N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KRI Raden Eddy Martadinata 331

PKR 10514, Kapal frigat pertama produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Krait

Kapal patroli 40 m berbahan almunium alloy produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

Panser Canon 90mm

Kendaraan militer dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

PT44 Gudel

Kendaraan taktis militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Selasa, 31 Agustus 2010

IM2 Saingi Tri dan XL di Micro SIM Card

Menjadi pilihan baru bagi pengguna tablet PC dan Apple iPad selain Tri, Indosat, dan XL.

VIVAnews
- Menyusul langkah Indosat, Tri (3), dan XL, PT Indosat Mega Media (IM2) baru-baru ini juga menghadirkan micro SIM Card. Namun, berbeda dengan Tri, IM2 lebih memilih untuk mengeluarkan kartu SIM baru seperti yang dilakukan XL dan Indosat, daripada memotong kartu SIM regular.

Untuk diketahui, micro SIM Card saat ini digunakan gadget-gadget terbaru seperti tablet PC dan Apple iPad. Di segi ukuran fisik, ia 52 persen lebih kecil dari kartu SIM biasa.

"Penyediaan Micro SIM Card ini akan memenuhi kebutuhan koneksi para pelanggan IM2 yang menggunakan gadget terbaru seperti iPad," kata Abu Syukur Nasution, Direktur Sales & Marketing IM2 melalui keterangannya, Selasa 31 Agustus 2010.

"Dengan jaringan Broadband 3.5G maka pelanggan akan mendapatkan fungsi yang optimal dari gadget tersebut," ucapnya.

Meski belum resmi meluncur di Indonesia, Apple iPad mendapatkan animo yang luar biasa besar. Untuk Apple iPad dan sejumlah tablet PC lainnya, IM2 menawarkan Broom dan Prime dengan kecepatan hingga 3,6 Mbps.

"Layanan Broadband IM2 memang lebih cocok untuk perangkat layar lebar seperti laptop ataupun iPad karena interaksi dengan pelanggan mulai aktivasi, isi ulang hingga cek penggunaan dapat diakses via web, sehingga tidak perlu cabut pasang SIM Card untuk mendaftar layanan via SMS atau UMB," tutur Abu Syukur.

Pada tahap awal, IM2 menyiapkan 300 Micro SIM Card untuk pelanggan pascabayar atau Prime dan 600 Micro SIM Card untuk pelanggan prabayar BroomBastis. Bagi pelanggan eksisting yang sebelumnya sudah berlangganan Broadband IM2, mereka mendapat jasa pemotongan kartu SIM regular gratis dengan menggunakan alat pemotong Micro Sim Card.

Sebelumnya, Tri (3), XL, dan Indosat telah lebih dulu menghadirkan micro SIM card ke Tanah Air. Tri dan Indosat merupakan dua operator yang tertarik untuk meluncurkan produk bundling Apple iPad. (hs)



VIVAnews

Senin, 30 Agustus 2010

Dosen Universitas Brawijaya Ciptakan Kompor Biomassa Tanpa Asap

TEMPO Interaktif, Malang - Nurhuda, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya (UB) Malang menciptakan kompor biomassa yang tak mengeluarkan asap. Kompor yang diberi nama UB-03 ini menggunakan sistem gasifikasi terpanaskan dan pembakaran secara turbulen. "Prinsip kerjanya dengan mengelola asap menjadi api," katanya, Jumat (25/6).

Menurut Nurhuda, kunci pengolahan asap menjadi api adalah pada gerak turbulen atau gerakan mengaduk yang menyebabkan pembakaran menjadi sempurna. Gerakan turbulen ditimbulkan aliran gasifikasi terpanaskan dan aliran udara sekunder. Namun alirannya mengarah ke bawah atau bertolak belakang dengan nyala api yang ke atas dari sumber pembakaran biomassa.

Prinsip aliran udara tersebut dinamakan counter flow burning mechanism, yaitu mekanisme aliran udara melawan arah api ke atas. "Inilah yang tu menyebabkan pembakaran yang lebih efisien," ujar Nurhuda.

Dengan mekanisme itu, diperoleh keuntungan selain asap bahan bakar lebih sempurna terbakar, juga sebagian lidah api yang menjulur ke bawah bisa menyebabkan suhu ruang bawah makin tinggi.

Kenaikan suhu ruang bawah mempermudah proses gasifikasi terpanaskan. Pemanfaatan suhu gasifikasi yang mencapai 200 derajat celsius merupakan efisiensi pemanfaatan panas dari pembakaran sumber biomassa. "Kompor UB-03 menjawab tantangan energi bersih dengan teknologi tepat guna," kata Nurhuda.

Kompor UB-03 merupakan pengembangan dari Kompor UB-01 dan Kompor UB-02 yang diciptakan Nurhuda. saat ini, Kompor UB-03 sedang dalam proses pengurusan hak paten. BIBIN BINTARIADI


Tempointeraktif

Minggu, 29 Agustus 2010

PT PAL Tekuni Bisnis Kapal Perang

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA--PT PAL Indonesia menjajaki peluang pengadaan kendaraan perang dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan) setelah berhasil mendapatkan kontrak pembangunan kapal perusak kawal rudal (PKR) senilai Rp 4 triliun.

Direktur Utama PAL, Harsusanto mengatakan, Kemenhan sudah menyatakan minat untuk membuat kontrak lanjutan tersebut. "Yang sudah di depan mata untuk landing ship tank dan hydrography," katanya ketika ditemui usai menghadiri Kontrak Pembangunan Kapal (Ship Building Contract) Lima Kapal Kanker Pertamina dengan Empat Galangan Kapal, Kamis (26/8).

Untuk pembangunan kapal PKR sendiri, kata Harsusanto, pihaknya akan melanjutkan finalisasi kontrak pada bulan depan dan merampungkannya Oktober mendatang. Dalam proyek ini, PAL bermitra dengan Damen Schelde, pabrikan kapal asal Belanda. Bagi Damen sendiri, kata dia, pembuatan PKR gabungan ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka.

Harsusanto berharap, terjadi transfer teknologi dalam proyek PKR yang perdana ini. Sehingga, untuk proyek selanjutnya dapat dilakukan secara mandiri. "Wah, potensinya ke depan bisa sampai 10 kapal (PKR)," katanya.

Menteri Perindustrian, MS Hidayat berharap proyek perdana kapal PKR oleh PAL ini mampu menjadi titik awal yang baik bagi industri alutsista nasional. "Karena itu, ini (proyek PKR) menjadi tugas berat bagi PAL," ucapnya dalam kesempatan yang sama.


republika

Sabtu, 28 Agustus 2010

DI - China Jajaki Kerja Sama Industri Pesawat Terbang

JAKARTA - Menteri BUMN Mustafa Abubakar menuturkan adanya peluang kerja sama industri pesawat terbang milik Cina, Xi'an dengan BUMN industri pesawat terbang PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Menurut Mustafa, Xi'an berminat untuk melakukan kerja sama dalam hal pembiayaan, desain, produksi, dan pemasaran pesawat PTDI.

"Diharapkan PTDI dan Xi'an dapat menjalin kerja sama strategis. Kita tidak hanya ingin membeli pesawat mereka, tapi yang penting, kerja sama dengan mereka untuk bekerja sama dengan industri pesawat terbang kita," tutur Mustafa saat ditemui pada acara Lebaran Fair 2010 di JCC, Jakarta, Rabu (25/8/2010).

Menurutnya, nanti diharapkan Xi'an bisa membeli pesawat produk PT DI karena mereka dianggap juga membutuhkan pesawat-pesawat kecil berkapasitas 20-50 kursi. "Mereka nanti bersedia kerja sama di pembiayaan, desain, produksi, pemasaran, bukan hanya di kedua negara ini, tapi juga di region, ASEAN. Kita lakukan win-win solution," ujarnya.

Meski berencana bekerja sama dalam pembiayaan, tapi menurutnya belum ada pembahasan lebih lanjut mengenai jumlah pendanaan yang akan diberikan. Tapi, lanjutnya, sesuai komitmen pemerintah Cina yang disebutkan beberapa waktu lalu, pemerintah Cina menyediakan USD35 miliar guna mengimbangi neraca perdagangan kedua negara. Dana tersebut akan cenderung dipakai untuk produk teknologi tinggi, seperti senjata dan pesawat terbang.

"USD 35 miliar ini bisa digunakan untuk membeli produk-produk Indonesia, produk yang hightech (teknologi tinggi), seperti senjata dan pesawat terbang. Nah diharapkan produk PTDI ini bisa dibeli mereka, sehingga bisa mengimbangi neraca perdagangan kita," tuturnya.

Sekedar informasi, Xi'an dikabarkan akan menjual 15 pesawat MA60 mereka kepada PT Merpati Nusantara yang akan segera didatangkan ke Indonesia.(wdi)


Okezone

RI Rancang Kapal Selam

KRI 402 (photo: Formil)

Jakarta, Kompas - Setelah merasa mapan dalam industri pertahanan untuk matra darat, Indonesia pun merancang industri pertahanan bagi matra laut. Meski belum resmi diluncurkan, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan, Indonesia akan membangun kapal selam sendiri. Terlebih setelah PT PAL Surabaya mengembangkan kapal perang sejenis fregat kelas La Fayette.

”Kami sebenarnya cukup bisa membangun sendiri industri pertahanan untuk Angkatan Laut. Sekarang Indonesia sudah membangun kapal perang modern sejenis fregat kelas La Fayette seperti yang dimiliki Singapura dan akan selesai dalam waktu empat tahun oleh PT PAL,” ujar Purnomo di sela-sela seminar ”Pertahanan Nasional Indonesia dalam Perspektif Sosial-Budaya” di Gedung Widya Graha LIPI, Jakarta, Rabu (25/8).

Menurut Purnomo, keberhasilan membangun kapal perang modern membuat pemerintah cukup percaya diri memperkuat industri pertahanan untuk Angkatan Laut. ”Saya katakan bisa enggak dalam waktu dekat ini kita membangun kapal selam. Kita, kan, punya dok yang cukup untuk membangunnya di Surabaya,” ujarnya.

Industri pertahanan dalam negeri, lanjut Purnomo, sudah cukup membanggakan, terutama untuk matra darat. Keberhasilan PT Pindad membuat panser dan senapan serbu SS1 dan SS2 merupakan salah satu contoh. Panser buatan Pindad kini sudah diekspor ke negara-negara ASEAN.

Pengamat militer Salim Said mengungkapkan, Indonesia memiliki kemampuan untuk membangun industri Angkatan Laut sendiri. Menurut dia, sebenarnya sudah sejak dulu Indonesia dapat membuat kapal perang, termasuk kapal selam, sendiri.

