blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juni 2026

Roket WAFAR RD70 Karya Anak Bangsa di Uji Coba di Tepi Laut Selatan

🚀 Produksi PTDI bersama PT SAS Roket Wafar RD70 (dispen Kormar)

Komandan Pasmar 2 Mayjen TNI (Mar) Dr. Oni Junianto menyaksikan uji coba penembakan roket Wrap Around Fin Aerial Rocket (Wafar) RD70 di Lapangan Tembak Nanggala Depohar 60 Desa Poko, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Kamis (18/06/2026)

Roket Wafar RD70 merupakan karya anak bangsa, diproduksi dan dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia.

Komoditas ini merupakan bagian vital dari alutsista TNI dan sedang dikembangkan menuju kemandirian penuh melalui proyek roket berpemandu.

Roket produksi PT Dirgantara Indonesia dirancang untuk memenuhi kebutuhan pertahanan nasional.

Dengan teknologi canggih, roket ini memiliki daya ledak tinggi dan presisi yang akurat, menjadikannya efektif untuk operasi militer dalam berbagai kondisi medan. PTDI memastikan bahwa setiap roket diproduksi dengan standar kualitas tinggi 

  🚀  Pelopor Wiratama  

Kamis, 23 April 2026

PTDI Garap Pesawat - Roket Bidik Posisi Mitra Pertahanan Utama Kawasan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3JuPuL4EfKlJ18ulYvHRUCMjvdNt4l_7BjIV8b9xpCIm7Vn4v2GK5kWwEx0V8iMvSwbpda-CkzepoRhJwXa6CyV6jhmz42yNyOZvFWgFhaE2c94amydyQoPFaBB98Eb68qmsSuNeWfTi4/s1600/Pesawat+N-219_n219.jpgPesawat N219 (PTDI)
PT
Dirgantara Indonesia (PTDI) membidik posisi sebagai mitra pertahanan utama Malaysia dan kawasan Asia Pasifik secara lebih luas, melalui skema solusi end-to-end dan pengembangan alutsista mutakhir, termasuk sistem roket 70 mm, guna memperkuat kemandirian industri pertahanan di kawasan.

Strategi "total solusi" ini menjadi pembeda utama PTDI dibandingkan kompetitor global lainnya dalam ajang Defence Services Asia (DSA) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa ini. Di mana PTDI juga tidak lagi sekadar menjual badan pesawat, melainkan menjamin keberlanjutan operasional jangka panjang militer Negeri Jiran tersebut.

"Partisipasi PTDI dalam DSA 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kehadiran kami di Malaysia sebagai mitra jangka panjang," ujar Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI Moh Arif Faisal dalam keterangan di Bandung, Selasa.

Menurut Arif, rekam jejak PTDI di Malaysia sudah sangat mengakar. Sejak 1999, Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) telah mengoperasikan tujuh unit pesawat CN235-220.

Dengan adaptasi teknologi, PTDI sukses dalam program modifikasi tiga unit pesawat TUDM menjadi pesawat pengintai maritim atau Maritime Surveillance Aircraft (MSA) pada 2023.

Selain memperkuat lini CN235, PTDI kini membidik pasar Malaysia untuk pesawat NC212i, pesawat N219, hingga sistem roket 70 mm.

Pendekatan ini mencakup layanan purnajual komprehensif mulai dari pemeliharaan (MRO), Service Life Extension Program (SLEP), hingga dukungan suku cadang dan perbaikan struktur.

Dengan rekam jejak operasional pesawat CN235-220 di TUDM serta pengalaman dalam berbagai program layanan purnajual, PTDI terus berkomitmen menghadirkan solusi yang andal dan berkelanjutan, tidak hanya pada produk pesawat tapi juga sistem pertahanan lainnya seperti roket,” ujar Arif.

Kehadiran PTDI di bawah payung Holding Defend ID ini mempertegas posisi Indonesia sebagai pemain kunci di pameran pertahanan terbesar Asia Pasifik tersebut.

Melalui kolaborasi strategis ini, PTDI optimistis dapat mengoptimalkan platform pesawat buatan anak bangsa untuk memenuhi kebutuhan spesifik keamanan regional..

  antara  

Selasa, 14 April 2026

Indonesia Gandeng Rusia Bangun Fasilitas Peluncuran Roket di Papua

Bandar Antariksa dibangun di Biak (Times Indonesia)

Indonesia mendorong penguatan kerja sama dengan Rusia dalam pengembangan sektor antariksa, termasuk rencana pembangunan fasilitas peluncuran roket (spaceport) di Biak, Papua, sebagai bagian dari upaya menuju kemandirian teknologi.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Profesor Arif Satria, mengatakan kerja sama tersebut menjadi salah satu fokus utama Indonesia dalam forum Cosmonautics Day di Rusia.

Tujuan utama kunjungan kami adalah untuk mempromosikan kegiatan antariksa Indonesia dan memperkuat kerja sama dengan Rusia, khususnya dalam pengembangan sektor antariksa,” kata Arif dalam wawancara dengan Russia Today, Senin, 13 April 2026.

Ia menjelaskan, Indonesia saat ini tengah mempersiapkan pembangunan spaceport di Pulau Biak sebagai bagian dari pengembangan ekosistem antariksa nasional.

