blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label UUV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UUV. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2026

Indonesia Menjadi 10 Negara Pelopor Pembuat Kapal Selam Tanpa Awak

  KSOT hasil rancangan & produk PT  PAL KSOT-001 dalam ujicoba di Laut (Sekpres)

Perang bawah laut memasuki babak baru. Kapal selam tidak lagi selalu membutuhkan awak manusia untuk menjalankan misi. Sejumlah negara kini mengembangkan Unmanned Underwater Vehicle (UUV), Autonomous Underwater Vehicle (AUV) hingga Extra-Large Uncrewed Underwater Vehicle (XLUUV) yang mampu beroperasi secara mandiri dalam waktu lama.

Teknologi tersebut dikembangkan untuk berbagai keperluan, mulai dari pengintaian, pemetaan dasar laut, perang antikapal selam, perlindungan infrastruktur bawah laut hingga misi serang.

Perkembangan paling menarik terjadi pada kendaraan berukuran besar yang bentuk dan kemampuan operasinya semakin menyerupai kapal selam mini. Beberapa di antaranya dirancang memiliki ruang muatan modular yang dapat digunakan untuk berbagai sensor maupun sistem misi.

Indonesia juga mulai memasuki bidang ini melalui Kapal Selam Otonom (KSOT) yang dikembangkan PT PAL Indonesia. Pada Oktober 2025, PT PAL untuk pertama kalinya melakukan uji penembakan torpedo dari KSOT di perairan Koarmada II, Surabaya. PT PAL menyebut pengujian tersebut sebagai bagian dari penguasaan teknologi pertahanan bawah laut nasional.

 Kapal Selam Otonom (KSOT)

Infogradis KSOT PAL (PAL)
Indonesia menjadi salah satu perkembangan paling menarik dalam perlombaan teknologi ini.

PT PAL Indonesia mengembangkan Kapal Selam Otonom (KSOT) untuk memenuhi kebutuhan pertahanan bawah laut nasional.

Pada Indo Defence 2025, PT PAL mengungkap desain KSOT dengan panjang sekitar 15 meter, lebar 2,2 meter dan bobot sekitar 37 ton saat menyelam.

PT PAL menjelaskan KSOT dirancang dalam beberapa konfigurasi, antara lain surveillance, one-way attack dan varian torpedo. Varian torpedo dirancang membawa hingga dua torpedo berat menurut paparan perusahaan pada 2025.

Perkembangan paling penting terjadi pada 30 Oktober 2025.

PT PAL dan TNI AL melakukan uji penembakan torpedo dari KSOT di perairan Koarmada II Surabaya. PT PAL menyatakan pengujian tersebut berhasil dan menjadi bagian dari penguasaan teknologi bawah laut nasional.

Naval News melaporkan pengujian tersebut menggunakan torpedo ringan yang diluncurkan dari tabung eksternal KSOT.

Perkembangan terbaru yang patut dicatat adalah PT PAL kemudian mengonfirmasi kepada Janes bahwa perusahaan telah memperoleh kontrak dari Kementerian Pertahanan untuk KSOT, meskipun jumlah unit tidak dipublikasikan. Menurut keterangan Dirut PT PAL Kaharuddin Djenod, varian yang dipesan akan berukuran lebih besar daripada prototipe dan direncanakan membawa delapan torpedo ringan. Rincian lebih lanjut dijadwalkan diungkap pada Oktober 2026.

Jika terealisasi, perkembangan ini akan membawa KSOT dari tahap demonstrator menuju program produksi dan evaluasi operasional.

Namun, penting untuk menyebut Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang mengembangkan kemampuan UUV bersenjata, bukan mengklaim sebagai negara pertama atau satu-satunya pelopor dunia.

Status: prototipe telah diuji; kontrak pengadaan telah dikonfirmasi PT PAL; pengembangan berlanjut.

   👷  Indonesia Inside  

Kamis, 15 Januari 2026

Indonesia Memasuki Era Teknologi Bawah Air

Fregat Merah Putih dan KSOT (kapal selam otonom tempur) (FMI fb)

Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 6 juta km persegi wilayah laut dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang membentang di jantung jalur perdagangan dunia.

Dalam lanskap strategis seperti ini, kekuatan bawah air bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu daya gentar, kedaulatan, dan kendali laut, terutama di choke points utama Nusantara.

Kita, kini memasuki era baru teknologi bawah air. Pertanyaannya bukan lagi perlu atau tidak, melainkan bagaimana memilih kombinasi yang paling tepat.

Setidaknya ada tiga pilar kekuatan bawah air.