Salim mengatakan, pembangunan industri pertahanan TNI Angkatan Laut sudah sangat mendesak. Beberapa insiden di perbatasan laut Indonesia-Malaysia harus menjadi pelajaran, betapa mendesaknya Indonesia memperkuat industri pertahanan bagi matra laut. (BIL)


KOMPAS

Jumat, 27 Agustus 2010

Pertamina Pesan 5 Kapal Tanker

Kapal tanker Romito, yang berbobot mati 24.000 ton dalam tahap pengerjaan akhir PT PAL Indonesia (Persero), dilihat dari ruang kemudi, Selasa (16/2) di galangan PT PAL Indonesia (Perse - ro), Surabaya. Kapal pesanan Italia ini ditarg etkan selesai pada Maret.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) memesan 5 armada tanker kepada galangan kapal di dalam negeri senilai 87,38 juta dollar AS untuk meningkatkan kehandalan distribusi BBM di dalam negeri. Kelima tanker itu diharapkan mulai memperkuat jajaran armada perkapalan Pertamina mulai April hingga Desember 2012.


"Ini menunjukkan komitmen kuat Pertamina dalam mendukung pertumbuhan industri perkapalan di dalam negeri.
-- Mochamad Harun"


Penandatanganan kontrak pembangunan kapal/Ship Building Contract (SBC) dengan 4 galangan kapal di dalam negeri dilakukan pada Kamis (26/8/2010), di Surabaya. "Ini menunjukkan komitmen kuat Pertamina dalam mendukung pertumbuhan industri perkapalan di dalam negeri," kata Vice President Komunikasi PT Pertamina (Persero) Mochamad Harun.

Kelima armada tanker itu masing masing dua kapal ukuran 17.500 long ton dead weight (LTDW) yang akan dibangun di PT PAL Surabaya, satu kapal 6.500 LTDW dibangun di PT Dok & Perkapalan Surabaya, dua kapal ukuran 3.500 LTDW yang masing masing di buat PT Dumas Tanjung Perak Shipyard Surabaya dan PT Daya Radar Utama Lampung.

Tanker ini dibuat sesuai dengan kondisi perairan Indonesia dan diharapkan akan menjadi produk Indonesia yang terbaik di kelasnya. Selama proses pembangunan kapal, Pertamina akan melaksanakan supervisi ke semua galangan secara periodik untuk menjamin ketepatan masa pembangunan.

Hingga saat ini Pertamina mengoperasikan 190 kapal tanker termasuk 36 kapal milik Pertamina yang digunakan untuk pengangkutan minyak mentah, produk-produk kilang & BBM serta kapal pengangkut LPG. Pengadaan armada baru ini merupakan bagian dari rencana besar peremajaan dan penambahan armada milik Pertamina.

Menurut Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) Djaelani Sutomo, dengan kemampuan armada milik yang makin kuat, diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan, meningkatkan efisiensi transportasi serta mengurangi ketergantungan terhadap kapal carter.


KOMPAS

Pertumbuhan Industri Kapal Dalam Negeri Meningkat 15 %

Surabaya - Pertumbuhan Industri kapal dalam negeri mulai bangkit dan terus mengalami peningkatan hingga 15 persen. Bahkan, saat ini sekitar 30 tender kapal akan dimenangkan oleh industri kapal lokal.

Hal ini diungkapkan Menteri Perindustrian, MS Hidayat, usai menyaksikan penandatangan nota kerjasama antara PT DOK dan Perkapalan Surabaya (DPS) dengan PT Pertamina di PT DPS, Jalan Perak Barat Surabaya, Kamis (26/8/2010).

"Saat ini pertumbuhan industri perkapalan mulai bangkit dan sedang berkonsolidasi,"
katanya.

Hidayat juga mengungkapkan, kebangkitan ini berdampak terhadap keuntungan yang besar. Menurutnya, lebih kurang 30 tender yang kemungkinan akan dimenangkan industri kapal lokal.

Hidayat menambahkan, pertumbuhan industri perkapalan sendiri akan terus berkembang
hingga 5 tahun kedepan. "Untuk akhir tahun ini kemungkinan akan ada puluhan sekitar
5-15 persen," pungkasnya.(bdh/bdh)


Detik.com

Rabu, 25 Agustus 2010

Teknologi Pembersih Laut Asli Indonesia

Tim peneliti Indonesia berhasil mengembangkan teknologi bioremedial yang bisa berguna untuk mengatasi pencemaran di laut. Teknologi tersebut berupa kultur bakteri yang akan menyerap bahan pencemar.

Teknologi terbaru ini diperkenalkan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad pada acara temu nelayan di Pelabuhan Perikanan Samudra Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta Utara, Rabu (18/6/2010).

"Saya kaget Indonesia bisa buat ini. Teknologi ini adalah hasil karya anak bangsa dan pertama di dunia. Kalau berhasil, saya akan sebar bakteri ini pertama kali di daerah Timor karena di sana sedang tercemar lautnya," ujar Fadel.

Selain diterapkan di laut, teknologi bioremedial juga dapat diterapkan di daerah genangan lumpur Lapindo. Bakteri-bakteri yang dibudidayakan bisa memisahkan lumpur dan air sehingga dapat menjernihkan dan menteralkan genengan lumpur tersebut.

"Mikroorganisme ini saat makan minyak menghasilkan semacam liur, nah liur ini yang bisa digunakan untuk menyerap lumpur seperti lumpur di Lapindo," ujar Edison Effendi, salah seorang peneliti bioteknologi dan teknik lingkungan. Setelah lumpur terserap, daerah bekas genangan lumpur dapat ditebar benih ikan.

Teknologi ini sudah dikembangkan sejak tahun 1998 oleh tim dari ITB yang bekerja sama dengan Balai Penelitian Kementrian Kelautan dan Perikanan. Bioremedial terdiri dari 100 macam bakteri dan mikroorganisme yang berbentuk seperti serbuk gergaji yang disebar untuk menyerap limbah minyak yang ada di permukaan laut. Dengan sendirinya laut yang tercemar akan bersih. Setelah menyerap ampas minyak, mikroorganisme ini bisa digunakan sebagai makanan ikan laut dan udang. Proses dari ditaburkan hingga menyerap minyak dengan sempurna memakan waktu kurang lebih 1 minggu. (kompas.com/ humasristek)

ristek

Selasa, 24 Agustus 2010

PLTN Belum Akan Dibangun Hingga 2019

TEMPO Interaktif, Jakarta -PT PLN (Persero) memastikan belum akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi nasional."Dalam RUPTL (Rencana Umum Penyedliaan Tenaga Listrik) hingga tahun 2019, nuklir belum masuk, sumber energi masih didominasi oleh batu bara, panas bumi , dan gas," kata Direktur Bisnis dan Manajemen Resiko PLN, Murtaqi Syamsuddin dalam diskui prospek PLTN dalam memenuhi kebutuhan listrik yang terjangkau di gedung BPPT hari ini.

Menurut Murtaqi, ada tiga hal yang menjadi pertimbangan belum bisanya Indonesia menggunakan nuklir sebagai sumber energi, yaitu masalah dana , kebijakan ,dan teknologi. "Biaya kapital yang sangat tinggi, masa konstruksi yang sangat lama, dan ketidakpastiannya sangat menyulitkan perencanaan PLTN," katanya.

Anggota Dewan Energi Nasional, Rinaldy Dalimi menyatakan Indonesia tidak perlu membangun PLTN. "Toh kita bisa tanpa PLTN, Indonesia punya sumberdaya energi terbarukan yang dapat menggantikan nuklir seperti biofuel , tenaga air,dan panas bumi," kata Riynaldi dalam diskusi.

Resiko dan Investasi yang harus ditanggung oleh Pemerintah , menurut Riynaldi, sangatlah besar. Terutama karena Indonesia bukanlah negara penghasil uranium. Dengan begitu Indonesia harus mengimpor uranium dari luar. "Dan itu harus dikawal oleh negara-negara besar," ujarnya. Belum lagi Indonesia masuk kedalam negara rawan gempa. "Hanya Kalimantan yang aman dari gempa," jelasnya. GUSTIDHA BUDIARTIE


Tempointeraktif

Senin, 23 Agustus 2010

Sriti, Pesawat Bikinan Anak Negeri

Pesawat tanpawak srinti diperkenalkan dalan R&D Ritech 2010 (21/08/2010). Pesawat ini rencananya akan digunakan kementerian kelautan dan perikanan untuk pengawasan laut indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com — Sriti, pesawat tanpa awak hasil ciptaan putra Indonesia, diperkenalkan pada R&D Ritech Expo 2010, Sabtu (21/8/2010). Menurut Teguh, salah seorang engineer dari BPPT, Sriti adalah pesawat kelima yang telah dibuat BPPT.

"Ini pengembangan yang kelima. Sebelumnya ada Pelatuk, Wulung, Gagak, dan Alap-alap. Namun, walaupun sudah lima pesawat yang diciptakan, baru Sriti yang akan diberdayagunakan oleh pemerintah. Belum ada yang dipakai, baru Sriti ini yang rencananya akan dipakai pemerintah," ujar Armanto, salah seorang engineer lainnya.

Rencananya, pada bulan November nanti, Sriti akan digunakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pengawasan zona laut terluar Indonesia. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi lagi penerobosan oleh kapal-kapal asing.

"Kita akan bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pengawasan laut terluar Indonesia," ujar Armanto lebih lanjut.

Sriti berbahan bakar metanol seperti yang dipakai di pesawat aeromodelling. Jarak pengendalian maksimum Sriti adalah 45 km. Pengendalian pesawat menggunakan ground control station (GCS).

GCS terdiri dari remote control yang digunakan saat lepas landas dan mendarat. Saat di udara, Sriti bergerak autonomus, sesuai titik-titik yang telah ditentukan di komputer. Pergerakan pesawat ini menggunakan perangkat lunak Dynamic c# dengan prosesor Rabbit 4000 yang telah dikembangkan oleh tim BPPT.


KOMPAS

Minggu, 22 Agustus 2010

Indonesia - India Bentuk Komite Bilateral Antariksa

Liputan6.com, Bogor: Pemerintah Indonesia dan India menjalin proyek kerja sama dalam bidang antariksa. Pembentukan komite bilateral tersebut adalah wujud implementasi dari proyek kerja sama bidang teknologi dan aplikasi antariksa. Kedua tim komite hadir di Pusat Teknologi Elektronika Dirgantara di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, pertengahan Agustus ini.

Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia mengajukan permohonan kepada India untuk memindahkan kepemilikan stasiun TT & C Lapan-ISRO (Lembaga Antariksa India) di Biak, Papua, kepada Indonesia. Kesepakatan tersebut tertuang dalam Rapat Komite Kerja Sama Indonesia dan India yang digelar di Bali, yang ditandatangani Sekretaris Utama Lapan Bambang Koesoemanto dan Direktur ISTRAC (Jaringan Komando dan Tracking ISRO SK Shivakumar.

