N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KRI Raden Eddy Martadinata 331

PKR 10514, Kapal frigat pertama produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Krait

Kapal patroli 40 m berbahan almunium alloy produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

Panser Canon 90mm

Kendaraan militer dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

PT44 Gudel

Kendaraan taktis militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Kamis, 31 Maret 2016

Filipina sudah ketahui lokasi penyanderaan WNI

http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/Fotona-Heli-Apache.jpgIlustrasi

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengungkapkan, pemerintah Filipina sudah mengetahui lokasi penyanderaan 10 awak kapal WNI oleh perompak yang diduga kelompok Abu Sayyaf di Filipina.

"Mereka (pihak Filipina) sudah tahu tempatnya. Nanti setiap saat saya akan koordinasi dan monitor," kata Panglima TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu.

Berdasarkan monitor dan koordinasi dengan tim di Filipina, lokasi penyanderaan sudah memasuki yurisdiksi Filipina.

Menurut dia, jika TNI diminta untuk membantu angkatan bersenjata Filipina, pihaknya akan selalu siap. Dia pun terus memantau dan berkoordinasi dengan pihak Filipina.

"Seperti disampaikan menteri luar negeri, prioritas kita menyelamatkan warga negara yang disandera," kata Gatot.

Ketika ditanya apakah benar TNI sudah menyiapkan pasukan di pangkalan di Tarakan, Panglima mengatakan semua personel TNI siap dan di Tarakan memang ada pangkalan TNI Angkatan Laut.

"Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di sana sedang melakukan persiapan kegiatan latihan setiap tahun. Di mana tempat latihannya, itu tergantung saya," jelas Jenderal bintang empat ini.

Kerja sama militer antara TNI dan Filipina, tambah dia, sangat baik dan terbuka.

Panglima TNI menjelaskan bahwa kelompok militan Abu Sayyaf mempunyai banyak pecahan yang terpisah di Filipina. "Kelompok Abu Sayyaf punya banyak faksi, sempalan mana sedang diteliti. Kita hanya bantu saja, ya tukar informasi," katanya.

Ia menambahkan, kapal Pandhu Brahma 12 berangkat dari Banjarmasin membawa batubara menuju Manila dengan dibantu kapal Tongkang. Namun di pertengahan jalan disandera kelompok Abu Sayyaf.

 Jalur lobi diyakini bisa selamatkan sandera WN

Anggota Komisi III DPR, Almuzzamil Yusuf, mengatakan, jalur lobi yang dilakukan secara baik oleh pemerintah dapat dijadikan upaya guna menyelamatkan 10 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf.

"Pemerintah harus tempuh upaya lobi untuk selamatkan 10 sandera, baik dengan cara lobi langsung, maupun via perantara," kata Yusuf, dalam pernyataannya, di Jakarta, Rabu.

Dia berpendapat, motif penyanderaan 10 WNI itu juga harus dicari tahu dengan seksama apakah murni hanya karena motif ekonomi atau ada alasan lain.

Namun yang jelas, ujar dia, keselamatan sandera harus menjadi prioritas, dan kasus tersebut juga menjadi peringatan bagi negara untuk menjaga warganya tidak mendatangi daerah tertentu yang berbahaya.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, menyampaikan, pemerintah tengah mengupayakan pembebasan 10 WNI yang menjadi sandera kelompok Abu Sayyaf, di perairan Filipina.

 Panglima TNI yang mengatur pembebasan WNI disandera 


Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Ade Supandi, kapal-kapal perang yang akan dikerahkan untuk pembebasan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf telah disiapkan. Panglima TNI yang mengatur operasi pembebasan sandera itu.

"Untuk pembebasan (WNI), panglima TNI yang mengatur, semua ada konsepnya. Pasukan elit sudah disiagakan," kata dia, di Padang, Sumatera Barat, Rabu.

Sebelumnya Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, mengatakan, Markas Besar TNI terus berkoordinasi dengan pemerintah Filipina dalam upaya pembebasan 10 WNI yang disandera oleh perompak kelompok Abu Sayyaf.

"Seperti telah disampaikan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, prioritas kita adalah menyelamatkan warga negara," katanya.

Menurut Nurmantyo, berdasarkan pemantauan dan koordinasi dengan tim dari Filipina, lokasi mereka ada di Filipina. "Mereka sudah tahu lokasinya, nanti setiap saat saya koordinasi, monitor, kemudian saya hanya menyampaikan apapun yang diperlukan pemerintah Filipina, kami siap," kata dia.

Ia mengatakan pihaknya sedang berkoordinasi terus, apapun yang mereka (Filipina) perlukan akan disiapkan.

"Negosiasi akan saya lakukan dengan panglimanya. Prioritas utama pemerintah adalah menyelamatkan WNI," kata dia.

Sementara, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, mengatakan, pasukan TNI sudah siap apabila tentara Filipina meminta bantuan Indonesia menangani perompak yang membajak dua kapal Indonesia dan menyandera 10 WNI.

"Saya rasa tentara sudah siap semua tinggal tergantung sana, karena rumah orang. Kalau dia (Filipina) bilang siap kita nonton saja, kalau dia minta bantuan kita tangani," katanya.

 BIN telah temukan lokasi tempat WNI disandera 


Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso memastikan pihaknya telah menemukan lokasi tempat 10 Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera oleh kelompok yang mengaku Abu Sayyaf di Filipina.

"Kita sudah tahu lokasinya, tentu beberapa opsi harus kita siapkan tetapi sekali lagi keselamatan sandera adalah prioritas utama," kata Sutiyoso di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan pihaknya dalam kapasitasnya sebagai badan intelijen bertugas memberikan informasi dan terus mencari informasi terbaru di lapangan.

Mantan Gubernur DKI itu juga mengaku terus memerintahkan jajarannya secara ketat untuk bekerja sama dengan intelijen Filipina dalam mengikuti perkembangan yang terjadi.

"Nah ini kita suplai terus ke pemerintah termasuk ke Panglima TNI, tadi malam saya juga ketemu," katanya.

Sutiyoso bahkan juga meminta bantuan media untuk memonitor dan tidak terlampau berlebihan menyiarkan pemberitaan.

