blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label Teknologi Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi Informasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Juni 2024

"Prof Drone UI" Mengaku Belum Ada Kerja Sama dengan TNI

💡 15 Tahun Meneliti Drone AI Militer "Prof Drone UI" (Kompas) 💡

Guru Besar Teknik Elektro Universitas Indonesia Benyamin Kusumoputro mengakui bahwa hingga kini belum ada kerja sama dengan militer terkait pengembangan drone dengan sistem pengendalian berbasis artificial intelligence (AI).

Benyamin yang dijuluki "Prof. Drone" ini telah meneliti sistem pengendalian drone berbasis AI untuk militer sejak 2009. Ia pun mengaku beberapa kali mendapatkan dana riset dari pemerintah untuk pengembangannya.

Namun hingga kini belum ada kerja sama dengan TNI, terutama dalam hal mengimplementasikan software drone AI ke dalam hardware, seperti jet tempur, unmanned aerial vehicle (UAV), dan unmanned combat aerial vehicle (UCAV).

Sampai sekarang memang belum ada. Jadi memang mungkin juga saling tunggu-menunggu,” ujar Benyamin dalam acara Brigade Podcast Kompas.com, Sabtu (18/5/2024).

Saat ini, kata Benyamin, Indonesia sudah mampu mengembangkan sendiri perangkat lunak atau software untuk sistem kendali drone militer berbasis AI.

Namun, pengembangan lebih lanjut yang akan dilakukan terkendala ketersediaan perangkat keras atau hardware berspesifikasi militer untuk mengimplementasikan software tersebut.

Masalahnya adalah memang support, policy dari pemerintah untuk ayo kita menggalakkan misalkan hal seperti itu. Nah kemudian kita bisa mulai dengan define step-stepnya untuk mencapai itu,” kata Benyamin.

 Pengembangan Drone AI Militer Terkendala Ketersediaan Hardware 
Drone UCAV CH4 TNI AU (Dispenau)

Guru Besar Teknik Elektro Universitas Indonesia Benyamin Kusumoputro mengungkapkan, pengembangan drone berbasis artificial intelligence (AI) untuk TNI terkendala ketersediaan “hardware”.

Menurutnya, Indonesia tak memiliki kendala untuk pengembangan perangkat lunak atau software untuk sistem kendali drone berbasis AI. Kendala justru terjadi ketika software tersebut hendak diimplementasikan pada hardware.

Jadi secara software kita sudah menunjukkan hasil yang baik. Tetapi menerapkan ke hardware-nya, nah itu yang masih dalam persoalan,” ujar Benyamin dalam acara Brigade Podcast Kompas.com, dikutip Sabtu (18/5/2024).

Menurutnya, sulitnya mengimplementasikan software ke dalam hardware terjadi karena terbatasnya akses untuk mendapatkan hardware berspesifikasi militer, misalnya jet tempur, unmanned aerial vehicle (UAV), dan unmanned combat aerial vehicle (UCAV).

Itu memang agak rumit karena hardware-nya itu kadang belum ada di pasaran terutama di Indonesia. Jadi kita kalau ingin beli sesuatu hardware yang agak canggih, itu kita di-block. Apalagi yang military spec sudah enggak mungkin masuk ke Indonesia,” ungkap Benyamin.

Jadi oleh karena itu maka ya kita harus mengembangkan dari yang ada, komponen yang ada, dan seterusnya. Nah itu membutuhkan waktu yang cukup untuk riset tersendiri,” pungkasnya.

 Kembangkan "Drone AI" Sendiri  
Drone UCAV ANKA akan digunakan TNI (TAI)

Guru Besar Teknik Elektro Universitas Indonesia Benyamin Kusumoputro mengungkapkan bahwa Indonesia harus mampu mengembangkan sendiri drone dengan sistem pengendalian berbasis artificial intelligence (AI) untuk persenjataan militer.

Hal tersebut perlu diwujudkan agar Indonesia tidak perlu lagi bergantung kepada negara lain dalam hal persenjataan, khususnya drone, dan sekaligus menumbuhkan industri pertahanan di dalam negeri.

Karena apapun juga, industri militer yang tidak dibangun oleh negara itu sendiri akan menyebabkan ketergantungan, baik informasi, kemudian pengembangan teknologi maupun hardware. Dan itu akan memakan biaya yang sangat tinggi,” ujar Benyamin dalam acara BRIGADE Podcast Kompas.com, dikutip Sabtu (18/5/2024).

Menurut Benyamin, Indonesia saat ini sudah memiliki kemampuan mengembangkan sendiri perangkat lunak atau software untuk sistem kendali drone yang berbasis AI.

Namun, proses pengembangan senjata drone AI ini masih terkendala penerapan software ke dalam perangkat keras atau hardware in the loop.

Padahal kalau itu bisa diproduksi di dalam negeri, mestinya selain harga lebih murah, juga kemampuan bangsa kita untuk lebih mengembangkan R and D (research and development) juga akan lebih lebih meningkat,” kata Benyamin.

Benyamin menambahkan, persoalan yang saat ini perlu diselesaikan bersama antara peneliti dan pemerintah adalah keterbatasan akses untuk mendapatkan hardware berspesifikasi militer, misalnya jet tempur, unmanned aerial vehicle (UAV), dan unmanned combat aerial vehicle (UCAV).

Diberitakan sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta TNI Polri melek dan berani memanfaatkan teknologi.

Jokowi mengatakan ini dalam acara Rapat Pimpinan (Rapim) TNI-Polri di Markas TNI, Cilangkap, Jakarta, Rabu (28/2/2024).

"Pemanfaatan teknologi dalam perang konvensional, perang siber, akan semakin meningkat. Oleh sebab itu TNI, Polri harus berani masuk ke hal-hal yang berkaitan dengan teknologi," kata Jokowi.

Jokowi mengatakan, teknologi pesawat tempur hingga tank diperlukan.

Selain itu, ia juga menyorot soal penggunaan drone. Sebab, teknologi drone kini sudah canggih dan akurat hingga bisa mendeteksi orang.

"Tapi hati-hati juga dengan drone. Saya ingat di tahun 2020 bulan Januari, ada penggunaan drone yang saya kaget karena begitu sangat presisi dan begitu sangat akurat mengejar siapa yang diinginkan," ujar dia.

Kepala Negara pun mencontohkan implementasi drone.

Menurut dia, pernah ada seorang Mayor Jenderal (Mayjen) Qasem Soleimani yang merupakan Komandan tentara Pasukan Quds di Iran, tertembak drone yang dikendalikan dari jarak jauh.

Jokowi mengingatkan jajaran TNI Polri mengamati dan mengikuti perkembangan teknologi.

"Saat itu Mayjen Soleimani komandan Quds dari pengawal besar revolusi Iran, tertembak dari drone yang dipersenjatai. Akurat karena memakai face recognition. Akhirnya ketembak," ucap Jokowi.

"Dan yang kita kaget itu terjadi di wilayah Irak tapi dronenya konon dikendalikan dari Qatar, Markas Amerika Serikat di Qatar," tambah dia.

