blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label PLTN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PLTN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2026

Rosatom Rusia Tandatangani Kesepakatan Proyek PLTN Terapung 200 MW di Indonesia

  Perjanjian ditandatangani di Moskow Ilustrasi proyek PLTN Terapung (Rosatom)

Maluku Utara siap menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menerima listrik tenaga nuklir di bawah proyek pembangkit listrik terapung berkapasitas 200 megawatt yang melibatkan perusahaan nuklir milik negara Rusia, Rosatom.

Rosatom telah menandatangani perjanjian dengan perusahaan Indonesia Pembangkit Listrik Nuklir untuk memasok 200 megawatt listrik dari unit tenaga nuklir terapung ke Maluku Utara, dalam sebuah proyek yang bertujuan untuk memperluas pasokan listrik di Indonesia bagian timur.

Perjanjian tersebut ditandatangani di sela-sela Pekan Energi Rusia di Moskow pada hari Jumat. Kedua perusahaan berencana untuk mengerahkan dua unit pembangkit listrik tenaga nuklir terapung untuk melayani bagian utara Pulau Halmahera.

Proyek ini akan menggunakan unit FPU-100 milik Rosatom, masing-masing dengan kapasitas pembangkitan 100 MW dan dilengkapi dengan reaktor laut seri RITM. Rosatom mengatakan unit-unit tersebut dapat mulai memasok listrik kepada konsumen Indonesia dalam waktu lima tahun setelah ketentuan utama kontrak pasokan listrik berlaku.

Direktur Jenderal Rosatom Alexey Likhachev menggambarkan perjanjian tersebut sebagai tonggak penting dalam kerja sama energi antara Rusia dan Indonesia, menyebutnya sebagai perjanjian ekspor listrik pertama di dunia yang dipasok oleh unit pembangkit listrik tenaga nuklir terapung.

“Kerja sama antara Rosatom dan Indonesia berkembang pesat. Pertemuan kami baru-baru ini dengan Presiden Prabowo Subianto menegaskan kembali bahwa negara kepulauan terbesar di dunia ini secara konsisten menempuh jalur untuk memperkuat keamanan energi dan mencapai netralitas karbon,” kata Likhachev dalam sebuah pernyataan.

Dia mengatakan Rosatom siap menawarkan teknologi canggih dan terbukti, menambahkan bahwa perjanjian tersebut meletakkan dasar untuk kemitraan jangka panjang.

“Saya yakin ini akan mengirimkan sinyal kuat kepada komunitas bisnis global: dengan dukungan pemerintah yang sistematis, sektor swasta secara aktif memimpin dalam memulai proyek infrastruktur nuklir yang mampu mentransformasi perekonomian negara,” tambahnya.

Yudi Utomo Imardjoko, direktur Pembangkit Listrik Nuklir dan ilmuwan nuklir Indonesia, mengatakan proyek tersebut dimaksudkan untuk mendukung transisi energi Indonesia dan memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat, khususnya di wilayah timur.

“Memimpin transisi energi Indonesia adalah tujuan dan tanggung jawab utama kami sebagai investor nasional. Kami sangat yakin bahwa menyediakan listrik yang bersih, andal, dan bebas karbon bagi masyarakat sangat penting untuk mengamankan masa depan energi jangka panjang Indonesia,” kata Yudi.

Ia mengatakan tenaga nuklir dapat membantu memenuhi peningkatan permintaan listrik sekaligus mendukung pembangunan ekonomi, khususnya di Indonesia bagian timur. Ia menambahkan bahwa proyek tersebut disusun sebagai inisiatif bisnis-ke-bisnis (B2B) yang didanai oleh investasi sektor swasta, tanpa bergantung pada anggaran negara (APBN).

Investor Haji Romo Nitiyudo Wachjo, yang juga dikenal sebagai Haji Robert, menyambut baik perjanjian tersebut dan berterima kasih kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, Rosatom, dan delegasi Rusia atas kerja sama mereka.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin karena telah mempercayakan tanggung jawab kepada dirinya dan Yudi untuk memajukan proyek 200 MW di Halmahera Utara, Maluku Utara.

Wachjo, seorang pengusaha pertambangan Indonesia keturunan Jawa-Australia, dikenal sebagai pemilik Indotan Group.

 Indonesia Menjajaki Energi Nuklir

Indonesia telah memasukkan tenaga nuklir dalam perencanaan energi nasionalnya sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat keamanan energi dan mencapai target netralitas karbon pada tahun 2060.

Prabowo telah membahas kerja sama dalam penggunaan energi nuklir secara damai dengan para pejabat Rusia, termasuk Putin selama kunjungan ke Moskow pada Juli 2024 dan Likhachev pada Mei 2026.

