blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label Inovasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inovasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Agustus 2026

BRIN Kembangkan Satelit Generasi 4

  Ditargetkan Meluncur 2027 BRIN Kembangkan Satelit Generasi 4, NEO-1. (BRIN))

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah berhasil meluncurkan tiga satelit nasional. Saat ini, Indonesia tengah mengembangkan satelit generasi ke empat yang ditargetkan meluncur tahun 2027.

Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Nur Salma Yusuf Hasanah, mengatakan satelit yang sedang dikembangkan itu adalah NEO-1.

Satelit ini akan melakukan observasi Bumi melalui penyediaan data citra satelit beresolusi tinggi dan menengah. Data tersebut akan dimanfaatkan untuk pemetaan wilayah, pemantauan pertanian dan kehutanan, pemantauan lingkungan, mitigasi bencana, dan pemantauan aktivitas kapal melalui sistem AIS (Automatic Identification System).

"Saat ini, satelit tersebut telah memasuki tahap pengujian dan integrasi. Satelit NEO-1 memiliki misi utama," ungkap Salma dikutip dari laman BRIN, Selasa (18/8/2026).

Pengembangan NEO-1 ini merupakan bagian dari upaya BRIN memperkuat kemandirian teknologi satelit nasional. Sebelumnya, BRIN telah meluncurkan satelit LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT, LAPAN-A2/LAPAN-ORARI, dan LAPAN-A3/LAPAN-IPB. Satelit-satelit ini memiliki misi yang berbeda.

 3 Generasi Satelit Indonesia

 1. Satelit LAPAN A-1

LAPAN-A1 merupakan satelit eksperimental generasi pertama yang telah beroperasi untuk observasi Bumi.

"LAPAN-A1 diluncurkan menggunakan roket Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV) C7 milik India pada 10 Januari 2007. Meski diperkirakan hanya beroperasi selama dua hingga tiga tahun, satelit tersebut hingga kini masih dapat menerima perintah dari operator, meskipun muatan kameranya sudah tidak berfungsi," ujar Salma dalam laman BRIN dikutip Selasa (18/8/2026).

 2. Satelit LAPAN A-2

Kemudian satelit LAPAN-A2 merupakan satelit eksperimental generasi kedua yang proses perancangannya sepenuhnya dilakukan di dalam negeri.

Satelit tersebut diluncurkan menggunakan roket PSLV 
C30 pada 28 September 2015 dan bertugas untuk observasi Bumi, mitigasi bencana, dan pemantauan kapal. 

 3. Satelit LAPAN A-3

Terakhir adalah LAPAN-A3 yang diluncurkan menggunakan roket PSLV C34 pada 22 Juni 2016.

Menurut Salma, LAPAN-A3 memiliki misi AIS serupa dengan LAPAN-A2, tetapi dengan cakupan data yang lebih luas.

Satelit ini dilengkapi kamera multispektral untuk memantau vegetasi, spacecam, dan magnetometer untuk memantau medan magnet Bumi. (nir/nah)

  💡  detik  

Jumat, 21 Agustus 2026

BRIN Siap Terbangkan Roket Dua Tingkat pada 2029 Mendatang

 ➶ Menggunakan roket RX-450Roket dua tingkat BRIN yang siap uji terbang pada 2029. (BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan inovasi unggulnya yakni roket dua tingkat. Roket ini ditargetkan akan uji terbang pada 2029 mendatang.

Selaras dengan rencana ini, Kepala BRIN Arif Satria menyebut persiapan telah dilakukan secara bertahap. BRIN telah membuat peta jalan terkait pengembangan roket ini.

Adapun pengembangan riset ini dibantu oleh Program Riset Invitasi Strategis (PRIS). PRIS adalah skema pendanaan bagi periset untuk yang tengah mengembangkan teknologi kunci.

"Kehadiran PRIS sangat membantu dan membuat teman-teman periset semakin bersemangat dalam menjalankan riset. Dukungan ini turut membuka ruang bagi periset untuk fokus pada pencapaian teknologi kunci. Salah satunya adalah pengembangan motor roket RX 450 yang menjadi bagian penting dalam peta jalan pengembangan roket dua tingkat," kata Arif dalam keterangannya dikutip dari laman BRIN, Kamis (20/8/2026).

 Desain Roket Akan Rampung pada 2026

Arif mengatakan teknologi kunci sudah mulai disiapkan seperti motor roket RX 450, sistem separasi, sistem kontrol, hingga telemetri. Persiapan ini pun dimatangkan lewat riset agar peta jalan solid dan realistis.

"Peta jalan tersebut disusun berdasarkan asumsi dan tingkat penguasaan teknologi pada saat itu. Setelah dilakukan evaluasi, setiap tahapan perlu dipastikan dapat dikuasai dengan baik, terutama dalam mendukung pencapaian dan perolehan data yang dibutuhkan," kata Arif.