  Kompas  

Jumat, 28 Juli 2023

IndiHome Ubah Tradisi Paket Internet

 Biar Tak Malu-maluin RI Ilustrasi. Koneksi cepat bisa bermula dari paket internet yang ditawarkan. (kaboompics) 💻

Telkomsel meluncurkan paket internet IndiHome dengan kecepatan yang beda dari biasanya. Tujuannya adalah memperbaiki citra RI yang selama ini selalu masuk peringkat buncit kecepatan jaringan.

Paket terbaru itu adalah High Speed JITU 1 yang punya kecepatan 100 Mbps dan dibanderol Rp 375 ribu.

"Produk terendah yang kami offer adalah 30 Mbps, tapi hero produk yang kami highlight adalah 100 Mbps. Kenapa? Kami punya misi, masa kita enggak malu Indonesia dianggap negara besar, broadband-nya jelek, internetnya jelek, terbelakang, katanya sudah 5G, sudah FTTH (Fiber to The Home)," cetus Dedi Suherman, Vice President Home Broadband and FMC Consumer Marketing Telkomsel, di Bali, Rabu (26/7).

Biasanya, paket-paket IndiHome dan juga paket internet fixed lainnya punya rata-rata kecepatan 30 Mbps.

Contohnya pada paket IndiHome. Paket JITU 1-1P punya kecepatan 40 Mbps. Paket JITU 1-2P Inet Phone dan Paket JITU 1-2P Inet TV punya varian 30 Mbps, 40 Mbps, dan 50 Mbps. Sementara, Paket JITU 1-3P punya dua jenis, 30 dan 40 Mbps.

Kenapa kecepatan rata-rata di Indonesia 30 Mbps?

"Karena mayoritas pelanggan IndiHome langganannya 30 Mbps. Kenapa IndiHome yang tentukan? Karena Indihome market leader [sektor fixed broadband], 70 persen," ujar Dedi.

Pihaknya ingin mengubah posisi tersebut dengan memberikan paket internet yang lebih murah namun dengan kecepatan lebih tinggi. Jika strategi ini berhasil, Dedi menyebut posisi Indonesia di Asia Tenggara dalam hal kecepatan internet bisa menjadi lebih baik.

"Kalau kita bisa membawa pelanggan 30 Mbps naik ke 100 Mbps, kebayang enggak kita bisa nyalip semua negara di ASEAN kecuali Singapura. Itu tujuan kami, kenapa kita kasih promo yang luar biasa," papar Dedi.

Sebagai catatan, paket 100 Mbps Rp 375 ribu ini hanya bisa dipesan hingga 31 Agustus 2023. Usai masa promosi ini habis, pelanggan bisa membeli paket tersebut dengan harga Rp 425 ribu.

Dikutip dari Speedtest Global Index Ookla, Indonesia berada pada posisi delapan di Asia Tenggara berada di atas Kamboja dan Myanmar dalam hal kecepatan jaringan tetap.

Secara global, RI berada di posisi 122 dengan kecepatan fixed broadband 26,12 Mbps.

Berikut daftar lengkap kecepatan internet fixed broadband Asia Tenggara pada Juli 2023:

• Singapura 247,29 Mbps (peringkat 1 dunia)

• Thailand 206,6 Mbps (peringkat 6)

• Malaysia 95,69 Mbps (peringkat 39)

• Vietnam 93,44 Mbps (peringkat 44)

• Filipina 92,84 Mbps (peringkat 47)

• Brunei 50,6 Mbps (peringkat 89)

• Laos 33,06 Mbps (peringkat 111)

• Indonesia 26,12 Mbps (peringkat 122)

• Kamboja 22,72 Mbps (peringkat 127)

• Myanmar 19,6 Mbps (peringkat 134) (lom/arh)

  🖥
CNN  

Jumat, 31 Maret 2017

Prancis Ingin Ikut Bangun Satelit di RI

Menkominfo: Tunggu DuluMenkominfo Rudiantara saat meninjau Media Center untuk KTT IORA 2017 di JCC, Jakarta, Senin (6/3). Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi media center agar awak media dapat melakukan peliputan dengan mudah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Perusahaan antariksa Arianespace menawarkan bantuanya untuk ikut serta dalam proyek pembangunan high throughput satellite di Indonesia. Ketertarikan itu disampaikan disela-sela lawatan Presiden Francois Hollande ke Tanah Air.

Keterangan tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara usai acara pertemuan bilateral Prancis-Indonesia di bidang ekonomi kreatif dan promosi industri kebudayaan di Hotel Haris Vertu, Jakarta.

"Tadi dari Arianespace ingin berpartisipasi untuk peluncuran high throughput satellite, satelit pemerintah," ucap Rudiantara, di Jakarta pada Rabu 29 Maret 2017.

Meski sudah ada ketertarikan, Rudiantara tidak bisa memastikan Arianespace bisa turut serta membantu Indonesia. Perusahaan tersebut mesti melewati proses dan regulasi yang berlaku di Indonesia terlebih dahulu.

"Belum tahu, harus lewat tender," sebut dia.

Menurutnya, cara tersebut adalah sesuatu yang wajar. Sebab, Indonesia mau yang terbaik dalam membangun high throughput satellite.

"Tunggu dulu saja, we want the best solution, high throughput satellite pemerintah itu akan jadi high throughput satellite yang dimiliki tanda kutip oleh Indonesia," jelas dia.

"Karena belum ada operator lain yang mendesain high throughput satellite, high throughput satellite yang langsung internet," sambung dia.

Walau begitu, Rudiantara pun tak memungkiri, Arianespace punya keunggulan yang tak dimiliki perusahaan serupa milik negara lain.

"Airanspace yang paling banyak meluncurkan satelit dibanding Long March dari China atau (perusahaan serupa) dari Rusia," kata Rudiantara.

Oleh sebab itu, ia meminta perusahaan Prancis tersebut bersabar. Pasalnya, proses tender dimulai dalam waktu tidak lama lagi.

"Proses penujukan badan usaha pertengahan tahun semester dua ini, kemudian award diberikan pertengahan 2018 satelitnya meluncur tahun 2021. Kan butuh 30 bulan untuk bangun satelit," katanya.

Rudiantara memastikan jika high throughput satellite maka akan banyak keuntungan di bidang telekomunikasi yang akan didapat masyarakat Indonesia.

"Itu satelit Indonesia high throughput satellite, itu satelit langsung internet di mana pun bisa akses internet, ini belum ada," paparnya.

"High throughput satellite yang langsung internet kalau sekarang kan satelit komunikasi harus dikonversi dulu," tutup dia.

   Liputan 6  

Jumat, 09 September 2016

Perusahaan Patungan RI-China Bangun Pabrik Serat Optik Pertama di ASEAN

http://images.detik.com/visual/2016/09/09/758affa1-4a0f-49d0-b538-e57fb6e246dc_169.jpg?w=500&q=90Dok. Kementerian Perindustrian

Permintaan serat optik (optical fiber) semakin meningkat seiring kebutuhan industri digital global yang terus mengikuti perkembangan teknologi terkini. Untuk itu, industri serat optik berperan penting dalam memberikan nilai tambah yang signifikan bagi sektor pendukungnya.

"Optical fiber ini untuk modernisasi jaringan operator telekomunikasi yang sebelumnya menggunakan kabel tembaga dan pengembangan jaringan ke perumahan baru," kata Dirjen Industri Logam, Mesin Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan, pada peresmian PT Yangtze Optical Fiber Indonesia (YOFI) di Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/9/2016).

