blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label Drone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drone. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2026

Drone Asal Indonesia Berhasil Tembus Pasar Australia


Ekspor perdana drone (Ist)

Keberhasilan Industri Kecil Menengah (IKM) asal Kabupaten Bandung, PT Bentara Tabang Nusantara, dalam merealisasikan ekspor perdana pesawat udara nirawak (unmanned aerial vehicle—UAV) ke Australia menjadi tonggak penting bagi perkembangan industri teknologi nasional.

Ekspor yang dilakukan pada Selasa, 3 Februari tersebut menandai kemampuan industri dalam negeri untuk menembus pasar global dengan produk berbasis inovasi. Pencapaian ini menunjukkan bahwa Indonesia mulai bertransformasi dari sekadar konsumen teknologi pemantauan wilayah menjadi produsen sistem pengindraan ruang yang memiliki daya saing internasional.

Produk yang diekspor, yakni drone Omnibe RTB Nopayload, dirancang untuk kebutuhan surveilans dengan kemampuan pemantauan area hingga jarak pandang mencapai 5.000 hektare. Kapasitas ini menjadikan drone tersebut relevan untuk pengawasan wilayah luas, seperti kawasan pertanian, perkebunan, kehutanan, pertambangan, hingga pengamanan infrastruktur strategis.

Masuknya drone buatan Indonesia ke pasar Australia juga mencerminkan kesesuaian teknologi dengan karakter geografis negara tujuan. Australia dikenal memiliki bentang wilayah yang sangat luas dengan banyak area terpencil sehingga membutuhkan sistem pemantauan berbasis udara yang andal dan efisien. Drone produksi PT Bentara Tabang Nusantara dinilai mampu memenuhi kebutuhan tersebut melalui kombinasi jangkauan pemantauan yang luas, fleksibilitas operasional, serta efisiensi biaya sehingga memiliki daya saing dalam peta industri drone global.

Keberhasilan ekspor perdana ini tidak terlepas dari dukungan Bea Cukai Bandung yang berperan sebagai pendamping industri dan fasilitator perdagangan. Dilansir dari JPNN.com, Kepala Kantor Bea Cukai Bandung, Budi Santoso, menyampaikan bahwa ekspor ini mencerminkan kesiapan industri nasional untuk bersaing di pasar internasional sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan devisa negara dan penguatan ekonomi nasional. Bea Cukai juga menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kinerja ekspor melalui pelayanan kepabeanan yang optimal, pengawasan yang efektif, serta penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku usaha.

Sinergi antara inovasi teknologi, dukungan regulasi, dan kebutuhan pasar global menjadi faktor kunci keberhasilan ekspor drone ini. Pencapaian tersebut tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global teknologi pemantauan wilayah, sekaligus membuka peluang ekspor lanjutan di sektor teknologi berbasis analisis spasial

 
Spatial Highlights  

Minggu, 17 Mei 2026

Drone Pengintai BETA UAS

🛩 Produksi Bandung drone BETA UAS produksi Bandung (IMI)

BETA-UAS Raybe adalah drone Fixed Wing VTOL buatan lokal Indonesia (Bandung) yang dirancang untuk pemetaan profesional, surveilans, dan kargo, dengan keunggulan lama terbang hingga 90–150 menit, jangkauan 100 km, dan kapasitas payload tinggi.

Drone ini menggunakan teknologi tilt-rotor, dapat lepas landas vertikal, dan didukung kamera resolusi tinggi hingga 42 MP.

  🛩
 IMI   

Senin, 11 Mei 2026

Republikorp Dan Baykar Lanjutkan Kemitraan Strategis

  Melalui Penandatanganan Kerja Sama Bayraktar Kizilelma 
Drone tempur Kizilelma (Baykar)

Republikorp Group dan Baykar kembali memperkuat kemitraan strategis Indonesia–Türkiye melalui penandatanganan perjanjian pengembangan Bayraktar KIZILELMA Unmanned Combat Aircraft (UCAV) pada ajang SAHA 2026 di İstanbul.

Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari Joint Venture Agreement (JVA) yang dimulai sejak 2025 untuk produksi lokal Bayraktar TB3 dan AKINCI di Indonesia. Kini, kemitraan diperluas menuju pembangunan ekosistem industri dirgantara berkelanjutan dan pengembangan UCAV generasi baru.

Melalui kolaborasi antara Baykar dan PT Republik Aero Dirgantara, pengembangan operasional Bayraktar KIZILELMA ditargetkan memperkuat kemampuan UCAV Indonesia mulai 2028. Kerja sama mencakup transfer teknologi, pengembangan SDM, fasilitas MRO, pusat produksi dan integrasi lokal, sertifikasi tenaga ahli, hingga riset teknologi strategis masa depan.

Chairman Republikorp Group, Norman Joesoef, menegaskan, “Bersama Baykar, kami membangun ekosistem aerospace dan unmanned systems yang berkelanjutan, mulai dari produksi, maintenance, pengembangan SDM, hingga riset teknologi masa depan.”

CEO Baykar, Haluk Bayraktar, juga menekankan pentingnya kemitraan ini, “Pengembangan Bayraktar KIZILELMA menjadi tonggak baru dalam hubungan strategis Indonesia dan Türkiye.”

