N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KRI Raden Eddy Martadinata 331

PKR 10514, Kapal frigat pertama produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Krait

Kapal patroli 40 m berbahan almunium alloy produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

Panser Canon 90mm

Kendaraan militer dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

PT44 Gudel

Kendaraan taktis militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Jumat, 31 Mei 2013

Mobil Listrik Apatte 62

 Apatte 62, Mobil Listrik Irit Mahasiswa Unibraw

Apatte 62, Mobil Listrik Irit Mahasiswa Unibraw
Malang • Mahasiswa jurusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya Malang membuat mobil listrik yang diklaim hemat energi. Mobil bernama Apatte 62 Aristo ini diikutkan dalam ajang lomba tahunan Shell Eco Maratahon Asia 2013 di sirkuit Sepang, Malaysia pada 4-7 Juli 2013. "Satu kilo watt mampu menempuh 700 kilometer," kata koordinator tim, Agustian Adi Gunawan, Kamis, 30 Mei 2013.

Agustian yang pengemudi kendaraan ini mengatakan dari segi efisiensi energi Apatte hemat. Kecepatan maksimal kendaraan mencapai 47 kilometer per jam. Sebagai penggerak Apatte dipasang motor listrik BL DC 48 volt 800 watt. Sumber energi dipasok baterai 48 volt 20 ampere hours.

Dalam perlombaan itu, Apatte harus melaju di sirkuit Sepang sejauh 12 kilometer dengan target waktu 30 menit. "Jadi minimal kecepatan 30 kilometer per jam,” kata dia. “Sementara Apatte bisa menempuh 47 kilometer per jam."

Agustian optimistis bisa meraih kemenangan dalam kompetisi yang diikuti 150 tim dari 16 negara itu. Indonesia nantinya mengirimkan 20 tim. Universitas Brawijaya menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang bertarung di kelas elektrik atau mobil listrik. Mobil konsep ini merupakan pengembangan Apatte yang juara tiga Indonesian Energi Marathon Challenge di Surabaya 2012.

 Mobil Listrik Irit Apatte 62 Telan Rp 289 Juta 

Malang:Mahasiswa jurusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya Malang akan menyertakan mobil listrik irit Apatte 62 dalam ajang Shell Eco Maratahon Asia 2013 di sirkuit Sepang, Malaysia pada 4-7 Juli 2013.. Untuk merancang mobil yang diklaim hemat energi ini dibutuhkan dana Rp 289 juta.

Dana itu diperoleh dari Universitas Brawijaya dan sponsor. Universitas Brawijaya mendanai Rp 200 juta. Sisanya dari sponsor. Koordinator tim dan pengemudi Apatte, Agustian Adi Gunawan, Kamis, 30 Mei 2013, mengatakan dana yang besar itu dipakai untuk inovasi kendaraan yang telah menjadi juara tiga Indonesian Energi Marathon Challenge di Surabaya 2012 itu.

Tim telah memangkas beban bodi kendaraan dari semula 60 kilogram menjadi 45 kilogram. Bodi kendaraan diganti dari semula serat fiber menjadi serat karbon yang jauh lebih ringan.

Chassis menggunakan honeycomb panel yang biasa dipakai sebagai komponen lantai pesawat terbang. Bahan ini lebih ringan sekaligus kuat. Rancang bangun kendaraan sejak tahap desain membutuhkan waktu enam bulan. "Sedangkan rancang bangun cukup 1,5 bulan," kata dia.

Rancang bangun kendaraan dilakukan di bengkel GMF Aero Asia (Garuda Indonesia Group). Sejumlah komponen menggunakan konstruksi komponen pesawat terbang. "Kabin sempit, kurang nyaman," kata Agustian. Kendaraan sengaja didesain kecil guna efisiensi konsumsi listrik sesuai materi lomba.

Pembinbing 12 mahasiswa tadi sekaligus Dosen Teknik Mesin, Eko Siswanto menyampaikan material kendaraan teruji kuat dan aman. Kendaraan tersebut telah melalui uji coba dan memenuhi standar keamanan. "Selama proses manufaktur tak ada hambatan yang berarti," kata Eko.


  Tempo  

Lebih Detail Tentang Medium Tank Pindad

Seperti sudah diberitakan sebelumnya, Indonesia dan Turki sepakat bekerja bersama membangun medium tank.

Penandatanganan MoU kerja sama itu sendiri sudah dilakukan pada ajang IDEF 2013 di Turki, awal mei lalu.

Disebutkan pula, masing-masing negara akan berpartisipasi sebanyak 50%-50% dalam hal pembiayaan dan pembuatan prototipe.

Skema produksi bersama sendiri nantinya akan meniru proses pembuatan CN-235 antara IPTN (sekarang PT.DI-red) dan CASA.

Namun, bagaimana detail kerjasama tersebut belumlah banyak terungkap. Redaksi ARC kemudian mencoba mencari tahu ke beberapa pihak yang terkait dalam skema kerjasama Medium tank ini. ARC kemudian mendapatkan sedikit jawaban.

Yang pertama, Medium tank yang akan dibikin nanti adalah benar-benar desain baru. Jadi tidak merujuk kepada Ranpur ACV-300 bikinan FNSS, yang telah dipelajari pula dari Pindad. Yang kedua, biaya untuk pengembangan desain hingga membuat prototipe adalah sebesar US$ 24 juta. Dengan demikian, Indonesia Turki akan dibebani masing-masing sebesar 12 juta dollar. 


Selanjutnya, pada akhir Juni atau awal Juli, Pindad dan FNSS sudah menyerahkan proposal skema pembuatan Tank Medium kepada Kementrian Pertahanan RI. Proposal itu berisikan mengenai perkiraan besaran biaya, timeline produksi, hingga desain medium tank.

ARC juga mendapatkan informasi, nantinya akan dibuat sebanyak 3 prototipe yang rencananya selesai pada 3-4 tahun mendatang. 1 prototipe dibuat di Pindad, dan 2 lainnya di FNSS.

Namun, salah satu prototipe yang dibuat di FNSS hanya berupa Tank tanpa kelengkapan isi, alias kosongan. Prototipe kosongan ini nantinya digunakan untuk uji ketahanan berbagai macam tembakan.

Namun demikian, informasi ini barulah tahapan awal. Kedepannya, masih bisa berubah banyak tergantung hasil diskusi antara pihak Pindad dan FNSS serta Kementrian Pertahanan kedua negara. Apapun hasilnya, kita doakan saja semoga rencana ini berjalan lancar.

  ● ARC  

UAV Swasta ...

Di tengah hingar bingar pengadaan dan pembentukan skadron UAV pertama Indonesia, sejatinya potensi anak bangsa akan pembuatan UAV tak perlu diragukan.

Selain lembaga riset negara semacam BPPT atau Balitbang Kemhan, kalangan anak muda swasta pun ikut tergerak mengembangkan UAV.

Salah satunya adalah Aeroterascan yang menawarkan berbagai jenis UAV.

Setidaknya, perusahaan kecil asal Bandung Jawa barat ini menawarkan 4 jenis UAV yang dibedakan dari ukuran.

Paling kecil dan terbaru adalah RBX01. Jika anda pernah meononton film Act of Valour, dimana personel SEAL melepas UAV kecil, seperti itulah RBX01. Cukup dilempar dengan tangan, ia akan terbang dan memasok informasi. karena ukurannya yang kecil, maka daya jelajah dan endurance nya pun tergolong rendah. Yaitu hanya 15 km dan 1 jam saja.