Putu memberikan gambaran, untuk koneksi pita lebar (broadband) rumah tangga, saat ini terdapat 70 juta rumah tangga yang membutuhkan sambungan internet jenis fiber to the home (FTTH).

"Permintaan serat optik juga menjadi besar dengan adanya proyek Palapa Ring yang butuh hingga 36.000 km," tuturnya.

Dengan beroperasinya PT YOFI, naiknya kebutuhan kabel serat optik diharapkan dapat dipasok oleh industri dalam negeri karena selama ini masih dibanjiri produk impor. Dalam hal ini, Kementerian Perindustrian akan menerapkan aturan SNI wajib untuk seluruh produk serat optik di Indonesia.

PT YOFI merupakan perusahaan patungan antara Yangtze Optical Fibre and Cable (YOFC) asal Tiongkok dengan PT Monas Permata Persada.

"PT YOFI sebagai pabrik optical fiber pertama dan satu-satunya di Indonesia, bahkan pertama di Asia Tenggara yang mampu memenuhi 50 persen kebutuhan nasional dan regional Asia Tenggara," jelas Putu.

Kehadiran YOFI membuat tingkat komponen dalam negeri industri kabel serat optik akan melonjak drastis. Terlebih lagi adanya program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN). Program tersebut menyatakan instansi pemerintah dan BUMN wajib menggunakan produk dengan TKDN lebih dari 40%.

Sementara itu, Presiden Komisaris YOFC Jan Bongaerts mengatakan, Indonesia sebagai negara tujuan investasi dan akan menjadikan basis produksinya karena industri kabel di Tanah Air jauh lebih berkembang dibandingkan industri serupa di negara lain di ASEAN.

"Permintaan serat optik di Indonesia mencapai 8–9 juta kilometer (km) per tahun dan berpotensi naik tinggi dalam jangka waktu pendek. Namun, kapasitas produksi kami saat ini mencapai 3 juta km per tahun," paparnya.

Menurut Jan, dengan populasi Indonesia yang mencapai 250 juta penduduk, permintaan broadband untuk internet pasti terus bertumbuh. Apalagi, pemerintah tengah gencar memperluas jaringan internet hingga ke pelosok.

"Kami mengharapkan tahun depan bisa menaikkan kapasitas menjadi double hingga 6 juta km," tuturnya.

 Tambah investasi 

Bahkan, Presiden Direktur PT Monas Permata Persada Santoso meyakinkan, kapasitas pabrik PT YOFI bisa dikembangkan mencapai 12 juta km serat optik per tahun tanpa harus memperluas area produksi. Pada tahap pertama pabrik baru bisa produksi dengan kapasitas 3 juta km serat optik per tahun melalui investasi awal senilai US$ 23 juta untuk pembangunan pabrik dan US$ 7 juta untuk modal kerja.

Santoso menambahkan, PT YOFI berencana menggandakan produksinya mencapai 6 juta km serat optik per tahun pada 2017. Kapasitas produksi tersebut setara kebutuhan untuk tujuh produsen kabel serat optik di Indonesia.

"Saat ini, 100 persen masih untuk memenuhi kebutuhan di Indonesia. Kemudian naik ke 8–9 juta kilometer pada tahap ketiga dan pada tahap keempat maksimal di 12 juta km," ujar Santoso.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Harjanto, memberikan apresiasi kepada PT YOFI atas realisasi investasinya dalam upaya mengembangkan industri di Indonesia.

"Pada tahap pertama, total nilai investasi mereka sebesar US$ 30 juta. Setelah pada tahap penyelesaian pembangunan nantinya, total nilai investasi akan menjadi US$ 80 Juta dengan total kapasitas sebesar 12 juta km optical fiber," paparnya.

Harjanto berharap, akan semakin besar investasi masuk pada sektor-sektor industri strategis yang akan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional.

"Pada kuartal II tahun 2016, total nilai investasi asing di Indonesia mencapai US$ 8,01 miliar atau meningkat 49,11 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2015," ungkapnya.

Dengan telah dilaksanakannya Indonesia Business Forum di Shanghai pada tanggal 3 September 2016, Harjanto meyakinkan, minat investor dari Republik Rakyat Tiongkok akan semakin meningkat untuk berinvestasi di Indonesia pada sektor industri strategis. (hns/hns)

  detik  

Jumat, 30 Oktober 2015

Balon Internet Google

2016 Mulai Terbang di Indonesiahttp://images.cnnindonesia.com/visual/2015/10/16/adb8a37a-c971-4c9b-a9a7-4fff876417aa_169.jpg?w=650Project Loon akan segera terbang di Indonesia (Dok. Akun Google Plus Project Loon)

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara bersama tiga operator seluler di Indonesia berkunjung ke kantor pusat Google, di California, San Francisco, Amerika Serikat. Salah satu agendanya soal, Project Loon.

"Saya dan 2 CEO operator lainnya hari ini (Rabu, 28 September) menandatangani technical trial agreement (Project Loon)," kata CEO XL Axiata Dian Siswarini, saat berbincang dengan CNN Indonesia, Kamis (29/10/2015). Hal senada juga diungkapkan oleh CEO Indosat Alexander Rusli. "Iya betul, kami baru saja tanda tangan trial teknis."

Dian yang sedang di markas Google, menandatangani kerjasama itu dengan Alexander Rusli dan CEO Telkomsel Ririek Adriansyah disaksikan oleh Menkominfo Rudiantara.

Dilanjutkan olehnya, bahwa Project Google Loon ini sangat cocok untuk membuka akses daerah-daerah di Indonesia agar bisa tersambung dengan jaringan telekomunikasi.

Dian bilang, "Kami melihat bahwa Google Loon bisa menjadi alternatif teknologi untuk men-cover daerah-daerah yang selama ini sulit dijangkau dengan terestrial network."

Setelah kesepakatan ini, Balon Loon ini akan diterbangkan di atas wilayah Indonesia pada tahun depan. "Techincal trial tersebut akan dimulai di tahun 2016. Belum tahu wilayah mana saja yang akan diterbangkan di Indonesia," tandas Dian.

Sebelum di Indonesia, Balon Loon sudah pernah melakukan uji coba di Australia. Cara Project Loon ini bekerja adalah dengan meluncurkan 20 balon udara di bagian barat Quennsland. Google tidak membeli atau menyewa frekuensi di Negeri Kanguru tersebut.

Dalam proyek ini, Telstra memberi izin pada Project Loon untuk mengakses jaringan BTS memanfaatkan spektrum frekuensi 2,6 GHz. Nantinya, warga akan menerika koneksi Wi-Fi di perangkat komputernya.

Balon udara yang dikembangkan Google ini masih dalam tahap pengembangan dari laboratorium Google X. Ia telah menjalankan uji coba terbang di Amerika Serikat dan Selandia Baru dalam dua tahun terakhir. (eno/tyo)
Bagaimana Cara Balon Google Sebarkan Internet?http://s18.postimg.org/xf3zkk35l/loon.pngKonsep pengoperasikan Project Loon (dok.Google)

Balon udara raksasa Google bernama Project Loon yang punya tugas menyebarkan Internet di daerah-daerah terpencil akan diuji coba mulai 2016 mendatang di Indonesia.

