blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label UAV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UAV. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2026

Drone Asal Indonesia Berhasil Tembus Pasar Australia


Ekspor perdana drone (Ist)

Keberhasilan Industri Kecil Menengah (IKM) asal Kabupaten Bandung, PT Bentara Tabang Nusantara, dalam merealisasikan ekspor perdana pesawat udara nirawak (unmanned aerial vehicle—UAV) ke Australia menjadi tonggak penting bagi perkembangan industri teknologi nasional.

Ekspor yang dilakukan pada Selasa, 3 Februari tersebut menandai kemampuan industri dalam negeri untuk menembus pasar global dengan produk berbasis inovasi. Pencapaian ini menunjukkan bahwa Indonesia mulai bertransformasi dari sekadar konsumen teknologi pemantauan wilayah menjadi produsen sistem pengindraan ruang yang memiliki daya saing internasional.

Produk yang diekspor, yakni drone Omnibe RTB Nopayload, dirancang untuk kebutuhan surveilans dengan kemampuan pemantauan area hingga jarak pandang mencapai 5.000 hektare. Kapasitas ini menjadikan drone tersebut relevan untuk pengawasan wilayah luas, seperti kawasan pertanian, perkebunan, kehutanan, pertambangan, hingga pengamanan infrastruktur strategis.

Masuknya drone buatan Indonesia ke pasar Australia juga mencerminkan kesesuaian teknologi dengan karakter geografis negara tujuan. Australia dikenal memiliki bentang wilayah yang sangat luas dengan banyak area terpencil sehingga membutuhkan sistem pemantauan berbasis udara yang andal dan efisien. Drone produksi PT Bentara Tabang Nusantara dinilai mampu memenuhi kebutuhan tersebut melalui kombinasi jangkauan pemantauan yang luas, fleksibilitas operasional, serta efisiensi biaya sehingga memiliki daya saing dalam peta industri drone global.

Keberhasilan ekspor perdana ini tidak terlepas dari dukungan Bea Cukai Bandung yang berperan sebagai pendamping industri dan fasilitator perdagangan. Dilansir dari JPNN.com, Kepala Kantor Bea Cukai Bandung, Budi Santoso, menyampaikan bahwa ekspor ini mencerminkan kesiapan industri nasional untuk bersaing di pasar internasional sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan devisa negara dan penguatan ekonomi nasional. Bea Cukai juga menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kinerja ekspor melalui pelayanan kepabeanan yang optimal, pengawasan yang efektif, serta penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku usaha.

Sinergi antara inovasi teknologi, dukungan regulasi, dan kebutuhan pasar global menjadi faktor kunci keberhasilan ekspor drone ini. Pencapaian tersebut tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global teknologi pemantauan wilayah, sekaligus membuka peluang ekspor lanjutan di sektor teknologi berbasis analisis spasial

 
Spatial Highlights  

Selasa, 17 Februari 2026

Iran Tawarkan Teknologi Drone Mutakhir

🛩  Siap bangun pabrik di Indonesia Drone kamikaze Iran (Ist)

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengatakan Teheran tengah mengupayakan kerja sama dengan Indonesia di bidang teknologi baru. "Saat ini kami sedang mengupayakan kerja sama antara kedua pihak, perusahaan Iran dan Indonesia," kata Dubes Boroujerdi dalam wawancara khusus d, Jakarta, Sabtu (14/2/2026).

Boroujerdi menyatakan, Iran merupakan salah satu negara yang sangat maju di dunia dalam bidang teknologi baru. Iran pun dinilai sangat unggul di bidang nanoteknologi, bioteknologi, nuklir, teknologi damai, teknologi kesehatan, produksi peralatan kesehatan, teknologi pertanian, dan teknologi baru lainnya di bidang tersebut.

Indonesia dinilai tertarik untuk melakukan kerja sama di bidang tersebut. Boroujerdi menyatakan, saat ini Iran telah memiliki hubungan yang erat dengan beberapa lembaga dan badan pemerintah RI di bidang transfer teknologi, dan di bidang lain seperti drone.

"Ketika kita berbicara tentang drone, biasanya kita berpikir bahwa penggunaannya hanya untuk satu hal, tetapi sebenarnya tidak. Anda tahu bahwa ada banyak sekali cara damai untuk menggunakan drone di bidang pertanian dan sektor ekonomi lainnya," kata dia.

Dia mengatakan, Iran tengah mengupayakan kerja sama di antara perusahaan kedua negara, dan negosiasi akan dilakukan melalui webinar. Perwakilan Iran bahkan akan datang ke Indonesia atau pergi ke Iran untuk membicarakan hal tersebut. Jika perusahaan-perusahaan Indonesia berminat untuk bekerja sama di bidang tersebut, Kedutaan Besar Iran di Jakarta siap menjembatani hubungan antara kedua belah pihak agar hal tersebut dapat terwujud.

Dorongan kerja sama tersebut merupakan bagian dari peran Iran sebagai mitra strategis Indonesia dalam bidang terkait. Boroujerdi lebih lanjut menjelaskan, Iran merupakan salah satu dari sedikit negara di dunia yang teknologinya dikembangkan secara mandiri di dalam negeri.

"Kami tidak mengimpor teknologi apa pun karena, seperti yang Anda ketahui, sudah hampir 47 tahun Iran berada di bawah sanksi yang sangat berat dari Amerika Serikat, dan kami tidak dapat mengimpor teknologi apa pun," kata dia.