Sementara terkait kondisi terkini 10 WNI yang menjadi sandera, ia memastikan masih dalam keadaan aman.

"Yah masih aman, cuma kita enggak tahu apa mereka dipencar atau tidak perlu diketahui," katanya.

Ia menjelaskan disamping WNI ada juga warga negara asing yang berjumlah setidaknya 11 orang dari Kanada, Belanda, Norwegia, dan Filipina.

"Tentu secara politis tidak mudah kita membuat opsi dengan cara serangan, itu tidak mudah karena ada aspek politis di samping aspek taktis," katanya.

Pemerintah Indonesia, kata dia, akan terus mengedepankan upaya negosiasi sampai setidaknya tenggat waktu 8 hari ke depan.

Terkait dengan penolakan tawaran bantuan dari Indonesia, Sutiyono mengatakan, kemungkinan hal itu karena pertimbangan harga diri dan reputasi.

"Yah memang mereka mungkin entah harga diri reputasi jadi pertimbangannya. Kita juga kalau ada penyanderaan di sini akan kita selesaikan sendiri karena itu kita perlu koordinasi kita lihat saja," katanya.


  ♚ antara  

★ “Kendaraan Intai Tempur” TNI Pakai Fin Komodo

https://2.bp.blogspot.com/-quQGmSUQSfQ/VvvjeZbA6iI/AAAAAAAArCQ/5EOUqutrkqIsylAf5hFiPJsfukr2uixTw/s400/2ce5378d-1c26-4b4f-bb95-bdbf62672553_43.jpgFin Komodo kendaraan taktis ringan (Fin Komodo)

Jadi salah satu prinsipal kendaraan lokal yang masih bertahan, PT Fin Komodo Teknologi (FKT), terus memperluas pasarnya. Masih menggunakan produk andalan, Komodo, kali ini pihaknya sedang dalam proses kerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Kerja sama antara FKT dan TNI, nantinya akan menelurkan “Kendaraan Intai Tempur” yang punya kualiatas menjelajah medan non-aspal. Produk belum diproduksi besar, karena sampai saat ini masih dalam tahap pengujian.

Memang untuk produk baru kami belum keluarkan lagi, namun saat ini kami sedang bekerja sama dengan Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD. Hanya tinggal melalui tahap uji terakhir, dijatuhkan dari pesawat, baru setelah itu akan berlanjut ke proses selanjutnya,” ujar Dewa Yuniardi, Marketing FKT, Selasa (29/3/2016).

Fin Komodo versi militer yang masih dalam proses uji coba.

Dewa melanjutkan, kerja sama yang dilakukan FKT dengan TNI tentu akan memberi keuntungan baik. Merek kendaraan nasional ini, nantinya bisa lebih dipercaya konsumen untuk dibeli.

Saat ini masih banyak yang masih ragu untuk membeli Komodo, pastinya terkait kepercayaan akan kualitasnya. Namun, jika kerja sama dengan TNI berhasil, maka ini bisa jadi batu loncatan untuk bisa semakin dipercaya. Seperti diketahui, TNI punya standar cukup tinggi,” tutur Dewa saat ditemui di pameran komponen INAPA di JIExpo Kemayoran, Jakarta.


  ♚ detik  

Rabu, 30 Maret 2016

Kelompok Abu Sayyaf Beri Batas Waktu Tebusan 10 WNI

Dibayarkan 8 AprilIlustrasi: Mindra Purnomo

Kelompok Abu Sayyaf memberikan ultimatum pembayaran tebusan bagi 10 WNI yang disandera. Tebusan mesti dibayarkan paling telat pada 8 April 2016.

Seperti dari dikutip media Filipina, Inquirer, Rabu (29/3/2016), ada video yang diposting di akun Facebook yang memiliki koneksi dengan militan yang menyebutkan bila pembayaran itu tak dilakukan maka sandera akan dibunuh. Para penyandera meminta tebusan 50 juta peso, atau sekitar Rp 15 miliar.

Pemerintah Filipina sendiri sudah menegaskan pihaknya menganut no-ransom policy.

Sementara pemerintah Indonesia sedang mengupayakan penyelamatan 10 WNI ini. Menlu Retno Marsudi menegaskan bahwa prioritas yang utama adalah keselamatan WNI.

10 WNI ini adalah awak kapal tug boat Brahma 12 yang menarik kapal tongkang Anand 12 yang berisi 7.000 ton batubara. Tugboat dilepaskan tetapi kapal Anand 12 dan 10 WNI disandera. (dra/dra)
Apa yang Filipina Perlukan Kami Siapinfografis

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo terus memantau perkembangan kondisi 10 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina. TNI tidak bisa melakukan tindakan sepihak karena kasus ini melibatkan dua negara.

"Kami terus lakukan koordinasi, apa pun yang mereka (Filipina) perlukan kami siap!" tegas Gatot usai menyerahkan SPT Pajak di Mabes TNI Cilangkap, Jaktim, Rabu (30/3/2016).

Gatot menegaskan, prioritas pemerintah RI saat ini adalah menyelamatkan 10 WNI yang disandera. Dia juga dapat informasi dari militer Filipina yang mengabarkan pihak militer sudah mengetahui lokasi yang diduga jadi tempat penyanderaan.

"Seperti disampaikan Menteri Luar Negeri, prioritas kita menyelamatkan warga negara. Kemudian sekarang berdasarkan monitor koordinasi militer Filipina, lokasi ada di negara Filipina, mereka sudah tahu tempat. Setiap saat kordinasi saya menyampaikan apa pun yang diperlukan kami siap, siap bagaimana pun ini urusan saya," ujarnya.

Gatot mengatakan pihaknya memiliki hubungan baik dengan militer Filipina. Dengan begitu, kedua negara akan melakukan koordinasi secara tepat untuk menyelamatkan 10 WNI tersebut.

"Kita kerja sama baik, terbuka, selama ini kita baik," ujarnya.

