blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label Beasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beasiswa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Februari 2011

Pemerintah Siapkan 1.000 Beasiswa ke LN

Dirjen Dikti Djoko Santoso (kiri) saat memberi sambutan dalam acara pemberian beasiswa dari GE Foundation yang diadakan Indonesian International Education Foundation (IIEF) di Jakarta, Rabu (14/7/10). (ANTARA/Rosa Panggabean/ed/nz/10. )

Makassar (ANTARA News) - Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Prof Joko Santoso mengatakan sejak 2008 pemerintah menyiapkan 1.000 beasiswa per tahun untuk belajar ke luar negeri.

"Beasiswa ke luar negeri ini diperuntukkan bagi 1.000 mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikannya ke luar negeri, dimanapun negara tujuan yang dipilih," kata Joko di sela-sela peresmian Pusat Bahasa Mandarin di Gedung Rektorat Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa.

Dia mengatakan, beasiswa dalam jumlah besar tersebut hendaknya dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa di Indonesia, termasuk menuntut ilmu di Nanchang University, China yang merupakan salah satu universitas ternama di dunia.

Selain beasiswa untuk warga negara Indonesia, lanjut dia, pemerintah juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa asing yang ingin belajar dan mengenal bahasa dan kebudayaan Indonesia.

"Kami juga menyediakan beasiswa untuk mahasiswa asing yang dinamakan beasiswa `Darmasiswa` untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia selama satu semester bagi mahasiswa di seluruh negara," katanya.

Sementara itu, Rektor Nanchang University, China Prof Zhou Wenbin pada kesempatan yang sama mengatakan, pihaknya terbuka untuk menerima mahasiswa dari seluruh dunia.

Dia mengatakan, perguruan tinggi terkemuka di Provinsi Jiangxi, China Selatan itu memiliki lima kampus dengan luas wilayah 537 hektare.

Jumlah Mahasiswa lokal dan dari berbagai negara kini mencapai 80 ribu orang mahasiswa yang menuntut ilmu pada 37 fakultas dengan bantuan 2.600 orang tenaga dosen. Dari jumlah tenaga dosen tersebut sebanyak 1.071 diantaranya merupakan professor.

"Nanchang University menekankan pentingnya menjalin kerja sama internasional dan saat ini telah menjalin hubungan kerja sama dengan 50 perguruan tinggi asing di seluruh dunia," katanya.(S036/B013)



ANTARAnews

Rabu, 08 Desember 2010

SEMBILAN PELAJAR KABUPATEN SUBANG BELAJAR KE JERMAN

Subang, 8/12/2010 (Kominfo-Newsroom) Sebanyak sembilan pelajar Kabupaten Subang berangkat untuk melanjutkan pendidikan ke Jerman, Sabtu (4/12), dengan beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Subang.

Sebelum berangkat, para pelajar tersebut mengikuti karantina penyesuaian selama 5 bulan, dan pelepasan kesembilan pelajar itu dilakukan oleh Bupati Subang, Eep Hidayat di aula rumah dinas Bupati Subang, Kamis (2/12) lalu.

Dalam sambutannya, Bupati mengharapkan supaya para pelajar tetap menjaga nama baik Indonesia, khususnya Kabupaten Subang di mata dunia. "Saya harap kalian tidak perlu gengsi menyebutkan Subang ketika ditanya asal kota," kata Bupati Eep.

Bupati juga berpesan, selain sebagai duta bangsa dan negara, mereka diharapkan bisa memberikan kesan baik tentang sosok muslim, karena sehubungan semua siswa yang diberangkatkan beragama Islam.

Pada kesempatan itu Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Subang Drs. H. Makmur Sutisna, M.Pd, memiliki harapan sama bahwa untuk menjaga hati disarankan para siswa tetap istiqomah dalam bersikap dan berakhlak pada pergaulan yang umumnya jauh berbeda dengan lingkungan sebelumnya.

“Dengan kehidupan yang umumnya atheis dan seks bebas, maka melalui sholat wajib dan sholat malam secara rutin bisa menjaga dari hal-hal yang tidak baik,” katanya.