"Jadi, rakyat Iran mampu mengembangkan dan memproduksi teknologi baru dan teknologi canggih mereka sendiri, dan mereka memiliki pengetahuan itu sendiri," imbuhnya. Oleh karena itu, dia menyatakan kesiapan Iran untuk melakukan kerja sama di bidang sumber daya manusia, termasuk di bidang transfer teknologi dengan Indonesia.

"Kami siap membawa perusahaan-perusahaan kami untuk mendirikan pabrik di Indonesia, dan itu berarti kami siap untuk mentransfer teknologi ke Indonesia," kata dia.

Iran juga siap membawa orang-orang Indonesia untuk pergi ke Iran dan belajar di universitas Iran atau bahkan perusahaan atau pabrik Iran, dan mempelajari teknologi baru untuk diterapkan kembali di Indonesia.

Selain itu, Iran menawarkan beasiswa penuh kepada mahasiswa Indonesia yang berminat untuk belajar di Iran. Dubes Boroujerdi telah mengirimkan informasi tersebut kepada pemerintah Indonesia. "Di bidang teknologi dan sains apa pun yang diminati mahasiswa Indonesia untuk belajar di Iran, kami siap menawarkan beasiswa penuh di bidang tersebut. Jadi, itulah yang sedang kami coba lakukan dengan Indonesia," kata Boroujerdi.

"Situasinya agak sulit karena ancaman yang kami terima dari beberapa negara asing di kawasan ini, tetapi kami tetap melakukan negosiasi dengan Indonesia dan para mitra, dan kami siap bekerja sama di bidang tersebut," kata dia.

Boroujerdi menegaskan, hubungan bilateral dengan Iran tetap menguntungkan. Dia pun meminta Indonesia untuk tidak khawatir atas ancaman tarif dari Amerika Serikat. "Kami sampaikan kepada Indonesia untuk tidak takut. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Perusahaan mana pun dan negara mana pun yang memiliki hubungan reguler dengan Iran, mereka akan mendapatkan banyak keuntungan," kata Boroujerdi.

Presiden Donald Trump sebelumnya pada Januari mengumumkan pemberlakuan tarif sebesar 25 persen terhadap semua negara yang masih berdagang dengan Iran. Boroujerdi pun menjelaskan bahwa saat ini ada lebih dari 100 negara yang memiliki hubungan ekonomi dengan Iran.

Menurut dubes, negara-negara tersebut tidak memiliki masalah dengan apa yang dikatakan AS. "Semua negara merdeka percaya bahwa Amerika Serikat bukanlah raja dunia. Mereka tidak dapat mendikte aturan mereka kepada negara-negara merdeka seperti Indonesia," kata dia.

Boroujerdi mengaku pemberlakuan sanksi tarif tersebut memang menimbulkan beberapa masalah bagi Iran, tetapi itu bukanlah hal baru. Sudah lebih dari 47 tahun Iran dijatuhi sanksi yang sangat berat dari AS. Meski demikian, negara itu tetap memiliki ekonomi yang lebih baik, dan terus mengembangkan diri.

"Anda dapat membandingkan Iran saat ini dengan Iran 75 atau 76 tahun yang lalu. Anda dapat melihat bahwa segala hal di bidang pendidikan, teknologi, ekonomi, semuanya telah berkembang pesat," kata dia. "Jadi, seluruh dunia percaya bahwa apa pun yang didiktekan oleh kekuatan-kekuatan besar tidak wajib untuk dipatuhi begitu saja. Dan saat ini pun mereka mengancam negara-negara lain,"ujar dia.

Untuk itu, Boroujerdi mendorong negara-negara mana pun di dunia untuk terus meningkatkan kerja samanya dengan Iran. Dia mengakui bahwa selama satu atau dua tahun terakhir, perdagangan semacam itu telah memengaruhi perekonomian global. Menurut dia, banyak negara menderita akibat ancaman yang mereka terima akibat pemberlakuan tarif dan tantangan lainnya di dunia.

Dia pun percaya, negara-negara merdeka seperti Indonesia dan Iran harus melanjutkan kerja sama ekonomi mereka secara teratur agar situasinya tidak menjadi jauh lebih buruk.

"Jadi, jika mereka ingin melewati era sulit ini, mereka harus memperluas kerja sama antara kedua negara, baik secara bilateral dan multilateral, dan menunjukkan kepada AS bahwa mereka tidak dapat mendikte aturan mereka kepada seluruh dunia,"kata dia.

"Mereka adalah satu negara, mereka dapat bekerja sama dengan negara lain, dan tidak ada masalah dengan itu, tetapi mereka tidak dapat membuat peraturan untuk dunia modern saat ini,"ujar dubes.

  🛩
Republika  

Senin, 02 Februari 2026

PTDI Unjuk Kapabilitas Pesawat Special Mission

Di Singapore Airshow 2026(PTDI)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kembali berpartisipasi dalam pameran bergengsi Singapore Airshow 2026, yang akan diselenggarakan pada tanggal 3-8 Februari 2026 di Changi Exhibition Centre, Singapura. Berlokasi di Booth A-L31, PTDI menampilkan beragam produk unggulan dengan konfigurasi misi khusus (special mission), diantaranya pesawat CN235-220 Anti-Submarine Warfare (ASW), N219 Maritime Surveilllance Aircraft (MSA), serta produk engineering services berupa Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) MALE Elang Hitam dan roket FFAR 70mm.

