blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label Lundin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lundin. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Agustus 2025

[Video] KSR X33, Kapal Cepat Rudal Siluman

 Diposkan North Sea Boats Kapal Sebu Ringan (KSR) X-33 Lundin (John Lundin)

KSR  X-33 adalah kapal rudal siluman berkecepatan tinggi dengan panjang 19 meter dan memiliki lambung dengan draft rendah, dirancang sebagai platform tempur rudal serbaguna untuk wilayah pesisir, yang dioptimalkan untuk kondisi geografis kepulauan Indonesia yang kompleks.

Dengan kecepatan maksimum lebih dari 50–55 knot serta kemampuan manuver tinggi hasil dari pemodelan Computational Fluid Dynamics (CFD) yang ekstensif, KSR X-33 direkayasa untuk menjalankan operasi tersembunyi di balik pulau-pulau terluar, memberikan perlindungan langsung di titik-titik strategis maritim di seluruh jaringan kepulauan Indonesia.

Sistem canggih yang dimilikinya—termasuk perangkat optronik mutakhir, sistem pertahanan anti-drone, UAV yang siap pakai dan dapat dioperasikan langsung dari kapal, serta sepasang rudal anti-kapal jarak jauh—menjadikannya aset tangguh untuk operasi multi-domain.

  Berikut video dari Youtube : 


   🎥  Youtube  

Selasa, 26 Agustus 2025

PT Lundin Tampilkan Kapal Serbu Ringan X-33

 Siap menjalani sea trial di Laut Kapal Sebu Ringan (KSR) X-33 produksi Lundin melaut diperairan Banyuwangi (Lundin/IMI)

PT Lundin baru-baru ini menampilkan kapal serang rudal (KSR) X-33 di laut.

Kapal ini merupakan kerjasama PT Lundin, PAL dan Kongsberg Norwegia. Proyek ini dimulai pada pameran Indo Defence 2022 dengan menanda tangani MoU.

Dari media X Medef diberitakan Kapal Serbu Ringan KSR/X33 buatan PT Lundin resmi rampung dan siap menjalani sea trial dalam beberapa hari ke depan.

Dengan kecepatan hingga 55 knot dan persenjataan rudal anti-kapal NSM, kapal ini digadang-gadang akan menjadi salah satu kapal rudal tercepat TNI AL, menjadi salah satu alutsista paling mematikan untuk operasi yang membutuhkan kecepatan.

Spesifikasi KSR/X-33 adalah kapal dengan panjang 20 meter, lebar 4 meter, dan bobot 33 ton. Dirancang untuk operasi kecepatan tinggi, kapal ini ditenagai oleh dua mesin diesel 2.000 HP yang menggerakkan waterjet, memungkinkan kecepatan maksimum hingga 55 knot dan kecepatan jelajah 30 knot. Kapal ini memiliki jangkauan 990 kilometer pada kecepatan 9 knot, cocok untuk misi patroli jarak jauh.

Dikembangkan untuk memenuhi persyaratan TNI Angkatan Laut akan platform serang respons cepat, KSR nantinya dipersenjatai dengan dua peluru kendali anti kapal NSM (Naval Strike Missile) dan dilengkapi dengan Stasiun Senjata Kendali Jarak Jauh (RCWS) dan perangkat tindak balas (counter measure).

Namun karena rudal NSM cukup mahal harganya, seperti KRI Golok-688, nantinya akan digantikan rudal Turkiye yang akan diproduksi lokal atau rudal produk China, bila jadi di akuisisi TNI AL.

GBP mengungkapkan kapal ini juga dirancang untuk mendukung operasi angkatan laut modern, dengan kapasitas untuk mengerahkan dan mengoperasikan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan Unmanned Surface Vehicle (USV) untuk tugas pengawasan dan pengintaian.

  👷 
Garuda Militer  

Selasa, 05 November 2024

PT Lundin Perlihatkan Progres Pembangunan Kapal Serang Ringan

🚀 Dibekali rudal antikapal NSMModel kapal serbu ringan pada Indo Defense 2022 (Airspace Review)

North Sea Boats atau dikenal juga sebagai PT Lundin Industry Invest (PT Lundin) memamerkan foto mengenai progres pengembangan Kapal Serang Ringan (KSR) barunya. Kapal ini nantinya dapat dibekali rudal antikapal NSM.

Seperti diketahui sebelumnya, di pameran Indo Defence 2022 PT Lundin memajang model skala dari KSR.

Dalam pengembangan KSR ini, PT Lundin yang berpengalaman dibidang teknologi komposit, bermitra dengan PT PAL Indonesia (PT PAL) yang bertindak sebagai lead integrator.