Produk lainnya adalah RBX02. Dilihat sosoknya, dan dibandingkan dengan UAV modern macam Predator, UAV ini masih tergolong kecil. Namun untuk menerbangkannya diperlukan pelontar, dan mendarat dengan bantuan jaring.

Radius aksinya mencapai 50 kilometer dengan ketahanan terbang selama 1 jam. Untuk misi-misi taktis semacam pengintaian artileri, UAV ini kelihatannya cocok.


Ada lagi UAV RBX04 dan RBX08. UAV ini mirip dengan buatan BPPT. Spesifikasinya pun tak jauh beda. Jika dilempar ke pasaran, bisa jadi UAV ini akan berhadapan langsung dengan UAV besutan BPPT.

Namun demikian, dari ke-4 UAV tadi, semuanya didesain bisa menerima bermacam konfigurasi, tergantung kondisi keuangan pemesan. Nah, anda tertarik? silahkan klik www.aeroterrascan.com

(all Foto by aeroterascan)



  ● ARC  

Mobil Listrik Nasional akan Diproduksi Massal di 2015

http://images.detik.com/content/2013/05/30/1036/135818_mobillistrik.jpgJakarta - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta menegaskan program mobil listrik nasional masih terus berjalan. Saat ini, pengembangan memasuki tahap penelitian baterai.

Hal tersebut disampaikan oleh Gusti usai dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, di Gedung DPR MPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (30/5/2013).

"Mobil listrik kita jalan terus. Sekarang sedang masuk penelitian baterai. Maksudnya bagaimana ukuran kecil tapi memiliki daya yang cukup besar," kata Gusti.

Gusti mengatakan, tahap ini termasuk tahap yang vital. Alasannya sumber daya dari mobil listrik banyak bergantung pada baterai. Menurutnya, Indonesia sudah menguasai teknologi pendukung lainnya.

"Kalau itu dikuasai maka nggak ada masalah, soalnya yang empat teknologi kunci sudah kita kuasai, seperti chasis, sistem elektronika, urusan alat charger sudah kita kuasai semua," paparnya.

Jika sudah rampung, Gusti mengatakan, program ini akan memasuki tahap produksi massal yang ditargetkan akan dilakukan pada tahun 2015.

"Sekarang sedang uji jalan yang sebenarnya di Yogyakarta. Jadi nanti kalau lagi jalan kan nanti kelihatan mana enak atau nggak bagus, kita perbaiki, dan baru kita serahkan ke industri siapa yang mau mengembangkan Target kita 2015 sudah diproduksi, semuanya, mesin dan semua," tutupnya.(zul/hen)


Kamis, 30 Mei 2013

Mahasiswa Unibraw Luncurkan Mobil Listrik Aristo

Dua mahasiswa memperbaiki mesin mobil listrik 'Aristo' sebelum dibawa ke Malaysia untuk dilombakan di Gedung Samantha Krida, Malang, Jawa Timur, Kamis (30/5). MALANG -- Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, yang tergabung dalam Tim Apatte-62 meluncurkan mobil hemat bahan bakar dan ramah lingkungan yang diberi nama Aristo, Kamis (30/5).

Tim Apatte-62 yang diketuai Agustian Adi Gunawan itu melakukan uji kemudia (test drive) dengan mengelilingi Samantha Krida kampus setempat disaksikan Rektor Universitas Brawijaya Yogi Sugito dan Dekan Fakultas Teknik Prof Harnen Sulistyo.

"Aristo ini akan berkompetisi pada Shell Eco-Marathon Asia 2013 yang diselenggarakan 4-7 Juli 2013 di Sirkuit Sepang, Malaysia. Lomba ini terdiri dari dua kategori yakni prototype dan urban concept," terang Agustian.

Aristo, katanya, akan berlomba pada kategori prototype yaitu untuk kendaraan futuristik yang bertujuan memaksimalkan efisiensi bahan bakar melalui elemen inovatif.

Agus mengemukakan Aristo ditargetkan berkecepatan maksimal 300 kilometer per kilo watt jam, namun sampai saat ini baru mencapai 200 km per kilo watt jam.

Untuk rangka menggunakan bahan Honeycom agar konstruksinya ringan untuk menahan beban. Bahan ini biasanya digunakan untuk lantai pesawat terbang.

Bahan bakarnya memiliki dua baterai masing-masing berarus 10 dan 20 Ampere. "Kalau yang 10 Ampere di-charge selama empat jam bisa digunakan sejauh 40 kilometer," kata Agus.

Prof Harnen Sulistyo mengungkapkan kebanggannya pada tim Apatte-62, karena kampusnya adalah satu-satunya tim dari Indonesia yang berlomba dalam kategori prototype listrik.

Sebelum mengikuti kompetisi Shell Eco-Marathon 2013, Tim Apatte-62 pada 2012 juga mengikuti Indonesian Energy Marathon Challenge dan menempati urutan keempat.

Untuk lomba tingkat Asia ini, walau baru pertama kali diikuti oTeknik Mesin universitas ini, dosen pembimbing Dr. Eng. Eko Siswanto, ST, MT mengharapkan tim bisa pulang dengan kemenangan.

Shell Eco Marathon tahun ini akan diikuti 150 tim dari 16 negara. Indonesia diwakili 20 tim dari berbagai perguruan tinggi yang telah lulus seleksi teknis.

Tim-tim tersebut adalah ITB (2 tim), USU (2 tim), ITS (2 tim), UPI (1 tim), UI (2 tim), Poltek Jakarta (1 tim), Poltek Pontianak (1 tim), UGM (2 tim), STKIP Bandung (1 tim), UB (1 tim), UNS (1 tim), UNS (2 tim), UNJ (1 tim), dan AKPRIN (1 tim).


  Republika 

Airbus Military Siasati Pasar yang Berkontraksi

Seperti juga dialami perusahaan dunia lain, Airbus Military (AM) menghadapi situasi pasar yang berkontraksi. Hingga kini sebenarnya masih banyak negara membutuhkan peralatan militer, namun tak sedikit yang kesulitan membeli karena anggaran pertahanan yang menciut. Agar positioning-nya sebagai produsen pesawat terbangmiliter modern tetap terjaga dan tetap mampu menembus pasar, mereka gencar merancang teknologi baru untuk mendongkrak daya jual produk-produknya.

Terkait perkembangan tersebut, Head of Programmes Light & Medium and Derivatives AM, Rafael Tentor dan Head of Market Development AM, Gustavo Garcia mengungkap, pihaknya telah merancang teknologi baru dan melakukan beberapa perubahan agar pesawat-pesawat buatannya bisa diterjunkan untuk berbagai misi (multi-role) dan lebih efisien dari segi ongkos operasi (cost-efficient). Demikian dilaporkan A. Darmawan dari Sevilla, Spanyol, Rabu (29/5) di sela-sela acara Airbus Military Trade Media Briefing 2013.


Salah satu produk yang diungkap sedang menjalani “penyempurnaan” itu adalah pesawat angkut sedang C-295. Kepada pesawat ini mereka telah merampungkan winglet yang bisa mengoptimalkan kinerjanya di penerbangan kecepatan rendah serta menghemat konsumsi bahan bakar. Tambahan sayap kecil di ujung sayap ini akan menjadi bagian tetap dari turunan C-295 yang akan diproduksi mulai 2014. Selain itu, AM juga akan mengganti mesin pendorongnya dengan buatan Pratt & Whitney yang lebih bertenaga. Dengan mesin barunya ini, C-295 bisa dioperasikan di daerah pegunungan yang amat tinggi, seperti di wilayah Andes dan Himalaya.


