blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label Helikopter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Helikopter. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 September 2026

Garibaldi Akan Diubah Jadi Kapal Induk Helikopter dan Drone

 Untuk penanganan bencana alam https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTQdcM_TbYuEHrSA9IOFQt7Pst9ky9Ywc2Muj_8KolznFD_4_5GcVRQboij5bcOS1XaQv5zB6LDL5kKfJ9oZJoqe4kXZ9R8rLDRRv5nd037-vqdSAVsQ6vC_xlWm7q7wY8A40dnYGGL-KB1bBAxh7WlO2UQUFQ0DQC-3lFE3FY9hQIXvm7i3Eb3WRXJESU/s1170/Gelar%20Tactical%20Floor%20Game,%20Koarmada%20II%20Latihkan%20Rencana%20Pergerakan%20Unsur%20Pada%20Sailing%20Pass%20Nava.webpTNI AL menggelar Tactical Floor Game dalam pelaksanaan Sailing Pass Naval Parade yang direncanakan digelar di perairan Teluk Jakarta (Koarmada II)

Pemerintah akan menyulap kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi atau KRI Gajah Mada asal Italia menjadi kapal induk untuk helikopter dan pesawat nirawak (drone).

"Sebentar lagi kapal induk dari Italia akan masuk ke jajaran Angkatan Laut kita, kita ubah untuk menjadi kapal induk helikopter, dan untuk drone," kata Presiden RI Prabowo Subianto dalam Ratas Penanganan Bencana Alam, Jakarta, Senin (7/9).

Prabowo menyebut kapal induk perdana milik Indonesia itu bisa menampung sekitar 10 unit helikopter kelas menengah. Ia mencontohkan misalnya helikopter berjenis Black Hawk dan MI-17.

"Yang rata-rata bisa mengangkut 4-5 ton air. Jadi kalau kita punya 10 helikopter bisa segera merapat ke titik api yang terbanyak, ini juga akan sangat membantu respons kita," ucap dia.

Giuseppe Garibaldi yang merupakan kapal Induk pertama Indonesia dijadwalkan sampai di Tanah Air pada pertengahan September mendatang.

TNI Angkatan Laut menyebut kapal induk yang akan menyandang nama KRI Gajah Mada berangkat dari Italia pada awal pekan ini.

"Dan kami mohon doanya, malam ini mungkin jam 22.00, KRI Gajah Mada akan meninggalkan Italia menuju Indonesia," kata KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali saat mengunjungi Kraton Majapahit, Jakarta Timur, Senin (24/8), dikutip dari Detikcom.

"Namanya masih ITS Garibaldi, masih berbendera Italia. Tapi sesampainya di Indonesia akan berganti bendera menjadi KRI Gajah Mada," imbuhnya.

Giuseppe Garibaldi merupakan salah satu dari dua kapal induk yang dimiliki oleh Angkatan Laut Italia. Kapal ini mencetak sejarah sebagai kapal penerbangan bergeladak penuh pertama yang dibangun untuk Italia.

Sepanjang masa tugasnya, kapal ini sudah terlibat dalam berbagai operasi udara tempur di wilayah Somalia, Kosovo, Afghanistan, dan Libya.

Giuseppe Garibaldi memiliki panjang 180,2 meter dan mampu melaju hingga 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam berkat sistem mesin penggeraknya. Bobotnya diperkirakan sekitar 13,8 ribu ton.

Kapal ini mampu menampung kru yang besar, yakni sekitar 600 kru inti kapal, 230 personel grup udara, sekitar 100 personel komando, dan dalam kondisi tertentu dapat mengangkut hingga 600 pasukan komando tambahan. (mnf/wis)
.

   CNN   

Jumat, 28 Agustus 2026

Visi Strategis MRO di Bandara Kertajati Bagi Pertahanan Negara

  👷 🛩  Ilustrasi (Japos) 

Pengembangan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sebagai pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) tidak semestinya dipandang sekadar sebagai proyek untuk meningkatkan utilisasi bandara. Lebih jauh, Kertajati memiliki peluang menjadi bagian dari strategi membangun kemandirian industri kedirgantaraan nasional.