Kerja sama ini menandai transformasi berkelanjutan hubungan Indonesia–Türkiye menjadi kemitraan strategis industri pertahanan yang berorientasi pada transfer teknologi, pembangunan kapasitas nasional, dan inovasi industri pertahanan masa depan.

 👷 Republikorp  

Minggu, 10 Mei 2026

Kemenperin Fasilitasi IKM Drone Peroleh Sertifikasi Internasional

🛩 🤝 Drone pertanian IKM (Monitor)

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, IKM drone memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, mengingat jumlah unit usahanya yang dominan serta kontribusinya terhadap penciptaan lapangan kerja.

Ke depan, Kemenperin akan terus memperkuat ekosistem pembinaan IKM drone melalui pendekatan yang holistik, mulai dari perluasan akses pasar, penguatan kapasitas teknologi, hingga pemberian perlindungan dan fasilitas afirmatif bagi pelaku usaha,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (7/5).

Menurutnya, pemerintah berkomitmen untuk menjadi mitra strategis dalam pengembangan industri drone nasional agar mampu bersaing di tingkat global. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah melalui fasilitasi sertifikasi bagi IKM drone, baik dari sisi produk maupun operasional.

Industri drone merupakan sektor masa depan. Kemenperin hadir untuk memastikan pelaku IKM drone dapat tumbuh dan berdaya saing tinggi di pasar internasional,” tegasnya.

Selama tiga tahun terakhir, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) telah menjalankan berbagai program pembinaan secara terstruktur. Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), terdapat 15 unit usaha skala kecil dan 2 unit usaha skala menengah di sektor drone yang mampu menyerap 218 tenaga kerja.

Secara keseluruhan, ekosistem industri drone nasional mencakup 29 unit usaha dengan total 853 tenaga kerja dan nilai investasi mencapai Rp7,17 miliar. “Peran IKM dalam rantai nilai industri drone tidak sekadar pelengkap, melainkan sebagai inkubator inovasi teknologi berbasis kebutuhan lokal,” imbuh Menperin.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengungkapkan, pembinaan IKM drone terus diperkuat melalui program fasilitasi sertifikasi ISO 9001:2015 yang berlangsung hingga Oktober 2026.

Kami telah melakukan seleksi terhadap IKM drone yang akan difasilitasi, mulai dari pembekalan materi, pendampingan penyusunan dokumen, audit internal, hingga pendampingan audit eksternal sampai memperoleh sertifikat ISO,” jelasnya.

Menurut Reni, sertifikasi tersebut penting untuk memastikan standar kualitas produksi IKM drone sesuai dengan tuntutan pasar global, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri pelaku usaha dalam menembus pasar ekspor.

Selain itu, Kemenperin juga aktif membuka peluang kerja sama internasional. Salah satunya melalui partisipasi IKM drone dalam ajang BRICS – Science and Innovation Incubation Park (SIIP) di Xiamen, Tiongkok, yang membuka peluang ekspor ke negara-negara anggota BRICS, termasuk Afrika Selatan.

Melalui forum tersebut, kami mulai memetakan koridor ekspor baru yang potensial bagi produk drone nasional,” tambah Reni.

Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, Dini Hanggandari, menyampaikan, pembinaan IKM drone telah dilakukan sejak 2023 melalui berbagai program, seperti Startup for Industry (SFI), fasilitasi sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), hingga partisipasi dalam pameran nasional dan internasional.

Upaya ini bertujuan memperkuat posisi IKM drone sebagai bagian dari agenda prioritas nasional dalam pengembangan industri berbasis teknologi tinggi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kemenperin juga melakukan identifikasi tantangan industri melalui kunjungan langsung ke pelaku usaha di Daerah Istimewa Yogyakarta. Langkah ini dilakukan untuk merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran dalam mendukung pengembangan ekosistem IKM drone ke depan.

Kami ingin memastikan kebijakan yang diambil benar-benar menjawab kebutuhan industri di lapangan,” tutup Dini.

Dengan berbagai program pembinaan yang komprehensif, Kemenperin optimistis IKM drone Indonesia dapat berkembang menjadi pemain strategis di tingkat global serta berkontribusi signifikan terhadap penguatan struktur industri nasional.

  🛩  Monitor  

Sabtu, 09 Mei 2026

Ada Jejak Republikorp di Balik Kemesraan Alutsista Indonesia dan Turki

Drone tempur Kizilelma (Baykar)

Hubungan Indonesia dan Turki di bidang pertahanan semakin erat. Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama kedua negara terus melebar, mulai dari kendaraan tempur, sistem nirawak, hingga pengembangan industri pertahanan di dalam negeri.

Salah satu kerja sama terbaru terlihat dari pengembangan Bayraktar KIZILELMA, pesawat tempur tanpa awak atau unmanned combat aircraft (UCAV) buatan Baykar, perusahaan pertahanan dan dirgantara asal Turki.

Dalam kerja sama ini, perusahaan Indonesia yang menjadi bagian penting adalah Republikorp Group. Perusahaan yang bergerak di bidang pertahanan ini namanya semakin sering muncul dalam sejumlah kerja sama alutsista strategis, terutama sejak era Presiden Prabowo Subianto menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada 2019-2024.