Pada 2026, tim BRIN tengah merampungkan desain roket dua tingkat secara keseluruhan. Kemudian, dilanjutkan dengan review desain kritis roket dua tingkat, uji statis motor roket berperforma tinggi dan uji terbang sistem separasi pada 2027.

Tahapan akan berlanjut pada 2028 yakni dengan uji terbang roket tingkat pertama dan kedua secara terpisah. Menurut Arif, rencana ini merupakan bagian dari kemandirian teknologi roket nasional.

 BRIN Siapkan Bandar Antariksa

Selain roket, BRIN juga tengah mengembangkan pembangunan Bandar Antariksa. Kini BRIN sudah bermitra dengan investor untuk mensukseskannya.

Sejauh ini, rencana tersebut memasuki tahap konsolidasi pihak BRIN dan mitra. Tahun ini BRIN menargetkan desain Bandar Antariksa rampung.

Pembangunan Bandar Antariksa ini menurut Arif perlu kehati-hatian dan waktu. Setelah itu dilanjutkan dengan pembangunan fasilitas dasar pada tahun berikutnya. (cyu/cyu)

    detik  

Sabtu, 15 Agustus 2026

Kemampuan Multi-Mission Kamikaze Unmanned Surface Vehicle (USV)PT PAL Indonesia

 Membangun kemampuan teknologi di dalam negeri USV Kamikaze PT PAL Indonesia tampil perdana dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8) (Corcomm PAL)

Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze buatan PT PAL Indonesia tidak hanya dirancang untuk menjalankan misi serang dengan menghantam sasaran secara langsung. Disamping itu, kapal permukaan tanpa awak dengan kecepatan hingga 55 knot ini, memiliki kemampuan Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR).

Seperti diberitakan sebelumnya, USV Kamikaze buatan PT PAL Indonesia berhasil menjalankan misi serang dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8). Dalam skenario swarm formation, USV dengan hulu ledak 150 kilogram itu berhasil menghantam sasaran.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan industri pertahanan nasional dalam mengembangkan produk inovatif untuk mendukung penguatan alat utama sistem senjata (Aalutsista) TNI Angkatan Laut.

Menurut dia, pengembangan USV tidak semata-mata menghasilkan sebuah wahana tanpa awak, tetapi juga menjadi bagian dari proses penguasaan teknologi di dalam negeri.

Keberhasilan USV ini bukan hanya tentang menghasilkan sebuah platform, tetapi tentang membangun kemampuan teknologi di dalam negeri. Mulai dari kompetensi engineer, penguasaan sistem, hingga kemampuan integrasi dan pengujian, semuanya menjadi bagian penting dari proses menuju industri pertahanan yang semakin mandiri,” ujar Kaharuddin.

Ia menambahkan, teknologi nirawak membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan industri pertahanan berbasis teknologi (technology-driven). Integrasi sistem otonom (autonomous system), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan sistem navigasi nirawak dalam satu platform menjadi bagian dari pengembangan kemampuan tersebut.

Autonomous, artificial intelligence, dan sensor fusion akan menjadi bagian penting dari masa depan teknologi maritim. Karena itu, inovasi tidak berhenti pada satu produk, tetapi menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi pertahanan generasi berikutnya,” katanya.

Kaharuddin menegaskan pengembangan USV juga berpotensi memperkuat ekosistem industri nasional. Penguasaan teknologi ini mencakup peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta penguatan rantai pasok nasional, khususnya pada sektor elektronika, sensor, perangkat lunak, sistem komunikasi, manufaktur, dan integrasi sistem.

Dalam perkembangan teknologi pertahanan global, USV juga semakin bergeser dari sekadar platform eksperimental menjadi bagian dari konsep system of systems. Konsep tersebut memungkinkan wahana tanpa awak berkolaborasi dengan kapal berawak maupun sistem pertahanan lainnya dalam satu ekosistem operasi.

Penguasaan teknologi USV tidak hanya memperkuat kemampuan operasional, tetapi juga memperluas kapasitas industri nasional untuk menghasilkan solusi teknologi maritim yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia,” pungkas Kaharuddin.

  ★ PAL Indonesia  

Kamis, 13 Agustus 2026

BRIN Pamerkan Riset Kuantum

  Inovasi energi baterai Inovasi riset baterai kuantum BRIN. (BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sempat menjadi sasaran roasting warganet setelah memamerkan sejumlah hasil inovasi di depan Presiden Prabowo Subianto berupa sepatu, genteng, hingga keripik. Bagi sebagian warganet, produk-produk tersebut dinilai belum mencerminkan gambaran inovasi yang seharusnya dihasilkan sebuah lembaga riset.

BRIN kemudian menunjukkan riset yang dikembangkan sebenarnya tidak berhenti pada produk yang terlihat sederhana. Salah satunya datang dari Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN yang tengah mengembangkan teknologi berbasis fisika kuantum, termasuk konsep baterai kuantum (quantum battery).

Melalui akun Instagram resminya, Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN juga memperkenalkan riset quantum magnetometry, yakni teknologi sensor kuantum berbasis berlian dengan NV Center yang dirancang untuk mengukur medan magnet dengan tingkat sensitivitas sangat tinggi.