MRO merupakan mata rantai penting dalam industri penerbangan. Pesawat yang diproduksi di dalam atau luar negeri tetap membutuhkan perawatan, perbaikan, modernisasi, penyediaan suku cadang, rekayasa, serta dukungan teknis sepanjang siklus hidupnya. Negara yang hanya mampu membeli pesawat, tetapi tidak mampu merawat dan meningkatkan kemampuannya secara mandiri, pada akhirnya tetap memiliki ketergantungan strategis.

Karena itu, pengembangan Kertajati perlu dilihat dalam perspektif yang lebih luas: sebagai upaya membangun ekosistem industri, sumber daya manusia, teknologi, dan jasa kedirgantaraan yang dapat memperkuat kepentingan ekonomi sekaligus pertahanan nasional.

 *Belajar dari MRO Negara Berkembang Lain*

Pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa pusat MRO yang berhasil tidak lahir hanya karena memiliki hanggar dan landasan yang memadai. Daya saingnya dibangun melalui kombinasi tenaga kerja terampil, sertifikasi internasional, kemampuan rekayasa, ketersediaan suku cadang, dukungan logistik, lembaga pendidikan, industri komponen, dan kepastian regulasi.

Brasil memberikan pelajaran penting. Melalui Embraer, negara tersebut tidak hanya membangun kemampuan manufaktur pesawat, tetapi juga mengembangkan jaringan services and support yang mencakup pemeliharaan, perbaikan, peningkatan kemampuan, suku cadang, pelatihan, dan dukungan teknis.

Ekosistem kedirgantaraan di sekitar Embraer, kota São José dos Campos, juga menunjukkan pentingnya konsentrasi industri. Pusat riset, perguruan tinggi, perusahaan rekayasa, pemasok komponen, dan fasilitas pengujian berkembang dalam satu lingkungan. Kekuatan seperti itu sulit dibangun jika MRO hanya dipandang sebagai kegiatan perawatan pesawat.

Pengalaman Helibras di Brasil juga memperlihatkan bagaimana kemampuan pemeliharaan dapat berkembang menjadi kemampuan industri yang lebih luas melalui integrasi, modernisasi, pelatihan, dan dukungan sepanjang siklus hidup helikopter.

Di Asia, Malaysia dan Singapura memberikan pelajaran berbeda. Malaysia memiliki pengalaman panjang dalam MRO pesawat komersial dengan dukungan tenaga terlatih, jaringan penerbangan regional, dan kepatuhan terhadap standar internasional. Singapura, melalui ST Engineering Aerospace, membangun jaringan MRO yang melayani berbagai pasar internasional.

Keduanya menunjukkan satu hal: menjadi pusat MRO regional bukan terutama persoalan ukuran wilayah atau jumlah hanggar. Yang menentukan adalah kualitas layanan, sertifikasi, keandalan, kemampuan teknis, logistik, serta kepercayaan pelanggan.

Maroko juga menarik untuk dicermati. Negara tersebut mengembangkan industri kedirgantaraan dengan menggabungkan MRO, manufaktur komponen, rekayasa, pendidikan vokasi, dan investasi asing. Dari sini terlihat bahwa MRO dapat menjadi pintu masuk menuju industri yang lebih dalam, termasuk produksi komponen dan pengembangan kemampuan rekayasa.

Meksiko menunjukkan pola serupa melalui pengembangan kawasan kedirgantaraan yang menghubungkan MRO, manufaktur komponen, pelatihan, dan jasa rekayasa. Sementara itu, Afrika Selatan memperlihatkan pentingnya kesinambungan kemampuan teknis, riset, serta hubungan antara kebutuhan pertahanan dan industri nasional.

Pengalaman negara-negara tersebut tidak dapat disalin begitu saja. Kondisi Indonesia berbeda. Namun, terdapat pola universal: MRO yang kuat selalu tumbuh dari ekosistem industri yang kuat.