Kolaborasi tersebut semakin menguat dengan melibatkan mitra global yang memiliki pengalaman kuat dalam sistem persenjataan yaitu perusahaan Kongsberg Defence & Aerospace (KDA) asal Norwegia.

Khusus kerja sama strategis dengan KDA ini akan berfokus pada bidang integrasi sistem, sensor, dan persenjataan pada KSR.

Proses pembangunan lambung kapal serbu ringan di Lundin (North Sea Boats)
Untuk spesifikasinya, KSR memiliki panjang sekitar 20 m, dengan displacement seberat 33 ton.

Kapal dapat dibekali persenjataan maut berupa dua tabung rudal antikapal NSM (Naval Strike Missile).

Rudal NSM berdimensi panjang 3,95 m, berat 410 kg, dan berhulu ledak 125 kg. Rudal disokong oleh solid fuel rocket booster dan Microturbo TRI-40 turbojet.

Rudal dapat meluncur dengan kecepatan subsonik, dibekali sistem pemandu Inertial, GPS, terrain-reference navigation, dan imaging infrared homing. Jangkaun tembaknya mencapai 185 km.

Menarik dinantikan, akankah prorotipe KSR ini akan tampil di pameran pertahanan Indo Defence yang akan berlangsung pada tahun 2025 mendatang? (RBS)

  👷
Airspace Review  

Sabtu, 06 Januari 2024

Mampukah N219 Amphibious Sukses di Pasaran?

  🛩NMiniatur pesawat N219 Amphibi (Info Penerbangan) 🛩

INDUSTRI dirgantara Tanah Air selangkah lagi menapaki babak baru. N219 Amphibious karya PT Dirgantara Indonesia (DI) pada pertengahan 2024 nanti akan menjalani uji coba. Diperkirakan uji coba pesawat turunan N219 tidak menemui hambatan, sebagaimana halnya dijalani N219. Bila tahapan tersebut bisa dilalui, maka pesawat tersebut bisa diproduksi secara massal dan dioperasionalkan secara komersil. Uji coba N219 Amphibious tentu mengarah pada kemampuan take off maupun landing di perairan laut.

Sebagai pesawat amfibi, pesawat 100 persen rancangan anak bangsa ini dilengkapi dengan float atau pengapung sebagai pengganti roda untuk pendaratan di atas air. Untuk pengembangan komposit float tersebut, Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) bekerja sama dengan sejumlah pihak, dan merangkul PT Lundin Industry Invest untuk memproduksinya.

Selain bisa mendarat di air, pesawat ini juga mampu mendarat di darat karena di dalam float terdapat roda pendarat (landing gear). Piranti ini bisa dikeluarkan pada saat melakukan pendaratan di darat, dan disimpan saat mendarat di air. Dengan demikian, pesawat ini sangat multi fungsi dan dapat beroperasi di lebih banyak medan.

Untuk pengembangan pesawat amfibi ini, sejak 2018 Lapan berkolaborasi dengan PT DI dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Kerja bareng ini dilakukan dengan melakukan feasibility study -baik berupa survei untuk pengoperasian pesawat amfibi, marketing, dan engineering.

Sedangkan BPPT digandeng untuk melakukan pengujian model pesawat amfibi yang telah dirancang. Pengujian yang dilakukan berupa wind tunnel test dan hydrodynamic test team. Untuk membangun prototipe N219 Amphibious ini dianggarkan dana sebesar Rp 210 miliar. Selain untuk membuat prototipe pesawat, dana juga diarahkan untuk melakukan sertifikasi standar internasional, sehingga nantinya N219 Amphibious bisa dikomersialisasi secara global.

Sebelumnya, sang kakak - N219 yang diberi nama Nurtanio- telah melewati beberapa materi uji dinamis critical pada proses sertifikasi pesawat angkut ringan. Materi dimaksud meliputi uji one engine out (salah satu mesin dimatikan), uji flutter (model separuh sayap), serta uji stall (kemungkinan pesawat kehilangan daya angkat).

Guna pelaksanaan sertifikasi tersebut, PT DI telah membuat 4 pesawat N-219 untuk dipergunakan pada pengujian. Perinciannya, 2 pesawat dibuat untuk uji darat dan 2 pesawat lainnya untuk uji terbang. Selanjutnya, N219 telah melalui tahap akhir pengujian berupa uji terbang yang dilakukan pilot Kementerian Perhubungan untuk membuktikan bahwa pesawat N219 aman.