"Nah, terkait riset futuristik, di BRIN-Q, kami sedang mengembangkan quantum magnetometry, teknologi sensor kuantum berbasis berlian (NV Center) yang mampu mengukur medan magnet dengan sensitivitas sangat tinggi," tulis akun @quantumresearch.id, dikutip Sabtu (8/8/2026).

 Apa Itu Baterai Kuantum?

Baterai kuantum (quantum battery) berbeda dari baterai biasa yang bekerja melalui reaksi elektrokimia. Baterai jenis ini menyimpan energi pada keadaan kuantum suatu sistem, misalnya atom, molekul, spin, atau sistem cahaya-materi.

Dalam fisika kuantum, banyak sistem dapat berinteraksi secara kolektif. Interaksi ini dapat menghasilkan korelasi dan koherensi.

Pada baterai kuantum yang terdiri atas banyak unit penyimpan energi, unit-unit tersebut dapat diisi secara bersamaan melalui interaksi kolektif. Secara teori, mekanisme ini dapat menghasilkan "quantum advantage", seperti peningkatan charging power dibandingkan strategi pengisian yang bekerja secara independen pada setiap unit.

 Tantangan Riset Baterai Kuantum

Hasil riset berbasis kuantum ini tidak bisa muncul begitu saja. Melainkan tergantung pada sistem, jenis interaksi, protokol pengisian, serta bagaimana sistem berinteraksi dengan lingkungannya.

Sehingga riset dengan topik kuantum ini masih terus diupayakan oleh peneliti dari berbagai dunia dan menjadi hot topic. Mereka berlomba mencari model baterai kuantum paling optimal.

Sejumlah eksperimen juga mulai mendemonstrasikan prinsip-prinsip dasar penyimpanan dan pengisian energi pada sistem kuantum. Meski demikian, riset ini memiliki banyak tantangan.

Tantangan besarnya adalah menjaga energi dan keadaan kuantum tetap tersimpan, mengurangi decoherence dan disipasi. Baterai kuantum yang paling ideal adalah yang cepat terisi.

Selain itu juga bisa lama bertehan, dan ketika dibutuhkan untuk ditransfer, ekstraksi energinya mendekati 100%. Sehingga pencarian model untuk baterai kuantum tidaklah mudah.

Riset ini aktif dilakukan oleh negara-negara maju. Salah satunya tetangga Indonesia, yakni Australia yang terdepan dalam eksperimen baterai kuantum.

Sementara Indonesia melalui BRIN, kini merupakan kontributor penting dalam pencarian model baterai kuantum yang efisien. Sudah ada delapan makalah ilmiah dari BRIN tentang baterai kuantum.

 Apakah Sepatu-Genteng Habiskan Anggaran Triliunan?

Banyak juga yang berspekulasi bahwa BRIN menghabiskan anggaran triliunan hanya untuk membuat sepatu, genteng, dan keripik. BRIN menjawab bahwa hal itu tidaklah benar. Adapun anggaran Rp 6 triliun itu mencakup banyak kebutuhan dan hanya berlaku untuk satu tahun.

Sepatu karet yang dihasilkan BRIN memiliki bahan Smart Rubber. Karet ini tidak bisa dihasilkan begitu saja melainkan dibuat menggunakan teknologi tinggi milik BRIN.

BRIN berharap agar masyarakat lebih menyorot inovasi Smart Rubber yang menjadi hasil riset dan inovasi unggul BRIN ketimbang hanya berfokus pada bentuknya berupa sepatu atau sandal.

Smart Rubber sendiri tidak hanya digunakan untuk membuat sepatu, tetapi juga untuk berbagai kebutuhan industri seperti otomotif, penerbangan, dan keamanan.

Begitu juga dengan keripik ubi. Bukan soal keripriknya, tetapi BRIN mengajak masyarakat agar lebih fokus pada variertas unggul ubi ungu yang telah diriset dan merupakan inovasi milik BRIN. (cyu/pal)

  💡  detik  

Senin, 10 Agustus 2026

Mobil Arsinum BRIN Ubah Air Banjir Jadi Air Minum di Sumatera

  Kapasitas produksi hingga 10.000 liter air / hari Mobil Arsinum BRIN (antara))

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengirimkan mobil Arsinum, alat pengolah air menjadi siap minum—ke wilayah terdampak banjir di Sumatera untuk memenuhi kebutuhan air bersih darurat.

Mobil ini mampu mengolah air keruh menjadi air minum sesuai standar Kementerian Kesehatan dan diberangkatkan pada Minggu (14/12/2025).

Arsinum dapat memanfaatkan berbagai sumber air, mulai dari air tanah, PAM, air hujan, hingga air berlumpur banjir, dengan kapasitas produksi hingga 10.000 liter air siap minum per hari atau sekitar 7 liter per menit.