Bagi AM, nilai penjualan pesawat transpor ringan dan sedang buatannya (termasuk di dalamnya, CN-235) terbilang amat prospektif. Selama 2012, mereka telah berhasil menjual 32 unit pesawat atau menguasai 76 persen dari pangsa pasar.  Satu-satunya kompetitor di pangsa ringan dan sedang ini adalah C-27J. Australia diketahui telah membeli 10 pesawat buatan Alenia, Italia ini. Namun demikian, Australia juga tercatat sebagai customer AM yang paling berpengaruh. Negera di selatan di Indonesia ini berkali-kali disebut dalam pertemuan karena menjadi satu dari empat negara pembeli pesawat A330 MRTT (Multi Role Transport Tanker) terbanyak.


Menarik untuk diungkap, dalam pertemuan nama Indonesia juga banyak disebut-sebut, karena telah menjadi salah satu mitra strategis AM di wilayah Asia Pasifik. Di wilayah ini, AM menggantungkan performa penjualan CN-235 dan C-295 kepada Indonesia. Dengan Indonesia (PT Dirgantara Indonesia) juga  AM siap bekerjasama membuat derivat NC-212 yang lebih canggih, yang akan disebut dengan kode NC-212i.


Lebih jauh dikemukakan, sepanjang 2003-2012, AM telah menjual 157 pesawat ringan & sedang ke berbagai negara di seantero dunia, dan menguasai 51 persen di pangsa ini. Sementara untuk pangsa pesawat badan besar, sekelas A400M, mereka telah membukukan penjualan 174 unit dan meraih 32 persen pangsa pasar. Sedang untuk pangsa tangker modern, mereka telah berhasil menjual 28 pesawat dan menguasai 88 persen pangsa pasar.

  Angkasa  

E-Ticketing, Era Baru KRL Jabodetabek

Sistem ini diklaim membuat harga tiket mengalami penurunan.

Para pengguna Commuter Line akan memasuki era baru perkerataapian. Nantinya penumpang KRL tidak lagi membeli tiket kertas seperti yang selama ini digunakan. Kini akan lebih praktis dengan tiket elektronik (e-ticketing).

Manajer Komunikasi PT Kereta Api Commuter Jabodetabek (KCJ), Eva Chairunisa, mengatakan tiket elektronik diterapkan secara menyeluruh pada Juni 2013. "Tapi saya belum tahu tanggal pastinya," kata Eva saat dihubungi VIVAnews, Rabu, 29 Mei 2013.

Menurut dia, persiapan sudah mencapai 90 persen. Sebanyak 323 perangkat gate elektronik untuk pintu masuk dan pintu keluar sudah terpasang di 63 stasiun di Jabodetabek. Begitu juga 462 perangkat otomatisasi pada loket. Saat ini petugas masih melengkapi peralatan pendukung di tiap stasiun.

Tiket elektronik juga diberlakukan untuk KRL Ekonomi. Kartu elektronik untuk penumpang KRL Ekonomi dicetak berwarna hijau, sedangkan Commuter Line berwarna merah.

Untuk menerapkan sistem ini PT KCJ sudah melakukan sosialisasi kepada para pengguna. Uji coba dengan penjualan e-ticketing sudah berlangsung di lintas Tangerang pada 8 April 2013. Selanjutnya 22 April 2013 di lintas Jakarta Kota-Depok dan di jalur lingkar pada 2 Mei 2013 lalu. "Sekarang fokus kami adalah mengajari penumpang dengan sistem baru ini," ucapnya.

Bagaimana cara memakainya? Pengguna jasa KRL mendatangi loket tiket dan mengatakan stasiun tujuannya kepada petugas loket. Setelah itu, petugas akan menyebutkan harga yang harus dibayar oleh penumpang.

Selanjutnya, kartu akan keluar dari dispenser dan dibawa oleh pengguna. Setelah mendapatkan kartu, penumpang menuju gate in untuk bisa masuk ke peron. Pengguna memasukkan kartu ke alat gate in dan tunggu sampai lampu berwarna hijau. Kemudian, kartu dibawa kembali untuk verifikasi di pintu keluar kereta.

Ketika sampai di stasiun tujuan, pengguna KRL menuju gate out dan memasukkan kartu tersebut ke dalam gate sampai lampu di alat tersebut menyala berwarna hijau. Pengguna jasa bisa keluar peron, sedangkan kartu tiket tersebut tertelan ke dalam alat di gate.

Salah satu keuntungan e-ticketing adalah penumpang yang terlewat dari stasiun tujuan bisa menunggu kereta selanjutnya supaya bisa kembali ke stasiun tujuan awal tanpa harus membeli tiket lagi. "Itu bisa dilakukan karena kami meletakkan gate out di luar peron, bukan di peron," kata Eva. $ Penumpang yang terlewat stasiun tujuan juga tidak bisa keluar di peron di stasiun selanjutnya. 

Tiket elektronik diyakini bisa lebih menertibkan penumpang karena kartu hanya bisa digunakan sekali pakai. Jadi sekali deteksi, kalau sudah ditempel tidak bisa ditempel lagi. Penumpang diperbolehkan keluar peron hanya satu kali dengan batas waktu 30 menit.

Jika e-ticketing berjalan lancar, maka langsung diikuti dengan pemberlakuan sistem pembayaran tarif progresif. Dengan sistem progresif ini, tarif yang dikenakan kepada penumpang akan berdasarkan jumlah stasiun yang dilewati. Pada lima stasiun pertama penumpang akan dikenakan biaya Rp 3.000, dan Rp 1.000 untuk setiap tiga stasiun berikutnya.

Sistem tarif ini diklaim akan membuat sebagian besar harga tiket mengalami penurunan. Misalnya, dari Stasiun Jakarta Kota ke Cikini melewati enam stasiun. Bila dulu harus bayar Rp 7.500, kini hanya Rp 4.000. Sedangkan untuk jalur jarak jauh, tarif tidak mengalami perubahan.

Tarif tertinggi mengacu untuk relasi terjauh yang ditetapkan sejak 1 Oktober 2012, yakni Rp 9.000. "Tarif progresif hanya berlaku bagi Commuter Line, tidak untuk kereta ekonomi," ujar dia.

Penolakan di Stasiun

Direktur Utama PT KCJ, Tri Handoyo, menegaskan tiket elektronik tidak bisa berjalan jika area stasiun belum steril. Dia mengatakan seluruh stasiun di Jabodetabek sudah steril dari pedagang, kecuali Stasiun Universitas Indonesia, Depok.

Sebab, kata dia, mahasiswa UI terus mempertahankan keberadaan pedagang di dalam stasiun. Karena itu, PT KCJ dan PT Kereta Api melakukan penertiban pedagang di Stasiun UI pada Rabu pagi. Tapi, penataan ulang di stasiun itu tetap mendapat penolakan.

Pembongkaran puluhan kios di sekitar Stasiun UI akhirnya berujung ricuh. Ratusan pemilik kios dan mahasiswa terlibat adu jotos dengan aparat gabungan. Massa yang menolak pembongkaran kios itu juga melempari aparat gabungan yang terdiri dari polres, Brimob, dan Polda Metro Jaya, dengan sejumlah benda.

Ricuh ini dipicu saat ratusan aparat bersenjata merangsek masuk dan mendorong barisan pengunjuk rasa yang bertahan di lorong kios Stasiun UI. Massa yang tak terima sempat melakukan perlawanan. Alhasil aksi saling dorong hingga berujung adu jotos pun tak dapat dihindari. Kericuhan baru mereda, setelah aparat berhasil mendorong mundur para pengunjuk rasa. 