Bersyukur, semua tahapan tersebut berhasil dilalui dengan sempurna. Untuk N219 Amphibious, sebelumnya sudah mendapat sertifikasi, namun hanya berstandar nasional. Agar bisa dikomersialkan secara global, juga harus mendapat sertifikasi internasional dari The Federal Aviation Administration (FAA).

Walaupun mengalami keterlambatan, pengembangan N219, termasuk versi amfibi, berjalan lancar. Sejak awal PT DI sudah mengumumkan ratusan pesawat sudah dipesan, terutama dari kalangan pemerintah daerah. Begitupun pengembangan N219 Amphibious tentu berasal dari perhitungan ekonomi yang matang. Benarkah hadirnya N219 Amphibious untuk menjawab kebutuhan pasar? Dan apakah pesawat berpenumpang 19 itu akan laris manis di pasaran?

 Pertimbangan Pasar Realistis
Pengembangan pesawat N219 merupakan bagian dari tanggungjawab Lapan sebagai pemegang amanah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2018 tentang Kebijakan Industri Nasional dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

Dibanding produk yang dikembangkan PT DI sebelumnya, yakni N245, maka N219 terkesan tidak ambisius. Paling tidak hal tersebut dilihat dari ukuran pesawat yang jauh lebih kecil. Keputusan bisnis yang diambil untuk memproduksi N219 dan N219 Amphibi mengindikasikan PT DI memilih realistis mengeluarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar negeri ini.

Dalam marketing, keputusan produksi secara sederhana mengacu pada tiga pertimbangan, yakni segmenting, targeting, dan positioning atau lazim disingkat STP. Model pemasaran dilakukan dengan pentahapan, yakni melakukan segmentasi pasar, menargetkan segmentasi pasar yang diyakini paling menguntungkan, serta memposisikan produk yang dijual dengan cara paling bernilai.

Bagaimana operasionalisasi STP tersebut? Untuk segmentasi pasar, keputusan diambil mempertimbangkan kondisi demografis, geografis, psikografis, dan perilaku. Adapun targeting mengarah pertimbangan ukuran segmentasi pasar, profitabilitas, aksesibilitas, fokus pada manfaat, dan ada perbedaan terukur antar-segmen. Sedangkan positioning mempertimbangkan penawaran solusi, identifikasi unique selling proposition, dan membuka kampanye spesifik pada segmentasi target pasar.

Bila dipahami, pemasaran STP ini mengarah pada auidens, bukan produk. Model ini fokus memilih segmen yang paling bernilai dalam bisnis. Dengan begitu, pengembangan produk bisa dilakukan dengan identifikasi peluang pertumbuhan pasar lebih tepat, mengalokasikan sumber daya secara efektif dan efisien, dan membuat perusahaan lebih kompetitif.

Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan saat berbicara pada Indonesia Development Forum (IDF) 2023 yang diselenggarakan Kementerian PPN RI/Bappenas di Radisson Golf & Convention Center Batam, Kepulauan Riau, menekankan bahwa pengembangan pesawat N219, khususnya N219 Amphibious, diarahkan untuk peningkatan konektivitas antarpulau di Indonesia. Dengan begitu, kehadiran N219 Amphibious dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, serta penyebaran pusat-pusat pertumbuhan ke wilayah yang belum berkembang.

Saat memutuskan mengembangkan N219 Amphibious pada 2018, Lapan bekerja sama dengan PT DI dan BPPT telah melakukan feasibility study, baik berupa survei untuk pengoperasian pesawat amfibi, marketing, dan engineering. Lapan ingin mengembangkan pesawat yang mampu berperan multi fungsi. Karena itulah, dikembangkan N219 Amphibious yang bisa memenuhi kebutuhan dimaksud karena kemampuan amfibinya. Bukan hanya untuk kebutuhan penumpang dan kargo, tapi untuk keperluan militer dan disaster relief aircraft.

Lapan merancang N219 Amphibious melayani rute penerbangan jarak pendek, sehingga cocok sebagai transportasi antar daerah dengan wilayah kepulauan. Pesawat ini juga menjadi solusi kondisi landasan bandara tidak mulus karena pesawat ini mampu lepas landas dan mendarat di air. Karena itu, pesawat ini diyakini akan tepat manfaatnya bagi daerah terpencil atau pulau-pulau kecil di Indonesia yang tidak mempunyai landasan udara.

 Potensi Kebutuhan
Feasibility study yang dilakukan Lapan bersama BPPT dan PT DI, termasuk di antaranya dari sisi marketing, menunjukkan keputusan membangun N219 Amphibious ini berdasarkan keyakinan pesawat jenis ini sangat dibutuhkan masyarakat atau audiens di Tanah Air dan berpotensi diserap pasar secara luas. Pesawat N219 Amphibious cocok dengan karakteristik geografi Nusantara dan demografi yang tersebar di pulau-pulau terpencil.

