blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label Investasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Investasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Oktober 2026

PT PAL Bidik Pasar Maritim dan Pertahanan Timur tengah

  👷 🤝 💰 KRI BPD 322 (PAL)

PT PAL Indonesia (Persero) membidik perluasan pasar industri maritim dan pertahanan di kawasan Timur Tengah. Langkah ini ditempuh melalui penguatan kemitraan strategis dengan Uni Emirat Arab (UEA).

Perluasan pasar tersebut menjadi upaya PT PAL meningkatkan jangkauan bisnis dan memperkuat daya saing internasional. Penjajakan peluang kerja sama dibahas bersama Duta Besar RI untuk UEA, Judha Nugraha, di Surabaya.

Judha menilai, penguatan hubungan ekonomi Indonesia dan UEA membuka peluang bagi industri maritim dan pertahanan nasional. Peluang tersebut semakin besar setelah berlakunya Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA).

Dalam dua tahun penerapannya, perdagangan bilateral Indonesia–UEA meningkat 26 persen. Sementara itu, investasi UEA ke Indonesia naik hampir 641 persen.

“Capaian ini membuka ruang bagi penguatan kerja sama ekonomi yang lebih luas. Termasuk di sektor industri maritim dan pertahanan,” ujar Judha, Selasa, 20 Oktober 2026.

Ia juga mengapresiasi kemampuan desain dan rekayasa PT PAL yang telah memperoleh kepercayaan mitra internasional. Salah satu pencapaiannya terlihat melalui proyek kapal Landing Platform Dock (LPD) Al-Maryah.

Pengalaman tersebut menjadi modal PT PAL untuk menargetkan peluang bisnis baru di Timur Tengah. Perusahaan berupaya memperluas kemitraan sekaligus meningkatkan penetrasi pasar produk dan layanan industri maritim serta pertahanan.

Direktur Pemasaran PT PAL Indonesia, Wiyono Komodjojo, mengatakan perluasan pasar internasional membutuhkan dukungan diplomasi dan hubungan industri yang kuat. Kemitraan dengan UEA diharapkan membuka akses bisnis sekaligus memperkuat kemampuan industri nasional.

“Melalui kemitraan internasional, kami ingin memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan kapabilitas industri dalam negeri,” kata Wiyono. Ia berharap kerja sama tersebut memberikan nilai tambah bagi kedua negara dan mendukung kebutuhan pertahanan secara berkelanjutan.

Selain memperluas pasar, PT PAL juga menargetkan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Direktur Keuangan dan SDM PT PAL Indonesia, Pramusti Indrascaryo, menilai kemitraan internasional dapat mendukung pencapaian target tersebut.

Menurut Pramusti, kerja sama internasional membuka kesempatan untuk memperluas pengetahuan dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja. Kolaborasi tersebut juga dapat mendorong penguasaan teknologi guna memperkuat daya saing industri.

Pertemuan tersebut membahas peluang kolaborasi dalam desain, produksi, dan riset teknologi. Kerja sama juga berpotensi mencakup layanan pemeliharaan dan perbaikan kapal.

Melalui penjajakan ini, PT PAL menargetkan terbukanya peluang bisnis baru di kawasan Timur Tengah. Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk memperluas akses pasar, meningkatkan kapabilitas industri, dan memperkuat posisi Indonesia dalam industri maritim serta pertahanan global.

  💰  JRRI  

Minggu, 18 Oktober 2026

Rosatom Rusia Tandatangani Kesepakatan Proyek PLTN Terapung 200 MW di Indonesia

  Perjanjian ditandatangani di Moskow Ilustrasi proyek PLTN Terapung (Rosatom)

Maluku Utara siap menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menerima listrik tenaga nuklir di bawah proyek pembangkit listrik terapung berkapasitas 200 megawatt yang melibatkan perusahaan nuklir milik negara Rusia, Rosatom.

Rosatom telah menandatangani perjanjian dengan perusahaan Indonesia Pembangkit Listrik Nuklir untuk memasok 200 megawatt listrik dari unit tenaga nuklir terapung ke Maluku Utara, dalam sebuah proyek yang bertujuan untuk memperluas pasokan listrik di Indonesia bagian timur.

Perjanjian tersebut ditandatangani di sela-sela Pekan Energi Rusia di Moskow pada hari Jumat. Kedua perusahaan berencana untuk mengerahkan dua unit pembangkit listrik tenaga nuklir terapung untuk melayani bagian utara Pulau Halmahera.

Proyek ini akan menggunakan unit FPU-100 milik Rosatom, masing-masing dengan kapasitas pembangkitan 100 MW dan dilengkapi dengan reaktor laut seri RITM. Rosatom mengatakan unit-unit tersebut dapat mulai memasok listrik kepada konsumen Indonesia dalam waktu lima tahun setelah ketentuan utama kontrak pasokan listrik berlaku.

Direktur Jenderal Rosatom Alexey Likhachev menggambarkan perjanjian tersebut sebagai tonggak penting dalam kerja sama energi antara Rusia dan Indonesia, menyebutnya sebagai perjanjian ekspor listrik pertama di dunia yang dipasok oleh unit pembangkit listrik tenaga nuklir terapung.

“Kerja sama antara Rosatom dan Indonesia berkembang pesat. Pertemuan kami baru-baru ini dengan Presiden Prabowo Subianto menegaskan kembali bahwa negara kepulauan terbesar di dunia ini secara konsisten menempuh jalur untuk memperkuat keamanan energi dan mencapai netralitas karbon,” kata Likhachev dalam sebuah pernyataan.

Dia mengatakan Rosatom siap menawarkan teknologi canggih dan terbukti, menambahkan bahwa perjanjian tersebut meletakkan dasar untuk kemitraan jangka panjang.

“Saya yakin ini akan mengirimkan sinyal kuat kepada komunitas bisnis global: dengan dukungan pemerintah yang sistematis, sektor swasta secara aktif memimpin dalam memulai proyek infrastruktur nuklir yang mampu mentransformasi perekonomian negara,” tambahnya.