10 WNI disandera dalam perjalanan dari Banjarmasin ke Batangas, tak jauh dari Manila, Filipina. Penyanderaan diduga terjadi pada 26 Maret atau 28 Maret. Mereka membawa kapal tunda Brahma 12 yang menarik kapal ponton Anand 12 yang mengangkut 7.000 ton batubara. Kapal Brahma 12 ditinggalkan pembajak di Tawi-tawi, tapi kapal Anand 12 dan 10 ABK disandera kelompok Abu Sayyaf dengan permintaan tebusan 50 juta peso atau sekitar Rp 15 miliar. 10 WNI yang disandera adalah:

1. Peter Tonsen Barahama. Alamat Batu Aji, Batam.
2. Julian Philip. Alamat Tondang Utara, Minahasa.
3. Alvian Elvis Peti. Alamat Priok Jakarta Utara.
4. Mahmud. Alamat Banjarmasin Kalimantan Selatan.
5. Surian Syah. Alamat Kendari Sulawesi Tenggara.
6. Surianto. Alamat Gilireng Wajo Sulawesi Selatan.
7. Wawan Saputra. Alamat Malili Palopo.
8. Bayu Oktavianto. Alamat Delanggu Klaten.
9. Rinaldi. Alamat Makassar.
10. Wendi Raknadian. Alamat Padang Sumatera Barat. (rvk/nrl)
Polri Tunggu Izin Filipinafacebook kapten peter

Pemerintah Indonesia masih berkoordinasi dengan pemerintah Filipina untuk membebaskan 10 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Pihak kepolisian masih menunggu izin dari pemerintah Filipina untuk ikut melakukan tindakan terhadap Abu Sayyaf.

"Kami sedang menunggu koordinasi-koordinasi, apakah nanti pemerintah Filipina itu membolehkan kami ikut ke sana atau tidak," kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti di Balai Kartini, Jl Gatot Soebroto, Jaksel, Rabu (30/3/2016).

Badrodin menjelaskan sebenarnya yang lebih berwenang untuk melakukan pembebasan 10 WNI yang disandera adalah TNI. Apalagi, para WNI itu disandera di luar negeri.

"Kita sudah ada kesepakatan dengan TNI. TNI yang ke luar wilayah dan yang di wilayah kami. Ini kan adanya di luar wilayah Indonesia, TNI yang koordinasi," jelas Badrodin.

Jenderal bintang empat itu mengungkapkan, informasi yang diterima, para WNI dalam keadaan baik-baik saja. Soal uang tebusan Rp 15 miliyar yang diminta kelompok Abu Sayyaf, Badrodin menuturkan bahwa hal tersebut kewenangan perusahaan yang memperkerjakan para WNI itu.

"Informasi yang kami terima, mereka baik-baik saja. Kami nggak bisa (menebus), saya kira nggak bisa masuk dari situ. Itu serahkan saja pada pihak perusahaan," ungkapnya. (kha/aan)
Polisi Cari Celah untuk MenindakIlustrasi oleh Mindra Purnomo

Polri terus berkoordinasi dengan pihak pemerintah dan kepolisian Filipina terkait penyanderaan yang dilakukan kelompok Abu Sayyaf terhadap 10 WNI. Polri akan mencari celah untuk bisa menindak Abu Sayyaf.

"Kalau nanti ditangani ini juga bisa. Sudah banyak kasusnya. Hanya penindakannya kalau berada di wilayah luar kan tentu apakah nanti dilaksanakan oleh otoritas Filipina atau kami boleh membantu," kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jaksel, Rabu (30/3/2016).

Namun, Badrodin mengungkapkan polisi tidak bisa langsung datang ke Filipina. Polisi baru bisa datang ke Filipina setelah mendapatkan izin dari pemerintah setempat. "Kita sedang menunggu koordinasi-koordinasi, apakah nanti pemerintah Filipina itu membolehkan kita ikut ke sana atau tidak," jelas Badrodin.

Kelompok Abu Sayyaf telah memberikan ultimatum pembayaran tebusan bagi 10 WNI yang disandera. Tebusan sebesar 50 juta peso atau Rp 15 miliyar mesti dibayarkan paling telat pada 8 April 2016.

Meskipun begitu, Kapolri telah memastikan bahwa ke 10 WNI dalam keadaan baik-baik saja. (kha/aan)
Diduga Ada di Pulau JoloFoto: istimewa

10 WNI yang diculik kelompok Abu Sayyaf atau Abu Sayyaf Group diduga ada di Pulau Jolo, Filipina Selatan. Lokasi itu selama ini memang menjadi salah satu basis kelompok itu.

Informasi yang diperoleh, Kamis (30/3/2016), Pulau Jolo memang menjadi salah satu basis kelompok Abu Sayyaf. Pulau Jolo berada digugusan Kepulauan Sulu. Kawasan ini merupakan daerah otonomi khusus di mana sebagian besar penduduknya Muslim.

Salah seorang keluarga awak kapal Brahma 12 yang disandera sempat diberi informasi kalau para sandera ada di sebuah pulau dan ditempatkan di rumah kosong.

Upaya pembebasan para sandera kini tengah dilakukan. Penyandera meminta tebusan 50 juta peso atau sekitar Rp 15 miliar.

Pemerintah Indonesia sudah menegaskan akan memprioritaskan keselamatan para sandera. (dra/dra)

  detik  

Indonesia Siagakan Kekuatan Penuh di Tarakan

10 WNI Disandera Pemberontak FilipinaBAHAS PERSIAPAN OPERASI PEMBEBASAN SANDERA: Komandan Guspurla koarmatim Laksamana Pertama TNI. IN.G. Ariawan SE bersama Komandan Lantamal XIII Tarakan Laksamana Pertama Wahyudi H Dwiyono usai tiba di bandara Juwata Tarakan.

A
ngkatan perang Republik Indonesia (RI) kini siaga satu di Tarakan, Kalimantan Utara, untuk persiapan operasi pembebasan 10 warga negara Indonesia (WNI) yang ditawan kelompok pemberontak Filipina pimpinan Abu Sayyaf.

Untuk unsur laut, TNI Angkatan Laut menyiapkan lima kapal perang dilengkapi dengan pasukan elit Angkatan Laut. "Kita akan melaksanakan operasi pembebasan. Khusus aspek laut, saya dapat perintah untuk mengkoordinir semua aspek kekuatan. Dimana untuk unsur laut ada lima unsur, ada sea Reader dan pasukan katak yang sementara ini akan terbang," ujar Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Wilayah Timur (Guspurla koartim) Laksamana Pertama TNI. IN.G. Ariawan SE, kepada pewarta usai tiba di bandara Juwata Tarakan, Selasa (29/3).