Keinginan Indonesia tak langsung diamini. Sebab proses perpindahan kepemilikan harus dilakukan di level pemerintahan, yang memakan proses diplomasi antarpemerintah selama dua bulan. Bila disetujui, India akan menyiapkan proposal persetujuan untuk perpindahan stasiun TT & C tadi.

Sejalan dengan proses perpindahan kepemilikan satelit, India meminta Indonesia mengembangkan kerja sama di beberapa bidang kedirgantaraan. Di antaranya meliputi identifikasi tempat pembangunan antena TT & C satelit baru dengan ketinggian 40 meter di Biak, pengoperasian stasiun bumi satelit yang dapat dipindahkan, perolehan data satelit penginderaan jauh IRS, Cartosat, dan Oceansat-2.(EPN/Lapan)


liputan6

Sabtu, 21 Agustus 2010

Kurangi Risiko Gempa, Indonesia Sudah Saatnya Punya Emergency Plan

Jakarta - Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki potensi gempa bumi tertinggi. Oleh karena itu diperlukan mitigasi untuk mengurangi risiko gempa.

"Harus ada perubahan paradigma. Kita tak lagi hanya memikirkan pasca bencana, namun mitigasi untuk mengurangi risiko gempa. Ke depan, kemungkinan kota besar di Indonesia memiliki emergency plan, terutama pada bangunan yang sudah berdiri,” ujar Staf Khusus Presiden Bidang Penanggulangan Bencana, Andi Arief.

Hal itu dia katakan dalam acara bertajuk "Paparan Peta Bahaya Gempa Indonesia dan Pentingnya bagi Pemerintah dan Dunia Usaha" di Hotel Borobudur, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (16/8/2010).

Andi mengatakan, untuk mengurangi korban jiwa dan pembengkakan biaya, mitigasi memiliki fungsi yang sangat penting. "Sebanyak Rp 150 triliun dari APBN keluar untuk pembiayaan pasca bencana sejak peristiwa Aceh,”imbuhnya.

Indonesia, lanjut Andi, tidak hanya belum memiliki pusat kegempaan, tapi juga belum memiliki peta mikrozonasi. Negara-negara yang menggunakan peta mikrozonasi sudah pernah mengalami gempa yang merusak misalnya Turki bahkan Filipina.

"Ini ternyata banyak membantu persiapan dan pasca bencana,” tambah dia.

Sementara itu Direktur Eksekutif Artha Graha Peduli Heka Hertanto mengatakan
keberadaan Peta Seismik Hazard yang dapat diakses dan diketahui setiap saat oleh semua pihak merupakan hal penting. Bagi penentu kebijakan di daerah yang rawan bencana alam gempa bumi, Peta Seismik Hazard dapat membantu dalam perumusan kebijakan perencanaan pembangunan daerah.

"Karena itu diharapkan masukan dari para penentu kebijakan didaerah rawan
bencana akan semakin menyempurnakan peta seismik ini," kata Heka.

Lebih lanjut Heka menjelaskan, bagi dunia usaha Peta Seismik ini sangat berguna bagi perancang teknik dan membantu perencanaan kegiatan usaha. Karena peta tersebut dapat memberikan informasi mengenai potensi bencana alam di suatu daerah.

"Dengan informasi tersebut, maka para ahli teknik rancang bangun dapat mencari alternatif bahan bangunan atau teknologi bangunan yang dapat menyesuaikan dengan kondisi kegempaan di daerah masing-masing," imbuhnya.(mpr/ape)


detikNews

Jumat, 20 Agustus 2010

Telkom-Indosat 'Tunangan' Bangun Satelit

JAKARTA - Dua raksasa telekomunikasi di Indonesia, PT Indosat dan PT Telkom melakukan sharing infrastruktur dalam hal pembangunan satelit. Diharapkan, kerjasama ini mampu memberikan keuntungan bagi kedua perusahaan.

"Melalui sharing infrastruktur antara Indosat dan Telkom ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi Capex bagi kedua belah pihak," sebut Direktur Utama PT Telkom Rinaldi Firmansyah, di saat penandatanganan nota kesepahaman bersama (MoU) Indosat dan Telkom di Gedung Indosat, Jakarta, Rabu (18/8/2010).

Sebagai langkah awal, dalam MoU ini juga tertuang bahwa Indosat dan Telkom bersiap untuk membangun infrastruktur satelit di daerah 150,5 derajat bujur timur, yang saat ini masih diisi oleh Palapa C2.

"Kita berkomitmen membangun satelit bersama, sekarang baru mau mencari slot. Setelah Mou akan ada tim dari kedua belah pihak yang menentukan planing, spesifikasi teknis, foot print, dan harga," sebut Rinaldi.

Sementara itu, menurut Presiden Direktur dan CEO PT Indosat Harry Sasongko, MoU antara Indosat dan Telkom ini masih merupakan tahap awal dari kerjasama ini.

"Ibaratnya, kita masih bertunanganlah," sebutnya.

Ditimpali oleh Rinaldi, investasi untuk satelit ini diperkirakan akan menelan dana sekira USD200 juta untuk 48 transponder. (srn)

Okezone

Kamis, 19 Agustus 2010

Menhan Launching Pembangunan Kapal Perang Tempur PKR Pertama di Indonesia


Jakarta, DMC
– Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro me-launching pembangunan kapal perang tempur jenis Perusak Kawal Rudal (PKR) yang merupakan kapal perang tempur tpertama dan terbesar yang akan dibuat di Indonesia, Senin (16/8) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Pembuatan kapal perang PKR tersebut akan dikerjakan oleh PT. PAL selaku industri pertahanan dalam negeri bekerjasama dengan negara lain, selaku pemenang tender.

Launching pembangunan kapal perang PKR dengan tema “Persembahan Anak Bangsa Untuk Bumi Persada Indonesia” tersebut, ditandai dengan pembukaan secara simbolis Selubung Mock Up Kapal perang tempur PKR oleh Menhan. Hadir dalam acara tersebut Panglima TNI Djoko Santoso, Kasal Laksama TNI Agus Suhartono, Wamenhan Letjen TNI Sjafri Sjamsoeddin, Sekjen Kemhan Mardya TNI Eris Haryyanto, S.IP, M.A. dan Dirut PT. PAL Harsusanto serta sejumlah pejabat di jajaran Kemhan, Mabes TNI dan Mabesal.

Selain itu, hadir pula pejabat perwakilan dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Ristek, Kementerian BUMN, Bappenas dan Anggota Komisi I DPR RI serta perwakilan dari Damen di Indonesia.

Menhan dalam sambutannya mengatakan, setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Kemhan dapat me-launching pembangunan kapal perang PKR yang merupakan kapal perang tempur terbesar dan pertama yang akan dibangun di Indonesia yaitu di PT. PAL.

Menurut Menhan, launching pembangunan kapal perang PKR ini sangat penting, mengingat hal ini sejalan dengan salah satu prioritas pembangunan pada pemerintahan Kabinet Indonesia ke II yaitu membangun industri pertahanan dalam negari. Makna dari pembangunan industri pertahanan dalam negeri adalah semaksimal dan sedapat mungkin agar Alutsista TNI dibangun di dalam negeri.

Launching pembangunan kapal perang PKR ini menjadi moment yang sangat penting, karena setelah Indonesia mengalami krisis moneter pada tahun 1998, kemudian kita mencoba untuk membangun kembali industri pertahanan dalam negeri”, tambah Menhan.

Menhan mengatakan, pembangunan kapal perang PKR ini akan menjadi titik awal bangkitnya industri pertahanan dalam negeri khususnya industri kapal perang, dan selanjutnya diharapkan akan terus dapat membangun kapal sejenis ini berikutnya sehingga Indonesia di masa depan akan memiliki angkatan laut yang kuat.

Lebih lanjut Menhan menjelaskan, disamping digunakan untuk tugas – tugas tempur, kapal perang PKR juga diperlukan untuk memberikan deterrent effect atau efek gentar terhadap siapapun yang akan mencoba mengganggu kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI.


Menhan menambahkan, kapal perang PKR ini juga dapat digunakan dalam peace keeping mission atau misi penjaga perdamaian. Dalam misi perdamaian, Indonesia tidak hanya mengirimkan pasukan dari TNI AD, tetapi juga telah mengirimkan kapal perang dalam suatu naval mission di Lebanon.

Pada waktu itu, dengan Sigma Kelas sudah cukup berhasil dan diakui oleh NATO bahwa kapal perang TNI AL telah memenuhi standar dari kapal - kapal perang NATO. Dengan kehadiran kapal perang PKR ini, menurut Menhan diharapkan nantinya akan menempatkan Indonesia pada kelas yang lebih tinggi dan terhormat dalam kancah di dunia Internasional.

Selain itu, dengan pembangunan kapal perang PKR yang akan dibuat PT. PAL, juga membuktikan bahwa pemerintah dalam hal ini Kemhan dan TNI berkomitmen dalam mewujudkan kebijakan pertahanan yang pro kesejahteraan. Melalui pembangunan kapal perang PKR di PT.PAL, industri pertahanan pendukung dalam negeri lainnya akan tumbuh yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui penyerapan tenaga kerja.

Menhan mengatakan, walaupun dalam pembangunan kapal perang PKR pertama ini masih ada beberapa kekurangan yang harus terus diperbaiki, namun hal ini merupakan langkah perjalanan yang besar bagi industri pertahanan dalam negeri. “Walaupun di tempat lain pembangunan kapal perang PKR seperti ini sudah dilakukan, tetapi ini membuktikan bahwa suatu saat nanti Indonesia akan dapat tampil dan kuat di laut dalam mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI”, tambah Menhan.

Mengakhiri sambutannya, Menhan menyampaikan rasa bangga dan terimakasih kepada semua pihak baik Panglima TNI, Kasal dan tim yang dipimpin oleh Sekjen Kemhan yang telah bekerja keras bertahun - tahun dalam mempersiapkan dan mewujudkan pembangunan kapal perang PKR. Bertepatan dengan ulang tahun Kemerdekaan RI ke 65, ini adalah wujud persembahan dari anak bangsa di sektor pertahanan, seluruh jajaran Kemhan dan TNI.

Sementara itu, Sekjen Kemhan Mardya TNI Eris Haryyanto, S.IP, M.A saat membacakan narasi pembangunan kapal perang PKR mengatakan, dalam mewujudkan cita –cita mulia dan sebagai dedikasi kepada bangsa Indonesia, Kemhan dengan segenap stake holder berupaya mewujudkan pembangunan kapal perang tempur jenis PKR yang terbesar yang akan dibangun di industri pertahanan dalam negeri. Hal ini juga sebagai apresiasi industri pertahanan dalam berkontribusi guna pemenuhan kebutuhan Alutsista.

Lebih lanjut Sekjen Kemhan menjelaskan, desain kapal PKR ini telah mempertimbangkan dalam pemenuhan tuntutan operasional yang meliputi perkembangan lingkungan strategis, konsep pembangunan trimatra TNI dan program kemandirian Alutsista melalui Transfer of Knolage (TOK) dan Transfer of Technology (TOT).