Yudi Utomo Imardjoko, direktur Pembangkit Listrik Nuklir dan ilmuwan nuklir Indonesia, mengatakan proyek tersebut dimaksudkan untuk mendukung transisi energi Indonesia dan memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat, khususnya di wilayah timur.

“Memimpin transisi energi Indonesia adalah tujuan dan tanggung jawab utama kami sebagai investor nasional. Kami sangat yakin bahwa menyediakan listrik yang bersih, andal, dan bebas karbon bagi masyarakat sangat penting untuk mengamankan masa depan energi jangka panjang Indonesia,” kata Yudi.

Ia mengatakan tenaga nuklir dapat membantu memenuhi peningkatan permintaan listrik sekaligus mendukung pembangunan ekonomi, khususnya di Indonesia bagian timur. Ia menambahkan bahwa proyek tersebut disusun sebagai inisiatif bisnis-ke-bisnis (B2B) yang didanai oleh investasi sektor swasta, tanpa bergantung pada anggaran negara (APBN).

Investor Haji Romo Nitiyudo Wachjo, yang juga dikenal sebagai Haji Robert, menyambut baik perjanjian tersebut dan berterima kasih kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, Rosatom, dan delegasi Rusia atas kerja sama mereka.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin karena telah mempercayakan tanggung jawab kepada dirinya dan Yudi untuk memajukan proyek 200 MW di Halmahera Utara, Maluku Utara.

Wachjo, seorang pengusaha pertambangan Indonesia keturunan Jawa-Australia, dikenal sebagai pemilik Indotan Group.

 Indonesia Menjajaki Energi Nuklir

Indonesia telah memasukkan tenaga nuklir dalam perencanaan energi nasionalnya sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat keamanan energi dan mencapai target netralitas karbon pada tahun 2060.

Prabowo telah membahas kerja sama dalam penggunaan energi nuklir secara damai dengan para pejabat Rusia, termasuk Putin selama kunjungan ke Moskow pada Juli 2024 dan Likhachev pada Mei 2026.

Diskusi tersebut mencakup pengembangan tenaga nuklir, infrastruktur, pelatihan tenaga kerja, dan aplikasi teknologi nuklir di luar sektor energi.

Rosatom telah mengusulkan pendekatan dua tahap untuk mengembangkan tenaga nuklir di Indonesia, dimulai dengan unit pembangkit listrik tenaga nuklir terapung skala kecil sebelum beralih ke pembangkit listrik berbasis darat yang dilengkapi dengan reaktor yang lebih besar.

Proyek Maluku Utara yang diusulkan akan menjadi langkah menuju tahap pertama dari rencana tersebut. Namun, perjanjian tersebut tidak menetapkan apakah semua persetujuan peraturan, pengaturan pembiayaan, dan persyaratan implementasi yang diperlukan telah diselesaikan.

 Teknologi Nuklir Terapung

Rosatom menyatakan bahwa unit FPU-100 dirancang untuk menyediakan listrik secara terus menerus kepada komunitas pesisir terpencil dan fasilitas industri. Setiap unit akan menggunakan reaktor RITM-200M, yang menurut perusahaan lebih ringkas dan menawarkan daya keluaran yang lebih tinggi daripada desain reaktor laut sebelumnya.

Rusia telah mengoperasikan Akademik Lomonosov, pembangkit listrik tenaga nuklir terapung pertama di dunia, di wilayah Arktik Chukotka sejak tahun 2020. Pembangkit ini menggunakan dua reaktor KLT-40S dan telah menghasilkan hampir 1,4 miliar kilowatt-jam listrik, menurut Rosatom.

Perusahaan ini juga mengembangkan unit nuklir terapung untuk pelanggan industri di Rusia dan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir skala kecil di Uzbekistan menggunakan reaktor RITM-200N.

Rosatom menyatakan bahwa mereka sedang membangun 27 pembangkit listrik tenaga nuklir di sembilan negara, menjadikannya pemasok utama teknologi nuklir ke pasar luar negeri.

  🤝  Jakarta Globe  

Jumat, 16 Oktober 2026

PT PAL Perkuat Kemandirian Pertahanan Maritim

  Lewat kapal perang dan kapal selam modern
KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL bersama KSOT. (PAL)

PT PAL Indonesia (Persero) terus bergerak menuju kemandirian industri pertahanan melalui peningkatan kemampuan manufaktur, engineering, dan penguasaan teknologi.

Langkah tersebut tercermin dalam pembangunan Frigate Merah Putih KRI Balaputradewa-322 dan program kapal selam Scorpène bersama Naval Group.

Direktur Pemasaran PT PAL Indonesia (Persero), Wiyono Komodjojo, mengatakan kedua program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pertahanan, tetapi juga menjadi bagian dari proses memperkuat kemampuan industri pertahanan maritim Indonesia.

Melalui program tersebut, PT PAL memperluas pengalaman dan kapasitas dalam manufaktur, rekayasa, pengembangan teknologi, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

“Keberhasilan program tidak hanya dilihat dari produk yang dihasilkan. Kita juga perlu melihat peningkatan produktivitas, kapasitas industri, dan kemampuan nasional yang dapat digunakan untuk program berikutnya,” ujar Wiyono dalam forum persiapan rapat pleno Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) di Jakarta, Selasa (6/10).

KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL bersama LPD pesanan Filipina (Ist)

Menurut Wiyono, pembangunan alutsista perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses membangun kemampuan industri nasional. Setiap program pertahanan dapat menjadi ruang pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan teknologi, kapasitas manufaktur, kemampuan engineering, dan kompetensi sumber daya manusia.

Dengan pendekatan tersebut, sambung dia, kemampuan yang dibangun melalui satu program dapat menjadi modal untuk mengerjakan program berikutnya. Proses ini secara bertahap membentuk kapasitas industri yang semakin kuat sekaligus memperdalam penguasaan teknologi di dalam negeri.

