blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label Fauna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fauna. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2016

Badak Sumatera di Kutai Barat dalam Kondisi Terancam

imageKementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperkirakan masih terdapat 14 badak Sumatera di Kutai Barat, Kalimantan Timur, yang membutuhkan perlindungan. (ANTARA FOTO/Sugeng Hendratno) ★

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperkirakan masih terdapat 14 badak Sumatera di Kutai Barat, Kalimantan Timur, yang membutuhkan perlindungan segera. Meski dilaporkan sehat, kondisi ke-14 badak terancam dengan rusaknya habitat mereka.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Bambang Dahono Adji mengatakan ke-14 badak tersebut terpencar di bagian hutan sebelah utara dan selatan Kutai Barat.

"Sebanyak 12 ditemukan di wilayah utara dan 2 lainnya di wilayah selatan," kata Bambang di Jakarta, Rabu (5/4).

Bambang mengatakan meski dilaporkan sehat kondisi ke-14 badak Sumatera tersebut sangat terancam. Hal itu disebabkan rusaknya habitat di sekitar mereka dengan adanya pertambangan serta Hutan Tanaman Industri (HTI).

"Untuk badak yang tersisa di Kutai Barat itu memang harus segera diamankan karena kiri kanannya jadi lahan tambang, HTI dan Kavling," kata Bambang.

Untuk menyelamatkan satwa tersebut, Bambang mengatakan telah menbentuk Rhino Protection Unit (RPU) yang terdiri dari 7 orang. Mereka mewakili masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerintah daerah (Badan Konservasi Sumber Daya Alam).

Selain itu, pemerintah juga telah meminta bantuan dokter ahli dari Singapura dan Australia untuk membantu proses karantina badak tersebut.

"Saya sudah mengirimkan surat kepada bea cukai untuk meloloskan perlengkapan apapun yang dibutuhkan demi proses karantina," kata Bambang.

Pemerintah, ujarnya, juga akan menargetkan selesainya suaka Badak (sanctuary) seluas 200 hektar di wilayah Kutai Barat pada Mei tahun ini. Selama ini, pemerintah telah memiliki dua tempat suaka badak yakni di Ujung Kulon dan Way Kambas.

Sementara itu, Widodo S Ramono dari Yayasan Badak Indonesia (YABI) mengatakan tim RPU pada dasarnya bekerja untuk berpatroli di seluruh kawasan dan mempertanggungjawabkan hasil tersebut.

Tak hanya itu, ujarnya, tim juga akan mencatat data di lapangan dari hasil Patroli Tapak Badak untuk mengetahui pasti lokasi beradanya badak.

"Kami juga akan mencatat pelanggaran yang dilakukan masyarakat terhadap satwa dilindungi untuk kemudian dilaporkan ke aparat penegak hukum," kata Widodo.

Widodo menjelaskan di Kutai Barat masyarakatnya terbiasa melakukan penjeratan terhadap satwa dilindungi seperti badak.

"Menjerat badak menjadi bagian hidup di sana," kata Widodo.

Oleh karena itu, dia mengatakan kondisi badak sudah sangat terancam dan satu satunya jalan adalah menyelamatkannya. Adapun, Anwar Purwoto, Direktur WWF Sumatera-Kalimantan mengatakan proses penyelamatan badak tidak bisa dalam waktu singkat.

"Prosesnya lama, ada identifikasi jalur dulu, tidak serta merta lihat badak di kamera lalu ditangkap."

Anwar menjelaskan untuk metode penyelamatan yang digunakan tim RPU di Kutai adalah pit trap atau lubang jebakan, alih-alih bius. Hal itu disebabkan pit trap dinilai lebih aman daripada menggunakan bius yang belum tentu langsung membuat ambruk badak.

"Kalau dibius dan tidak langsung ambruk justru malah lebih berbahaya bagi badak itu. Kalau pit trip badak akan jatuh di atas kasur," katanya menjelaskan.

Sebelumnya, seekor badak betina Sumatera di Kutai Barat, meninggal setelah mengalami koma pada Selasa (5/4) dini hari. Najaq, nama badak tersebut, diduga meninggal akibat luka infeksi pada kaki kirinya.

Kematian Najaq dinilai kehilangan besar oleh pemerintah dan LSM lingkungan hidup. Sebabnya, populasi badak Sumatera di Indonesia diperkirakan hanya mencapai 100 yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. (yul)

  CNN  

Selasa, 03 Maret 2015

Badak putih lahir di Taman Safari Bogor

Ilustrasi - Badak putih (Ceratotherium simum) (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Koleksi satwa di lembaga konservasi "ex-situ" (di luar habitat alami) satwa liar Taman Safari Indonesia, Cisarua, Kabupaten Bogor, bertambah dengan lahirnya seekor badak putih (Ceratotherium simum) jantan.

"Sebenarnya bayi badak putih jantan itu lahir normal pada Selasa, 10 Februari 2015 sekitar pukul 17.30 WIB, namun dengan alasan perawatan intensif baru kami sampaikan ke publik luas saat ini," kata Direktur Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua Jansen Manansang di Bogor, Jawa Barat, Selasa.

Didampingi Humas TSI Cisarua Yulius H Suprihardo, ia menjelaskan bahwa bayi itu merupakan anak dari pasangan badak putih Rimba dan Merdeka.

Badak kecil dengan berat kurang lebih 75kg itu merupakan kelahiran kedua di TSI setelah Merdeka yang lahir pada 15 Agustus 2003 silam.