Kami sedang mempersiapkan pembangunan spaceport di Indonesia, khususnya di Pulau Biak di Papua. Ini sangat penting untuk menunjukkan komitmen kami dalam mengembangkan ekosistem antariksa, termasuk ekonomi antariksa,” ujarnya.

Menurut Arif, kerja sama dengan Rusia dinilai strategis mengingat negara tersebut merupakan salah satu pemimpin global dalam teknologi antariksa.

Dalam kunjungannya, Arif juga melakukan pertemuan dengan pimpinan Roscosmos, termasuk Direktur Jenderal Dmitry Bakanov, guna membahas skema kerja sama antara BRIN dan badan antariksa Rusia tersebut.

Selain itu, pembahasan juga dilakukan dengan Glavkosmos terkait persiapan pembangunan fasilitas peluncuran di Biak.

Pengembangan dan pengoperasian kosmodrom berbasis peluncuran Rusia di Indonesia menjadi salah satu fokus utama kerja sama kami,” jelas Arif.

Ia menegaskan, Indonesia menargetkan kemandirian di sektor antariksa melalui penguatan kapasitas teknologi dan pembangunan ekosistem yang lebih luas. “Indonesia berupaya mengembangkan kemandirian di sektor antariksa,” tegasnya.

Selain pembangunan infrastruktur, Indonesia juga tengah menyiapkan peluncuran satelit generasi baru, yang akan memiliki kemampuan lebih baik untuk mendukung pemantauan lingkungan, ketahanan pangan, dan mitigasi bencana.

Pada akhir 2026, kami berencana meluncurkan mikrosatelit baru dengan resolusi dan kemampuan yang lebih baik,” jelas Arif.

Dengan pengembangan spaceport di Biak, Indonesia menargetkan dapat melakukan peluncuran satelit secara mandiri di masa depan, yang akan menjadi tonggak penting dalam pengembangan sektor antariksa nasional.

Di masa lalu, kita fokus pada sumber daya darat dan maritim. Kini, antariksa menjadi frontier baru untuk pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Arif menambahkan, Indonesia menargetkan menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki fasilitas spaceport sendiri, dengan dukungan teknologi dan pengalaman dari Rusia.

  📡 
 Metro TV  

Kamis, 12 Maret 2026

BRIN dan Bappenas Bahas Riset Teknologi Penerbangan dan Roket untuk Perencanaan Pembangunan

(BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan berbagai hasil riset teknologi penerbangan dan roket yang tengah dikembangkan kepada delegasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas di Pusat Riset BRIN Rumpin, Bogor, Kamis (6/3).

Pemaparan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemanfaatan hasil penelitian dalam mendukung perencanaan pembangunan nasional di sektor kedirgantaraan dan keantariksaan.

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menjelaskan bahwa tim Bappenas ingin memperoleh gambaran menyeluruh mengenai arah pengembangan riset kedirgantaraan di BRIN. Delegasi tersebut berasal dari Kedeputian Infrastruktur Bappenas yang kini memiliki direktorat dengan nomenklatur baru di bidang kedirgantaraan dan keantariksaan.

Dalam pertemuan tersebut, ORPA memaparkan berbagai riset strategis yang sedang berlangsung di Pusat Riset Teknologi Penerbangan dan Pusat Riset Teknologi Roket. Penelitian tersebut mencakup pengembangan teknologi sistem penerbangan, desain dan uji komponen pesawat, hingga teknologi roket untuk mendukung penguasaan teknologi antariksa nasional.

Selain hasil penelitian, BRIN juga menyampaikan kondisi sumber daya manusia peneliti, fasilitas dan infrastruktur riset, serta jaringan kolaborasi dengan industri kedirgantaraan dan antariksa di Indonesia. Informasi tersebut menjadi bagian dari pemetaan kapasitas riset nasional yang dapat mendukung pengembangan industri berbasis teknologi tinggi.

Pemaparan tersebut bertujuan untuk menunjukkan posisi dan kontribusi pusat-pusat riset BRIN dalam ekosistem industri kedirgantaraan dan antariksa nasional. Melalui riset yang berkelanjutan, BRIN berupaya memperkuat kemandirian teknologi sekaligus menyediakan basis ilmiah bagi perumusan kebijakan pembangunan,” ujar Heru.

Sementara itu, Direktur Transmisi, Ketenagalistrikan, Kedirgantaraan, dan Antariksa Bappenas, Yusuf Suryanto, menegaskan bahwa hasil riset memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan nasional.

Perencanaan pembangunan nasional membutuhkan hasil riset agar kebijakan yang dihasilkan lebih berkualitas, komprehensif, dan berdampak nyata. Tantangannya adalah bagaimana hasil riset tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat pembangunan,” ujarnya.

Yusuf menambahkan bahwa sinergi antara lembaga perencanaan dan lembaga riset menjadi kunci untuk mendorong pemanfaatan hasil penelitian secara lebih luas, termasuk dalam penyusunan program pembangunan dan kebijakan strategis di sektor kedirgantaraan dan keantariksaan.

Melalui kunjungan tersebut, Bappenas juga menghimpun berbagai masukan teknis dan strategis dari para peneliti BRIN. Masukan tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pembangunan yang berbasis riset dan inovasi.