“Industri pertahanan perlu terus meningkatkan kapasitas produksi, kualitas sumber daya manusia, riset, dan penguasaan teknologi. Upaya itu membutuhkan ekosistem yang saling terhubung,” tambah Wiyono.

Karena itu, kemandirian industri pertahanan membutuhkan kebijakan yang konsisten dan investasi jangka panjang. Pengembangan riset, tenaga ahli, teknologi, dan industri pendukung juga perlu dilakukan secara berkelanjutan agar setiap program memberikan kontribusi terhadap peningkatan kemampuan industri nasional.

Dalam forum tersebut, PT PAL hadir sebagai perwakilan industri pertahanan maritim dan memaparkan pengembangan teknologi serta kemampuan industri dalam negeri. Forum persiapan rapat pleno KKIP tersebut menjadi ruang untuk membahas penguatan ekosistem industri pertahanan nasional guna mendukung transformasi pertahanan berbasis teknologi.

  👷  Info Ekonomi  

Senin, 12 Oktober 2026

Menhan Sjafrie Sebut Indonesia dan Mesir Sepakat Perkuat Kerja Sama Pertahanan

  Salah satunya kerjasama industri pertahanan Pesawat Presiden Mesir tiba di Indonesia dikawal 5 pesawat TNI AU (detik)

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan kerja sama pertahanan usai pertemuan bilateral Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi dan Presiden Prabowo Subianto pada Minggu (11/10/2026).

“Di bidang pertahanan, Indonesia dan Mesir sepakat untuk memperkuat kerja sama industri pertahanan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan latihan bersama, serta pertukaran pengalaman dan keahlian,” tulis Sjafrie, dikutip dari unggahan Instagram-nya, Senin (12/10/2026).

Sjafrie mengharapkan agar kerja sama ini semakin memperkuat kemampuan kedua negara sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian, stabilitas, dan keamanan kawasan.

Di sisi lain, Sjafrie menilai pertemuan Prabowo dan El-Sisi merupakan momentum penting dalam mempererat hubungan persahabatan dan kemitraan kedua negara yang terjalin sejak perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Kedua negara berkomitmen untuk terus memperluas kerja sama yang konkret dan saling menguntungkan di berbagai bidang, meliputi ekonomi, perdagangan, investasi, pendidikan, sains dan teknologi, kelautan, perikanan, serta pertahanan,” pungkas dia.

Diberitakan sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (11/10/2026) membahas berbagai isu strategis.

Pertemuan keduanya digelar sejak Presiden El-Sisi tiba di Istana sekitar pukul 10.30 WIB hingga sekitar pukul 14.00 WIB.

Pertemuan dimulai dengan upacara penyambutan.

Saat datang ke Istana, Presiden Mesir mendapat diiringi ratusan pasukan berkuda serta motoris.

Sejak kendaraan dinas yang ditumpangi El-Sisi masuk kawasan Monas, ratusan anak-anak sekolah berdiri di sisi kanan kiri jalan untuk menyambut kedatangannya.

Setibanya di Istana, El-Sisi langsung disambut Prabowo dari depan halaman Istana Merdeka.

Keduanya saling menyapa dan berpelukan saat bertemu.

Prabowo kemudian mengajak El-Sisi untuk mengikuti upacara penyambutan tamu negara yang digelar khidmat dan penuh penghormatan. .

  🤝  Kompas  

Jumat, 09 Oktober 2026

Prabowo Resmikan Ekspor Perdana Baterai Listrik

  Dan 4 Proyek Industri di IWIP Halmahera Tengah Suasana kawasan industri IWIP di Halmahera Tengah, Maluku Utara. Pada Kamis (8/10/2026), Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik dan 11 proyek hilirisasi di kawasan ini. (Kompas)

Presiden Prabowo Subianto meresmikan peluncuran ekspor perdana kendaraan listrik dan empat proyek industri yang memasuki tahap komersial di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (8/10/2026).

Keempat proyek tersebut adalah Blue Sparking Energy, REPT Battero Indonesia, Pioner Aluminium Industries, dan XCMG Indonesia Manufacturing.

"Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini saya Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto luncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik dan empat proyek industri yang memasuki tahap komersial," kata Prabowo dikutip dalam tayangan YouTube Sekretariat Presiden, Kamis.

Di momen yang sama, Prabowo juga meresmikan peletakan baru pertama (groundbreaking) pembangunan 7 proyek industri di kawasan IWIP.

Ketujuh proyek tersebut, meliputi Guang Ching Nickel Cobalt, Inno Prima Material, Tinci Materials Indonesia, Weda Bay Aluminium, Bintang Karya Aluminium, Flatsolar Energy Indonesia, dan Foton Guang Ching Motor Indonesia.

Kepala Negara mengungkapkan, berdasarkan laporan Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani, realisasi investasi di kawasan tersebut telah mencapai sekitar 20 miliar dollar AS, dengan rencana pengembangan investasi sebesar 7 miliar dollar AS.

Sejak pengembangan kawasan ini, penyerapan tenaga kerja pun telah mencapai lebih dari 100.000 orang.

Seturut realisasi tersebut, Prabowo berpandangan bahwa Indonesia adalah negara yang cerah, dianugerahi oleh sumber daya alam melimpah.

"Mereka-mereka yang mengatakan bahwa Indonesia gelap, collapse, Indonesia akan collapse, tiap bulan diramalkan kita akan collapse. Tapi hari ini saya datang, saya lihat masa depan Indonesia cerah," tutur Prabowo.

Ia juga menuturkan, ekspor perdana baterai kendaraan listrik adalah langkah yang penting.

Menurutnya, hal itu merupakan bukti nyata bahwa strategi hilirisasi Indonesia sudah benar. Ia berkomitmen akan meneruskan upaya tersebut dengan sebaik-baiknya.

