blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label Energi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Energi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2026

Rosatom Rusia Tandatangani Kesepakatan Proyek PLTN Terapung 200 MW di Indonesia

  Perjanjian ditandatangani di Moskow Ilustrasi proyek PLTN Terapung (Rosatom)

Maluku Utara siap menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menerima listrik tenaga nuklir di bawah proyek pembangkit listrik terapung berkapasitas 200 megawatt yang melibatkan perusahaan nuklir milik negara Rusia, Rosatom.

Rosatom telah menandatangani perjanjian dengan perusahaan Indonesia Pembangkit Listrik Nuklir untuk memasok 200 megawatt listrik dari unit tenaga nuklir terapung ke Maluku Utara, dalam sebuah proyek yang bertujuan untuk memperluas pasokan listrik di Indonesia bagian timur.

Perjanjian tersebut ditandatangani di sela-sela Pekan Energi Rusia di Moskow pada hari Jumat. Kedua perusahaan berencana untuk mengerahkan dua unit pembangkit listrik tenaga nuklir terapung untuk melayani bagian utara Pulau Halmahera.

Proyek ini akan menggunakan unit FPU-100 milik Rosatom, masing-masing dengan kapasitas pembangkitan 100 MW dan dilengkapi dengan reaktor laut seri RITM. Rosatom mengatakan unit-unit tersebut dapat mulai memasok listrik kepada konsumen Indonesia dalam waktu lima tahun setelah ketentuan utama kontrak pasokan listrik berlaku.

Direktur Jenderal Rosatom Alexey Likhachev menggambarkan perjanjian tersebut sebagai tonggak penting dalam kerja sama energi antara Rusia dan Indonesia, menyebutnya sebagai perjanjian ekspor listrik pertama di dunia yang dipasok oleh unit pembangkit listrik tenaga nuklir terapung.

“Kerja sama antara Rosatom dan Indonesia berkembang pesat. Pertemuan kami baru-baru ini dengan Presiden Prabowo Subianto menegaskan kembali bahwa negara kepulauan terbesar di dunia ini secara konsisten menempuh jalur untuk memperkuat keamanan energi dan mencapai netralitas karbon,” kata Likhachev dalam sebuah pernyataan.

Dia mengatakan Rosatom siap menawarkan teknologi canggih dan terbukti, menambahkan bahwa perjanjian tersebut meletakkan dasar untuk kemitraan jangka panjang.

“Saya yakin ini akan mengirimkan sinyal kuat kepada komunitas bisnis global: dengan dukungan pemerintah yang sistematis, sektor swasta secara aktif memimpin dalam memulai proyek infrastruktur nuklir yang mampu mentransformasi perekonomian negara,” tambahnya.

Yudi Utomo Imardjoko, direktur Pembangkit Listrik Nuklir dan ilmuwan nuklir Indonesia, mengatakan proyek tersebut dimaksudkan untuk mendukung transisi energi Indonesia dan memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat, khususnya di wilayah timur.

“Memimpin transisi energi Indonesia adalah tujuan dan tanggung jawab utama kami sebagai investor nasional. Kami sangat yakin bahwa menyediakan listrik yang bersih, andal, dan bebas karbon bagi masyarakat sangat penting untuk mengamankan masa depan energi jangka panjang Indonesia,” kata Yudi.

Ia mengatakan tenaga nuklir dapat membantu memenuhi peningkatan permintaan listrik sekaligus mendukung pembangunan ekonomi, khususnya di Indonesia bagian timur. Ia menambahkan bahwa proyek tersebut disusun sebagai inisiatif bisnis-ke-bisnis (B2B) yang didanai oleh investasi sektor swasta, tanpa bergantung pada anggaran negara (APBN).

Investor Haji Romo Nitiyudo Wachjo, yang juga dikenal sebagai Haji Robert, menyambut baik perjanjian tersebut dan berterima kasih kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, Rosatom, dan delegasi Rusia atas kerja sama mereka.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin karena telah mempercayakan tanggung jawab kepada dirinya dan Yudi untuk memajukan proyek 200 MW di Halmahera Utara, Maluku Utara.

Wachjo, seorang pengusaha pertambangan Indonesia keturunan Jawa-Australia, dikenal sebagai pemilik Indotan Group.

 Indonesia Menjajaki Energi Nuklir

Indonesia telah memasukkan tenaga nuklir dalam perencanaan energi nasionalnya sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat keamanan energi dan mencapai target netralitas karbon pada tahun 2060.

Prabowo telah membahas kerja sama dalam penggunaan energi nuklir secara damai dengan para pejabat Rusia, termasuk Putin selama kunjungan ke Moskow pada Juli 2024 dan Likhachev pada Mei 2026.

Diskusi tersebut mencakup pengembangan tenaga nuklir, infrastruktur, pelatihan tenaga kerja, dan aplikasi teknologi nuklir di luar sektor energi.

Rosatom telah mengusulkan pendekatan dua tahap untuk mengembangkan tenaga nuklir di Indonesia, dimulai dengan unit pembangkit listrik tenaga nuklir terapung skala kecil sebelum beralih ke pembangkit listrik berbasis darat yang dilengkapi dengan reaktor yang lebih besar.

Proyek Maluku Utara yang diusulkan akan menjadi langkah menuju tahap pertama dari rencana tersebut. Namun, perjanjian tersebut tidak menetapkan apakah semua persetujuan peraturan, pengaturan pembiayaan, dan persyaratan implementasi yang diperlukan telah diselesaikan.