Dengan kelahiran tersebut, saat ini TSI memiliki enam ekor badak putih, terdiri atas empat ekor jantan serta dua betina.

Ia mengatakan kelahiran satwa darat terbesar kedua setelah gajah di TSI --yang juga merupakan objek wisata nasional itu-- menjadi kebanggaan tersendiri bagi TSI.

Jansen Manansang berharap kebanggan tersebut bukan hanya milik "keeper" (perawat satwa) maupun tim medis TSI saja tetapi juga bagi dunia.

"Masyarakat juga diharapkan ikut menjaga serta melestarikan spesies ini, mengingat keberadaan mereka yang makin hari semakin terdesak akibat perburuan liar," katanya.

Sementara itu, Yulius H Suprihardo menambahkan pemantauan tiada henti dilakukan sejak 14 September 2013 pada badak putih betina bernama Rimba (13 tahun) yang diketahui melakukan perkawinan dengan Merdeka yang juga lahir di TSI.

Dengan masa birahi selama sepekan, perkawinan tersebut berlangsung satu hari penuh, rata-rata terjadi setiap 30 menit.

Dua bulan setelah masa kawin mulailah dilakukan pengamatan siklus 30 hari.

Pemantauan dengan alat USG tersebut bukan hanya dilakukan oleh tim dari TSI seperti dokter hewan, staf riset dan konservasi, kurator, serta para "keeper" saja, namun juga melibatkan ahli, yakni drh. Agil dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Selain itu di area kandang juga ditempatkan beberapa Close Circuit Television (CCTV) yang dimaksudkan untuk memantau keadaan badak putih tersebut, baik sebelum maupun sesudah kelahiran.

Kegiatan pemantauan ini dilakukan selama beberapa waktu oleh tim dari TSI.

Saat ini, bayi jantan tersebut masih ditempatkan di kandang karena harus menyusu pada induknya setiap 30 menit.

Untuk menambah nutrisi, "keeper" badak putih Poniran (40) menambahkan pakan berupa kacang-kacangan, wortel, dedaunan, pisang, serta biasanya diberikan rumput gajah sebanyak 100 kg per-harinya.

Pemantauan pun terus dilakukan dengan melibatkan lebih dari lima "keeper" yang melakukan penjagaan siang-malam secara bergiliran.

Poniran mengaku rasa lelahnya menunggu terbayar dengan kelahiran satu bayi satwa bekulit tebal itu.

Pria yang telah bekerja untuk TSI sejak tahun 1990 ini merasa senang menjadi saksi kelahiran bayi satwa yang sekarang keberadaannya makin terancam punah.

  Antara  

Dua Harimau Sumatera berhasil dikembalikan ke alam liar

Ilustrasi - Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (FOTO ANTARA/Eric Ireng)

Dua ekor harimau sumatera (Panthera Tigris Sumaterae) telah berhasil dilepasliarkan, Selasa, setelah menjalani masa rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) yang terletak di dalam area konservasi alam Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Pelepasliaran dua harimau sumatera yang bernama Panti dan Petir, berlangsung cukup lancar dengan disaksikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Selain itu hadir pula Duta Besar Norwegia Stig Ingemar Traavik, Duta Besar Perancis Corrine Breuze dan Mantan Wakil Menteri Dino Patti Djalal.

Pelepasliaran dilakukan di dalam area konservasi alam seluas kurang lebih 50.000 hektar di TNBBS.

Panti yang sebelumnya pernah dilepasliarkan pada 2010 langsung melesat ke hutan tak lama setelah kandangnya dibuka. Hal ini berbeda dengan Petir.

Saat kandang dibuka, Petir berjalan perlahan sambil memantau. Ia lalu menuju ke sebuah pohon dan duduk di bawahnya. Kadang ia mengitari pohon lalu duduk lagi.

Ia bahkan tidak memperdulikan beberapa babi di sekitar yang sudah dipersiapkan.

Proses tersebut berlangsung sekitar 15 menit lalu Petir menghampiri babi didekatnya. Namun, ia hanya mendekatinya lalu memilih pergi ke hutan.

Panti dan Petir merupakan bagian dari sembilan Harimau Sumatera yang direhabilitasi di area Tiger Rescue Center TWNC yang satu persatu dilepasliarkan.

Dokter Hewan Taman Safari Bongot Huaso Mulia mengatakan pelepasliaran harimau berpengaruh besar bagi ekosistem hutan karena berperan menjaga rantai makanan di alam liar.

"Ketika harimau kembali ke alam liar, rantai makanan tidak terputus. Hewan-hewan herbivora sebagai mangsa utamanya terseleksi serta mempengaruhi rumput dan yang terkecil," kata Drh Bongot.

Pelepasliaran ini merupakan pelepasliaran ketiga. Panti merupakan ibu dari Petir yang pernah dilepasliarkan pada tahun 2010.

Panti adalah salah satu dari lima Harimau Sumatera asal Aceh yang ditranslokasi untuk kemudian kondisinya di bawah pengawasan ahli-ahli dan dokter satwa dari Taman Safari Indonesia di dalam area Tiger Rescue Center TWNC.

Pada awal Oktober 2011, Panti terlihat lagi di sekitar PRS TWNC dengan kondisi kaki terluka di bagian telapak kakinya. Tim Keeper TWNC menangkap Panti untuk segera dirawat lukanya.