"Apa yang telah kita lihat hari ini tidak bisa lepas daripada hari kemarin. Jadi sebagaimana saya mengatakan setiap saat, keberhasilan hari ini menuju kepada keberhasilan hari esok itu telah dimulai dari hari kemarin," tegasnya.

Eks Menteri Pertahanan (Menhan) ini menyebut, pembangunan sebuah bangsa memang bukan usaha yang singkat. Ia dibangun dari generasi ke generasi, dari pemimpin ke pemimpin.

"Nation building is a long march. Nation building is a long march. Ini bagian dari long march itu. Kita menarik energi dan semangat dari masa lalu, kita gerakan semangat dan energi hari ini untuk kita maju lebih semangat, lebih energi di masa depan. Terima kasih," tandasnya.

 Investasi capai Rp 180 triliun

Di kesempatan yang sama, Rosan menuturkan, 10 proyek strategis di Kawasan IWIP menjadi bagian dari rangkaian investasi dengan total mencapai 10,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 180 triliun.

Dari 10 proyek tersebut, empat proyek tercatat sudah selesai dan baru selesai.

Ekspor produk dari keempatnya mencapai 3,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 60 triliun.

Sementara itu, investasi enam proyek lainnya yang baru mulai dibangun (groundbreaking) senilai 6,8 miliar dollar AS.

"Dan akan tercipta lebih dari 10.000 lapangan pekerjaan dari 10 proyek tersebut," tutur Rosan.

Lebih lanjut Rosan memaparkan, keempat proyek yang sudah selesai tersebut bergerak di sektor baterai berbasis nikel, produksi baterai, aluminium elektrolit, dan alat berat berbasis listrik.

Sementara, proyek sisanya yang masih dalam tahap groundbreaking bergerak pada produk material baterai berbasis nikel juga, separator baterai EV, elektrolit baterai EV, aluminium elektrolitik, dan alat berat berbasis listrik yang akan dibangun untuk truck pertambangan dan industri, serta photovoltaic glass untuk solar energy industri.

"Dan kawasan industri ini sejak 2018 dan telah menyerap investasi 20 miliar dollar AS, dengan 7 miliar dollar AS yang baru, menjadi total 27 miliar dollar AS dengan penyerapan tenaga kerja total 117.000 tenaga kerja di kawasan ini," sebut Rosan.

  👷  Kompas  

Senin, 21 September 2026

PTDI Akan Garap 15% Airframe Jet Tempur KF-21

  Dorong Kontrak Pengadaan 16 Unit untuk TNI AU
Pesawat tempur KF-21 Boramae (KAI)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah mengantongi Industrial Collaboration Agreement (ICA) dengan Korea Aerospace Industries (KAI) asal Korea Selatan untuk memproduksi 15% bagian airframe (kerangka pesawat) jet tempur KF-21 Boramae bagi TNI Angkatan Udara (TNI AU).

ICA ini merupakan kelanjutan dari selesainya Fase EMD (Engineering and Manufacturing Development) KF-21 antara PTDI dan KAI pada Mei lalu, yang memungkinkan pesawat untuk selanjutnya memasuki fase produksi massal dan tahap komersialisasi.

Saat ini PTDI dan KAI bersama-sama mendorong tercapainya kontrak pengadaan 16 unit KF-21 oleh Kementerian Pertahanan untuk TNI AU dengan perkiraan nilai mencapai 2,9 miliar dolar AS (sekitar Rp 51,65 triliun). Target pengiriman tiga pesawat pertama diproyeksikan pada akhir 2028 atau awal 2029.

VP of Business Development & Marketing PTDI, Heber M.F. Panjaitan, menyampaikan hal tersebut dalam perbincangan dengan Airspace Review di ajang TNI Fair yang berlangsung di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat pada Sabtu (19/9).

Ia menjelaskan, melalui kesepakatan ICA dengan KAI, PTDI akan memperoleh nilai tambah yang sangat krusial dalam memperkuat kapasitasnya sebagai entitas industri dirgantara nasional. “Dengan membeli KF-21 ini, ada nilai tambah yang sudah kami susun dalam ICA tersebut yang akan didapatkan oleh PTDI untuk meningkatkan kemampuan menuju kemandirian industri dalam negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, PTDI akan menerima kucuran investasi sekitar 100-an juta dolar AS (lebih dari Rp 1,78 triliun) guna memaksimalkan fasilitas produksi di hanggar milik Kementerian Pertahanan di Bandung. Investasi tersebut, merupakan bagian dari total nilai kontrak yang akan didapat Indonesia.

“Semua permesinannya akan direvitalisasi, plus diberikan kemampuan komposit oleh KAI. Ini yang paling diincar industri penerbangan, yaitu Automated Fiber Placement (AFP),” ungkap Heber.

Sebagai tambahan informasi, AFP merupakan teknologi fabrikasi otomatis berbasis lengan robotik untuk menyusun dan menempelkan pita serat karbon (carbon fiber tows/prepreg) ke cetakan (mandrel/mold) dengan tingkat presisi dan kecepatan tinggi.

Guna mendukung penguasaan teknologi ini, KAI selain akan melengkapi berbagai fasilitas yang dibutuhkan tersebut, juga akan memberikan pelatihan kualifikasi secara intensif bagi puluhan teknisi dan insinyur PTDI.

"Ini merupakan benefit yang luar biasa tentunya bagi PTDI, di mana kita membeli 16 unit jet tempur KF-21 dan sekaligus mendapatkan nilai-nilai tambah tersebut," pungkas Heber.

 Dimulai pada 2010

Program KF-X/IF-X resmi dimulai pada 2010 melalui penandatanganan kesepakatan awal antara Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan untuk merancang jet tempur generasi 4,5 secara bersama.

Indonesia sepakat menanggung 20 persen biaya pengembangan dengan imbalan alih teknologi (transfer of technology) serta hak memproduksi pesawat untuk kebutuhan TNI AU.

Perjalanan panjang proyek kolaborasi ini melalui berbagai tahapan krusial, mulai dari fase pengembangan konsep (Technology Development), desain detail, hingga penyelesaian rancangan akhir (Critical Design Review).