Selain unsur laut, Ariawan juga mengungkapkan, pihak TNI juga menyiapkan armada udara dan pasukan angkatan darat untuk terlibat dalam operasi ini. (*/mrs/uki)

 Kronologi Penyanderaan 10 kru kapal Indonesia Oleh Kelompok Abu Sayyaf 

Kapal tug Boat yang bertolak dari Banjarmasin menuju Filipina pada tanggal 15 Maret 2016 mengangkut muatan coal in bulk (batubara) dengan 10 kru Kapal, dilaporkan dibajak pada hari Sabtu (26/3/2016).

Kasus ini terungkap usai salah satu kru kapal yaitu nakhoda kapal TB Brahma 12, Peter Tonsen menghubungi Reza atasan PT. Patria Maritime Line cabang Banjarmasin, yang beralamat di Sei Jingah Besar kecamatan Tabunganen Batola, Banjarmasin, bahwa mereka sedang diculik. Para penculik meminta tebusan sebesar 50 juta peso atau setara Rp 14,2 miliar.

Kapal dengan call sign YDB-4731 ini sampai di sekitar Pulau Languyan, Provinsi Tawi-Tawi, Filipina, kemudian dibajak oleh kelompok bersenjata. Kapal Brahma 12 selanjutnya ditinggalkan begitu saja di tengah laut hingga ditemukan oleh aparat kepolisian Filipina pada Senin (28/3) sore waktu setempat, dalam keadaan tak berawak.

Seperti yang diungkapkan Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Wilayah Timur (Guspurla koartim) Laksamana Pertama TNI. IN.G. Ariawan SE “Benar adanya peristiwa Penyanderaan 10 kru kapal Indonesia yang diduga dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf,” ungkapnya. (*/ima/uki)

 Daftar 10 WNI yang Disandera Oleh Kelompok Abu Sayyaf 

Dari data Indonesia Liason Officer TNI, diperoleh 10 nama kru kapal yang disandera sebagai berikut:

1. Peter Tonsen Barahama,tahuna/08 Nopember 1985/kristen/perum MK. Paraoise blok J. No.8 rt.8/01 kelurahan bukit tempayan kecamatan. Batu aji, Batam.

2. Julian Philip, Bitung/27 Juni 1966/kristen/jl. Lingk. IV kelurahan Sasaran kecamatan Tondang utara, kabupaten Minahasa.

3. Alvian Elvis Peti, airmadidi/11 Agustus 1983/kristen/jl. Swasembada barat 17 no 25 rt.03 kelurahan Kebon bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

4. Mahmud, batu/12 Juni 1984/islam/jl. Cempaka raya kelurahan Telaga biru no. 15 A rt. 08 banjarmasin, Kalimantan Selatan.

5. Surian Syah, Kendari/27 Agustus 1982/islam/jl. Ade Nasution belakang BTN Bukit Kartika rt.005/003 kelurahan Watubangga kecamatan Baruga Kabupaten Kendari, Sulawesi Tengah.

6. Surianto, Gilireng/21 Agustus 1985/islam/ gilireng wajo Sulawesi Selatan.

7. Wawan Saputra, palopo/30 Desember 1993/islam/jl. Ahmad yani rt.01 kelurahan Puncak indah kecamatan Malili, Palopo.

8. Bayu Oktavianto, Klaten/16 Oktober 1993/islam/Klaten, miliran mendak, Delanggu.

9. Rinaldi, Wotu/26 April 1991/islam/jl. Tinumbu LR 132 2/12 RT. 03/06 Makasar.

10. Wendi Raknadian/Padang/03 Oktober 1987/islam/jl. DR M. Hatta rt.01/01 kelurahan Pasar. Ambacang, Padang, Sumatra Barat. (uki)

 Negosiasi Bebaskan Sandera Gagal, Siap Baku Tembak 

Pasca ditunjuknya Tarakan sebagai pangkalan untuk operasi pembebasan 10 Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditawan pemberontak Filipina pimpinan Abu Sayap, Tentara Nasional Indonesia (TNI) sedang mempersiapkan skenario pembebasan.

Komandan Gugus Tempur Laut Armada RI Wilayah Timur (Guspurlatim) Laksamana Pertama TNI I.N.G Ariawan SE mengungkapkan, TNI masih merembukkan strategi apa yang akan dipersiapkan TNI untuk operasi ini.

Ini yang akan masih kita rapatkan,” ujar Ariawan kepada pewarta, usai tiba di Bandara Juwata Tarakan, Selasa (29/3).

Namun, khusus untuk unsur laut, pihaknya sudah menyiapkan kekuatan penuh, termasuk lima kapal perang dan pasukan elite yang dilengkapi persenjataan lengkap.

Kita sudah menyiapkan kekuatan pemukul laut, kemudian unsur atas air, unsur atas udara, berikut pasukan khusus dilengkapi SEA Reader,” cetus perwira TNI AL bintang satu ini.

Fokus operasi, imbuhnya, adalah penyelamatan sandera dengan pola negosiasi. Namun, pihak TNI sudah siap dengan risiko baku tembak jika pemberontak menolak melepas sandera. “This my Job,” tegas Airawan.

Selain unsur laut, TNI juga melibatkan unsur darat dan udara. Dari unsur darat, puluhan pasukan Angkatan Darat disiagakan membantu operasi ini. Sementara unsur udara, sejumlah pesawat maupun helikopter militer juga disiapkan.

Jadi cukup besar mengerahkan personel ini karena kita tidak bisa berbicara hanya dari kekuatan satu aspek. Belum lagi dari kekuatan TNI AD dan TNI AU,” cetusnya. (*/mrs/uki)

  prokal  

Selasa, 29 Maret 2016

★ Drone Ongen

Yang akan Jaga Natuna, dipesan 3 unitDrone Ongen [kaskus]

Untuk menjaga keamanan Natuna dan sekitarnya Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah menyiapkan drone alias pesawat nirawak.