Kolaborasi antara BRIN dan Bappenas diharapkan dapat memperkuat ekosistem riset kedirgantaraan dan antariksa di Indonesia, sekaligus mendorong pemanfaatan hasil penelitian untuk mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan.

  🤝 
BRIN  

Minggu, 22 Februari 2026

Kontrak Kerjasama Rocket Launcher Badan Teknologi Pertahanan Kemhan RI

Pengembangan rocket laubcer (Batekhan Kemhan RI)

Badan Teknologi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia melaksanakan penandatanganan kontrak kerjasama pengembangan dan pengadaan sistem rocket launcher sebagai bagian dari upaya strategis penguatan Alutsista nasional. 13/02/2026.

Kegiatan ini merupakan wujud komitmen Kemhan RI dalam meningkatkan kemandirian industri pertahanan, memperkuat kemampuan teknologi dalam negeri, serta mendukung modernisasi sistem persenjataan TNI secara berkelanjutan.

Kerja sama ini diharapkan mampu mendorong percepatan transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan ekosistem riset dan inovasi pertahanan nasional.

Dengan sinergi yang solid antara pemerintah dan mitra strategis, pembangunan kekuatan pertahanan negara terus dilaksanakan secara terukur, profesional, dan berorientasi pada kepentingan nasional.

Langkah ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan sistem pertahanan negara yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing global.

Bertekad Kuat, Berteknologi Maju, untuk Pertahanan Negara yang Mandiri.

  🤝 
Batekhan  

Jumat, 06 Februari 2026

PT DI dan Sari Bahari Teken “Letter of Intent” Produksi Bersama Roket 70 dan 80 MM

  Akan dijual ke pasar Internasional PT Dirgantara Indonesia dan PT Sari Bahari menekan letter of intent produksi bersama roket kaliber 70 mm dan 80 mm di sela acara Singapore Airshow 2026. (Foto: Dok. PT DI)

PT Dirgantara Indonesia (DI) dan industri pertahanan dalam negeri, PT Sari Bahari, meneken letter of intent (LoI) untuk produksi bersama roket kaliber 70 mm dan 80 mm.

Penandatanganan dilaksanakan pada hari kedua pelaksanaan Singapore Airshow 2026 di Singapura, Rabu (4/2) waktu setempat. Dokumen kerja sama tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PT DI Arif Faisal dan Vice President Director PT Sari Bahari Putra Prathama Nugraha di booth PT DI A-L31.

Kesepakatan mencakup rencana kerja sama penjualan roket kaliber 70 mm dan 80 mm, sekaligus penjajakan peluang pemasaran bersama untuk kedua jenis roket tersebut ke pasar internasional.

Kerja samanya kolaborasi produksi antara PT DI dan Sari Bahari, penjualannya nanti joint marketing,” kata Putra Prathama kepada Indonesia Defense Magazine (IDM), Kamis (5/2).

Kolaborasi diarahkan untuk memperluas jangkauan distribusi produk roket nasional, meningkatkan eksposur di pasar global, serta memperkuat daya saing industri pertahanan Indonesia di tingkat internasional.

Arif Faisal menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian dari rantai pasok global industri pertahanan.

Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi perluasan pasar internasional produk roket nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui sinergi kapabilitas antarpelaku industri pertahanan dalam negeri,” ujar Arif, dikutip dari laman PT DI.

Kerja sama tersebut juga sejalan dengan komitmen PT DI dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui penguatan portofolio produk, peningkatan skala bisnis, serta perluasan jejaring mitra strategis, baik dalam maupun luar negeri. (nma)

  🚀 
IDM  

Sabtu, 03 Januari 2026

Kepala BRIN Targetkan RI Segera Punya Bandara Antariksa Nasional

Bandar Antariksa dibangun di Biak (Times Indonesia)

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan ambisi Indonesia untuk mempercepat kemandirian teknologi antariksa nasional, salah satunya pengembangan bandara antariksa nasional.

Bahkan, Arif menilai target kemandirian yang selama ini dipatok hingga 2040 masih bisa dipercepat, asalkan seluruh pemangku kepentingan fokus dan bekerja secara produktif.

Penegasan tersebut disampaikan Arif saat melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Sains M. Ibnoe Subroto, Rancabungur, Rabu (31/12/2025). Kunjungan ini difokuskan pada kesiapan fasilitas riset keantariksaan, persiapan peluncuran Satelit A4, serta pengembangan bandar antariksa sebagai fondasi strategis kedaulatan teknologi nasional.

"Kita tidak boleh setengah-setengah. Kalau bisa sebelum 2040, mengapa tidak lebih cepat? Kuncinya fokus, alokasi waktu, dan produktivitas," ujar Arif seperti dikutip dari website BRIN, Jumat (2/1/2026).

Kunjungan tersebut menjadi momentum konsolidasi internal BRIN di tengah tantangan pengembangan keantariksaan yang semakin kompleks. Pesatnya kemajuan teknologi global dan meningkatnya kebutuhan nasional terhadap satelit, roket, serta infrastruktur pendukung menuntut langkah yang terukur namun progresif agar Indonesia tidak tertinggal dalam kompetisi antariksa.