Balon Loon ibarat menara seluler yang mengangkasa di langit. Loon terbang di ketinggian dua kali lipat dari ketinggian normalnya pesawat komersil berjalan. Lebih tepatnya, Loon akan terbang sekitar 20 kilometer di atas permukaan Bumi di lapisan stratosfer.

Mengapa stratosfer? Dari publikasi resmi di blog Google, angin di stratosfer sifatnya berlapis-lapis, di mana tiap lapisannya memiliki variasi kecepatan dan arah. Nah, dengan bergerak bersama angin, balon Loon dirancang agar bisa membentuk satu jaringan komunikasi yang besar.

Tiap balon akan memancarkan koneksi internet 4G LTE ke permukaan dengan jangkauan 40 kilometer dari tempat balon tersebut berada. Balon itu akan mengantar teknologi Long Term Evolution (LTE) dari perusahaan telekomunikasi yang telah bermitra dengan Google Project Loon, yaitu Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata.

Google dan para operator akan berbagi spektrum seluler agar masyarakat bisa mengakses internet melalui perangkat ponsel pintar dan perangkat yang sudah mendukung teknologi LTE. Balon Loon menggilirkan trafik nirkabel dari perangkat mobile kembali ke internet global menggunakan link berkecepatan tinggi.

Yang jelas, jika satu balon sudah mulai terbang ke luar jalur, maka balon Loon lainnya akan bergerak menggantikan posisinya.

"Kami harap proyek ini bisa membantu operator lokal untuk memperluas jangkauan jaringan mereka yang sudah ada dan koneksi Internet yang bisa betul-betul mencapai area terpencil," tulis Vice President Project Loon Google, Mike Cassidy.

Nusantara terdiri dari 17 ribu pulau dan bisa dikatakan hanya satu dari tiga orang di Indonesia yang sudah terhubung dengan Internet. Itupun belum tentu koneksinya bagus tanpa lemot.

Ide utama dari kesepakatan antara Google dan Telkomsel, XL Axiata, serta Indosat selaku tiga operator besar Indonesia berangkat dari sulitnya menjalankan kabel serat optik atau mendirikan menara seluler di kawasan terpencil yang penuh dengan gunung dan hutan.

XL, Telkomsel, dan Indosat telah menandatangani kerjasama Loon di markas Google di Mountain View, California dan disaksikan oleh Menkomindo Rudiantara.

"Kami melihat bahwa Google Loon bisa menjadi alternatif teknologi untuk men-cover daerah-daerah yang selama ini sulit dijangkau dengan terestrial network," kata CEO XL Axiata, Dian Siswarini.

Dilanjutkan olehnya, bahwa Project Google Loon ini sangat cocok untuk membuka akses daerah-daerah di Indonesia agar bisa tersambung dengan jaringan telekomunikasi, namun ia mengaku belum tahu wilayah mana saja di yang akan kebagian koneksi dari Loon. (eno)
Balon Internet Google Pakai Spektrum 900 MHz Tiga Operatorhttp://data.tribunnews.com/foto/bank/images/Fotona-Heli-Apache.jpgDari kiri ke kanan: VP Project Loon Google Michael Cassidy, Presiden Direktur Indosat Alexander Rusli, Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini, Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah, dan Pendiri Google Sergey Brin, dalam acara penandatanganan kesepakatan uji coba Project Loon, di kantor pusat Google di Mountain View, California, AS, Rabu, 28 Oktober 2015. (Dok. XL Axiata)

Proyek percobaan penyelenggaraan akses Internet dengan balon udara milik Google di Indonesia akan didukung oleh tiga operator seluler mulai 2016, dan bakal memanfaatkan spektrum 900 MHz.

Ketiga operator yang terdiri atas Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata, sepakat mengizinkan balon udara yang disebut Project Loon tersebut memakai spektrum 900 MHz mereka.

XL akan melakukan integrasi dengan Project Loon melalui 4G LTE di frekuensi 900 MHz,” demikian pernyataan tertulis XL Axiata, Kamis (29/10).

Kesepakatan antara tiga operator seluler besar tersebut berlangsung di kantor pusat Google di Mountain View, California, AS, Rabu (28/10), yang disaksikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara serta pendiri Google Sergey Brin.

Dalam uji coba nanti tahun depan, balon udara ini akan mengudara di ketinggian sekitar 20 kilometer di atas permukaan laut yang berfungsi seperti menara pemancar sinyal.

Menurut rencana, balon bakal digunakan untuk memberi akses Internet ke daerah pelosok yang sejauh ini belum terjangkau oleh infrastruktur darat operator seluler.

Dengan operator Telkomsel, Project Loon akan diuji pada lima titik di atas Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Mereka memakai infrastruktur backbone milik Telkom dan Telkomsel, antara lain sistem jaringan Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS). Sementara operator Indosat dan XL berencana memanfaatkan balon udara itu di kawasan timur Indonesia.

Telkomsel melihat Project Loon sebagai salah satu inovasi teknologi terkini yang dapat bermanfaat untuk memperluas penyebaran Internet di daerah-daerah yang sulit terjangkau dan memiliki kerapatan penduduk yang rendah,” ujar Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah.

Jika uji coba sukses, bisa saja Project Loon yang memakai tenaga matahari ini dipakai sebagai pelengkap infrastruktur telekomunikasi, namun semua itu kembali pada kesepakatan antara operator seluler dengan Google pada dua sampai tiga tahun mendatang.

Dari sudut pandang Indosat, perusahaan menilai kesepakatan uji coba ini dapat mendukung Rencana Pitalebar Indonesia 2014-2019.

CEO Indosat Alexander Rusli, yang juga Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia, berharap balon udara Google dapat “merangkul mereka yang belum terlayani konektivitas.

Project Loon pertama kali diuji di Selandia Baru pada Juni 2013 memanfaatkan spektrum 2.600 MHz. Nantinya, warga dapat menerima koneksi nirkabel Wi-Fi pada perangkat mereka dan dapat dipakai guna mengakses Internet. (adt/eno)
Balon Internet Google Tak Ganggu Jaringan Seluler Indonesiahttp://data.tribunnews.com/foto/bank/images/Fotona-Heli-Apache.jpgMenkominfo Rudiantara bersama Direktur Utama Telkomsel, CEO XL Axiata Dian Siswarini dan Presiden Direktur Indosat Alex Rusli (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Tiga operator asal Indonesia, Telkomsel, XL Axiata dan Indosat sepakat untuk melakukan uji coba Project Loon buatan Google. Kendati tujuannya membuka akses internet di kawasan yang susah dijangkau di Tanah Air, balon internet ini masih menimbulkan pro dan kontra.

Ada kekhawatiran bahwa teknologi balon internet ini akan men-disrupt telekomunikasi karena mem-bypass langsung. Menurut Presiden Direktur dan CEO Indosat Alexander Rusli hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan.

"Tidaklah. Ini kan pakai frekuensi kita (operator). Jadi seperti vendor BTS saja," kata Alex--sapaan akrabnya, yang ikut mengunjungi ke kantor pusat Google, di California, Amerika Serikat, kepada CNN Indonesia. Alex yang juga Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menganalogikan, "Anggap saja si Google Loon ini (seperti) BTS-nya Ericsson, Huawei atau Nokia."

Alex juga mengatakan ada bagusnya bila balon internet Google ini nantinya sukses digelar di Indonesia, khususnya dari para operator. "Kalau bagus, less Capex dan obiquotus coverage of LTE."