 Teknologi Nuklir Terapung

Rosatom menyatakan bahwa unit FPU-100 dirancang untuk menyediakan listrik secara terus menerus kepada komunitas pesisir terpencil dan fasilitas industri. Setiap unit akan menggunakan reaktor RITM-200M, yang menurut perusahaan lebih ringkas dan menawarkan daya keluaran yang lebih tinggi daripada desain reaktor laut sebelumnya.

Rusia telah mengoperasikan Akademik Lomonosov, pembangkit listrik tenaga nuklir terapung pertama di dunia, di wilayah Arktik Chukotka sejak tahun 2020. Pembangkit ini menggunakan dua reaktor KLT-40S dan telah menghasilkan hampir 1,4 miliar kilowatt-jam listrik, menurut Rosatom.

Perusahaan ini juga mengembangkan unit nuklir terapung untuk pelanggan industri di Rusia dan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir skala kecil di Uzbekistan menggunakan reaktor RITM-200N.

Rosatom menyatakan bahwa mereka sedang membangun 27 pembangkit listrik tenaga nuklir di sembilan negara, menjadikannya pemasok utama teknologi nuklir ke pasar luar negeri.

  🤝  Jakarta Globe  

Jumat, 09 Oktober 2026

Prabowo Resmikan Ekspor Perdana Baterai Listrik

  Dan 4 Proyek Industri di IWIP Halmahera Tengah Suasana kawasan industri IWIP di Halmahera Tengah, Maluku Utara. Pada Kamis (8/10/2026), Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik dan 11 proyek hilirisasi di kawasan ini. (Kompas)

Presiden Prabowo Subianto meresmikan peluncuran ekspor perdana kendaraan listrik dan empat proyek industri yang memasuki tahap komersial di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (8/10/2026).

Keempat proyek tersebut adalah Blue Sparking Energy, REPT Battero Indonesia, Pioner Aluminium Industries, dan XCMG Indonesia Manufacturing.

"Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini saya Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto luncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik dan empat proyek industri yang memasuki tahap komersial," kata Prabowo dikutip dalam tayangan YouTube Sekretariat Presiden, Kamis.

Di momen yang sama, Prabowo juga meresmikan peletakan baru pertama (groundbreaking) pembangunan 7 proyek industri di kawasan IWIP.

Ketujuh proyek tersebut, meliputi Guang Ching Nickel Cobalt, Inno Prima Material, Tinci Materials Indonesia, Weda Bay Aluminium, Bintang Karya Aluminium, Flatsolar Energy Indonesia, dan Foton Guang Ching Motor Indonesia.

Kepala Negara mengungkapkan, berdasarkan laporan Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani, realisasi investasi di kawasan tersebut telah mencapai sekitar 20 miliar dollar AS, dengan rencana pengembangan investasi sebesar 7 miliar dollar AS.

Sejak pengembangan kawasan ini, penyerapan tenaga kerja pun telah mencapai lebih dari 100.000 orang.

Seturut realisasi tersebut, Prabowo berpandangan bahwa Indonesia adalah negara yang cerah, dianugerahi oleh sumber daya alam melimpah.

"Mereka-mereka yang mengatakan bahwa Indonesia gelap, collapse, Indonesia akan collapse, tiap bulan diramalkan kita akan collapse. Tapi hari ini saya datang, saya lihat masa depan Indonesia cerah," tutur Prabowo.

Ia juga menuturkan, ekspor perdana baterai kendaraan listrik adalah langkah yang penting.

Menurutnya, hal itu merupakan bukti nyata bahwa strategi hilirisasi Indonesia sudah benar. Ia berkomitmen akan meneruskan upaya tersebut dengan sebaik-baiknya.

"Apa yang telah kita lihat hari ini tidak bisa lepas daripada hari kemarin. Jadi sebagaimana saya mengatakan setiap saat, keberhasilan hari ini menuju kepada keberhasilan hari esok itu telah dimulai dari hari kemarin," tegasnya.

Eks Menteri Pertahanan (Menhan) ini menyebut, pembangunan sebuah bangsa memang bukan usaha yang singkat. Ia dibangun dari generasi ke generasi, dari pemimpin ke pemimpin.

"Nation building is a long march. Nation building is a long march. Ini bagian dari long march itu. Kita menarik energi dan semangat dari masa lalu, kita gerakan semangat dan energi hari ini untuk kita maju lebih semangat, lebih energi di masa depan. Terima kasih," tandasnya.

 Investasi capai Rp 180 triliun

Di kesempatan yang sama, Rosan menuturkan, 10 proyek strategis di Kawasan IWIP menjadi bagian dari rangkaian investasi dengan total mencapai 10,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 180 triliun.

Dari 10 proyek tersebut, empat proyek tercatat sudah selesai dan baru selesai.

Ekspor produk dari keempatnya mencapai 3,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 60 triliun.

Sementara itu, investasi enam proyek lainnya yang baru mulai dibangun (groundbreaking) senilai 6,8 miliar dollar AS.

"Dan akan tercipta lebih dari 10.000 lapangan pekerjaan dari 10 proyek tersebut," tutur Rosan.