Dalam pertemuan itu, BRIN membahas kesiapan fasilitas pendukung peluncuran satelit dan roket yang saat ini disiapkan secara bertahap melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Salah satu fokus utama adalah optimalisasi Bandar Antariksa Biak, Papua, yang dirancang sebagai pusat peluncuran nasional.

Bandar Antariksa Biak dinilai strategis karena letaknya yang dekat dengan garis khatulistiwa, sehingga memberikan efisiensi energi dalam peluncuran wahana antariksa. Ke depan, fasilitas ini tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan domestik, tetapi juga berpotensi menjadi simpul kerja sama internasional.

Meski demikian, Arif menekankan bahwa percepatan pengembangan antariksa tidak cukup hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik. Menurutnya, tata kelola, pembagian peran, dan koordinasi antarunit menjadi faktor krusial agar program strategis berjalan efektif.

"Kita tidak boleh terjebak pada tumpang tindih kewenangan. Yang dibutuhkan adalah sistem yang terintegrasi," tegasnya.

Menanggapi isu penguatan fungsi keantariksaan nasional, Arif menjelaskan bahwa pembahasan kelembagaan masih berlangsung bersama Kementerian PAN-RB serta kementerian dan lembaga terkait. Namun ia menegaskan, efektivitas fungsi jauh lebih penting dibandingkan bentuk organisasi semata.

"Yang utama adalah bagaimana fungsi keantariksaan berjalan secara terintegrasi dan berkelanjutan," ucapnya.

Sementara itu, Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Roket BRIN, Rika Andiarti, menjelaskan bahwa pengembangan bandar antariksa telah tercantum dalam Rencana Induk Keantariksaan Nasional (Renduk) 2017-2040, yang memuat visi jangka panjang Indonesia di bidang antariksa.

Namun, implementasi Renduk menghadapi tantangan dinamika global dan percepatan teknologi yang jauh lebih cepat dari proyeksi awal. "Renduk dievaluasi setiap lima tahun. Dalam konteks saat ini, sejumlah target dan strategi perlu didefinisikan ulang agar lebih adaptif dan realistis," ujarnya.

Ia menambahkan, hingga 2040 Indonesia ditargetkan mampu meluncurkan satelit dan roket secara mandiri dari wilayah sendiri. Target inilah yang menurut Kepala BRIN masih sangat mungkin untuk dipercepat.

Arif juga mendorong para periset BRIN untuk meningkatkan intensitas dan kualitas riset, termasuk memanfaatkan peluang hibah riset internasional yang semakin terbuka. BRIN, kata dia, akan terus menyempurnakan mekanisme pendanaan dan penghargaan riset guna mendukung publikasi ilmiah serta pengembangan teknologi strategis.

"Tidak ada negara yang berjaya di antariksa dengan kerja setengah-setengah. Kesuksesan adalah fungsi dari pemanfaatan waktu," pungkas Arif. (agt/agt).

  📡 
detik  

Selasa, 07 Oktober 2025

MLRS Arjuna

➶ Kendaraan Peluncur Mulri Roket LokalMLRS Arjuna (Medef)

MLRS Arjuna adalah Kendaraan Peluncur Multi Roket (Multiple Launch Rocket System) buatan Indonesia yang dirancang oleh PT SAS Aero Sishan & PT Dahana, menggunakan peluncur roket R-Han-122B dan berbasis truk KAMAZ 8x8.

Sistem ini memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 66% dan merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk meningkatkan kemandirian di sektor industri pertahanan.

Fitur Utama MLRS Arjuna:

➶​ Basis Kendaraan: Menggunakan truk KAMAZ 8x8 sebagai sasisnya.
➶​ Sistem Peluncur: Dilengkapi dengan peluncur roket R-Han-122B.
➶​ Produk Dalam Negeri: Dibuat oleh PT SAS Aero Sishan & PT Dahana dengan TKDN mencapai 66%.
➶​ Kemandirian Pertahanan: Merupakan wujud kemandirian industri pertahanan Indonesia dan penggunaan teknologi anak bangsa, seperti yang dilaporkan akun Instagram tersebut.

 
Garuda MIliter  

Senin, 07 Juli 2025

PTDI Kembangkan Sistem Roket dan Senjata Terintegrasi

 🤝 Kerjasama dengan LIG Nex1 maupun PT SAS Aero Sishan 
https://militarnyi.com/wp-content/uploads/2022/07/Screenshot_3-4-1.jpgRudal Poniard/K-LIG Nex1 (LIG Nex1) 🚀

PT
Dirgantara Indonesia (PTDI) saat ini terus mengembangkan sistem roket dan senjata terintegrasi bekerja sama dengan LIG Nex1 Korea Selatan dan PT SAS Aero Sishan dari Indonesia.

Menurut Direktur Niaga, Teknologi dan Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, berbagai kerja sama ini menegaskan komitmen PTDI dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional dan membangun sinergi global demi mendukung sistem pertahanan yang tangguh dan berdaya saing.