Seorang pedagang bernama Teti Rohati (35 tahun) jatuh pingsan melihat kiosnya dibongkar. Wanita berkerudung itu pingsan sesaat setelah menaruh rangkaian bunga ke pihak PT Kereta Api. Awalnya, Teti yang tampak tak kuasa menahan sedih ini terlihat tegar saat mengikuti aksi orasi mahasiswa. Namun tiba-tiba setelah dirinya menyerahkan bunga, tiba-tiba Teti jatuh. Sontak insiden ini sempat membuat panik orang di sekitarnya.

"Dia sedih dari tadi pagi. Tidak kuat melihat kiosnya dibongkar. Teti sudh lebih dari lima tahun dagang aksesoris komputer di sini. Ya sedih banget, kasihan dia," ucap Lisa kawan Teti.

Menjelang siang petugas akhirnya berhasil meratakan seluruh kios di Stasiun UI. Para pedagang hanya bisa meratap pasrah saat ratusan petugas membongkar kios yang selama ini jadi tempat mereka mencari nafkah.

Pengawasan di Lapangan

Rencana penerapan sistem pembayaran tarif progresif dengan menggunakan tiket elektronik ini disambut baik oleh para penumpang. Komunitas pengguna kereta api Jabodetabek, KRL Mania mendukung penuh sistem baru ini.

Juru Bicara KRL Mania, Ariyo Nugroho, mengatakan tarif progresif itu lebih adil. Karena, kata dia, bepergian jarak dekat membayar lebih sedikit dari pada yang jaraknya lebih jauh. "Apalagi tarif maksimalnya tidak lebih mahal dari tarif sekarang," kata Ariyo. "Tiket elektronik bagus, mengeliminir human error."

Menurut dia, sekarang yang penting adalah pengawasan di lapangan. Terutama jika terjadi hal-hal di luar skenario. Misalnya, ada gangguan sehingga penumpang tidak bisa turun di stasiun tujuan. Jangan sampai penumpang kena denda.

Atau jika ada gangguan sehingga kereta tidak bisa berjalan sama sekali, padahal penumpang sudah beli tiket. "Mekanisme refund-nya bagaimana," ujar dia.

Meski demikian, KRL Mania tidak setuju langkah PT Kereta Api menertibkan kios-kios di stasiun. Menurutnya, pedagang yang ada di peron memang harus ditertibkan karena itu mengganggu pergerakan dan berbahaya. "Tapi kalau yang di kios masalahnya apa? Kalau mau dirapikan ya tolong lakukan dengan cara yang sopan jangan bawa-bawa aparat, apalagi marinir, itu penyalahgunaan," kata Ariyo.

KRL Mania juga menyarankan sterilisasi sebagai persyaratan e-ticketing. Tapi arti sterilisasi di sini adalah mencegah orang-orang tak berkepentingan untuk masuk ke stasiun.

Jadi pintu-pintu liar memang harus ditutup. Dia menilai keberadaan kios tidak mengganggu karena penumpang juga butuh beli minum dan makanan kecil. Apalagi saat menunggu kereta yang sedang mengalami gangguan. "Di Jepang juga banyak kios di dalam peron. Asal PT KA bisa menerapkan standar mutu, seharusnya no problem," ucapnya.


  Vivanews  

Pengusaha Tantang Pemerintah Bangun Pipa Gas

Jakarta | Pengusaha meminta pemerintah membangun infrastruktur gas di Jawa Timur. Pasalnya 25% pasokan gas dari produksi lapangan Pagerungan di Perairan Bali tidak dapat diserap dengan baik.

Ketua Kordinator Gas Industri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Ahmad Widjaya mengatakan produsi gas Kangean sebesar 240 juta kaki Kubik Perhari (MMSCFD) 25% tidak bisa terserap industri karena terbatasnya jaringan pipa.

Melihat kondisi itu, pelaku usaha mendesak pemerintah untuk segera membangun jaringan pipa gas yang memadai untuk menyalurkan kebutuhan gas di wilayah Jawa Timur, Jawa Barat hingga di Pulau Bali dan sekitarnya.

"Lalu untuk wilayah Sumatera, Banten lalu ke Jakarta dan sekitarnya, sehingga kelebihan produksi gas dapat dimaksimalkan dan menambah pendapatan negara," kata Ahmad, di Jakarta, Kamis (30/5/2013).

Widjaya menilai, pembangunan jarungan pipa di Jatim dapat dibangun melalui dua cara yaitu pipa CNG atau pakai carier. Pelaku usaha menantang pemerintah untuk pembangunan infrastruktur.

"Kalau bicara Jawa Timur dan Jawa Barat Infrastruktur itu kan cuma apakah mau di-CNG atau transport pakai veselnya kecilnya LNG, kondisinya kan tergantung mau kemana. Apakah pemerintah siap mau berikan subsidi, kalau nanti posisi berjalan antara Jawa Jimur ke Jawa Barat atau sebaliknya," ungkapnya.

Dia menambahkan, pembangunan infrastruktur pipa gas sebetulnya tidak terlalu berat. Dengan harga jual gas ke industri yang terbilang tinggi yaitu US$ 10 per mmbtu, keuntungan penjualan sebetulnya bisa digunakan untuk membangun jaringan pipa.

"Saya pikir harga gas sudah US$ 10 per mmbtu, harga tersebut sudah lebih angka dari harga gas domestik. Pemerintah sudah menerima lebih," pungkasnya.(Pew/Shd)


  Liputan6  

Menanti Gebrakan Tentara Cyber Indonesia

http://images.detik.com/content/2013/05/28/323/hack.jpgJakarta - Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan berencana untuk membuat tentara cyber. Pasukan inilah yang nantinya bertugas menjaga keutuhan NKRI di dunia maya.

Berbagai jenis serangan cyber memang sudah mulai sering terjadi di Indonesia. Bahkan sekitar tiga pekan lalu, situs Kementerian Pertahanan sempat diretas oleh hacker yang belum diketahui identitasnya.


Tak ingin jadi bulan-bulanan di dunia maya. Pemerintah pun segera berbenah, salah satunya mulai muncul wacana soal memperkuat pertahanan cyber.


"Saat ini kita memang tidak punya Undang-undang soal cyber defense, yang ada sekarang ini Undang-undang Cyber Crime melalui UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik)," jelas Pos M. Hutabarat, Dirjen Potensi Keamanan Kementerian Pertahanan.


Nah, untuk mempertahankan keutuhan NKRI, Pos merasa aturan terkait pertahanan cyber itu harus segera direalisasikan.


"Ini harus segera dibentuk, karena dari ini kemudian kita bisa membuat cyber army," tambah Pos, usai berdiskusi di acara bertajuk 'Menghadapi Tantangan di Era Cyber Security' di Pullman Hotel, Rabu (28/5/2013).


Tentara cyber yang dimaksud Pos adalah pasukan militer yang memang diberi pengetahuan khusus soal seluk beluk dunia maya. Dengan demikian, pasukan ini bisa menangkis atau melakukan serangan cyber ketika dibutuhkan.


Cyber army memang bukanlah hal baru dalam dunia militer. Negara adidaya seperti Amerika Serikat, China, Korea Selatan, sampai Iran sudah memiliki tentara cyber yang besar dan handal. Bahkan beberapa di antaranya memang mengemban misi khusus kenegaraan.


Tentara seperti itulah yang diidamkan Kementrian Pertahanan. Sayang, Pos belum bisa memprediksi kapan para tentara cyber di Indonesia bisa segera terbentuk.