Sementara itu dalam rancang bangun telah ditetapkan kriteria antara lain mampu dioperasikan sampai dengan batas terluar zona ekonomi eksklusif, memiliki fire power handal dan mampu menimbulkan dampak penangkalan, memiliki teknologi Senkomlek terkini dan terintegrasi serta dapat diup-grade sesuai dengan perkembangan teknologi dan mampu melaksanakan tugas – tugas SAR.

Sekjen Kemhan menambahkan, sasaran yang ingin dicapai adalah diharapkan PT. PAL sebagai industri strategis pertahanan dapat secara mandiri mampu mendesain dan memproduksi kapal jenis PKR, fregat dan kapal atas air lainnya.

Sekjen Kemhan mengatakan, pembangunan kapal PKR ini merupakan persembahan anak bangsa kepada bumi persada Indonesia dalam menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 65 Tahun 2010 yang diharapkan akan meningkatkan posisi tawar dan daya saing bangsa Indonesia.

Proses Pembangunan Kapal Perang PKR

Pembangunan kapal perang PKR ini diawali dengan pengajuan pengadaan satu buah kapal perang jenis PKR oleh TNI AL kepada Kemhan dan selanjutnya diproses melalui mekanisme yang ada dalam pengadaan Alutsista TNI.

Pembuatan kapal perang tersebut dikerjakan oleh PT. PAL selaku industri pertahanan dalam negeri yang akan bekerjasama dengan negara lain, selaku pemenang tender sebagai bagian dari alih teknologi. Berdasarkan perhitungan PT. PAL yang berbasis di Surabaya untuk pembuatan kapal perang PKR yang pertama dibutuhkan waktu sekitar 4 tahun.

Sebelumnya Kemhan juga telah menentukan negara Belanda dari tiga negara Eropa lainnya yang diusulkan menjadi rekan kerja, yakni Belanda, Italia dan Rusia. Di dalam ketetapan program pembangunan kapal perang jenis PKR tersebut, pihak Kemhan dan TNI AL telah mempersyaratkan kepada pemenang tender, dalam hal pembangunan kapal perang PKR pertama dilaksanakan sepenuhnya di PT. PAL dengan maximizing local content (porsi PT.PAL). Hak patent dari desain kapal perang PKR yang dipersenjatai dengan berbagai jenis Rudal menjadi milik bersama Kemhan dan pemenang tender.

Selain itu, Kemhan dan PT. PAL memiliki hak untuk menjual kapal yg sama ke negara ASEAN dan Asia, serta bila pemenang dari tender pembangun kapal perang PKR menjual kapal yg sama, PT. PAL mempunyai hak untuk men-supply engine room section dan accommodation section dalam rangka ‘ co-production ‘.

Beberapa hal lainnya yang mendukung program pembuatan kapal perang PKR tersebut, yakni kapal perang jenis PKR dibangun di divisi kapal perang, dimana manajemen & organisasi proyek yang meliputi engineering, procurement, construction dan finance dikelola secara terpisah dari kegiatan korporasi PT.PAL.

Proses pembangunan kapal perang PKR ini juga didasari oleh adanya suatu komitmen penuh dari pihak manajemen, karyawan PT. PAL serta para stake holder. Disamping itu diperlukan juga suatu komitmen investasi secara jelas dari partner untuk peningkatan kapasitas & fasilitas produksi divisi kapal perang.

Seleksi khusus dari setiap sumber daya manusia sebagai pelaksana yang terlibatpun di dalam proyek pembangunan kapal perang PKR tersebut juga harus sesuai kompetensi yang dibutuhkan.

Spesikasi Kapal Perang PKR

Kapal perang jenis PKR yang akan dibuat di Indonesia oleh PT. PAL dirancang dapat digunakan dalam beberapa misi operasi antara lain peperangan elektronika, peperangan anti udara, peperangan anti kapal selam, peperangan anti kapal permukaan dan bantuan tembakan kapal. Di samping itu kapal perang PKR tersebut dilengkapi dengan Rudal SAM, SSM dan Rudal anti kapal selam.

Spesifikasi dari kapal perang PKR tersebut antara lain memiliki panjang keseluruhan ± 105 meter, lebar ± 14 meter, kedalaman ± 8,8 meter, kecepatan (max / cruiser / ekon) ± 30/18/14 kn dengan kekuatan mesin utama ± 4 x 9.240 hp.

Kapal tersebut dilengkapi dengan perlengkapan radar untuk mendeteksi kapal selam dan pesawat udara, perlengkapan persenjataan diantaranya meriam kaliber 76 sampai 100 mm dan kaliber 20 sampai 30 mm, peluncur rudal ke udara dan senjata torpedo serta perlengkapan pendukung lainnya. Kapal ini juga dilengkapi dengan fasilitas helipad di deck kapal.(BDI/MAW/PGN)


dmcindonesia

Rabu, 18 Agustus 2010

PTDI mulai Produksi Komponen Sayap Buat Airbus 350

TEMPO Interaktif, Jakarta - PT Dirgantara Indonesia saat ini tengah mulai memenuhi pesanan pembuatan komponen sayap Airbus 350.

Setelah sebelumnya membuat komponen sayap inboard outer fixed leading edge untuk Airbus 380, 320, 330, dan 340 serta 400 militer.

"Jangka kontraknya ada yang lima tahun hingga 10 tahun. Mudah mudahan akan terus berlanjut, kita tidak memprediksi kapan berakhirnya kontrak ini," ujar Rukhendi Humas PT Dirgantara Indonesia (PT DI) saat dihubungi Tempo, Rabu (18/8).

Ia menyatakan, dengan diproduksinya komponen sayap oleh PT DI optimis pada tahun ini mengalami pertumbuhan dari segi bisnis. Walaupun perakitan komponen bukan bisnis utama PT Dirgantara Indonesia."Kami optimis menatap kedepan, dengan semakin meningkatnya pemesanan pembutan komponen, dan kegiatan perawatan oleh anak usaha,"

Rukhendi menegaskan, pemesanan komponen saya sendiri masih melalui British Aerospace System dengan kontrak awal sejak 2004 lalu. "Nilai kontraknya terus meningkat tiap tahun karena ada beberapa komponen harga yang juga meningkat seperti bahan baku dan tenaga kerja. Cuma berapa nilai kontrak untuk yang sekarang belum bisa diungkapkan," katanya.

Ia menegaskan, dengan diberikanyanya kepercayaan pembuatan komponen sayap menjadi nilai tambah buta PT DI dan Indonesia karena sudah dipercaya perusahaan besar untuk membuat komponen perusahaan penerbangan luar negeri."Kami optimis PT DI akan terus mengalami pertumbuhan seiring dengan banyaknya pesanan yang masuk," ujarnya.

PT DI sendiri memiliki sejumlah produk layanan selain pembuatan pesawat terbang dan helikopter. Di antaranya, aerostructure, aircraft services, engineering services. Dimana pada tahun ini PT DI ditargetkan mengalami pertumbuhan pendapatan mencapai Rp 1,5 triliun.

Pada tahun 2009 lalu, PT DI berhasil menembus target kontrak karya sekitar Rp 1,1 triliun.ALWAN RIDHA RAMDANI


Tempointeraktif

Indonesia Bangun Kapal Perang Tempur Modern

PT PAL akan bekerja sama dengan perusahaan galangan dari Belanda.

VIVAnews - Pemerintah Indonesia meresmikan pembangunan kapal perang produksi dalam negeri, 'Light Fregat-Perusak Kawal Rudal'. Kapal ini merupakan kapal perang tempur modern pertama yang akan dibuat Indonesia.
"Ini adalah langkah awal industri pertahanan Indonesia untuk maju," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin 16 Agustus 2010.

Meski pembangunan kapal Fregat seperti ini telah dilakukan di tempat lain, namun ini bukti keseriusan Indonesia mempertahankan kedaulatan dan negara kesatuan Republik Indonesia.
Menurut Purnomo, pembangunan kapal perang ini diperkirakan menghabiskan dana sebesar US$ 220 juta dengan lama pembangunan selama empat tahun.

Kemenhan akan menyerahkan sepenuhnya pembangunan kapal ini kepada PT PAL selaku industri pertahanan dalam negeri. "Pembangunan diserahkan sepenuhnya pada PT PAL dengan memaksimalkan konten lokal," kata dia.

Menurut dia, kapal PKR ini dibangun di divisi kapal perang. "Dimana manajemen dan organisasi proyek yang meliputi mesin, pengadaan, konstruksi, dan keuangan dikelola secara terpisah dari kegiatan korporasi PT PAL," kata dia.

Dalam pembangunan kapal Fregat ini, kata dia, PT PAL tak akan sendirian, tapi akan bekerja sama dengan perusahaan galangan dari Belanda, Damen-Schelde sebagai pemenang tender pembangunan kapal.
Ada beberapa kesepakatan antara Kemenhan dengan Damen-Schelde, Belanda sebagai pemenang tender. Seperti, hak paten desain kapal perang PKR yang dipersenjatai dengan berbagai jenis rudal menjadi milik bersama Kemenhan dengan pemenang tender.

Kemenhan dan PT PAL juga memiliki hak untuk menjual kapal yang sama ke negara ASEAN dan Asia.

Sigma 10514 : Light frigates yang diajukan oleh Damen dalam tender kapal PKR (photo : Damen)

Spesifikasi Kapal PKR

Kapal PKR dirancang untuk bisa digunakan dalam beberapa misi operasi, antara lain peperangan elektronika, peperangan anti udara, peperangan anti kapal selam, peperangan anti kapal permukaan, bantuan tembakan kapal. Kapal perang PKR juga dilengkapi dengan rudal SAM, SSM, dan rudal anti kapal selam.

Kapal tersebut dilengkapi dengan perlengkapan persenjataan diantaranya meriam kaliber 76 sampai 100 mm dan kaliber 20 sampai 30 mm, peluncur rudal ke udara, helipad di deck kapal, dan senjata torpedo serta perlengkapan pendukung lainnya.

Panjang keseluruhan kapal 105 meter, lebar 14 meter, kedalaman 8,8 meter, kecepatan 30/18/14 knot dengan kekuatan mesin utama 4 X 9.240 kekuatan kuda (horse power).

Kapal mampu menampung 100 hingga 120 awak kapal. Kapal ini juga mampu beroperasi hingga batar terluar Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, baik sendirian maupun mengawal kapal lainnya. (sj)


VIVAnews

Senin, 16 Agustus 2010

Ahli Pakan Ternak dan Mesin Pengolah Biskuit

TEMPO Interaktif, Malang - Muhammad Sobri tak hanya ahli meneliti formulasi pakan ternak, namun juga piawai dalam merancang mesin. Buktinya, dalam waktu tiga bulan, Ia sudah berhasil menciptakan mesin pencetak biskuit kelinci (Baca: Biskuit Untuk Kelinci).