Lebih lanjut Rosan memaparkan, keempat proyek yang sudah selesai tersebut bergerak di sektor baterai berbasis nikel, produksi baterai, aluminium elektrolit, dan alat berat berbasis listrik.

Sementara, proyek sisanya yang masih dalam tahap groundbreaking bergerak pada produk material baterai berbasis nikel juga, separator baterai EV, elektrolit baterai EV, aluminium elektrolitik, dan alat berat berbasis listrik yang akan dibangun untuk truck pertambangan dan industri, serta photovoltaic glass untuk solar energy industri.

"Dan kawasan industri ini sejak 2018 dan telah menyerap investasi 20 miliar dollar AS, dengan 7 miliar dollar AS yang baru, menjadi total 27 miliar dollar AS dengan penyerapan tenaga kerja total 117.000 tenaga kerja di kawasan ini," sebut Rosan.

  👷  Kompas  

Selasa, 01 September 2026

Indonesia-Malaysia Garap Baterai Nusantara, Katodanya Dibuat di RI

  💡 NRBI di acara International Battery Summit 2026. Foto: Fitra Andrianto/kumparan 

Indonesia dan Malaysia mengembangkan baterai yang diberi nama Nusantara Battery. Baterai tersebut merupakan hasil kerja sama antara National Battery Research Institute (NBRI) dengan NanoMalaysia Berhad (NMB).

"NBRI memiliki impian dan visi yang besar, tidak hanya untuk Indonesia. Indonesia harus mandiri dalam hal energi. Kita harus menyadari bahwa kita masih mengimpor baterai hingga saat ini," buka Pendiri NBRI Evvy Kartini di JIExpo Kemayoran, Rabu (26/8/2026).

Evvy mengungkapkan bahwa Indonesia selama ini masih dihadapkan pada ketergantungan impor sel baterai maupun komponen pendukungnya dari luar negeri, padahal tanah air merupakan pemilik cadangan mineral nikel terbesar di dunia.

Oleh sebab itu, NBRI yang didirikan sejak lima tahun lalu katanya terus difokuskan menjadi pemimpin dalam mengakselerasi riset baterai, agar mampu diserap secara komersial oleh industri manufaktur otomotif nasional.

"Namun, jika kita bicara tentang sumber daya alam kita, nikel adalah sumber daya tertinggi di dunia yang ada di Indonesia. Jadi, Indonesia harus memanfaatkan keunggulan ini," ungkapnya.

Hasil dari konsistensi riset tersebut dibuktikan dengan kehadiran Baterai Nusantara yang dikembangkan melalui kolaborasi strategis regional di kawasan Asia. Katoda baterai tersebut diproduksi secara mandiri di Indonesia, sementara proses assembling sel baterainya bekerja sama dengan Malaysia.

"Saya senang hari ini dapat mengumumkan bahwa minggu lalu telah diluncurkan Baterai Nusantara, yang katodanya dibuat di Indonesia dan baterainya dibuat di Malaysia bersama NanoMalaysia. Ini adalah salah satu contoh konkret dari kolaborasi antara negara-negara Asia," ungkap Evvy.

Sebagai catatan, sebelumnya Nusantara Battery diperkenalkan di ASEAN Battery Technology Conference (ABTC) ke-4 di Sepang, Malaysia pada 19-21 Agustus 2026.

"Kami ada asosiasi ASEAN dari Thailand, Malaysia, Filipina, Singapura, sampai Indonesia. Kita buat yang namanya ABTC, Asian Battery Technology Conference setiap tahun. Nah, kita dengan Malaysia ini berpikir apa yang bisa dibuat bersama," ungkapnya.

Evvy bilang, perkembangan ini menandai perubahan peta industri otomotif dan baterai nasional. Pada periode awal perbincangan masih terbatas pada penambangan olahan nikel kadar rendah dan fasilitas smelter awal, kini fokus utama sudah merambah ke tahap pemenuhan rantai pasok manufaktur baterai siap pakai.

 Peran Indonesia di Baterai Nusantara

Dalam pembagian peran proyek Baterai Nusantara, Indonesia mengambil posisi kunci sebagai penyedia bahan baku. Lembaga riset NBRI menyuplai komponen katoda berbasis nikel olahan dalam negeri.

"Indonesia kaya akan local resources. Kebetulan dari tempatnya kami di NBRI ini sudah menguasai teknologi untuk membuat katoda. Kenapa tidak kita buat saja satu baterai bersama? Baterainya memang kebetulan karena pilot-nya ada di Malaysia, bahan ini dikirim ke sana," terangnya.

Proses perakitan sel baterai kemudian dilakukan di laboratorium pengujian Malaysia sebelum akhirnya resmi diperkenalkan ke publik oleh otoritas setempat.

Secara teknis, Evvy bercerita baterai yang dikembangkan itu menggunakan formulasi berbasis nikel. Rekanan Malaysia memberikan sampel standar komersial yang kemudian diteliti dan ditingkatkan kualitasnya oleh tim peneliti di laboratorium Indonesia.

Namun, saat dikonfirmasi terkait kerjasama dengan pabrikan kendaraan, Evvy belum merinci hal tersebut. Ia menjelaskan saat ini baru dibuat skala kecil.

"Mereka kasih ke kita contoh komersial yang mereka pakai, kemudian kami bawa ke lab, kami buat. Mungkin hasilnya bisa lebih bagus dari itu. Baterai Nusantara ini memang baru dibuat skala pilot-nya karena mereka juga baru launching," jelasnya.