 *Bukan Sekedar Hanggar Pemeliharaan*

Pelajaran dari MRO negara-negara lain sangat relevan bagi Kertajati. Kawasan ini sebaiknya tidak dirancang hanya sebagai tempat pesawat datang, diperbaiki, kemudian pergi kembali.

Kertajati perlu dipikirkan sebagai aerospace cluster yang menghubungkan MRO sipil dan militer dengan pendidikan, pelatihan, engineering, riset, industri komponen, pengujian, sertifikasi, perguruan tinggi, serta jaringan pemasok.

Jika ekosistem tersebut terbentuk, manfaat ekonominya akan jauh lebih besar. Kertajati tidak hanya menciptakan lapangan kerja bagi teknisi, tetapi juga mendorong tumbuhnya perusahaan komponen, jasa rekayasa, logistik, pendidikan vokasi, dan penelitian.

Investasi asing juga sangat diperlukan. Namun, investasi seharusnya tidak berhenti pada pembangunan fasilitas dan penciptaan lapangan kerja. Investasi harus menjadi instrumen transfer kemampuan.

Pelatihan teknisi Indonesia, sertifikasi tenaga kerja, pengembangan engineering, keterlibatan industri nasional, peningkatan kemampuan perbaikan komponen, dan penguasaan teknologi harus menjadi bagian dari desain kerja sama.

Ukuran keberhasilan investasi bukan hanya berapa besar modal yang masuk, tetapi berapa besar kemampuan yang menetap di Indonesia setelah investasi tersebut berlangsung.

 *MRO dan Pertahanan*

Perspektif ini menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan pertahanan.

MRO pertahanan bukan sekadar persoalan efisiensi biaya. Ia berkaitan langsung dengan kesiapan operasional dan kedaulatan negara. Ketergantungan yang terlalu besar pada fasilitas pemeliharaan di luar negeri dapat menjadi persoalan ketika terjadi krisis, konflik, pembatasan ekspor, atau gangguan rantai pasok global.

Karena itu, kemampuan MRO nasional merupakan bagian dari defence industrial base. Setiap pengadaan alutsista semestinya tidak berhenti pada pembelian platform. Negara juga harus memikirkan bagaimana alutsista tersebut dirawat, diperbaiki, dimodernisasi, dan didukung selama puluhan tahun masa pakainya.

Di sinilah kebijakan pengadaan pertahanan perlu dihubungkan dengan kebijakan industri.

Pengadaan, transfer teknologi, pengembangan SDM, pembangunan fasilitas MRO, pengembangan komponen, riset, dan penguatan industri nasional harus dirancang sebagai satu kesatuan. Dengan pendekatan tersebut, setiap pembelian alutsista dapat menjadi kesempatan untuk memperbesar kemampuan industri dalam negeri.

Kertajati berpotensi menjadi salah satu titik temu dari berbagai kepentingan tersebut.

 *Dari Bandara Menjadi Ekosistem*

Dengan pasar penerbangan yang besar dan posisi geografis Indonesia yang strategis, Kertajati memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi salah satu simpul MRO di Asia Tenggara. Namun, peluang tersebut tidak boleh dianggap sebagai posisi yang sudah tercapai.

Untuk menjadi pusat MRO regional, Kertajati harus mampu menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar fasilitas fisik: kualitas teknisi, sertifikasi internasional, kecepatan pengerjaan, ketersediaan komponen, dukungan rekayasa, kepastian regulasi, dan kepercayaan pelanggan.

Jika kemampuan tersebut berhasil dibangun, pesawat dari negara-negara kawasan dapat dirawat di Indonesia. Devisa yang selama ini keluar untuk MRO luar negeri dapat dikurangi. Pada saat yang sama, Indonesia dapat memperoleh devisa dari ekspor jasa MRO.

Lebih penting lagi, terbentuk kemampuan teknologi yang menetap di dalam negeri.

Karena itu, pembangunan Kertajati sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan berapa banyak pesawat yang dapat ditangani atau berapa besar investasi yang masuk. Pertanyaan yang lebih strategis adalah: kemampuan apa yang akan dikuasai Indonesia dalam 10, 20, atau 30 tahun mendatang?