Peserta bea siswa telah mengikuti rangkaian kursus persiapan bahasa untuk level A1, A2, A3 di pusat Kursus Bahasa Jerman Goethe Institut di Bandung dari 28 Juni s.d 21 Oktober 2010 dengan hasil rata-rata memuaskan. Sampai tahapan akhir, satu orang dinyatakan tidak lulus dengan alasan kendala individu menurut hasil diagnosa dokter RSUD Kabupaten Subang.

Kesembilan siswa tersebut ialah: Yulia Iskandar, Masiga Buana Juli, Adi Dwi Wibowo, Lilis Mulansari, Rahmah Mulyawati, Cevi Herdian, Rio Mathias M., Agus Gumilar dan Galuh Permana. (diskominfo subang/toeb)


Bipnewsroom

Jumat, 19 November 2010

Dibuka, Beasiswa Huygens ke Belanda!

Sebagai sebuah program beasiswa penuh, Beasiswa Huygens akan menanggung biaya kuliah serta biaya hidup selama menjalankan studi di Belanda.

KOMPAS.com - Pemerintah Belanda melalui Nuffic Neso Indonesia (NNI) kembali membuka kesempatan kepada para pelajar Indonesia meraih Beasiswa Huygens tahun akademik 2011/2012. Program beasiswa ini disiapkan untuk menjaring mahasiswa berprestasi dan berbakat yang sedang menempuh pendidikan di tahun terakhir program S-1 atau S-2, dan ingin melanjutkan studinya ke Belanda.

Beasiswa Huygens merupakan salah satu program beasiswa paling kompetitif di Belanda dan ditujukan hanya untuk para mahasiswa berprestasi dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Data NNI menunjukkan, Indonesia adalah salah satu negara yang masuk dalam penerima tertinggi program beasiswa ini. Pada 2010, dari 92 pelamar asal Indonesia, 12 orang di antaranya berhasil memperoleh Beasiswa Huygens.

Untuk periode 2011, NNI menetapkan syarat, pelamar harus masuk dalam jajaran 5 % yang terbaik berdasarkan IPK di program studi-nya di jenjang S-1. Beasiswa ini tidak mensyaratkan pengalaman bekerja terlebih dahulu, sehingga peserta fresh graduate pun diperbolehkan segera mendaftar.

Sebagai sebuah program beasiswa penuh, Beasiswa Huygens akan menanggung biaya kuliah serta biaya hidup selama menjalankan studi di Belanda. Beberapa persyaratan umum lain di antaranya adalah kelulusan di bawah satu tahun telah menerima admission letter dari salah satu universitas di Belanda. Maksimum usia pada saat program studi dimulai tak lebih dari 35 tahun, serta menerima nomination letter dari universitas yang dituju di Belanda.

Bagi yang berminat, batas akhir pendaftaran Beasiswa Huygens adalah 1 Februari 2011. Informasi terlengkap tentang program beasiswa ini sudah dapat diakses melalui http://www.nuffic.nl/huygens.


KOMPAS

Kamis, 18 November 2010

Situs BCF: Akses Beasiswa ITB Sampai Stanford

Beasiswa khusus bagi mahasiswa S1 yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.

Mahasiswa Stanford di Indonesia (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

VIVAnews - Bakrie Center Foundation (BCF) hari ini mulai meluncurkan situs baru untuk diakses khalayak ramai di Indonesia dan dunia. Situs BCF yang menyediakan informasi beasiswa di sejumlah universitas terkemuka, baik di dalam maupun luar negeri ini, bisa dikunjungi di alamat www.bakriecenterfoundation.com.

Pendiri BCF, Anindya N. Bakrie mengungkapkan situs ini merupakan alat komunikasi bagi sebuah sistem yang kini sedang dirintis oleh BCF.

"Ini adalah bentuk pemberdayaan dan komunikasi antarwilayah karena BCF bermitra dengan komunitas lokal dan dunia internasional," kata Anindya dalam jumpa pers peluncuran situs Bakrie Chair Foundation di Wisma Bakrie, Jakarta, Senin, 15 November 2010. "Ini penting, karena kami ingin menjawab tantangan besar yang dihadapi Indonesia untuk mampu menjadi motor di Asean."