Diskusi tersebut mencakup pengembangan tenaga nuklir, infrastruktur, pelatihan tenaga kerja, dan aplikasi teknologi nuklir di luar sektor energi.

Rosatom telah mengusulkan pendekatan dua tahap untuk mengembangkan tenaga nuklir di Indonesia, dimulai dengan unit pembangkit listrik tenaga nuklir terapung skala kecil sebelum beralih ke pembangkit listrik berbasis darat yang dilengkapi dengan reaktor yang lebih besar.

Proyek Maluku Utara yang diusulkan akan menjadi langkah menuju tahap pertama dari rencana tersebut. Namun, perjanjian tersebut tidak menetapkan apakah semua persetujuan peraturan, pengaturan pembiayaan, dan persyaratan implementasi yang diperlukan telah diselesaikan.

 Teknologi Nuklir Terapung

Rosatom menyatakan bahwa unit FPU-100 dirancang untuk menyediakan listrik secara terus menerus kepada komunitas pesisir terpencil dan fasilitas industri. Setiap unit akan menggunakan reaktor RITM-200M, yang menurut perusahaan lebih ringkas dan menawarkan daya keluaran yang lebih tinggi daripada desain reaktor laut sebelumnya.

Rusia telah mengoperasikan Akademik Lomonosov, pembangkit listrik tenaga nuklir terapung pertama di dunia, di wilayah Arktik Chukotka sejak tahun 2020. Pembangkit ini menggunakan dua reaktor KLT-40S dan telah menghasilkan hampir 1,4 miliar kilowatt-jam listrik, menurut Rosatom.

Perusahaan ini juga mengembangkan unit nuklir terapung untuk pelanggan industri di Rusia dan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir skala kecil di Uzbekistan menggunakan reaktor RITM-200N.

Rosatom menyatakan bahwa mereka sedang membangun 27 pembangkit listrik tenaga nuklir di sembilan negara, menjadikannya pemasok utama teknologi nuklir ke pasar luar negeri.

  🤝  Jakarta Globe  

Senin, 24 Agustus 2026

BRIN Jajaki Kerja Sama Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)

  Kunjungi Barata Indonesia Ilustrasi reaktor nuklir mini BRIN (BRIN))

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan kunjungan ke PT Barata Indonesia (Persero) untuk menjajaki peluang kerja sama dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia( 20/8) .

Kunjungan yang dilakukan langsung oleh Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir - BRIN Prof. Dr. Eng.Topan Setiadipura, M.Si, M.Eng beserta tim RTRN diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara lembaga riset dan industri nasional dalam mendukung pengembangan teknologi energi strategis.

Dalam pertemuan tersebut, membahas potensi kolaborasi riset dan pengembangan (R&D), transfer knowledge, serta penguatan kompetensi sumber daya manusia.

Sinergi ini diharapkan dapat menggabungkan kapabilitas riset BRIN dengan pengalaman dan kemampuan manufaktur Barata Indonesia.

Tim BRIN juga meninjau secara langsung fasilitas workshop Barata Indonesia untuk melihat kapasitas perancangan, prototyping, produksi, hingga pengujian kualitas sebagai bagian dari penjajakan kesiapan industri dalam mendukung kebutuhan teknologi PLTN.

Melalui kunjungan ini, BRIN dan Barata Indonesia berkomitmen melanjutkan penjajakan kerja sama melalui penyusunan roadmap, pembentukan tim kerja, serta kajian peluang riset dan transfer teknologi.

Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas industri nasional dan mendukung kemandirian energi Indonesia melalui pengembangan PLTN.

  💡  Barata Indonesia  

Minggu, 09 Agustus 2026

BRIN Sudah Kembangkan Reaktor Nuklir Mini

  Reaktor Nuklir Mini 50 MW (BRIN))

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkapkan telah mengembangkan teknologi Small Modular Reactor (SMR) atau reaktor nuklir modular kecil yang siap ditawarkan untuk dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik. Dia mengatakan untuk membuat proyek itu dibutuhkan nilai investasi sekitar Rp 2,5 triliun.

Arif menjelaskan, SMR yang dikembangkan BRIN memiliki kapasitas sekitar 50 megawatt (MW). Kapasitas itu memang lebih kecil dibandingkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) konvensional.

"Kecil masih sekitar 50 megawatt. Tapi memang namanya small, paling tidak kita punya teknologinya," kata Arif, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (7/8/2026).