Adapun kerja sama KIZILELMA dilakukan antara Baykar dan PT Republik Aero Dirgantara, anak usaha Republikorp Group. Melansir situs resmi Republikorp, kerja sama ini merupakan kelanjutan dari Joint Venture Agreement (JVA) yang telah dimulai sejak 2025 untuk produksi lokal Bayraktar TB3 dan AKINCI di Indonesia.

Dengan kerja sama terbaru ini, kemitraan Baykar dan Republikorp diperluas ke pengembangan UCAV generasi baru melalui Bayraktar KIZILELMA. Pengembangan operasional KIZILELMA ditargetkan dapat memperkuat kemampuan pesawat tempur nirawak Indonesia mulai 2028.

Kerja sama tersebut juga tidak hanya mencakup pengadaan pesawat. Kolaborasi dengan Baykar turut meliputi transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, fasilitas MRO (maintenance, repair, and overhaul), pusat produksi dan integrasi lokal, sertifikasi tenaga ahli, hingga riset teknologi strategis masa depan.


  Kilas Balik Kerja Sama Militer Indonesia-Turki 
MT Harimau (Pindad)

Kerja sama pertahanan Indonesia dan Turki sudah berjalan lebih dari satu dekade. Salah satu kerja sama yang cukup awal terlihat pada pengembangan tank ukuran medium. Kerjasama ini mulai dirintis sekitar 2010, ketika Indonesia dan Turki menjajaki kerja sama industri pertahanan.

Proyek tersebut melibatkan PT Pindad yang mewakili Indonesia dan FNSS Defence Systems dari Turki.Realisasi pengembangan kendaraan tempur ini mulai berjalan lebih konkret pada 2014. Dari kerja sama tersebut, lahir medium tank Harimau, yang juga dikenal dengan nama Kaplan MT.

Harimau merupakan tank kelas medium yang dikembangkan untuk TNI Angkatan Darat. Tank ini memiliki bobot lebih ringan dibanding main battle tank, tetapi tetap dilengkapi kemampuan tempur untuk mendukung operasi darat. Sebagai gambaran, main battle tank yang digunakan Indonesia saat ini adalah Leopard 2 buatan Jerman.

Leopard 2 masuk dalam kategori tank tempur utama dengan bobot lebih berat dibanding tank medium seperti Harimau. Sementara itu, Harimau dirancang sebagai kendaraan tempur dengan mobilitas yang lebih fleksibel. Tank ini dapat digunakan di berbagai medan, termasuk wilayah dengan kondisi infrastruktur yang lebih terbatas.

Sejak dimulainya kerja sama pembuatan tank Harimau, hubungan Indonesia dan Turki di bidang pertahanan semakin intens. Intensitas kerja sama tersebut semakin terlihat pada masa Kementerian Pertahanan dipimpin Prabowo.

Turki tampak menjadi salah satu mitra yang cukup menonjol dalam agenda modernisasi alutsista Indonesia. Salah satu alasannya, kerja sama dengan Turki banyak dikaitkan dengan skema transfer teknologi dan produksi lokal.


  Republikorp Masuk ke Banyak Proyek Strategis 
Drone Akinci (ist)

Di tengah semakin intensnya kerja sama pertahanan Indonesia dan Turki, nama Republikorp mulai semakin sering muncul.

Perusahaan swasta nasional ini terlibat dalam sejumlah kerja sama strategis, terutama yang berkaitan dengan pengembangan alutsista, produksi lokal, transfer teknologi, hingga pembangunan fasilitas pendukung di dalam negeri.

Melansir dari situs resmi Republikorp, sedikitnya ada beberapa kerja sama besar yang melibatkan perusahaan tersebut sejak 2025 hingga 2026. Cakupannya luas, mulai dari jet tempur, rudal, sistem intelijen, kendaraan tempur, kapal patroli, amunisi, hingga modernisasi sistem pertahanan TNI.

Turki menjadi salah satu negara yang paling menonjol dalam kerja sama tersebut. Namun, jejak Republikorp tidak berhenti di sana.

Perusahaan ini juga menggandeng perusahaan pertahanan besar dari Qatar dan Uni Emirat Arab dalam proyek bernilai miliaran dolar AS. Menariknya, Republikorp bukan perusahaan swasta yang selama ini dikenal luas sebagai produsen persenjataan utama di Indonesia.

Dalam industri pertahanan nasional, sejumlah perusahaan swasta seperti PT Sentra Surya Ekajaya, PT Sari Bahari, PT Infoglobal Teknologi Semesta, PT Palindo Marine, PT Lundin Industry Invest, hingga PT Famatex sudah lebih dulu dikenal sebagai bagian dari ekosistem produsen alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam) di dalam negeri.

Mereka memiliki kapabilitas pada bidang masing-masing, mulai dari kendaraan taktis, munisi, bom latih, sistem elektronik pertahanan, kapal militer, kapal patroli, hingga perlengkapan pendukung pertahanan lainnya.

Namun, dalam waktu relatif singkat, Republikorp justru terlibat dalam sejumlah kerja sama pertahanan strategis bernilai besar. Muncul pertanyaan besar, kapasitas apa yang membuat Republikorp memperoleh kepercayaan sebesar ini dari pemerintah, khususnya Kementerian Pertahanan.

