blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label Flora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flora. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 September 2013

10 Manfaat Buah Delima

10 Manfaat Buah DelimaJakarta - Delima bak buah legenda. Disebut dalam banyak hikayat, buah ini ternyata juga sarat manfaat. Selain menawarkan kesegaran rasa, delima juga menawarkan banyak manfaat.

Dalam banyak hikayat, delima disebut sebagai buah 'panjang umur'. Kajian ilmiah membuktikan, delima memang sarat antioksidan yang efektif mencegah penuaan dini. Jus buah delima ada pada skala 2.860 jumlah radikal bebas yang diserap per 100 gram.

Delima juga telah terbukti bermanfaat untuk mengatasi osteoartritis karena mengandung fitonutrien dan polifenol.

Berikut manfaat lain delima berdasar banyak kajian:

Melindungi hati dan ginjal
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ekstrak delima mencegah kerusakan ginjal dan melindungi ginjal dari racun berbahaya. Selain itu, delima juga melindungi hati Anda dan membantu untuk meregenerasi hati yang mengalami kerusakan.

Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
Delima dan jus delima meningkatkan kekebalan tubuh. Delima diketahui sarat dengan vitamin C.

Antialergi
Delima kaya akan polifenol dosis tinggi yang telah terbukti mengurangi proses biokimia yang terkait dengan alergi.

Mencegah penyakit jantung
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah menunjukkan bahwa delima meningkatkan kemampuan tubuh untuk mensintesis kolesterol dan menghancurkan radikal bebas dalam sistem vaskular.

Mencegah kanker
Penelitian di salah satu universitas menunjukkan bahwa jus buah delima dan ekstrak delima dapat menyebabkan kematian sel kanker. Delima juga dapat mencegah kanker payudara dan penurunan perkembangan kedua jenis kanker kulit, karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa.

Melindungi DNA
Fitonutrien dan antioksidan dalam buah delima berinteraksi dengan materi genetik tubuh untuk melindunginya.

Menormalkan tekanan darah
Penelitian awal yang diterbitkan dalam satu jurnal menemukan bahwa ekstrak buah delima dapat membantu mencegah tekanan darah meningkat terkait dengan makan makanan yang tinggi lemak.

Mengatur sindrom metabolik
Penelitian yang dipublikasikan dalam satu jurnal menunjukkan bahwa delima membantu mengatur gula darah, meningkatkan sensitivitas terhadap insulin, mampu melawan peradangan, dan meningkatkan berbagai faktor lain yang terlibat dalam sindrom metabolis yang kerap dikaitkan dengan obesitas dan pemicu diabetes. Karena efek ini, delima dapat membantu penurunan berat badan.

Melindungi dari infeksi
Penelitian terbaru yang diterbitkan menemukan bahwa ekstrak buah delima meningkatkan efektivitas obat yang digunakan terhadap tumbuhan gram negatif yang selama ini dikenal resisten terhadap obat.

Melindungi dari penyakit Alzheimer
Buah ini bisa mencegah atau memperlambat perkembangan penyakit yang umumnya terkait usia. Dalam satu penelitian, tikus yang dibiakkan untuk mengembangkan penyakit ini dan diberi ekstrak delima menunjukkan pengurangan akumulasi plak pada amyloidal yang terkait penyakit ini.


  Tempo 

Minggu, 22 September 2013

Dunia Mengakui Tebu Ajaib Berasal dari Tanah Jawa

Pada awal abad ke-20, nama Pasuruan telah ditulis dengan tinta emas dalam sejarah gula Hindia Belanda—bahkan dunia. Kota ini pun melegenda.


Gedung Proefstation voor de Java-suikerindustrie (Stasiun Penelitian untuk Industri Gula di Jawa) di Pasuruan. Kini peninggalan kolonial ini masih berfungsi sama, namun dengan nama Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (Mahandis Y. Thamrin/NGI).

LIMA BELAS TAHUN setelah berakhirnya dera Cultuur Stelsel. Suatu hari, seorang inspektur kepala pertanian zaman Hindia Belanda bernama Dr. IHF Sollewijn Gelpke tengah serius menuangkan gagasan pada lembaran-lembaran kertas di meja kerjanya. Suatu awal perubahan besar dalam sejarah perkebunan tebu di Jawa dan dunia sedang disiapkan. Pasuruan menjadi takdirnya.

Saya meniti sebuah bilangan di pemukiman lama di tengah Kota Pasuruan. Tibalah di sisi depan sebuah gedung dengan dekorasi kaca dalam bingkai busur dan susunan batu granit di sekeliling dindingnya. Di bagian teras samping terlihat deretan bola-bola lampu cantik masih berfungsi sebagai penerang. Ini adalah sebuah gedung yang dibangun kembali di penghujung dekade 1940-an menggantikan gedung lama yang dibakar massa saat Agresi Militer pertama.

Ketika zaman pemerintahan Hindia Belanda, gedung ini adalah kantor ”Proefstation voor de Java-suikerindustrie” atau Stasiun Penelitian untuk Industri Gula di Jawa. Kini peninggalan kolonial ini masih mempunyai fungsi yang sama, namun dengan label baru tentunya, yaitu Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI).

Sayangnya, sebagian bangunan lama sudah dihancurkan untuk pembangunan gedung P3GI pada 1977. Lembaga P3GI merupakan institusi penelitian gula tertua di dunia yang berlokasi di Jalan Pahlawan 25 Pasuruan, Jawa Timur.

Interior gedung Proefstation voor de Java-suikerindustrie. Dari lembaga inilah, pada awal abad ke-20 Pasuruan telah dikenal hingga seantero dunia karena tebu ajaibnya (Mahandis Y. Thamrin/NGI).

Berkat perannya di masa lalu, kini lembaga tersebut menjadi markah sejarah bagi Kota Pasuruan dan dunia. Mengapa kota kecil Pasuran ini sampai dikenal dunia?

Bermula dari artikel Gelpke yang dimuat selama empat hari berturut-turut di harian De Locomotief pada Maret 1885. Dia mencurahkan rasa prihatin terhadap permasalahan industri gula dan mendesak didirikannya lembaga penelitian gula di Jawa.

Sejak saat itu beberapa lembaga penelitian gula pun bermunculan, Proefstation Het Midden Java (Semarang, 1885), Proefstation Suikerret in West-Java (Tegal, 1886), dan Proefstation Oost-Java (Pasuruan, 1887).

Kegelisahan hati Gelpke tentang industri gula memang beralasan. Kira-kira awal 1880-an industri gula di Tanah Jawa sempat geger. Pertama, produksi gula dunia melebihi tingkat konsumsinya. Artinya akan ada pembatasan produksi. Kedua, daya saing rendah karena kualitas gula tebu Jawa masih di bawah standar dan diperparah dengan mewabahnya hama Sereh (Androgon schoenanthus).