Seiring berjalannya waktu, penamaan program ini berevolusi dan resmi diperkenalkan ke publik sebagai KF-21 Boramae saat peluncuran unit prototipe pertamanya pada April 2021.

Meskipun dinamika negosiasi ulang serta penyesuaian porsi pendanaan sempat mewarnai perjalanan kemitraan ini, kedua negara tetap mempertahankan komitmen utama untuk menyelesaikan program pengujian.

Keberhasilan penerbangan perdana prototipe KF-21 pada Juli 2022 menjadi bukti nyata pencapaian teknis dari kerja sama strategis Korea Selatan dan Indonesia.

Kini, dengan tuntasnya Fase EMD dan dimulainya kesepakatan produksi komponen airframe oleh PTDI, sejarah panjang KF-X/IF-X memasuki babak baru yang makin konkret.

Pencapaian ini menegaskan transformasi hubungan kedua negara dari sekadar kerja sama riset menjadi kemitraan manufaktur pertahanan tingkat lanjut. (RNS)

  ★ Airspace Review   

Jumat, 28 Agustus 2026

Visi Strategis MRO di Bandara Kertajati Bagi Pertahanan Negara

  👷 🛩  Ilustrasi (Japos) 

Pengembangan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sebagai pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) tidak semestinya dipandang sekadar sebagai proyek untuk meningkatkan utilisasi bandara. Lebih jauh, Kertajati memiliki peluang menjadi bagian dari strategi membangun kemandirian industri kedirgantaraan nasional.

MRO merupakan mata rantai penting dalam industri penerbangan. Pesawat yang diproduksi di dalam atau luar negeri tetap membutuhkan perawatan, perbaikan, modernisasi, penyediaan suku cadang, rekayasa, serta dukungan teknis sepanjang siklus hidupnya. Negara yang hanya mampu membeli pesawat, tetapi tidak mampu merawat dan meningkatkan kemampuannya secara mandiri, pada akhirnya tetap memiliki ketergantungan strategis.

Karena itu, pengembangan Kertajati perlu dilihat dalam perspektif yang lebih luas: sebagai upaya membangun ekosistem industri, sumber daya manusia, teknologi, dan jasa kedirgantaraan yang dapat memperkuat kepentingan ekonomi sekaligus pertahanan nasional.

 *Belajar dari MRO Negara Berkembang Lain*

Pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa pusat MRO yang berhasil tidak lahir hanya karena memiliki hanggar dan landasan yang memadai. Daya saingnya dibangun melalui kombinasi tenaga kerja terampil, sertifikasi internasional, kemampuan rekayasa, ketersediaan suku cadang, dukungan logistik, lembaga pendidikan, industri komponen, dan kepastian regulasi.

Brasil memberikan pelajaran penting. Melalui Embraer, negara tersebut tidak hanya membangun kemampuan manufaktur pesawat, tetapi juga mengembangkan jaringan services and support yang mencakup pemeliharaan, perbaikan, peningkatan kemampuan, suku cadang, pelatihan, dan dukungan teknis.

Ekosistem kedirgantaraan di sekitar Embraer, kota São José dos Campos, juga menunjukkan pentingnya konsentrasi industri. Pusat riset, perguruan tinggi, perusahaan rekayasa, pemasok komponen, dan fasilitas pengujian berkembang dalam satu lingkungan. Kekuatan seperti itu sulit dibangun jika MRO hanya dipandang sebagai kegiatan perawatan pesawat.

Pengalaman Helibras di Brasil juga memperlihatkan bagaimana kemampuan pemeliharaan dapat berkembang menjadi kemampuan industri yang lebih luas melalui integrasi, modernisasi, pelatihan, dan dukungan sepanjang siklus hidup helikopter.

Di Asia, Malaysia dan Singapura memberikan pelajaran berbeda. Malaysia memiliki pengalaman panjang dalam MRO pesawat komersial dengan dukungan tenaga terlatih, jaringan penerbangan regional, dan kepatuhan terhadap standar internasional. Singapura, melalui ST Engineering Aerospace, membangun jaringan MRO yang melayani berbagai pasar internasional.

Keduanya menunjukkan satu hal: menjadi pusat MRO regional bukan terutama persoalan ukuran wilayah atau jumlah hanggar. Yang menentukan adalah kualitas layanan, sertifikasi, keandalan, kemampuan teknis, logistik, serta kepercayaan pelanggan.

Maroko juga menarik untuk dicermati. Negara tersebut mengembangkan industri kedirgantaraan dengan menggabungkan MRO, manufaktur komponen, rekayasa, pendidikan vokasi, dan investasi asing. Dari sini terlihat bahwa MRO dapat menjadi pintu masuk menuju industri yang lebih dalam, termasuk produksi komponen dan pengembangan kemampuan rekayasa.

Meksiko menunjukkan pola serupa melalui pengembangan kawasan kedirgantaraan yang menghubungkan MRO, manufaktur komponen, pelatihan, dan jasa rekayasa. Sementara itu, Afrika Selatan memperlihatkan pentingnya kesinambungan kemampuan teknis, riset, serta hubungan antara kebutuhan pertahanan dan industri nasional.

Pengalaman negara-negara tersebut tidak dapat disalin begitu saja. Kondisi Indonesia berbeda. Namun, terdapat pola universal: MRO yang kuat selalu tumbuh dari ekosistem industri yang kuat.

 *Bukan Sekedar Hanggar Pemeliharaan*

Pelajaran dari MRO negara-negara lain sangat relevan bagi Kertajati. Kawasan ini sebaiknya tidak dirancang hanya sebagai tempat pesawat datang, diperbaiki, kemudian pergi kembali.

Kertajati perlu dipikirkan sebagai aerospace cluster yang menghubungkan MRO sipil dan militer dengan pendidikan, pelatihan, engineering, riset, industri komponen, pengujian, sertifikasi, perguruan tinggi, serta jaringan pemasok.