Setelah sekitar tiga minggu dalam perawatan ternyata Panti sedang hamil dan pada tanggal 26 Oktober 2011 Panti melahirkan tiga ekor anak harimau Bintang, Topan, dan Petir oleh Ibu Ani Bambang Yudhoyono.

Petir merupakan salah satu anak Panti yang kondisinya sudah siap dilepasliarkan. Diusia tiga tahun tiga bulan, pertumbuhan Petir jauh lebih pesat dan sehat dibandingkan dua saudaranya dengan bobot saat ini sekitar 120 kg.

Pelepasliaran pertama dilakukan pada 22 Juli 2008 setelah menjalani rehabilitasi hampir satu bulan. Pangeran dan Agam dilepasliar ke alam bebas untuk melanjutkan hidupnya.

Kemudian, pada 22 Januari 2010, TWNC kembali melepasliar dua ekor Harimau Sumatera, Panti dan Buyung.

TNWC mulai aktif melakukan konservasi flora dan fauna sejak 2007 yang dipercaya sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam mengelola sebagian area konservasi alam seluas kurang lebih 50.000 hektare di Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Untuk pelepasliaran kali ini, TWNC yang berada di bawah naungan Yayasan Artha Graha Peduli itu menghabiskan total dana sebesar 11 miliar.

  Antara  

Jumat, 08 Agustus 2014

Gara-gara Monyet Selfie, Dua Pihak Bersitegang

Pengambilan Foto di Indonesia Gara-gara Monyet Selfie, Dua Pihak BersitegangFoto monyet ini membuat David Slater dan Wikimedia bersitegang (Mirror)

GLOUCESTERSHIRE Sebuah foto seekor monyet selfie membuat Wikimedia dan seorang fotografer asal Gloucestershire bersitegang. Fotografer itu meminta Wikimedia untuk menghapus foto tersebut dari websitenya karena belum membayar royalti yang mendapat penolakan dari Wikimedia.

Melansir Mirror, sang fotografer, David Slater mengatakan, dia mengalami kerugian sekitar 10 ribu Pounds akibat Wikimedia. Situs berbagi informasi itu menyatakan Slater tidak memiliki hak cipta atas foto tersebut, karena foto yang diambil oleh sang monyet dan bukan oleh Slater.

“Mereka (Wikimedia) telah menolak permintaan saya agar mereka menarik foto tersebut dari situs mereka. Wikimedia menolak, karena menurut mereka foto itu diambil oleh seekor monyet, sehingga saya tidak memiliki hak cipta,” ucap Slater.

"Itu membuat saya sangat marah. Saya seorang fotografer profesional, ini mata pencaharian saya. Anda mengambil 20 ribu gambar untuk mencari gambar semacam ini, gambar yang bisa menjadi sumber pendapatan saya,” Slater menambahkan.

Walaupun demkian Slater masih tetap merasa bahagia, karena foto tersebut membawa senyuman kepada setiap orang yang melihatnya. Slater menyatakan, gambar tersebut diambil pada tahun 2011 lalu, saat dirinya sedang melakukan perjalanan ke Indonesia untuk memotret kehidupan monyet jambul hitam.(esn)

  sindo  

Minggu, 23 Februari 2014

Indonesia Menjadi Suaka Pari Manta Terbesar di Dunia

http://i.brta.in/images/2014-02/50680a4a8629acb00a0aa2daa18decb1.jpgJakarta Perairan di Indonesia resmi menjadi kawasan konservasi pari manta terbesar di dunia dalam upaya melindungi ikan tersebut dari ancaman kepunahan sekaligus mendongkrak pemasukan dari wisata bahari.

Penetapan perairan Indonesia seluas 5,8 juta kilometer persegi untuk menjadi kawasan suaka pari manta dimungkinkan setelah dikeluarkan peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan pada 28 Januari lalu yang melarang penangkapan dan ekspor pari manta.

"Indonesia sekarang adalah penyedia wisata pari manta terbesar kedua di dunia. Penerimaan tahunan dari industri ini mencapai US$15 juta per tahun," ungkap Agus Dermawan, pejabat di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jumat (21/2/2014).

Kajian LIPI dan sejumlah organisasi internasional menyebutkan dalam keadaan hidup satu ekor pari manta bisa menyumbang penerimaan hingga 1 juta US dollar untuk menarik wisatawan.

Cegah penurunan populasi

Jika ditangkap, ikan bersayap dengan panjang maksimum 7,5 meter hanya bernilai antara 40 hingga 500 US dollar.

Potensi penerimaan yang sangat besar tak lepas dari besarnya minat turis membayar harga tinggi untuk bisa berenang bersama pari manta di laut lepas.

Tiene Gunawan, direktur organisasi Conservation International Indonesia, mengatakan pemerintah terkejut dengan tingginya nilai wisata wisata pari manta.

"Ini alasan yang sangat kuat," kata Tiene Gunawan seperti dikutip kantor berita Associated Press.

Setahun lalu pemerintah Kabupaten Raja Ampat di Papua mengeluarkan peraturan yang sama untuk melindungi pari manta. Sejumlah kalangan berharap peraturan tentang pari manta ini bisa mencegah penurunan spesies ikan ini.

Pari manta diburu antara lain untuk memenuhi permintaan dari Cina yang menggunakan ikan ini sebagai bahan obat tradisional.