"Kerja sama dengan LIG Nex1 dari Korea Selatan maupun PT SAS Aero Sishan dari dalam negeri merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring aliansi teknologi, membuka peluang transfer teknologi, serta memperkuat rantai pasok nasional. Dalam rangka peningkatan TKDN, kami ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil dapat memberi nilai tambah bagi ekosistem industri pertahanan nasional dan berkontribusi langsung terhadap penguatan kapasitas teknologi dalam negeri," ujar Arif dalam siaran medianya ditulis Bandung, Selasa (1/7/2025).

Untuk penandatangan kerja sama dengan perusahaan pertahanan dari Korea Selatan LIG Nex1, disaksikan oleh Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Donny Ermawan Taufanto, di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat pada 12 Juni 2025 lalu.

Dalam kerja sama itu disepakati kerja sama strategis yang mencakup kegiatan joint marketing, penjualan, produksi bersama, serta integrasi sistem senjata, meliputi torpedo ringan dan rudal anti kapal selam, sonobuoy, roket berpemandu kaliber 70 mm, roket berpemandu kaliber 130 mm, serta bom berpemandu GPS Korea (Korean GPS-Guided Bomb).

"Seluruh kegiatan pemasaran dan penjualan bersama sistem senjata ini akan difokuskan di wilayah Indonesia dan kawasan Asia Tenggara (ASEAN)," kata Arif.

Perjanjian ini dikukuhkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), yang dilakukan secara simbolis langsung oleh Arif dan Executive Vice President Global Business Group – LIG Nex1, Paik Hyung Shik, dalam gelaran Indo Defence 2024 Expo & Forum hari kedua.

Kolaborasi ini sebut Arif, mempertegas eratnya hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan dalam pengembangan sistem pertahanan moderen yang saling menguntungkan dan berorientasi ke masa depan.

"PTDI juga telah sepakati MoU dengan PT SAS Aero Sishan untuk pengembangan unit peluncur roket 70mm dan pengadaan roket uji, serta pengembangan, produksi, pemasaran dan pemeliharaan roket FFAR 70 mm dan Guided Rocket Merah Putih," ungkap Arif.

Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kapabilitas integrasi sistem senjata secara lokal guna memperkuat rantai pasok industri pertahanan nasional, serta mendorong terwujudnya kemandirian alat utama sistem senjata (alutsista) Tentara Nasional Indonesia (TNI).

 Rekam Jejak Alutsista PTDI 

https://www.indonesian-aerospace.com/images/media/news//news_1315/news_1315.jpg?t=1751138700Roket FFAR PT DI (PT DI)

PTDI memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan roket dan telah memiliki lisensi resmi dari Thales Belgium untuk memproduksi motor rocket berkaliber 70 mm.

Sejak tahun 1985, PTDI telah berhasil memproduksi dan mengirimkan lebih dari 43 ribu unit Folding Fin Aerial Rocket (FFAR) dan Wrap Around Fin Aerial Rocket (WAFAR) 70 mm dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai sekitar 20-40 persen, dimana untuk kapasitas produksinya sendiri mampu mencapai 10 ribu unit per tahun.

Sedangkan untuk warhead, PTDI telah berhasil memproduksi lebih dari 40 ribu unit dengan TKDN mencapai 60-85 persen, yang kapasitas produksinya mampu mencapai 5.000 unit per tahun.

Seluruh program pengembangan roket ini dilakukan di Kawasan Produksi 3, Tasikmalaya, yang telah ditetapkan sebagai Centre of Excellence untuk munisi roket udara kaliber 70 mm dan akan terus dikembangkan dengan teknologi terbaru seperti guided rocket, anti-drone warhead dan sistem sejenis lainnya.

Dalam hal sertifikasi, pada tahun 2019 PTDI memperoleh Military Air Weapon Type Certificate (TC) dari Indonesian Defence Airworthiness Authority (IDAA) untuk beberapa komponen strategis, seperti Smoke Warhead WD-703 dan Motor Rocket RD-7010, dimana pada tahun 2021 kembali memperoleh sertifikasi yang sama untuk Motor Rocket RD-702 dan Motor Rocket RD-701.

Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa produk roket PTDI telah memenuhi standar keamanan dan kualitas, serta layak digunakan untuk mendukung TNI dalam menjaga kedaulatan negara.

  🚀 Liputan 6  

Rabu, 18 Juni 2025

Industri Dalam Negeri Kolaborasi Kembangkan Roket SLT

 Di Indo Defence 
https://cdn.antaranews.com/cache/1200x800/2025/06/13/IMG-20250613-WA0040_3.jpg🤝 (antara)

P
erusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang Pertahanan PT Dahana bekerja sama dengan perusahaan swasta dalam negeri Hariff Defense mengembangkan roket Senjata Lawan Tank (SLT) untuk diproduksi secara masal.

Kerja sama itu terjalin dengan ditandatanganinya nota kesepahaman (MoU) dalam pameran alat utama sistem senjata Indo Defence di Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat.

Berdasarkan siaran pers resmi yang diterima Antara di Jakarta, dijelaskan bahwa Senjata Lawan Tank (SLT) itu merupakan senjata berukuran kecil dan ringan yang dirancang untuk keperluan pelatihan militer.