Dia menjelaskan desain teknologi SMR yang telah siap, termasuk untuk reaktor generasi ketiga maupun keempat yang dinilai memiliki tingkat keselamatan yang tinggi. Sehingga saat ini menunggu pihak yang berminat mengadopsi teknologi tersebut, karena implementasi itu membutuhkan dukungan investasi.

"Tapi BRIN juga siap dengan dua level: satu generasi tiga, dua generasi empat. Nah, dengan dua generasi yang sudah kita siapkan ini, ini tinggal nunggu siapa yang akan pakai teknologinya BRIN ini. Karena untuk itu kan butuh investasi. Berapa investasinya? Rp2,5 triliun. Itu kecil, tidak besar. Kalau kita mau coba, ya, BRIN sudah siap untuk itu," tuturnya.

Meskipun begitu, BRIN masih terus menyempurnakan desain dan model SMR sebagai bagian dari pengembangan teknologi nuklir nasional. Di sisi lain, riset teknologi nuklir BRIN saat ini juga difokuskan untuk mendukung sektor nonkelistrikan.

"Yang jelas, BRIN untuk teknologi nuklir yang berkaitan dengan energi ya itu SMR yang sedang kita siapkan desainnya, modelnya. Namun yang sekarang kita arahkan adalah pemanfaatannya untuk pangan dan kesehatan," katanya.

Dia menyebut penggunaan teknologi nuklir untuk sektor kesehatan seperti radiofarmaka untuk identifikasi penyakit kanker. Selain itu juga untuk metode pengawetan buah-buahan supaya lebih lama ketika ingin melakukan ekspor. (pgr/pgr)

  💡  CNBC  

Jumat, 05 Juni 2026

Indonesia-Rusia Kerja Sama Pembangunan PLTN Terapung dan Kapal Cepat

  Di sepakati di Moskow Indonesia-Rusia Kerja Sama Pembangunan PLTN Terapung dan Kapal Cepat (ist)

Pemerintah Indonesia dan Rusia menyepakati perluasan kerja sama infrastruktur maritim antara kedua negara.

Kesepakatan ini dicapai dalam agenda Konsultasi Bilateral Kedua antara Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dengan Penasihat Presiden sekaligus Ketua Dewan Maritim Rusia, Nikolai Patrushev, di Moskow, Senin, 1 Juni 2026.

Pertemuan ini menitikberatkan pada realisasi sejumlah rencana proyek strategis.

Di sektor energi dan manufaktur, PT PAL Indonesia dan perusahaan pelat merah Rusia, Rosatom, tengah merampungkan nota kesepahaman untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Terapung (Floating Nuclear Power Plant/FNPP), menyusul penandatanganan Non-Disclosure Agreement (NDA) pada April 2026.

Pada sektor galangan dan logistik, PT PAL juga mematangkan kerja sama pembuatan kapal dengan Ak Bars Shipbuilding Corporation. Sementara itu, PT Pelindo tengah menindaklanjuti pengembangan armada kapal berkecepatan tinggi bersama Cifrex.

Dari sisi pemenuhan tenaga kerja, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI sedang menyiapkan skema pengiriman tenaga terampil dari sektor galangan kapal ke Rusia.

AHY menegaskan, sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki kebutuhan mendesak atas integrasi konektivitas antarmoda guna menekan tingginya biaya logistik nasional. Pengalaman Rusia di bidang teknologi maritim dan transportasi dinilai sejalan dengan kebutuhan infrastruktur Nusantara.

Guna memastikan seluruh rencana kerja tersebut tidak mandek, Indonesia dan Rusia resmi membentuk tiga kelompok kerja (Pokja) operasional. Pokja pertama ditugaskan untuk memacu pengembangan industri galangan kapal dan pelabuhan yang berkelanjutan.

Pokja kedua mengatur tata kelola sumber daya kelautan dan perikanan. Sedangkan Pokja ketiga difokuskan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, riset, serta pelatihan maritim.

Rangkaian kesepakatan ini merupakan manifestasi langsung dari Deklarasi Kemitraan Strategis yang sebelumnya disahkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin pada Juni 2025.

  🤝 
Sindonews  

Selasa, 17 Maret 2026

Indonesia dan Jepang Sepakat Kerja Sama Mineral Kritis dan Energi Nuklir

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (kiri) dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) Ryosei Akazawa berjabat tangan usai menandatangani Memorandum of Cooperation (MoC) di sela Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Minggu (15/3/2026).(ANTARA/HO-Kementerian ESDM)

Indonesia dan Jepang menandatangani Memorandum of Cooperation (MoC) pada dua bidang strategis, yaitu mineral kritis dan energi nuklir.