Selain Indonesia yang telah melarang penangkapan pari manta di antaranya Australia, Ekuador, Uni Eropa, Meksiko, Selandia Baru, dan Filipina.[AP/BBC Indonesia]



  ♞ Kompas  

Senin, 16 Desember 2013

Spesies Baru Komodo Ditemukan di NTT

Spesies Baru Komodo Ditemukan di NTT
Komodo
Kupang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Nusa Tengga Timur menemukan spesies baru komodo. Spesies baru binatang bernama latin Varanus komodoensis itu ditemukan di tiga lokasi di Pulau Flores. "Saat ini kami sedang melakukan penelitian terhadap spesies sejenis komodo tersebut," kata Kepala Balai KSDA NTT Wiratno, Senin, 16 Desember 2013.

Spesies sejenis komodo itu ditemukan di tiga lokasi, yakni Pulau Antaloe dan Kecamatan Riung di Kabupaten Ngada, serta Desa Pota di wilayah Utara Kabupaten Manggarai Timur. Kadal raksasa yang ditemukan itu sangat mirip dengan komodo yang berada di Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Petugas Balai telah mengambil sampel darah binatang mirip komodo itu untuk dilakukan penelitian. "Kami telah mengambil sampel darahnya untuk diteliti balai besar di Jakarta guna memastikan spesies yang baru ditemukan itu sejenis komodo yang berada di TNK Pulau Komodo," katanya.

Menurut dia, berdasarkan pengamatan Balai KSDA NTT selama beberapa bulan di habitat dari spesies tersebut, pola hidupnya sangat mirip dengan komodo yang berada di TNK. Di antaranya spesies itu memiliki lidah yang panjang, berwarna kuning, dan bercabang. Selain itu, ujar Wiratno, spesies ini juga mempunyai inteligensi yang bagus. Ini terlihat pada saat berburu atau mencari mangsa. Binatang ini memburu rusa, kerbau, dan babi hutan.


  Tempo  

Senin, 09 Desember 2013

Ikan Mirip Ular Ditemukan di Bangka

Bangka Hampir tiga minggu terakhir ini, masyarakat Bangka dihebohkan dengan cerita soal penemuan ikan aneh di Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Bangka Selatan.

Berdasarkan informasi yang terhimpun, ikan tersebut berkepala seperti ikan gabus dengan tubuh ikan kelik atau lele. Saat dikunjungi akhir pekan lalu, ikan aneh tersebut masih hidup dipelihara di dalam kolam.

Penangkap ikan yang masih sebangsa ikan belut tersebut adalah Baijuri (51). Dia adalah warga Ranggung, Kecamatan Payung, Bangka Selatan, Bangka Belitung.

"Ikan ni iniku (saya) dapat, masuk njep (bubu, perangkap ikan yang dibuat dari bambu) yang ku pasang di Sungai. Hampir tiga minggu dak ku pereh (tidak datangi) setelah dipasang njap to (itu). Tau-tau ade ikan aneh ni (tahu-tahu ada ikan aneh ini) di dalamnya," ujar bapak yang memiliki tiga anak ini.


  Kompas  

Jumat, 22 November 2013

LIPI temukan biota laut berbahaya di Teluk Ambon

Ilustrasi Biota Laut
Ambon - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ambon memperingati adanya biota laut berbahaya seperti kerang dan ikan akibat penemuan plankton beracun di teluk Ambon.

"Hasil penelitian yang dilakukan Pada Mei - Juni 2013 ditemukan species plankton beracun atau sel alga beracun atau Pyrodinium sp di seputar teluk Ambon sehingga warga kota harus mewaspadai biota laut berbahaya," kata peneliti LIPI Ambon, Yosmina Tapilatu, Kamis.

Menurut dia, penelitian tersebut akan dilakukan berkala. Hasil penelitian ditemukan species plankton tidak dalam jumlah banyak tetapi harus menjadi perhatian warga.

Plankton tersebut dapat menyebabkan kematian massal biota laut, penurunan kualitas perairan, kerusakan ekosistem dan keracunan pada manusia.

Dikatakannya, sel berbahaya Pyrodinium dan plantkon ditemukan di Teluk Ambon pada 1994, perkembangannya kembali diamati oleh LIPI Ambon, pada Juli 2012 karena mulai tumbuh subur akibat musim penghujan.

"Masyarakat harus tahu alga jenis ini, karena tidak meracuni manusia secara langsung, tetapi melalui biota laut lainnya yang sudah terinfeksi olehnya. Kelimpahan selnya juga tidak bisa dihentikan begitu saja. Sejauh ini LIPI Ambon belum bisa mengukur kadar toksin dari kelimpahan sel Pyrodinium di Teluk Ambon," katanya.

Yosmina menjelaskan, plankton bahaya terjadi pada saat manusia mengkonsumsi ikan dan produk laut lainnya, terutama kerang karena tingkat akumulasi racun pada kerang sangat tinggi.

Pihaknya, meminta perhatian serius pemerintah dan warga akan bahaya plankton beracun. Perhatian warga, ditunjukkan dengan mengamati perubahan warna laut menjadi kemerahan atau kekuningan, kehijauan, oranye dan kecoklatan.

"Warna air laut yang tidak tercemar species berbahaya yakni jerih dan tidak melebihi ambang batas, sehingga harus menjadi perhatian warga kota," katanya.

Ia menambahkan, pyrodinium menginfeksi biota laut melalui air, Plankton Dino Fragilata bersemayam di dalam daging biota laut, seperti ikan dan menyebabkan kematian hewan itu.

Manusia yang mengkonsumsi ikan-ikan mati akibat Plankton Dino Fragilata, juga akan mengalami keracunan dan bisa menyebabkan kematian.