Keputusan merakit Baterai Nusantara di Malaysia ketimbang di Tanah Air diakui Prof. Evvy sebagai bentuk kalkulasi teknis ketersediaan fasilitas pilot cell yang saat itu belum siap di dalam negeri.

"Kenapa tidak diintegrasikan di Indonesia saja? Karena kalau Malaysia saja mau menerima, masa Indonesia tidak? Tapi di Indonesia fasilitasnya belum ada. Cita-cita kami di NBRI tentu ingin punya pilot di sini, supaya kalau kita buat bahan di sini, ya dirakit di sini juga," tegasnya.

  💡  Kumparan  

Senin, 24 Agustus 2026

BRIN Jajaki Kerja Sama Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)

  Kunjungi Barata Indonesia Ilustrasi reaktor nuklir mini BRIN (BRIN))

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan kunjungan ke PT Barata Indonesia (Persero) untuk menjajaki peluang kerja sama dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia( 20/8) .

Kunjungan yang dilakukan langsung oleh Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir - BRIN Prof. Dr. Eng.Topan Setiadipura, M.Si, M.Eng beserta tim RTRN diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara lembaga riset dan industri nasional dalam mendukung pengembangan teknologi energi strategis.

Dalam pertemuan tersebut, membahas potensi kolaborasi riset dan pengembangan (R&D), transfer knowledge, serta penguatan kompetensi sumber daya manusia.

Sinergi ini diharapkan dapat menggabungkan kapabilitas riset BRIN dengan pengalaman dan kemampuan manufaktur Barata Indonesia.

Tim BRIN juga meninjau secara langsung fasilitas workshop Barata Indonesia untuk melihat kapasitas perancangan, prototyping, produksi, hingga pengujian kualitas sebagai bagian dari penjajakan kesiapan industri dalam mendukung kebutuhan teknologi PLTN.

Melalui kunjungan ini, BRIN dan Barata Indonesia berkomitmen melanjutkan penjajakan kerja sama melalui penyusunan roadmap, pembentukan tim kerja, serta kajian peluang riset dan transfer teknologi.

Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas industri nasional dan mendukung kemandirian energi Indonesia melalui pengembangan PLTN.

  💡  Barata Indonesia  

Selasa, 18 Agustus 2026

BRIN Kembangkan Material Baterai Kendaraan Listrik dari Limbah Batu Bara

  Dengan Alih teknologi Daur ulang baterai dari limbah (Ist)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan material baterai untuk kendaraan listrik dari limbah batu bara. BRIN mengembangkan grafit artifisial dari limbah batu bara untuk bahan baku baterai dalam upaya mendukung ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Dikutip dari Antara, Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, pihaknya memproduksi grafit artifisial dari limbah batu bara. "Di sektor hulu material masa depan, BRIN tengah mengembangkan Baterai Li-ion Generasi 5V serta memproduksi grafit artifisial dari limbah batu bara," kata Arif.

Menurutnya, grafit artifisial yang tengah dikembangkan BRIN tersebut memiliki tingkat kesesuaian struktur mencapai 96,8 persen.

BRIN sendiri sudah menciptakan beberapa purwarupa kendaraan listrik. Mereka mengembangkan MEVI DELL-E (baik versi I-Seater maupun O-Seater) serta E-TRIGO yakni kendaraan listrik roda tiga yang dirancang khusus untuk niaga dan ramah bagi penyandang disabilitas.

"BRIN juga mematangkan sistem konversi hybrid (penggabungan mesin bensin, motor listrik, dan controller) yang memiliki potensi penghematan Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga 20-40 persen, serta konversi motor listrik yang memanfaatkan rangka motor eksisting dengan biaya yang jauh lebih terjangkau," kata Arif Satria.

Sementara itu, terkait kendaraan listrik Presiden Prabowo Subianto telah mengumumkan pemerintah akan memberikan insentif besar untuk motor listrik. Dalam Pidato Presiden RI dalam Rangka Penyampaian RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan, Prabowo menyebut bakal memberikan insentif yang cukup besar untuk produsen yang bisa memproduksi satu juta motor listrik buatan lokal.

"Hari ini kita akan memberikan insentif yang cukup besar untuk mereka yang bisa membangun 1 juta motor listrik yang diproduksi di dalam negeri oleh perusahaan Indonesia," ucap Prabowo baru-baru ini.

Kebijakan insentif itu, kata Prabowo, bisa menurunkan biaya operasional kendaraan, mengurangi konsumsi BBM impor, sekaligus membesarkan industri motor listrik nasional beserta rantai pasok baterai, komponen, perangkat lunak, serta layanan purna jualnya. Prabowo saat peresmian ekosistem motor listrik nasional sudah mengungkap bahwa biaya operasional motor listrik lebih murah ketimbang motor bensin. Bahkan bisa dihemat sampai 70 persen.

Menurut Prabowo, saat ini Indonesia sudah memiliki unsur lengkap untuk pengembangan baterai ataupun motor listrik. Ekosistemnya juga sudah terbentuk.