Penandatanganan berlangsung saat pertemuan bilateral di sela Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Minggu.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat sistem energi yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Indonesia membuka peluang kolaborasi pengelolaan mineral kritis dengan Jepang. Negara ini memiliki cadangan nikel besar serta sumber daya bauksit, timah, tembaga, dan logam tanah jarang.

“Kami sangat terbuka, kami dengan senang hati meminta kepada pemerintah Jepang maupun teman-teman pengusaha Jepang untuk bisa mengelola bersama-sama mineral kritis kami yang ada di Indonesia," ujar Bahlil.

Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang atau Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Ryosei Akazawa menilai kolaborasi antarnegara penting di tengah ketidakpastian global. Upaya tersebut diperlukan untuk menjaga ketahanan energi dan keberlanjutan pasokan.

“Di tengah situasi krisis global saat ini, penting bagi kita untuk memperkuat kerja sama demi menjaga ketahanan energi. Jepang sendiri telah menyiapkan cadangan energi strategis sebagai langkah antisipasi,” katanya.

Akazawa juga menegaskan komitmen Jepang untuk terus mendukung berbagai proyek kerja sama energi dengan Indonesia. Salah satunya penyelesaian proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka.

 Penguatan rantai pasok energi 
Kementerian ESDM menyebut kerja sama sektor mineral kritis diarahkan untuk memperkuat rantai pasok global agar lebih aman dan andal.

Kerja sama energi nuklir difokuskan pada pengembangan teknologi rendah karbon dengan standar keselamatan tinggi.

Diskusi lanjutan juga akan dilakukan terkait penguatan ketahanan energi kawasan. Pembahasan mencakup kerja sama rantai pasok liquefied natural gas (LNG) atau gas alam cair serta batu bara.

Pembahasan lain terkait percepatan proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC).

Proyek tersebut mencakup operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla serta penyelesaian proyek PLTSa Legok Nangka.

Kerja sama Indonesia dan Jepang tersebut diharapkan memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung upaya dekarbonisasi kawasan Indo-Pasifik.

  💡 
Kompas  

Senin, 02 Maret 2026

RI Targetkan PLTN Pertama Beroperasi 2032-2034

Ilustrasi desain PLTN modern (Ist)

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Dadan Kusdiana mengungkapkan, Indonesia menargetkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama beroperasi pada 2032–2034.

Target ini menjadi bagian dari rencana mencapai kapasitas total 44 gigawatt tenaga nuklir pada 2060, yang sejalan dengan komitmen net zero emission. Dari total kapasitas tersebut, mayoritas untuk pembangkit listrik.

"Dari total 44 gigawatt, 35 gigawatt akan digunakan untuk pembangkitan listrik, sementara 9 gigawatt dialokasikan untuk produksi hidrogen nasional mulai 2045,” kata Dadan dikutip dari ANTARA, Selasa (3/3/2026).

Dengan demikian, dia menjelaskan, porsi nuklir dalam bauran energi meningkat dari 0,5 persen menjadi lebih dari 11 persen pada 2060.

  1. Kebijakan nuklir di RI punya landasan hukum kuat 
Dadan menyampaikan, target awal dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 sebesar 500 megawatt kapasitas PLTN, yang akan mulai dikembangkan pada 2032 di sistem kelistrikan Sumatra dan Kalimantan.

Dia mengungkapan, kerangka kebijakan nuklir Indonesia memiliki landasan hukum kuat sejak Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional yang secara eksplisit memandatkan nuklir sebagai penyeimbang bauran energi primer.

  2. Teknologi yang akan kembangkan SMR 
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kori. (Ist)
Dadan menjelaskan, teknologi yang akan didorong untuk dikembangkan adalah small modular reactor (SMR). Itu karena arah perkembangan dunia saat ini menekankan SMR sebagai solusi baru.

Untuk negara kepulauan seperti Indonesia, teknologi ini dinilai menawarkan fleksibilitas karena dapat ditempatkan di wilayah terpencil dan terintegrasi dengan jaringan listrik berskala kecil. Menurutnya, karakteristik tersebut menjadikan SMR sangat sesuai untuk mendukung pusat-pusat industri serta pengembangan ekonomi biru di berbagai pulau.

  3. Energi nuklir muncul sebagai opsi strategis 
Dadan mengatakan, di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN, energi nuklir kembali muncul sebagai opsi strategis. Hal itu didorong oleh komitmen net zero emission dan kemajuan teknologi SMR.

Menurut dia, lima negara dengan konsumsi energi terbesar di ASEAN, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, mencatat nyaris 90 persen dari total permintaan energi kawasan, kini aktif menjajaki opsi nuklir melalui Nuclear Energy Cooperation Sub-sector Network (NEC-SSN).