Hal senada juga diungkapkan oleh CEO XL Axiata Dian Siswarini. Dalam perbincangan terpisah dengan CNN Indonesia, sejauh ini balon internet Google masih dalam tahap uji teknis, jadi operator masih meraba skema teknologi dan bisnisnya, sampai diputuskan komersial.

Dian pun tidak khawatir bila balon internet ini sampai men-disrupt jaringan telekomunikasi miliknya. "Kan tergantung bisnis modelnya. Kalau nanti bisnis modelnya kurang cocok, ya tidak perlu sampai komersial," sebutnya.

Baik Alex dan Dian juga sepakat balon udara Google ini mulai dilaksanakan uji cobanya pada tahun 2016. Namun belum diketahui kawasan mana terlebih dahulu yang akan menjadi daerah pertama untuk percontohan.

"Kan tadi semua (tiga operator) yang sign. Nanti kita yang tentuin daerahnya," tandas, Alex.

Sebelum di Indonesia, Balon Loon sudah pernah melakukan uji coba di Australia. Cara Project Loon ini bekerja adalah dengan meluncurkan 20 balon udara di bagian barat Quennsland. Google tidak membeli atau menyewa frekuensi di Negeri Kanguru tersebut.

Dalam proyek ini, Telstra memberi izin pada Project Loon untuk mengakses jaringan BTS memanfaatkan spektrum frekuensi 2,6 GHz. Nantinya, warga akan menerika koneksi Wi-Fi di perangkat komputernya. (eno/tyo)
Proyek Google di Indonesia Bukan Cuma Balon Internethttp://images.cnnindonesia.com/visual/2015/10/29/b4f62b85-7683-49fb-b63d-06c14ac2efa9_169.jpg?w=650Menerbangkan balon Internet bukanlah satu-satunya proyek Google untuk menyebarkan Internet di Indonesia. (Antara/Yudhi Mahatma)

Project Loon dari Google terdengar begitu canggih dan menarik perhatian karena tujuannya yang ingin menyebarkan koneksi internet dari angkasa meggunakan balon udara. Balon pintar ini bukanlah satu-satunya proyek Google ke Indonesia yang berkaitan dengan jaringan internet.

Vice President Project Loon, Mike Cassidy mempublikasikan tulisannya di dalam blog resmi Google tentang Project Loon. Di sana, ia juga menyebutkan bahwa pihak perusahaan telah mengerahkan sejumlah upaya untuk membantu mencapai pemerataan internet di Indonesia.

"Untuk membuat internet tak hanya mudah diakses namun juga berguna, banyak yang harus dilakukan. Kami memiliki sejumlah upaya di Indonesia demi mencapainya," tulis Cassidy.

Ia melanjutkan, "salah satunya program Android One yang membuat ponsel pintar harga murah namun berkualitas tinggi dan memberi pengalaman akses internet kepada masyarakat menengah ke bawah."

Cassidy yang menyebutkan, perusahaan telah mengembangkan fitur yang bisa digunakan apabila koneksi internet sedang lemah atau lemot, seperti Search Lite dan fitur offline untuk video di YouTube.

"Ada juga bahasa Indonesia dan bahasa Sunda di dalam Google Translate yang bisa menjadi alat pembantu masyarakat saat berselancar di internet," sambung Cassidy.

Pihak Google menyadari bahwa masih banyak penduduk dunia, khususnya di Indonesia yang belum mendapat akses internet, namun perusahaan sendiri mengaku sedang berkembang dan berupaya memenuhi itu.

"Jika semua berjalan lancar, jutaan penduduk Indonesia akan bisa berbagi ide, kultur, dan bisnis secara online tanpa batas," Cassidy menutup tulisan blog.

Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang mencicipi program ponsel pintar murah Android One. Google menunjuk tiga produsen ponsel lokal yang ikut program Android One tahap awal. Ketiganya adalah Evercoss melalui produk One X, lalu Nexian dengan produk Journey, dan Mito dengan Impact.

Ketiga ponsel yang dibanderol tak lebih dari Rp 1 juta ini memakai spesifikasi teknis yang sama persis. Mereka dibekali layar berukuran 4,5 inci jenis FWVGA, prosesor quad-core 1,3 GHz, RAM 1GB, memori internal 8 GB yang disertai slot kartu memori eksternal, fitur kartu SIM ganda jenis Micro SIM, baterai 1.700 mAh, kamera utama 5 MP dan kamera depan 2 MP.

Android One memang terdengar seperti misi mulia Google untuk menghubungkan penduduk dunia dengan internet melalui ponsel pintar murah. Karena, menurut mereka, saat ini 4 miliar penduduk dunia yang belum terkoneksi internet.

Sementara Nusantara terdiri dari 17 ribu pulau dan bisa dikatakan hanya satu dari tiga orang di Indonesia yang sudah terhubung dengan Internet. Itupun belum tentu koneksinya bagus tanpa lemot.

"Kami melihat bahwa Google Loon bisa menjadi alternatif teknologi untuk men-cover daerah-daerah yang selama ini sulit dijangkau dengan terestrial network," kata CEO XL Axiata, Dian Siswarini setelah menandatangi perjanjian di markas Google di Mountain View, California, AS. (eno/eno)
Balon Internet Google Pernah Dikritik Bill Gateshttp://data.tribunnews.com/foto/bank/images/Fotona-Heli-Apache.jpgPendiri Microsoft Bill Gates (REUTERS/Francois Lenoir)

Misi sosial atau murni bisnis, niat Google mengembangkan Project Loon agar balon internet ini bisa menjangkau wilayah yang sulit ditembus. Tujuan mulia ini tak selalu mendapat respon bagus, seperti kritikan yang dilontarkan oleh pendiri Microsoft Bill Gates.

Inisiatif Project Loon Google yang ingin memberikan akses intenet ke wilayah yang susah ditembus dan negara berkembang dari jaringan balon yang terbang di lapisan stratosfer tak membuat Gates tertarik.

"Ketika Anda sedang sekarat karena malaria, dan kemudian melihat ke atas dan melihat balon itu, saya yakin itu tidak akan membantu Anda. Ketika anak-anak menderita diare, tidak ada situs yang bisa menguranginya," katanya dalam sebuah kesempatan wawancara dengan Business Week.

Namun bukan berarti Gates tidak percaya bahwa menghubungkan semua orang dengan internet akan membawa perubahan positif, dia yakin akan keniscayaan tersebut.

"Tentu saja aku sangat percaya dalam revolusi digital, seperti menghubungkan pusat kesehatan, sekolah itu hal yang baik. Tapi tidak bagi negara yang berpenghasilan rendah, kecuali jika Anda langsung mengatakan kepada kami soal malaria," sebut pria paling kaya di kolong jagat itu.

Gates yang memang dikenal sebagai philantropis mempertanyakan komitmen Google untuk proyek-proyek di negara berkembang melalui Google.org.

"Google mengatakan akan melakukan sesuatu yang luas. Mereka menyewa Larry Brilliant (Doktor dan ahli filantropi) dan mereka mendapat publisitas yang fantastis. Dan kemudian mereka menutup semuanya," kritik Gates.

Di Indonesia, Project Loon mendapat ruang. Tiga operator seluler lokal sepakat untuk menyisihkan spekturm mereka di frekuensi 900 MHz untuk dijajal balon internet Google.