Roket SLT ditembakkan melalui peluncur (launcher) yang dapat digunakan berulang kali menjadikannya solusi yang efisien untuk latihan tembak.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgd0WeEecaN9hHTXUT-uXqGHRI49ymJcf0YcyzSimk6NL4Wp5JmCDf7g3an0upiNUVUZPbYkcYqDK6-c_kMT1OQ-KrECifl8pB-6kTE-ngEF48TkbZkcq4gcJZgskMRj7SYlyUyR-VQ3jkqBfHyeiGipeVW2xDt6SbP2xzpNBvhuxiW9JPhe-WwLKtkdlKe/s1364/Hariff_1.jpgSLT (Senjata Lawan Tank) Hariff Defense (Hariff defense) 🚀

Pada pengembangan tahap pertama, roket ini dapat meluncur hingga 600 meter. Dengan adanya kerja sama ini, roket SLT ini dapat dikembangkan menjadi Guided Missile sebelum menjadi Smart Missile buatan Indonesia.

President Director, PT Hariff Dipa Persada (Hariff Defense), Adi Nugroho menjelaskan, kerja sama ini melambangkan kuatnya sinergitas antara industri pertahanan milik negara dan swasta dalam negeri.

"Kolaborasi ini mencerminkan bahwa kami, anak bangsa, berkomitmen penuh untuk memperkuat pertahanan nasional lewat sinergi antara perusahaan swasta nasional dan BUMN,” kata Adi Nugroho.

Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan roket SLT hasil karya anak bangsa ini bisa menjadi produk yang berkualitas dan dapat bersaing dengan produk dari luar negeri.
 
  🚀  antara  

Minggu, 15 Juni 2025

PTDI Gandeng Mitra Global dan Nasional

 Kembangkan Sistem Roket dan Senjata Terintegrasihttps://www.indonesian-aerospace.com/images/media/press/press_305/press_305.jpg?t=1749786159(PTDI)

Dalam ajang Indo Defence 2024 Expo & Forum yang diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kapabilitas nasional di bidang teknologi roket. Melalui penandatanganan sejumlah kerja sama strategis dengan mitra dari dalam dan luar negeri, PTDI mendorong kolaborasi untuk memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional dan mempercepat penguasaan teknologi sistem senjata roket.

PTDI memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan roket dan telah memiliki lisensi resmi dari Thales Belgium untuk memproduksi motor rocket berkaliber 70 mm. Sejak tahun 1985, PTDI telah berhasil memproduksi dan mengirimkan lebih dari 43.000 unit Folding Fin Aerial Rocket (FFAR) dan Wrap Around Fin Aerial Rocket (WAFAR) 70 mm dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai sekitar 20%-40%, dimana untuk kapasitas produksinya sendiri mampu mencapai 10.000 unit per tahun. Sedangkan untuk warhead, PTDI telah berhasil memproduksi lebih dari 40.000 unit dengan TKDN mencapai 60%-85%, yang kapasitas produksinya mampu mencapai 5.000 unit per tahun. Seluruh program pengembangan roket ini dilakukan di Kawasan Produksi 3, Tasikmalaya, yang telah ditetapkan sebagai Centre of Excellence untuk munisi roket udara kaliber 70 mm dan akan terus dikembangkan dengan teknologi terbaru seperti guided rocket, anti-drone warhead dan sistem sejenis lainnya.

Dalam hal sertifikasi, pada tahun 2019 PTDI memperoleh Military Air Weapon Type Certificate (TC) dari Indonesian Defence Airworthiness Authority (IDAA) untuk beberapa komponen strategis, seperti Smoke Warhead WD-703 dan Motor Rocket RD-7010, dimana pada tahun 2021 kembali memperoleh sertifikasi yang sama untuk Motor Rocket RD-702 dan Motor Rocket RD-701. Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa produk roket PTDI telah memenuhi standar keamanan dan kualitas, serta layak digunakan untuk mendukung TNI dalam menjaga kedaulatan negara.
 Teken Kerja Sama Sistem Senjatahttps://www.indomiliter.com/wp-content/uploads/2025/01/bba401d6-a1fb-41be-b1a6-94c78b6824ad.jpgRoket FFAR PT DI (Ist)

Disaksikan oleh Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Donny Ermawan Taufanto, PTDI dan LIG Nex1, perusahaan pertahanan terkemuka asal Korea Selatan, menyepakati kerja sama strategis yang mencakup kegiatan joint marketing, penjualan, produksi bersama, serta integrasi sistem senjata, meliputi torpedo ringan dan rudal anti kapal selam, sonobuoy, roket berpemandu kaliber 70 mm, roket berpemandu kaliber 130 mm, serta bom berpemandu GPS Korea (Korean GPS-Guided Bomb). Seluruh kegiatan pemasaran dan penjualan bersama sistem senjata ini akan difokuskan di wilayah Indonesia dan kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

Perjanjian ini dikukuhkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), yang dilakukan secara simbolis oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal dan Executive Vice President Global Business Group – LIG Nex1, Paik Hyung Shik, dalam gelaran Indo Defence 2024 Expo & Forum hari kedua.

Kolaborasi ini mempertegas eratnya hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan dalam pengembangan sistem pertahanan modern yang saling menguntungkan dan berorientasi ke masa depan.
 Kembangkan Roket Merah Putih
Sebagai bagian dari penguatan kolaborasi dalam negeri, PTDI juga telah sepakati MoU dengan PT SAS Aero Sishan untuk pengembangan unit peluncur roket 70mm dan pengadaan roket uji, serta pengembangan, produksi, pemasaran dan pemeliharaan roket FFAR 70 mm dan Guided Rocket Merah Putih. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kapabilitas integrasi sistem senjata secara lokal guna memperkuat rantai pasok industri pertahanan nasional, serta mendorong terwujudnya kemandirian Alutsista.