Pertanyaan ini penting karena proyek pertahanan bukan proyek biasa. Di dalamnya ada aspek keamanan nasional, transfer teknologi, penggunaan sumber daya negara, dan janji besar soal kemandirian industri pertahanan.

Berikut sejumlah proyek besar yang melibatkan Republikorp dalam kerja sama industri pertahanan dengan beberapa negara.


  Dari Jet Tempur KAAN, Rudal, hingga Sistem Intelijen 
Pesawat Gen V KAAN (TAI)

Dalam kerja sama dengan Turki, Republikorp terlibat dalam beberapa proyek strategis sejak awal 2025. Pada Februari, Baykar Makina dan PT Republikorp menandatangani JVA yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan.

Kerja sama ini diarahkan untuk produksi lokal sistem pesawat tanpa awak di Indonesia, termasuk hingga 60 set Bayraktar TB3 dan hingga 9 set Bayraktar AKINCI, dengan cakupan manufaktur, perakitan, perawatan, transfer teknologi, pelatihan, hingga pembangunan fasilitas produksi di dalam negeri.

Setelah itu, Republikorp melalui anak usahanya, PT Republik Technetronic Nusantara (RTN), menandatangani Framework Agreement dengan PAVO Group asal Turki pada Juli 2025. Kerja sama ini berkaitan dengan penyediaan sistem intelijen untuk TNI di berbagai matra.

Sistem yang masuk dalam kerja sama tersebut mencakup data fusion, pengawasan, pengamanan komunikasi, serta infrastruktur pendukung pengambilan keputusan. Dengan kerja sama ini, Republikorp masuk ke sektor teknologi komando, intelijen, dan komunikasi militer.

Sehari setelahnya, Republikorp menjalin joint venture dengan Roketsan. Kerja sama ini melahirkan PT Republik Roketsan Indonesia yang diarahkan untuk mengembangkan industri rudal nasional. Melalui joint venture tersebut, kedua pihak menyepakati pengembangan dan produksi empat sistem rudal secara bertahap di dalam negeri, yakni ÇAKIR, ATMACA, HİSAR, dan SUNGUR.

Produksi tahap awal akan dimulai dari ÇAKIR. Kemudian pada 25 Juli 2025, Kementerian Pertahanan meresmikan perjanjian strategis dengan Turkish Aerospace Industries (TUSAS) terkait pengadaan 48 unit jet tempur generasi kelima KAAN.

Dalam proyek KAAN, PT Republik Aero Dirgantara (RAD) ditunjuk sebagai mitra utama bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Peran PT RAD mencakup pembangunan fasilitas maintenance, repair, and overhaul atau MRO KAAN, serta operasionalisasi pusat pelatihan dan simulator.

Deretan kerja sama tersebut memperlihatkan luasnya cakupan Republikorp dalam proyek dengan Turki. Tidak hanya pada platform udara seperti KAAN dan KIZILELMA, tetapi juga rudal, sistem intelijen, komunikasi aman, hingga fasilitas pendukung operasional alutsista.


  Gandeng Barzan Holdings untuk Modernisasi TNI  
(Ist)

Selain Turki, Republikorp juga menjalin kerja sama dengan Barzan Holdings, perusahaan industri pertahanan milik negara Qatar.

Kerja sama tersebut diteken pada 20 Januari 2026 dalam ajang Doha International Maritime Defence Exhibition & Conference atau DIMDEX 2026. Dalam kerja sama ini, Republikorp berperan sebagai mitra strategis pertahanan Indonesia.

Kedua pihak sepakat membentuk perusahaan khusus atau joint venture dengan total nilai kerja sama mencapai US$ 2,3 miliar atau setara Rp 39,9 triliun (asumsi kurs Rp 17.360/US$1).

Cakupan kerja sama Republikorp dan Barzan Holdings meliputi overhaul serta peningkatan sistem-sistem kritikal di sektor maritim dan darat.

Joint venture tersebut diarahkan untuk mendorong modernisasi skala besar guna meningkatkan kesiapan operasional TNI.

  Kerja Sama Jumbo dengan EDGE 
Rabdan 8x8, diberitakan diminati marinir (ist)

Republikorp juga menjalin kerja sama besar dengan EDGE, perusahaan pertahanan asal Uni Emirat Arab. Kemitraan tersebut diteken pada 18 November 2025 dengan total nilai yang bombastis mencapai US$ 7 miliar atau setara Rp 121,52 triliun.

Kerja sama dengan EDGE mencakup transfer teknologi, produksi lokal di dalam negeri, pengembangan sistem bersama, serta program modernisasi terpadu TNI. Dari sisi nilai dan cakupan, proyek ini menjadi salah satu kerja sama terbesar yang melibatkan Republikorp.

Ruang lingkup kerja sama tersebut mencakup beberapa alutsista strategis. Di antaranya rudal pertahanan udara SKYKNIGHT, kendaraan tempur infanteri RABDAN 8x8, kapal patroli cepat atau fast patrol vessel, serta pembangunan fasilitas produksi amunisi kaliber kecil

 👷 CNBC  

Jumat, 08 Mei 2026

Republikorp Teken Kesepakatan Pengadaan 12 Drone Tempur Bayraktar Kizilelma

🛩 🤝 Dengan opsi tambahan menjadi 48 unit Penandatangan kesepakatan pengadaan UCAV Kizilelma (Baykar)

Dari Expo Saha 2026: Indonesia Dikabarkan Membeli Drone Tempur Bayraktar Kizilelma Turki.