Untuk program beasiswa itu, BCF telah bermitra dengan Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Pertanian Bogor. Di mancanegara, kerja sama dijalin dengan Nanyang Technological University Singapura, dan Stanford University, California.

Beasiswa yang disediakan BCF adalah khusus bagi mahasiswa S1 yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang master atau S2.

Untuk universitas di Indonesia, besaran beasiswa senilai Rp45 juta per tahun. Sedangkan untuk universitas di luar negeri hingga mencapai US$50 ribu per tahun. Beasiswa mencakupi: biaya kuliah, biaya buku, tunjangan biaya hidup, dan biaya penelitian serta publikasi.

BCF akan mengalokasikan 10 persen dana beasiswa untuk studi di luar negeri. "Kami berharap ini menjadi rujukan di Asean," kata Anindya.

Soal cakupan beasiswa, CEO BCF Imbang J. Mangkuto menjelaskan, "Kami menanggung semua komponen beasiswa yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk selesai tepat waktu."

Selain soal beasiswa, menurut Anindya, situs ini juga akan dikembangkan untuk menjawab berbagai informasi terkini di berbagai bidang yang saat ini belum terstruktur dan masih tersebaga di berbagai universitas ternama. Melalui BCF ini, Anindya berharap dapat mengumpulkan para rektor, dosen, dan mahasiswa untuk saling bertemu dan bertukar pikiran memajukan capacity building manusia Indonesia.


VIVAnews

Bakrie Center & Singapura Dirikan Think Tank

Setelah Carnegie, AS; kini didirikan di Nanyang Technological University.

Anindya Bakrie di Carnegie Endowment, Washington, D.C. (Hersubeno Arief)

VIVAnews – Kamis pagi, 18 November 2010, akan berlangsung peluncuran Bakrie Professorship in Southeast Asia Policy dan Bakrie Graduate Fellowship di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University. Acara bertempat di Chinese Heritage Center, Singapura. Bertindak sebagai tuan rumah adalah RSIS. Nama fakultas ini berasal dari nama menteri luar negeri Singapura yang pertama dan Perdana Menteri Singapura 1980-85, Sinnathamby Rajaratnam.

Sore hari, acara dilanjutkan dengan Kuliah Umum Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie berjudul "The World in Indonesia, Indonesia in the World". Turut memberikan sambutan adalah Dekan RSIS, Barry Desker.

Bakrie Fellowship dan Professorship merupakan program dari Bakrie Center Foundation (BCF)—lembaga nirlaga yang dibentuk Kelompok Usaha Bakrie dan memfokuskan diri di bidang pendidikan dan riset.

Dijelaskan pendiri dan ketua umumnya, Anindya Novyan Bakrie, 36 tahun, BCF memiliki dua program. Yang pertama adalah Bakrie Graduate Fellowship. Ini program beasiswa untuk mahasiswa tingkat pascasarjana. Program kedua adalah lembaga riset kebijakan. Bekerja sama dengan RSIS, badan kajian ini dinamakan Bakrie Professorship for Southeast Asian Studies yang khusus bergerak di bidang riset kebijakan strategis di kawasan Asia Tenggara.

Yang menarik, pendanaan lembaga ini bukan hanya disokong Bakrie Center, tapi juga oleh Pemerintah Singapura. Sejak awal, kata Anin (nama panggilan Anindya), skema dana abadinya disepakati berupa matching-fund. Pemerintah Singapura menyalurkan dana dengan formula one to one. Untuk setiap dolar yang disumbangkan Bakrie Center, Pemerintah Singapura akan urun dana dengan nilai yang sama.

Menjawab pertanyaan wartawan soal jumlahnya, Anin mengatakan, “Kami menyumbangkan Sin$3 juta (sekitar Rp18 miliar) untuk dana abadi, Pemerintah Singapura juga berkontribusi sejumlah itu.” Dana Bakrie Center bukan diambil dari bujet CSR kelompok usaha Bakrie, tapi dari dana pribadi keluarga Bakrie.