Prabowo juga menambahkan, motor listrik punya sejumlah keunggulan. "Penghematan bagi rakyat, penghematan bagi keluarga mereka, kita perkirakan mereka akan bayar 50 persen lebih rendah dari pengeluaran yang mereka lakukan sekarang untuk motor BBM bahkan bisa nanti turun hanya 30 persen dari biaya yang mereka keluarkan sekarang," tutur Prabowo. (rgr/lth)

  💡  Detik  

Kamis, 13 Agustus 2026

BRIN Pamerkan Riset Kuantum

  Inovasi energi baterai Inovasi riset baterai kuantum BRIN. (BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sempat menjadi sasaran roasting warganet setelah memamerkan sejumlah hasil inovasi di depan Presiden Prabowo Subianto berupa sepatu, genteng, hingga keripik. Bagi sebagian warganet, produk-produk tersebut dinilai belum mencerminkan gambaran inovasi yang seharusnya dihasilkan sebuah lembaga riset.

BRIN kemudian menunjukkan riset yang dikembangkan sebenarnya tidak berhenti pada produk yang terlihat sederhana. Salah satunya datang dari Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN yang tengah mengembangkan teknologi berbasis fisika kuantum, termasuk konsep baterai kuantum (quantum battery).

Melalui akun Instagram resminya, Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN juga memperkenalkan riset quantum magnetometry, yakni teknologi sensor kuantum berbasis berlian dengan NV Center yang dirancang untuk mengukur medan magnet dengan tingkat sensitivitas sangat tinggi.

"Nah, terkait riset futuristik, di BRIN-Q, kami sedang mengembangkan quantum magnetometry, teknologi sensor kuantum berbasis berlian (NV Center) yang mampu mengukur medan magnet dengan sensitivitas sangat tinggi," tulis akun @quantumresearch.id, dikutip Sabtu (8/8/2026).

 Apa Itu Baterai Kuantum?

Baterai kuantum (quantum battery) berbeda dari baterai biasa yang bekerja melalui reaksi elektrokimia. Baterai jenis ini menyimpan energi pada keadaan kuantum suatu sistem, misalnya atom, molekul, spin, atau sistem cahaya-materi.

Dalam fisika kuantum, banyak sistem dapat berinteraksi secara kolektif. Interaksi ini dapat menghasilkan korelasi dan koherensi.

Pada baterai kuantum yang terdiri atas banyak unit penyimpan energi, unit-unit tersebut dapat diisi secara bersamaan melalui interaksi kolektif. Secara teori, mekanisme ini dapat menghasilkan "quantum advantage", seperti peningkatan charging power dibandingkan strategi pengisian yang bekerja secara independen pada setiap unit.

 Tantangan Riset Baterai Kuantum

Hasil riset berbasis kuantum ini tidak bisa muncul begitu saja. Melainkan tergantung pada sistem, jenis interaksi, protokol pengisian, serta bagaimana sistem berinteraksi dengan lingkungannya.

Sehingga riset dengan topik kuantum ini masih terus diupayakan oleh peneliti dari berbagai dunia dan menjadi hot topic. Mereka berlomba mencari model baterai kuantum paling optimal.

Sejumlah eksperimen juga mulai mendemonstrasikan prinsip-prinsip dasar penyimpanan dan pengisian energi pada sistem kuantum. Meski demikian, riset ini memiliki banyak tantangan.

Tantangan besarnya adalah menjaga energi dan keadaan kuantum tetap tersimpan, mengurangi decoherence dan disipasi. Baterai kuantum yang paling ideal adalah yang cepat terisi.

Selain itu juga bisa lama bertehan, dan ketika dibutuhkan untuk ditransfer, ekstraksi energinya mendekati 100%. Sehingga pencarian model untuk baterai kuantum tidaklah mudah.

Riset ini aktif dilakukan oleh negara-negara maju. Salah satunya tetangga Indonesia, yakni Australia yang terdepan dalam eksperimen baterai kuantum.

Sementara Indonesia melalui BRIN, kini merupakan kontributor penting dalam pencarian model baterai kuantum yang efisien. Sudah ada delapan makalah ilmiah dari BRIN tentang baterai kuantum.

 Apakah Sepatu-Genteng Habiskan Anggaran Triliunan?

Banyak juga yang berspekulasi bahwa BRIN menghabiskan anggaran triliunan hanya untuk membuat sepatu, genteng, dan keripik. BRIN menjawab bahwa hal itu tidaklah benar. Adapun anggaran Rp 6 triliun itu mencakup banyak kebutuhan dan hanya berlaku untuk satu tahun.

Sepatu karet yang dihasilkan BRIN memiliki bahan Smart Rubber. Karet ini tidak bisa dihasilkan begitu saja melainkan dibuat menggunakan teknologi tinggi milik BRIN.

BRIN berharap agar masyarakat lebih menyorot inovasi Smart Rubber yang menjadi hasil riset dan inovasi unggul BRIN ketimbang hanya berfokus pada bentuknya berupa sepatu atau sandal.

Smart Rubber sendiri tidak hanya digunakan untuk membuat sepatu, tetapi juga untuk berbagai kebutuhan industri seperti otomotif, penerbangan, dan keamanan.

Begitu juga dengan keripik ubi. Bukan soal keripriknya, tetapi BRIN mengajak masyarakat agar lebih fokus pada variertas unggul ubi ungu yang telah diriset dan merupakan inovasi milik BRIN. (cyu/pal)

  💡  detik  

Minggu, 09 Agustus 2026

BRIN Sudah Kembangkan Reaktor Nuklir Mini

  Reaktor Nuklir Mini 50 MW (BRIN))

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkapkan telah mengembangkan teknologi Small Modular Reactor (SMR) atau reaktor nuklir modular kecil yang siap ditawarkan untuk dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik. Dia mengatakan untuk membuat proyek itu dibutuhkan nilai investasi sekitar Rp 2,5 triliun.

