen platform kedirgantaraan canggih yang berdaulat.

Keberhasilan pengembangan dan uji terbangnya menandai babak baru dalam kemampuan pertahanan Indonesia—yang ditentukan oleh inovasi dalam negeri, otonomi strategis, dan rekayasa kedirgantaraan yang berwawasan ke depan.

Saat peperangan pesawat tak berawak terus mendefinisikan ulang pertempuran modern, Elang Hitam siap untuk terbang.

 Tren Regional & Konteks Strategis 
Di seluruh Asia Tenggara, hanya Indonesia yang berhasil meluncurkan program pengembangan UAV MALE sejati, dengan penerbangan Elang Hitam menandai tonggak penting.

Negara-negara lain masih menggunakan ukuran UAV taktis atau mengimpor sistem MALE asing. Misalnya, Malaysia membeli drone Anka-S Turki untuk melengkapi pengawasan maritim di Laut Cina Selatan.

Pergerakan menuju program UAV lokal didorong oleh:

  💥 Keharusan keamanan nasional dan keinginan untuk berpatroli di zona maritim yang luas.
  💥 Upaya untuk mengurangi ketergantungan pengadaan asing.
  💥 Kemitraan strategis, seperti perjanjian produksi bersama Indonesia-Turki, yang mendukung transfer teknologi dan industrialisasi pertahanan (Wikipedia)

Negara-negara dengan lembaga litbang akademis sedang mengalami kemajuan di bidang UAV kecil, tetapi peningkatan skala ke sistem kelas MALE membutuhkan kapabilitas industri yang luas, pengembangan avionik, integrasi sistem misi, sertifikasi, dan infrastruktur manufaktur.

 Prospek 
Indonesia memimpin Asia Tenggara dalam kapabilitas drone MALE.

Malaysia dan Thailand masih sangat bergantung pada impor atau memproduksi drone taktis alih-alih platform kelas MALE. Jika Elang Hitam berhasil melalui sertifikasi dan memasuki tahap produksi, Indonesia berpotensi menjadi eksportir UAV MALE pertama di Asia Tenggara, yang akan membantu mempercepat otonomi pertahanan regional.

Lanskap UAV Asia Tenggara sedang berada di titik balik—program drone MALE lokal masih jarang, tetapi keberhasilan Indonesia dengan Elang Hitam dapat membuka jalan bagi upaya pengembangan drone lokal yang lebih mendalam dalam dekade mendatang.

  🛩
DSA  

Jumat, 08 Agustus 2025

PT SAS dan ITB Kembangkan Sejumlah Alat Pertahanan dan Sistem Persenjataan Dalam Negeri

  Termasuk “Bajra” ransus peluncur mortir mekatronik “Bajra” kendaraan peluncur mortir mekatronik (ist)

Perusahaan pertahanan swasta PT SAS Aero Sishan menjalin kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengembangkan sejumlah alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam) atau sistem persenjataan dalam negeri.

Kerja sama pengembangan alpalhankam antara lain mencakup sistem kendaraan pengangkut mortir Bajra, sistem dukungan tempur berbasis Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) yang dipersenjatai (weaponized drone/combatan drone), sistem roket kendali (Folded Fin Aerial Rocket) 70 mm dan 122 mm, serta sistem senjata pertahanan berbasis kecerdasan buatan.

Penandatangan MoU dilaksanakan pada 31 Juli 2025 lalu oleh Direktur PT SAS Roland Wala dan Direktur Kawasan Sains dan Teknologi Institut Teknologi Bandung (DKST-ITB) Ir. R. Sugeng Joko Sarwono,M.T., Ph.D.

Dikatakan bahwa kerja sama ini mulai dirintis sejak 2024 dan selama lima tahun ke depan PT SAS dan ITB berkomitmen mengerahkan segala sumber daya untuk riset dan pengembangan alpalhankam sesuai kesepakatan.

Melalui kerja sama ini diharapkan dapat membantu program hilirisasi yang sedang dicanangkan oleh pemerintah.

“Kami percaya bahwa kolaborasi dengan institusi akademik seperti ITB adalah langkah strategis untuk memperkuat ekosistem inovasi nasional, khususnya di sektor strategis. Kemitraan ini bukan hanya soal transfer teknologi, tapi juga tentang membangun kemandirian melalui riset dan pengembangan bersama, serta menyiapkan talenta unggul yang akan menjadi tulang punggung industri pertahanan Indonesia di masa depan,” ujar Rasyid Ridha, Direktur Utama PT SAS Aero Sishan.

Sementara itu, Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi (WRRI) mengatakan ITB Innovation Park Bandung Technopolis yang merupakan bagian dari DKST-ITB, adalah bagian dari program pemerintah yang bertujuan menjembatani akademisi dan industri. Kawasan ini dirancang sebagai ekosistem industri berbagai perusahaan dari bermacam bidang.

“SAS Aero Sishan menjadi perusahaan nasional pertama yang menandatangani MoU dan PKS dengan ITB di ITB Innovation Park Bandung Technopolis, Summarecon Bandung,” ujarnya.

Penandatanganan kerja sama kedua belah pihak disaksikan juga oleh Komandan Kodiklat TNI AD Letjen TNI Mohamad Hasan, Direktur Pendidikan Kodiklatad Brigjen TNI Iwan Rosandriyanto dan pejabat lainnya.

Sebelumnya, PT SAS telah terlibat aktif dalam sejumlah proyek strategis bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan RI.

Kerja sama yang dilaksanakan antara lain pengembangan rocket guided launcher 70 mm.

Selain itu, PT SAS juga berkontribusi dalam Konsorsium Roket Nasional untuk pengembangan roket balistik RHan-122B. Keterlibatan ini mencerminkan peran PT SAS sebagai mitra teknologi dalam pengembangan sistem persenjataan dalam negeri, khususnya pada aspek sistem peluncur. (RNS)

 💥 
Airspace Review  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More