Pertama, kapal selam otonom tanpa awak (KSOT). Inovasi ini dikembangkan industri nasional lewat PT PAL Indonesia. KSOT menawarkan keunggulan persistent surveillance, biaya operasi rendah, dan risiko personel minimal. KSOT ideal untuk patroli berlapis, pengawasan chokepoints, penanaman sensor, serta memberi informasi target bagi kapal selam berawak. Namun, KSOT harus ditempatkan sebagai force multiplier atau penguat daya pengawasan, bukan pengganti kapal selam tempur.

Kedua, kapal selam mini (midget submarine). Sebagaimana tradisi desain Italia, model ini unggul untuk operasi perairan dangkal, litoral, dan misi khusus. Profil senyap, jejak akustik rendah, dan kemampuan infiltrasi membuatnya efektif untuk sea denial dekat pantai dan selat sempit. Kekurangannya ada pada jangkauan dan daya tahan, sehingga lebih tepat sebagai pelengkap, bukan tulang punggung.

Ketiga, kapal selam tempur kelas menengah. Contohnya Scorpène Evolved, yang punya daya jelajah jauh, sensor modern, dan teknologi baterai mutakhir. Kapal jenis ini bisa menjaga ZEE, patroli jarak jauh, dan mengendalikan jalur strategis di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).

  Mengendalikan choke points 
ALKI (Ist)

Kekuatan laut Indonesia bertumpu pada pengendalian jalur sempit (choke points), seperti Selat Malaka, Sunda, Lombok, Makassar, hingga perairan Natuna dan Pasifik Barat. Di sinilah kombinasi berlapis bekerja optimal: KSOT menjaga pengawasan terus-menerus, kapal selam mini mengunci jalur sempit, dan kapal selam tempur menjaga kedalaman strategis, hingga ZEE. Jika ketiganya terintegrasi dalam satu sistem komando dan sensor, Indonesia punya pertahanan bawah laut yang kuat dan kredibel.

Ada tiga prinsip kebijakan pertahanan laut yang perlu ditegakkan.

Pertama, bertahap dan tervalidasi. Pengembangan KSOT harus mengikuti tahapan uji yang ketat dan transparan agar matang secara operasional.

Kedua, terintegrasi. Semua kapal selam berawak dan nirawak harus berada dalam satu sistem pengawasan dan kendali (C4ISR/Command, Control, Surveillance, and Reconnaissance) maritim terpadu.

Ketiga, mandiri dan berkelanjutan. Alih teknologi, perawatan (MRO/Maintenance, Repair, Overhaul) dalam negeri, dan penguatan ekosistem industri dengan PT PAL Indonesia sebagai jangkar harus menjadi syarat utama.

Pilihan terbaik, bukan memilih satu, melainkan merangkai ketiganya. Scorpène Evolved sebagai tulang punggung deterrence dan pengamanan ZEE; midget sebagai penjaga litoral dan selat; KSOT sebagai pengganda daya pengawasan. Dengan kombinasi ini, Indonesia tidak hanya memasuki era teknologi bawah air, tetapi juga memimpin dengan kebijakan yang cerdas, realistis, dan berdaulat.

Klaim keberhasilan uji tembak torpedo dari KSOT buatan PT PAL patut diberikan apresiasi sebagai salah satu terobosan keberhasilan industri pertahanan Indonesia. Rencana produksi 30 unit pada 2026 menunjukkan ambisi besar yang perlu mendapat perhatian serius para peneliti dan insan kapal selam, mengingat produksi ini merupakan upaya pertama Indonesia untuk memasuki domain wahana bawah laut tak berawak (XLUUV), sebuah area yang masih minim pengalaman dan kapasitas nasional.

Di balik gemerlap euforia nasionalisme teknologi, muncul pertanyaan kritis: apakah kita sedang bergerak menuju lompatan strategis, atau justru sedang mengambil risiko besar dalam ketergesaan?

Hingga kini, belum ada laporan teknis resmi soal tahapan uji. Hal yang muncul baru pengumuman visual, tanpa detail teknis. Padahal, di negara lain, seperti Inggris, program kapal selam otonom butuh lebih dari satu dekade pengujian, sebelum dianggap matang. Prinsip universalnya jelas: sistem harus stabil dulu, baru diuji senjata.

Keberhasilan uji tembak torpedo memang layak diapresiasi sebagai upaya berani dalam memajukan teknologi pertahanan nasional. Tapi publik berhak bertanya: apakah torpedo tersebut ditembakkan dari kedalaman operasi yang sesungguhnya? Apakah sistem navigasi otonom sudah berfungsi penuh? Apakah platform tersebut telah melalui pengujian menyeluruh, termasuk sistem komunikasi bawah laut dan kemampuan fail-safe jika terjadi gangguan?