"Tunggu undang-undang itu selesai, yang jelas tidak dalam 3 tahun ini," tandasnya.

  ● detik  

Rabu, 29 Mei 2013

CN-295 Memikat Myanmar

Kehadiran pesawat CN-295 milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara di Nay Pyi Taw, Myanmar, telah menarik kehadiran pemerintah setempat.

Sejumlah pejabat militer Myanmar, antusias untuk mengetahui kemampuan dan karakter pesawat produksi bersama PT Dirgantara Indonesia dan Airbus Military tersebut.


Dengan antusias, sejumlah pejabat Militer Myanmar, Selasa (28/5/2013), mengikuti joy flight CN-295 yang dimulai dan diakhiri di Bandara Nay Pyi Taw.


Kehadiran pesawat CN-295 di Myanmar, sebagai bagian dari road show pesawat tersebut ke enam negara Asean yaitu Filipina, Brunei, Vietnam, Myanmar, Thailand, dan Malaysia.


Saat bertemu dengan Wakil Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin yang memimpin rombongan road show CN-295, Menteri Pertahanan Myanmar Wai Lwin juga menanyakan pesawat tersebut.


"CN-295 dipakai untuk kepentingan militer dan operasi bencana. TNI AU pakai untuk mengangkut pasukan dan penerjun. Pesawat ini juga dapat mengangkut dua mobil dan bisa mendarat di landasan rumput sepanjang 650 meter. Dengan daya muat 9 ton, pesawat mampu terbang 9 jam dan harganya lebih dari 30 juta dollar Amerika," papar Sjafrie.


"Terima kasih penjelasannya. Pesawatnya sangat bagus. Secara pribadi, saya suka pesawat itu. Tahun lalu kami punya rencana membeli pesawat, tapi dibatalkan. Sekarang ada rencana lagi kami harus melaporkan dahulu ke atasan" jawab Wai Lwin.


Sementara itu, Direktur Niaga PT Dirgantara Indonesia Budiman Saleh mengatakan, dibutuhkan waktu dua sampai tiga tahu unntuk melakukan penetrasi pasar ke suatu negara. "Kami ke Myanmar, sebagai bagian dari penetrasi pasar ini," kata Budiman.

  Kompas  

PT DI Akan Mengerjakan Pesawat Pesanan Vietnam

Vietnam ternyata telah memesan lima CN-295 dari Airbus Military, namun kemudian dikurangi menjadi tiga (photo : Kaskus Militer)

NAY PYI TAY -  PT Dirgantara Indonesia berharap, pesanan Vietnam terhadap tiga unit pesawat jenis CN-295 dari Airbus Military, dapat dikerjakan oleh PT Dirgantara Indonesia.


Langkah ini juga akan menguntungkan Vietnam.


"Vietnam telah memesan lima unit CN-295 dari Airbus Military, namun belakangan dikurangi jadi tiga. Sampai sekarang pesanan itu belum dikerjakan oleh Airbus Military," kata Direktur Niaga PT Dirgantara Indonesia, Budiman Saleh, Selasa (28/5/2013) di Nay Pyi Taw, Myanmar.


Budiman menjadi salah satu anggota rombongan road show CN 295 yang dipimpin Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ke enam negara Asean.


Setelah kemarin di Vietnam, hari ini rombongan berada di Nay Pyi Taw, Myanmar.


Ketika bertemu dengan Sjafrie pada Senin (27/5/2013) di Hanoi, Vietnam, Menteri Pertahanan Vietnam Jenderal Phung Quang Thanh, menyatakan, negaranya membutuhkan pesawat terbang yang mampu menerjunkan pasukan, mengangkut pasukan, punya daya angkut maksimal 10 ton, dan memiliki pintu di bagian belakang.


Secara eksplisit, Phung Quang lalu menyatakan ketertarikannya dengan CN-295 yang memenuhi kualifikasi pesawat yang dibutuhkan negaranya tersebut.


Menurut Budiman, pengalihan produksi pesawat CN-295 pesanan Vietnam dari Airbus Military ke PT Dirgantara Indonesia amat dimungkinkan karena sudah ada kolaborasi antara Airbus Military dan PT Dirgantara Indonesia untuk memproduksi pesawat tersebut.


Indonesia juga ditunjuk sebagai main dealer pesawat itu untuk kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara.


Ada sejumlah keuntungan bagi Indonesia dan Vietnam jika pesawat itu diproduksi di PT Dirgantara Indonesia.


"Jika dibuat di Indonesia, 50 persen dari komponen pesawat tersebut, yaitu bagian sayap, dibuat di Indonesia. Untuk Vietnam, mereka juga akan dimudahkan dalam pemeliharaan karena kami punya pusat pemeliharaan CN-295 di Bandung. Jika ada kebutuhan suku cadang, hanya butuh waktu sekitar empat jam untuk mengirimkannya ke Vietnam," jelas Budiman.


 Berikut Foto dari Kenyo10 (kaskuser)


  Kompas  

Selasa, 28 Mei 2013

☆ Prof. Dr. Ir. Sedyatmo, Dari Mencipta “Pabrik” ke Cakar Ayam

oleh: Retty N. Hakim

http://www.bukukita.com/babacms/displaybuku/24954.jpgEntah berapa persen dari orang-orang yang melalui jalan tol Pr. Dr. Ir. Sedyatmo untuk menuju ke Bandara Soekarno Hatta, yang mengetahui riwayat putra Indonesia yang namanya diabadikan sebagai nama jalan tol itu. Nama beliau mendapat kehormatan tersebut adalah karena jasanya menciptakan sistem pondasi cakar ayam yang digunakan untuk pembangunan jalan tol dan Bandara di daerah Cengkareng yang berawa-rawa itu. Walaupun mungkin temuan-temuan baru yang lebih canggih sudah hadir, tetap saja nama Sedyatmo sebagai seorang penemu pada zamannya sudah tercatat oleh sejarah.

Dalam sebuah buku yang berisi riwayat kehidupan pencipta pondasi cakar ayam ini, "Prof.Dr. Ir. Sedyatmo, Intuisi Mencetus Daya Cipta" terdapat banyak nasihat kehidupan yang patut dibaca para guru dan pelajar atau mahasiswa, bahkan juga oleh orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan. Seorang inovator, yang artinya adalah seorang yang memperkenalkan sebuah gagasan atau metode yang baru, ternyata tidak selalu harus lahir dari anak-anak dengan pencapaian akademis tinggi. Yang penting adalah kemampuan sang pendidik untuk mengenali kemampuan anak didiknya dan memberinya kesempatan. Seorang anak bangsa juga bisa mengharumkan nama bangsa di bidang teknologi bila didukung oleh negaranya. Sedyatmo kecil adalah anak kreatif yang sejak kecil sudah menciptakan penemuan-penemuan kecilnya, baik itu dalam menciptakan kualitas benang gelasan yang berbobot, maupun dalam menciptakan "pabrik" dari kotoran kerbau yang menjadi bahan permainannya bersama anak-anak desa selama berhari-hari.