Biaya operasional produksinya tercatat sekitar Rp2.500 per 20 liter, sehingga dinilai efisien untuk penanganan bencana.

BRIN mengirimkan tiga unit Arsinum ke Sumatera, masing-masing dua unit untuk Aceh Tamiang dan satu unit untuk Tapanuli Tengah.

Kepala BRIN Arif Satria menyebut kehadiran Arsinum dapat mempercepat pemulihan pascabencana, terutama dalam memastikan ketersediaan air minum di lokasi terdampak. Arif menjelaskan, SMR yang dikembangkan BRIN memiliki kapasitas sekitar 50 megawatt (MW).

  💡  Berita Satu  

Minggu, 09 Agustus 2026

BRIN Sudah Kembangkan Reaktor Nuklir Mini

  Reaktor Nuklir Mini 50 MW (BRIN))

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkapkan telah mengembangkan teknologi Small Modular Reactor (SMR) atau reaktor nuklir modular kecil yang siap ditawarkan untuk dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik. Dia mengatakan untuk membuat proyek itu dibutuhkan nilai investasi sekitar Rp 2,5 triliun.

Arif menjelaskan, SMR yang dikembangkan BRIN memiliki kapasitas sekitar 50 megawatt (MW). Kapasitas itu memang lebih kecil dibandingkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) konvensional.

"Kecil masih sekitar 50 megawatt. Tapi memang namanya small, paling tidak kita punya teknologinya," kata Arif, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (7/8/2026).

Dia menjelaskan desain teknologi SMR yang telah siap, termasuk untuk reaktor generasi ketiga maupun keempat yang dinilai memiliki tingkat keselamatan yang tinggi. Sehingga saat ini menunggu pihak yang berminat mengadopsi teknologi tersebut, karena implementasi itu membutuhkan dukungan investasi.

"Tapi BRIN juga siap dengan dua level: satu generasi tiga, dua generasi empat. Nah, dengan dua generasi yang sudah kita siapkan ini, ini tinggal nunggu siapa yang akan pakai teknologinya BRIN ini. Karena untuk itu kan butuh investasi. Berapa investasinya? Rp2,5 triliun. Itu kecil, tidak besar. Kalau kita mau coba, ya, BRIN sudah siap untuk itu," tuturnya.

Meskipun begitu, BRIN masih terus menyempurnakan desain dan model SMR sebagai bagian dari pengembangan teknologi nuklir nasional. Di sisi lain, riset teknologi nuklir BRIN saat ini juga difokuskan untuk mendukung sektor nonkelistrikan.

"Yang jelas, BRIN untuk teknologi nuklir yang berkaitan dengan energi ya itu SMR yang sedang kita siapkan desainnya, modelnya. Namun yang sekarang kita arahkan adalah pemanfaatannya untuk pangan dan kesehatan," katanya.

Dia menyebut penggunaan teknologi nuklir untuk sektor kesehatan seperti radiofarmaka untuk identifikasi penyakit kanker. Selain itu juga untuk metode pengawetan buah-buahan supaya lebih lama ketika ingin melakukan ekspor. (pgr/pgr)

  💡  CNBC  

Rabu, 05 Agustus 2026

Aplikasi MonMang Karya BRIN Digunakan di 27 Negara

  🖥 Dikembangkan Menuju Standar Pemantauan Mangrove Global Aplikasi MonMang Karya BRIN Digunakan di 27 Negara (BRIN)

Aplikasi MonMang (Monitoring Mangrove) yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperluas jangkauan pemanfaatannya sebagai instrumen pemantauan ekosistem berbasis data. Hingga kini, aplikasi tersebut telah digunakan di 27 negara dan terpasang pada lebih dari 1.500 perangkat seluler. Untuk menjawab kebutuhan pengguna yang semakin luas, BRIN bersama Blue Ventures Indonesia mengembangkan MonMang versi 3.0 agar semakin adaptif terhadap pengelolaan mangrove di tingkat global.

Pengembangan tersebut menjadi fokus dalam Workshop Pengembangan dan Standardisasi Kolaboratif Aplikasi MonMang 3.0 untuk Pengelolaan Mangrove dan Perikanan Berbasis Masyarakat Tingkat Global yang diselenggarakan di BRIN Thamrin, Jakarta, Kamis (30/7).

Kepala Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Decky Indrawan Junaedi, mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis dalam pengelolaan mangrove dunia. Sebagai salah satu global mangrove hotspot, Indonesia membutuhkan sistem pemantauan yang mampu menghasilkan data akurat untuk mendukung pengambilan kebijakan berbasis bukti.

"Monitoring mangrove ini sangat membutuhkan evidence-based policy making. Data yang reliable dan akurat sangat kita butuhkan untuk pengelolaan berkelanjutan, restorasi, hingga diplomasi lingkungan Indonesia di tingkat global," ujar Decky.