Dalam postingannya, Google menyediakan itu semua agar bisa membantu operator lokal untk memperluar jaringan ke area yang bahkan sangat terpencil.

"Kami harap proyek ini bisa membantu operator lokal untuk memperluas jangkauan jaringan mereka yang sudah ada dan koneksi Internet yang bisa betul-betul mencapai area terpencil," tulis Vice President Project Loon Google, Mike Cassidy.

Nusantara terdiri dari 17 ribu pulau dan bisa dikatakan hanya satu dari tiga orang di Indonesia yang sudah terhubung dengan Internet. Itupun belum tentu koneksinya bagus atau lambat. (eno/tyo)

  ★ CNN  

Jumat, 15 Mei 2015

RoIP, 'Senjata' Teknologi Komunikasi TNI di Perbatasan

Komandan Rayon Militer (Danramil) Sebatik Kapten CHB A.M. Sudirman mencoba mengontak anggota TNI lain melalui ponselnya. Yang menarik, dia melakukan panggilan di smartphone, sementara si penerima panggilan menggunakan Handy Talk (HT).

"Ini pakai RoIP, yang menerima via HT, menggunakan network khusus militer," ujarnya di sela obrolan bersama rombongan Telkomsel yang mengecek jaringan di Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara pekan ini.

Radio over Internet Protocol (RoIP) yang membantu Sudirman beserta jajarannya bertugas menjaga wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, adalah teknologi untuk sistem komunikasi yang menggandengkan radio ke internet.

"Perlu sinyal bagus. Untuk itu saya ingin melaporkan di sekitar sini masih ada beberapa wilayah yang blankspot. Jadi sangat membutuhkan sekali untuk komunikasi kami bertugas," sebut Sudirman.

Dijelaskan Kasikom Hubdam VI Mulawarman, Balikpapan Mayor CHB. Achmad Farid, secara sederhana, teknologi ini mengubah informasi audio analog menjadi data dalam bentuk digital yang kemudian disisipkan ke jaringan internet.

Selanjutnya, penyampaian informasi yang berasal dari radio komunikasi, disebarluaskan melalui jaringan internet. Pada sisi penerima, radio penerima mengubah sinyal yang diterimanya dikembalikan ke bentuk sinyal audio analog.

"Kenapa disuntikkan ke radio, karena tidak semua pejabat pakai ponsel, dan gak semua ada jaringan 3G di situ. Kami dihadapkan dengan urgensi, komunikasi di wilayah perbatasan harus lancar dan semua pelaporan harus segera. Dan sejak 2010 itu kami sudah di-support dengan adanya jaringan e-Militer. Nah, bagaimana kami bisa memanfaatkannya," kata Farid. e-Militer sendiri punya fungsi untuk mengirim data atau informasi dan dokumen secara elektronis dengan cepat dan aman yaitu dengan memanfaatkan jaringan internet yang dikendalikan oleh Direktorat Perhubungan TNI dan bersifat terbatas atau tertutup bagi umum sehingga keamanannya lebih terjamin.

"Menggunakan HT membutuhkan banyak pemancar, di setiap Kodim harus ada repeater. Karena medan yang berbeda-beda kadang kan sulit. Cost juga mahal karena perangkat lebih banyak. Ada hal-hal yang harusnya cepat jadi lambat. Maka kami memikirkan terobosan untuk ini," jelas Farid.

Maka, Farid dan timnya di Kodam VI Mulawarman mulai mencari cara komunikasi lebih mudah, lancar dan murah untuk kelancaran tugas awaknya, dengan berbasis internet di jaringan e-Militer.

"Sejak 2010 itu kan e-Militer kita di-support jaringan VPN untuk komunikasi data. Kalau pakai jaringan internet biasa kan gak secure, jadi bikin VPN sendiri dengan pakai jaringan itu. Server pun kita buat sendiri yang ditaruh di Balikpapan," terangnya.

Disebutkannya, teknologi ini belum digunakan seluruh anggota TNI. Apa yang diupayakan Farid dan timnya adalah percontohan yang akan dia teruskan agar bisa dipakai lebih luas oleh jajaran TNI tingkat nasional, terutama yang bertugas di wilayah perbatasan.

"Saat ini yang pakai baru wilayah Kodam VI Mulawarman, di Kabupaten Nunukan, Kabupaten Kotabaru, sampai seluruh satuan setingkat Kodim wilayah itu sudah dikembangkan. Saya ingin sampaikan soal ini, bahwa di seluruh garis batas memakai teknologi ini," harapnya.

  ♞ detik  

Minggu, 15 Februari 2015

Indonesia akan meneken perjanjian pertahanan dengan Jepang

Pesawat US-2 ShinMaywa yang populer diberitakan yang akan dipesan Indonesia [flightglobal]

Departemen Pertahanan mengkonfirmasi bahwa akan segera menandatangani sebuah perjanjian kerja sama pertahanan dengan Jepang.

"Jepang dan Indonesia telah sepakat untuk bekerja sama di bidang pertahanan. Kami masih menunggu penandatanganan Memorandum of Understanding [MoU]," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen Jenderal Djundan Eko Bintoro kepada The Jakarta Post pada hari Jumat.

Djundan mengatakan bahwa kedua negara telah sepakat untuk bekerja sama dalam beberapa bidang termasuk bantuan kemanusiaan, pencegahan bencana dan mitigasi dan pertahanan cyber.

Dalam pencegahan dan mitigasi bencana, di bawah perjanjian yang direncanakan Jepang diharapkan untuk menawarkan Indonesia pesawat amfibi dan teknologi sistem peringatan dini.

Djundan mengatakan bahwa tim dari kedua negara hampir menyelesaikan pada rincian kesepakatan yang direncanakan.

"Rincian dari kerja sama telah disepakati tetapi belum ditandatangani. Kami masih tidak tahu kapan itu akan ditandatangani sebenarnya," kata Djundan tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Laporan yang belum dikonfirmasi mengatakan bahwa draft MoU antara Indonesia dan Jepang belum ditandatangani karena perombakan kabinet di Jepang dan kondisi politik di Indonesia.

Rancangan itu sendiri sudah siap sejak tahun lalu.

Pekan lalu, Duta Besar Indonesia untuk Jepang Yusron Ihza Mahendra bertemu dengan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu untuk membahas rincian kerjasama.

Dalam pertemuan tersebut, Yusron mengatakan kepada Ryamizard bahwa Jepang memiliki undang-undang baru yang akan memungkinkan untuk transfer teknologi dari industri strategis Jepang untuk Indonesia berdasarkan perjanjian kerjasama.

Yusron mengisyaratkan bahwa penandatanganan perjanjian akan dilakukan selama kunjungan mendatang Presiden Joko "Jokowi" Widodo ke Jepang, yang dijadwalkan antara bulan Maret dan April.

"Jika MoU tentang kerja sama pertahanan dapat ditandatangani, itu akan baik untuk pengembangan pertahanan dan perekonomian Indonesia," kata Yusron.

Ia juga berpendapat bahwa kemitraan pertahanan bisa meningkatkan posisi diplomatik Indonesia baik di kawasan dan di tingkat internasional.