Partisipasi PTDI pada pameran ini turut diperkuat dengan kehadiran dua Anak Perusahaan, yakni PT Nusantara Turbin & Propulsi (PT NTP) yang menampilkan kapabilitas Maintenance, Repair & Overhaul (MRO) mesin pesawat, serta layanan engineering pendukung industri kedirgantaraan, dan IPTN North America, Inc. (INA, Inc.) yang berperan dalam mendukung kegiatan pemasaran serta penguatan jejaring PTDI di pasar Amerika. Kehadiran PTDI juga dilengkapi dengan dukungan dari ekosistem industri nasional yang berkontribusi dalam pengembangan produk pesawat PTDI agar selaras dengan kebutuhan customer. Melalui keikutsertaan pada Singapore Airshow 2026, PTDI menargetkan perolehan kontrak penjualan pesawat serta pengembangan kerja sama strategis guna memperkuat portofolio bisnis dan memastikan keberlanjutan (sustainability) program pesawat PTDI, baik di pasar domestik maupun global.

  Kapabilitas PTDI dalam Mengembangkan Platform ASW Terintegrasi
PTDI menampilkan pesawat CN235-220M ASW sebagai platform patroli maritim modern yang dirancang untuk memperkuat Maritime Domain Awareness (MDA) dan kapabilitas pertahanan laut. Pesawat ini juga dibekali Mission Integration and Management System (MIMS) Airborne dari Syctalys–Perusahaan pengembangan software dan integrasi sistem terkemuka berbasis Yunani–yang melakukan integrasi dan pengelolaan berbagai sensor secara terpadu guna mendukung operasi pengawasan, deteksi, identifikasi, dan klasifikasi target di wilayah perairan.

Pesawat CN235-220M ASW kolaborasi PTDI dan Scytalys dilengkapi dengan sistem sensor dan subsistem canggih, termasuk radar pengawasan maritim, serta sistem pertahanan diri berupa chaff & flare. Seluruh data sensor diolah untuk menghasilkan Common Tactical Picture (CTP) yang ditampilkan kepada kru misi dan pilot guna meningkatkan kesadaran situasional serta mendukung fungsi komando dan kendali.

Sebagai platform pesawat special mission yang versatile, CN235 series telah dioperasikan secara luas oleh sejumlah customer internasional, antara lain Turkish Navy dan Turkish Coast Guard di Türkiye, Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM), Korea Coast Guard, serta beberapa operator lainnya di kawasan Asia, Afrika, Timur Tengah. Sejalan dengan rekam jejak operasional tersebut, saat ini PTDI juga terus aktif menjajaki peluang dengan sejumlah calon customer di kawasan Asia Pasifik.

  N219 MSA: Solusi Pengawasan Maritim Adaptif
Pada Singapore Airshow kali ini, PTDI juga akan menampilkan pesawat N219 dengan konfigurasi Maritime Surveillance Aircraft (MSA) sebagai solusi pengawasan maritim yang adaptif terhadap beragam kebutuhan operasional dan karakteristik wilayah perairan. Dalam konfigurasi tersebut, N219 MSA dirancang untuk meningkatkan kapabilitas pengumpulan data dan pemantauan aktivitas maritim melalui pemanfaatan berbagai sensor dan sistem misi, antara lain maritime surveillance radar ultra-light dengan jangkauan hingga 160 nautical miles, kemampuan Track While Scan (TWS) dengan kapasitas pemantauan lebih dari 200 target, serta Electro Optical/Infrared (EO/IR), Automatic Identification System (AIS), hand held camera, dan tactical datalink. Seluruh sistem tersebut akan terintegrasi melalui mission consoles dan mission computer.

Dari sisi performa, N219 MSA dirancang memiliki radius of action hingga 200 nautical miles, endurance di area operasi lebih dari 2 jam, serta total waktu misi lebih dari 5,5 jam, sehingga mampu mendukung patroli dan pengawasan wilayah perairan, termasuk misi Search and Rescue (SAR). Pengembangan konfigurasi N219 MSA ini juga dilaksanakan melalui kolaborasi PTDI dengan Scytalys yang berperan sebagai mitra dalam pengembangan dan integrasi Mission Integration and Management System (MIMS) Airborne pada pesawat N219 MSA.

Sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan dalam memperluas peran dan kontribusi di ekosistem industri kedirgantaraan dan pertahanan global, partisipasi PTDI dalam Singapore Airshow 2026 menjadi momentum strategis untuk menunjukkan kapabilitas Perusahaan dalam mengembangkan dan mengintegrasikan platform kedirgantaraan berteknologi tinggi yang adaptif terhadap kebutuhan pengguna. Melalui penampilan kapabilitas ASW dan MSA terintegrasi pada beberapa platform unggulan, serta berbagai layanan engineering dan solusi pertahanan lainnya, PTDI menegaskan perannya sebagai mitra strategis yang andal bagi pemangku kepentingan nasional maupun internasional dalam mendukung penguatan pertahanan, keamanan maritim, dan stabilitas kawasan.
 