Diberitakan penandatangan kontrak pembelian Drone Tempur Bayraktar Kizilelma telah diteken di SAHA Expo 2026, Istanbul, Rabu (6/5/2026) hari ini waktu setempat.

Indonesia telah mengambil langkah besar dalam modernisasi alutsista udara melalui kerja sama dengan Turki.

Berikut adalah poin-poin penting terkait kerja sama Defenceturk (terkait industri pertahanan Turki) dan Indonesia, terutama mengenai pesawat tanpa awak (drone) Kizilelma:.

Baykar (produsen Turki) dan PT Republikorp (Indonesia) telah menandatangani kesepakatan untuk pengadaan 12 drone tempur Bayraktar Kizilelma.

Indonesia menyepakati pembelian 12 unit Bayraktar Kizilelma, dengan pengiriman direncanakan mulai tahun 2028.

Kontrak tersebut juga mencakup opsi tambahan sebanyak 48 unit Kizilelma.

Kizilelma adalah pesawat tempur nirawak (UCAV) jet pertama dari Turki yang dirancang dengan kemampuan stealth (jejak radar rendah), kecepatan tinggi, dan kemampuan manuver agresif.

  🛩  Garuda Militer  

Minggu, 03 Mei 2026

ALIT Jajaki Kerja Sama TNI AU di Bidang UAV dan Ruang Angkasa Indonesia

🛩  🚀 🤝  Wakasau Marsdya TNI Ir. Tedi Rizalihadi S. saat menerima audiensi Chairman ALIT China di Mabesau (22/4/2026) guna membahas pengembangan teknologi UAV dan kolaborasi ruang angkasa Indonesia. (Dispenau)

Perusahaan pertahanan terkemuka asal China, Aerospace Long-March International Trade Co., Ltd. (ALIT), resmi menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan TNI Angkatan Udara (TNI AU) pada Rabu (22/4/2026).

Pertemuan yang berlangsung di Markas Besar TNI AU ini fokus pada pengembangan teknologi dirgantara mutakhir, mencakup penguatan armada pesawat tanpa awak (UAV), sistem pertahanan udara, hingga program ruang angkasa.

Langkah ini merupakan bagian dari visi strategis untuk memperkuat Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) guna mewujudkan kekuatan TNI AU yang AMPUH.

 Key Takeaways (Ringkasan Utama):  

💥 Pertemuan Strategis: Audiensi antara Chairman ALIT China dengan Wakasau Marsdya TNI Ir. Tedi Rizalihadi S. pada 22 April 2026 di Mabesau.
💥 Fokus Kolaborasi: Pengembangan pesawat tanpa awak (UAV), sistem pertahanan udara, dan program ruang angkasa (space program).

💥 Visi TNI AU: Langkah memperkuat Alpalhankam menuju visi TNI AU yang AMPUH.
💥 Skuadron Baru: Pembentukan Skuadron UAV 53 di Lanud Anang Busra Tarakan yang direncanakan mengoperasikan drone CH-4.
💥 Kemampuan Alutsista: UAV CH-4B milik TNI AU telah dilengkapi kemampuan serang dengan rudal AR-2 dan sistem komunikasi satelit.

 Pertemuan Pimpinan ALIT China dan Wakasau di Mabesau. 

Chairman of Aerospace Long-March International Trade Co., Ltd. (ALIT) dilaporkan TNI AU lewat rilis akun Instagramnya pada 23 April 2026, baru saja melakukan audiensi dengan Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) Marsdya TNI Ir. Tedi Rizalihadi S. di Ruang CC Wakasau, Markas Besar TNI AU, Rabu (22/4/2026).

TNI AU menyebut Pertemuan strategis ini membahas sejumlah peluang kerja sama antara TNI AU dan ALIT Co., Ltd. dalam pengembangan teknologi dirgantara, dengan fokus utama pada bidang pesawat tanpa awak, sistem pertahanan udara, dan space program.

"Audiensi ini juga merupakan kesempatan perkenalan pimpinan CEO yang baru, sekaligus menjadi langkah penting dalam membangun kolaborasi yang solid dan berkelanjutan guna memperkuat Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) TNI AU, sejalan dengan visi mewujudkan TNI AU yang AMPUH," terang rilis akun Instagram @militer.udara dalam unggahannya.

 Profil ALIT: Divisi Ekspor Teknologi Roket dan Rudal China 

Dilansir dari rilis resmi Kemhan pada 20 Februari 2012, Aerospace Long March International Trade & co., Ltd. (ALIT), adalah salah satu perusahaan berada di bawah State Administration for Science, technology and Industry for National Defence (SASTIND), China yang memproduksi roket dan rudal serta ruang angkasa termasuk ICBM dan Roket peluncur satelit Long March.

Selain itu, ALIT merupakan divisi ekspor dari China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC).