Jika jawabannya mencakup teknisi yang semakin unggul, industri komponen yang semakin kuat, kemampuan rekayasa yang semakin mandiri, sertifikasi internasional yang semakin luas, serta kemampuan merawat dan memodernisasi alutsista secara nasional, maka Kertajati benar-benar menjadi proyek strategis.

Kertajati pada akhirnya bukan sekadar persoalan sebuah bandara. Ia adalah kesempatan untuk membangun ekosistem kedirgantaraan Indonesia.

Jika dikembangkan dengan visi jangka panjang, didukung kebijakan yang konsisten, pembiayaan yang jelas, target terukur, serta keputusan resmi yang kuat, Kertajati berpeluang menjadi salah satu fondasi industri kedirgantaraan nasional dan, pada waktunya, berkembang menjadi pusat MRO regional.

Ukuran keberhasilannya bukan sekadar berdirinya hanggar atau besarnya investasi. Ukuran yang sesungguhnya adalah lahirnya kemampuan nasional yang sebelumnya harus dibeli dari luar negeri.

Di situlah makna strategis Kertajati bagi kemandirian industri pertahanan Indonesia.

Oleh: Marsda TNI Dr. Budhi Achmadi, M.Sc)

  👷 
Japos  

Jumat, 21 Agustus 2026

[Video] Membangun Air Power Dari Balik Hangar

  MRO Hercules dan Kemandirian Industri Dirgantara IndonesiaGMF AeroAsia menyerahkan satu unit C-130 Hercules bernomor ekor A-1319 ke Kementerian Pertahanan (Kemhan) di Hangar 4 GMF AeroAsia, Tangerang, Banten, Rabu (19/8/2026). Cetak Sejarah Baru, Mampu Modernisasi Hercules C-130H secara lokal. (GMF)

Kekuatan udara tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak atau seberapa canggih pesawat yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan untuk menjaga setiap platform tetap siap terbang dan beroperasi.

Dalam episode Defense Talk kali ini, kami berbincang bersama Direktur Utama PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF), Andi Fahrurrozi, mengenai peran strategis Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) dalam mendukung kesiapan TNI Angkatan Udara sekaligus membangun kemandirian industri dirgantara nasional.

Diskusi mengulas pelaksanaan MRO pesawat C-130 Hercules TNI AU di GMF, mulai dari tantangan teknis, kesiapan SDM dan fasilitas, standar kelaikudaraan, alih teknologi, hingga upaya meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri.

Lebih jauh, pembahasan juga melihat bagaimana kolaborasi antara GMF, TNI AU, PT Dirgantara Indonesia, pemerintah, dan industri nasional dapat membangun ekosistem MRO pertahanan yang semakin kuat.

 Lalu, mampukah Indonesia melangkah lebih jauh?

Episode ini turut membahas peluang menjadikan Indonesia sebagai regional hub MRO Hercules, pengembangan fasilitas MRO di Kertajati, hingga bagaimana GMF mempersiapkan kemampuan untuk menangani berbagai platform militer baru yang akan memperkuat TNI AU dalam beberapa dekade mendatang.

Karena pada akhirnya, kekuatan udara tidak hanya dibangun di landasan pacu, tetapi juga dari balik hanggar.

 Berikut video liputan IDefense Magz ::
 


  ✈️   Youtube  

Selasa, 16 Juni 2026

Turkish Aerospace Jajaki Pembangunan Fasilitas Perakitan Pesawat di Indonesia

    🤝 ✈  🚁
Acara Indonesia Aerospace Ecosystem Forum 2026 di BRI Tower Bandung, Selasa (9/6/2026) (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar)

Kerja sama antara Indonesia dan Turkish Aerospace diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri dirgantara nasional melalui rencana pembangunan fasilitas perakitan pesawat serta manufaktur komponen penerbangan. Rencana strategis ini mengemuka dalam acara Indonesia Aerospace Ecosystem Forum 2026 yang diselenggarakan di Bandung pada Selasa (9/6/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Langkah ini diambil guna mendorong investasi baru di sektor penerbangan, penyediaan bahan baku, hingga manufaktur komponen. Pihak Turkish Aerospace menilai Indonesia memiliki landasan sejarah dan potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan industri penerbangan di kawasan Asia Tenggara.