Awalnya dia diberi nama R.M. Sarwanto, tetapi karena dia menderita sakit yang tidak kunjung sembuh, maka sebagaimana biasanya kebiasaan masyarakat Jawa, orang tuanya memberinya nama baru yang lebih sesuai yaitu Sedyatmo. Nama ini memiliki arti sebagai anak yang kelak akan menadi anak yang baik dan berguna baik masyarakat, bangsa, dan negaranya. Buku ini juga menarik untuk dibaca oleh para pendidik zaman sekarang yang seringkali masih memaksakan suatu pendapat tanpa memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mengembangkan proses berpikirnya. Pada halaman 53 dari buku ini diceritakan bagaimana sebagai murid AMS Sedyatmo menentang pendapat gurunya yang menyatakan bahwa bumi itu bulat seperti bola. Alih-alih marah, sang guru mencoba menjelaskan sejelas-jelasnya sehingga akhirnya Sedyatmo mengakui kesalahan pemikirannya. Guru ini pula yang kemudian memberikan jaminan kepada rektor THS (sekarang ITB) bahwa Sedyatmo pasti bisa mengikuti perkuliahan di sana walaupun saat itu nilai rata-rata tes yang dikantonginya tidak tinggi. Berkat dukungan guru yang pernah ditentangnya di kelas itu Sedyatmo akhirnya bisa memperoleh beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke THS.

Keterbukaan seorang pendidik terhadap anak didiknya sangat penting untuk mengembangkan kreativitas anak didik tersebut. Pengalaman Sedyatmo ketika mempertanyakan fungsi teori bilangan khayal kepada professor yang mangajarnya di THS yang juga dituangkan dalam buku biografi ini memperlihatkan keterbukaan sang pendidik. Dengan jujur sang professor menjawab: "Saya tidak dapat menjawab pertanyaanmu, Tuan Sedyatmo, tetapi saya hanya memberitahukan bahwa kalau Tuan tidak memahami benar teori bilangan khayal, maka Tuan tidak akan menjadi insinyur yang baik." Jawaban ini membuat Sedyatmo justru lebih dalam berpikir dan akhirnya mengakui kekuatan imajinasi sebagai salah satu pilar kesuksesan dalam penemuan baru.

Pengagum tokoh perwayangan Bima dan Gatotkaca ini sangat mempercayai penyelenggaraan kuasa Tuhan dalam hidup manusia. Oleh sebab itu dalam acara penganugerahan gelar doktor kehormatan dari ITB, Sedyatmo berpesan kepada para mahasiswa sebagai calon inovator di masa depan untuk selalu memanfaatkan "aji-aji pancasona" atau senjata lima serangkai yang sudah diberikan Tuhan kepada manusia yaitu imajinasi, intelektual, intuisi, inspirasi, serta insting yang bekerja di luar kesadaran manusia.

Dalam buku ini juga digambarkan Sedyatmo sebagai putra Mangkunegaran yang besar dalam lingkungan aristodemokrasi, artinya keluarga aristokrat yang menganut paham demokrasi dalam kehidupan harian mereka. Dalam lingkungan seperti ini ia bertumbuh dan belajar untuk menciptakan peluang. Karya pertama yang melecut kepercayaan dirinya sebagai seorang insinyur adalah jembatan air Wiroko yang selesai dibangun pada tahun 1937. Berkat dukungan penuh dari Mangkunegoro VII, maka tentangan dari pemerintah Belanda, bahkan dari almamater Sedyatmo sendiri (THS) tidak menjadi batu sandungan yang berarti baginya. Karya pertamanya itu menjadi pembuka jalan bagi karya-karya selanjutnya.

Sedyatmo memandang kehidupan sebagai peluang dari Tuhan, sehingga ketika harus melepaskan kedudukan dan kekuasaan karena harus pensiun pada usia 55 tahun di tahun 1964 ia tidak memandangnya sebagai kerugian, melainkan justru sebagai kesempatan untuk semakin memperjuangkan temuan pondasi cakar ayamnya. Ia kemudian masih mengabdi di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik hingga tahun 1976. Perjuangan untuk menggunakan pondasi cakar ayam di Cengkareng, yang membawa pengakuan dunia terhadap rancangannya, ternyata bukan perjuangan yang singkat. Inspirasi akan pondasi cakar ayam mucul di tahun 1962 di Pantai Cilincing ketika ia menemani anak-anaknya berlibur di sana. Memang buku ini juga membuka sedikit celah kehidupan pribadi Sedyatmo yang selama 14 tahun, selain bergelut dengan pekerjaannya, juga tetap berusaha memenuhi kewajibannya sebagai orang tua tunggal dari lima orang putrinya. Setelah 14 tahun menduda hadirlah Hj. R. Ay. Sumarpeni Sedyatmo, SH yang kemudian mendampinginya selama 14 tahun terakhir kehidupannya sebagai penyemangat perjuangannya. Buku ini hadir terutama karena kesetiaan sang istri dalam menunaikan amanah untuk menuliskan perjalanan hidup sang suami.

Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa pondasi cakar ayam memiliki hak paten dari 10 negara. Sementara itu Prof. Dr. Ir. Sedyatmo juga memiliki hak paten atas pipa pesat sistem Indonesia yang dipatenkan di lima negara asing. Kisah dalam buku ini berguna bagi orang-orang muda Indonesia untuk melihat bagaimana proses sebuah penemuan diterima di dunia internasional. Bagaimana ia memanfaatkan jurnal internasional untuk memperkenalkan temuan-temuannya. Bukan semata untuk dirinya sendiri, melainkan untuk memperlihatkan pula kemampuan seorang putra Indonesia. Rintangan-rintangan yang datang dari luar maupun dari dalam negeri sendiri menunjukkan betapa pentingnya dukungan Negara kepada para penemu putra bangsa.

Selain itu Sedyatmo menunjukkan pula bagaimana menjadi seorang nasionalis. Ketika orang asing datang melamar hasil temuan cakar ayamnya, di saat dukungan dari bangsa sendiri belum sepenuhnya diperoleh, ia tetap bertahan pada idealismenya untuk mempersembahkan penemuannya bagi bangsa Indonesia. Memang pantas ia memperoleh Bintang Mahaputra Indonesia kelas I serta Lencana Pengabdian kepada Pendidikan dan Kebudayaan. Bukan hanya pemerintah Indonesia yang memberinya penghargaan, bahkan pemerintah Perancis juga memberinya penghargaan Chevalier de la Legion d'Honneur karena keberhasilannya memimpin pelaksanaan pembangunan bendungan Jatiluhur.

Dari buku ini juga terungkap bahwa ide awal dari jembatan penghubung Suramadu merupakan hasil mimpi Sedyatmo akan jembatan bahari Ontoseno. Kesan-kesan dari orang-orang yang mengenalnya serta artikel-artikel yang pernah ditulis mengenai dirinya membantu pembaca untuk lebih mengenal pribadi beliau dari sisi-sisi yang berbeda. Satu hal yang sangat menonjol dari karakter Sedyatmo adalah kesabarannya dan kepasrahannya kepada kehendak Yang Kuasa. Kepasrahan itu tidak bersifat pasif, melainkan dengan aktif dia mencari peluang, walaupun tetap bersabar untuk menuai hasil sesuai yang diharapkannya dalam waktu yang diberikan Tuhan. Teknologi bagi Sedyatmo adalah alat untuk mempermudah manusia dan untuk membantu manusia menikmati anugerah alam yang diberikan Yang Maha Kuasa. Walaupun mencari jalan keluar teknologi yang lebih hemat biaya dan hemat waktu, sebenarnya Sedyatmo juga menginginkan karyanya bisa memberi pekerjaan bagi rakyat banyak. Walaupun tidak mengikuti ajakan Bung Karno untuk masuk partai politik, rupanya nasionalisme juga berakar di dadanya. Tidak heran bila dari buku ini kita bisa memperoleh pesan terselubung dari sang inovator agar bangsa Indonesia bisa menghasilkan lebih banyak lagi pembaharu dan pencipta yang mampu berdiri tegak sejajar dengan penemu lain di hadapan semua bangsa di muka bumi.