  🛩
PTDI  

Jumat, 26 Desember 2025

BRIN Uji Terbang Empat Pesawat Tanpa Awak

🛩  Pengembangan teknologi pernebangan nasional Drone LSU 02 VTOL (BRIN)

Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Penerbangan melakukan uji terbang empat pesawat tanpa awak sebagai bagian dari pengembangan teknologi penerbangan nasional. Uji terbang tersebut dilaksanakan di Lanud Rumpin, Kabupaten Bogor, pada Rabu s.d. Jumat (17-19/12).

Kegiatan ini bertujuan untuk menguji performa terbang serta keandalan sistem pada masing-masing wahana.

Salah satu pesawat yang diuji adalah LSU 02 VTOL, pesawat tanpa awak yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal tanpa memerlukan landasan panjang.

Dalam pengujian ini, LSU 02 VTOL terbang pada ketinggian sekitar 300 kaki dengan kecepatan 53 knot selama kurang lebih delapan menit.

Hasil uji terbang menunjukkan bahwa performa terbang dan sistem VTOL pesawat berfungsi sesuai harapan. Pesawat ini dirancang untuk mendukung misi pengawasan wilayah dan pemetaan area,” ungkap Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Penerbangan BRIN, Danartomo Kusumoaji.

Drone Alap-alap (BRIN)
Pesawat tanpa awak lainnya, Alap-Alap, menjalani uji terbang dengan misi optimalisasi sistem autopilot. Pesawat tersebut terbang pada ketinggian 800 kaki dengan kecepatan 50 knot selama 30 menit. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem autopilot berfungsi dengan baik.

Sementara itu, pesawat Kresna diuji untuk mengevaluasi sistem telemetri, yaitu sistem pengiriman data penerbangan secara real time ke stasiun kendali di darat. Berdasarkan hasil pengujian, Kresna terbang selama 10 menit pada ketinggian 300 kaki dengan kecepatan sekitar 50 knot.

BRIN juga melakukan uji terbang pesawat Skywalker untuk mengenali karakteristik aerodinamika pesawat, seperti kestabilan dan respons saat terbang. Data yang diperoleh dari pengujian ini akan digunakan sebagai dasar penyempurnaan desain dan peningkatan performa pesawat ke depan.

Lebih lanjut, Danartomo menjelaskan bahwa pesawat tanpa awak LSU-02 VTOL dan Alap-alap merupakan murni semuanya dikembangkan oleh para periset BRIN dari design dan juga teknologi Flight Control Computer (FCC). Sementara itu, untuk pesawat tanpa awak Skywalker dan Krishna, memakai desain pesawat yang sudah ada, sedangkan terkait perkembangan risetnya itu dilakukan oleh para periset di Pusat Riset Teknologi Penerbangan.

Nah jadi ceritanya memang untuk yang Krishna itu memang kita mencontoh dari pesawat Cessna ya, yang sebenarnya desainnya juga sudah ada. Memang pesawatnya bukan didesain sendiri oleh teman-teman PRTP. Karena memang untuk menguji FCC, jadi harus dengan pesawat yang memang sudah benar-benar bagus. Sedangkan untuk Skywalker ini kan kita mau melihat identifikasi parameter aerodinamikanya. Nah itu juga memakai pesawat yang sudah ada,” terangnya.

Danartomo menyampaikan bahwa uji terbang ini merupakan tahapan penting dalam pengembangan pesawat tanpa awak nasional. Hasil pengujian diharapkan dapat memperkuat pengembangan teknologi drone dalam negeri untuk mendukung berbagai kebutuhan, seperti pemetaan dan pengawasan wilayah. “Melalui uji terbang ini, kami dapat mengevaluasi performa pesawat sekaligus memastikan seluruh sistem bekerja secara aman dan stabil,” pungkasnya.

  🛩
BRIN  

Jumat, 07 November 2025

2 Perusahaan Kerjasama Kembangkan Flight Control System (FCS) untuk Drone

🛩  Menekan produk impor Frogs Indonesia dan PT Infoglobal Teknologi Semesta resmi menjalin kerja sama strategis dalam pengembangan Flight Control System (FCS) lokal untuk Kendaraan Udara Nirawak (UAV) (dok. Frogs Indonesia)

Dua perusahaan teknologi nasional, Frogs Indonesia dan PT Infoglobal Teknologi Semesta resmi menjalin kerja sama strategis dalam pengembangan Flight Control System (FCS) lokal untuk Kendaraan Udara Nirawak (UAV).

Langkah ini menandai komitmen kuat kedua perusahaan dalam mendorong kemandirian teknologi drone di Indonesia.

"Frogs Indonesia dan Infoglobal Teknologi Semesta sepakat untuk berkolaborasi dalam riset, pengembangan, serta pengujian FCS yang andal dan sesuai dengan kebutuhan operasional drone di berbagai sektor, mulai dari pertanian, pemetaan, hingga pertahanan," kata Chief Executive Officer (CEO) Frogs Indonesia, Adhitya Chandra, dikutip Selasa (4/11/2025).

  1. FCS adalah otak dari sebuah drone  
Untuk diketahui, FCS merupakan otak dari sebuah drone dan mempunyai peran dalam mengendalikan penerbangan, mengeksekusi perintah pilot, serta menjalankan navigasi dan misi.

"Oleh karena itu, kemampuan memproduksi FCS sendiri menjadi fondasi penting bagi kemandirian industri UAV nasional," ujar Adhitya.