Jika ekosistem tersebut terbentuk, manfaat ekonominya akan jauh lebih besar. Kertajati tidak hanya menciptakan lapangan kerja bagi teknisi, tetapi juga mendorong tumbuhnya perusahaan komponen, jasa rekayasa, logistik, pendidikan vokasi, dan penelitian.

Investasi asing juga sangat diperlukan. Namun, investasi seharusnya tidak berhenti pada pembangunan fasilitas dan penciptaan lapangan kerja. Investasi harus menjadi instrumen transfer kemampuan.

Pelatihan teknisi Indonesia, sertifikasi tenaga kerja, pengembangan engineering, keterlibatan industri nasional, peningkatan kemampuan perbaikan komponen, dan penguasaan teknologi harus menjadi bagian dari desain kerja sama.

Ukuran keberhasilan investasi bukan hanya berapa besar modal yang masuk, tetapi berapa besar kemampuan yang menetap di Indonesia setelah investasi tersebut berlangsung.

 *MRO dan Pertahanan*

Perspektif ini menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan pertahanan.

MRO pertahanan bukan sekadar persoalan efisiensi biaya. Ia berkaitan langsung dengan kesiapan operasional dan kedaulatan negara. Ketergantungan yang terlalu besar pada fasilitas pemeliharaan di luar negeri dapat menjadi persoalan ketika terjadi krisis, konflik, pembatasan ekspor, atau gangguan rantai pasok global.

Karena itu, kemampuan MRO nasional merupakan bagian dari defence industrial base. Setiap pengadaan alutsista semestinya tidak berhenti pada pembelian platform. Negara juga harus memikirkan bagaimana alutsista tersebut dirawat, diperbaiki, dimodernisasi, dan didukung selama puluhan tahun masa pakainya.

Di sinilah kebijakan pengadaan pertahanan perlu dihubungkan dengan kebijakan industri.

Pengadaan, transfer teknologi, pengembangan SDM, pembangunan fasilitas MRO, pengembangan komponen, riset, dan penguatan industri nasional harus dirancang sebagai satu kesatuan. Dengan pendekatan tersebut, setiap pembelian alutsista dapat menjadi kesempatan untuk memperbesar kemampuan industri dalam negeri.

Kertajati berpotensi menjadi salah satu titik temu dari berbagai kepentingan tersebut.

 *Dari Bandara Menjadi Ekosistem*

Dengan pasar penerbangan yang besar dan posisi geografis Indonesia yang strategis, Kertajati memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi salah satu simpul MRO di Asia Tenggara. Namun, peluang tersebut tidak boleh dianggap sebagai posisi yang sudah tercapai.

Untuk menjadi pusat MRO regional, Kertajati harus mampu menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar fasilitas fisik: kualitas teknisi, sertifikasi internasional, kecepatan pengerjaan, ketersediaan komponen, dukungan rekayasa, kepastian regulasi, dan kepercayaan pelanggan.

Jika kemampuan tersebut berhasil dibangun, pesawat dari negara-negara kawasan dapat dirawat di Indonesia. Devisa yang selama ini keluar untuk MRO luar negeri dapat dikurangi. Pada saat yang sama, Indonesia dapat memperoleh devisa dari ekspor jasa MRO.

Lebih penting lagi, terbentuk kemampuan teknologi yang menetap di dalam negeri.

Karena itu, pembangunan Kertajati sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan berapa banyak pesawat yang dapat ditangani atau berapa besar investasi yang masuk. Pertanyaan yang lebih strategis adalah: kemampuan apa yang akan dikuasai Indonesia dalam 10, 20, atau 30 tahun mendatang?

Jika jawabannya mencakup teknisi yang semakin unggul, industri komponen yang semakin kuat, kemampuan rekayasa yang semakin mandiri, sertifikasi internasional yang semakin luas, serta kemampuan merawat dan memodernisasi alutsista secara nasional, maka Kertajati benar-benar menjadi proyek strategis.

Kertajati pada akhirnya bukan sekadar persoalan sebuah bandara. Ia adalah kesempatan untuk membangun ekosistem kedirgantaraan Indonesia.

Jika dikembangkan dengan visi jangka panjang, didukung kebijakan yang konsisten, pembiayaan yang jelas, target terukur, serta keputusan resmi yang kuat, Kertajati berpeluang menjadi salah satu fondasi industri kedirgantaraan nasional dan, pada waktunya, berkembang menjadi pusat MRO regional.

Ukuran keberhasilannya bukan sekadar berdirinya hanggar atau besarnya investasi. Ukuran yang sesungguhnya adalah lahirnya kemampuan nasional yang sebelumnya harus dibeli dari luar negeri.

Di situlah makna strategis Kertajati bagi kemandirian industri pertahanan Indonesia.

Oleh: Marsda TNI Dr. Budhi Achmadi, M.Sc)

  👷 
Japos  

Rabu, 15 Juli 2026

Kolaborasi PTDI dan BIJB Kembangkan Kertajati hub Kedirgantaraan

   Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (Perseroda) di Jakarta, Rabu (15/7/2026). ANTARA/Aji Cakti/pri

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan kolaborasi PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (Perseroda) untuk mengembangkan area Kertajati, Jawa Barat sebagai hub industri kedirgantaraan.

"Penandatanganan nota kesepahaman antara PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (Perseroda) atau PT BIJB sebagai bagian dari komitmen bersama untuk bisa mengembangkan area Kertajati menjadi kawasan yang menjadi salah satu hub industri kedirgantaraan," ujar AHY dalam acara penandatanganan nota kesepahaman antara PTDI dan PT BIJB di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, salah satu tantangan yang juga sedang terus dikawal adalah agar Bandara Kertajati ini bisa semakin aktif, semakin banyak penerbangan yang bisa menggunakan Kertajati, termasuk untuk haji dan umrah.