Adalah Yulian Paonganan alias Ongen yang mengerjakan drone itu. Kini telah menjalani proses akhir. Sebentar lagi akan diserahkan dan siap digunakan untuk mengawal daerah perbatasan.

Staf Ongen mengatakan, Drone untuk perbatasan dan Natuna kini sedang proses finishing.

Sudah 95 persen pengerjaan, sebentar lagi kami akan serahkan ke Kemhan,” ujarnya kepada wartawan, Senin (28/3).

Sebelum diserahkan, Adhitya mengatakan pihaknya akan melakukan uji sistem internal terlebih dahulu untuk memastikan Drone yang akan diserahkan sempurna.

Uji sistem internal kami lakukan, sehingga pada saat uji sistem yang dilakukan oleh pihak Kemhan bisa berjalan maksimal,” tegasnya.

Dari 3 unit Drone yang menjadi pesanan Kemhan, jelas Adhit, hampir semuanya sudah dalam proses finishing.

Untuk perbatasan dan Natuna hampir bisa dipastikan sudah proses akhir. Doakan semunya berjalan maksimal,” tandas Adhit.

Diketahui, Drone yang diciptakan oleh Ongen setelah melakukan riset selama hampir 2,5 tahun ini memiliki spesifikasi yang terbilang canggih. Selain bisa terbang dan mendarat di air, Drone ini memiliki daya jelajah yang cukup luas. (elf/JPG)

  Batampos  

Pemerintah Upayakan Pembebasan 10 WNI

Yang Disandera Teroris di Perairan FilipinaAbu Sayyaf, pimpinan IS yang mengurusi perdagangan gelap (Reuters)

M
enteri Luar Negeri RI Retno Marsudi membenarkan informasi adanya pembajakan kapal dan penculikan 10 warga negara Indonesia (WNI) awak kapal di perairan Filipina. Pemerintah saat ini terus mengupayakan proses pembebasan 10 WNI tersebut lewat komunikasi dengan berbagai pihak terkait termasuk otoritas Filipina dan Kedutaan Besar RI (KBRI) di Manila.

Informasi faktual seperti yang teman-teman sudah ketahui. Kami terus bekerja dan berkoordinasi, namun detil tidak dapat kami sampaikan,” kata Retno lewat pesan singkat kepada SP di Jakarta, hari Selasa (29/3).

Pada Senin (28/3), sejumlah media melaporkan adanya pembajakan dua kapal berbendera Indonesia dan penyanderaan 10 WNI awak kapal di perairan Filipina. Aksi pembajakan itu dilaporkan dilakukan oleh kelompok teroris Abu Sayyaf.

Saat diminta konfirmasi lebih lanjut, juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, kepada SP, mengatakan pihaknya telah melakukan penelusuran dan komunikasi dengan pemilik kapal dan sejumlah pihak di Indonesia dan Filipina. Dia mengatakan pembajakan terjadi atas kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang membawa 7.000 ton batu bara dan 10 orang awak kapal berkewarganegaraan Indonesia.

Prioritas saat ini adalah keselamatan 10 WNI yang disandera. Pihak perusahaan sejauh ini telah menyampaikan informasi tersebut kepada keluarga 10 awak kapal yang disandera,” kata Arrmanatha atau biasa disapa Tata, hari Senin.

Tata mengungkapkan pembajakan terjadi saat perjalanan kedua kapal dari Sungai Puting (Kalimantan Selatan) menuju Batangas (Filipina Selatan). Namun, tidak diketahui waktu persis kapal dibajak.

Pihak pemilik kapal baru mengetahui terjadi pembajakan tanggal 26 Maret 2016, saat menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari kelompok Abu Sayyaf,” kata Tata.

Tata menambahkan kapal Brahma 12 sudah dilepaskan dan berada di tangan otoritas Filipina. Tapi, kapal Anand 12 beserta 10 WNI awak kapal masih berada di tangan pembajak.

Mereka belum diketahui persis posisinya,” ujar Tata.

Tata mengakui lewat komunikasi telepon dengan perusahaan pemilik kapal, pembajak atau penyandera menyampaikan tuntutan sejumlah uang tebusan. Sejak tanggal 26 Maret 2016, pihak pembajak sudah dua kali menghubungi pemilik kapal.

Menlu RI terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait di Indonesia dan Filipina, termasuk dengan Menlu Filipina,” katanya.

Kelompok Abu Sayyaf yang dikenal atas penculikan, pemenggalan kepala, pengeboman, dan pemerasan, adalah salah satu kelompok militan Islam garis keras di wilayah selatan Filipina. Kelompok Abu Sayyaf terkait dengan kelompok teroris Al Qaeda, namun mereka belum lama ini mendeklarasikan janji setia kepada Negara Islam (IS). Kelompok tersebut masih menyandera sejumlah warga asing dan Filipina di wilayah Sulu.

 Masih Pertimbangkan Tebusan 
Kelompok Militan Abu Sayyaf. Wajah dilingkari diduga adalah pemimpin kelompok ini yang bernama Kaddafi Janjalani.Kelompok Militan Abu Sayyaf. Wajah dilingkari diduga adalah pemimpin kelompok ini yang bernama Kaddafi Janjalani. (lazamboangatimes.com)

Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengatakan pemerintah tengah berkoordinasi guna membebaskan 10 Warga Negara Indonesia (WNI) yang diduga disandera oleh kelompok separatis Filipina, Abu Sayyaf.

Bahkan, secara tidak langsung Pramono mengatakan bahwa pemerintah Indonesia akan melakukan tindakan tegas terhadap kelompok separatis tersebut untuk membaskan 10 WNI yang disandera tersebut.

"Pemerintah sedang mengkoordinasikan juga untuk segera bisa dilakukan penangkapan kepada kelompok yang melakukan penyanderaan karena bagaimanapun mereka telah melakukan tindakan kriminal di wilayah kesatuan RI," ungkap Pramono ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (29/3).

Untuk itu, Pramono mengungkapkan sejumlah pihak sedang bergerak. Di antara, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) diberdayakan untuk mengumpulkan data. Kemudian, Kepolisian dan TNI dikoordinasikan guna membantu upaya pembebasan sandera.