Namun di tengah peluang besar, Dadan mengakui adanya tantangan mencakup hambatan finansial dan politik yang terkait tingginya biaya awal pembangunan nuklir, memastikan konsistensi implementasi agar momentum menuju konstruksi tetap terjaga, serta mengelola persepsi risiko bencana dan kekhawatiran publik mengenai radiasi maupun tsunami.

Karena itu, Dadan menyampaikan, persiapan Indonesia kini semakin konkret. Fokus utama diarahkan pada tiga pilar fundamental, yaitu pemilihan lokasi, pencapaian tonggak regulasi, dan kerja sama internasional strategis. Selain itu, pembentukan Nuclear Energy Programme Implementing Organization (NEPIO), sebagai lembaga pelaksana program nuklir.

  💡 
IDN Times  

Rabu, 02 April 2025

Rusia Siap Bantu RI Bangun Pembangkit Nuklir Pertama Pada 2032

https://akcdn.detik.net.id/visual/2016/09/06/50decc65-6428-4a82-a3ef-1364d96a60c9_169.jpg?w=650&q=90Rusia menyatakan siap membantu Indonesia membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama pada 2032 mendatang. (AFP PHOTO / FRANCOIS NASCIMBENI)

R
usia menyatakan siap membantu Indonesia membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama pada 2032 mendatang.

Perwakilan lembaga nuklir Rusia ROSATOM State Atomic Energy Corporation di Indonesia, Anna Belokoneva, mengatakan Rusia siap bertukar pengalaman dan ilmu seputar pengembangan teknologi nuklir.

"ROSATOM siap untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam semua aspek yang kami tawarkan. Kami yakin bahwa teknologi ROSATOM, termasuk PLTN skala kecil, dapat menjadi pilihan baik untuk menambahkan pembangkit nuklir ke bauran energi Indonesia," ujar Belokoneva dalam unggahan Instagram Kedutaan Besar Rusia di Indonesia pada Kamis (15/3).

Dalam unggahan itu, sejumlah ahli nuklir Rusia dari ROSATOM State Atomic Energy Corporation mengunjungi Indonesia pada 4-8 Maret lalu.

Kedutaan Besar Rusia di Indonesia mengatakan para ahli itu datang ke acara seminar yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia (BRIN).

"Para ahli dari ROSATOM State Atomic Energy Corporation berpartisipasi dalam seminar yang didedikasikan untuk membahas teknologi modern di bidang konstruksi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) skala kecil," kata Kedubes Rusia di Indonesia dalam unggahannya.

Kedubes Rusia memaparkan para narasumber bertukar ilmu dan pengalaman unik ROSATOM dalam mengoperasikan reaktor modular kecil, serta teknologi-teknologi nuklir lainnya yang menjanjikan.

Sementara itu, Indonesia sendiri memang sudah mengumumkan rencana membangun PLTN pertama pada 2032 mendatang.

Pada November 2023 lalu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan pihaknya memang menargetkan PLTN akan dikomersialkan pada 2032 mendatang.

"Pengembangan tenaga nuklir direncanakan menjadi komersial pada 2032 untuk meningkatkan keandalan sistem tenaga listrik," kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman Parada Hutajulu dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta Pusat, Kamis (16/11).

"Kapasitasnya (PLTN) akan ditingkatkan hingga 9 gigawatt (GW) pada 2060," sambungnya. (rds)

  💥 CNN  

Selasa, 03 Desember 2024

Pemerintah Berencana Bangun PLTN di 2032

 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan pemerintah akan bangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pada 2032. 
https://niskalanews.com/wp-content/uploads/2024/09/jFtJBQOMASAQMSyDs6G8-1-gs9r8.jpgIlustrasi PLTN (Istimewa) 💡

D
irektur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi mengatakan Indonesia akan segera membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Pernyataan tersebut menurutnya telah ia ungkapkan dalam kunjungannya ke Wina pada Senin lalu.

“Kemarin Senin saya baru balik dari Wina untuk menyatakan Indonesia masuk atau menggunakan nuklir untuk kelistrikan,” katanya dalam acara kumparan Green Initiative Conference 2024 pada Selasa, 24 September 2024.

Menurut Eniya, PLTN tersebut rencananya akan dapat terealisasikan sekitar tahun 2032. Ia juga berharap, PLTN di Indonesia nantinya dapat memberikan sumbangsih pasokan listrik negara hingga 9 GigaWatt (GW) di tahun 2060.