  2. Pengembangan FCS jadi tantangan besar industri drone RI  
Drone WANI-23 Infoglobal dipamerkan pada IDEF 2025 (Infoglobal)
Adapun hingga saat ini pengembangan FCS masih menjadi tantangan besar bagi industri drone tanah air.

Kebutuhan drone yang terus meningkat belum diimbangi dengan ketersediaan sistem kendali penerbangan buatan dalam negeri. Sebagian besar drone yang digunakan di Indonesia masih bergantung pada produk impor.

"Dengan terjalinnya kerja sama ini, Frogs Indonesia dan PT Infoglobal Teknologi Semesta berharap dapat membuka jalan bagi lahirnya lebih banyak inovasi teknologi nasional dan memperkuat posisi Indonesia di industri drone global," kata CEO Infoglobal Teknologi Semesta, J Adi Sasongko.

  3. Kemenhub terus godok regulasi soal drone  
Sebelumnya diberitakan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan sangat siap menghadapi teknologi drone. Namun, sama dengan negara lain di dunia yang belum punya aturan tetap terkait drone, Indonesia juga terus menggodok regulasi tersebut sampai sekarang. Hal itu lantaran drone merupakan teknologi baru dan mengalami perkembangan teknologi yang begitu cepat setiap waktu.

"Regulasi itu akan berproses, peraturan itu akan berproses. Semakin data yang masuk, pengalaman mengoperasikan akan masuk, maka semakin matang, semakin mature dalam proses regulasinya. Sama seperti pesawat baru diciptakan tahun 1904, itu juga regulasinya sangat minim, sampai hari ini kita juga punya regulasi yang sangat-sangat kompleks," ujar Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, Sokhib Al Rohman.

"Sama seperti drone, kami di Indonesia sudah menyiapkan regulasi terkait dengan remote pilotnya. Kemudian masalah registrasi kami juga sudah siap dan terkait dengan organisasi yang mengoperasikan kami siap," sambung dia.

Kemenhub juga berencana drone komersial atau Advanced Air Mobility (AAM) bisa beroperasi di Indonesia pada akhir 2026. Adapun kini Kemenhub masih menyiapkan reguasi dan infrastruktur pendukung guna menunjang pengoperasian teknologi baru dalam transportasi udara tersebut.

"Kami sudah on track dalam menyusun dan menyambut teknologi ini. Menteri Perhubungan juga sangat concern agar AAM dapat segera diterapkan. Harapannya, pada Desember 2026 sudah ada satu yang beroperasi secara komersial," kata Sokhib..

  🛩
  IDN Times  

Sabtu, 27 September 2025

Penampakan UAV MALE ANKA Pesanan TNI AU

✈ Indonesia memesan 12 unit dari Turkiye Drone UCAV ANKA Turkiye dengan nomot 117 berserta lambang TNI AU tiba di Supadio (Osprey514)

Ramai pemberitaan kedatangan drone MALE ANKA dengan lambang Skadron Udara 51 TNI AU di Indonesia.

Nampak foto lainnya, KSAU berserta jajarannya foto bersama di lanud Supadio, merupakan markas Skadron Udara 51 Reaper.

Minggu lalu. 18 September di Jakarta, Kemhan baru saja rapat dengan pihak Turkiye merumuskan ofset pengadaan drone UCAV MALE ANKA.

Pada rapat tersebut, pihak TA menyampaikan detail setiap aktifitas dan jadwal pelaksanaan Kandungan Lokal dan Ofset kepada penerima ofset.

Seperti diketahui, Indonesia melalui Kemhan RI telah menyetujui kontrak pembelian 12 unit drone tempur ANKA dari Turkish Aerospace.

Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 3 Februari 2023, dengan nilai kontrak mencapai 300 juta dolar AS atau sekitar Rp 4,5 triliun.

Pembelian ini merupakan bagian dari upaya modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas sistem pertahanan.

  6 unit di rakit PTDI 
Dari 12 unit drone ANKA yang dibeli, sebanyak enam unit akan dikirimkan langsung dari Turkiye, sementara enam unit sisanya akan dirakit di Indonesia oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Keterlibatan PTDI dalam perakitan drone ANKA merupakan transfer teknologi dari Turkiye ke Indonesia. Hal ini sejalan dengan tujuan Indonesia untuk membangun kemandirian industri pertahanan.

Sejumlah aspek akan dicapai dalam transfer teknologi tersebut, antara lain membangun kemampuan PTDI untuk melakukan perakitan akhir (Final Assembly Line) dan uji terbang (Flight Line).

Lalu membangun kemampuan pemeliharaan, perbaikan, dan operasional drone melalui pelatihan dan praktik (training and practical) untuk para teknisi, pilot, dan insinyur uji terbang dari PTDI.

Drone ANKA merupakan drone tempur kategori MALE (Medium-Altitude, Long-Endurance). Drone ini dirancang untuk misi pengintaian, pengawasan, dan serangan.

ANKA dapat terbang hingga ketinggian 30.000 kaki dengan daya tahan di udara hingga 24 jam.

Drone dengan panjang 8,6 m dan lebar sayap 17,5 m ini dapat membawa muatan hingga 200 kg.

ANKA dilengkapi dengan kamera HD siang dan malam, serta radar Synthetic Aperture Radar (SAR). Drone ini mampu melacak berbagai target sekaligus dengan menggunakan pelacak multitarget.