Sementara itu, terkait permintaan uang tebusan, Pramono mengatakan pemerintah akan mempelajarinya dengan hati-hati. Mengingat, jumlah uang jaminan yang diminta tidak sedikit, yaitu mencapai 50 juta peso atau setara dengan Rp 15 miliar.

Namun, Pramono mengatakan belum ada instruksi khusus dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait upaya pembebasan 10 WNI yang disandera tersebut.

"Terus terang itu (instruksi ke Panglima TNI dari Presiden) belum dilakukan tetapi yang jelas kami sudah mengkoordinasikan baik kepolisian, TNI, kemudian juga Kementerian Luar Negeri untuk melakukan tindakan untuk segera bisa menyelamatkan sandera yang terjadi," ungkap Pramono.

Sebelumnya, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso telah membenarkan ada kapal Indonesia, yaitu Brahma 12, yang dibajak oleh kelompok separatis Abu Sayyaf.

Bahkan, Sutiyoso mengungkapkan kelompok separatis tersebut meminta uang tebusan ke pemerintah Indonesia sebesar 50 juta peso.

 Abu Sayyaf Beda dengan Separatis Moro 
Pasukan Moro Islamic Liberation FrontPasukan Moro Islamic Liberation Front (Guardian)

Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Mayjen (Purn) TNI Tubagus Hasanuddin menilai Pemerintah melakukan pendekatan lunak kepada Kelompok Abu Sayyaf yang menyandera WNI melalui kapal tongkang di perairan sekitar Laut Sulawesi.

Dia juga mengatakan kelompok Abu Sayyaf hanya satu dari sejumlah kelompok garis keras yang aktif di Filipina dan berbeda dengan Moro Islamic Liberation Front (MILF).

Dijelaskan Hasanuddin, wilayah sekitar laut Sulawesi sampai dengan Pantai Cotabato di Mindanao Selatan memang merupakan daerah rawan dari kegiatan penyelundupan dan perompakan.

‎"Di sekitar wilayah Mindanao itu memang banyak faksi-faksi perjuangan. Seperti kelompok National People Army di bagian utara yang merupakan sempalan faksi komunis, lalu MNLF (Moro National Liberation Front) dan MILF. Dan juga ada kelompok bersenjata Abu Sayyaf," jelas Hasanuddin, Selasa (29/3).

Kata dia,‎ semua kelompok itu punya teritorial masing-masing, dengan tujuan masing-masing, dan sulit dikontrol oleh Angkatan Perang Filipina.‎

‎Politikus PDI-P itu menilai tindakan yang dilakukan pemerintah sudah tepat dalam rangka membebaskan 10 orang WNI tersebut. Dia hanya menekankan, agar upaya pencarian dan penyelamatan WNI tersebut dilakukan juga dengan upaya lain.

"Yakni melalui mendekatan lunak lewat koordinasi dengan aparat intelejen setempat atau melalui tokoh warga negara Indonesia yang sudah tahunan berada di wilayah tersebut sebagai pelintas tradisional," jelasnya.‎

 Uang Tebusan Abu Sayyaf Tak Usah Diberikan 
http://dds2w1segan1npr18388d13m.wpengine.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2016/03/Kapal-tunda-Brahma-12-626x355.pngWakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid menegaskan agar Pemerintah Indonesia tak perlu menuruti keinginan Kelompok Separatis Abu Sayyaf memperoleh tebusan Rp 15 miliar untuk membebaskan 10 warga negara Indonesia yang mereka sandera.

"Menurut saya, jangan didengar. Karena ‎kalau ini dibolehkan, ini akan membuka ruang berikutnya mereka main sandera. Alangkah menyusahkannya dan tidak menghormati kedaulatan Indonesia," tegas Hidayat, Selasa (29/3).

Menurut Politikus PKS itu, Indonesia tidak perlu mendengarkan soal tebusan, dan lebih baik melakukan lobi-lobi melalui jalur manapun yang memungkinkan.

"Kalau tebusan diikuti Indonesia, akan menjadi preseden berikutnya. Akan banyak masalah yang mencederai kedaulatan Indonesia," tandas Hidayat.

 Sarankan Pemerintah Tak Penuhi Permintaan Tebusan WNI 
http://img.bisnis.com/posts/2016/03/29/532283/milisi-abu-sayyaf-ilustrasi-reuters.jpgKetua Komisi I DPR, Mahfudz Siddik, menyarankan Pemerintah Indonesia tak perlu memenuhi keinginan kelompok teroris Abu Sayyaf yang menyandera sejumlah warga negara Indonesia (WNI). Cara-cara pemerasan demikian tak perlu dituruti.

"‎Kelompok Abu Sayyaf saat ini makin terdesak dan kesulitan pendanaan. Mereka lakukan cara-cara pemerasan antara lain melalui penyanderaan. Pemerintah tidak perlu memenuhi permintaan tersebut," kata Mahfudz Siddik, Selasa (29/3).

Dia menyarankan lebih baik pihak Indonesia membangun kerja sama bersama otoritas Filipina untuk menyelesaikan masalah tersebut.

"Koordinasikan dengan pemerintah Filipina untuk pembebasan sandera WNI," tandasnya.

‎Sebelumnya, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso telah membenarkan ada kapal Indonesia, yaitu Brahma 12, yang dibajak oleh kelompok separatis Abu Sayyaf. ‎Bahkan, Sutiyoso mengungkapkan kelompok separatis tersebut meminta uang tebusan ke pemerintah Indonesia sebesar 50 juta peso.‎

  Berita Satu  

[RIP] Granat Meledak Saat Latihan

Empat Orang TewasIlustrasi granat. (AFP)

S
ebanyak empat orang menemui maut di Kampus Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara Selasa (29/3) sekitar pukul 15.30, setelah sebuah granat meledak di dekat Fakultas Kedokteran.

Menurut Kapolda Sultra Brigjen Agung Sabar Santoso, granat itu mendadak meledak di tengah pelatihan dasar satpam antara Polda Sultra bersama dengan satpam UHO yang diselenggarakan selama 20 hari.

"Hari ini sudah berjalan 10 hari dari 20 hari itu. Ini program resmi Polda dengan UHO. Salah satu materinya adalah pengenalan bahan peledak yang saat itu dibawakan oleh anggota Gegana Sat. Brimob Polda Sultra," kata Agung.