Sampai hari ini, belum ada laporan teknis resmi yang dirilis kepada publik terkait seluruh tahapan validasi sistem. Tidak diketahui bagaimana struktur kapal diuji terhadap tekanan laut dalam, atau apakah sistem kendali dan propulsi telah melalui simulasi skenario darurat. Yang ada hanyalah pengumuman visual dan simbolik, tanpa disertai penjelasan teknis yang menjadi standar dalam program alutsista berteknologi tinggi.

Sebagai pembanding, program XV Excalibur milik Royal Navy Inggris yang dikembangkan oleh MSubs dan Thales menghabiskan lebih dari satu dekade, sejak fase konseptual, hingga pengujian penuh. Uji pelampung, uji kedalaman, validasi komunikasi bawah laut, hingga integrasi sistem navigasi berbasis kecerdasan buatan dilakukan secara bertahap, dengan pendampingan lembaga klasifikasi dan institusi sertifikasi sipil dan militer. Excalibur tidak melakukan uji senjata, sebelum sistem platform dinyatakan stabil dan matang. Ini adalah kaidah universal dalam pengembangan sistem bawah laut: maturity first, weapon later.

  Melompati tahapan? 
KSOT kreasi PAL Indonesia (PAL)

KSOT muncul secara publik baru tahun ini dan langsung menembakkan torpedo, tanpa publikasi tahapan-tahapan uji sebelumnya. Tanpa dokumentasi uji selam, navigasi, stabilitas, maupun demonstrasi kecerdasan buatan onboard, proyek ini dalam hitungan bulan telah diklaim siap produksi. Bahkan, dalam konferensi pers, 30 Oktober 2025, Kementerian Pertahanan menyatakan rencana pembelian hingga 30 unit.

Tidak ada satu pun pihak yang menentang kemajuan teknologi nasional. Tidak ada pula yang menginginkan Indonesia tertinggal dalam lomba kemandirian sistem senjata bawah laut. Tapi kemajuan harus dibangun di atas perhitungan yang cermat, pengujian yang lengkap, dan tata kelola yang kuat.

Apabila KSOT memang dirancang menjadi tulang punggung kekuatan laut masa depan Indonesia, maka program ini harus melalui tahapan sebagaimana layaknya proyek strategis dunia. Ia harus diuji secara ilmiah, diaudit secara menyeluruh, dan dievaluasi secara objektif. Tidak bisa ada ruang bagi pencapaian simbolik yang justru mengganggu program-program yang lebih fundamental dan telah terikat secara kontraktual.

Sebaliknya, jika KSOT hanya dipaksakan demi kepentingan sesaat, maka kita sedang menghadirkan proyek berisiko tinggi di tengah badai masalah yang belum selesai. Kita harus berani membedakan antara keberanian teknologi dan kesembronoan manajerial. Karena dalam dunia pertahanan, kesalahan kecil dalam tahap awal bisa menjadi bencana besar di medan operasi.

Semestinya, pengadaan sistem strategis seperti ini berada dalam kerangka kebijakan industri pertahanan yang terintegrasi dan transparan, dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian serta peran regulator dan pengguna akhir.

  ⚓  antara  

Rabu, 07 Desember 2022

TNI AL Pamerkan Prototipe Robot Pendeteksi Ranjau Laut

Pada Indo Defence 2022ODIS – Robot Pendeteksi Ranjau Laut  

TNI Angkatan Laut memamerkan prototipe Remotely Operated Vehicle (ROV) pendeteksi ranjau laut pada Pameran Indo Defence Expo & Forum 2022 di JI Expo Kemayoran Jakarta pada Jumat (4/11/2022).

Robot tersebut merupakan teknologi yang dikembangkan Laboratorium Induk Bawah Air disingkat (Labinbair) Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AL (Dislitbangal).

Robot berbentuk mirip torpedo berwarna kuning tersebut dilengkapi tiga kamera, scanning sonar, lampu, baling-baling penggerak, dan kabel fiber optic.

Di badan robot tertulis ODIS yang merupakan kepanjangan dari Object Detection Identification System.

Staf Labinbair Dislitbang TNI AL Letnan Rizki mengatakan pengembangan tahap dua prototipe robot pendeteksi ranjau laut tersebut nantinya akan ditambahkan hulu ledak.