 
Garuda Militer  

Selasa, 02 September 2025

Elang Muda UTS Lolos Dalam Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2025

(Bidikankameranews)

Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2025 adalah kompetisi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdiktisaintek. Kompetisi ini bertujuan untuk meningkatkan teknologi UAV atau pesawat tanpa awak dalam ranah militer maupun industri.

Kabar membanggakan datang dari Elang Muda UTS, dimana Tim dari Teknik Elektro Fakultas Rekayasa Sistem berhasil lolos dalam kompetisi nasional tersebut.

Tim Elektro yang diketuai Parisno (Mahasiswa Teknik Elektro, 2023) ini mengikuti Divisi Racing Plane (RP) dengan membawa wahana bernama “Elang Muda Robotic”, yaitu pesawat fixed-wing elektrik. Sebagai Pilot dan Perancang yaitu Parisno dengan anggota tim Agung Rudiyanto (Navigasi Data Logger), dan M. Panji Althaf (Sistem Launcher), serta dosen pembimbing Indra Darmawan, S.T., M.Eng.

Tim Elang Muda Robotic bertujuan untuk mengembangkan teknologi UAV fixed-wing elektrik, mengasah kemampuan di bidang rancang bangun pesawat, sistem navigasi, dan aerodinamika, mendorong inovasi UAV mahasiswa yang mampu terbang otomatis dan efisien, juga berkontribusi pada pengembangan teknologi penerbangan nirawak Indonesia.

Paris akrab ia disapa menyampaikan, dalam kompetisi KRTI 2025 ini, Elang Muda Robotic didesain khusus menggunakan mesin CNC 3D untuk beradu kecepatan tepat sasaran, mampu terbang otomatis (autonomous) mengikuti jalur lomba sesuai aturan divisi RP, juga menggunakan launcher untuk take-off dan sistem autopilot untuk navigasi.

Alhamdulillah, kami berhasil lolos pada seleksi tahap 1 di 11-13 Agustus lalu, akan mengikuti seleksi wilayah pada 16-18 Oktober 2025 mendatang, dan jika berhasil kami akan mengikuti Final KRTI 2025 yang rencananya diselenggarakan di Universitas Andalas, Sumatera Barat pada November 2025.” ungkapnya.

Rektor UTS Niken Saptarini, S.E., M. Sc berikan apresiasi dan selamat untuk Paris dan Tim yang berhasil melaju di kompetisi bergengsi ini. “Selamat untuk Paris, Agung, dan Panji juga Pak Indra atas prestasi ini. Ini membuktikan bahwa Elang Muda UTS tidak kalah dalam hal kemampuan dengan mahasiswa dari kampus lain diluar sana. Kerja sama yang hangat antara mahasiswa dan dosen menghasilkan prestasi dan karya, tentu patut menjadi contoh dan semangat bagi sivitas lainnya. Semoga meraih kesuksesan di tahapan selanjutnya. Selamat dan teruslah berkarya!”. Tutup Rektor. (*)

  🛩 
Bidikan Kamera News  

Kamis, 28 Agustus 2025

Drone OMNIBE, Drone VTOL Versi Militer

 Buatan PT. Bentara Tabang Nusantara Drone senjata Omnibe (IMI)

Drone Omnibe di buat untuk operasi militer yang akan di operasikan oleh KOPASGAT.

Dari fb IMI (Industry Made in Indonesia) di tampilkan beberapa foto drone militer Omnibe.

Drone ini dilengkapi dengan Swab payload, yaitu kamera pemantauan dengan optical zoom 30x, thermal, wide cam ,laser range finger untuk mengetahui koordinat target serta jarak target, dan juga drone ini dilengkapi dengan system realese Mortar untuk pengeboman.

 Berikut penampakan drone Omnibe : 
 


  ⏁ Garuda Militer  

Rabu, 27 Agustus 2025

BRIN Validasi Model Dinamis Pesawat Nirawak PUNA dengan Simulasi HILS

BRIN validasi model dinamis pesawat nirawak PUNA dengan simulasi HILS (BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan berbagai jenis Pesawat Udara Nirawak (PUNA), salah satunya PUNA Alap-alap. Pesawat tersebut dirancang untuk beragam misi, seperti pemantauan, pemetaan, dan pengambilan foto udara.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Penerbangan (PRTP) BRIN, Eries Bagita Jayanti, menyampaikan bahwa pengembangan PUNA memerlukan model dinamis akurat. Karena validasi model masih jarang dan sering berbeda dengan uji terbang, PRTP BRIN menggunakan hardware-in-the-loop simulation (HILS).

HILS merupakan kombinasi uji perangkat lunak, perangkat keras, antarmuka komunikasi, dan real-time hardware mesin. Melalui metode ini, pengujian dapat dilakukan secara waktu nyata sehingga kondisi simulasi mendekati uji terbang sebenarnya,” ujar Eries, dalam Talkshow Kelas Periset Edisi 6, Rabu (20/8).

Eries menjelaskan, pengembangan PUNA diawali dengan pembuatan model dinamis di MATLAB yang mencakup aerodinamika, propulsi, berat, dan sensor. Model tersebut kemudian dijalankan ke speed code yang terhubung dengan programmable system on chip (PSOC) dan QGround Control. Sehingga, data waypoint, perintah motor, dan respons sensor dapat diuji sebelum penerbangan.

Setelah HILS, dilakukan uji terbang untuk memperkuat validasi model. Dengan kombinasi keduanya, validasi menjadi lebih kuat, terstruktur, dan efisien.