“(PLTN) itu akan dimulai on grid di tahun 2032 dan kita harapkan bisa 9 giga di tahun 2060” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia sendiri sebetulnya sudah menggunakan tenaga nuklir sejak tahun 1965. Hanya saja, nuklir tersebut dimanfaatkan bukan di sektor energi untuk pembangkit listrik, tetapi lebih banyak untuk keperluan riset maupun kesehatan. Nuklir ia sebut dikelola oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di Serpong, Bandung, dan Yogyakarta.

Ia juga menyebutkan pada Januari lalu sudah dikeluarkan Keputusan Menteri (Kepmen) terkait pembentukan Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO). Badan ini nantinya akan dikepalai langsung oleh Presiden. Pembentukan NEPIO sendiri nantinya akan mengacu pada standar dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEO).

“Kita sudah mendapatkan arahan dari pak Menteri untuk NEPIO-nya,” kata Eniya.

Hal yang terpenting dari rencana pembangunan PLTN ini sendiri menurut Eniya adalah memastikan adanya multilateral corporation. Hal ini mengingat sikap politik luar negeri Indonesia yang non-blok dan penggunaan nuklir yang cukup sensitif.

  💡 Tempo  

Selasa, 18 Juni 2024

[Video] Rusia Mau Transfer Teknologi Nuklir ke ASEAN, Indonesia Siap Jajaki

 Liputan Kompas 

P
emerintah menjajaki kerja sama pengembangan energi nuklir dengan Rusia. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

Potensi kerja sama itu dijajaki langsung dengan perusahaan negara Rusia yang bergerak di bidang nuklir, JSC Rosatom. Rencananya, nuklir bakal dimanfaatkan untuk energi ketenagalistrikan dan untuk keperluan non energi, seperti kesehatan dan pertanian.

 Berikut video dari Youtube : 


  🎥 Youtube  

Rabu, 01 Mei 2024

RI Siapkan Proposal Awal Pembentukan 'Nuklir'

https://awsimages.detik.net.id/visual/2023/08/28/dalam-foto-yang-diambil-saat-tur-ke-fasilitas-pengenceran-dan-pembuangan-air-yang-telah-diolah-untuk-media-asing-para-jurnalis_169.jpeg?w=715&q=90Pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi, dioperasikan oleh Tokyo Electric Power Company Holdings (TEPCO), di kota Okuma, timur laut Jepang. (AP/Eugene Hoshiko)) 💡

D
ewan Energi Nasional (DEN) berkolaborasi dengan PT ThorCon Power Indonesia (TPI) memulai pembentukan awal proposal untuk calon Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia.

Sebelumnya, DEN telah memasukkan energi nuklir dalam bauran energi nasional sebagai bagian dari upaya mencapai target Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060. Hal ini tercantum dalam Rancangan Peraturan Pemerintah Kebijakan Energi Nasional (RPP KEN) yang ditargetkan diundangkan tahun ini. RPP KEN menargetkan beroperasinya PLTN pertama di Indonesia pada tahun 2032.

Proposal ditargetkan selesai sebelum bulan Agustus 2024 dan selanjutnya akan diserahkan kepada Pemerintah untuk mendapatkan payung hukum dalam bentuk Program Strategis Nasional (PSN).

Dalam paparannya yang di lakukan secara daring, Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir, Haendra Subekti, menjelaskan berbagai persiapan yang dilakukan Bapeten dalam menghadapi target percepatan implementasi PLTN yang telah dan akan dilaksanakan, termasuk berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan ESDM.

Sekretaris Jenderal DEN, Djoko Siswanto menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti dukungan pemerintah dan juga DPR tentang persiapan terbentuknya PLTN. "Dan mendukung ThorCon melalui MOU kerjasama dengan DEN dalam artian mendukung secara teknis dan administratif" terang Djoko Siswanto, Selasa (30/4/2024).

Direktur Jenderal EBTKE, Eniya Listiani menyatakan, listrik yang dihasilkan dari PLTN ini harus langsung masuk ke grid. Dia menilai bahwa Nuklir merupakan pembangkit yang sudah sangat green, sehingga first in dan first out untuk energi green ini masuk ke grid. "Keuntungan dari PLTN ini dapat menghasilkan energi dengan jumlah besar dan relatif stabil, serta tidak menghasilkan gas emisi gas rumah kaca selama operasi normal," ungkap Eniya.