Adapun beasiswa Bakrie Graduate Fellowship diberikan bagi mahasiswa untuk menempuh kuliah jenjang master baik di dalam maupun luar negeri. Di Indonesia, Bakrie Center telah menjalin kerjasama antara lain dengan Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Gadjah Mada. Sedangkan di luar negeri dengan Stanford University di Amerika Serikat; dan Nanyang Technological University di Singapura.

"Insya Allah, kami akan memberikan 1.000 beasiswa dalam kurun waktu 10 tahun," kata Anin, dalam jumpa pers di Singapura, Rabu, 17 November 2010. Komposisinya, 90 persen di universitas dalam negeri, dan sisanya untuk perguruan tinggi di manca negara.

Besaran beasiswa untuk universitas dalam negeri adalah Rp35-45 juta per tahun, diberikan sampai lulus. Sedangkan untuk universitas di luar negeri sampai US$50 ribu. Beasiswa meliputi uang kuliah, biaya hidup, buku, dan riset.

Apa syaratnya? “Cuma satu,” kata Anin, “Bersedia kembali ke Indonesia dan membangun Indonesia.”

Menurut CEO Bakrie Center, Imbang J. Mangkuto, program beasiswa ini telah direalisir. Untuk angkatan pertama di tahun ajaran 2010-2011, beasiswa diberikan kepada 30 mahasiswa.

Aburizal Bakrie, ayah Anin, yang juga hadir di jumpa pers mengatakan ia mendukung inisiatif ini "karena in line dengan apa yang saya rintis sewaktu menjadi Menko Kesra.” Ketika itu, menyadari keterbatasan anggaran pemerintah, Aburizal mengajak para pengusaha nasional untuk memberikan beasiswa untuk mengirim para mahasiswa berprestasi, tapi tak mampu, ke universitas-universitas di dalam maupun luar negeri.

Acara peluncuran BCF di Singapura ini merupakan kelanjutan dari peresmian program Bakrie Chair for Southeast Asian Studies yang bekerja sama dengan Carnegie Endowment for International Peace, salah satu think tank berpengaruh di Washington, D.C., Amerika Serikat pada akhir Juli lalu. Hadir di acara ini antara lain adik tiri Presiden Barack Obama, Maya Soetoro.

Setelah di AS dan Singapura, sedang dijajaki pendirian pusat kajian sejenis di Australia dan China.

Kenapa Bakrie Center

Motivasi Anin mendirikan Bakrie Center datang dari pengalaman pribadinya. Kakeknya, Ahmad Bakrie, adalah seorang pengusaha otodidak yang tak sempat mengenyam pendidikan tinggi. Generasi kedua Bakrie lulus sebagai sarjana. Aburizal Bakrie, misalnya, merupakan insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung. Generasi ketiga Bakrie rata-rata mengenyam pendidikan pasca sarjana. Anin sendiri memegang gelar Master of Business Administration dari Stanford University.

“Saya berpikir, sekarang ini, kenapa kita harus menunggu sampai tiga generasi untuk bisa sekolah pasca sarjana,” katanya.

Apalagi, statistik menunjukkan Indonesia masih jauh tertinggal dibanding negara lain di Asia. Negeri ini sekarang hanya melahirkan sekitar 20 ribu sarjana S-2 setahun. Bandingkan dengan India yang 750 ribu dan China yang 800 ribu.

Itu soal beasiswa. Soal lembaga kajian, Anin melihat Indonesia kian menempati posisi strategis, bukan hanya di kawasan ASEAN, tapi juga dunia.

PDB Indonesia sekarang mencapai US$750 miliar atau sekitar 40 persen dari total perekonomian ASEAN. Tak lama lagi, banyak ekonom yang memprediksi, PDB Indonesia sudah akan menjadi sekitar US$1 triliun atau setara dengan 50 persen lebih perekonomian ASEAN.

Merupakan kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia kini menjadi salah satu anggota G-20, forum 20 negara yang dianggap merepresentasikan kekuatan ekonomi dunia. Dalam percaturan geopolitik, Indonesia dan ASEAN juga dianggap kian penting buat Amerika dan Rusia untuk mengimbangi kekuatan China yang makin dominan. Rincian soal ini ditulis Anin di blog pribadinya.