Tebu yang terserang hama tersebut cirinya terdapat tutul-tutul pada daun, batang tumbuh pendek. Bahkan daun melipat memanjang, mengerdil, dan menyempit, sehingga mirip tanaman sereh. Lengkaplah sudah masalah tebu kala itu.

SETELAH LIMA TAHUN Proefstation Oost-Java di Pasuruan berkiprah, banyak penelitian yang melaporkan secara deskriptif hama-hama tebu yang berjangkit di Jawa. Dr. JH Wakker, seorang direktur lembaga tersebut pada periode 1892-97 memulai program penyilangan tanaman tebu secara konvensional.

Sebuah varietas perdana yang diharapkan tahan terhadap hama Sereh dilahirkan dengan kode POJ 100. Kode ”POJ” merujuk pada produk lembaga riset "Proefstation Oost-Java".

Pada 1907, atas pertimbangan keuangan, cakupan wilayah dan sinkronisasi program, maka Proefstation Suikerret in West-Java dan Proefstation Oost-Java digabung menjadi Proefstation voor de Java-suikerindustrie yang berkantor tetap di Pasuruan. Tujuan lembaga ini adalah memberikan bantuan dan saran dengan cakupan yang lebih luas kepada industri gula Hindia Belanda, bersifat organisasi non-profit yang dibiayai oleh kontribusi anggotanya.

Setelah empat puluh tahun dalam cengkraman wabah sereh, akhirnya ”Proefstation voor de Java-suikerindustrie” Pasuruan berhasil menemukan klon tebu baru berkode POJ 2878 pada 1921. Sebuah kesuksesan besar untuk industri gula di Jawa dan negara-negara penghasil gula di dunia. Varietas ini tidak hanya tahan terhadap serangan hama Sereh, melainkan juga punya tingkat produktifitas lebih tinggi dibandingkan temuan sebelumnya.

Keunggulan lain, ”Si Wonder Cane” ini dinilai baik sebagai tanaman induk (parent material). Pada akhir 1920-an, hampir 200 ribu hektaree perkebunan tebu di Jawa menggunakan variatas baru ini.

Lilik Koesmihartono, seorang peneliti dan ahli penyakit tanaman di P3GI. Laboratorium tempat dia bekerja merupakan peninggalan akhir abad ke-19. Pada 1930-33 varietas POJ 2878 dari laboratorium ini telah bersemai di Columbia, sisi barat laut Amerika Selatan (Mahandis Y. Thamrin/NGI)

Tahun-tahun berikutnya varietas POJ 2878 asal Pasuruan ini telah menyebar ke perkebunan tebu di penjuru dunia. Sebuah catatan melaporkan, klon tebu asal Pasuruan ini mulai diperkenalkan di Karibia dan Lousiana pada 1924 yang menyelamatkan industri gula mereka dari serangan hama Sereh.

Pada 1930-33 varietas POJ 2878 telah bersemai di sisi barat laut Amerika Selatan, Columbia. Sampai hari ini perkebunan-perkebunan tebu Columbia masih mengadopsi hasil pemuliaan tebu asal Pasuruan.

Di belahan bumi yang lain, hasil pemuliaan POJ banyak pula diadopsi oleh negara-negara penghasil gula, sebagai contoh pada 1935 di Vietnam. Negara tersebut mulai menggunakan hasil pemuliaan tebu POJ 3016 yang kala itu mampu menghasilkan 18 ton gula per hektare.

Di sinilah untaian asal-usul tanaman tebu yang telah dikembangkan di dunia berasal. Pasuruan memang kota kecil yang punya kenangan semanis tebu bagi dunia, juga kota yang mulia berkat pemuliaan tanaman tebunya. Namun, kini ukiran namanya dalam kaleidoskop sejarah Indonesia telah dilupakan orang. Pasuruan, kapan kau mengguncang dunia lagi?(Mahandis Y. Thamrin/NGI)


Senin, 26 Agustus 2013

Ketahui Lagi Manfaat Jambu Biji

Ia masuk kategori tanaman tropis yang berasal dari Brazil, kemudian menyebar ke Indonesia melalui Thailand.

Jambu biji (wikimedia commons)
Jenis jambu ini memang banyak bijinya, tak heran ia disebut jambu biji atau jambu klutuk, karena kalau bijinya dimakan bunyinya klutuk klutuk. Adapun nama Latinnya Psidium guajava L dari keluarga myrtaceae. Ia masuk kategori tanaman tropis yang berasal dari Brazil, kemudian menyebar ke Indonesia melalui Thailand. Buah tanaman ini berwarna hijau dengan daging buahnya ada yang putih dan merah.

KANDUNGAN DAN MANFAAT. 

Jambu biji sangat kaya vitamin C, lebih tinggi dari buah jeruk, dan jauh lebih tinggi daripada kiwi yang disebut-sebut sebagai rajanya vitamin C. Di samping serat, terutama pektin yang merupakan serat larut, jambu biji juga mengandung mineral seperti mangan dan magnesium, serta asam amino esensial seperti tryptophan. Juga fitokimia berkhasiat seperti asam elagat, asam linoleat, dan asam korbigen.

PENYAKIT INFEKSI. 

Berkat kandungan vitamin C-nya yang tinggi, buah ini dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Bila dikonsumsi saat menderita radang tenggorok atau flu, akan mempercepat penyembuhan akibat infeksi.

KANKER.

Kandungan vitamin C yang tinggi serta senyawa flavonoid membuat jambu biji memiliki sifat antioksidan yang kuat yang mampu menghambat produksi nitrosamin, zat pemicu kanker. Vitamin C yang cukup dalam darah juga mendorong kerja selenium dalam menghambat sel kanker, terutama kanker paru-paru, prostat, payudara, dan usus besar. Likopen dalam jambu merah mampu menghambat oksidasi lemak sehingga mencegah kanker.

JANTUNG KORONER.

Kadar kalium pada jambu biji membantu jantung berdetak lebih teratur. Kandungan asam elagat, asam linoleat, asam korbigen, dan juga serat mampu mengikat lemak sehingga menghindari terbentuknya plak, penyebab jantung koroner.

DIABETES MELLITUS.

Serat pektinnya mampu berperan menurungkan kadar glukosa darah sehingga cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes.

HIPERTENSI.

Jambu biji juga dapat menurunkan tekanan darah tinggi karena kadar kaliumnya, juga seratnya yang mengikat lemak.

LAIN-LAIN.

Vitamin C-nya berperan membentuk kolagen yang bermanfaat untuk penyembuhan luka. Senyawa flavonoidnya memiliki kemampuan sebagai antiradang, antialergi, dan antivirus. Menurut penelitian, daun jambu klutuk dapat membantu menaikkan kadar trombosit pada penderita demam berdarah. Sedangkan buahnya yang kerap dijus lalu diberikan pada penderita demam berdarah tidak berkhasiat menaikkan kadar trombosit tetapi lebih sebagai suplai cairan yang banyak hilang akibat penurunan trombosit.(K. Tatik Wardayati, Sumber: Intisari-online.com)


Kamis, 25 Juli 2013

Mahasiswa IPB Temukan Biodisel dari Biji Mahkota Dewa

http://202.46.15.98/file/gallery/2013/07/rbtifRKMuG.jpgTanaman mahkota dewa kerap digunakan untuk mengobati berbagai penyakit. Namun, di balik semua khasiat baik yang terkandung di dalam tanaman asli Papua itu, mahkota dewa ternyata juga dapat diolah sebagai bahan bakar.