Menurutnya, MonMang dikembangkan sejak 2019 sebagai inovasi digital yang menghubungkan kebutuhan penelitian dengan partisipasi masyarakat. Melalui aplikasi berbasis perangkat bergerak tersebut, pengguna dapat mengumpulkan, mencatat, dan mengolah data kondisi mangrove secara lebih cepat sehingga menghasilkan informasi mengenai kesehatan ekosistem sekaligus membantu menentukan kawasan yang berpotensi direstorasi.

Decky menjelaskan bahwa MonMang juga mengadopsi pendekatan citizen scientist, sehingga masyarakat dapat terlibat langsung dalam pengumpulan data ilmiah di lapangan.

"MonMang adalah wujud inovasi teknologi digital berbasis mobile application untuk memfasilitasi citizen scientist di era gadget. Kami di BRIN sangat terbuka untuk berkolaborasi guna meningkatkan kualitas data serta memperluas cakupan pemantauan mangrove di Indonesia," katanya.

Pemanfaatan MonMang tidak lagi terbatas di Indonesia. Melalui kolaborasi dengan berbagai mitra nasional dan internasional, aplikasi ini telah digunakan di 27 negara. Bahkan, peneliti BRIN pernah diundang ke Fiji untuk memberikan pelatihan kepada pengguna aplikasi tersebut.

Koordinator Kegiatan Kolaborasi Riset BRIN–Blue Ventures Indonesia, Udhi Eko Hernawan, mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa inovasi yang dikembangkan BRIN mampu menjawab kebutuhan pemantauan ekosistem mangrove di berbagai kawasan dunia.

"MonMang ini sudah dikenal di berbagai negara, bahkan peneliti kita pernah diundang ke Fiji untuk melatih pengguna di sana. Melalui kolaborasi ini, kita ingin aplikasi karya anak bangsa ini juga makin dioptimalkan oleh kementerian dan lembaga di dalam negeri," ujar Udhi.

Di Indonesia, aplikasi tersebut telah dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan kawasan mangrove berbasis masyarakat. Perwakilan Blue Ventures Indonesia, Miftahul Khausar, menjelaskan bahwa mitra lokal menggunakan MonMang untuk memantau kawasan mangrove seluas 2.523 hektare di Desa Sinaka, Mentawai, Sumatra Barat, serta 273 hektare di Sahari, Maluku.

Hasil pemantauan menunjukkan kondisi mangrove berada pada kategori sangat baik hingga sedang, dan informasi tersebut dimanfaatkan sebagai salah satu dasar pengelolaan perikanan berbasis masyarakat.

"Melalui penggunaan MonMang, mitra kami di Mentawai dan Maluku dapat mengidentifikasi ribuan hektare mangrove dalam kategori sangat baik hingga sedang. Data ini langsung dimanfaatkan masyarakat sebagai dasar pengelolaan perikanan berbasis komunitas," jelas Miftahul.

Untuk meningkatkan pemanfaatannya, BRIN kini mengembangkan MonMang 3.0 dengan menghimpun masukan langsung dari pengguna. Pengembangan difokuskan pada penyempurnaan fitur pemetaan, identifikasi jenis mangrove, pengelolaan data lapangan, serta perluasan pilihan bahasa.

Menurut Udhi, selain mendukung Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, MonMang 3.0 juga diarahkan agar mendukung Bahasa Prancis dan berpotensi mengakomodasi berbagai bahasa lokal sesuai kebutuhan pengguna.

"Dunia digital bergerak sangat cepat. Untuk MonMang 3.0, kita butuh masukan dari para pengguna di lapangan untuk mengidentifikasi kebutuhan prioritas, mulai dari memperluas fitur pemetaan, identifikasi jenis, hingga penambahan bahasa seperti Bahasa Prancis dan bahasa lokal," tutur Udhi.

Melalui pengembangan tersebut, BRIN berharap MonMang semakin memperkuat posisinya sebagai platform pemantauan mangrove berbasis data yang mendukung kerja peneliti sekaligus memperluas partisipasi masyarakat dalam pengumpulan data ilmiah. Kolaborasi lintas lembaga, komunitas, dan negara diharapkan semakin memperkuat pemanfaatan hasil riset Indonesia untuk mendukung pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan. (bel,rh/ed:pur)

  👷 BRIN  

Sabtu, 01 Agustus 2026

Kolaborasi PT PAL Indonesia–BRIN Menuju Green Shipyard Nasional

  Transformasi Industri Maritim Hijau Indonesia
KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL (PAL)

Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksdya TNI (Purn.) Prof. Dr. Ir. Amarulla Octavian, M.Sc., mengapresiasi kapabilitas PT PAL Indonesia sebagai industri strategis nasional yang memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem maritim Indonesia. Ia memastikan BRIN siap berkolaborasi dengan PT PAL untuk mendorong kemajuan industri perkapalan nasional.

Dalam kunjungan kerjanya ke PT PAL, Prof. Octavian menyampaikan komitmen BRIN tersebut menindaklanjuti arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, agar perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri membangun kolaborasi untuk meningkatkan pertumbuhan industri perkapalan dalam negeri.