Masalahnya, Aburizal menambahkan, “Dalam percaturan global saat ini, Indonesia masih berada di bawah radar. Karena itulah, supaya Indonesia bisa segera masuk dalam radar dunia perlu ada pusat kajian yang bisa mempengaruhi para pengambil kebijakan di Washington, D.C. dan Singapura ini.”

Untuk mengantisipasi tantangan global ke depan itulah, kata Anin, pusat-pusat kajian kebijakan itu didirikan. Ada tiga wilayah yang akan digarap: capacity building, perdagangan internasional yang adil dan berimbang, serta institusionalisasi demokrasi.

“Pertumbuhan ekonomi penting, tapi sustainability lebih penting lagi. Karena itu pengembangan demokrasi di kawasan ini sangatlah vital,” kata Anin menutup pembicaraan.


VIVAnews

Kamis, 04 November 2010

25 Pelajar Indonesia Raih Beasiswa ASEAN

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Dua puluh lima pelajar lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Indonesia mendapat "Beasiswa ASEAN" dari Pemerintah Singapura untuk belajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga pra-universitas selama empat tahun di Singapura.

"Beasiswa untuk pelajar tingkat menengah Indonesia dari Pemerintah Singapura dalam program Beasiswa ASEAN sudah diberikan sejak 1991 sehingga sudah lebih dari 500 pelajar Indonesia yang mendapatkan beasiswa ini," kata Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Ashok Kumar Mirpuri pada Rabu di Jakarta.

Menurut Ashok, beasiswa itu terus dikucurkan karena kedua negara sama-sama mendapatkan manfaat. "Singapura mendapat manfaat karena para penerima beasiswa membawa ide-ide baru sementara mereka juga mendapat manfaat karena memperoleh pengalaman baru belajar bersama para pelajar dari berbagai negara seperti Asia Tenggara, Jepang, China, dan negara lain, sehingga saling menguntungkan," tambah Ashok.

Ashok mengatakan bahwa Singapura punya tradisi pendidikan yang bagus sehingga menolong para pelajar mendapatkan suasana belajar yang dapat memicu kreativitas. "Satu hal yang menarik, letak Singapura yang tidak terlalu jauh dengan Indonesia menjadikan anak-anak berusia 14-16 tahun itu tidak terlalu jauh dengan orang tua dan makanan Indonesia pun banyak tersedia di Singapura, jadi anak-anak dan keluarga tidak perlu khawatir," kata Ashok.

Seleksi beasiswa sudah dimulai sejak Juni 2010 dengan menyeleksi hasil Ujian Nasional (UN) para pelajar, pengumuman berlangsung pada Oktober 2010, dan pemberangkatan adalah pada 11 November.
Para pelajar yang berasal dari Jakarta, Medan, Surabaya, dan Pontianak itu mendapat beasiswa yang mencakup uang sekolah, ongkos penginapan, satu kali ongkos pesawat pergi pulang Jakarta-Singapura, asuransi kesehatan, dan juga biaya kursus persiapan sebelum para pelajar mulai bersekolah.

"Senang karena mendapat beasiswa ini karena bisa mendapat pengalaman baru, belajar bahasa Inggris, dan Singapura kan sudah terkenal karena sistem pendidikannya bagus," kata Angga, seorang penerima beasiswa yang bercita-cita menjadi dokter.

Menurut alumni penerima beasiswa tingkat universitas (bukan tingkat sekolah menengah), Izhari Mawardi, Singapura memang unggul sistem pendidikannya, terutama dalam menghubungkan sektor pendidikan dan industri. "Salah satu pengalaman berharga yang saya dapatkan adalah bisa magang di salah satu perusahaan multinasional asing terkenal di Singapura karena ada pengaturan magang antara universitas dan perusahaan," kata Izhari yang juga aktif di organisasi mahasiswa Nanyang Technology University saat masih menjadi mahasiswa pada 2002-2006.


Republika

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More