Inovasi tersebut dilakukan oleh tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), yakni Iga Nugraheni, Asep Andi, dan Ahadyah Ayu Umaiya. Penelitian tersebut berjudul Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis Biji Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) dengan Metode Transesterifikasi sebagai Bahan Bakar Alternatif dalam Mewujudkan Masyarakat Mandiri Energi.

Ketua tim Iga menyebut, bahan bakar dari mahkota dewa memiliki berbagai keunggulan dibandingkan bahan bakar nabati lainnya. Tanaman bernama latin Phaleria macrocarpa itu, lanjutnya, tidak akan mengganggu stabilitas pangan nasional.

“Buah mahkota dewa bukan merupakan tanaman pangan, sehingga jika biji mahkota dewa digunakan sebagai bahan bakar nabati, tidak akan mengganggu stabilitas pangan seperti yang terjadi pada bioetanol dari singkong, sagu, jagung, dan tanaman perkebunan lainnya,” ungkap Iga.

Keunggulan lain, kata Iga, biji buah mahkota dewa belum terdaftar sebagai bahan bakar nabati (biofuel) baik di media cetak maupun elektronik. Di samping itu, FAME biji mahkota dewa bersifat biodegradable oil dan tidak dapat digunakan sebagai bahan makanan (non-edible oil).

Menurut Iga, inpirasi pengolahan biji mahkota dewa datang ketika melihat melimpahnya tanaman mohkota di kota asalnya, Blitar. Di Blitar, kulit buah mahkota dewa dikupas dan digunakan sebagai bahan baku obat herbal sementara bijinya dibuang sebagai limbah.

"Saat biji buah mahkota dewa dibakar, api berwarna biru dan bertahan lama. Setelah kami teliti 70 persen bijinya mengandung minyak,” papar peneliti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Forces IPB itu.

Untuk mendapatkan FAME biji buah mahkota dewa, tambahnya, perlu dilakukan beberapa proses penelitian secara bertahap. Dimulai dengan pengambilan sampel buah mahkota dewa yang sudah matang berwarna merah kemudian pemisahan biji buah mahkota dewa dari daging buah dan dikeringkan.

Selanjutnya, ekstraksi biji buah mahkota dewa dengan menggunakan alat hot presser hydraulic. Setelah dianalisis, diperoleh hasil FAME biji buah mahkota dewa sebagai bahan baku biodisel.

“Untuk mendapatkan biodiesel murni dibutuhkan beberapa tahapan penelitian lagi. Rencananya, hasil penelitian lanjutan ini akan kami jadikan skripsi dengan fokus tema berbeda-beda," urai Iga.

Dia berharap, melalui inovasi pemanfaatan limbah biji buah mahkota dewa dapat memperkokoh ketahanan energi dan mendorong pengembangan masyarakat mandiri dalam penyediaan energi, sehingga mampu membebaskan diri dari ketergantungan bahan bakar fosil.


  Okezone 

Selasa, 23 Juli 2013

UGM budi daya melon di gumuk pasir

Yogyakarta - Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta melakukan budi daya melon kultivar Melodi Gama 3 di kawasan gumuk pasir Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

"Penanaman melon Melodi Gama 3 (MG3) akan terus dilakukan, baik pada musim kemarau maupun musim hujan untuk memperoleh informasi yang lengkap dalam pengembangan strategi budi daya melon di sekitar gumuk pasir," kata ketua tim peneliti Gama Melon, Budi Setiadi Daryono di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, melalui riset yang didanai Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) tersebut diharapkan budi daya melon di areal gumuk pasir di Kebumen mampu membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

"Penanaman melon kultivar MG3 dilakukan agar budi daya melon di sekitar gumuk pasir lebih efektif dan ramah lingkungan. Gumuk pasir merupakan gundukan pasir yang terbentuk secara alami oleh angin laut di pinggir pantai, yang dapat berfungsi sebagai pelindung areal sekitar pantai dari angin laut," katanya.

Ia mengatakan, melon kultivar MG3 merupakan salah satu kultivar hasil perakitan Fakultas Biologi UGM yang unggul dengan ciri yang khas, antara lain dagingnya berwarna oranye, aroma buahnya harum, rasanya manis, dan tahan terhadap serangan penyakit jamur tepung (powdery mildew).

"Keunggulan tersebut membuat petani tidak perlu terlalu banyak menggunakan fungisida sehingga budi daya melon di daerah tersebut menjadi ramah lingkungan," katanya.

Selain melakukan budi daya melon kultivar MG3 di sekitar gumuk pasir, Fakultas Biologi UGM juga memberikan bantuan ribuan benih melon kepada petani agar ditanam pada masa tanam berikutnya.


  Antara  

Minggu, 30 Juni 2013

IPB Siap Ciptakan Rambutan Manis Tanpa Biji

http://images.detik.com/content/2013/06/29/4/rabutan.jpgJakarta - Institut Pertanian Bogor (IPB) siap menciptakan varian terbaru buah rambutan. Direktur Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB Sobir menargetkan, 5 tahun ke depan masyarakat Indonesia bisa menyicipi buah rambutan tanpa biji.

"Bisa dibayangkan ada buah rambutan tanpa biji? Rambutan tidak berbiji ini 5 tahun ke depan sudah bisa kita bisa pasarkan. Saat ini research (penelitian) masih terus dilakukan," ungkap Sobir di acara Indonesia Fruit Summit 2013 di rumah makan kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (29/6/2013).

Sebelumnya, IPB juga sudah berhasil menciptakan buah pepaya mini yang diberi nama Pepaya California/Calina. Ukuran buah Pepaya Calina jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan jenis Pepaya Bangkok.

Ditambahkan Sobir, dalam waktu dekat IPB juga siap mengeluarkan varian pepaya jenis terbaru yang jauh lebih kecil dan siap konsumsi yang diberi nama Pepaya Calishow.

"Kita fokus untuk menciptakan pepaya yang jauh lebih kecil lagi dan siap dikonsumsi dengan hanya disendok saja yang kita beri nama Pepaya Calishow," imbuhnya.

Tidak hanya itu, IPB juga saat ini sedang meneliti potensi jambu biji, namun tidak berbiji.

"Kalau dulu buah jambu biji yang berbiji itu repot makannya maka kami saat ini sedang meneliti jambu biji yang tidak berbiji," ujar Sobir.(wij/dnl)


Selasa, 18 Juni 2013

LIPI Temukan Anggrek Raksasa

LIPI Temukan Anggrek RaksasaBATAM � Tim eksplorasi Flora LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) menemukan tanaman sejenis anggrek berukuran besar atau anggrek raksasa, Grammatophyllum Speciosum Blume, di hutan Batam saat melakukan identifi kasi fl ora untuk kebutuhan Kebun Raya Batam.