"Keberadaan Phytoplankton itu dapat menyebabkan hilangnya beberapa habitat ikan-ikan tertentu, khususnya yang memiliki radar terhadap toksin, mereka cenderung menghindar ke tempat lain," ujarnya.


  Antara  

Kamis, 03 Oktober 2013

Elang Brontok Dilepasliarkan

Elang Brontok
Elang Brontok (raptorindonesia.org)
YOGYAKARTA -- Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta Amy Nurwati, Rabu (2/10), melepasliarkan seekor elang brontok (spizaetus cirrhatusi) di kawasan Hutan Adat Wonosadi, Dusun Duren, Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul, DIY.

Pelepasliaran ini dikarenakan elang jenis ini sudah mengalami penurunan populasi. Selain melepas elang brontok, Amy bersama Direktur Utama Gembira Loka Zoo (GLZoo) KMT A Tirtodiprojo alias Joko, juga melepas 250 ekor burung, seperti pipit, kultlang, deruk dan burung puter.

Dijelaskan Amy, elang brontok merupakan salah satu kekayaan keanekaragaman hayati yang persebarannya antara lain di Pulau Jawa.

Namun kini populasinya semakin berkurang akibat kerusakan hutan dan habitatnya, serta ulah manusia. Padahal, kata Amy, jenis elang brontok termasuk satwa yang dilindungi undang-undang.

Menurut dia, elang brontok jantan yang dilepasliarkan ini seorang warga Sleman yang menyerahkan ke BKSDA, pada 12 April 2010 lalu.

Selanjutnya, BKSDA Yogyakarta menitipkan ke Gembira Loka Zoo selama lima bulan, sebelum dilepasliarkan. Ini merupakan salah satu upaya BKSDA mempertahankan populasi elang.

"Karena itu kami sangat berharap masyarakat dengan penuh kesadaran menyerahkan elang yang dipelihara secara individu. Nantinya kami titipkan ke lembaga konservasi," harap Amy.

Dia menilai elang yang dilepasliarkan mampu bertahan hidup di alam liar, setelah menjalani serangkaian pelatihan menangkap mangsa. Sedangkan dipilih Gunungkidul sebagai pelepasliaran, karena kawasan hutan tersebut merupakan habitat elang brontok.

"Berdasarkan survey kami, di lokasi ini ada 4 ekor elang brontok dan sarangnya," tuturnya.

Amy mengatakan, untuk menyelamatan satwa predator elang brontok dari kepunahan butuh keterlibatan semua pihak. Maka perlu upaya perlindungan dari pemerintah untuk kelangsungan hidup satwa ini.

Sementara Joko menyatakan dukungannya atas pelepasliaran elang brontok ini karena GLZoo sendiri salah satu fungsinya melestarikan kehidupan satwa. "Jadi, satwa bukan saja dipelihara secara in-situ, tapi ex-situ juga dilakukan," katanya.

Dengan dilepasliarkan elang brontok ini diharapkan akan berjodoh dengan elang sejenis yang telah ada di hutan setempat, sehingga populasi satwa ini akan berkembangbiak. Dan, masyarakat termasuk pengunjung hutan setempat bisa melihat kehidupan elang itu sendiri.

"Elang ini bisa berubah warna menyesuaikan kondisi lingkungan, dari semula warna terang menjadi gelap. Ini untuk melindungi diri," katanya.


  Republika 

Sabtu, 07 September 2013

Warga Jepara tangkap macan tutul Phantera Pardus

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTIU2LriSVa-b3qbhHkkXhxI5xIHqPDx648zlbndhGA2CNjFMZUjg
Ilustrasi
Seekor macan tutul jenis Phantera Pardus, menyasar ke perkampungan penduduk, di Lereng Gunung Muria, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng). Saat ini, macan itu telah dievakuasi ke Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng.

"Macan itu terperangkap di rumah perkampungan, di Lereng Gunung Muria, Kabupaten Jepara," ujar Kepala Seksi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah Johan Setiawan, kepada wartawan, Jumat (6/9/2013).

Ditambahkan dia, pihaknya bersama tim dari KSDA Jawa Tengah, berangkat dari Semarang menuju lokasi terperangkapnya macan itu. Lokasinya di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara.

“Macan itu terperangkap jebakan warga. Sebelumnya ada informasi beberapa ternak hilang. Evakuasi juga melibatkan dokter hewan untuk memeriksa kondisinya. Rencananya akan dikembalikan ke habitat aslinya, tentu ada tahapan dulu,” lanjutnya.

Johan mengatakan, macan itu terperangkap di kandang ayam yang dipasang pintu jebakan. Pemilik kandang, kata Johan, sudah satu tahun terakhir kehilangan 29 ayam, empat ekor itik dan lima ekor kambing.

"Macan sudah dievakuasi dengan bius 5 cc, awalnya dalam kondisi stress agak galak. Jenisnya Panthera Pardus jantan," tutupnya.


  Sindo 

Rabu, 28 Agustus 2013

Kronologis kematian singa dan harimau di Jambi

Jambi - Pelaksana Harian Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Nurzaman, Senin menyatakan, kronologi kematian dua ekor singa Afrika dan seekor harimau Sumatra di Kebun Binatang Jambi akibat diracun sudah diketahui sejak 12 Agustus 2013 lalu.

Menurut dia, pada tanggal tersebut, seekor harimau Sumatera bernama Peter mendadak lumpuh dan tidak bisa berjalan.