Ceritanya, Agung melanjutkan, seorang instruktur memberi penjelasan dan seorang lagi memegang bahan peledak tersebut. Kuat dugaan ada kesalahan prosedur disini.

"Mungkin pin-nya tercabut atau bagaimana dan meledak. Akibatnya meledak dan empat orang meninggal dunia. Seorang anggota Polri atas nama Brigadir Hd dan tiga security. Delapan orang lainnya mengalami luka-luka dan saat ini tengah dirawat di rumah sakit,” lanjutnya.

Sesaat setelah melarikan para korban ke rumah sakit, mantan Dir. Tipidum Bareskrim ini menambahkan, sejumlah saksi-saksi pun tengah dimintai keterangannya.

"Saat ini anggota terus mengumpulkan barang bukti dan saksi sudah dimintai keterangan. Kita harap delapan korban yang dirawat akan segera membaik. Ada juga yang luka parah," imbuh Agung.

  Berita Satu  

[Video] Kapal Selam Pesanan Indonesia

Diresmikan peluncurannya bersama Menhan http://news.kbs.co.kr/data/news/2016/03/24/3253663_220.jpgKapal Selam Pesanan Indonesia dengan no lambung 403 [harkness@def.pk]

Tak terasa kapal selam pesanan Indonesia baru baru ini diresmikan peluncurannya secara resmi oleh Menhan di galangan kapal DSME, Korea Selatan.

Kapal selam ini di sebut juga sebagai DSME 209/1400. Kapal selam pertama dengan nomor 403, penomoran dipastikan seperti era dahulu Wiskhey class produksi Rusia dengan menggunakan nama senjata perwayangan.

Kapal ini berbeda dari panjang maupun berat totalnya, maka bisa di namakan sebagai kapal selam Class baru.

 Berikut ini video diambil dari Youtube diupload Harkness@def.pk :


  ♚ Garuda Militer  

Senin, 28 Maret 2016

Arkeolog temukan sisa candi abad ke-14 di Badung

Ilustrasi--Dua peneliti dari Balai Arkeologi Denpasar melakukan pengukuran di bekas-bekas candi yang ditemukan di Kelurahan Penatih, Denpasar, Selasa (23/10). Arkeolog memperkirakan candi tanpa ukiran tersebut dibangun abad 13 sampai 15 Masehi. (ANTARA/Nyoman Budhiana)
Arkeolog dari Balai Besar Arkeologi Denpasar, Bali, menemukan tumpukan sisa-sisa candi yang dibangun pada abad ke-14 di Pura Gelang Agung, Banjar Buangga, Kecamatan Petang, Badung.

Kepala Balai Besar Arkeologi Denpasar I Gusti Made Suarbhawa di Mangupura, Senin, menjelaskan peneliti menemukan tumpukan batu padas yang tersusun rapi di kedalaman satu hingga 1,5 meter di tiga titik galian.

Tumpukan batu padas pertama ditemukan menjulur dari bawah bangunan pura, tepat di depan gedong arca di lokasi tersebut, dan yang kedua ada di sisi timur gedong arca.

Di tempat penggalian terakhir di sisi timur pura, di samping tembok panyengker atau pembatas, juga ditemukan beberapa tumpukan batu padas.

"Di galian ketiga ini banyak batu padas dalam kondisi tidak utuh," ujarnya.

Suarbhawa menduga ada yang merusak tumpukan batu padas itu. "Tim juga menemukan banyak batu padas rusak karena diambil oleh masyarakat sekitar untuk pembangunan tembok panyengker," ujarnya.

Para arkeolog belum bisa mengetahui bentuk candi tersebut. Saat ini para peneliti masih fokus melakukan pengukuran dan mengumpulkan data.

"Saat ini kami fokus mendata, mengukur dan mendokumentasikan setiap temuan," katanya.

Ia menjelaskan penelitian yang dilakukan 18-31 Maret 2016 itu merupakan lanjutan dari penemuan arca, uang kepeng, sarkopagus dan tumpukan batu padas di tempat yang sama. Ia menambahkan penelitian di lokasi penggalian sementara dihentikan dan akan dilanjutkan lagi tahun depan.

  antara  

Argumen Pakar soal Kapal RI Tak Dikenali di ZEE

Tak heran jika kapal coast guard tak mengenail kapal milik KKP itu.Pertempuran laut ala armada costguard China [google]

Kapal milik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang digunakan untuk menangkap kapal nelayan China di Perairan Natuna, Kepulauan Riau disebut belum terdaftar secara internasional. Oleh karena itu, operasi kapal tersebut dinilai bisa menyulitkan Indonesia.

Hal ini disampaikan Presiden Indonesia Institute for Maritime Studies, Connie Rahakundini Bakrie usai bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka.

"Kami mesti ingatkan, jenis kapal di dunia itu ada dua. Apalagi sampai ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif). Hanya kapal AL dan government ship atau cost guard. Dan cost guard kita sendiri kan sampai sekarang masih mencari bentuk. Ada perdebatan, apakah Bakamla kah, Perhubungan kah," ujar Connie di Kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Senin 28 Maret 2016.

Peristiwa di Kepulauan Natuna yang terjadi pada Minggu 20 Maret 2016 dini hari bermula saat kapal milik KKP menangkap kapal nelayan China di Perairan Natuna. Namun, saat hendak dibawa ke daratan, salah satu kapal coast guard Tiongkok tiba-tiba mengejar Kapal Pengawas (KP) Hiu 11 milik Indonesia tersebut beserta kapal tangkapan KM Kway Fey 10078 Tiongkok dengan kecepatan 25 knots.

Kapal cost guard itu justru menabrak kapal tangkapan hingga rusak. Akhirnya, petugas meninggalkan kapal tangkapan demi keselamatan.

"Yang kemarin mengambil tindakan itu KP, kodenya KP. Kapal ini tidak dikenal di International Maritime Organization (IMO)," kata Connie lagi soal kapal milik KKP yang menangkap kapal nelayan China.

Untuk itu, dia melanjutkan, tak mengherankan jika kapal China mengambil tindakan karena kapal KP ini tidak terdeteksi sebagai cost guard. Oleh karena itu, pakar tersebut menilai kapal-kapal KP perlu segera didaftarkan di IMO sebagai kapal pemerintah.