Anggrek raksasa tersebut termasuk tanaman langka yang harus dilestarikan. Tim Eksplorasi LIPI, Yupi Isnaini, mengatakan anggrek raksasa dengan nama latin Grammatophyllum tersebut ditemukan di Hutan Lindung Sei Harapan Batam, di pokok pohon meranti. Hanya terdapat beberapa tanaman saja di area tersebut.

"Anggrek raksasa yang ditemukan di Batam hidup menumpang di pohon meranti dan termasuk tanaman langka," kata dia di Batam, Senin (17/6). Menurut Yupi, penemuan anggrek raksasa di hutan Batam termasuk mengejutkan karena hutan tersebut bukan habitat tanaman anggrek.

Untuk itu, LIPI akan mempelajari tanaman tersebut apakah sama dengan jenis anggrek yang tumbuh di daerah lain. Anggrek raksasa atau Grammathophyllum Speciosum Blume dikenal juga dengan giant orchid atau anggrek tebu karena perawakannya mirip dengan tanaman tebu. Anggrek ini merupakan tanaman langka yang tumbuh di habitat spesifi k. [gus/N-1]


  Koran Jakarta  

Jumat, 01 Maret 2013

Ada Anggrek Bercula di Kalimantan Barat

Ada Anggrek Bercula di Kalimantan BaratAnggrek Malleola inflata Metusala & P.O’Byrne atau anggrek bercula yang ditemukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di belantara Kalimantan Barat. dok. LIPI

Malang | Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mempublikasikan spesies anggrek baru bernama Malleola inflata Metusala & P.O'Byrne yang ditemukan di belantara Kalimantan Barat.

Peneliti Kebun Raya Purwodadi-LIPI, Destario Metusala, menginformasikan bahwa anggrek jenis baru ini pertama dipublikasikan di jurnal internasional Malesian Orchid Volume 11 yang terbit akhir Februari lalu. Namun, lokasi penemuan anggrek tidak disebutkan.

"Mohon maaf sebelumnya, Mas, bahwa lokasi habitat spesifik asal anggrek itu tidak dapat dituliskan atau saya beritahu demi kepentingan konservasi," kata Destario lewat surat elektronik kepada Tempo, Jumat, 1 Maret 2013.

Anggrek baru itu memiliki keunikan berupa tonjolan kalus berukuran cukup besar yang menyeruak dari bibir bunganya sehingga mirip sebuah cula. Untuk memudahkan pengucapan, maka anggrek baru itu boleh disebut sebagai anggrek bercula. Namun, fungsi cula belum diketahui, kecuali diduga sebagai pengarah bagi probosis serangga yang akan menghisap cairan nektar di dalam struktur bibir bunga. Sedangkan ephitet atau julukan "inflata" diambil dari bentuk bagian bibir bunganya yang menggembung hingga mirip bentuk sebuah guci.

"Penemuan ini tentunya akan semakin meningkatkan scientific value dari koleksi Kebun Raya Purwodadi sekaligus menambah panjang daftar diversitas flora yang dimiliki Indonesia," ujar Rio, panggilan akrab peneliti berusia 30 tahun itu.

Anggrek Malleola inflata adalah anggrek epifit yang batangnya dapat mencapai panjang lebih dari 11 sentimeter. Tangkai perbungaan dengan panjang hingga 8 sentimeter muncul menggantung dari sela-sela pelepah daun dan membawa 8-44 kuntum bunga yang mekar secara simultan. Kuntum bunga berukuran kecil dengan tinggi 8-9 milimeter dan lebar 6-7.5 milimeter, berwarna krem cerah dengan corak garis jingga pada kelopak (sepal) dan mahkota (petal)-nya.


  Tempo  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzuKXZz7DA9Y-b0_1ZIg4l1-Si_QQOgNYEZH6g1x2uUjLSYPRt8WhqPUehlrD35o36iIFpujKTIMiMwqRlUzHCfKT-a87fzfu77qvEv_EILRZACrgrNglyzx3QGI1aLE9B5cVrP9SoNdw/s35/cinta-indonesia.jpg

Kamis, 06 Desember 2012

Akhirnya Indonesia bisa ekspor manggis ke Australia

Setelah melakukan proses negosiasi akses pasar manggis antara Indonesia dan Australia, akhirnya Tanah Air berhasil mengapalkan satu ton buah manggis ke Sydney, Australia pada 27 November lalu.

Melalui keterangan tertulisnya, Dirjen Kerja Sama Perdagangan Internasional Imam Pambagyo mengatakan ekspor tersebut dilakukan oleh PT Agung Mustika Selaras.

Dia juga mengatakan, meskipun konsumsi buah manggis di Australia belum besar, namun terbukanya keran ekspor manggis tersebut mencerminkan keberhasilan diplomasi perdagangan Indonesia mengingat Australia memiliki standar kesehatan yang tinggi.

"Dengan telah diterimanya buah manggis asal Indonesia membuktikan bahwa produkmakanan Indonesia telah memenuhi standar Internasional dengan mengedepankankesehatan masyarakat," ujar Iman dalam keterangan tertulis yang diterima merdeka.com, Kamis (6/12).

Keberhasilan tersebut, lanjut dia, diharapkan menjadi batu loncatan bagi Indonesia untuk mendorong ekspor buah-buahan tropis Indonesia ke negara mitra dagang lainnya yang memiliki standar keamanan makanan yang tinggi.

Buah manggis merupakan salah satu komoditas unggulan hortikultura Indonesia dengan nilai ekonomis yang tinggi karena memiliki serapan pasar yang cukup besar. Pada tahun 2011, produksi manggis nasional mencapai 117.600 ton dengan jumlah ekspor manggis mencapai12.600 ton dengan nilai USD 9,9 juta atau setara dengan Rp 94 miliar.

Pasar tujuan utama ekspor manggis selama ini adalah Hong Kong, China, Singapura, Malaysia dan Timur Tengah. Sentra utama manggis yang diekspor umumnya berasal dari daerah Tasikmalaya, Purwakarta, Bogor, Sukabumi, Lampung, Kampar, Purwerejo, Blitung, Lahat, Tapanuli Selatan, Limapuluh Kota, Padang Pariaman, Trenggalek, Blitar, dan Banyuwangi. Tercatat bahwa terdapat 144.037 pohon manggis pada lahan seluas 1.440 hektar yang mampu menghasilkan 1.223 kuintal manggis dengan kualitas ekspor.(mdk/rin)


Rabu, 10 Oktober 2012

Peneliti Unipa temukan tiga jenis pandan baru

Jakarta - Peneliti dari Universitas Negeri Papua (Unipa), Nurhaidah Iriany Sinaga, menemukan tiga jenis "Freycinetia" yang termasuk dalam keluarga pandan di lahan "tailing" yang berada di kawasan pertambangan PT Freeport di Timika, Papua.