Judul Buku: Prof.Dr. Ir. Sedyatmo, Intuisi Mencetus Daya Cipta
Penulis: Drs. Ahmad Effendi dan Hermawan Aksan
Penerbit Teraju (PT Mizan Publika)
Tebal buku: 363
Cetakan: I, Oktober 2009

    Wikimu   

Vietnam Tertarik CN-295

HANOI • Menteri Pertahanan Vietnam Jenderal Phung Quang Thanh menyatakan tertarik dengan pesawat CN-295 yang merupakan hasil kolaborasi PT Dirgantara Indonesia dan Airbus Military.

Phung Quang akan mengirim tim guna mempelajari pesawat tersebut dan industri pertahanan Tentara Nasional Indonesia pada umumnya di tahun 2014.


Demikian disampaikan Phung Quang saat bertemu dengan Wakil Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin di kantor Menteri Pertahanan Vietnam di Hanoi, Vietnam, Senin (27/5/2013), seperti dilaporkan wartawan Kompas M Hernowo dari Hanoi.


Kedatangan Sjafrie ke Vietnam dengan memakai CN-295 merupakan bagian dari road show pesawat tersebut ke enam negara ASEAN, yaitu Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Thailand, dan Malaysia.


Selain untuk memperkenalkan pesawat CN-295 yang telah dipakai oleh TNI Angakatan Udara, road show yang berlangsung dari 22-31 Mei ini juga untuk memperkuat kerja sama di bidang pertahanan antara Indonesia dan negara ASEAN.


Phung Quang menuturkan, Vietnam membutuhkan pesawat terbang yang mampu menerjunkan pasukan, mengangkut pasukan, punya daya angkut maksimal 10 ton, dan memiliki pintu di bagian belakang. "Saya telah mempelajari CN-295 dan saya merasa suka dengan pesawat ini. Saya ingin perwira saya mempelajari pesawat ini lebih jauh," kata Phung Quang.


Mendengar hal ini, Sjafrie menjelaskan, CN-295 adalah pesawat yang punya pintu di belakang, bisa mengangkut penerjun dan dua mobil mewah. Daya muat pesawat tersebut 9 ton dan mampu terbang 9 jam tanpa berhenti.


"Bahan baku pesawat ini 50 persen dari Indonesia dan ada fasilitas pemeliharaannya di Bandung," jelas Sjafrie. "Kami mengundang tim dari Vietnam berkunjung ke pabrik pesawat Indonesia untuk melihat industri CN-295 dan industri pertahanan kami lainnya," tambah Sjafrie.

Phung Quang lalu menyatakan akan mengirim tim untuk mempelajari industri pesawat terbang dan pertahanan dari TNI pada tahun 2014.

  Kompas  

Senin, 27 Mei 2013

Mahasiswa UMY Kembangkan Alat Pendeteksi Pembuluh Darah Balita

_MG_2077Pembuluh darah pada balita sangat rentan akan potensi kerusakan pembuluh darah jika terjadi kesalahan penyuntikan. Untuk itu perlu adanya sebuah alat yang mampu mendeteksi pembuluh darah balita untuk meminimalisir kesalahan tersebut.

Demikian disampaikan oleh Ade Pajar Pirdianto, Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mengembangkan teknologi untuk pendekteksi pembuluh darah balita, Rabu (15/05) di Kampus Terpadu UMY. Alat yang akan diikutsertakan dalam Lomba Cipta Elektroteknik Nasional (LCEN) tanggal 16-17 Mei di Surabaya ini terdiri dari Ade Pajar Pirdianto, Muholidin, dan Aan Kurniawan.

Ade menuturkan bahwa alat ini digunakan untuk membantu tim medis baik di rumah sakit maupun Puskesmas dalam melakukan penyuntikan pada balita. “Terkadang tim medis juga mengalami kesulitan untuk melihat dimana letak pembuluh darah pada bayi, dengan adanya alat yang dirancang dengan sinar yang bisa menembus pembuluh darah ini dirasa cocok untuk membantu pekerjaan para medis,” tuturnya.

Ade menjelaskan bahwa alatnya ini merupakan lanjutan dari alat pendeteksi pembuluh darah balita yang sebelumnya sudah pernah diciptakan oleh alumni Teknik Elektro UMY Fajar Harianto. “Kami bertiga mengembangkannya menjadi lebih baik dan lebih efisien. Pada alat sebelumnya hanya digunakan untuk bayi usia kurang dari tiga bulan, sekarang kami mengembangkannya sampai usia dua tahun,” jelasnya.

Selain itu, Muholidin memaparkan bahwa cara kerja alat ini pun sangat mudah, hanya meletakan tangan bayi diatas alat ini maka pembuluh darah bayi tersebut akan terlihat. “Hal ini dikarenakan kita menggunakan sinar Led 4 pin yang memiliki kekuatan bias cahaya melebihi sinar Led lainnya, sehingga pembuluh darah pun bisa terlihat jelas,” paparnya.

Alat ini juga sangat efisien, lanjut mahasiswa angkatan 2011, bisa dilihat dari bentuknya yang sangat ringan dan mudah untuk dibawa “Alat seperti ini memang ada di rumah sakit besar dan bentuk alatnya pun tidak seminimalis alat kami, sehingga memudahkan penggunanya,” imbuhnya.

Disamping itu, Aan menuturkan bahwa alat yang sebelumnya sudah diuji pada balita usia dua tahun ini berhasil lolos babak kualifikasi dari LCEN bidang biomedik. “Kami sangat bangga karena alat kami akan bersaing dengan penemuan lain dari seluruh universitas di Indonesia nantinya, kami berharap bisa menjadi yang terbaik dan juga alat pendeteksi pembuluh darah balita ini bisa dimanfaatkan di dunia kesehatan,” tuturnya.


  UNY  

FSRU Jakarta

 Nusantara Regas klaim FSRU Jakarta hemat subsidi BBM Rp 6 T

PT Nusantara Regas, pengelola Floating Storage Regasification Unit (FSRU) Jawa Barat, menyatakan FSRU di utara Jakarta telah mampu menghemat subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sekitar Rp 6 triliun. Ini dikarenakan selama awal operasi pada 24 Mei tahun lalu sampai 30 April tahun ini perseroan telah menyalurkan gas setara dengan 1,5 juta kiloliter (KL) BBM.

Dirut Nusantara Regas Hendra Jaya mengatakan gas FSRU Jakarta diperuntukkan bagi pembangkit listrik di Muara Karang dan Tanjung Priok. "Kalau dihitung, maka penghematan subsidi BBM dalam APBN setara dengan Rp 6 triliun pada kurs Rp 9.500 per liter," ujarnya kepada wartawan dalam acara kunjungan ke FSRU Jawa Barat, akhir pekan ini.

Pada tahun ini, lanjutnya, perseroan menargetkan penyaluran 22 kargo gas yang berasal dari Blok Mahakam, Kaltim. "Kami juga tengah menegosiasikan tambahan dari Kilang Tangguh, Papua sebanyak 5 sampai 6 kargo LNG," tuturnya.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah mengalokasikan lima kargo LNG dari Kilang Tangguh pada tahun 2013. Nusantara Regas akan memperoleh 200 kargo selama periode 2013 sampai 2021 dengan perincian 147 kargo dari Tangguh dan 53 kargo dari Chevron IDD.

Tangguh juga akan memasok Nusantara Regas sebanyak 12 kargo per tahun pada tahun 2014 sampai 2015, 19 kargo per tahun periode 2016 sampai 2017 dan 20 kargo per tahun selama 2018 sampai 2021.