Selain pengembangan teknologi, kata dia, kolaborasi juga berfokus pada transformasi industri menuju green shipyard. “Salah satu target utama yang ingin kami dorong bersama adalah mewujudkan green shipyard, sehingga setiap produk utama yang dihasilkan PT PAL berasal dari proses produksi yang ramah lingkungan, efisien, dan berbasis inovasi".

Ia berharap transformasi menuju green shipyard tidak hanya meningkatkan daya saing industri perkapalan nasional, tetapi juga memperluas akses PT PAL ke pasar global. Menurutnya, tuntutan terhadap standar keberlanjutan yang semakin tinggi di pasar internasional menjadi peluang bagi industri nasional untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing komersial.

Pasar global semakin menuntut standar keberlanjutan. Karena itu, transformasi ini akan memperkuat kapasitas komersial PT PAL,” ujarnya.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Dr. Kaharuddin Djenod, M.Eng., menyambut baik komitmen BRIN dalam memperkuat ekosistem riset nasional untuk mendukung transformasi industri perkapalan.

Menurutnya kolaborasi dengan BRIN akan memperkuat kemampuan riset terapan, mempercepat penguasaan teknologi, dan mendukung transformasi PT PAL menuju halangan kapal modern yang lebih hijau, efisien, dan kompetitif. “Ini sejalan dengan arahan Presiden, sinergi antara industri, lembaga riset, dan perguruan tinggi akan menjadi kunci dalam memperkuat kemandirian industri perkapalan nasional” tegasnya.

Dalam pertemuan PT PAL dan BRIN juga membahas rencana implementasi kolaborasi pada riset terapan, pengembangan teknologi maritim, hilirisasi hasil penelitian, peningkatan kompetensi SDM, serta implementasi teknologi rendah emisi dan efisiensi energi sebagai bagian dari transformasi menuju green shipyard. Inisiatif tersebut sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di lingkungan PT PAL.

  👷  PAL  

Minggu, 26 Juli 2026

Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit

  Berpotensi menjadi negara pertama yang memproduksi propelan berbahan baku limbah kelapa sawit (Pindad)

Pindad mengembangkan teknologi pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi nitroselulosa, bahan baku utama propelan atau isian pendorong amunisi. Inovasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor sekaligus memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma, mengatakan riset yang dimulai pada 2022 kini telah memasuki tahap proyek percontohan.

Saat ini, PT Pindad mampu mengolah sekitar 50 ton tandan kosong kelapa sawit per tahun menjadi nitroselulosa untuk propelan.

"Tahun depan harapan kami dapat meningkatkan kapasitas menjadi 1.000 ton per tahun," ujar Prima dalam Pekan Riset Sawit Indonesia 2026, Senin (20/7/2026).

Menurut Prima, peningkatan kapasitas tersebut dilakukan secara bertahap agar proses produksi dapat dioptimalkan sebelum memasuki skala industri. Ia menjelaskan, kebutuhan propelan nasional diperkirakan mencapai 2.500 hingga 3.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan sekitar 2,5 miliar butir amunisi.

Sementara itu, kapasitas produksi propelan PT Pindad saat ini baru berkisar 800 hingga 1.000 ton per tahun sehingga masih terdapat kesenjangan pasokan yang cukup besar. Untuk menghasilkan 1.000 ton propelan, perusahaan membutuhkan sekitar 2.500 hingga 3.000 ton tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku.

Prima menilai kebutuhan tersebut masih relatif kecil dibandingkan jumlah limbah tandan kosong yang dihasilkan industri kelapa sawit di Indonesia.

"Jumlah itu jauh lebih sedikit dibandingkan tandan kosong kelapa sawit yang dihasilkan pabrik kelapa sawit sehingga sangat memungkinkan untuk dipenuhi," ujarnya.

Selama ini, industri propelan dunia umumnya menggunakan selulosa yang berasal dari *cotton linter* atau serat kapas serta pulp kayu.

Menurut Prima, Indonesia menghadapi keterbatasan pasokan cotton linter sehingga pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi alternatif yang lebih sesuai dengan ketersediaan sumber daya dalam negeri.

Dalam proses produksinya, tandan kosong kelapa sawit dicacah, dibersihkan, dan dipisahkan untuk memperoleh serat selulosa. Selanjutnya, selulosa diproses melalui reaksi nitrasi untuk menghasilkan nitroselulosa sebagai bahan baku propelan.

 Ramah lingkungan

Selain memanfaatkan limbah yang melimpah, penggunaan tandan kosong kelapa sawit juga dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya domestik.

Prima mengatakan pengembangan bahan baku lokal menjadi semakin penting di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap propelan impor.

Menurut dia, hanya terdapat sekitar lima hingga enam pabrik besar di dunia yang memproduksi propelan sehingga pasokan global sangat terbatas. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga propelan.

Prima menyebut harga propelan yang sebelum perang Rusia-Ukraina berkisar 19 hingga 20 dollar AS per kilogram meningkat menjadi sekitar 40 hingga 50 dollar AS per kilogram.