Hewan tersebut kemudian dipindahkan dan ditangani oleh dokter hewan dan Balai KSDA Jambi. Tak lama, dua ekor singa juga mengalami hal yang sama, termasuk seekor anak harimau lainnya bernama Ayu juga mengalami hal yang sama.

Namun pada 17 Agustus 2013, Peter dan dua singa Afrika bernama Gebo dan Sonia tidak dapat tertolong dan mati pada hari yang sama dengan jam berbeda, sementara Ayu dapat ditolong hingga kondisinya mengalami pemulihan.

Selanjutnya, kata Nurzaman, sampel organ hewan tersebut dibawa ke Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner, Bukittinggi, Sumatera Barat untuk diteliti di laboratorium.

"Kami bawa sampel organ tubuh seperti Hati, Paru, Ginjal, Usus, dan sisa makanan dalam lambung hewan tersebut," katanya di Jambi.

Dari hasil penelitian tersebut, lanjut dia, pada 22 Agustus didapatkan hasil laboratorium bahwa penyebab kematian tiga ekor satwa langka tersebut karena racun jenis Striknin.

"Racun ini merupakan jenis racun untuk mengeliminasi anjing liar yang menyebakan rabies. Jenis racun ini tidak dijual bebas," katanya.

Pengadaan jenis racun Striknin ini dilakukan distributor hanya kepada Dinas Peternakan sebagai kebutuhan khusus untuk memberantas anjing liar.

"Jadi dari sana kami sudah mendapatkan petunjuk siapa pelaku pembunuhan hewan tersebut," katanya.

Saat ini, pihaknya bekerja sama dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sudah memeriksa empat orang saksi terkait pembunuhan itu.

"Kami bersama PPNS telah melakukan investigasi dan memeriksa empat orang saksi, yakni pemasok daging ke kebun binatang, keeper atau pawang, dan penjaga malam," katanya.

Kasus tersebut, kata Nurzaman, akan diserahkan kepada pihak berwajib, yakni Polda Jambi untuk mengusut lebih dalam siapa di balik peristiwa tersebut.

Khusus untuk Ayu, anak harimau yang sedang dalam masa pemulihan, Nurzaman mengatakan, pihaknya melakukan pengawasan ekstra terhadap hewan itu.

"Kami mensiagakan keeper dan pegawai serta dokter hewan khusus untk Ayu. Bahkan ada yang yang berjaga dan tidur di atas kandang Ayu, untuk memantau kondisinya 24 jam," lanjut dia.

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jambi, Sepdinal, mengatakan, pihaknya sangat menyesalkan atas kejadian tersebut.

"Kami menyesal sekali atas peristiwa ini. Kami akan mengeavaluasi sistem keamanan di Kebun Binatang Taman Rimba Jambi, dengan menambah jumlah personil dan memasang CCTV," katanya.

Menurut dia, sejak mulai matinya hewan itu, pihaknya sudah memberi tahu Gubernur Jambi secara langsung.

"Kami sudah beritahu Gubernur Jambi, dan dia menyayangkan peristiwa itu dan memerintahkan untuk segera mengusut pelakunya.

Sepdinal mengatakan, pihaknya tidak dapat menaksir angka kerugian atas kematian tiga ekor hewan tersebut, sebab hewan tersebut tidak diperjualbelikan.

"Kami tidak dapat menaksir. Tapi kami pikir harganya tidak ternilai karena hewan ini jenis hewan dilindungi," kata dia.


  Antara 

Senin, 29 Juli 2013

10 Harimau Sumatera Diperdagangkan Secara Online?

Harimau Sumatera
Harimau Sumatera
JAMBI--Forum Konservasi Harimau Kita mensinyalir antara tujuh hingga 10 ekor harimau Sumatra asal Jambi selama 2012 dibawa ke luar negeri untuk diperdagangkan bagian tubuhnya.

"Itu baru dari wilayah Jambi bagian timur saja, harimau yang diperdagangkan itu hasil perburuan bukan hanya di taman nasional maupun di beberapa kawasan lain di Jambi," ujar Sekretaris Forum Harimau Kota, Iding Achmad Haidir di sela-sela aksi Indonesia Celebrates Global Tiger Day di Jambi, Senin.

Jika ditambah perburuan harimau di Jambi bagian barat, jumlah harimau Sumatra asal Jambi yang diperdagangkan hingga ke luar negeri itu diperkirakan akan lebih banyak lagi.

Menurut dia, Harimau yang dibawa keluar Jambi itu dalam keadaan mati dan diperdagangkan organ tubuhnya untuk dibawa ke luar negeri. Disinyalir sebelum dibawa keluar, barang tersebut dibawa memutar melalui Palembang, Pekanbaru, dan juga Lampung sebelum dibawa ke Singapura untuk kemudian dijual bebas ke beberapa negara tujuan.

Dari hasil investigasi Forum Harimau Kita, kata Iding terindikasi ada sindikat atau mafia penjualan organ-organ tubuh harimau yang kemungkinan memiliki jaringan hingga tingkat internasional. "Bisa jadi, karena antara yang di timur (Jambi) dan di barat mereka saling kenal," katanya.

Semakin luasnya penggunaan jaringan internet hingga ke daerah daerah semakin mempermudah perdagangan satwa paling dilindungi itu. Tidak hanya harimau, beberapa satwa dilindungi juga menjadi objek menjanjikan untuk diperjual belikan.