Mesin pencetak Bici terdiri dari tiga unit, yakni mesin pencetak, oven dan alat pengemas yang berbentuk vacum. Namun, dari tiga unit ini, Sobri hanya menciptakan mesin pencetak.

Sobri membuat mesin pencetak sendiri karena alat pencetak biskuit yang ada di pasaran tidak ada yang cocok untuk produk Bici.

Cara kerja mesin sederhana. Pakan yang masih berbentuk butiran dimasukkan ke mesin melalui sebuah lubang yang diletakkan di bagian atas. Butiran kemudian ditekan dengan besi penekan berbobot 5 ton dan keluar dalam bentuk biskuit.

Dari mesin pencetak, biskuit kemudian dimasukkan ke oven dengan suhu 250 derajad celcius selama satu jam. Tujuannya adalah untuk mensterilkan biskuit. Dari mesin oven, biskuit kemudian dimasukkan dalam kemasan 1 Kg yang berisi 60 buah biskuit dan 0,5 Kg yang berisi 30 buah. Kemasan ini kemudian ditutup pada mesin vacum. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kedap udara agar tahan lama.

UMM tertarik memproduksi Bici untuk kegiatan bisnisnya. Melalui CV University Farm UMM, Bici diproduksi dalam kemasan 1 Kg seharga Rp 25 ribu dan dan 0,5 Kg seharga Rp 15 ribu. Produksi ini sementara ditargetkan untuk kelinci hias.

Direktur CV University Farm Machmudi mengatakan pengembangan produksi Bici terus dilakukan agar formulasi pakan ternak nonhijauan ini bisa dimanfaatkan oleh para peternak. CV University Farm saat ini sedang membangun mesin pengolah formulasi pakan ternak nonhijauan berbentuk pellet untuk kalangan peternak. ”Jika dibentuk dalam pellet, harganya jauh lebih murah dibandingkan dalam bentuk biskuit.” BIBIN BINTARIADI


Tempointeraktif

Minggu, 15 Agustus 2010

Unsoed Kembangkan Pengawet Alami untuk Gula Merah

TEMPO Interaktif, Purwokerto – Dosen Universitas Jenderal Soedirman menemukan formula pengawet alami untuk gula merah. Pengawet alami tersebut diyakini bisa meningkatkan kualitas gula merah.


“Selama ini hampir 90 persen perajin gula menggunakan pengawet sintetis yang berbahaya bagi kesehatan,” terang Karseno, Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Jumat (13/8).

Karseno mengatakan, petani menggunakan bahan pengawet sintetis yang mengandung sulfit dan natrium metabisulfit. Zat tersebut bersifat toksik dan karsinogenik atau merupakan stimulan kanker.

Di pasaran, zat tersebut mudah didapatkan dan dijual dalam merk obat gula Cap Gajah. Karseno mengatakan, obat pengawet tersebut bisa didapatkan dengan mudah oleh perajin gula dengan harga Rp 6 ribu per kilogram. “Selain berbahaya bagi kesehatan, sulfit juga menurunkan kualitas gula. Pasar ekspor pasti akan menolak,” imbuhnya.

Berdasarkan fakta tersebut, kata Karseno, ia melakukan penelitian untuk membuat bahan pengawet alami yang bahannya mudah didapatkan di sentra-sentra perajin gula merah. Bahan alami tersebut diantaranya, daun sirih, buah manggis, kayu nangka, pohon sulatri dan sampan. “Bahan tersebut dicampur dengan rendaman kapur dengan takaran tertentu,” katanya.

Dengan bahan alami tersebut, imbuh Karseno, gula yang dihasilkan warnanya lebih cerah. Selain itu, tekstur gula menjadi keras dan padat. “Rasa juga manis, dan baik untuk kesehatan dan vitalitas pria,” imbuhnya.

Ia mengatakan, gula merah tersebut bisa diekspor karena memiliki kadar air rendah yakni sekitar empat persen. Ke depan, ia dan timnya berencana mengembangkan bahan pengawet tersebut agar bisa digunakan oleh seluruh perajin gula di Banyumas.

Kerseno menyebutkan, Banyumas merupakan penghasil tersbesar gula merah di Jawa Tengah. Beberapa sentra penghasil gula merah di Banyumas diantaranya Cilongok, Somagede, Baturraden dan Pekuncen.

Camat Cilongok, Fatikhul Ikhsan menyambut baik temuan Unsoed tersebut. “Apalagi daun sirih banyak ditemukan di sini,” katanya.

Ikhsan mengatakan, di Cilongok terdapat 150 ribu pohon kelapa. Satu pohon kelapa dalam sehari rata-rata menghasilkan 3 kilogram gula merah.

Ikhsan mengatakan, meskipun Cilongok menjadi sentra gula merah, namun nasib penderes gula masih jauh dari sejahtera. Setidaknya ada 10 ribu petani penderes gula merah dari total 117 ribu penduduk Kecamatan Cilongok.ARIS ANDRIANTO


Tempointeraktif

Sabtu, 14 Agustus 2010

Operator Seluler Gaet Pertamina Amankan BBM

Pertamina akan menjamin penyediaan supply bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional BTS.

VIVAnews
- Untuk menjamin penyediaan supply bahan bakar minyak (BBM) dalam menunjang kegiatan operasional BTS milik perusahaan telekomunikasi di seluruh Indonesia, ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia) menandatangani kerja sama dengan PT Pertamina Persero.

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Ketua ATSI Sarwoto Atmosutarno dan Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina Persero Djaelani Soetopo tadi pagi di Kantor Pusat Telkomsel, Wisma Mulia, Jalan Jendral Gatot Subroto, Jakarta, Jumat 13 Agustus 2010.

"Melalui kemitraan ini, kami harapkan ketersediaan supply BBM yang dibutuhkan semua operator dalam menunjang kegiatan operasional sehari-hari akan terjamin, khususnya untuk mendukung tetap beroperasinya infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia," kata Sarwoto melalui keterangan resminya, hari ini.

"Dengan demikian, kami bisa meningkatkan kenyamanan pelanggan selular dalam menggunakan layanan telekomunikasi yang diwadahi oleh ATSI," tandas pria yang juga menjabat Direktur Utama Telkomsel itu.

Melalui kerja sama ini, ATSI sebagai wadah bagi semua operator telekomunikasi di Indonesia akan diberikan fasilitas untuk menggunakan sistem pembayaran terpusat melalui i-reserve system, sehingga memungkinkan semua operator untuk melakukan proses pemesanan, monitoring, dan pembayaran BBM secara lebih cepat, mudah, dan dengan harga industri yang lebih pasti.

Menurut laporan terakhirnya, ATSI mencatat jumlah pengguna selular di Indonesia telah menyentuh 180 juta nomor. Sekitar 95 persen di antaranya adalah pelanggan prabayar.

"Untuk mengantarkan layanan berkualitas hingga ke daerah-daerah terpencil, tentu saja para operator memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya pemenuhan kebutuhan supply BBM pada tiap perusahaan telekomunikasi," pungkas Sarwoto. (hs)


VIVAnews

Jumat, 13 Agustus 2010

2010, XL Target Jakarta 'Dibungkus' Full IP

Menuju LTE, perseroan mulai meninggalkan TDM ke arah Internet Protocol (IP)

VIVAnews
- Mengembangkan implementasi teknologi baru LTE (Long Term Evolution) di Indonesia, PT XL Axiata Tbk (XL) mematok target implementasi jaringan backhaul full IP dapat rampung tahun ini.

"Kami (XL) memang lebih melihat potensi LTE di Indonesia. Dari 'keluarga' GSM rata-rata roadmap-nya ke arah sana," ujar Robert Dedy Purwanto, Vice President Network Operation and Quality XL, saat dikonfirmasi VIVAnews, Jakarta, Jumat, 13 Agustus 2010.

Sejauh ini, lanjut dia, perusahaan masih mempersiapkan akses. Elemen terpenting adalah kesiapan backhaul. "Untuk merealisasikan implementasi teknologi LTE, jaringan harus berbasis full Internet Protocol (IP)," terang Robert.

"Untuk semua itu, kocek investasinya sudah turun tahun ini. Target kami Jakarta sudah di-cover full IP hingga akhir tahun," tandasnya.

Sebagian besar backhaul XL saat ini masih menggunakan TDM (Time-Division Multiplexing), yakni suatu jenis sinyal digital di mana terdapat dua atau lebih saluran yang sama diperoleh dari spektrum frekuensi, yaitu arus bit.

"Rata-rata masing menggunakan frekuensi radio sampai 1Mbps, sementara kalau IP, transmit datanya bisa besar sekali karena virtual," kata Robert yang tidak menjelaskan secara detail perbandingannya.

Di segi perangkat, XL menggandeng Ericsson dan Huawei. Terkait waktu komersialnya, Robert tak bisa menjamin kapan. "Sementara kita rapikan dulu infrastruktur dan software-nya. Kalau komersial, biasanya kita setahun lebih lambat dari Eropa. Tergantung regulasi juga," ujar Robert.

Untuk uji coba LTE yang dilakukan April silam, Robert mengaku hasilnya cukup memuaskan. "Semua berjalan lancar. Izin trial pun oke. Jaringan stabil, bisa jadi karena belum ada trafik. Waktu itu, kita ingin buktikan apa yang dijanjikan para vendor," pungkas Robert.

Sebagai informasi, LTE disebut juga sebagai evolusi teknologi komunikasi selular menuju jaringan broadband (pita lebar) IP secara menyeluruh (end-to-end).

LTE merupakan pengembangan dari teknologi 3G yang pada awalnya dari 3GPP 1, dikenal dengan nama R-8 (Release-8), yang lebih difokuskan ke arah kecepatan transfer data yang lebih tinggi ketimbang 3.5G. Kabarnya, maksimum kecepatan data transfer yang ditawarkan mencapai 100 Mbps (downlink).


VIVAnews

Kamis, 12 Agustus 2010

Indonesia Siap Kerja Sama Produksi Pesawat Tempur

TEMPO Interaktif, Jakarta -Kementerian Pertahanan menyatakan Indonesia siap melakukan kerja sama produksi pesawat tempur dengan pihak Korea Selatan. Hal itu dinyatakan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Tae Young seusai melakukan pertemuan bilateral di Jakarta, Rabu (11/8).

Kerjasama pesawat tempur ini, kata Purnomo, merupakan perjanjian yang ditandatangani pada Juli 2010. Menyambung perjanjian sebelumnya yang diteken 2006. "Kemitraan strategis memang jadi salah satu fokusnya," ujarnya.