 Perbandingan Varian UAV CH-4 untuk Ekspor 

Berdasarkan data operasional, ALIT menawarkan dua varian utama untuk pasar internasional:

💢Fitur Varian CH-4A Varian CH-4B Konfigurasi Utama Pengintaian
(Reconnaissance) Serang (Strike-Oriented)
💢 Daya Tahan Terbang 30 Jam 14 Jam
💢 Muatan Senjata - 760lb (345kg)
💢Kemampuan Khusus Pengamatan Jarak Jauh Penyerangan Presisi.


 Rekam Jejak Produk ALIT di Indonesia 

Sebelum melakukan penjajakan kerja sama terbaru ini, ALIT sebenarnya sudah menjual produk pertahanan udara kepada Indonesia.

Terkait operasionalnya, Asian Military Review edisi 16 September 2022 memberikan laporan mendalam sebagai berikut:

"Angkatan Udara Indonesia (TNI AU) mengakuisisi sejumlah UAV CH-4B yang tidak diungkapkan jumlahnya, yang telah dilengkapi dengan sistem komunikasi satelit untuk memperluas jangkauan operasinya hingga 1.080 mil laut (2.000 km).

TNI AU diyakini sebagai angkatan udara Asia Tenggara pertama yang memiliki kemampuan UAV bersenjata, setelah menerima rudal berpemandu presisi AR-2 untuk armada CH-4B pada April 2021.

Sebuah pod peperangan elektronik, kemungkinan untuk misi komunikasi atau pengumpulan intelijen sinyal, juga telah diamati terpasang pada setidaknya salah satu UAV CH-4 milik TNI AU," terang Asian Military Review dalam artikelnya.

 Persiapan Skuadron UAV 53 Tarakan dan Operasional CH-4 

Antara edisi 10 Oktober 2025 lalu melaporkan Pangkalan Udara Anang Busra Tarakan akan membangun Skuadron Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau skuadron 53 dan naik status Lanud dari tipe B menjadi tipe A.

Skuadron 53, yang direncanakan diresmikan pada 2026 oleh pimpinan TNI AU, akan mengoperasikan drone militer jenis CH-4.

Terkait spesifikasi dan peran strategis drone ini, Komandan Lanud Anang Busra memberikan penjelasan detail:

CH-4 dapat dipersenjatai dengan rudal atau bom, sehingga memiliki fungsi ganda, baik untuk intelijen, pengintaian, dan pengawasan (ISR) maupun sebagai drone serang,” kata Komandan Lanud Anang Busra, Marsekal Pertama TNI Andreas A. Dhewo.

Beliau menambahkan mengenai pentingnya penempatan unit ini di wilayah perbatasan:

Dengan kemampuan drone ini, kami dapat memantau wilayah secara efektif dan memberikan respons cepat terhadap potensi ancaman,” tambahnya.

Keberadaan Skuadron 53 di Tarakan diharapkan dapat memperkuat pengawasan udara di wilayah Kalimantan Utara, khususnya untuk mencegah dan mengidentifikasi aktivitas penyelundupan di perbatasan.

Drone CH-4 ini dilaporkan memiliki jangkauan terbang hingga 5.000 kilometer dan mampu beroperasi di udara selama 30 hingga 40 jam negara.***

  🛩
Time Moments  

Minggu, 26 April 2026

TNI AL Punya ‘Shahed’ Versi Lokal

Kenali KI50: Drone Kamikaze Delta Wing Buatan Dalam Negerihttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguBZuFygR7Yj4Jv-x06hpkSpd0RHzxrJybJM_KgAR1dDLA-oPykMkclLwjvqkgzC6Wgs4jdNc_dAALT3Z1BPQ3ETlSwkVZ5V1cQYb2NOyNIxJ6s7O_mmqTP3Azum80zOLazC0QEz4ZEBIGc4KKyRDEU3TmBUtBIzex2AxJFVQBzXwLyRKaPIM4KZPBJU2i/s1600/IMG_0545.jpegDrone kamikaze KI50 dalam Latopslagab 2026 (Dispenal)

Kemunculan drone kamikaze HDS NSS (Next-gen Strike System) buatan Malaysia yang berdesain ala ‘Shahed-136’ di Defence Services Asia (DSA) 2026, telah memantik perhatian netizen di Tanah Air, pasalnya, Indonesia sebenarnya lebih dulu menampilkan, bahkan telah menguji coba drone kamikaze (loitering munition) bersayap delta tersebut.

Punya dimensi mini mirip HDS NSS, drone kamikaze yang dimaksud adalah KI50 Loitering Attack Drone, produk pengembangan dari Batekhan Kemhan dan PT AKM Teknologi Nuswantara, yang telah digunakan oleh TNI AL dalam latihan pertempuran.