Dia menambahkan, jika dibawa ke Mahkamah Internasional, justru posisi Indonesia dimungkinkan tidak akan bisa menang.

"Kelemahan kita pada saat ini jika dibawa ke kasus internasional adalah pembuktian. Soal dokumen, pembuktian, sangat berat. Apalagi kapalnya masih ada di China," lanjut pakar politik keamanan itu.

Internal Indonesia terkait hal ini diminta segera dibereskan, apalagi dengan adanya visi Poros Maritim Dunia. Selain pengembangan Angkatan Laut dan Angkatan Darat yang belum maksimal, penjagaan di ZEE dinilai masih sangat kurang.

Pemerintah harus mendaftarkan segera kapal-kapal penjaga ZEE agar diakui secara internasional.
 

  Vivanews  

Sabtu, 26 Maret 2016

Mantan Penjaga Warnet yang Kini "Mendunia"

http://assets.kompas.com/data/photo/2016/03/26/1906001benny-fajarai-ponti-20160326-090011780x390.jpgBenny Fajarai

Siapa menyangka kalau Benny Fajarai (25) yang masuk dalam daftar '30 Under 30 Asia' Majalah Forbes adalah mantan penjaga warung internet alias warnet.

Pendiri Kreavi dan co founder sekaligus CEO situs Qlapa.com itu dianggap sebagai pemuda di bawah usia 30 tahun di wilayah Asia yang memiliki kualifikasi menjanjikan.

Prestasi yang didapatkan oleh Benny Fajarai turut membuat bangga seluruh anggota keluarganya, termasuk orang tua Benny.

Ketertarikannya pada dunia IT sudah terlihat ketika memasuki sekolah menengah pertama.

Benny dulu bahkan pernah bekerja sambilan sebagai penjaga warnet di dekat tempat tinggalnya di kawasan Perdana.

Kakak Benny, Susanti, menuturkan, sejak dulu Benny memang menyukai tantangan, supel, serta pandai bergaul dengan siapapun. Banyak teman-temannya mendatangi warnet tempat ia bekerja sambilan.

"Dari kecil dia kreatif bakatnya sudah tampak. Cita-citanya dulu mau jadi dokter, tetapi akhirnya tidak jadi karena pertimbangan biaya dan juga keluarga mempertimbangkan bakat kretivitas yang dimilikinya. Dia bakatnya di bidang IT, dan dia dapat beasiswa di Binus," jelasnya.

Terlahir di keluarga sederhana, kedua orang tua Benny selalu menanamkan moral-moral dan prinsip dasar kehidupan. Tetapi tetap pada akhirnya keputusan tetap berada di tangan sang anak. Orang tua hanya mendukung.

"Jarak saya dan abangnya ke Benny itu terlampau jauh sampai belasan tahun. Selepas kuliah, dia benar-benar sendiri menentukan apa yang ia mau. Prestasi yang ia dapat benar-benar berasal dari jerih payahnya sendiri dan kami sekeluarga sangat bangga," ujarnya.

Ibunda Benny, Lusiawati Fadjaray, menuturkan, anaknya dari kecil sudah pintar dan banyak melakukan hobi-hobi ekstrem seperti panjat tebing dan lain sebagainya. Banyak ide-ide kreatif yang ia ciptakan ketika masih bersekolah.

"Dia orangnya empati tinggi. Jadi pernah ia membonceng nenek-nenek yang biasanya memang berjalan kaki di daerah ini. Ia merasa kasihan karena si nenek tersebut setiap harinya berjalan kaki jauh. Padahal saya takutnya nenek itu jatuh atau gimana, kan orangtua ya," ujarnya.

Menurutnya, Benny selalu mengabari keluarga ketika akan masuk TV maupun diliput media manapun. Tetapi ketika masuk ke daftar Forbes ia sama sekali tidak memberi tahu keluarga. Setelah booming baru keluarga tahu.

"Meski tidak ikut andil langsung dengan apa yang ia kerjakan sekarang tetapi kami sebagai keluarga selalu mengikuti langkah apa yang Benny lakukan. Dan kami benar-benar bangga," tukasnya.

Ketua RT sekaligus pemilik warnet tempat Benny dulu bekerja, Erwin Lubis menuturkan Benny ikut ia bekerja sejak kelas satu SMA. Ini dilakukan karena orang tua Benny tidak ingin anaknya setiap hari pergi bermain jauh dari rumah.

"Dulu saya buka air isi ulang dan satu lagi ada warnet, dia yang nunggu warnet saya kalau sudah pulang sekolah. Orang tuanya tidak masalah mau digaji berapapun asal dia tak main jauh-jauh. Ayahnya pun, Pak Sufandi sering lewat warnet jadi tidak khawatir anaknya ke mana-mana" ungkapnya.

Karena bertujuan positif, Benny pun mengikuti dan ternyata dari hanya penjaga warnetlah kemudian ia dikenal dunia. Hobinya dalam dunia IT juga telah dilihat oleh Erwin, berawal dari kegemaran Benny bermain game di komputer.

"Takut juga kan pergaulan anak jadi ke narkoba atau apalah itu. Saking sukanya bermain game di warnet dia juga suka lupa makan. Itu yang selalu saya ingat. Benny itu baik dan ramah, mudah bergaul dengan siapa saja. Kalau dia yang jaga warnet saya ramai," katanya.

Ia berharap di usia mudanya Benny tidak puas dengan apa yang ia capai sekarang. Bahkan kalau bisa selalu meningkatkan kemampuan dan terus berprestasi. Ia ingin Benny selalu ingat perjuangan sang orang tua membesarkannya hingga bisa seperti sekarang.

"Saya sangat salut dengan keluarga Benny. Ayahnya itu dulu sopir oplet, tapi semua anaknya pintar-pintar, kuliahnya dapat beasiswa semua. Keluarganya juga tidak ada sombong-sombong, rendah hati meski sekarang sudah berhasil. Ayahnya cerita kalau anak-anaknya kuliah ini tidak ada menggunakan uang orang tua, semuanya beasiswa," pungkasnya. (Tya)


  ♙ Kompas  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More