Yusron mengatakan bahwa di bawah perjanjian kerja sama pertahanan, Indonesia juga bisa mengimpor persenjataan dan instrumen pertahanan dari Jepang.

"Ini akan menjadi kesempatan besar. Misalnya, pesawat pembuat Indonesia PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dapat melakukan kerja sama bersama dalam penelitian, produksi dan modal. Kerjasama di bidang pertahanan akan memiliki suasana yang sangat baik," kata Yusron, seperti dikutip kantor berita Xinhua.

Pemerintah Jepang mereda sikapnya pada prinsip-prinsip pengalihan alutsista pada April tahun lalu, yang memungkinkan ekspor senjata dalam keadaan tertentu.

Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Shinzo Abe, yang banyak mempertimbangkan strategi pertahanan, Jepang telah memulai perbaikan dari strategi keamanan nasionalnya.

Dalam sebuah langkah bersejarah, setahun terakhir Kabinet menyetujui ekspor peralatan militer dan melakukan kajian hukum yang menyimpulkan Jepang memiliki hak untuk menyebarkan kekuatan militernya di luar negeri untuk melindungi warganya dan membela sekutunya bila diserang.

Pada 2015, Indonesia dan Jepang akan merayakan ulang tahun ke-57 hubungan diplomatik bilateral dan ulang tahun ke-42 hubungan ASEAN-Jepang.

DPR sebelumnya telah menyatakan dukungan untuk kerjasama Kementerian Pertahanan dengan Pakistan dan Timor Timur dengan meratifikasi payung hukum bagi kerja sama tersebut.

Ratifikasi ini memungkinkan Indonesia untuk meningkatkan pelatihan militer bersama, pertukaran informasi intelijen dan perdagangan senjata dengan kedua negara.[Thejakartapost]

  Garuda Militer  

Minggu, 21 Desember 2014

Awalnya Temuan Saya Diledek

Prof. Dr. Khoirul Anwar

Penghargaan Achmad Bakrie Award (PAB) kembali digelar. Enam tokoh yang dianggap inspirasional dan berjasa dalam kehidupan intelektual bangsa Indonesia dipilih dalam PAB ke-12 ini. Penghargaan ini diberikan kepada sejumlah orang yang telah berkarya sesuai dengan Trimatra Bakrie, yakni kemanfaatan, keIndonesiaan, dan kebersamaan.

Prof. Dr. Khoirul Anwar (38) merupakan salah satu orang yang dinilai berhak mendapat PAB. Pria asal Kediri, Jawa Timur ini meraih penghargaan untuk kategori ilmuwan muda berprestasi. Ia dianggap layak diganjar penghargaan setelah dinilai berhasil menemukan teknologi 4G.

Ilmuwan muda ini merupakan lulusan cumlaude Teknik Elektro, Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia melanjutkan pendidikan di Nara Institute of Science and Technology (NAIST) dan memperoleh gelar master pada 2005 serta doktor di tahun 2008.

Profesor muda ini menemukan metode komunikasi yang lebih cepat dengan energi yang lebih sedikit dalam keterbatasan kanal komunikasi. Ia mengurangi daya transmisi.

Hasilnya, kecepatan data yang dikirim meningkat tajam. Sistem ini mampu menurunkan energi hingga 5dB atau 100 ribu kali lebih kecil dari yang diperlukan.

Temuan ini digunakan oleh sebuah perusahaan elektronik besar asal Jepang. Bahkan, teknologi ini tengah dijajaki oleh raksasa telekomunikasi asal Tiongkok, Huawei Technology.

Bagaimana sebenarnya dia bisa menemukan terobosan teknologi komunikasi nirkabel ini. Dan apa tanggapannya setelah didaulat sebagai salah satu penerima PAB.

VIVAnews berkesempatan untuk melakukan wawancara di sela acara PAB yang digelar di Djakarta Theater, Jakarta, Rabu, 10 Desember 2014. Berikut petikannya:

Anda menjadi salah satu pemenang Bakrie Award. Tanggapan Anda?
Pertama kali saya kaget. Senang juga karena teknik ini saya propose 2004/2005 dan diremehkan di konferensi internasional d Hokkaido, Jepang.

Kenapa?
Waktu itu chairman-nya bilang kalau kita pakai 2 fast fourier transform (FFT) nggak ada gunanya, karena saling menghilangkan. Kemudian, saya presentasikan di Australia juga sama. Kalau pakai itu akan ada suatu teknik yang disebut bit doping dan tak bisa berjalan.

Saat diremehkan, apa reaksi Anda?

Saat itu saya langsung presentasikan, meskipun di awal (presentasi) dikritik. Pertama saya presentasi, waktu tanya jawab ada yang bilang 'I think this is useless'. Tapi saya sampaikan lihat hasilnya nanti.

Lalu?
Saya sampaikan, saya punya bukti bahwa ini lebih bagus. Kemudian saya submit di AS dan dapat penghargaan.

Kapan itu?
Tahun 2006 di AS dan 2005.

Bagaimana Anda bisa mendapatkan penghargaan itu?
Saya harus di-review dua kali. Pertama harus lolos conference dulu, setelah itu harus di-review lagi.

Siapa pengujinya?
Kita tak tahu, datang dan tidak memperkenalkan diri. Prinsipnya saya mempersembahkan yang terbaik bagi siapa pun yang datang.

Apa sebenarnya inti temuan Anda?
Prinsip untuk kecepatan 4G. Kalau kecepatan yang saya temukan uplink. Kalau pakai ini sistem informasi bisa dikendalikan. Ini overlap tapi tak terjadi interferensi. Tadinya wadah bisa muat tujuh, di-overlap, bisa kita isi lebih banyak. Bisa dioptimalkan ke yang lain.

Memang belum ada ilmuwan yang menemukan teknik itu?
Setahu saya belum ada.

Dari mana idenya?
Di dalam telekomunikasi ada daerah namanya amplifier. Nah, di dalamnya itu ada liniear. Kalau kita melebihi daerah yang linear, maka keluar akan dipotong. Jadi, ini masalah krusial. Terus saya menemukan ada orang propose yang namanya code. Setiap sinyal dikalikan satu-satu kemudian dijumlahkan. Saya temukan. Kalau seperti ini, kita rugi, kompleksitasnya tinggi. Makanya saya propose menggantikan konsep itu dengan FFT.

Apa itu FFT?
FFT itu kalau yang dikenal awam adalah sistem yang mentransformasi waktu menjadi frekuensi dan mentranformasi frekuensi menjadi waktu. Tapi, saya menemukan FFT bukan seperti itu. Dia tak waktu jadi frekuensi dan sebaliknya, frekuensi jadi waktu. Waktu ya tetap waktu. Prinsipnya itu.

Bisa dijelaskan lebih sederhana?
Bahasa umumnya dia menjumlahkan gelombang dengan frekuensi yang bermacam-macam. Jadi misalnya, ini gelombang frekuensi rendah satu periodik kan panjang. Gelombang dari berbagai frekuensi dijumlahkan dan dipilah. Tapi, dalam sistem komunikasi, FFT bisa digunakan untuk membuat overlaping. Jadi (gelombang) tak menjadi rapat, jadi renggang, akhirnya menjadi renggang. Kita pakai overlap tapi tak saling menganggu. Itu inti dari segi komunikasi.