Secara keseluruhan N219 telah memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 44,69 persen, sesuai Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

Diperkirakan, harga yang dibanderol mencapai USD 6,8 juta untuk N219 dan USD 8 juta dolar untuk N219 Ampibhious. Jika dirupiahkan dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang saat ditulis sebesar 15,475.623, maka harga N219 Amphibious adalah sebesar hampir Rp 124 miliar, sedangkan harga N219 adalah sekitar Rp 105 miliar. Rencana awal, pesawat bisa dijual pada kisaran USD 5 – 6 juta per unit. Harga ini relatif lebih murah dibandingkan dengan kompetitor, yakni pesawat Twin Otter buatan Kanada yang dipatok sekitar USD 7 juta per unit.

Untuk diketahui, N219 Amphibious memiliki kecepatan hingga 296 km per jam pada ketinggian maksimal 10.000 kaki. Dengan beban 1560 kg, pesawat mampu menempuh jarak hingga 231 km, take-off untuk ketinggian 35 kaki dari darat membutuhkan jarak 500 meter, sedangkan dari air membutuhkan jarak hingga 1.400 meter. Adapun untuk landing dari ketinggian 50 kaki, N219 Amphibious membutuhkan jarak 590 meter untuk di darat, dan 760 meter untuk di laut. Dengan kemapuan take off dan landing di air, N219 Amphibious tidak membutuhkan landasan udara, namun sekadar water based port.

Baik N219 maupun N219 Amphibious memiliki keunggulan karena desainnya mengacu pada teknologi tahun 2000-an, sedangkan kompetitor desainnya adalah teknologi tahun 1960-an. Pesawat ini dapat dikendalikan dengan kecepatan rendah, yaitu 59 knot, hingga dapat dapat mendarat dalam jarak pendek di landasan sepanjang 600 meter. Untuk diketahui, N-219 menggunakan mesin PT6-42A, 850 shaft horse power (shp) buatan Kanada, baling-baling Hartzell buatan AS, dan sistem avionic Garmin 1000 buatan AS. Piranti tersebut dianggap terbaik di bidangnya dan efisien pemeliharaan.

Berdasar spefikasi kemampuan tersebut, N219 Amphibious sangat cocok melayani kebutuhan wilayah kepulauan yang tidak memiliki landasan udara. Berdasar penjelasan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa, banyak daerah di Tanah Air memiliki potensi menggunakan pesawat ini seperti Danau Toba, Pulau Bawah Kepri, Pulau Derawan Kaltim, Raja Ampat, Wakatobi, dan Pulau Moyo.

Selain menarget pemerintah daerah dan perusahaan swasta untuk melayani layanan mobilitas wilayah kepulauan, Kementerian Pertahanan juga membutuhkan pesawat jenis ini untuk menjaga kedaulatan wilayah NKRI. Selain itu, pesawat jenis sama juga dibutuhkan negara lain yang memiliki spesifikasi gografis serupa. Berdasar data, seperti di kawasan Asia Pasifik, terdapat 150 unit pesawat aktif, dan 45% dari total populasi tersebut telah memasuki masa aging.

Melansir laman resmi pemerintah indonesia.go.id, N219 Amphibious bisa dimanfaatkan untuk berbagai sektor, seperti layanan pariwisata, layanan perjalanan dinas pemerintahan, oil and gas company, layanan kesehatan masyarakat, SAR dan penanggulangan bencana, dan pengawasan wilayah maritim.

Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan juga menyampaikan bahwa pesawat N219 Amphibious memainkan peran penting dalam memenuhi seluruh rute perintis di wilayah Indonesia seperti Kepulauan Riau secara optimum, untuk membuka akses dan menjangkau pulau-pulau kecil yang belum memiliki bandara/airstrip, serta membuka peluang pengembangan pariwisata dan kekayaan alam laut di pulau-pulau kecil tersebut.

Dia lantas membeberkan, saat ini tercatat sebanyak 8 unit populasi pesawat amfibi di Indonesia. Sedangkan potensi kebutuhan pesawat amfibi di Indonesia dalam 10 tahun kedepan sebanyak 54 unit dan kebutuhan tersebut direncanakan dapat dipenuhi oleh pesawat N219 Amphibious.