"Untuk itu, melalui Tiger Day kali ini, kami mengajak masyarakat untuk mewaspadai perdagangan harimau maupun satwa dilindungi lainnya melalui internet. Karena perdagangan satwa dilindungi ini bahkan sudah merambah situs situs jual beli internet yang sudah populer," jelasnya.

Ia menyebutkan, pada 2012 saja, pihak berwajib berhasil mengamankan 22 ofsetan harimau dan dua jenis lainnya yang diperdagangkan melalui situs internet.


  ● Republika  

Selasa, 23 Juli 2013

[Foto] Penyelamatan Orangutan

Tim dari Orangutan Information Centre (OIC) berusaha mengeluarkan peluru yang bersarang di pelipis mata Orangutan Sumatera, ketika melakukan penyelamatan di Desa Air Hitam, Kec. Padang Tualang, Kabupaten Langkat, Sumut, Minggu (21/7/2013). OIC menyelamatkan Orangutan Sumatera betina berumur 15 tahun karena terisolasi di perkebunan warga.[Foto: ANTARA/Irsan Mulyadi]



  Vivanews 

Senin, 08 Juli 2013

BUNUH BAYI HARIMAU, Pencari Kayu Dikepung 4 Harimau Dewasa

Ilustrasi-Harimau Sumatra/worldwildlife.org
Ilustrasi harimau sumatra
SUMATRA - Kejadian ini bisa jadi tak ingin dialami siapa pun.

Gara-gara membunuh seekor bayi harimau, 5 orang pencari kayu kini masih terkatung-katung di atas pohon yang dikepung 4 ekor harimau dewasa.

Insiden itu bermula saat para pencari kayu yang sedang berada di wilayah Taman Nasional Gunung Leuser, yang berada di wilayah perbatasan Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Aceh itu, tidak sengaja membunuh seekor anak harimau. Demikian dilaporkan BBC news untuk wilayah Asia, Minggu (7/7).

Awalnya, sembari mencari kayu untuk bahan dupa, 6 orang pria penduduk sekitar itu memasang perangkap rusa.

Namun, bukannya rusa yang terperangkap, seekor anak Harimau Sumatra lah yang justru terpedaya. Tak hanya itu, harimau kecil malang itu pun akhirnya mati dalam perangkap.

Rupanya, di saat sekarat, erangan bayi harimau yang kesakitan mengundang perhatian sejumlah harimau dewasa.

Harimau-harimau itu pun segera datang dan membuat para pencari kayu tersebut tunggang langgang menyelamatkan diri.

Lima orang berhasil memanjat pohon, tapi malang pria keenam yang diidentifikasi bernama David, 28, tak lolos dari sergapan para raja hutan tersebut.

Kini, kelima orang itu terjebak di atas pohon, sementara di bawah mereka 4 ekor harimau dewasa menanti mereka turun.

Beruntung, di antara lima pria yang berlindung di atas pohon itu ada yang bisa meminta pertolongan kepada warga yang dikenalnya melalui telepon genggam yang ia bawa.

Warga pun sempat akan melakukan pertolongan. Namun, begitu melihat ada 4 ekor harimau dewasa menanti di bawah pohon tempat kelima orang itu menyelamatkan diri, warga pun segera mundur.

Warga yang menjadi ciut nyalinya hanya bisa melihat 5 orang di atas pohon dan 4 ekor harimau di bawahnya dari jarak cukup jauh.

Menurut aparat polisi setempat, bala bantuan diperkirakan baru tiba pada Rabu (10/7) mendatang.

"Kira-kira butuh 2 sampai 3 hari untuk mencapai lokasi, karena lokasi hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki" ujar Dicky Sondani, kepala kepolisian setempat kepada BBC.

"Jika Harimau ini tetap berada di bawah sana menunggui para pria itu, maka kami terpkasa harus membius harimau-harimau untuk menyelamatkan mereka" tambahnya Dicky, yang masuk ke dalam hutan bersama anggota tim pencarian pada Sabtu.

Sampai saat ini, kelima orang tersebut masih berada di atas pohon, menunggu bala bantuan datang di lokasi yang merupakan bagian dari taman nasional seluas 7. 930 km persegi itu. (Kabar24)


  Kabar24 

Selasa, 11 Juni 2013

Harimau Sumatra Diobati dengan Akupunktur

Seekor harimau Sumatra dari taman safari Ramat Gan di Tel Aviv, Israel mengalami infeksi telinga dan diobati dengan akupunktur. Harimau berusia 14 tahun ini dibius sebelum mendapat tusukan jarum akupunktur. 

Pakar pengobatan alternatif, Mor Mosinzon (kiri) memeriksa Pedang, harimau Sumatra yang menderita infeksi telinga, di Taman Safari Ramat Gan dekat Tel Aviv, Israel hari Minggu (9/6). TEL AVIV, ISRAEL — Pengobatan alternatif tampaknya tidak hanya bagi manusia saja. Hewan juga mendapat pengobatan alternatif jika pengobatan medis tidak memberi hasil yang menggembirakan.

Pedang, harimau Sumatra milik Taman Safari Ramat Gan d Tel Aviv, Israel menderita sakit telinga kronis sehingga harus dirawat setiap beberapa bulan. Para pakar hewan di Israel, hari Minggu memilih menggunakan metode pengobatan ini karena pengobatan lazim bagi hewan tidak mampu menyembuhkannya.