"Ditemukan tiga jenis baru dari "Freycinetia" di areal pengendapan "tailing" yakni "Freycinetia megaauriculata Sinaga&Utteridge", "Freycinetia frutonumerata Sinaga, Keim&Purayatmika", dan "Frecinetia ultrapedicellata Sinaga, Keim&Purayatmika"," ujar Nurhaidah di Jakarta, Selasa.

Lahan "tailing" adalah kawasan pengendapan pasir sisa tambang. Sedangkan "Freycinetia" adalah jenis tumbuhan pemanjat yang selalu memerlukan inang untuk ditumpangi.

Nurhaidah mengatakan terdapat 18 jenis dari Freycinetia di kawasan pengendapan pasir sisa tambang itu.

"Saya sendiri bingung, mengapa ditemukan dan bisa hidup di kawasan itu," katanya.

Dia menduga, hal itu karena didukung oleh tiga faktor yakni tanah, iklim, dan vegetasi dari ekosistem sekitar yang masih baik. "Bahkan, di kawasan itu saya juga menemukan terdapat jenis Freycinetia yang tidak bisa hidup di alam terbuka, namun bisa hidup di lahan "tailing"," tambah dia.

Jenis Freycinetia itu adalah "Freycinetia Oblanceolata Grup".

Hasil penelitian tersebut adalah salah satu dari 16 penelitian yang terangkum dalam buku hasil penelitian Unipa dan PT Freeport.

Bahkan salah satu hasil penelitian menyebutkan bahwa spesies-spesies tanaman asli dapat tumbuh kembali secara alami di tanah yang mengandung "tailing".

Hasil penelitian juga menunjukkan proses perkembangan suksesi alami telah menghadirkan 117 spesies burung, 42 spesies herpeto fauna, 93 spesies kupu-kupu dan 10 spesies mamalia yang kemudian menjadikan area suksesi alami lahan tailing sebagai habitat mereka.

Kawasan pengendapan tailing yang tidak lagi dialiri dalam kurun waktu 8-20 tahun, telah terjadi proses pedogenesis nyata yang mengindikasikan perkembangan tailing membentuk tanah pada tahap awal.

Kondisi itu membantu perkembangan vegetasi yang hadir secara alami, sehingga lahan tersebut bisa dikelola menjadi hutan alami atau lahan budidaya pertanian.(I025/Z003)

© Antara

Senin, 02 Juli 2012

Peneliti LIPI Temukan Anggrek Baru asal Kinabalu

Peneliti LIPI Temukan Anggrek Baru asal KinabaluBANDUNG--MICOM: Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Destario Metusala menemukan anggrek jenis baru asal Kinabalu, Sabah, Malaysia, dari sebuah koleksi herbarium berusia 50 tahun yang tersimpan rapi di Herbarium Kew, Inggris.

Menurut keterangan tertulis yang dikirim Destario melalui surat elektronik di Bandung, Minggu (1/7), peneliti itu menemukan jenis anggrek baru yang diberi nama 'Cleisocentron kinabaluense Metusala & J.J.Wood. Epithet' secara tidak sengaja saat dia mengobservasi lebih dari 2.000 spesimen herbarium anggrek yang berasal dari kawasan Sabah.

Destario menyebut penemuan itu menjadi kejutan bagi taksonom anggrek di Kew karena mereka tidak menyangka masih ada jenis baru dari kumpulan spesimen yang sebenarnya telah diobservasi berulang kali untuk pembuatan karya ilmiah.

Anggrek 'Cleisocentron kinabaluense' tumbuh secara epifit dan batangnya dapat mencapai 20 sentimeter (cm). Kuntum bunga berukuran panjang 2,2 cm-3 cm dan lebar 1 cm-1,2 cm, sedangkan dalam satu perbungaan tersusun atas 8 sampai 12 kuntum bunga.

Secara morfologi, anggrek ini dekat dengan 'Cleisocentron gokusingii' dan 'Cleisocentron merrillianum', namun berbeda terutama pada kalus yang berada di pangkal bawah bibir bunganya yang menyerupai kantung, serta cuping samping bibir bunga yang tidak bertoreh.

Spesimen jenis baru ini dikoleksi pada 1961 dari dataran berketinggian 2.400 m-3.000 m. Sejak itu belum pernah diketemukan kembali, baik itu koleksi hidup maupun koleksi herbariumnya.

Temuan baru Destario itu dipublikasikan di Malesian Orchid Journal yang terbit di pertengahan 2012. (Ant/OL-15) 


Senin, 28 Mei 2012

IPB diminta siapkan ahli silvikultur handal

Bogor (ANTARA News) - Institut Pertanian Bogor diminta semaksimal mungkin untuk mempersiapkan ahli-ahli silvikultur yang handal.

"Usulan menanam kembali agar hutan kita lestari, budi daya bagaimana membangun hutan secara `well manage` menjadi tantangan tersendiri bagi para ahli silvikultur," kata staf pengajar Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB Dr Ir Supriyanto melalui kantor Humas IPB, Minggu.

Menurut dia, hutan di Indonesia terbagi pada hutan negara dan hutan rakyat, di mana keduanya membutuhkan ahli silvikultur dimaksud.

Ia mengemukakan, mengapa Indonesia perlu banyak tenaga ahli silvikultur, karena tenaga mereka dibutuhkan untuk dapat membangun hutan-hutan di Indonesia dengan manajemen yang baik.

Supriyanto memberi contoh bahwa luas hutan negara yang mencapai 130 juta hektare, ternyata 43 juta hektare di antaranya belum terjamah.

Di samping itu, kata dia, praktik pembalakan liar (ilegal logging), juta telah mengakibatkan rusaknya hutan-hutan yang ada.

"Karena itulah ahli silvikultur sangat dibutuhkan," katanya.

Sementara itu, staf pengajar Fahutan IPB lainnya Dr Ir Ricky Avensora MScF mengatakan, pengembangan "integrated silvopastural" diyakini mampu menekan laju kerusakan hutan hingga 30 persen per tahun, serta mampu pula merehabilitasi hutan ataupun lahan secara mudah dan mandiri.

"Dalam konteks teknis, jika saja ada satu kabupaten di provinsi yang kaya seperti di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Kalimantan Timur, dalam tiga tahun mau fokus menggunakan Rp500 juta/tahun dari anggaran belanja mereka untuk mengembangkan `integrated silvopastural` misalnya, akan mampu menekan laju kerusakan hutan hingga 30 per tahun," katanya.

Dalam pandangan Ricky Avenzora, dengan pengembangan "integrated silvopastural" tersebut, maka secara matematis mudah dihitung dan diyakini bahwa pada akhir tahun ketiga di sebuah kabupaten tersebut, akan mampu mempunyai industri peternakan.

Ia mengemukakan, berbagai turunan industri hilirnya setidak-tidaknya mampu mengurangi 20 persen angka pengangguran, nyata ataupun terselubung, di kabupaten tersebut per tahun.