Eries menuturkan, riset ini bertujuan mengembangkan model dinamis PUNA yang akurat berbasis data CFD dan parameter fisik, serta memvalidasinya melalui kombinasi HILS dan uji terbang.

Penelitian diharapkan menghasilkan model tervalidasi, panduan teknis, publikasi internasional, dan peningkatan kapasitas teknologi PUNA di Indonesia. Dengan pendekatan komprehensif berbasis data multisumber dan penerapan HILS, penelitian ini diyakini mampu menekan risiko, mengurangi biaya, serta menjadi referensi bagi peneliti dan pengembang PUNA.

Peneliti Ahli Pertama PRTP BRIN, Angga Septiyana, menyampaikan bahwa timnya telah berhasil melakukan simulasi aerodinamika untuk memperoleh koefisien dan karakteristik aerodinamika yang penting bagi model dinamis pesawat.

Gaya aerodinamika seperti samping, angkat, hambat, dorong, serta momen roll, pitch, dan yaw harus diperoleh secara akurat. Tim menggunakan metode CFD dengan perangkat lunak ANSYS Fluent, VLM, Air Surveillance NIMA, dan DATCOM untuk menghasilkan data aerodinamika yang lebih lengkap dan valid.

Menurut Angga, simulasi mencakup gerakan translasi dan rotasi pesawat, termasuk pitch, yaw, dan roll, untuk memperoleh grafik dan data koefisien aerodinamika yang diolah secara matematis, salah satunya melalui pendekatan Direct Fourier.

Simulasi juga menilai pengaruh defleksi bidang kendali aileron, elevator, dan rudder terhadap kestabilan terbang. Selain itu, dilakukan uji statis electric engine dengan testband berisi sensor gaya dorong, momen torsi, suhu, arus, dan tegangan untuk memvalidasi model propulsi pesawat.

Angga menyampaikan, PRTP BRIN mengembangkan Flight Test Instrumentation untuk PUNA, yang merekam data penerbangan secara paralel dengan flight control menggunakan PSOC, Piccolo, atau Ardupilot. Instrumen ini melengkapi data penerbangan untuk mendukung pengujian berbasis HILS. (dv/ed:jh, tnt)

  🛩
BRIN  

Rabu, 13 Agustus 2025

Drone Tempur Strategis Pertama Indonesia

🛩  Elang Hitam UAV MALE UAV Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)

Indonesia memasuki jajaran elit pengembang drone MALE dengan keberhasilan uji terbang UAV Elang Hitam buatan dalam negeri—yang dirancang untuk terbang selama 24 jam di ketinggian 20.000 kaki dan membentuk masa depan kekuatan udara regional.

Elang Hitam (Elang Hitam) adalah wahana udara nirawak (UAV) Medium Altitude Long Endurance (MALE) pertama yang dikembangkan di dalam negeri, dirancang untuk menyediakan solusi lokal bagi negara untuk pengawasan strategis, pengintaian, dan operasi drone yang berpotensi bersenjata.

  Pengantar Elang Hitam 
Elang Hitam merupakan lompatan teknologi besar bagi sektor kedirgantaraan dan pertahanan Indonesia.

Diklasifikasikan sebagai UAV kelas MALE, drone ini dirancang untuk terbang di ketinggian hingga 20.000 kaki dan dapat tetap mengudara hingga 24 jam—menempatkannya di kelas operasional yang sama dengan drone internasional canggih seperti MQ-9 Reaper (AS), Bayraktar Akinci (Turki), dan Heron TP (Israel).

Drone ini dirancang untuk mendukung berbagai misi jangka panjang, termasuk pengawasan perbatasan, patroli maritim, pengumpulan intelijen, akuisisi target, dan penilaian kerusakan pertempuran, dengan potensi peningkatan di masa mendatang untuk kemampuan serang menggunakan amunisi berpemandu presisi.

 Siapa yang Membangun Elang Hitam? 
Drone Elang Hitam merupakan hasil kolaborasi nasional multi-lembaga yang dipelopori oleh PT Dirgantara Indonesia (PT Dirgantara Indonesia).

Proyek strategis ini didukung oleh konsorsium pengembangan drone domestik yang meliputi:

👷​ Kementerian Pertahanan Indonesia
👷​ TNI-AU
👷​ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
👷​ Institut Teknologi Bandung (ITB)

Desain, rekayasa, dan integrasi sistem Elang Hitam sepenuhnya dipimpin oleh para insinyur dan institusi Indonesia, menjadikannya tonggak penting dalam kemandirian teknologi nasional.

 Fitur Teknis Utama 
UAV Elang Hitam menggabungkan beberapa subsistem canggih, termasuk:

🛩 Sistem Kontrol Penerbangan Otomatis: Memungkinkan lepas landas, terbang, dan mendarat secara otonom.
🛩 Sistem Komunikasi Jarak Jauh: Memungkinkan komando dan kendali waktu nyata dari stasiun darat dalam jarak yang sangat jauh.
🛩 Desain Arsitektur Terbuka: Mendukung peningkatan modular, interoperabilitas sistem, dan integrasi muatan dan sensor baru.
🛩 Daya Tahan 24 Jam: Cocok untuk misi jangka panjang di darat dan laut.
🛩 Ketinggian Langit-Langit: Hingga 20.000 kaki, memungkinkan pengintaian di ketinggian tinggi sambil tetap berada di luar jangkauan sebagian besar ancaman berbasis darat.