Drone Kamikaze ini telah beberapa kali menjalani uji coba dan sudah masuk produksi massal.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZkzH82HXkBlKGlWyLcHl7b1_YWpJUnS87SfNxZrjQWMYQyh4JxT_-xB5CB0SkNCIXGbZRgobq0DiOPBz-vlOJCaoHMI0a8wYQ_qjsOX-M5KJ0USYQi02BLosToF12BQ4ICxNaMfeKYESRQT8UcykoR2PbC4aXIRqrw5N-tuEdsZhJDQyZFzQfMgGDuSCo/s500/IMG_0553.jpegSketsa desain drone KI50 (ist)

Dari spesifikasi yang beredar di media sosial, disebut KI50 punya lebar bentang sayap (wingspan) 1,5 meter, sebagai perbandingan HDS NSS punya Malaysia lebar bentang sayapnya 1,2 meter. Panjang badan keseluruhan KI50 adalah 1,2 meter dan berat maksimum saat lepas landas (MTOW) mencapai 12 kg.

Drone kamikaze yang dioperasikan TNI AL ini mengandalkan propusli elektrik, sistem pemandu mengadopsi Global Navigation Satellite Systems (GNSS).

Bicara aspek serangan, KI50 mengusung hulu ledak HE (High Explosive) fragmentation dengan berat 3 kg. Diluncurkan dengan catapult (ketapel), KI50 mampu melesat dengan kecepatan jelajah 90 km per jam, dan kecepatan saat serangan lebih dari 130 km per jam.

Beroperasi di ketinggian rendah, ketinggian terbang KI50 adalah 150 meter dan mampu mengudara (endurance) terbang selama kurang lebih 40 menit. (Bayu Pamungkas)

 ♖ Indomiliter  

Minggu, 29 Maret 2026

Jet Tempur Generasi Kelima KAAN Dikirim ke Indonesia 2032

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvY2VQJdvTEFOvacbp_xftc_jl4HEnVfng-RC4gpdHPsUPB7q2DyOCmiojUT0NvPwl1vXdkuPDqWG2tGtYRND7lY5PKkHm6yuHB9mY0_HtBal1hrg8cVasdGkBDuzwgJttEgYLErKjMJdf_ipAVv5wqYUcnHiLTefcMJ7Bt3IRCKQ8OcPV670YODptF7Bw/w1200-h630-p-k-no-nu/316167.jpgPesawat generasi kelima KAAN Turkiye (TAI)

CEO Turkish Aerospace Industries (TAI/Tusas) Mehmet Demiroglu membagikan informasi terkini secara detail proyek jet tempur KAAN dan drone Anka-3.

Dalam wawancara eksklusif dengan Oxu.Az, Demiroglu membagikan proses desain, produksi, pengujian, dan integrasi platform jet tempur generasi kelima dan drone generasi keenam Turki itu.

"Tujuan kami adalah untuk mengirimkan KAAN ke Angkatan Udara kami pada tahun 2028. Dengan mesin produksi dalam negeri kami, kami akan mulai mengirimkan KAAN ke Angkatan Udara kami dan Indonesia mulai tahun 2032 dan seterusnya," kata Demiroglu.

Indonesia melalui Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI meneken kontrak pembelian 48 unit jet KAAN dari TAI di sela pameran IDEF, Istanbul pertengahan 2025. Nilai proyek itu sebesar 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp 251 triliun.

Demiroglu pun menyoroti baik keunggulan strategis yang akan diberikan TAI kepada Angkatan Udara Turki maupun target ekspornya. Demiroglu menyatakan, penerbangan prototipe untuk KAAN telah selesai.

"Penerbangan prototipe kami telah menyelesaikan tiga dari lima fase yang direncanakan, dan pengujian prototipe akan dimulai pada tahun 2026," ujar Demiroglu.

Dia menyatakan, pekerjaan sedang berlangsung untuk integrasi mesin turbofan domestik untuk pesawat tersebut. Demiroglu mengungkapkan, integrasi mesin penuh ditargetkan sekitar tahun 2032.

Saat ini, TAI yang menggunakan mesin General Electric F110 sebagai penggerak jet tempur KAAN. Mereka pun sedang membuat mesin dalam negeri TF35000 untuk digunakan dalam jet tempur tersebut.

Demiroglu menyampaikan, TAI berharap datang lebih 300 pesanan jet tempur untuk pasar internasional. Dia juga mengungkapkan, Turki sedang negosiasi dengan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

Demiroglu menambahkan, KAAN sedang dipersiapkan untuk ekspor sekaligus meningkatkan kekuatan udara Turki.

Jumat, 27 Maret 2026

TNI AL Bakal Memastikan Penggunaan Drone untuk Jaga Selat Strategis

 ⚓️ Lebih efisien KRI BPD 322, Frigate pertama dan drone kapal selam produksi PT PAL (FMI fb)

TNI AL mulai mengalihkan fokus pengamanan laut dengan memanfaatkan teknologi robotik. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menegaskan penggunaan pesawat dan kapal tanpa awak (drone) bakal menjadi kunci efisiensi dalam menjaga wilayah perairan Indonesia yang sangat luas.

Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan pemenuhan jumlah alutsista ideal di tanah air.
Ali mengamini bahwa Indonesia sebenarnya membutuhkan hingga 300 kapal perang untuk mengawal wilayah dari Aceh hingga Papua.

Kebutuhan 300 kapal itu betul, tapi kita tidak membutuhkan semuanya fregat (kapal tempur besar). Yang kita butuhkan justru banyak kapal-kapal patroli dan kapal kecil untuk menjaga selat-selat serta kawasan pesisir (litoral),” ujar Ali di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (26/3).