Selain itu, juga akan mampu menekan laju kerusakan hutan hingga 30 per tahun serta mampu pula merehabilitasi hutan ataupun lahan secara mudah dan mandiri pada akhir tahun keenam.(A035/N005) 
 
 

Jumat, 11 Mei 2012

Menristek canangkan Sulawesi pusat riset kakao

Makassar (ANTARA News) - Kementerian Riset dan Teknologi bersama Wakil Gubernur Sulawesi Selatan mencanangkan Pusat Riset dan Pengembangan Rumput Laut dan Kakao.

"Indonesia kaya sekali. Produksi kakao kita nomor tiga di dunia, tapi kita masih mengekspornya mentah-mentah tanpa mengolahnya lebih dulu, juga rumput laut," kata Menteri Ristek Gusti Muhammad Hatta pada Rapat Koordinasi SDM dan Iptek Koridor Sulawesi antara Kemristek, para pejabat badan litbang di Sulawesi dan peneliti Universitas Hasanuddin di Makassar, Jumat.

Menteri mengatakan, Struktur ekonomi Indonesia saat ini masih terfokus pada pertanian dan industri yang mengeksploitasi hasil alam, sedangkan industri yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah produk masih terbatas.

Padahal ketersediaan sumberdaya alam tidak tanpa batas, sementara kebutuhan pembiayaan untuk pelaksanaan pembangunan terus meningkat.

"Jika sumber daya alam sudah habis, ekonomi kita akan bertumpu pada impor. Defisit sumber daya alam ini dapat menimbulkan permasalahan besar," katanya.

Ia menyesalkan, eksploitasi sumberdaya alam masih terus berlangsung baik kekayaan hutan yang kayunya diekspor tanpa diolah, batubara yang diekspor mentah-mentah, termasuk aluminium.

"Padahal aluminium yang kalau diekspor mentah hanya menghasilkan sekali, kalau diolah dulu sebelum diekspor nilai tambahnya jadi delapan kali dan kalau diolah lebih panjang lagi bisa 30 kali lipat," katanya.

Jadi, ujarnya, harus segera ada upaya meningkatkan SDM dan Iptek untuk menghasilkan nilai tambah dari kekayaan alam yang ada dan membuat kita tak selalu tergantung pada alam.(D009)



ANTARA News

Rabu, 28 Maret 2012

Peneliti: pohon jambu bisa berbuah cengkeh

Ilustrasi - Komoditas Cengkeh (FOTO ANTARA/BASRUL HAQ)
Padang (ANTARA News) - Pohon jambu dengan pucuk cengkeh berhasil dipersatukan sehingga memproduksi buah cengkeh, demikian hasil penelitian dari Kantor Ketahanan Pangan Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, Rasmi R, S.St. M.Si.

"Tekhnologinya cukup sederhana, antara lain jambu yang sudah relatif besar dipotong dahannya, setelah bertunas muda langsung disambungkan dengan pucuk cengkeh. Setelah 21 hari entris akan menyatu, maka akan muncul sebatang cengkeh yang siap berbuah cengkeh," kata Rasmi R, di Padang, Rabu.

Menurut dia, penyambungan pohon jambu --yang dimanfaatkan sebagai batang bawah-- itu dengan pucuk cengkeh, nantinya akan memproduksi cengkeh tanpa repot-repot menanam dari awal.

Sedangkan buah cengkeh sendiri, katanya, bernilai komersial karena merupakan salah satu komoditas non migas berskala ekspor ketimbang buah jambu.

"Cengkeh atau `eugenia aromatica` merupakan tanaman yang berasal dari pulau Zanzibar ini pernah menjadi primadona pada hasil perkebunan di Indonesia," katanya, namun kini pamor cengkeh relatif menurun lebih disebabkan oleh monopoli tataniaga, kuota dan serangan hama atau penyakit tanaman.

Ia mengakui dengan merosotnya komoditi cengkeh, penelitian terhadap komoditas itu juga menjadi tidak menarik, mulai dari budidaya, hama dan penyakit.

Hal ini, katanya lagi, juga dipengaruhi adanya kecenderungan penelitian dilakukan pada hal-hal terkini atau yang menjadi populer.

Sementara tanaman jambu sendiri juga masuk genus eugenia dan famili eugenaceae. Genus ini memiliki banyak spesies seperti eugenia jambula (jambu ), eugenia sp (jambu keling) dan jambu air (eugenia sp. ), daun salam dan lainnya.

Setiap spesies ini mempunyai kelebihan dan keunikan tersendiri. Mulai dari ketahanan terhadap tekanan lingkungan, kemampuan adaptasi yang tinggi, ketahanan terhadap hama, penyakit serta pertumbuhan yang cepat.

"Sebagai dasar dalam ilmu budidaya tanaman dan ilmu biologi menjelaskan bahwa tanaman yang satu genus bisa dilakukan penyambungan (enten ), tempelan (okulasi ), susuan dan lain-lain," katanya.

Karena itu pilihan dalam melakukan rekayasa budidaya ini tergantung dengan keahlian yang dimiliki karena mempunyai kelemahan dan kelebihan tersendiri.

Sedangkan jambu yang paling tinggi daya tahannya adalah jambu keling, yang buahnya berwarna hitam kalau sudah tua yang ukurannya sebesar ibu jari tangan.

"Tanaman ini banyak tumbuh di daerah padang alang-alang Kabupaten Solok, walau sudah puluhan kali terbakar di bawahnya dia tetap hidup dan batangnya relatif besar. Kalau jambu air juga cukup banyak tumbuh liar di lereng tebing, tepi sungai, dan Ngarai Sianok Bukittinggi," katanya.(F011)



Rabu, 28 Desember 2011

Mengkudu Kurangi Kanibalisme Lele

BOGOR--MICOM: Tim mahasiswa Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor melakukan penelitian mengenai buah mengkudu yang mampu mengurangi sifat kanibalisme ikan lele.

Rilis Humas IPB di Bogor, Rabu (28/12) menyebutkan penelitian itu dilakukan oleh Ikbal Hadi sebagai ketua, dengan anggota Asep El Qusairi, Ruly Ratannanda, M Hasyim Al Abror, dan Rezi Hidayat.

Penelitian bertema "Efektivitas Pemberian Ekstrak Buah Mengkudu Morinda Cirtifolia L Melalui Pakan Alami Terhadap Sifat Kanibalisme Benih Ikan Lele Clarias sp Pada Sistem Budidaya Intensif" itu dilakukan di bawah bimbingan dosen pendamping Ir Harton Arfah MSi.

Ikbal Hadi menjelaskan, ikan lele adalah salah satu komoditas ikan air tawar yang masih menjadi primadona di Indonesia. Budi daya yang diperlukan dalam memenuhi tingginya tingkat kebutuhan ikan lele ialah usaha budi daya yang dilakukan secara intensif.