Purnomo mengatakan proyek kerjasama dalam pembuatan pesawat tempur FSX akan dimulai pada 2012. Diharapkan, kata dia, proyek kedua negara ini bisa menghasilkan sebuah prototipe pesawat tempur pada tahun 2020. "Kami berharap Indonesia bisa menjadi base produksinya," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Samsoeddin mengatakan Indonesia akan meminta hak penjualan juga atas pesawat yang di produksi nantinya. Saat ini, kata dia, kedua negara saedang membentuk kelompok kerja untuk terus membahas soal ini. "Ada tim pula yang pergi ke sana melihat awal proses pembuatan pesawat," ujarnya.

Sjafrie mengatakan dalam deklarasi kemitraan strategis antara Indonesia dengan Korea Selatan pada tahun 2006 silam disebut khusus soal pembuatan pesawat. Selain itu kerjasama dibangun untuk melakukan promosi bersama, fasilitasi kerja sama dalam produksi, alih teknologi, serta transfer pengetahuan terkait alat utama sistem persenjataan.

Menanggapi permintaan kerja sama ini, Menteri Pertahanan Korea Selatan HE Kim Tae Young mengatakan sungguh menguntungkan bisa bekerja sama dengan Indonesia dalam hal pembuatan pesawar tempur. Pasalnya, semua bahan baku dan industri pertahanan sudah dimiliki Indonesia, sehingga bisa memperlancar kerjasama pembuatan produk pertahanan ini.SANDY INDRA PRATAMA


Tempointeraktif

Rabu, 11 Agustus 2010

Karya Peneliti ITS Tak Tergarap Optimal

SURABAYA – Pekerjaan besar menunggu Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dari 60 karya yang sudah dipatenkan, baru sebagian kecil saja karya yang bisa diproduksi massal dan berguna bagi masyarakat.

Ketua Pusat Bisnis dan Teknologi dan Industri Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) ITS Nyoman Pujawan mengakui banyak karya ITS yang telah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), namun kini belum diproduksi secara massal. Hal itu terjadi karena peneliti tidak memiliki kemampuan memasarkan. Selain itu, butuh biaya yang tidak sedikit untuk memproduksi massal.

”Kami kan tidak punya unit usaha. Kemudian, waktu dan tenaga untuk pemasaran juga tidak ada. Ini yang membuat banyak hasil penelitian kami ”diam” di kampus saja,” ungkap Nyoman di sela-sela acara Forum Peneliti Industri di Ruang Rektorat ITS, Kamis 5 Agustus.

Pria asal Bali ini menambahkan, keberadaan peneliti industri di ITS sebenarnya bertujuan untuk mempertemukan antara teori dan hasil-hasil kajian kampus dengan pelaku industri. Setidaknya, ada lebih dari 20 pelaku industri dalam kegiatan yang baru pertama kali digelar kampus yang berada kawasan Surabaya Timur ini. Diharapkan, dari pertemuan ini ada pelaku industri yang tertarik untuk memproduksi hasil karya dari para peneliti ITS.

Sedikitnya ada sembilan karya dari ITS yang ditawarkan pada pelaku industri. Karya itu antara lain kapal trimaran, filter air, sepeda fleksibel, dan diagnosis penyakit. ”Nah, kami punya alat dan orang lain yang memproduksi,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Unit HAKI LPPM ITS Didik Prasetyoko memaparkan, tahun ini ITS menargetkan tujuh karya dari peneliti ITS terdaftar di HAKI. Namun, sejauh ini baru empat karya yang mengantongi hak paten. ”Saat ini sudah ada tujuh karya yang tersertifikasi,” tuturnya.

Salah satu jenis karya yang dipatenkan adalah Kapal Trimaran Bersirip. Kapal ini menggunakan alat disebut sirip yang dipasangkan pada bagian depan dari haluan kapal jenis trimaran. Fungsi sirip ini untuk membuat gaya angkat sehingga dengan sendirinya, badan kapal bagian depan akan terangkat ke atas. Ini terjadi apabila kapal tersebut diberi gaya dorong pada kecepatan tertentu. Dengan terangkatnya kapal ini, tahanan akan semakin kecil. Dampaknya, dengan kecepatan tertentu akan ditempuh jarak yang lebih jauh dibandingkan kapal yang tidak terangkat. Karya Paulus Indiyono, Jurusan Teknik Kelautan Fakultas Teknologi Kelautan ITS ini mengantongi hak paten sejak Desember 2006 dengan nomor paten: P00200700040.
(Lukman Hakim/Koran SI/rhs)


Okezone

Selasa, 10 Agustus 2010

TEKNOLOGI MIKROBIOLOGI : Aktinomisetes untuk Antibiotik

Sejumput tanah dan serasah dari 13 lokasi kebun raya di sejumlah provinsi di Indonesia ditelisik para ahli mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Alhasil, salah satu bioprospeksi diperoleh berupa bakteri aktinomisetes lokal yang bisa memperbarui kualitas obat antibiotik.

Setahu saya, produksi antibiotik kita masih dari lisensi negara-negara lain. Kita perlu mengembangkan produksi antibiotik dengan aktinomisetes lokal,” ungkap Kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan pada Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Puspita Lisdiyanti.

Di bidang farmasi, tidak mustahil dijumpai antibiotik yang sudah tidak manjur lagi bagi pasien tertentu. Antibiotik tidak lagi bekerja dengan efektif karena kuman yang seharusnya dilumpuhkan ternyata memiliki resistensi atau ketahanan terhadap obat tersebut.

Dosis antibiotik selalu dianjurkan untuk dihabiskan. Jika tidak, bisa menimbulkan resistensi kuman. Terjadinya daya tahan kuman yang meningkat masih berpeluang besar karena kepatuhan menghabiskan antibiotik bagi pasien tidak bisa dijamin 100 persen.

”Di situlah letak pentingnya pengembangan antibiotik terus dijalankan,” kata Puspita.

Dari hasil temuan aktinomisetes lokal, menurut Puspita, sampai sekarang memang belum diaplikasikan secara komersial untuk mendapatkan jenis obat antibiotik mutakhir. Alasannya klasik, karena investor atau pemilik industri farmasi dalam negeri belum ada yang tertarik.

Aktinomisetes Bedugul

Puspita meneliti bioprospeksi aktinomisetes sejak 2003. Ia bekerja sama dengan peneliti lainnya dari LIPI; Institut Pertanian Bogor; Departemen Pertanian; dan National Institute of Technology and Evaluation (NITE), Jepang.

Aktinomisetes dari 18 sampel tanah dan 20 sampel serasah yang dipungut dari Kebun Raya Eka Karya, Bedugul, memiliki penanganan yang paling maju.

Sebanyak 38 sampel tersebut diambil dari area Kebun Raya Bedugul yang memiliki luas 159 hektar di ketinggian 1.250 meter hingga 1.400 meter. Sejumlah bakteri aktinomisetes berhasil diisolasi.

Pertama kali mengisolasi, diperoleh sebanyak 409 isolat aktinomisetes. Metode yang digunakan yaitu Sodium Dodecyl Sulfat-Yeast Extract (SDS-YE) dan Rehydration and Centrifugation (RC).

Pengisolasian aktinomisetes dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Industri, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, di Cibinong, Jawa Barat. Sebanyak 409 isolat aktinomisetes kemudian diseleksi berdasarkan penampakan morfologi yang berbeda.

Diperoleh sebanyak 242 isolat aktinomisetes terseleksi menggunakan mikroskop cahaya. Pada tahun 2004, sebanyak 242 isolat terseleksi itu dikirimkan ke NITE, Jepang, untuk penelitian identifikasi molekuler.

Pada 2004 itu, LIPI dan NITE mengembangkan program kerja sama Taxonomic and Ecological Study of Actinomycetes from Indonesia. Ini hasil nota kesepahaman yang dijalin antara Kementerian Negara Riset dan Teknologi Indonesia dengan NITE, Jepang, dalam kerangka program Sustainable Use of Microbial Resources.

Relokasi 242 isolat aktinomisetes ke Jepang ketika itu mengalami kontaminasi sehingga ada beberapa yang rusak dan yang tertinggal hanya 229 isolat.

Spesies baru

Hasil penelitian berikutnya mengenai taksonomi isolat aktinomisetes dari Bedugul. Kemudian diperoleh spesies baru, yaitu Streptomyces baliensis dan Actinokineospora baliensis.

”Pengiriman isolat aktinomisetes ini legal, bukan biopiracy (pembajakan material biologi),” kata Puspita.

Jepang diwajibkan membayar sewa isolat mikroorganisme tersebut sebesar 1.000 yen (satu yen berkisar Rp 100) per tahun untuk satu isolat. Puspita mengakui, ini memang murah. Namun, masih ada benefit sharing (pembagian manfaat) lain, seperti peningkatan kapasitas ilmuwan kita, khususnya di bidang teknologi mikrobiologi. ”Peningkatan kapasitas ini yang sulit diukur secara ekonomi,” kata Puspita.

Peningkatan kapasitas para ilmuwan teknologi mikrobiologi untuk mendapatkan aktinomisetes lokal memang mahal. Hanya saja aplikasinya masih selalu dinanti.


LIPI

Senin, 09 Agustus 2010

BTEL Luncurkan Hape Esia Hidayah Baru

Melalui ponsel ini orang tua bisa mengetahui akivitas ibadah anaknya dari jauh.

VIVAnews - Bersamaan dengan momentum awal bulan Ramadan, hari ini Bakrie Telecom meluncurkan tiga ponsel spesial bagi umat Islam yang termasuk dalam jajaran Hape Esia Hidayah.

Tiga ponsel tersebut membawa beberapa pembaruan terhadap jajaran Esia Hidayah terdahulu, karena ketiganya bisa saling terhubung melalui berbagai aplikasi yang diperlukan oleh keluarga muslim.

Tiga ponsel baru ini tersebut adalah Esia Hidayah Amanah yang ditujukan bagi orang tua, Esia Hidayah Sholeh, dan Esia Hidayah Sholeh QWERTY, yang keduanya ditujukan bagi anak.

Menurut Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom Erik Meijer, seri terbaru dari Hape Esia Hidayah ini diharapkan akan makin memperkuat ikatan kekeluargaan antara orangtua dan anak.

"Seri terbaru Esia Hidayah ini bentuknya lebih bagus, teknologinya lebih canggih, dan harganya juga lebih terjangkau," kata Erik di acara peluncuran ponsel ini, di Masjid Agung Al Azhar Jakarta Selatan, Senin 9 Agustus 2010.

Tak hanya dilengkapi dengan pengingat waktu salat atau aplikasi Al-Quran, dengan ponsel-ponsel ini, orang tua bisa mengecek amalan ibadah harian anaknya, seperti sholat 5 waktu, doa sehari-hari, dzikir harian, dan lain-lain.

Menurut Executive Vice President Sales BTEL Irfandi Firmansyah, orangtua yang menggunakan ponsel Esia Hidayah Amanah, dari jauh bisa mengecek apakah anaknya sudah sholat atau belum. Syaratnya, melalui Hape Esia Hidayah Sholeh atau Hape Esia Hidayah Sholeh QWERTY, sang anak harus mengisi tanda centang di kolom salat.