"Rencananya nanti tahap duanya akan diberi hulu ledak untuk meledakan ranjau," kata Rizki di stan TNI AL pada pameran Indo Defence Expo & Forum 2022 di JI Expo Kemayoran Jakarta pada Jumat (4/11/2022).

Ia mengatakan produk tersebut baru dikembangkan di tahun 2022.

Saat ini, kata dia, robot tersebut masih memiliki batas maksimum penyelaman di kedalaman 150 meter dan jarak 300 meter.

Namun demikian, kemampuan penyelaman robot tersebut masih bisa dikembangkan lebih jauh dengan menebalkan casing dan mengganti kabel fiber optic menjati lebih panjang.

Tenaga robot tersebut, kata dia, menggunakan baterai yang bisa diisi ulang selama sekira satu jam.

Robot tersebut, kata dia, bisa beroperasi selama enam jam jika bergerak. Apabila dalam kondisi statik, kata dia, bisa lebih lama lagi.

"Ini sudah seminggu dihidupkan terus. Ini posisi hidup, ini kameranya. Terakhir dicek sudah 80 persen baterainya. Ini statik, cuma kamera saja yang hidup," kata dia.

Robot tersebut, kata dia, cocok digunakan untuk di KRI penyapu ranjau yang dimiliki Satuan Kapal Ranjau TNI AL.

"Memang untuk KRI ranjau, di Satuan Kapal Ranjau memang pakai ini. Ini Pengembang dari teknolgi sebelumnya," kata dia.
 

 
Tribunnews  

Rabu, 20 April 2016

Kapal Selam Tanpa Awak Buatan Mahasiswa UI

[Muhammad Idris]

Bentuknya seperti sambungan pipa, dengan warna terang merah tua, serta lubang di tengahnya. Sementara mocongnya berupa kaca cembung yang menyembul dari lubang besi pipa tersebut.

Meski tak lazim, namun siapa sangka jika benda tersebut adalah kapal selam mini tanpa awak yang mampu menyelam hingga kedalaman 30 meter di bawah permukaan laut.

Umanned Underwater Vehicle (UUV) Makara 06, begitu nama kapal selam yang dikembangkan oleh 5 mahasiswa dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) ini.

Salah satu mahasiswa yang ikut merancang Makara 06, Hitomi Hadinuyana mengatakan, kapal selam yang juga berfungsi sebagai robot ini merupakan pengembangan dari kendaraan permukaan yang sudah dikembangkan senior-seniornya sebelumnya.

"Ini Makara 06, sebelumnya sudah ada Makara 01 dan seterusnya. Ini yang pertama kalinya kita buat khusus penyelaman di bawah air, Makara sebelumnya hanya untuk berjalan di atas permukaan. Karena misinya untuk penelusuran bawah air untuk pengambilan data pemetaan laut dengan sonar dan sebagainya," katanya kepada detikFinance, di Jakarta, Rabu (20/4/2016).

Makara 06 ini dipamerkan di acara Tanoto Foundation yang digelar di Annex Building Jakarta. Dengan berat kurang lebih 10 kg, Makara 06 bisa melaju di bawah air dengan kecepatan 1 meter per detik yang dikendalikan dari remote control dari jarak jauh.

Sementara dimensinya berukuran panjang 610 mm, dan lebar 392 mm termasuk sayap baling-baling membuatnya bisa menyelam di hingga lebih dari 30 meter ke dalam laut.

"Bisa tahan sampai 4 jam non stop dengan baterai saat ini. Desainnya kita akan kembangkan supaya tahan sampai tekanan 100 meter di bawah permukaan. Masih banyak kesalahan terutama di sambungan sehingga yang saat ini baru kita uji coba di kedalaman 10 meter," jelas Hitomi.

Dia melanjutkan, kapal selam tersebut dirancang sejak awal tahun lalu dan sudah menghabiskan dana sekitar Rp 20 juta. Komponen-komponen Makara 06 didapatnya dari toko-toko onderdil dan elektronik di Jakarta.

Hitomi mengungkapkan, jika pengembangan sudah selesai dilakukan, kapal selam mini ini bisa difungsikan sebagai robot selam untuk pemetaan bawah laut, penentuan titik lokasi pengeboran minyak lepas pantai, perawatan pipa bawah laut, penelitian biota, hingga operasi penyelamatan.

"Kalau di industri bisa dimanfaatkan untuk industri migas, pipa, penelitian dan untuk penyelamatan. Kalau diving kan sulit kalau di bawah 30 meter. Ini bisa lebih lagi, sementara ini baru diuji coba di Danau UI," kata Hotomi.

   detik  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More