Namun, kata dia, masalah yang sering muncul pada usaha budidaya secara intensif ikan lele ialah tingginya tingkat mortalitas benih ikan lele akibat sifat kanibalisme dalam kegiatan pembenihan. "Riset yang dilakukan oleh Hseu JR, pada juvenil ikan kerapu membuktikan bahwa kanibalisme dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi hormon serotonin pada otak," katanya.

Ikbal Hadi menjelaskan, peningkatan hormon serotonin ini juga diduga mampu mengurangi kecenderungan sifat agresif benih ikan lele untuk kanibal. Melalui riset intensif yang dilakukan oleh para ilmuwan di laboratorium, mengkudu menunjukkan keunggulan luar biasa.

Mengkudu mengandung zat scopoletin yang berguna dalam peningkatan kegiatan kelenjar peneal di dalam otak, yang merupakan tempat dimana serotonin diproduksi dan kemudian digunakan untuk menghasilkan hormon melatonin. (Ant/OL-04)


MediaIndonesia

Minggu, 18 Desember 2011

LIPI Uji Tanam Massal Jati Berlian

TEMPO.CO, Cibinong - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Sabtu (17/12) pagi tadi melaksanakan uji tanam skala massal benih jati hasil pemuliaan genetik penelitinya di kawasan Cibinong Science Center, Cibinong, Jawa Barat. Sebanyak 2.000 bibit jati (Tectona grandis) yang diberi nama Jati Berlian itu ditanam di areal seluas 2 hektare.

Penanaman benih jati yang diprakarsai oleh Dharma Wanita Persatuan di lingkungan LIPI ini bertepatan dengan kegiatan Bulan Menanam Pohon selama Desember ini yang dicanangkan oleh pemerintah. Kegiatan penanaman pohon yang mengangkat tema 'Bakti DPW LIPI untuk Pertiwi' itu melibatkan seluruh anggota Dharwa Wanita Persatuan LIPI yang datang dengan keluarganya.

Bambang Prasetya, Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI dalam sambutannya mengatakan, "Kegiatan ini merupakan sinergi antara Dharma Wanita Persatuan, LIPI, dan Korpri." Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Witjaksono mengatakan bibit Jati Berlian diperbanyak secara vegetatif dengan teknik in vitro (kultur jaringan) dari pohon atau klon unggul menggunakan metode bioteknologi mutakhir.

Menurut Witjaksono, banyak sekali keunggulan yang dimiliki Jati Berlian antara lain, memiliki perakaran yang kokoh (akar tunjang majemuk), daya tumbuh tinggi, pertumbuhan cepat--dalam waktu 5 tahun lingkar batang mencapai 95–105 sentimeter, batang tegak lurus dan cenderung tidak bercabang, dan kayu yang dihasilkannya berkualitas tinggi.

Kepala LIPI Lukman Hakim mengatakan, "Tidak hanya penanaman pohon jati, kegiatan ini juga akan meneliti efisiensi pengaplikasian empat tipe pupuk organik Beyonic (Beyond Organic)." Pupuk organik ini merupakan produk hasil penelitian Pusat Penelitian Biologi, Pusat Penelitian Bioteknologi, Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, dan Unit Pelaksana Teknis Balai Penelitian dan Pengembangan Biomaterial LIPI. Pada plot ini juga akan diteliti tentang pertumbuhan, fisiologi tanaman, fitokimia, siklus karbon dan sistem tumpang sari.

Hasil penelitian ini, kata Lukman, diharapkan dapat berguna untuk sosialisasi pohon jati di masyarakat. Jika proyek percontohan skala besar ini berhasil diharapkan masyarakat di masa mendatang dapat menanam jati ini untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, membantu penghijauan lahan kosong sekaligus menyerap CO2, menciptakan lapangan usaha (industri kerajianan) dan dapat pula mensuplai bahan baku untuk industri pengolahan plywood agar tidak menggunakan kayu dari hutan alam.(l dody)


TEMPO.CO

Jumat, 07 Oktober 2011

Anggrek Sulawesi Terancam Tambang


KOMPAS/MARIA SERENADE SINURAT
Anggrek Sulawesi ("Phalaenopsis amabilis var celebica") yang menjadi salah satu plasma nutfah khas Sulawesi, kini terancam punah oleh pertambangan nikel. Konservasi harus segera digalakkan untuk menghindari kepunahannya.

MAKASSAR, KOMPAS.com- Anggrek Sulawesi (Phalaenopsis amabilis var celebica) yang menjadi salah satu plasma nutfah khas daerah ini terancam oleh pertambangan nikel. Konservasi harus segera digalakkan untuk menghindari kepunahannya.

Phalaenopsis amabilis termasuk salah satu spesies anggrek asli atau lebih dikenal dengan nama anggrek alam. Di Sulawesi Selatan, spesies ini banyak tumbuh di hutan-hutan Sorowako, Luwu Timur. Spesies ini paling cocok tumbuh di Sorowako, sayangnya di kawasan itu juga ada pertambangan nikel.

"Yang dikhawatirkan, hutan tempat alami anggrek ini juga akan dikupas untuk tambang," kata Kepala Bidang Penelitian Pengkajian Sumberdaya Alam, Lingkungan dan Teknologi Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sulsel Muslih Radhi Abdullah di Makassar, Kamis (6/10/2011).

Menurut Muslih, spesies ini memiliki kelopak dan tajuk bunga berwarna putih bersih dan bibir bunga kuning atau kadang berbintik merah.

Tim Balitbangda sempat mengambil sampel anggrek ini untuk disimpan di Kebun Raya Puca di Maros. "Pelestarian habitat bagi Phalaenopsis amabilis var celebica seharusnya dilakukan bersamaan dengan konservasi. Tapi dukungan pemerintah minim karena pelestarian tidak menghasilkan uang secara instan," ucapnya.

Padahal bila dikembangkan, konservasi tanaman juga bisa bernilai ekonomis. Sejak tahun 2008, Balitbangda mencatat 216 spesies tumbuhan yang menjadi plasma nutfah di Sulsel. "Kalau mau diseriusi, kita bisa m engembangkannya seperti bagaimana Tulip bisa bernilai ekonomis dan tetap terjaga keberadaannya," lanjutnya.

Di Indonesia ada enam ekotipe Phalaenopsis amabilis yang endemik di Pulau Sulawesi, Maluku, Papua, Kalimantan, Sumatera, dan Jawa. Phalaenopsis berasal dari bahasa Yunani phalaenos yang berarti ngengat atau kupu-kupu dan opsis berarti bentuk atau penampakan.


KOMPAS

Kamis, 29 September 2011

Hutan Kalimantan untuk Tebus Utang RI ke AS

Program ini juga bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Program ini juga bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebagaimana telah dituangkan dalam Rencana Strategi Kementerian Kehutanan. (zunal.com)

VIVAnews
- Pemerintah Amerika Serikat akan melakukan debt for nature swap sebesar US$28,5 juta dalam rangkan membantu upaya pelestarian hutan dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia, khususnya di Kalimantan. Kebijakan ini masuk dalam Tropical Forest Conservation Act 2 (TCFA2)

Debt for nature swap adalah pengalihan utang yang kali ini dananya digunakan untuk membiayai program konservasi keanekaragaman hayati dan hutan tropis.