Setelah konflik di Timur Tengah memanas, harganya kembali melonjak hingga sekitar 100 sampai 140 dollar AS per kilogram. Selain harga yang meningkat tajam, waktu tunggu pengadaan propelan dari luar negeri juga dapat mencapai empat hingga lima tahun.

"Kalaupun kami memperoleh harga sekitar 80 hingga 90 dollar AS per kilogram, kami tetap harus menunggu empat sampai lima tahun hingga material tersebut dikirim ke Indonesia," kata Prima.

Ia menambahkan, ketergantungan terhadap impor juga meningkatkan risiko terganggunya pasokan akibat embargo maupun dinamika geopolitik.

Meski demikian, pengembangan propelan berbasis tandan kosong kelapa sawit masih menghadapi tantangan, terutama dalam menjaga konsistensi kualitas bahan baku karena setiap pabrik kelapa sawit memiliki karakteristik limbah yang berbeda.

Melalui proyek percontohan tersebut, PT Pindad menargetkan seluruh standar mutu dan sertifikasi dapat dipenuhi sebelum fasilitas produksi skala industri mulai beroperasi.

Prima berharap pabrik propelan pertama di Indonesia dapat mulai beroperasi pada semester kedua 2027.

Menurut dia, jika target tersebut tercapai, Indonesia berpotensi menjadi negara pertama yang memproduksi propelan berbahan baku limbah tandan kosong kelapa sawit secara komersial.)

  💡 
Kompas  

Jumat, 12 Juni 2026

Pindad Desain Mobil Listrik Nasional

  TKDN mencapai 70%  
Kendaraan lapis baja listrik Pandu Maung MV3 buatan Pindad (Pindad)

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan perkembangan terbaru proyek mobil nasional yang tengah dipersiapkan pemerintah. Kendaraan tersebut saat ini masih berada dalam tahap desain dan diharapkan memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang lebih tinggi dibandingkan sebagian besar kendaraan yang saat ini beredar di Indonesia.

"Mobil listrik kita rata-ratanya TKDN-nya 30 sampai 70%, walaupun memang nanti kita harapkan Mobnas yang sekarang sedang di-desain oleh Pindad itu akan memiliki nilai TKDN yang lebih tinggi," kata Agus dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI.

Pembahasan mengenai mobil nasional muncul ketika Kementerian Perindustrian menjelaskan tantangan yang masih dihadapi industri manufaktur Indonesia. Persoalannya tidak hanya soal produk akhir yang diproduksi di dalam negeri, tetapi juga kemampuan industri nasional dalam membuat mesin produksi sendiri.

Agus menilai tidak cukup hanya mengejar angka TKDN pada produk jadi. Di balik sebuah produk, masih terdapat ketergantungan yang cukup besar terhadap teknologi dan mesin yang berasal dari luar negeri.

"Kalau saya mengunjungi pabrik-pabrik, pasti yang saya tanya TKDN-nya berapa persen. Ketika saya masuk dan melihat mesinnya, ternyata mesinnya impor. Itu challenge kita," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menekankan bahwa Indonesia memasuki fase baru dalam perjuangan panjang mewujudkan kemandirian industri otomotif dan menyoroti pentingnya kawasan industri, rantai pasok, pengembangan teknologi yang terintegrasi, serta membentuk industri nasional yang punya daya saing yang kuat.

Direktur Utama PT Pindad Sigit P. Santosa, menyampaikan bahwa proyek mobil nasional tidak boleh berhenti pada slogan. Pindad telah menyiapkan lahan industri di Subang dan menargetkan kapasitas produksi 500.000 unit per tahun, dimulai dengan 100.000 unit pada 2028 sebagai tahap awal fase produksi.

"Pesan yang sama dari semua komisi kepada Pindad adalah jangan jadi euforia kalah. Pengembangan mobil nasional tidak bisa hanya sekadar program, kita harus melakukan piloting untuk inovasi teknologi dan membangun ekosistemnya," katanya beberapa waktu lalu. (fys/wur)

  ♞  CNBC  

Kamis, 11 Juni 2026

PT PAL Siapkan Empat Kapal Raksasa Tahun Ini

KRI BPD 322 frigate pertama PAL dalam penyelesaian dan kapal LPD pesanan Filipina merupakan kapal yang akan diluncurkan tahun ini di Surabaya (PAL)

PT PAL Indonesia menandai lima tahun perjalanan transformasi Industri Maritim 4.0 (IM4) dengan capaian sejumlah proyek strategis nasional dan target peluncuran empat kapal berukuran besar pada tahun 2026 ini.

Kaharuddin Djenod Direktur Utama PT PAL Indonesia mengatakan, transformasi yang dijalankan sejak 2021 itu untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi dan mempercepat penyelesaian berbagai proyek strategis nasional.