Direktur Operasi PT ThorCon Power Indonesia, Bob S. Effendi menambahkan, proposal awal ini akan menjadi solusi praktis transisi energi untuk gantikan PLTU batu bara, "Ini nantinya mendapat dukungan dari menteri ESDM untuk dapat di bahas bersama Presiden," terang Bob. (pgr/pgr)

  💡 CNN  

Senin, 23 Oktober 2023

Perusahaan AS Ini Siap-Siap Bangun Pembangkit Nuklir di RI

 Di Kepulauan Bangka Belitung 
https://akcdn.detik.net.id/visual/2020/03/10/4c73d8b1-9d24-4181-864e-4e920a79d1fb_169.jpeg?w=715&q=90Ilustrasi PLTN (Istimewa) 💡

P
erusahaan pembangkit listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) asal Amerika Serikat (AS) yakni PT ThorCon Power Indonesia tengah bersiap akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2030 mendatang.

Chief Operating Officer ThorCon, Bob S. Effendi mengatakan bahwa nantinya pada November 2024 mendatang, pihaknya akan memulai pemotongan baja pertama yang akan dilakukan di galangan kapal Korea Selatan.

Setelah itu, Bob menargetkan pada tahun 2027 mendatang, unit PLTN akan sampai di Indonesia. Lokasi yang dipilih pun berada di Kepulauan Bangka Belitung. Selain itu, izin operasi Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) ditargetkan pada tahun 2029 mendatang.

"Target operasi komersial 2030, First steel cutting (pemotong baja Pertama) di galangan kapal di korsel, November 2024, unit PLTN sampai lokasi 2027, target izin operasi Bapeten 2029," jelasnya kepada CNBC Indonesia saat dihubungi, Senin (23/10/2023).

Dia mengungkapkan bahwa linimasa yang ditargetkan dalam proses pembangunan PLTN dalam negeri ini masih didiskusikan lebih lanjut dengan pihak Bapeten.

Adapun, Bob menerangkan bahwa natinya PLTN yang digadangkan akan menjadi calon PLTN pertama di Indonesia tersebut akan memiliki kapasitas sebesar 500 Mega Watt (MW).

Lebih lanjut, PLTN tersebut akan meraup investasi sebesar Rp 13 triliun. Sedangkan bahan bakar yang akan digunakan oleh PLTN itu salah satunya yakni Thorium, dikatakan akan diimpor ke Indonesia terlebih dahulu. "Tapi dikemudian hari akan di bangun pabrik bahan bakar," tambahnya.

Selain itu, Bob klaim pihaknya telah mendapatkan izin usaha PLTN dalam negeri. Namun, dia menjelaskan bahwa saat ini pihaknya masih menanti terbitnya Peraturan Presiden sebagai payung hukum pembangunan PLTN dalam negeri.

"Pemerintah sudah memberikan izin usaha PLTN. Namun butuh Perpres sebagai payung hukum terhadap proyeknya yang lebih penting adalah terbitnya Revisi KEN (Kebijakan Energi Nasional) dan pembentukan NEPIO (Nuclear Energy Program Implementation Organization)," tandasnya.

  💡 CNBC  

Kamis, 30 Maret 2023

ThorCon Power Akan Bangun Pembangkit Listrik Nuklir Pertama

 Proyek Strategis Nasional Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) TMSR 500 MW. (Foto/Dok/Thorcon Power) ☆

PT ThorCon Power Indonesia (TPI) berencana akan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama, yang berkapasistas 500 Megawatt (TMRS500).

Rencana itu diungkapkan Direktur Operasi PT ThorCon Power Indonesia, Bob S Effendi. Bob mengungkapkan, untuk rencana tersebut pihak perusahaannya menyiapkan investasi senilai Rp 17 triliun.

Nilai tersebut untuk membangun pembangkit nuklir dengan reaktor thorium. Reaktor nuklir itu, rencananya dibuat di atas galangan kapal di Korea Selatan (Korsel).

Setelah instalasi reaktor thorium itu jadi, selanjutnya kapal reaktor nantinya akan berlabuh di pelabuhan. Fasilitas itu rencananya akan dibangun di Pulau Gelasa, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung.

“Memang investasi Rp 17 triliun. Kita tidak membangun planting di Indonesia, karena kita membangunnya itu di Korea di atas kapal, tapi yang dibangun di sini (Indonesia) lebih kepada Pulau Gelasanya, pelabuhannya dan juga fasilitas uji nonvisi,” ujar Bob dalam konferensi pers di kantor Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), Jakarta Pusat, dikutip dari Detik, Selasa (28/3).

Setelah pembangkit itu beroperasi, tidak menutup kemungkinan akan membangun pabrik reaktor nuklir di Indonesia yang berlokasi di Bangka Belitung tepatnya di Pulau Gelasa selepas tahun 2030.

Perusahaan ThorCon Power Indonesia saat ini masih melanjutkan studi teknis dan ekonomi. Tahun 2019 lalu, perusahaan galangan kapal BUMN yakni PT PAL Indonesia menandatangani perjanjian dengan Thorcon Internasional Pte Ltd.