Secara teori dan potensi, baik N219 maupun N219 Amphibious memang sangat besar. Untuk N219 misalnya, PT DI sejak awal sudah gembar-gembor sejumlah pemeritah daerah, perusahaan penerbangan Aviastar dan Trigana Air, perusahaan logistik, dan bahkan negara sahabat seperti Kroasia, Laos, dan Thailand sudah menyampaikan minatnya.

Jumlah total N219 yang diminati mencapai ratusan unit. Bahkan pada ajang Indo Defence 2022, PT DI menandatangani kontrak jual beli 11 pesawat N219 dengan PT Karya Logistik Indotama (PT KLI). Sedangkan Kementerian Pertahanan disebut PT DI telah memesan 10 unit pesawat N219, dan teranyar TNI AD memesan 10 unit.

Demi merespons pesanan, sejak awal PT DI menargetkan produksi N-219 pada 2017 rata-rata 6 unit per tahun, lalu pada 2018 sebanyak 10 unit per tahun. Pada 2019 ditingkatkan sebanyak 18 unit per tahun, dan maksimal adalah 20 unit per tahun dengan melihat pula kebutuhan pasar. Dengan kapasitas produksi saat ini, pengerjaan dan pengiriman pesawat dilakukan secara bertahap selama 44 bulan sejak pengukuhan kontrak. Pesawat pertama rencananya diselesaikan setelah bulan ke 24, Selanjutnya PT DI melakukan pengiriman tiap 4 bulan.

Memang masih tanda tanya apakah kontrak pembelian tersebut sudah efektif atau belum mengingat hingga tahun 2023 hampir berakhir belum ada kabar pengiriman N219 ke pembeli, padahal rencana produksi sudah dirancang sejak 2017. Mungkin pula marketing N219 terkendala pandemi, hingga mengalami penundaan. Tentu diharapkan pesanan benar-benar diikuti dengan transaksi.

Namun bila ada kendala skema pembiayaan, PT DI tentu harus bekerja keras untuk meyakinkan perbankan atau lembaga keuangan agar bisa menjembatani transaksi. Sedangkan jika terbentur mahalnya harga satuan N219 atau N219 Amphibious, maka PT DI harus berupaya meningkatkan TKDN hingga 60 persen seperti ditargetkan.

Langkah membentuk laboratorium DO-160 yang digagas Lapan tepat untuk mendorong industri lokal dapat mengadakan uji berkali-kali bila melakukan litbang suku cadang N219 atau N219 Amphibious dengan biaya yang murah. Industri komponen lokal harus bisa mengisi kebutuhan karpet, kursi pesawat, peralatan navigasi dan lainnya.

Di sisi lain, untuk memperluas potensi pasar, PT DI perlu lebih banyak mengedukasi perusahaan penerbangan atau logistik dalam negeri, serta pemerintah daerah agar memahami pentingnya pembelian N219 dan N219 sebagai solusi mobilitas efektif di wilayah mereka.

Sedangkan untuk memperluas pasar global, PT DI perlu memperkuat kerjasama dan kolaborasi, seperti dilakukan dengan Turkish Aerospace dan Linkfield Technologies China. Bahkan untuk perusahaan China tersebut sudah meneken komitmen untuk berkolaborasi dan telah memesan N219 unit di selsa The Aera Asia 2023 di Zuhai International Airshow Center, China.

Potensi pemasaran N219 Amphibious tentu tidak kalah dengan N219. Bila melihat feasibility study yang dilakukan Lapan bersama BPPT dan PT DI, maka semua orientasi marketing STP terpenuhi.

Dengan kata lain kehadiran N219 Amphibious memang sangat dibutuhkan audiens dan mampu menjadi solusi mobilitas orang dan barang di Tanah Air. Apalagi data menyebut populasi pesawat amfibi di Indonesia masih sangat terbatas, yakni 8 unit. Sedangkan proyeksi untuk kebutuhan 10 tahun ke depan sebanyak 54 unit.

Begitupun potensi pasar global terbuka lebar. Seperti di kawasan Asia Pasifik saat ini terdapat 150 unit pesawat aktif, dan 45% di antaranya telah memasuki masa aging. Tak kalah pentingnya, N219 Amphibious dibangun dengan teknologi teranyar. Semoga harapan N219 Amphibious lari manis di pasaran menjadi kenyataan. (*) (hdr)
 

  🛩
sindonews  

Senin, 22 Mei 2023

Tiga KRI Ikuti Ajang LIMA 2023 Malaysia

⚓ Buatan Dalam Negeri KRI Golok-688. (TNI AL)

Tiga unsur Kapal Perang Repuplik Indonesia (KRI) TNI AL jajaran Koarmada I yang tergabung dalam Satgas Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition (LIMA) tahun 2023 di Malaysia, tiba di Dermaga Lantamal I, Belawan, Medan, Kamis 18 Mei 2023.