Arif menjelaskan, SMR yang dikembangkan BRIN memiliki kapasitas sekitar 50 megawatt (MW). Kapasitas itu memang lebih kecil dibandingkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) konvensional.

"Kecil masih sekitar 50 megawatt. Tapi memang namanya small, paling tidak kita punya teknologinya," kata Arif, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (7/8/2026).

Dia menjelaskan desain teknologi SMR yang telah siap, termasuk untuk reaktor generasi ketiga maupun keempat yang dinilai memiliki tingkat keselamatan yang tinggi. Sehingga saat ini menunggu pihak yang berminat mengadopsi teknologi tersebut, karena implementasi itu membutuhkan dukungan investasi.

"Tapi BRIN juga siap dengan dua level: satu generasi tiga, dua generasi empat. Nah, dengan dua generasi yang sudah kita siapkan ini, ini tinggal nunggu siapa yang akan pakai teknologinya BRIN ini. Karena untuk itu kan butuh investasi. Berapa investasinya? Rp2,5 triliun. Itu kecil, tidak besar. Kalau kita mau coba, ya, BRIN sudah siap untuk itu," tuturnya.

Meskipun begitu, BRIN masih terus menyempurnakan desain dan model SMR sebagai bagian dari pengembangan teknologi nuklir nasional. Di sisi lain, riset teknologi nuklir BRIN saat ini juga difokuskan untuk mendukung sektor nonkelistrikan.

"Yang jelas, BRIN untuk teknologi nuklir yang berkaitan dengan energi ya itu SMR yang sedang kita siapkan desainnya, modelnya. Namun yang sekarang kita arahkan adalah pemanfaatannya untuk pangan dan kesehatan," katanya.

Dia menyebut penggunaan teknologi nuklir untuk sektor kesehatan seperti radiofarmaka untuk identifikasi penyakit kanker. Selain itu juga untuk metode pengawetan buah-buahan supaya lebih lama ketika ingin melakukan ekspor. (pgr/pgr)

  💡  CNBC  

Kamis, 09 Juli 2026

Prabowo dan Modi Sepakati 16 MoU

 Termasuk soal Rudal Supersonic BrahMos Presiden Prabowo Subianto menyambut kedatangan Perdana Menteri India Narendra Modi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (6/7/2026) (antara)

Pertemuan Prabowo Subianto dan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi menghasilkan 16 kesepakatan.

Salah satunya kerja sama terkait rudal jelajah supersonik BrahMos.

"Kami yakin kesepakatan-kesepakatan tersebut dapat segera diimplementasikan sehingga memberi hasil dan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara," kata Prabowo saat memberikan keterangan pers bersama PM Modi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Dokumen kerja sama yang diteken di hadapan Prabowo dan Modi itu antara lain perpanjangan perjanjian kerangka kerja antara Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia dan Indian Space Research Organisation mengenai eksplorasi dan pemanfaatan antariksa untuk tujuan damai.

Selain itu, Indonesia dan India mengumumkan 15 dokumen lainnya yang mencakup kerja sama di sejumlah bidang strategis, dari pertahanan, energi, kesehatan, kebudayaan, hingga teknologi. Berikut ini rinciannya:

1. Perpanjangan Framework Agreement antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia dan Indian Space Research Organisation (ISRO) tentang kerja sama dalam eksplorasi dan pemanfaatan antariksa untuk tujuan damai.
2. Perpanjangan protokol Nota Kesepahaman tentang kerja sama keselamatan dan keamanan maritim.
3. Nota Kesepahaman tentang kerja sama di bidang penanggulangan bencana.
4. Nota Kesepahaman tentang kerja sama di bidang mineral dan teknologi untuk rantai pasok baja.
5. Pengaturan Pelaksanaan (Implementing Arrangement) mengenai kolaborasi tenaga kesehatan.
6. Letter of Intent (LoI) untuk konservasi dan restorasi Kompleks Candi Prambanan, Indonesia.
7. Nota Kesepahaman tentang kerja sama di bidang telekomunikasi, teknologi, dan layanan.
8. Nota Kesepahaman tentang kerja sama di bidang regulasi produk medis.
9. Nota Kesepahaman tentang kerja sama di bidang pertanian.
10. Nota Kesepahaman tentang kerja sama di bidang pengelolaan dan pemanfaatan teknologi dalam penyelenggaraan pemilu.
11. Nota Kesepahaman tentang kerja sama penelitian, teknologi, dan inovasi.
12. Penandatanganan kontrak sistem pertahanan rudal BrahMos antara BrahMos dan Kementerian Pertahanan.
13. Perjanjian kerja sama rudal udara-ke-udara antara Bharat Dynamics dan Republic Corp.
14. Nota Kesepahaman antara Non-Ferrous Materials Technology Development Centre, MIDWEST Ltd., dan PT Perusahaan Mineral Nasional.
15. Strategic Joint Venture antara Steel Authority of India dan PT Krakatau Steel.
16. Nota Kesepahaman antara Indian Institute of Management Bangalore dan PT Inteligensia Grahatama. (eva/haf)

  🚀 
detik  

Senin, 22 Juni 2026

PT PAL Kini Bangun Fondasi Anjungan Gas Mako di Laut Natuna

 👷 Bukan Cuma Kapal Perang (PAL)

PT PAL Indonesia resmi menandatangani kontrak kerja sama dengan West Natuna Exploration Limited (WNEL) untuk pelaksanaan proyek Engineering, Procurement, Construction and Transportation (EPCT) Conductor Support Frame (CSF) pada Proyek Pengembangan Mako di Wilayah Kerja Duyung, Laut Natuna, Kepulauan Riau.