Kami telah tunjukkan bahwa insan-insan PT PAL mampu bersatu dan membangun bersama dalam satu kekuatan yang luar biasa. Kami berhasil menghasilkan Frigate Merah Putih, menghasilkan Kapal Selam Otonom Tanpa Awak (KSOT), dan tahun ini kita akan melaunching empat kapal raksasa,” katanya, Minggu (7/6/2026).

Ia menjelaskan, percepatan pengerjaan proyek-proyek tersebut tidak lepas dari implementasi transformasi IM4 yang berfokus pada modernisasi proses bisnis, peningkatan efisiensi produksi, dan penguatan daya saing industri maritim nasional.

Tidak hanya berdampak pada perusahaan, ia mengatakan bahwa proyek-proyek yang dikerjakan PAL juga memberikan efek ekonomi yang luas.

Dalam setiap pembangunan kapal, PT PAL melibatkan berbagai industri dalam negeri, mulai dari galangan kapal, manufaktur komponen, jasa pendukung, hingga pelaku usaha kecil yang menjadi bagian rantai pasok industri maritim.

Setiap proyek yang dikerjakan PT PAL tidak hanya menghasilkan produk strategis bagi negara, tetapi juga menggerakkan ekonomi. Di dalamnya terdapat ribuan tenaga kerja yang terlibat serta industri pendukung yang ikut bertumbuh,” kata Kaharuddin.

Pada momentum peringatan HUT ke-46 PT PAL Indonesia, Kaharuddin juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh karyawan atas kontribusi mereka selama lima tahun perjalanan transformasi perusahaan. Menurutnya, berbagai pencapaian yang diraih merupakan hasil kerja keras, inovasi, dan kolaborasi seluruh insan perusahaan.

Hasil kerja keras satu tahun terakhir adalah hasil dari semua usaha-usaha, inovasi-inovasi dari semua,” ucapnya.

Dengan mengusung tema “United, Transformed, Unstoppable”, peringatan ulang tahun galangan tersebut menurutnya jadi penegasan komitmen perusahaan untuk melanjutkan transformasi, memperkuat industri maritim nasional, serta meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian dan kemandirian industri pertahanan Indonesia. (ris/iss).

  📝  Suara Surabaya  

Kamis, 04 Juni 2026

Drone Asal Indonesia Berhasil Tembus Pasar Australia


Ekspor perdana drone (Ist)

Keberhasilan Industri Kecil Menengah (IKM) asal Kabupaten Bandung, PT Bentara Tabang Nusantara, dalam merealisasikan ekspor perdana pesawat udara nirawak (unmanned aerial vehicle—UAV) ke Australia menjadi tonggak penting bagi perkembangan industri teknologi nasional.

Ekspor yang dilakukan pada Selasa, 3 Februari tersebut menandai kemampuan industri dalam negeri untuk menembus pasar global dengan produk berbasis inovasi. Pencapaian ini menunjukkan bahwa Indonesia mulai bertransformasi dari sekadar konsumen teknologi pemantauan wilayah menjadi produsen sistem pengindraan ruang yang memiliki daya saing internasional.

Produk yang diekspor, yakni drone Omnibe RTB Nopayload, dirancang untuk kebutuhan surveilans dengan kemampuan pemantauan area hingga jarak pandang mencapai 5.000 hektare. Kapasitas ini menjadikan drone tersebut relevan untuk pengawasan wilayah luas, seperti kawasan pertanian, perkebunan, kehutanan, pertambangan, hingga pengamanan infrastruktur strategis.

Masuknya drone buatan Indonesia ke pasar Australia juga mencerminkan kesesuaian teknologi dengan karakter geografis negara tujuan. Australia dikenal memiliki bentang wilayah yang sangat luas dengan banyak area terpencil sehingga membutuhkan sistem pemantauan berbasis udara yang andal dan efisien. Drone produksi PT Bentara Tabang Nusantara dinilai mampu memenuhi kebutuhan tersebut melalui kombinasi jangkauan pemantauan yang luas, fleksibilitas operasional, serta efisiensi biaya sehingga memiliki daya saing dalam peta industri drone global.

Keberhasilan ekspor perdana ini tidak terlepas dari dukungan Bea Cukai Bandung yang berperan sebagai pendamping industri dan fasilitator perdagangan. Dilansir dari JPNN.com, Kepala Kantor Bea Cukai Bandung, Budi Santoso, menyampaikan bahwa ekspor ini mencerminkan kesiapan industri nasional untuk bersaing di pasar internasional sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan devisa negara dan penguatan ekonomi nasional. Bea Cukai juga menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kinerja ekspor melalui pelayanan kepabeanan yang optimal, pengawasan yang efektif, serta penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku usaha.

Sinergi antara inovasi teknologi, dukungan regulasi, dan kebutuhan pasar global menjadi faktor kunci keberhasilan ekspor drone ini. Pencapaian tersebut tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global teknologi pemantauan wilayah, sekaligus membuka peluang ekspor lanjutan di sektor teknologi berbasis analisis spasial

 
Spatial Highlights  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More