Dengan cara yang sama, orangtua juga bisa mengecek apakah anaknya sudah belajar, mengerjakan PR, dan melakukan kegiatan-kegiatan laininya. Selain itu, Esia Hidayah Sholeh juga menyediakan aplikasi Dunia Bermain dan Belajar yang berisi materi pelajaran agama dan ilmu pengetahuan yang bisa dipelajari sambil bermain.

”Ada nilai-nilai kekeluargaan antara anak dan orangtua. Sementara orangtua juga bisa membimbing dan memonitor aktivitas salat dan pelajaran anak meskipun ditampilkan dengan cara yang lemah lembut sambil bermain,” Erik menjelaskan.

Ketiga ponsel bisa diperoleh dengan harga sekitar Rp 1 juta. Hape Esia Hidayah Amanah dibanderol seharga Rp 500 ribu, Hape Esia Hidayah Sholeh QWERTY Rp 300 ribu, dan Esia Hidayah Sholeh senilai Rp 200 ribu. (adi)


VIVAnews

Minggu, 08 Agustus 2010

Pemanfaatan Lumpur Lapindo sebagai Bahan Baku Porselin

Industri kerajinan keramik di Bali memiliki potensi yang sangat kuat karena berakar pada budaya masyarakatnya. Potensi tersebut dilirik oleh Pemerintah dengan mendirikan Pusat Penelitian dan Pengembangan Seni Keramik dan Porselin (P3SKP) di bali pada tahun 1982 dengan tujuan melestarikan seni budaya dan peningkatan mutu kualitas keramik dengan memberikan nilai tambah teknologi. Di tahun 1995, P3SKP kemudian berubah status menjadi Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Seni dan Teknologi Keramik dan Porselin (UPT-PSTKP) di bawah koordinasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

“UPT PSTKP merupakan suatu unit kerja yang sangat unik karena mampu memadukan antara unsur teknologi dan seni. Perpaduan yang unik ini membawa manfaat besar bagi industri keramik, baik yang ada di Bali maupun industri keramik nasional”, ujar Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material (TIEM), Unggul Priyanto saat menerima Tim Kunjungan Kerja (Kunker) Komisi VII DPR RI yang dipimpin oleh Effendi M.S. Simbolon ke UPT PSTKP BPPT di Bali, 2 Agustus 2010.

Dalam presentasinya, Kepala UPT PSTKP Bali I GA. Suradharmika menyebutkan bahwa sejak berdiri tahun 1982, UPT PSTKP Bali telah melakukan berbagai penelitian di bidang massa raga dan glasir untuk pengembangan keramik. “Penelitian difokuskan pada pencarian komposisi massa raga yang cocok untuk membuat benda keramik dengan basis tanah lempung tertentu. Sampai saat ini telah didapat beberapa komposisi dengan berbasis tanah Kalimantan, Lombok dan Bali” Ujar Suradharmika.

Di bidang glasir dan pewarna, penelitian difokuskan pada pencarian komposisi berbagai warna glasir. “Untuk pengembangan desain dan dekorasi keramik, yang terbaru adalah kami telah mengembangkan sistem knock down dan double wall. Untuk sistem knock down, seperti patung garuda Bali, jadi sayapnya dapat dilepas pasang. Sementara untuk sistem double wall, dengan adanya dua dinding maka dinding luar dapat diukir tembus sementara dinding dalam dapat diisi misalnya untuk tempat air”, jelas Suradharmika.

Lebih lanjut Suradharmika mengungkapkan bahwa pengembangan ke depannya, UPT PSTKP Bali akan mengembangkan teknologi porselin, karena teknologi porselin dapat dimanfaatkan untuk seni juga untuk keramik maju. UPT PSTKP juga telah mengembangkan lumpur lapindo sebagai bahan baku porselin karena sumbernya melimpah, harganya yang murah dan sifatnya yang bagus sebagai bahan pengikat. Pemanfaatan lumpur lapindo bisa digunakan untuk glatsir, gerabah konvensional, stoneware warna, bata dan genteng konvensional, bata dan genteng geopolimer, gerabah geopolimer dan paving.

Menurut data yang didapat dari Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), setiap harinya lumpur dengan kandungan air tinggi yaitu 70-80% dibuang ke Sungai Porong hingga 72000 m3. “Dalam perhitungan yang kami lakukan, dengan harga lumpur kering sebesar Rp 25000/ton, maka setiap harinya telah dibuang bahan mentah keramik sebesar Rp 936.000.000-Rp 1.404.000.000/hari. Disini kami melihat adanya peluang yang bisa ditangkap oleh perajin-perajin keramik untuk menjadikan lumpur sebagai bahan baku”, terang Suradharmika.

Salah satu anggota tim kunker, Rahmat Hidayat mengungkapkan ketertarikannya terhadap pengembangan lumpur lapindo yang dilakukan UPT PSTKP. “Kalau memang sudah jelas manfaatnya untuk apa saja, daripada terbuang percuma sebaiknya segera dipublikasikan dan disosialisasikan mengenai pemanfaatan lumpur tersebut” Ujar Rahmat.

Senada dengan Rahmat, anggota tim lain Halim Kalla, mengatakan bahwa dengan teknologi yang telah dikembangkan UPT PSTKP, tentunya dapat mencegah terbuangnya lumpur lapindo secara percuma. “Kalau bisa lumpur lapindo yang sudah dijadikan batu bata dibangun menjadi sebuah rumah, misalnya untuk membangun rumah bagi korban lumpur Sidoarjo itu. Tentu saja kami dari Komisi VII siap untuk mendukung terealisasikannya hal tersebut”.

Berkaitan dengan peningkatan nilai tambah dalam seni keramik, anggota tim kunker Samsul Bachri dan Alimin Abdullah menekankan perlunya pengembangan keahlian dari para perajin keramik Indonesia, disinilah UPT PSTKP berperan melalui pembinaan perajin keramik di berbagai daerah tidak hanya di Bali. UPT PSTKP harus berperan sebagai center of excellent bagi industri-industri keramik di Indonesia. “Tolong sampaikan rekomendasi kepada kami, Komisi VII DPR, apa yang bisa kami dukung agar kerajinan keramik Indonesia dapat lebih berkembang dan dapat bersaing dengan keramik dari negara lain”.

“Selama ini, program pembinaan yang dilakukan oleh UPT PSTKP telah dilakukan di berbagai daerah seperti Pejaten, Lombok dan Banten. Di setiap daerah yang kami bina, kami berusaha mengembangkan seni dan budaya daerah setempat dengan menerapkan kekhasan daerah setempat pada seni keramik yang dihasilkan. Tujuannya adalah agar setiap daerah memiliki keramik dengan ciri khas yang berbeda sehingga dapat sama-sama bersaing dengan produk luar negeri. Bahkan salah satu perajin binaan kami dari Pejaten berhasil mendapatkan penghargaan dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dengan teknik knock down nya”, tegas Suradharmika. (roren/humasristek)


Ristek

Sabtu, 07 Agustus 2010

Triple Helix Conference IX, 2012: Dunia Amati SINAS Indonesia

Istilah "inovasi" bagi negara maju dan berkembang telah menjadi kata kunci pembangunan. Penilaian empirik di berbagai laporan menunjukkan bahwa semangat kolaboratif di dalam proses inovasi akan menjaga nilai daya kompetisi dan keberlanjutan pembangunan bagi setiap elemen yang terlibat di dalamnya. Itulah sebabnya, suatu sistem inovasi nasional kian popular ditemui dalam pelbagai konsep kebijakan publik di sebagian besar negara di dunia.

"The Triple Helix Conference (THC)" adalah suatu ajang dua tahunan, di mana pengamat kebijakan publik dan kalangan praktisi dari seluruh dunia membahas mengenai dinamika relasi inovasi di antara kalangan pengembang iptek, industri, dan pemerintah. Ketiga elemen yang biasa disebut ABG (Academician, Business, Government) ini, memang memiliki keterkaitan integral inovasi, untuk mampu mentransformasikan masyarakat menuju tingkat kesejahteraan yang lebih baik.


THC IX, 2012-Bandung

Berlangsung sejak tahun 1996, THC telah mengalami berbagai peningkatan ketajaman tema, dengan makin menyelaraskan teori dan praktik untuk dibahas di acara tersebut. Perbaikan ini menyebabkan di tiap giliran penyelenggaraannya, THC berupaya mendekatkan pengamatan terhadap pelbagai proses inovasi di dalam sistem ABG, sesuai dengan kondisi masyarakat.

Untuk tahun 2010 ini, THC VIII, akan berlangsung di Madrid, Spanyol pada bulan Oktober dengan mengambil tema berkisar "taman iptek", sebutan untuk area komersialisasi iptek (lihat www.triplehelix8.org). Seiring dengan upaya Indonesia dalam pengutan Sistem Inovasi Nasional, maka penyelenggaraan THC IX tahun 2012 direncanakan akan dilaksanakan di Indonesia.

Untuk penyelenggaraan THC IX, Kementerian Riset dan Teknologi akan bekerjasama dengan Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM-ITB) untuk menggelar ajang tersebut di Kampus ITB. Persiapan pelaksanaan THC IX tersebut sudah mulai dilaksanakan sekarang.

Bersiap Sejak Sekarang

Pada tanggal 30 Juli 2010 lalu telah dilaksanakan rapat koordinasi antara tim dari Asdep Jaringan Iptek Internasional Kementerian Riset dan Teknologi dengan perwakilan dari Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, yaitu Prof. Togar Simatupang. Rapat tersebut membahas berbagai topik seputar Sistem Inovasi Nasional/Sinas, Indonesia yang akan dikembangkan sebagai bagian utama topik utama di dalam THC IX kelak (dokumentasi di samping).

Tim panitia THC IX akan melakukan berbagai langkah, termasuk pada kegiatan sosialisasi berbasis internet. Dalam waktu dekat, panitia akan menggulirkan sebuah situs yang akan menghela dukungan berbagai kalangan dalam dan luar negeri. Acara THC IX Bandung ini ditargetkan akan dihadiri oleh sedikitnya 400 peserta, dan puluhan pembicara dari berbagai belahan dunia.

Diharapkan, ajang THC IX ini akan menjadi promosi Indonesia kepada dunia internasional bahwa elemen pemerintah, bisnis, dan akademisi/peneliti dapat bersinergi untuk membangun daya saing bangsa Indonesia. (ad-jii/humasristek)


Ristek

Jumat, 06 Agustus 2010

Sistem Peringatan Dini Longsor

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Asdep urusan Iptek Pemerintah mengenai Iptek kebencanaan 2010 terkait pendayagunaan teknologi peringatan dini telah diadakan rapat koordinasi dengan manghadirkan salah satu narasumber dari UGM yang juga salah satu anggota dari Internasional Consorsium on Landslide, yaitu Prof. Dr. Dwikorita Karnawati.