Dalam kerja sama ini, WNEL menunjuk PT PAL Indonesia sebagai kontraktor utama yang bertanggung jawab atas pekerjaan rekayasa, pengadaan material, konstruksi, hingga transportasi struktur Conductor Support Frame yang akan menjadi bagian dari infrastruktur produksi Lapangan Gas Mako.

General Manager Sales & Marketing PT PAL Indonesia, Aris Wacana Putra, mengatakan kontrak ini menjadi langkah strategis perusahaan dalam memperluas ‎pasar komersial sekaligus memperkuat peran industri nasional dalam mendukung pengembangan sektor energi.

“Kepercayaan ini menunjukkan kapabilitas rekayasa dan manufaktur yang selama ini dikembangkan PT PAL untuk menjawab kebutuhan pembangunan infrastruktur eksploitasi gas lepas pantai. Selain memperluas portofolio bisnis perusahaan, proyek ini juga menjadi kontribusi nyata industri nasional dalam mendukung penguatan ketahanan energi Indonesia.” ujarnya.

Proyek Mako merupakan salah satu proyek pengembangan lapangan gas strategis nasional yang telah melalui milestone Final Investment Decision (FID) pada Maret 2026. Berlokasi di Laut Natuna, proyek ini akan menjadi sumber pasokan gas domestik yang penting untuk mendukung kebutuhan pembangkit listrik nasional serta memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Keterlibatan PT PAL dalam proyek ini menandai perluasan kompetensi perusahaan dari sektor perkapalan dan pertahanan menuju industri energi lepas pantai. Tidak menutup kemungkinan akan ada perluasan bisnis di wilayah kerja Duyung.

Pengalaman dalam pembangunan kapal perang, kapal niaga, dan berbagai platform maritim dinilai memberikan fondasi yang kuat untuk memenuhi kebutuhan konstruksi struktur offshore bagi industri hulu minyak dan gas.

Kepercayaan terhadap pelaksanaan Proyek Mako didukung oleh rekam jejak perusahaan dalam mengerjakan berbagai proyek offshore oil & gas sejak tahun 2005.

Beberapa proyek yang telah berhasil diselesaikan antara lain EPC Zelda Platform (CNOOC SES Ltd), EPCI Wellhead Platform Ujung Pangkah (Amerada Hess), EPC KE-32 Platform (Kodeco Energy), EPCI Wellhead Platform Wortel dan EPC Wellhead Platform Peluang (Santos Pty Ltd), EPC Jacket Bukit Tua (Petronas), EPCI Gas Compressor, serta EPCI Platform Madura BD.

Selain mendukung pengembangan infrastruktur energi nasional, proyek ini juga diharapkan meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan mendorong partisipasi rantai pasok lokal melalui keterlibatan berbagai industri pendukung nasional.

PT PAL menargetkan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai standar kualitas, keselamatan, dan jadwal yang telah ditetapkan dengan dukungan transformasi digital berbasis Industri Maritim 4.0 (IM4).

Kontrak ini juga memperkuat posisi PT PAL sebagai perusahaan rekayasa maritim nasional yang terus melakukan diversifikasi bisnis ke sektor-sektor strategis bernilai tambah tinggi.

Ekspansi ke industri energi lepas pantai diharapkan dapat membuka peluang pasar baru sekaligus memperkuat kontribusi perusahaan terhadap pembangunan ekonomi dan ketahanan energi nasional.

 👷  PAL Indonesia  

Sabtu, 06 Juni 2026

Indonesia Memajukan Perdagangan dan Kerjasama Strategis dengan Turkiye

Berupaya mencapai volume perdagangan bilateral sebesar 10 miliar dolar AS https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjP4R842OujwJuHkKS2ttAdH03sniJCkc7u4s6Z4pHT7kTUkfQGVE5jqFgooMSpiMEYWCip0lm3j6_TTA0cDlraOFGVGBAaw3A8MWadzQyGfBD2lK9xsSY2U_vnybZexCNN2Lau5FcsFfuMZrdTv-3q5Gi48M_fC_lRghVjnVVEmWYWZgALTyyVGjF2N3MQ/s1920/INFOGRAFIK_Jet_Tempur_KAAN_Turki_Jaga_Langit_RI-2025_06_15-16_33_22_ac050a7345219e333b6c3c8d9d6547a2.jpgInfografis pesawat generasi kelima KAAN Turkiye (Katadata)

Menteri Luar Negeri Turkiye, Hakan Fidan, mengatakan Ankara dan Jakarta siap untuk mengejar kerja sama yang lebih konkret di sektor-sektor kunci kedua negara. Pada hari Rabu bahwa pertemuannya di Indonesia sangat produktif, mencakup berbagai isu mulai dari kerja sama pertahanan dan energi hingga kecerdasan buatan dan industri makanan halal.