Bisa dianalogikan?
Kalau dianalogikan jalan tol. Kalau konvensional mobilnya saling berdekatan, berjejeran. Nah kalau kita gunakan FFT, maka kita bisa tumpangkan mereka, tapi tak saling menginjak. Tetep berjalan. Kalau biasa, jalan tol bisa muat tiga mobil, kalau FFT bisa muat lima mobil. Ya kayak jalan layang lah.

Dalam 4G, bagaimana penggunaan FFT ini?
Jadi, setiap transmisi dua. Kalau digambarkan itu setiap orang akan memiliki (seperti pancaran sinyal dua) dan itu gabung di udara. Misalnya handphone. Komunikasi antara dua orang, maka akan terjadi penggabungan di udara. Dan ini konsep dari 4G. Kalau di 3G itu tak ada FFT-nya.

Temuan Anda dipakai dalam teknologi 4G?
Ya, saat itu saya tak tahu bakal digunakan dalam teknologi 4G. Menggunakan pola 2 FFT.

Anda memperoleh royalti dari temuan ini?
Kalau dari 4G saya tak dapat royalti, karena saya tidak komplain. Tapi, kalau dari paten (temuannya) yang dijadikan standar internasional itu saya dapatkan royalti. Saya submit 2005 dan dipakai sampai sekarang oleh Jepang. Tahun 2008 saya dapatkan royaltinya.

Temuan Anda dipatenkan dan dikomersialkan untuk bisnis. Kenapa Anda tidak komplain?
Memang harusnya saya komplain. Prinsipnya kalau paten itu, pertama itu ada untuk menyemangati ilmuwan. Dan paten ada umurnya. Dan saya punya prinsip, kita temukan sesuatu itu sebagai amal. Jadi, kalau saya, ya sudah cukup dapat dari royalti. Kedua, kalau sesuatu itu dipatenkan, maka itu akan dibenci ilmuwan lain.

Kenapa?

Karena, ilmuwan tidak akan memakai teknik yang dipatenkan. Termasuk saya nggak mau pakai teknologi yang sudah dipatenkan.

Indonesia sedang hangat soal alokasi frekuensi untuk 4G. Banyak yang ingin di 1800 Mhz. Tanggapan Anda?
Menurut saya, frekuensi itu sudah di luar. Ibarat manusia, frekuensi itu bajunya. Dalamnya tak terpengaruh baju. Jadi, sistem ini di frekuensi berapa pun tak masalah. Setelah keluar dari antena baru digunakan frekuensi berapa bisa 700, 900 atau 1800 dan lainnya.

Bagaimana temuan Anda pada prinsip efisiensi daya?
Jadi, efisiensi itu karena saya bisa mengatur kayak gini. Kalau di dalam wi-max, dan TV digital hanya memakai satu (FFT) saja. Kita nggak bisa kendalikan ini. Tapi, di 4G kita bisa kendalikan, dengan adanya FFT di depan.

Apa yang harus dikembangkan dalam teknologi 4G?
Riset kita untuk point to point itu sudah selesai. Problem di dunia untuk point to point sudah selesai. Dan saya berharap teknologi ini adalah yang terakhir. Mungkin yang paling efisien saat ini.

Awalnya teknik FFT untuk satelit dan TV digital?
Karena konsep awal nggak kepikiran untuk teknologi 4G. Saat itu saya pikirkan problem saat itu apa. Saya beberkan solusi. Problemnya adalah nonlinear. Kalau kita punya suatu sinyal nonlinear, itu akan terpotong. Di luar angkasa itu butuh power yang luar biasa karena hanya mengandalkan solar cell. Maka saya harus bikin sistem yang cepat dan bagus. Maka saya propose FFT dan langsung dipakai untuk satelit Jepang.

Selain itu, apa saja manfaat temuan Anda?
Saya kira Wi-Fi kalau mau berubah bisa pakai FFT. Sekarang kan pakai satu FFT. Kalau misalkan ada standar Wi-Fi masa depan bisa pakai teknik ini, maka akan lebih efisien dan lebih cepat.

Karena?
Pertama, dari efisiensi power-nya lebih bagus, karena nggak ada problem Peak to Average Power Ratio (PAPR). Sekarang kan masih ada, karena hanya satu FFT.

Bagaimana pemanfaatan 4G di Jepang?
Di Jepang 40,8 persen (sudah LTE pelanggannya), itu yang Docomo saja. Yang lainnya saya kira juga segitu. Saya nggak tahu apakah dia itu LTE pakai dua FFT atau tidak. Tapi, seharusnya kalau dia pakai brand LTE pasti pakai punya saya. 4G tanpa LTE itu beda, kalau 4G saja itu kan mengacu pada standarnya saja, kecepatan sampai 100 Mbps.

Apa yang Anda rasakan setelah menemukan teknik ini?
Saya bangga. Tapi, saya berprinsip kita jangan arogan. Jadi, kalau bangga, ya bangga saja. Nggak usah sok, terus sombong.

Mengapa?
Karena ilmu itu berkembang. Bisa jadi suatu saat itu ilmu yang saya temukan salah. Bisa jadi berapa tahun lagi ada teknologi yang lebih baik dari ini. Saya sih seneng, tapi biasa saja. Seneng, tapi tak sampai euforia. Bagi saya kebenaran ilmu itu tidak mutlak, tapi relatif.

Ada rencana untuk pulang ke Tanah Air?
Ya, suatu saat saya ingin pulang dengan networking yang banyak ke Indonesia, bikin pusat riset untuk telekomunikasi. Dari situ lahir riset masa depan termasuk dengan kolega saya di luar negeri. Saya ingin bikin di Indonesia. Misalkan ada universitas mengundang, saya support dengan teknologi terkini. Itu bayangan saya. Saat ini masih belajar cari teman sebanyak-banyaknya. Mungkin dua puluh tahun lagi... hahaha.(art)

  ★ VIVAnews  

Selasa, 18 September 2012

ASEAN Foundation, Microsoft latih seribu UKM

Jakarta - ASEAN Foundation dan Microsoft Corpotaion meluncurkan program pelatihan Teknologi Informasi dan Komunikasi bagi lebih dari seribu pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) berusia muda di delapan kota negara-negara ASEAN.

"Kami siap membantu pengusaha mikro di Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam untuk meningkatkan pertumbuhan dan persaingan melalui akses teknologi informasi bekerjasama dengan Microsoft," kata Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, Makarim Wibisono, di Jakarta, Selasa.

Program pelatihan senilai 300 ribu dolar AS itu ditujukan bagi lebih dari 20 ribu pengusaha berusia 16-25 tahun selama dua tahun. Delapan kota yang menjadi lokasi pelatihan yaitu Padang, Bandung, Manado, Lombok, Bangkok, Chiang Mai, Metro Manila, dan Hanoi.

Presiden Microsoft Asia Pasifik, Tracey Fellows, mengatakan program pelatihan itu bertujuan berdayakan generasi muda untuk memulai bisnis dan menciptakan peluang secara mandiri.

Wujud pelatihan itu adalah pengembangan kurikulum Teknologi Informasi dan Komunikasi, pelatihan bagi calon pelatih ICT komunitas, dan program inkubasi e-business.

Di Indonesia, proyek pelatihan ICT bagi UKM melibatkan organisasi SOS Children Villages Indonesia selaku penghimpun pelaku-pelaku UKM.(I026)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More