Perjanjian dengan PT PAL di Surabaya itu merupakan, langkah untuk melakukan studi pengembangan reaktor dan pembangunan pembangkit listrik nuklir itu di Indonesia.

Selasa (28/03), Nuclear Safety Senior Manager PT TPI, Tagor Malem Sembiring menandatangani Perencanaan Konsultasi 3S dengan Direktur Pengaturan Pengawasan Instalasi dan Bahan Nuklir Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Haendra Subekti.

Kemudian perusahaan PT TPI menyampaikan dokumen High Level Safety Assessment (HLSA) yang disusun bersama konsultan engineering nuklir dari Spanyol Empresarios Agrupados (EA) dan Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika (DTNTF) UGM.

Berdasarkan hasil kajian dan kerangka regulasinya, Bapeten menilai TMSR500 (desain konseptual) dirancang untuk dapat memitigasi kecelakaan Fukushima dan bahaya eksternal lainnya, serta bahaya eksternal tipikal Indonesia.

“Kami melakukan penandatanganan dokumen serah terima dari PT ThorCon kepada BAPETEN. Dokumen ini berisi tentang rencana pembangunan PLTN dan segala dokumen-dokumen persyaratan yang diperlukan,” ujar Plt Kepala BAPETEN Sugeng Sumbarjo.

Apabila proyek selesai, nantinya diadakan konsultasi Safety/Keselamatan, Security/Keamanan, dan Safeguards/Garda Aman (3S) terkait desain PLTN itu.

“Dalam penyerahan ini penting adanya roadmap atau agenda yang mulai hari ini hingga 2029 di mana Thorcon akan menyampaikan secara bertahap dokumen-dokumen yang diperlukan kemudian BAPETEN juga akan melakukan konsultasi, sebelum masuk perizinan,” terangnya.
 

  💡
Ulasan  

Selasa, 05 Juli 2022

Menteri ESDM Respon Ketertarikan Rusia Kembangkan Nuklir di Indonesia

 Kebutuhan untuk nuklir baru akan dimulai tahun 2040 berdasarkan peta jalan energi yang telah kami susun Ilustrasi desain PLTN BATAN ♔

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif merespon ketertarikan perusahaan energi Rusia untuk mengembangkan industri pembangkit listrik tenaga nuklir atau PLTN di Indonesia.

Menurutnya, tawarkan kerja sama bilateral dalam hal pengembangan nuklir bukan hanya dari Rusia saja, tetapi juga sejumlah negara.

"Kami lihat nanti mana yang kompetitif dan reliable. Kebutuhan untuk nuklir baru akan dimulai tahun 2040 berdasarkan peta jalan energi yang telah kami susun," kata Menteri ESDM Arifin saat diwawancarai di sela Rapat Kerja Bersama Kementerian ESDM dan Kementerian Perindustrian di Bogor, Jawa Barat, Senin.

Menteri Arifin menyatakan Indonesia mempunyai bahan baku yang dibutuhkan untuk pengembangan setrum nuklir dan permintaan listrik bersih ke depan. Ia menekankan agar pemintaan listrik harus aman dan teknologi nuklir juga harus proven.

Sebelumnya Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan ketertarikan perusahaan dari negaranya untuk mengembangkan industri setrum nuklir di Indonesia usai dirinya bertemu dengan Presiden Joko Widodo.

Putin mengungkap perusahaan energi Rusia bernama Rosatom State Coorporation yang punya pengalaman, kompetensi, hingga teknologi bersedia terlibat dalam proyek bersama pengembangan industri energi nuklir di Indonesia.

Di tempat terpisah Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai tawaran kerja sama pengembangan industri nuklir dari Rusia layak diterima oleh Indonesia.

PLTN adalah pembangkit listrik daya thermal yang menggunakan reaktor nuklir dengan uranium sebagai bahan utama untuk menghasilkan listrik. PLTN termasuk energi bersih yang dapat melengkapi bauran energi baru terbarukan pembangkit listrik di Indonesia.

Fahmy menjelaskan PLTN sekaligus dapat mengatasi kelemahan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang tidak dapat memasok listrik secara penuh sepanjang waktu, karena sifatnya intermittent yang tergantung cahaya matahari dan hembusan angin.

Sebelum kerja sama Indonesia dan Rusia direalisasikan, pesannya, pemerintah, parlemen, dan Dewan Energi Nasional (DEN) harus mengubah Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang selama ini menempatkan energi nuklir sebagai alternatif terakhir.

  ♔
antara  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More