Tiga KRI tersebut yakni KRI Kerambit-627 dikomandani Letkol Laut (P) Priyanto Widodo, KRI Halasan-630 dikomandani Letkol Laut (P) Irwin Kurniady dan KRI Golok-688 dikomandani Letkol Laut (P) Putu Agus Hariyanto.

Pada kegiatan LIMA 2023 yang digelar tahun ini, keikutsertaan TNI AL selain untuk mempererat hubungan bilateral dengan negara penyelenggara dalam hal ini Malaysia, sekaligus menjalin hubungan multilateral dengan negara-negara peserta LIMA 2023 yang hadir pada kegiatan tersebut. LIMA 2023 akan digelar dari tanggal 22 - 28 Mei 2023 di Langkawi, Malaysia.

KRI Halasan 630 sandar di Belawan. (Koarmada I)

Pada rangkaian kegiatan tersebut, Satgas TNI AL akan ikut serta di berbagai kegiatan. Para prajurit akan menampilkan berbagai tari khas daerah dari Indonesia, festival makanan yang menyajikan berbagai makanan tradisional Indonesia, fleet review, demo Visit Board Search and Seizure (VBSS) dari Komando Pasukan Katak TNI AL, hingga terlibat pada Farewell Pass dengan seluruh Angkatan Laut negara lain.

Komandan KRI Kerambit-627 selaku Dansatgas LIMA 2023 Letkol Laut (P) Priyanto Widodo menyampaikan kegiatan Langkawi International Maritime and Aerospace (LIMA) 2023 merupakan salah satu bentuk kegiatan Show of Force dan Gun Boat Diplomacy, dengan menampilkan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsita) yang mampu diproduksi di dalam negeri karya anak bangsa, TNI AL diharapkan dapat memberikan deterrent effect atau efek penangkalan terhadap niatan bermusuhan maupun ancaman dari negara lain.
 

  💂
 Koarmada I  

Sabtu, 05 November 2022

PT PAL Indonesia Kembangkan Produk Kapal Perang Baru dengan Teknologi Modern

⚓️ Jenis kapal serang ringanPenandatanganan kerjasama antara PT PAL Indonesia, Kongsberg, dan PT Lundin (PAL Indonesia)

Setelah sukses dengan pengembangan produk Fast Patrol Boat (FPB) hingga Kapal Cepat Rudal (KCR), kini PT PAL Indonesia sebagai lead integrator menggandeng galangan kapal nasional dalam mengembangkan produk kapal perang terbaru dengan jenis Kapal Serang Ringan (KSR).

Negara kita adalah negara kepulauan yang memiliki banyak wilayah perairan untuk dipastikan keamanannya, tentunya bukan hanya untuk kapal-kapal besar. Tapi kapal kecil yang berkecepatan tinggi, mampu mengakses wilayah perairan dangkal, dan memiliki kemampuan tembak yang besar” terang CEO PT PAL Indonesia Bapak Kaharuddin Djenod.

Bapak Kaharuddin Djenod CEO PT PAL Indonesia pada hari kedua Indodefence 2022, melakukan penandatanganan MoU dengan mitra strategis asal Norwegia yakni Kongsberg, yang diwakili oleh Frank Tveiten sebagai Vice President Naval Systems. Dalam memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, PAL juga mengajak galangan kapal nasional PT Lundin Invest, yang diwakili oleh John Lundin selaku CEO.

Miniatur desain missile boat Lundin dengan rudal NSM (jaas)

Maka KSR atau Kapal Serang Ringan yang memiliki displacement seberat 33 Ton, dikembangkan melalui kerjasama antara 3 perusahaan yakni PAL, Kongsberg, dan Lundin. Kerjasama ini akan menghasilkan suatu produk yang diharapkan menjadi terobosan bagi pertahanan laut Indonesia, dengan panjang sekitar 20 meter namun memiliki kemampuan persenjataan yang tangguh. Maka KSR ini akan menjadi garda terdepan bagi strategi maritim secara keseluruhan” tutupnya CEO PAL pada kesempatan tersebut.