Berbagai kerja sama ini menegaskan komitmen PTDI dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional dan membangun sinergi global demi mendukung sistem pertahanan yang tangguh dan berdaya saing.

Kerja sama dengan LIG Nex1 dari Korea Selatan maupun PT SAS Aero Sishan dari dalam negeri merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring aliansi teknologi, membuka peluang transfer teknologi, serta memperkuat rantai pasok nasional. Dalam rangka peningkatan TKDN, kami ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil dapat memberi nilai tambah bagi ekosistem industri pertahanan nasional dan berkontribusi langsung terhadap penguatan kapasitas teknologi dalam negeri,” ujar Moh Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI.

  🚀 PTDI  

Senin, 19 Mei 2025

Prabowo Bertemu Pimpinan Industri Pertahanan Turki

🤝 Bahas pengembangan alutsistaPresiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Presiden Badan Industri Pertahanan Turki (SSB) Haluk Görgün di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (16/5). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan strategis antara Indonesia dan Turki di sektor industri pertahanan. (katadata)

Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Presiden Badan Industri Pertahanan Turki (SSB) Haluk Görgün di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (16/5). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan strategis antara Indonesia dan Turki di sektor industri pertahanan.

Görgün tiba di Istana sekitar pukul 16.40 WIB didampingi tujuh ajudannya. Dia memasuki kompleks Istana Merdeka melalui gerbang 'pilar' yang menghadap Jalan Veteran, Jakarta.

Saat dimintai keterangan sebelum pertemuan, Görgün hanya menyampaikan antusiasmenya. “It’s nice to be in Indonesia,” ujarnya singkat sambil berjalan masuk menuju Istana.

Melalui akun media sosial X @halukgorgun, Görgün mengunggah dokumentasi pertemuan tersebut dan menjelaskan bahwa selain bertemu Prabowo, ia juga berdiskusi dengan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.

Proyek F-16 Ozgur racikan aselsan setara Viper, diminati TNI AU untuk modernisasi F16C/D (aselsan)

Ia menyebut pertemuan itu sebagai forum evaluasi untuk mengubah kerja sama strategis menjadi proyek konkret, terutama dalam pengembangan teknologi tinggi di sektor alutsista udara.

Dengan kekuatan rekayasa dan akumulasi teknologi yang dimiliki Turki, kami bertekad untuk membangun kerja sama industri pertahanan yang lebih dalam dan konstruktif dengan negara sahabat kami, Indonesia,” tulis Görgün.

Kunjungan ini memperkuat tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan Prabowo di Istana Bogor pada Februari lalu.

Saat itu, kedua negara menyepakati 12 nota kesepahaman (MoU), termasuk kerja sama strategis industri pertahanan antara Kementerian Pertahanan RI dan Sekretariat Industri Pertahanan Kepresidenan Turki. Penandatanganan dilakukan oleh Haluk Görgün dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.

  🤝
Kata Data  

Minggu, 18 Mei 2025

Menhan Menerima Kunjungan Secretary of Defense Industry Turki

 Bahas kerjasama inhan 
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRyP3p_DRFHAsMMOyrvSreW2ZcCYSQMqajWog&s(Kemhan)

K
abaranahan Kemhan, Marsdya TNI Yusuf Jauhari, M.Eng., mendampingi Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin @sjafrie.sjamsoeddin, menerima kunjungan kehormatan Secretary of Defense Industry Turki, H.E. Haluk Görgün di Kantor Kemhan Jakarta, Jumat (16/5).

Pertemuan ini bertujuan mempercepat dan memperdalam kerja sama pertahanan strategis antara Indonesia dan Turki serta membahas berbagai proyek prioritas, seperti modernisasi F-16, kelanjutan pengadaan dan alih teknologi drone ANKA, pengembangan pesawat tempur generasi ke-5 KAAN, kolaborasi kapal selam, serta peluang kerja sama teknologi peluncuran roket bersama Delta V.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhco8gTrd3E2tCgD9Q9M5gZ8X-dX3AU1KeQkeZ3HeGoxUt5b45yH6YWeI6FjkJe5Hqd6RGfZN8KZN1VyvXzVhQPkRdY6Ts34W0CrKlMWERCOIuZYQCz3SmBkVQJwkwgw5zFgLNvgkOA77aq8U8jk21COXH7NnnOK97bRLmzRkhEa0u8p8MFsCp3a-Wrkwm/s839/F-16-OZGUR.jpgF16 Ozgur setara Viper racikan Aselsan Turkiye (aselsan)

Menhan menyambut baik komitmen Turki untuk membentuk pertemuan teknis berkala serta penunjukan penasihat khusus yang akan berkantor di Jakarta demi menjaga kesinambungan koordinasi.

Turki juga akan hadir dengan delegasi besar pada pameran Indo Defence mendatang.

Hal ini menjadi sebuah momentum untuk menandatangani kesepakatan penting di hadapan publik dunia.