Fitur-fitur ini menjadikan Elang Hitam sebagai platform drone MALE yang kredibel dengan kemampuan strategis yang selaras dengan persyaratan operasional Angkatan Udara Indonesia.

 Di Mana Diuji? 
Uji terbang pertama Elang Hitam yang berhasil dilakukan pada 28 Juli di Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati, Kabupaten Majalengka.

Uji coba ini menandai titik validasi penting bagi program ini, yang menunjukkan kelaikan udara pesawat, kemampuan terbang otonom, dan integrasi sistem—yang semuanya penting untuk sertifikasi dan penerapan di masa mendatang.

 Mengapa Elang Hitam Penting 
Menurut Direktur Pemasaran, Teknologi, dan Pengembangan PT DI, Mohammad Arif Faisal, uji terbang ini lebih dari sekadar tonggak teknis—ini merupakan deklarasi kesiapan Indonesia untuk memproduksi drone strategisnya sendiri.

Ini bukan sekadar uji terbang,” ujar Arif.

Ini bukti bahwa Indonesia kini mampu memproduksi UAV strategis menggunakan teknologi dalam negeri.

Seiring negara-negara di Indo-Pasifik menghadapi ancaman keamanan yang terus berkembang dan mengadopsi doktrin kekuatan udara baru, Elang Hitam memposisikan Indonesia sebagai inovator UAV regional, yang mampu mengoperasikan drone dalam negeri alih-alih bergantung pada impor yang mahal.

Hal ini juga mencerminkan strategi nasional yang lebih luas untuk mengurangi ketergantungan pada sistem militer asing dan memperkuat kemandirian dalam manufaktur pertahanan.

  Apa Langkah Selanjutnya untuk Elang Hitam? 
Elang Hitam akan menjalani uji terbang lanjutan dan proses sertifikasi yang ketat untuk memvalidasi rangka pesawat, avionik, tautan data, dan sistem kendalinya.

Setelah menyelesaikan fase ini, platform tersebut akan memasuki tahap produksi massal dan layanan operasional di Angkatan Bersenjata Indonesia.

Ke depannya, Indonesia mungkin akan menjajaki varian bersenjata Elang Hitam, yang memposisikannya tidak hanya sebagai alat pengintaian tetapi juga sebagai UCAV (unmanned combat aerial vehicle) berkemampuan tempur untuk misi serangan presisi.

Dengan meningkatnya minat regional terhadap drone MALE yang terjangkau, keberhasilan produksi bahkan dapat membuat Elang Hitam ditawarkan untuk ekspor, terutama ke pasar Asia Tenggara dan Afrika.

Drone Elang Hitam merupakan langkah awal Indonesia ke arena UAV strategis, yang menandakan ambisi bangsa untuk menjadi pemimpin regional dalam sistem tak berawak dan produsen platform kedirgantaraan canggih yang berdaulat.

Keberhasilan pengembangan dan uji terbangnya menandai babak baru dalam kemampuan pertahanan Indonesia—yang ditentukan oleh inovasi dalam negeri, otonomi strategis, dan rekayasa kedirgantaraan yang berwawasan ke depan.

Saat peperangan pesawat tak berawak terus mendefinisikan ulang pertempuran modern, Elang Hitam siap untuk terbang.

 Tren Regional & Konteks Strategis 
Di seluruh Asia Tenggara, hanya Indonesia yang berhasil meluncurkan program pengembangan UAV MALE sejati, dengan penerbangan Elang Hitam menandai tonggak penting.

Negara-negara lain masih menggunakan ukuran UAV taktis atau mengimpor sistem MALE asing. Misalnya, Malaysia membeli drone Anka-S Turki untuk melengkapi pengawasan maritim di Laut Cina Selatan.

Pergerakan menuju program UAV lokal didorong oleh:

  💥 Keharusan keamanan nasional dan keinginan untuk berpatroli di zona maritim yang luas.
  💥 Upaya untuk mengurangi ketergantungan pengadaan asing.
  💥 Kemitraan strategis, seperti perjanjian produksi bersama Indonesia-Turki, yang mendukung transfer teknologi dan industrialisasi pertahanan (Wikipedia)

Negara-negara dengan lembaga litbang akademis sedang mengalami kemajuan di bidang UAV kecil, tetapi peningkatan skala ke sistem kelas MALE membutuhkan kapabilitas industri yang luas, pengembangan avionik, integrasi sistem misi, sertifikasi, dan infrastruktur manufaktur.

 Prospek 
Indonesia memimpin Asia Tenggara dalam kapabilitas drone MALE.

Malaysia dan Thailand masih sangat bergantung pada impor atau memproduksi drone taktis alih-alih platform kelas MALE. Jika Elang Hitam berhasil melalui sertifikasi dan memasuki tahap produksi, Indonesia berpotensi menjadi eksportir UAV MALE pertama di Asia Tenggara, yang akan membantu mempercepat otonomi pertahanan regional.

Lanskap UAV Asia Tenggara sedang berada di titik balik—program drone MALE lokal masih jarang, tetapi keberhasilan Indonesia dengan Elang Hitam dapat membuka jalan bagi upaya pengembangan drone lokal yang lebih mendalam dalam dekade mendatang.

  🛩
DSA  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More