Tetapi di samping itu, berupaya untuk mengembangkan sebuah aerospace industrial zones atau kawasan industri (industrial park), sebuah kawasan industri kedirgantaraan.

"Oleh karena itu, tentu yang di depan salah satunya adalah PTDI. Kita tahu PTDI sudah sekian lama menjadi kebanggaan Indonesia sebagai pilar industri manufaktur (manufacturing) di bidang kedirgantaraan, pesawat, termasuk juga sekarang mengembangkan drone yang bisa digunakan untuk kepentingan sipil dan juga militer," kata AHY.

Menurut AHY, sebagaimana diketahui Bandung juga semakin padat penduduknya, semakin banyak kepentingan tata ruang juga terus berkompetisi satu sama lain, sehingga diperlukan areal pengembangan yang lebih luas sehingga Kertajati merupakan salah satu pilihan yang ideal.

Dia menjelaskan, lokasi Kertajati di Kabupaten Majalengka di kawasan Cirebon–Patimban–Kertajati (Rebana) ini juga strategis karena jika ditarik sesuai dengan konektivitas wilayah ke arah barat itu bisa langsung terhubung ke Jakarta, kemudian kawasan industri Bekasi, Karawang, dan Purwakarta.

Kemudian terdapat Pelabuhan Patimban, lalu ke arah timur itu menuju Cirebon, kemudian hingga masuk ke wilayah Jawa Tengah sampai dengan Semarang. Sedangkan ke bagian selatan, Kertajati diharapkan dapat menjadi feeder untuk penerbangan ke sejumlah kabupaten kota yang ada di wilayah selatan Jawa Barat maupun Jawa Tengah.

"Intinya adalah kalau kita bisa merelokasi, tentunya bertahap dimulai dari fasilitas MRO (Maintenance, Repair, Overhaul). Sekali lagi, ini bisa kita targetkan untuk dalam negeri maupun luar negeri," kata AHY.

  👷 
Antara  

Sabtu, 20 Juni 2026

Fincantieri–Republikorp Tandatangani Kesepakatan Kerjasama

 Buka peluang transfer teknologi perkapalan @ Eurosatory 2026 di Paris

Industri perkapalan nasional berpotensi mendapatkan tambahan investasi dan transfer teknologi setelah perusahaan galangan kapal asal Italia, Fincantieri, menjalin kemitraan strategis dengan Republikorp melalui anak usahanya PT Republik Palindo Internasional (RPAL).

Kerja sama tersebut membuka peluang pembangunan berbagai kapal angkatan laut di Indonesia.

Kesepakatan itu ditandai dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) yang menjadi landasan awal pembentukan joint venture antara kedua perusahaan.

Kolaborasi ini ditujukan untuk memperkuat industri perkapalan nasional sekaligus memperluas kerja sama industri maritim antara Indonesia dan Italia dalam jangka panjang.

Chief Executive Officer dan Managing Director Fincantieri Pierroberto Folgiero mengatakan, kerja sama tersebut merupakan langkah lanjutan dalam memperkuat hubungan strategis jangka panjang perusahaan dengan Indonesia.

Menurutnya, pengalaman Fincantieri dalam pembangunan kapal angkatan laut dan integrasi sistem dapat mendukung pengembangan kemampuan industri nasional dan ekosistem maritim yang lebih kuat.

"Berbekal pengalaman kami dalam pembangunan kapal angkatan laut dan integrasi sistem yang kompleks, kami berkomitmen mendukung pengembangan kemampuan industri nasional serta berkontribusi pada terciptanya ekosistem maritim yang lebih tangguh. Inisiatif ini juga mencerminkan komitmen kami untuk mendukung pengembangan kapabilitas industri yang berkelanjutan di Indonesia," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (19/6).

Dalam kerja sama tersebut, joint venture yang direncanakan akan fokus pada pembangunan berbagai platform maritim di dalam negeri, mulai dari Landing Platform Dock (LPD), Landing Helicopter Dock (LHD), fregat dan korvet multi-misi, kapal patroli lepas pantai atau Offshore Patrol Vessel (OPV), kapal serang cepat hingga kapal selam.

Selain meningkatkan kapasitas produksi kapal, kemitraan ini juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan industri nasional melalui transfer teknologi dan pertukaran pengetahuan.

Program yang dirancang mencakup pengembangan kompetensi di bidang rekayasa, desain, integrasi sistem, hingga proses produksi melalui pelatihan dan kerja sama teknis yang terstruktur.

Chairman Republikorp Group Norman Joesoef mengatakan penjajakan kemitraan tersebut mencerminkan upaya untuk mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui kolaborasi dengan mitra global.

Menurutnya, kerja sama itu juga membuka peluang pengembangan talenta Indonesia sekaligus memperkuat kemampuan maritim nasional.

"Bersama Fincantieri, kami melihat peluang untuk memperkuat kemampuan maritim nasional, mengembangkan talenta Indonesia, serta berkontribusi dalam membangun ekosistem pertahanan kawasan yang lebih tangguh,” tutup Norman.

  🤝  Kontan  

Selasa, 16 Juni 2026

Turkish Aerospace Jajaki Pembangunan Fasilitas Perakitan Pesawat di Indonesia

    🤝 ✈  🚁
Acara Indonesia Aerospace Ecosystem Forum 2026 di BRI Tower Bandung, Selasa (9/6/2026) (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar)

Kerja sama antara Indonesia dan Turkish Aerospace diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri dirgantara nasional melalui rencana pembangunan fasilitas perakitan pesawat serta manufaktur komponen penerbangan. Rencana strategis ini mengemuka dalam acara Indonesia Aerospace Ecosystem Forum 2026 yang diselenggarakan di Bandung pada Selasa (9/6/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Langkah ini diambil guna mendorong investasi baru di sektor penerbangan, penyediaan bahan baku, hingga manufaktur komponen. Pihak Turkish Aerospace menilai Indonesia memiliki landasan sejarah dan potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan industri penerbangan di kawasan Asia Tenggara.