Dalam pernyataan yang diunggah di akun media sosial NSosyal setelah kunjungan resminya, Fidan mencatat bahwa diskusi dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Menteri Luar Negeri Sugiono berfokus pada kerja sama yang sedang berlangsung dan inisiatif bersama di masa depan antara kedua negara.

“Setelah kunjungan kami ke Singapura, pertemuan hari ini di mitra strategis kami, Indonesia, sangat produktif dalam hal memajukan agenda multidimensional kami,” kata Fidan.

Menurut Fidan, pembicaraan tersebut membahas kerja sama di bidang industri pertahanan, transportasi, energi, kecerdasan buatan, dan sektor makanan halal, serta langkah-langkah yang dapat lebih memperkuat hubungan bilateral.

Ia mengatakan kedua belah pihak juga meninjau proyek-proyek yang bertujuan untuk mencapai target perdagangan bilateral sebesar 10 miliar dolar AS yang ditetapkan oleh Presiden Recep Tayyip Erdoğan dan Presiden Prabowo Subianto.

“Kami mengevaluasi secara detail proyek-proyek yang akan membantu kami mencapai target volume perdagangan sebesar 10 miliar dolar AS,” kata Fidan, menambahkan bahwa visi yang ditunjukkan oleh kedua pemerintah menunjukkan kesiapan mereka untuk mengejar kerja sama yang lebih konkret dan efektif di masa mendatang.

Pada April 2025, Presiden Erdoğan mencatat bahwa mereka membahas langkah-langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan volume perdagangan hingga mencapai target 10 miliar dolar AS secara seimbang dan saling menguntungkan dalam konferensi pers bersama dengan mitranya dari Indonesia, Prabowo Subianto, di mana kedua pemimpin berjanji untuk lebih meningkatkan kerja sama.

Sementara itu, Subianto memuji peran Ankara dalam urusan regional dan mengatakan Indonesia ingin ikut serta dalam proyek KAAN dan kapal selam.

“Saya mengundang perusahaan-perusahaan Turki untuk berinvestasi. Sebagai pemimpin Global Selatan dan mitra strategis, Indonesia dan Turki harus memikul tanggung jawab untuk membentuk tatanan global baru,” katanya, dan menambahkan, “Indonesia tertarik untuk berpartisipasi dalam proyek KAAN dan kapal selam.”

Diskusi tersebut juga mencakup isu-isu regional dan internasional, khususnya perkembangan di Timur Tengah dan dinamika strategis yang berkembang di kawasan Asia-Pasifik.

Fidan mengatakan kedua pihak bertukar pandangan tentang berbagai isu global dan menegaskan kembali koordinasi erat mereka dalam masalah Palestina.

Ia menekankan bahwa Turki dan Indonesia akan melanjutkan kerja sama intensif mereka sebagai dua negara sahabat yang berbagi nilai dan tujuan yang sama.

  ✈ Daily Sabah 

Jumat, 05 Juni 2026

Indonesia-Rusia Kerja Sama Pembangunan PLTN Terapung dan Kapal Cepat

  Di sepakati di Moskow Indonesia-Rusia Kerja Sama Pembangunan PLTN Terapung dan Kapal Cepat (ist)

Pemerintah Indonesia dan Rusia menyepakati perluasan kerja sama infrastruktur maritim antara kedua negara.

Kesepakatan ini dicapai dalam agenda Konsultasi Bilateral Kedua antara Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dengan Penasihat Presiden sekaligus Ketua Dewan Maritim Rusia, Nikolai Patrushev, di Moskow, Senin, 1 Juni 2026.

Pertemuan ini menitikberatkan pada realisasi sejumlah rencana proyek strategis.

Di sektor energi dan manufaktur, PT PAL Indonesia dan perusahaan pelat merah Rusia, Rosatom, tengah merampungkan nota kesepahaman untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Terapung (Floating Nuclear Power Plant/FNPP), menyusul penandatanganan Non-Disclosure Agreement (NDA) pada April 2026.

Pada sektor galangan dan logistik, PT PAL juga mematangkan kerja sama pembuatan kapal dengan Ak Bars Shipbuilding Corporation. Sementara itu, PT Pelindo tengah menindaklanjuti pengembangan armada kapal berkecepatan tinggi bersama Cifrex.

Dari sisi pemenuhan tenaga kerja, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI sedang menyiapkan skema pengiriman tenaga terampil dari sektor galangan kapal ke Rusia.

AHY menegaskan, sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki kebutuhan mendesak atas integrasi konektivitas antarmoda guna menekan tingginya biaya logistik nasional. Pengalaman Rusia di bidang teknologi maritim dan transportasi dinilai sejalan dengan kebutuhan infrastruktur Nusantara.

Guna memastikan seluruh rencana kerja tersebut tidak mandek, Indonesia dan Rusia resmi membentuk tiga kelompok kerja (Pokja) operasional. Pokja pertama ditugaskan untuk memacu pengembangan industri galangan kapal dan pelabuhan yang berkelanjutan.

Pokja kedua mengatur tata kelola sumber daya kelautan dan perikanan. Sedangkan Pokja ketiga difokuskan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, riset, serta pelatihan maritim.

Rangkaian kesepakatan ini merupakan manifestasi langsung dari Deklarasi Kemitraan Strategis yang sebelumnya disahkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin pada Juni 2025.

  🤝 
Sindonews  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More