Memahami akan besarnya potensi pasar dalam negeri akan kebutuhan Alutsista yang menjalankan misi pemukul utama, PT PAL Indonesia bersama PT Lundin Invest tengah mengembangkan desain Kapal Serang Ringan (KSR). Dengan track record Lundin bidang teknologi komposit, menjadikannya sebagai salah satu mitra strategis untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Selain itu, kolaborasi semakin menguat dengan adanya mitra global yang memiliki proven experience pada system persenjataan yaitu Kongsberg, Norwegia. Kerjasama strategis ini akan berfokus pada bidang integrasi sistem, sensor dan persenjataan pada Kapal Serang Ringan (KSR).

  ⚓️
PAL Indonesia  

Rabu, 03 Agustus 2022

[Foto] Sea Trial Tank Boat

⚓️ North Sea Boats



  ⚓️ NSBl  

Selasa, 15 Februari 2022

[Video] KRI Golok 688 Handover Ceremony

⚓ Diposkan North Sea Boats14 Januari 2022, menjadi hari bersejarah dengan diserah terimakan KRI Golok 688 dari PT. LUNDIN ke TNI AL.

Kepala Staff Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Yudo Margono yang hadir dalam upacara tersebut juga mengukuhkan Letkol Primayantha sebagai komandan KRI Golok 688.
 


  🔅 Youtube  

Rabu, 09 Februari 2022

TNI AL Berencana Perkuat Armada Tempurnya dengan Rudal Naval Strike Missile

 Berdaya Tembak 250 km https://www.tnial.mil.id/brt/img/IMG-20220209-190716.jpeg[TNI AL]

TNI AL berencana akan memperkuat armada tempurnya dengan Rudal (Peluru Kendali) Naval Strike Missile yang sangat cocok untuk kapal-kapal perang milik TNI AL karena memiliki daya tembak sejauh 250 km.

Hal ini terungkap saat Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono mengadakan rapat paparan dengan PT. Lundin Industries Invest, Kongsberg Deffence & Aerospace AS dan PT. Datareka Integrasia di Wisma Elang Laut (WEL) Jl Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Rabu (9/2).

Rapat yang memaparkan tentang Naval Strike Missile, Upgrade KRI Golok dan pengadaan Fast Missile Boat tersebut dihadiri oleh John Lundin (Presdir PT.Lundin), Lizza Lundin (Direktur PT. Lundin), Cecilia Siby (Presdir PT. Datareka Integrasia), Diny Rosyada (Managing Director PT. Datareka Integrasia), Coster Bjorn Verner (Managing Director-Kongsberg) dari Norwegia, dan Skorge Arild (Business Development Manager-Kongsberg) Norwegia.

Di hadapan Kasal, Wakasal, Aslog Kasal, Kadisadal dan Koorsmin Kasal yang hadir dalam rapat tersebut, Mr. Arild menjelaskan bahwa spesifikasi Naval Strike Missile sangat cocok untuk TNI AL karena bisa mencakup daya tembak 250 km, mudah digerakan ke tempat terkecil yang tidak terlihat dan misilnya dikendalikan dari kapal utama.

  120 Fast Missile Boat untuk TNI AL 
https://img.antaranews.com/cache/infografis/1140x2100/2021/09/30/20210930tank-boat-antasena-01.jpg?quality=100Tank boat Antasena, mempunyai panjang 19 meter dengan kecepatan tinggi [antara]

Misil-misil tersebut akan dibawa dengan Fast Missile Boat yang berukuran kecil, memiliki panjang 19 meter, lebar 4 meter dengan kecepatan 55 Knot sehingga lebih efektif jika digunakan dalam pertempuran karena kecil, taktis, sulit dideteksi musuh dan sulit diserang rudal exocet namun sangat mematikan.

Fast Missile Boat yang memiliki bobot 33 ton tersebut berkemampuan layar 500 miles dengan 6 awak kapal dan bekal selama 2 minggu. Hebatnya lagi, Fast Missile Boat tidak bersuara, tidak terdeteksi radar dan mampu bergerak cepat.

Sedangkan cara mengoperasikan rudal tersebut adalah dengan terlebih dahulu mengambil foto target dan lokasinya menggunakan infra merah, kemudian data infra merah tersebut dimasukan dalam data sistem persenjataan, lalu eksekusi penembakan dilaksanakan dari komando yang berasal dari kapal utama.

Fast Missile Boat tersebut bisa dimuatkan ke dalam kapal utama sejumlah 6 boat atau dapat berlayar secara mandiri.

Naval Strike Missile ini sudah digunakan oleh Amerika Serikat di Laut Cina Selatan dan selalu efektif mengenai sasaran tanpa bisa dicounter.

https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2021/08/21/peluncuran-kri-golok-produksi-dalam-negeri-2_169.jpeg?w=700&q=90Kemenhan RI sangat tertarik dengan Fast Missile Boat ini dan berencana akan pengadaan sebanyak 120 Fast Missile Boat untuk TNI AL. Terkait hal itu, Kasal akan mengikuti arahan Kemenhan dalam pengadaan Fast Missile Boat tersebut.