  ★ Kemhan  

Kamis, 13 Maret 2025

[Video] Roket Amatir Pertama di Indonesia Karya Anak Bangsa

 🚀 Berhasil Melesat Lebih dari 1 KM! 

T
im Mengangkasa, yang terdiri dari 3 siswa SMKN 4 Pontianak, mendapat kesempatan magang di PT Pasifik Satelit Nusantara.

Dibimbing oleh mentor dari tim satelit PSN, Tim Mengangkasa menciptakan Roket Nusantara, yakni sebuah proyek roket amatir pertama karya siswa SMK di Indonesia.

Setelah melalui serangkaian pengujian, Tim Mengangkasa berhasil membuat dan meluncurkan 5 roket dengan peluncuran pertama pada 16-17 Januari 2025 dan kedua pada 25-26 Februari 2025.

Roket ini berhasil meluncur hingga mencapai ketinggian 1 kilometer. Keberhasilan ini menunjukkan komitmen PSN dalam mendukung inovasi generasi muda untuk kemajuan antariksa Indonesia.

 Berikut video liputan Pasifik Satelit Nusantara : 


  🚀  Youtube 

Jumat, 17 Januari 2025

PTDI dan Thales Belgia Bersiap Kerjasama Produksi Roket Lagi di Tasikmalaya

Roket produksi PTDI (PTDI) ➶

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Thales Belgia bersiap kembali melakukan kerjasama produksi roket. Kedua pihak sudah melihat-lihat kawasan produksi III PTDI di Tasikmalaya, Rabu, 15 Januari 2024.

PTDI dan Thales Belgia berniat mengaktifkan kembali kolaborasi yang pernah terjalin, termasuk produksi roket. Yang dimaksud, adalah roket keperluan senjata militer.

Delegasi Thales Belgium dipimpin oleh Domain Director Thales Belgium, Thomas Colinet, diterima oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal beserta jajaran Manajemen PTDI.

Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, menyebutkan, kunjungan ini merupakan tindak lanjut pertemuan PTDI dan Thales di Bali International Airshow 2024.

Kedua pihak mendorong mempererat kembali kerja sama yang pernah terjalin sejak tahun 1980-an. Tidak hanya itu, keberlanjutan kerja sama ini juga menunjukkan kesiapan kami dalam memenuhi kebutuhan roket di Indonesia,” ujar Moh Arif Faisal.

 Sejarah kerjasama 
PTDI memiliki sejarah panjang dalam pengembangan roket. Pada tahun 1985-1996, IPTN (sekarang PTDI) memperoleh lisensi resmi dari Forges de Zeebrugge S.A. (FZ) Belgium (sekarang Thales Belgium) untuk memproduksi motor rocket berkaliber 2,75 inch (70 mm).

Kerja sama ini akan dibangkitkan kembali melalui rencana penandatanganan framework agreement yang mencakup joint marketing, sales dan produksi roket kaliber 2,75 inch (70 mm) dimulai dari pasar domestik dan terbuka peluang di pasar regional.

PTDI menggunakan kode RD dan WD untuk produk yang dipasarkan di Indonesia. PTDI telah berhasil mengintegrasikan roket 2,75 inch (70 mm) ke berbagai platform udara milik TNI AD, TNI AU dan TNI AL, baik rotary wing maupun fixed wing.

Beberapa platform yang telah teruji kompatibel dengan roket ini meliputi helikopter AS555 Fennec, BO105, Bell 212, NBell 412, NAS332 Superpuma, serta pesawat F-16 dan Embraer Supertucano. Selain itu, roket ini juga dapat diaplikasikan pada helikopter Apache, Mi-35P dan S70 Blackhawk.

Sejak tahun 1985, PTDI memproduksi dan mengirimkan lebih dari 43.000 unit roket FFAR dan WAFAR 2,75 inch (70 mm) dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai sekitar 20% hingga 40%.

 Kapasitas produksi 
Untuk kapasitas produksinya sendiri mampu mencapai 10.000 unit/tahun. Sedangkan untuk warhead-nya, PTDI telah berhasil memproduksi lebih dari 40.000 unit dengan TKDN 60% hingga 85%, yang kapasitas produksinya mampu mencapai 5.000 unit/tahun.

Dalam hal sertifikasi, pada tahun 2019 PTDI memperoleh Military Air Weapon Type Certificate (TC) dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA) untuk beberapa komponen strategis, seperti Smoke Warhead WD-703 dan Rocket Motor RD-7010, dimana pada tahun 2021 kembali memperoleh sertifikasi yang sama untuk Rocket Motor RD-702 Mod.4, dan Rocket Motor RD-701.

Thales Belgium berencana untuk menginisiasi kerja sama dimulai dari perakitan produk roket 2,75 inch (70 mm) di fasilitas PTDI, yang kemudian dilanjutkan bertahap menuju transfer produksi dari Thales Belgium ke PTDI yang diharapkan dapat mendongkrak nilai TKDN roket PTDI menjadi di atas 40%.

Dalam pertemuan hari ini, PTDI dan Thales Belgium juga berdiskusi terkait arah kerja sama untuk pengembangan unguided rocket dan guided rocket. ***

  Pikiran Rakyat  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More