Dalam pemaparannya Prof. Dr. Dwikorita Karnawati memperkenalkan Strategy for Landslide Disaster Risk Reduction diantaranya: Scale of problem vs scale of research, Strategic road map of Research & Tech dev., Strategic collaborative research for sharing of actions, Multi discipline approach serta mengkatagorikan masalah longsor dalam beberapa skala yaitu : global, Nasional, Regional, Local. Selain itu juga menjelaskan tentang peta rawan bencana dengan berbagai skala dan juga peta desa yang sangat berguna bagi desa itu sendiri dalam menghadapi bencana.

Pada ksempatan itu juga Prof. Dr. Dwikorita Karnawati memperkenalkan alat pendeteksi dini longsor dengan menggunakan extensometer yang di buat oleh LPPM UGM yang telah dipasang di beberapa daerah di Indonesia yang berpotensi longsor, juga menekankan pentingnya di bentuk forum siaga bencana di dusun atau di desa yang berfungsi untuk mengoperasionalkan alat tersebut serta memberikan sosialisasi kepada masyarakat setempat. Status alat tersebut sampai saat ini telah di daftarkan patennya di ditjen HKI. (H/ADIP)


Ristek

Kamis, 05 Agustus 2010

Bersatunya Dua Kekuatan Asia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Indonesia dan China, dua kekuatan besar Asia bersinergi dalam menyamakan persepsi dan keinginan untuk menyatukan kekuatan dalam pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Menjelang peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke-15, Indonesia dan China memperingati 60 tahun hubungan bilateral dan 26 tahun kerjasama di bidang Iptek. Tahun 2010 pun telah dideklarasikan oleh pemimpin kedua negara sebagai “Years of Friendship and Cooperation between Indonesia and China”.

Untuk menandai keharmonisan kedua negara dalam kerjasama Iptek bilateral, Pemerintah China memberikan hibah 50 unit notebook Lenovo kepada Kementerian Riset dan Teknologi, yang diserahkan secara simbolis oleh Duta Besar China, Madame HE Zhang Qiyue kepada Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata di Ruang VIP, Gedung II BPPT pada Rabu, 4 Agustus 2010.

Dalam sambutannya, Menristek membagi informasi kepada Delegasi China akan arahan Presiden SBY pada Januari 2010, yang terkait dengan pemantapan Sistem Inovasi Nasional (SINas). Menristek menekankan SINas harus menjadi landasan pembangunan bangsa Indonesia dan Iptek sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bangsa. Menanggapi hal tersebut, Dubes China mengajak Indonesia berbagi pengalaman dalam mengembangkan Sistem Inovasi Nasional. “Currently, my government as well as your government are committed to build the National Innovation System. So we are also willing to share experience in this regards with Indonesian side” Ujar Zhang Qiyue.

Zhang Qiyue lebih lanjut menghargai usaha Pemerintah Indonesia untuk menjaga hubungan bilateral Indonesia China dan menyuarakan pengharapan yang besar dalam menjaga dan menata hubungan tersebut dimasa yang akan datang. Beliau menginformasikan bahwa donasi Notebook kepada Kementerian Ristek merupakan simbolisme dari apresiasi yang mendalam dari Pemerintah China. Diyakini, dengan pesatnya pembangunan ekonomi dan Iptek di China, kedua Negara dapat menyamakan persepsi dalam penentuan kerjasama sinergis yang akan menguntungkan tidak hanya bagi kedua Negara, melainkan untuk seluruh dunia.

Pada kesempatan tersebut, dilakukan pula penandatanganan ringkasan kesepakatan kerjasama Iptek untuk tahun 2011-2012 antara Deputi Jaringan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; Syamsa Ardisasmita dengan Xu Deputi Direktur Jenderal, Departemen Kerjasama Internasional, Kementerian Iptek China; Xu Chaoqian. Kesepakatan tersebut adalah hasil persidangan Tim Komite Iptek Indonesia – China di Jogjakarta pada tanggal 2-3 Agustus 2010, dimana telah dihasilkan 10 kesepakatan kerjasama bilateral, antara lain dalam bidang (i) pengembangan obat herbal untuk mereduksi penyakit kanker dan keturunan (BPPT); (ii) sel punca; (iii) sistem kogenerasi energi nuklir (BATAN); (iv) kultivar padi tahan stres kekeringan melalui transkripsi gen (LIPI); (v) konsorsium mikroba untuk tanaman pangan dari lahan gambut (BPPT) ; (vi) insektisida botani IPB; (vii) introduksi dan evaluasi plasma nutfah (KEMTAN); (viii) Jatropha Curcas – spesies tanaman potensial untuk Biodiesel; (ix) perbandingan perlakukan pengobatan tradisional dan modern sebagai treatment Hipertensi; (x) pertukaran plasma nutfah kentang manis untuk penggunaan khusus (KEMTAN). Selain 10 bidang kerjasama tersebut, Komite juga menyepakati untuk menyelenggarakan 'Konferensi dan Pameran Iptek Indonesia - China' pada tahun 2011 di Indonesia, guna menginformasikan kemajuan litbang bersama Indonesia-China dalam bidang Iptek. Di samping itu, Komite Indonesia-China menyetujui untuk melibatkan peneliti-peneliti muda di Indonesia dalam mengimplementasikan program kerjasama bilateral.

Acara tersebut disaksikan oleh beberapa Tim Pengarah Indonesia (Amin Soebandrio, Rifatul Widjhati), Kepala BPPT Marzan Iskandar, Ketua DRN Andrianto Handojo, para Deputi dan Staf Khusus Menristek. (ad-jii/humasristek)


Ristek

Rabu, 04 Agustus 2010

TNI AL Ujicoba Pelumas Kapal Perang Buatan Dalam Negeri

JAKARTA (Pos Kota) – TNI Angkatan Laut telah memiliki beberapa kapal perang baru berteknologi canggih, diantaranya dari jenis korvet kelas Sigma buatan Belanda atau kapal perang kelas KRI Diponegoro-365. Untuk meningkatkan perawatan sejumlah kapal perang tersebut, TNI Angkatan Laut akan melaksanakan uji coba dan penelitian penggantian minyak pelumas pada motor pokok kapal perang yang berteknologi siluman ini dari produksi impor menjadi produk dalam negeri.

Untuk melaksanakan ujicoba dan penelitian minyak pelumas motor pokok kapal perang kelas KRI Diponegoro-365 ini, TNI Angkatan Laut bekerja sama dengan PT. Pertamina (Persero) yang diwujudkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama yang ditandatangani Kepala Dinas Material Angkatan Laut (Kadismatal) Laksamana Pertama TNI Ir. Rachmad Lubis dengan Direktur Utama Vice Presiden Unit Pelumas PT. Pertamina (Persero), Supriyanto di Mabes TNI AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (3/8).

Menurut Kadismatal bahwa lingkup kerja sama dalam Perjanjian Kerja Sama ini mencakup dimensi yang cukup luas, diantaranya adalah uji coba dan penelitian pelumas pokok KRI Kelas Diponegoro milik TNI Angkatan Laut.

TNI Angkatan Laut memahami bahwa emban tugas, baik pada aspek penegakan kedaulatan dan keamanan di laut, maupun dalam menunjang pembangunan nasional senantiasa terkait erat dengan komponen-komponen bangsa yang lain dalam tatanan sistem nasional. Menyadari hal ini, TNI AL berupaya mencari terobosan baru, antara lain mengembangkan pola kerja sama dan koordinasi dengan berbagai komponen bangsa, baik dari institusi pemerintah maupun swasta yang pencapaiannya diarahkan untuk tujuan dan kepentingan nasional secara menyeluruh serta implementasinya dirumuskan dalam batas-batas yang proporsional dan profesional, ujar Laksma TNI Ir. Rachmad Lubis.

“Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah kerja sama dalam pertukaran data dan informasi yang diperlukan kedua belah pihak, dengan tetap memperhatikan faktor-faktor kerahasiaan dan kepentingan negara,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Kadismatal bahwa faktor kemudahan dalam proses pembekalan, memutuskan ketergantungan terhadap produk luar negeri, sekaligus meningkatkan penggunaan produk dalam negeri. Efisiensi anggaran juga merupakan hal yang menjadi perhatian. Sebelumnya, KRI kelas Diponegoro-365 menggunakan minyak pelumas jenis Shell Sirius X40 yang merupakan produk dari luar negeri (Shell). “Kita akan melaksanakan uji coba dan penelitian terhadap KRI Diponegoro menggunakan produk dalam negeri yaitu Salyx 415. Perjanjian uji coba ini berlaku sejak ditandatanganinya sampai dengan waktu berakhirnya Market Test selama seribu jam putar motor pokok atau sampai satu tahun, mana yang dicapai terlebih dahulu,” jelasnya.

Dalam jangka waktu tersebut, TNI AL akan menyediakan sarana atau fasilitas yang diperlukan untuk pelaksanaan uji coba, sedangkan pihak Pertamina yang akan melaksanakan uji coba dengan menyediakan pelumas untuk kebutuhan operasional KRI dan bertanggung jawab apabila terjadi kerusakan teknis pada mesin yang digunakan pada market test. (dispenal/syamsir)


PosKota

Selasa, 03 Agustus 2010

LAPAN Bikin Satelit Mikro Bersama Jepang

RX 320, Roket Lapan bergaris-tengah 320 mm mulai meluncur dalam uji peluncuran di Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, Rabu (2/7). (photo : Ninok Leksono)

JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) terlibat dalam pembuatan dua satelit, Micro-STAR dan EO-STAR, yang didanai Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA).

Rancang bangun dan rekayasa dua satelit tersebut merupakan bagian dari kerja sama multilateral Asia Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF) yang bertujuan mengembangkan satelit di kawasan Asia Pasifik atau Satellite Technology for the Asia Pacific Region (STAR). Program ini melibatkan lembaga antariksa dari Malaysia, Thailand, Vietnam, Korea, dan India.

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Teknologi Elektronika Dirgantara Lapan Toto Marnanto Kadri dalam Pertemuan Grup untuk Koordinasi Program STAR di Jakarta, Rabu (28/7/2010).

Satelit mikro berbobot 50 kg hingga 100 kg ini akan diluncurkan tahun 2013 diboncengkan pada satelit besar dengan roket India. Satelit Micro-STAR akan membawa muatan antara lain alat GPS, sensor seismo, dan pengindraan jauh.

Sementara peluncuran satelit kembar Lapan A-2 dan Lapan A-3, hasil rancang bangun dan rekayasa ahli Lapan, dijadwalkan diluncurkan dengan roket India tahun depan. Program lanjutan dalam kerja sama STAR adalah pembuatan satelit berkategori kecil atau berbobot 300 kg-500 kg. (YUN)


KOMPAS

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More