Managing Director Turkish Aerospace Indonesia, Adi Aviantoro menyatakan bahwa sektor dirgantara nasional sempat mengalami kelesuan setelah sebelumnya memiliki dasar industri yang kuat. Kehadiran investasi baru ini diharapkan mampu memberikan suntikan modal bagi kebangkitan aviasi domestik.

"Indonesia ini secara sejarah memang background industrinya sudah diarahkan ke arah industri aerospace. Kemudian ada jeda masa waktu ketika industri aerospace itu lesu. Mulai tahun 2022, setelah Turkish Aerospace Indonesia berinvestasi di Indonesia, kami harapkan industri aerospace dan pendukungnya mulai berkembang, terutama di industri manufaktur," kata Adi saat ditemui di sela acara.

Menurut Adi, basis industri yang kuat di Indonesia, khususnya di Kota Bandung, menjadi daya tarik utama bagi pihak Turki untuk menanamkan modalnya.

"Turki melihat Indonesia sudah mempunyai potensi ke arah industri aerospace. Oleh karenanya memang Turki berinvestasi di Indonesia untuk industri pesawat terbang yang sudah ada basisnya di Indonesia, terutama di Bandung," ujarnya.

Saat ini, pengembangan fundamental berfokus pada penguatan manufaktur komponen sebelum kapasitas produksi pesawat terbang ditingkatkan secara massal guna mendukung industri di Turki.

"Sekarang ini yang harus kita perkuat secara fundamental adalah mengembangkan industri part manufacturing yang kemudian akan berkembang ke arah pesawat terbang yang akan mendukung industri pesawat terbang di Turki. Tapi kita di Indonesia sekarang ini lebih fokus kepada industri part manufacturing," katanya.

Meskipun pendirian fasilitas perakitan pesawat sudah masuk dalam rencana jangka panjang, besaran nilai investasi keseluruhan saat ini masih berada dalam tahap pengkajian mendalam.

"Selain membuat perusahaan Turkish Aerospace Indonesia, Turki juga berinvestasi untuk ke depannya membuat fasilitas assembly pesawat terbang. Sampai saat ini kita masih dalam studi untuk menyimpulkan besaran nilai investasi," ujar Adi.

Kawasan Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka menjadi salah satu kandidat kuat lokasi fasilitas perakitan tersebut, menyusul pemberian fasilitas serupa kepada GMF.

"Saat ini kita ada beberapa pilihan yang belum diputuskan. Kemarin sudah didengar mengenai GMF yang diberikan fasilitas di Kertajati. Mungkin arahan ke depannya juga arahnya akan ke Kertajati," katanya.

Adi menambahkan bahwa Bandung memiliki kesiapan sumber daya manusia yang mumpuni berkat keberadaan universitas dengan jurusan penerbangan.

"Bandung harusnya paling siap karena didukung dari universitas yang jurusannya penerbangan yang ada di Bandung. Kemudian ada industrinya, industri penerbangan memang pusatnya dari dulu ada di Bandung," ujarnya.

Pada tahap awal operasional, perusahaan akan memprioritaskan pengembangan helikopter komersial, meskipun Turkish Aerospace juga memproduksi pesawat sayap tetap serta helikopter militer.

"Sementara ini kita masih fokus untuk helikopter yang komersial. Produk Turkish Aerospace ada yang fixed wing and rotary wing. Yang rotary wing itu ada yang militer dan ada yang komersial, sekarang ini kita fokus untuk yang komersial," kata Adi.

Kendala utama yang saat ini dihadapi oleh industri penerbangan domestik adalah ketergantungan pada impor bahan baku, yang diharapkan dapat diatasi melalui dukungan finansial yang kuat.

"Saat ini memang kesulitan yang paling utama adalah raw material. Tapi dengan adanya dukungan finansial, maka mudah-mudahan kendala ini bisa diatasi. Kemudian raw material bisa kita sediakan untuk para supplier di Indonesia. Akhirnya secara financing sudah tidak ada masalah untuk pengadaan material," ujarnya.

Di sisi lain, Chairman Indonesian Aircraft Components Manufacturers Organization (INACOM), J. Adi Sasongko menilai kehadiran perusahaan asal Turki ini mampu menggerakkan ekosistem industri komponen lokal yang tersebar di wilayah Indonesia.

"Kita beruntung sekarang ini kita ketemu Turkish Aerospace Indonesia yang mencoba membangun ekosistem. Harapannya kita bisa didukung oleh industri yang banyak tersebar di seluruh Indonesia untuk mensupport Turkish Aerospace Indonesia," katanya.

Ia mencontohkan Amerika Serikat yang berhasil mengembangkan industri penerbangannya melalui peningkatan kapabilitas dari industri komponen otomotif.

"Saya rasa industri aviasi ini sangat besar peluangnya. Seperti di Amerika, industri aviasi dibuat pertama kali dengan mengonversi industri komponen otomotif untuk di-upgrade menjadi industri komponen pesawat. Harapannya kita bisa mengikuti seperti Amerika," ujarnya.

Meskipun mengidentifikasi adanya hambatan pada sistem regulasi dan birokrasi domestik, Adi Sasongko menegaskan bahwa hal tersebut tidak boleh menghentikan langkah pengembangan.

"Birokrasi dan regulasi itu tetanggaan, sama-sama ruwet. Kita tidak akan menunggu birokrasi maupun regulasi sampai benar-benar ideal. Karena kalau kita menunggu ideal mungkin tidak akan pernah datang," katanya.

Sektor transportasi udara dinilai memiliki potensi pasar domestik yang sangat besar mengingat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

"Sebenarnya kita merupakan pasar yang sangat besar. Mulai Sabang sampai Merauke membutuhkan transportasi udara yang begitu banyak. Dengan 17.000 pulau, harusnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sekarang yang beterbangan di atas kita ini kebanyakan pesawat impor semua," tutupnya.

  ★  Mata Lokal   

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More