Mor Mosinzon, pakar pengobatan alternatif bagi hewan di Taman Safari Ramat Gan mengatakan

Mosinzon mengatakan, "Pedang menderita sakit telinga jadi setiap beberapa bulan sekali dibius dan telinganya dibersihkan dan hari ini diobati dengan akupunktur yang diharapkan bisa membantu kondisi kesehatannya."

Jarum-jarum akupunktur ditusukkan di sekitar telinga Pedang yang sakit, metode pengobatan alternatif ini, di Tiongkok lazim digunakan para pakar hewan untuk mengobati berbagai penyakit.

Mor Mosinzon, juga mengatakan Taman Safari Ramat Gan kerap melakukannya pada hewan lainnya, meskipun tantangan yang dihadapi pada harimau lebih besar.

Mosinzon menambahkan, "Kami melakukannya setiap hari pada kucing, anjing, kuda. Lebih sulit melakukannya pada hewan liar karena kita tidak bisa dekat dengan mereka."

Pedang bukan satu-satunya harimau asal Indonesia yang tinggal di kebun binatang di Israel. Kebun binatang Jerusalem Biblical di Yerusalem mencantumkan dua harimau Sumatra dalam situs webnya yang diberi nama Avigdor dan Chana. Keduanya adalah sumbangan dari seorang warga di Amerika dan seorang donatur yang tidak ingin namanya dikenal.(Made Yoni/ Sumber: AP, Reuters)


  VoA  

Sabtu, 11 Mei 2013

Harimau Sumatera


Seekor Harimau Sumatera berada di dalam kerangkeng saat dipindahkan ke Kebun Binatang Bukitinggi, Sumbar, Jumat (10/5). Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), berusia 4-5 tahun seberat 90 kilogram dengan panjang 2,5 meter itu ditemukan warga terjebak dalam perangkap babi milik warga di Bukit Gading, Kecamatan Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya, Selasa (7/5).(FOTO ANTARA/Arif Pribadi)



  Antara  

Jumat, 29 Maret 2013

Ditemukan, Bukti Keberadaan Badak Sumatera di Kalimantan

 Hewan spesies ini sudah masuk kategori terancam punah

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/08/09/167038_badak-sumatra-tertangkap-kamera-di-aceh_209_157.JPG
 Badak Sumatra
Tim pemantau WWF-Indonesia menemukan bukti keberadaan Badak Sumatera di Pulau Kalimantan. Temuan ini membawa angin segar bagi dunia konservasi nasional dan internasional mengingat keberadaan Badak Sumatera di Kalimantan sudah tidak pernah terdengar dan diketahui keberadaannya, bahkan ditengarai telah punah sejak tahun 1990-an.

Dalam siaran persnya, Kamis 28 Maret 2013I, WWF-Indonesia mengungkapkan bahwa UCN (International Union for Conservation of Nature) telah mengklasifikasikan Badak Sumatera ini dalam kategori terancam punah (Critically Endangered).

Bagaimana penemuan bukti keberadaan satwa langka yang dilindungi itu? Berawal penemuan jejak segar yang mirip jejak badak saat tim WWF-Indonesia melakukan monitoring orangutan di Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur, yang juga merupakan wilayah Heart of Borneo. Mereka kemudian menggandeng Dinas Kehutanan Kubar, Universitas Mulawarman dan masyarakat setempat, melakukan survei lanjutan pada Februari 2013.

Hasilnya, tim survei menemukan beberapa jejak kaki badak, bekas kubangan, bekas gesekan tubuh badak pada pohon, gesekan cula pada dinding kubangan serta bekas gigitan dan pelintiran pada pucuk tanaman. Tim survei juga mengidentifikasi adanya ketersediaan pakan badak yang berlimpah dan bervariasi, lebih dari 30 spesies tumbuhan pakan.

Konfirmasi saintifik dari beberapa ahli Badak di WWF-Indonesia dan Universitas Mulawarman Dr.Chandradewana Boer menegaskan bahwa spesies tersebut kemungkinan besar adalah Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis).

Temuan survei tersebut juga didukung data historis sebaran Badak Sumatra di Kalimantan yang telah terdokumentasi sebelumnya. Hingga saat ini, belum dapat dikonfirmasi berapa individu badak yang teridentifikasi melalui temuan tersebut.

Survei Lanjutan$Direktur Konservasi WWF-Indonesia, Nazir Foead, menyatakan pihaknya bersama Kementrian Kehutanan dan Pemda Kubar akan melalukan survei lanjutan yang lebih komprehensif untuk memetakan preferensi habitat badak dan populasinya di Kutai Barat.

"Berdasarkan hasil survei ini, perlu segera disusun strategi bersama serta rencana aksi yang komprehensif dan partisipatif bersama parapihak terkait, sehingga. upaya konservasi Badak Sumatera di Kalimantan ini dapat berlangsung jangka panjang dan didukung pendanaan berkelanjutan,” katanya dalam keterangan persnya.

Menurut Nazir, temuan ini membawa kabar gembira dan menjadi momen penting sejak dicanangkannya Tahun Badak Internasional pada 5 Juni 2012 lalu oleh Presiden SBY.

Bupati Kubar, Ismael Thomas, mendukung upaya tersebut. Badak, Orangutan, Pesut, Macan Dahan, Banteng yang sudah sangat langka, dan ternyata masih ada di Kubar. "Keberadaannya harus dilestarikan, dan masyarakat semestinya bisa hidup secara harmonis dengan alam."(ren)


  ● Vivanews  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More