Menurut Direktur Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Darori, program ini melibatkan masyarakat madani yang berperan sebagai pelaksana. Program ini sesuai dengan komitmen pemerintah dalam rangka melindungi hutan dan keanekaragaman hayati.

"Program ini juga bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebagaimana telah dituangkan dalam Rencana Strategi Kementerian Kehutanan," ujar Darori, usai penandatanganan perjanjian di kantor Menko Perekonomian, Jakarta, 29 September 2011.

Lewat program ini, pemerintah akan menciptakan model-model konservasi hutan tropis dan mitigasi perubahan iklim. Sebagai awalan, program akan difokuskan di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Berau dan Kutai Barat di Kalimantan Timur, dan Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat.

Ade Soekadis, Acting Director TNC Forest Program Indonesia menyebutkan, program TFCA2 diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di Berau serta untuk mencapai target pengurangan emisi karbon hingga 41 persen. “Caranya dengan tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi tujuh persen di tahun 2020," ucapnya.

Di sisi lain, Efransjah, Chief Executive Officer WWF Indonesia menyatakan, program ini merupakan lompatan besar dalam upaya konservasi. “WWF bangga menjadi bagian dari program yang tata kelolanya dilakukan bersama oleh pemerintah dan masyarakat madani," ucapnya. (adi)



VIVAnews

Rabu, 07 September 2011

Daun Katuk Bisa Turunkan Kadar Lemak Ayam

Daun Katuk (Saropus androgynus)--Antara/Jafkhairi/cs


BENGKULU--MICOM: Peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu Prof Urip Santoso menemukan ekstrak daun katuk (Saropus androgynus) yang dicampur dengan bahan pakan mampu menurunkan kadar lemak dalam ayam petelur dan ayam pedaging.

"Penelitian yang kami lakukan membuktikan penambahan ekstrak daun katuk pada bahan pangan ayam petelur mampu menurunkan kadar lemak sebesar 40 persen," katanya di Bengkulu, Selasa (6/9).

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk juga meningkatkan produksi telur dan warna kuning telur.

Pemberian ekstrak daun katuk untuk pakan ayam petelur sebanyak sembilan gram untuk setiap satu kilogram pakan ternak ayam.

Sementara untuk ayam pedaging jenis broiler, pemberian ekstrak daun katuk sebesar 18 gram untuk setiap satu kilogram pakan mampu menurunkan kadar lemak hingga 25 persen.

"Penelitian tingkat kampus ini sudah pernah diterapkan pada peternak ayam petelur sebanyak 1.000 ekor dan ternyata mampu menghemat pakan hingga 15 persen," tambahnya.

Sedangkan bobot ternak tidak berbeda atau sama dengan ayam pedaging yang tidak menggunakan ekstrak daun katuk. Selain itu keunggulan lainnya adalah jumlah ternak yang bertahan hidup juga lebih tinggi serta lebih tahan terhadap penyakit yang sering menyerang unggas tersebut.

Namun, Profesor mengatakan penelitian ini masih berlanjut hingga ditemukan dosis atau kadar ekstrak daun katuk yang tepat untuk ayam petelur dan pedaging.

"Kami belum mengurus hak paten karena penelitian ini masih terus berlanjut hingga efek samping atau efek negatifnya seminimal mungkin," katanya.

Namun, kelebihan dosis ekstrak daun katuk pada ayam bisa mengakibatkan terganggunya metabolisme dan penyerapan unsur kalsium pada ayam. (Ant/OL-9)


MediaIndonesia

Senin, 15 Agustus 2011

13 Katak Bertaring Ditemukan di Sulawesi


Jim McGuire Katak ini meletakkan telur di dedaunan dan bukan di air, lalu menungguinya. Jenis ini adalah salah satu dari 9 spesies katak yang belu dikenal dunia ilmu pengetahuan sebelumnya.

KOMPAS.com - Ben Evans, pakar hewan dari McMaster University di Hamilton dan ilmuwan Indonesia menemukan 13 spesies katak bertaring di Sulawesi. Sejumlah 9 dari 13 spesies itu belum pernah ditemukan sebelumnya. Penemuan ini dilaporkan dalam jurnal The American Naturalist bulan ini.

Katak bertaring termasuk dalam genus Limnocetes, disebut bertaring karena memiliki tonjolan tulang di rahang bawah. Taring yang dimaksud bukan berarti gigi taring yang sebenarnya, sebab tak memiliki akar gigi atau ciri-ciri gigi lainnya.

Dalam papernya, Evans menulis, seluruh spesies katak bertaring yang ditemukan memiliki variasi adaptasi yang berbeda, sesuai kondisi lingkungan dan iklim mikro masing-masing, mulai dari yang terbasah hingga terkering dan dengan beragam vegetasi yang ada.

Beberapa spesies punya kaki berselaput tebal untuk beradaptasi dengan arus sungai yang deras. Sementara yang lain berselaput tipis, sesuai dengan lingkungan darat. Yang unik, ada katak yang melakukan fertilisasi internal, meletakkan telurnya jauh dari air dan mengawasinya.

"Penemuan ini menjadi contoh bagus bagaimana spesies pada akhirnya menggunakan taktik yang sama untuk survive dan melakukan diversifikasi ketika diberi kesempatan," kata Evans seperti dikutip CBCnews, Jumat (12/8/2011).

Evans mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian, tak ada genus katak lain di Sulawesi yang bisa berkompetisi dengan genus katak bertaring. Ini menjadi bukti bahwa katak bertaring berevolusi untuk mengisi kekosongan relung kehidupan yang ada di Sulawesi.

Sampai saat ini, ilmuwan belum mengetahui manfaat taring pada katak genus ini. Beberapa kemungkinan adalah sebagai senjata melawan pejantan lain untuk mempertahankan wilayah, menangkap mangsa seperti ikan dan serangga serta sebagai senjata melawan predator.

Untuk menemukan katak ini, Evans dan timnya harus melakukan ekspedisi di sepanjang sungai dan hutan dengan resiko gigitan ular berbisa. Hasilnya, ada 683 ekor katak yang berhasil ditangkap. Peta distribusi katak lalu dibuat, sekaligus perbandingan ciri katak dengan lingkungannya.

Saat ekspedisi, Evans berusaha menangkap katak di hutan yang belum tersentuh illegal logging. Namun, ia mengatakan, "Ada banyak hutan dimana kami mengambil sampel yang kemudian hilang ketika kami mengunjunginya beberapa tahun kemudian."

Sejauh ini, Evans mengatakan belum ada dari spesies yang ditemukan punah. Tapi ia mempercayai, distribusi katak-katak tersebut telah berkurang. Perlu usaha pelestarian lingkungan untuk menjaga katak-katak ini tetap eksis.


KOMPAS

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More