 Andalkan Teknologi Tanpa Awak

Ali memproyeksikan penggunaan sistem tanpa awak (unmanned system) secara masif sebagai solusi cerdas di masa depan. Menurutnya, teknologi drone jauh lebih efektif dan hemat biaya untuk mengawasi celah-celah laut strategis dibanding hanya mengandalkan kapal berawak.

Kita butuh lebih banyak unmanned system. Drone ini sangat efektif dan efisien untuk menjaga perairan kita yang sangat luas karena lebih hemat dalam penggunaan operasional,” jelasnya.

TNI AL membidik tiga jenis armada robotik sekaligus untuk memperkuat pengawasan, seperti kapal tanpa awak (USV) yaitu robot yang bergerak di atas permukaan air untuk patroli.

Kemudian, pesawat tanpa awak (UAV) atau drone udara untuk pengintaian dari langit. Lalu, robot bawah laut (UUV) merupakan perangkat robotik yang beroperasi di bawah air untuk mendeteksi ancaman kapal selam atau ranjau.

 Dorong Produksi Dalam Negeri

Ali menaruh harapan besar agar seluruh perangkat teknologi tanpa awak tersebut lahir dari tangan anak bangsa. Ia mendorong industri pertahanan lokal untuk segera menguasai teknologi robotik laut dan udara ini.

Harapannya drone-drone ini sudah bisa kita buat di dalam negeri. Baik yang di permukaan, di udara, maupun di bawah laut, semuanya kalau bisa kita bangun sendiri,” tegas Ali.

Selain drone, Ali menyebut kapal-kapal patroli berukuran kecil memiliki peran vital di kawasan pesisir. Kapal jenis ini lebih lincah bermanuver di selat-selat padat dan perairan dangkal yang sulit dijangkau oleh kapal perang berukuran raksasa.

Kamis, 26 Februari 2026

ITS dan AAL Jajaki Pengembangan Drone Militer Canggih

👮  Bakal jadi pusat riset pertahanan UCAV Elang Hitam sukses terbang perdana, ITS dan AAL menjajaki kerja sama pembentukan Pusat Studi Drone Perang di Surabaya. Kolaborasi ini fokus pada riset unmanned system untuk memperkuat industri pertahanan nasional (Defend ID)

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menerima kunjungan kehormatan dari jajaran pimpinan Akademi Angkatan Laut (AAL) di Ruang Rektor, Gedung Rektorat ITS, Kamis (26/2/2026). Pertemuan strategis ini membahas rencana pembentukan Pusat Studi Drone Perang sebagai wadah kolaborasi riset pertahanan antara teknokrat dan militer.

Rektor ITS, Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., IPU, APEC Eng., menyambut hangat Sekretaris Lembaga (Seklem) AAL, Laksma TNI Dr. Asep Iwa Soemantri, S.E., M.M., M.Tr.Opsla.

Bambang menyampaikan, kehadiran pihak AAL awalnya bertujuan memberikan pembekalan karakter bagi mahasiswa baru Prodi Teknologi Informasi ITS. Namun, diskusi berkembang pada potensi pengembangan teknologi unmanned system (sistem nirawak).

"Kami melihat ini adalah kesempatan luar biasa. ITS memiliki banyak pakar dan dosen yang sudah lama berkecimpung di bidang teknologi drone. Kami siap mendukung secara SDM dan teknis untuk mengembangkan kebutuhan pihak AAL," ujar Bambang Pramujati, Kamis (26/2/2026).

Lebih lanjut, Bambang menjelaskan bahwa kerja sama ini akan difokuskan pada pembentukan Pusat Studi (Research Center), bukan sekadar program studi akademik. Hal ini bertujuan agar kedua belah pihak bisa langsung melakukan riset bersama dan pengembangan produk.

"Fokusnya adalah menciptakan berbagai variasi drone, terutama untuk kebutuhan militer yang spesifik dan berbeda dengan drone mapping sipil pada umumnya," tambahnya.

Senada, Laksma TNI Dr. Asep Iwa Soemantri menekankan pentingnya sinergi antara militer sebagai pengguna (user) dan teknokrat sebagai pengembang teknologi. Saat ini, AAL telah memasukkan mata kuliah teknologi siber dan perang drone dalam kurikulum Korps Marinir.

"Kolaborasi dengan ITS sangat penting untuk mewujudkan industri pertahanan (Defend ID) yang mandiri. Drone bukan hanya soal perang, tapi juga efisiensi operasi di lapangan. Dengan data intelijen berbasis software dan hardware drone, operasi TNI akan jauh lebih efektif," jelas jenderal bintang satu tersebut.

Laksma Asep mengungkapkan, pemilihan ITS sebagai mitra strategis didasari reputasi institusi serta kedekatan geografis antara kampus ITS dengan Bumi Moro (Markas AAL) yang memudahkan koordinasi.

Mengenai implementasi nyata, kedua belah pihak sepakat untuk menindaklanjuti pertemuan ini dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan pemetaan teknis riset.

"Ke depan, teknologi ini tidak hanya untuk militer, tapi juga bisa diakselerasi untuk kesejahteraan masyarakat, seperti di sektor pertanian dan perkebunan berbasis siber," pungkas Asep. (*)

   🤝 
Times Indonesia  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More