Untuk menguji kemampuannya, Kasal berkeinginan agar Naval Strike Missile bisa diujicobakan ke KRI Golok di Laut China Selatan dengan jarak sasaran 250 km sesuai spesifikasi misil tersebut.

TNI AL akan membantu fasilitas pengamanan dan target sasaran penembakan dalam rangka latihan, sementara dari pihak PT Kongsberg menyediakan misil yang akan dites dan sistem penembakannya.

Oleh karena sistem persenjataan Fast Missile Boat ini belum pernah digunakan oleh TNI AL, maka Kasal meminta perwakilan PT Kongsberg dari Norwegia tersebut melaksanakan paparan kembali di hadapan Pangkoarmada RI, Pangkoarmada I, II dan III serta para Komandan Kapal pada esok hari (10/02) di tempat yang sama.

Hal tersebut diperlukan agar para generasi penerus, Pangkoarmada RI, Pangkoarmada I, II dan III serta para Komandan KRI dan perwira staf terkait dapat memberikan kritik dan masukan.

 
TNI AL  

Jumat, 14 Januari 2022

KSAL Resmikan Dua Kapal Perang Perkuat TNI AL

 Kapal BRS dr Wahidin Sudirohusodo 991 dan KRI Golok 688 Dua KRI diresmikan di dermaga ujung Surabaya [jawa pos]

D
ua Kapal Republik Indonesia (KRI) diresmikan dengan upacara peresmian dan pengukuhan komandan KRI Jumat (14/1) di Dermaga Ujung Madura Koarmada II Surabaya. Dua kapal itu adalah KRI dr Wahidin Sudirohusodo 991 dan KRI Golok 688.

Peresmian dua KRI itu diharapkan dapat memperkuat armada TNI AL. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono meresmikan dua kapal itu secara langsung.

Kapal pertama yang diresmikan adalah Kapal dr Wahidin Sudirohusodo 991. Kapal itu merupakan kapal RS ketiga yang dimiliki TNI AL sebelumnya. Yakni KRI dr Soeharso 990 dan KRI Semarang 594.

Kapal dr Wahidin Sudirohusodo 991 memiliki spesifikasi yaitu LOA 124 meter lebar 22 meter, draught 5 meter, displacement 7.300 ton, max speed 18 knot, cruising speed 14 knot, endurance 30 hari, serta operation range 10.000 Nm,” papar Yudo.

Sedangkan KRI Golok 688 merupakan kapal cepat rudal (KCR) trimaran. Kapal yang diberi nama dengan senjata tradisional Indonesia itu memiliki spesifikasi LOA 62,53 meter, moulded length 60,77 meter, beam overall 16 meter, water draft 1,17 meter, dan air draft 18,7 to top of max structure.

Yudo mengatakan, 2 kapal tersebut diproduksi perusahaan dalam negeri. Untuk KRI dr Wahidin Sudirohusodo 991 diproduksi PT PAL. Sementara KRI Golok 688 diproduksi PT Lundin Industry Invest.

Kehadiran kapal RS itu disebut Yudo merupakan keniscayaan bukan lagi kebutuhan. Menurut Yudo, keberadaan KRI untuk RS sebagai persiapan dari ancaman yang makin kompleks.

Kapal RS ini dibutuhkan karena bantuan kemanusiaan serta penanggulangan bencana dari 1 pulau ke pulau lain melintasi perairan. Oleh karena itu, kapal RS memiliki multifungsi yang dibutuhkan banyak pihak,” tutur Yudo.

Sementara itu, Direktur Operasional PT PAL Iqbal Fikri menjelaskan, KRI dr Wahidin Sudirohusodo 991 memiliki beberapa spesifikasi. Di antaranya adalah memiliki alat X Ray.

Seluruh fasilitas masuk kategori RS tipe C. KRI dr Wahidin Sudirohusodo dilengkapi dengan poliklinik mata, gigi, ruang IGD, ruang operasi, unit radiologi, dan CT scan,” papar Iqbal.

Keistimewaan lain adalah stabilitas kapal yang baik untuk mendukung tindakan medis di atas kapal. Selain itu, terdapat 2 kapal ambulans dengan kemampuan kecepatan 28 knot. ”Ada juga heli deck sehingga. Bisa evakuasi cepat di wilayah yang sulit dijangkau,” ujar Iqbal.

  ★
Jawa Pos  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More