IDD akan menambah pasokan ke FSRU Jakarta sebanyak delapan kargo mulai 2018, 11 kargo pada tahun 2019, 15 kargo pada 2020, dan 19 kargo pada 2021.(mdk/bmo)

 FSRU Jakarta kesulitan serap pasokan gas pemerintah

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengalokasikan tambahan 27 kargo untuk terminal terapung dan regasifikasi (Floating Storage Regasification Unit/FSRU) Jawa Barat mulai tahun 2013 hingga 2025 sesuai dengan keputusan alokasi gas domestik yang telah ditandatangani pada Februari lalu.

Namun, PT Nusantara Regas selaku pengelola FSRU tersebut mengaku tidak akan mampu menyerap seluruh gas tersebut. Pasalnya, NR juga telah mendapatkan alokasi gas dari Bontang, Kalimantan Timur sebanyak 22 kargo.

"Secara kebijakan itu bagus. Cuma persoalannya 27 kargo tadi ditambah Mahakam 22 kargo jadi 49 kargo, sayangnya tidak semua bisa terserap dengan market yang ada. Saat ini sudah ada diskusi dengan pemerintah," ujar Direktur Utama Nusantara Regas Hendra Jaya kepada wartawan dalam acara kunjungan ke FSRU Jawa Barat, Minggu (26/5).

Menurut Hendra, pihaknya hanya mampu menyerap tambahan 5 kargo yang diberikan pemerintah. Sebab, konsumen NR saat ini hanya PT PLN (Persero) serta PT PGN (Persero) dan belum ada industri lainnya.

Bahkan, lanjutnya, kelima kargo tersebut telah termasuk yang digunakan untuk mensuplai kebutuhan gas di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tanjung Priok pada Agustus mendatang. "Jumlah 5 kargo tadi kita akan suplai ke Tanjung Priuk," tegas dia.

Sebelumnya, Dirjen Migas Kementerian ESDM Edy Hermantoro merinci, FSRU Jakarta akan memperoleh alokasi LNG sebesar 27 kargo per tahun mulai 2013 hingga 2025.

Sementara, sumber pasokan LNG berasal dari Kilang Tangguh, Papua Barat yang sebelumnya diekspor ke Sempra, AS dengan volume 20 kargo per tahun yang sudah dialokasikan sejak 2012.

Lalu, Kilang Tangguh 'train' 3 akan masuk ke terminal domestik mulai 2018. Selanjutnya, berasal dari Blok Mahakam yang seluruh kelebihan kargonya sebanyak 16 akan diperuntukkan ke dalam negeri.

Sumber pasokan lainnya adalah Lapangan Jangkrik dan North East Jangkrik yang dioperasikan ENI Indonesia dengan perincian 2016 sebanyak 14 kargo, 2017 sampai 2022 sebanyak 18 kargo per tahun, 2023 sebanyak 7 kargo, dan 2024 sampai 2025 sebanyak 4 kargo per tahun.

Terakhir dari proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) yang dikembangkan Chevron Indonesia Company dengan rincian 2017 sampai 2019 sebanyak 50 kargo per tahun, 2020 sampai 2021 sebanyak 30 kargo, 2022 sebanyak 16 kargo, dan 2023 sebanyak 10 kargo.(mdk/bmo)

 Operasional FSRU Jakarta terganggu limbah sampah

PT Nusantara Regas menyatakan terminal terapung dan regasifikasi unit (Floating Storage and Regasification Unit/FSRU) Jawa Barat harus menggunakan air laut untuk merubah gas alam cair (Liquidfied Natural Gas/LNG) menjadi bahan bakar gas pembangkit listrik milik PT PLN (Persero).

Direktur Utama Nusantara Regas Hendra Jaya mengatakan pihaknya menggunakan pompa air besar untuk mengambil air dari laut. Namun, sampai saat ini pihaknya terkendala sampah yang ada di Teluk Jakarta tersebut.

"Sampah di Jakarta itu luar biasa, itu bisa menyebabkan problem, kita pasang filter tapi masih (mengganggu)," ujar dia kepada wartawan dalam acara kunjungan ke FSRU Jawa Barat, akhir pekan ini.

Hendra menjelaskan, FSRU yang mengelola LNG tersebut, harus melakukan pemanasan pada LNG yang bersuhu minus 160 derajat celcius sebelum dialirkan ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Muara Karang. Dalam proses pemanasan yang memanfaatkan air laut, banyak sampah yang mengganggu proses tersebut sehingga mengganggu proses operasi.

"FSRU kita pakai air laut bagian pemanasan LNG agar cair, LNG itu sekarang bentuknya cairan suhu minus 160 celsius, karena itu untuk jadi gas kembali harus dipanaskan. Untuk mengangkat air laut terganggu sampah, itu menyebabkan beberapa jam terganggu," jelas dia.

Meskipun menghadapi kendala tersebut, anak perusahaan gabungan antara PT Pertamina (persero) dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) ini berkomitmen tetap menjaga kesinambungan operasinya. Sejak beroperasi 24 Mei 2012 sampai saat ini, Nusantara Regas tidak pernah berhenti beroperasi. Akan tetapi, diakui Hendra, memang operasinya belum mencapai 100 persen.

"Kita anggap dari bagian teknikal yang kita hadapi, ibarat mobil ada periode yang terjadi gangguan, tapi semuanya rata-rata sesuai 99,7 persen (beroperasi) kita maunya 100 persen. Kita tetap menjaga dalam range yang dikehendaki," pungkas dia.(mdk/bmo)

 Proyek pulau buatan Jakarta ancam keamanan pipa gas FSRU

PT Nusantara Regas (NR) meminta pemerintah untuk mengeluarkan peraturan terkait pengamanan pipa-pipa gas dengan adanya program pulau buatan yang dicanangkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pasalnya, pipa milik NR telah beroperasi dan mengalirkan gas ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Muara Karang milik PT PLN (Persero).

Direktur Utama Nusantara Regas Hendra Jaya mengatakan saat ini pihaknya telah mencoba untuk bernegosiasi dengan pihak Pemprov DKI terkait dengan rencana pulau buatan yang akan mengelilingi Provinsi DKI Jakarta tersebut.

"Kita mencoba negosiasi pemda. Ke depan akan ada 14 pulau buatan, di mana di antara pulau itu ada pipa-pipa milik CNOOC, ONWJ, PLN dan NR. Itu yang harus dihadapi," ujar dia kepada wartawan dalam acara kunjungan ke FSRU Jawa Barat, akhir pekan ini.

Direktur Teknik dan Operasional Nusantara Regas Nugroho Rachmadi mengatakan pembangunan pulau tersebut sedang menjadi perhatian NR. Pihaknya akan meminta pemerintah untuk mengeluarkan peraturan terkait pengamanan pipa-pipa tersebut.

"Tapi itu kebijakan Pemda, tentu kita memberi masukan keamanan operasional pipa tadi. Memang sudah ada komunikasi dengan pengembang pulau tersebut, kebetulan yang dekat dengan FSRU adalah pulau G," jelas dia.

Nugroho menambahkan pihaknya juga akan meminta Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM untuk mengeluarkan peraturan mengenai jarak antara pipa-pipa dan pulau buatan tersebut.

"Sudah kita bicarakan jarak dengan pipa, nanti pemanfaatan pantai jadi apa saja, karena berdekatan dengan pipa. Namun saat ini pipa sudah beroperasi, jarak ini ditentukan migas, paling tidak mereka tahu bahwa pipa Nusantara Regas sudah ada di situ," pungkas dia.(mdk/bmo)


    Merdeka  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More