Managing Director Turkish Aerospace Indonesia, Adi Aviantoro menyatakan bahwa sektor dirgantara nasional sempat mengalami kelesuan setelah sebelumnya memiliki dasar industri yang kuat. Kehadiran investasi baru ini diharapkan mampu memberikan suntikan modal bagi kebangkitan aviasi domestik.

"Indonesia ini secara sejarah memang background industrinya sudah diarahkan ke arah industri aerospace. Kemudian ada jeda masa waktu ketika industri aerospace itu lesu. Mulai tahun 2022, setelah Turkish Aerospace Indonesia berinvestasi di Indonesia, kami harapkan industri aerospace dan pendukungnya mulai berkembang, terutama di industri manufaktur," kata Adi saat ditemui di sela acara.

Menurut Adi, basis industri yang kuat di Indonesia, khususnya di Kota Bandung, menjadi daya tarik utama bagi pihak Turki untuk menanamkan modalnya.

"Turki melihat Indonesia sudah mempunyai potensi ke arah industri aerospace. Oleh karenanya memang Turki berinvestasi di Indonesia untuk industri pesawat terbang yang sudah ada basisnya di Indonesia, terutama di Bandung," ujarnya.

Saat ini, pengembangan fundamental berfokus pada penguatan manufaktur komponen sebelum kapasitas produksi pesawat terbang ditingkatkan secara massal guna mendukung industri di Turki.

"Sekarang ini yang harus kita perkuat secara fundamental adalah mengembangkan industri part manufacturing yang kemudian akan berkembang ke arah pesawat terbang yang akan mendukung industri pesawat terbang di Turki. Tapi kita di Indonesia sekarang ini lebih fokus kepada industri part manufacturing," katanya.

Meskipun pendirian fasilitas perakitan pesawat sudah masuk dalam rencana jangka panjang, besaran nilai investasi keseluruhan saat ini masih berada dalam tahap pengkajian mendalam.

"Selain membuat perusahaan Turkish Aerospace Indonesia, Turki juga berinvestasi untuk ke depannya membuat fasilitas assembly pesawat terbang. Sampai saat ini kita masih dalam studi untuk menyimpulkan besaran nilai investasi," ujar Adi.

Kawasan Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka menjadi salah satu kandidat kuat lokasi fasilitas perakitan tersebut, menyusul pemberian fasilitas serupa kepada GMF.

"Saat ini kita ada beberapa pilihan yang belum diputuskan. Kemarin sudah didengar mengenai GMF yang diberikan fasilitas di Kertajati. Mungkin arahan ke depannya juga arahnya akan ke Kertajati," katanya.

Adi menambahkan bahwa Bandung memiliki kesiapan sumber daya manusia yang mumpuni berkat keberadaan universitas dengan jurusan penerbangan.

"Bandung harusnya paling siap karena didukung dari universitas yang jurusannya penerbangan yang ada di Bandung. Kemudian ada industrinya, industri penerbangan memang pusatnya dari dulu ada di Bandung," ujarnya.

Pada tahap awal operasional, perusahaan akan memprioritaskan pengembangan helikopter komersial, meskipun Turkish Aerospace juga memproduksi pesawat sayap tetap serta helikopter militer.

"Sementara ini kita masih fokus untuk helikopter yang komersial. Produk Turkish Aerospace ada yang fixed wing and rotary wing. Yang rotary wing itu ada yang militer dan ada yang komersial, sekarang ini kita fokus untuk yang komersial," kata Adi.

Kendala utama yang saat ini dihadapi oleh industri penerbangan domestik adalah ketergantungan pada impor bahan baku, yang diharapkan dapat diatasi melalui dukungan finansial yang kuat.

"Saat ini memang kesulitan yang paling utama adalah raw material. Tapi dengan adanya dukungan finansial, maka mudah-mudahan kendala ini bisa diatasi. Kemudian raw material bisa kita sediakan untuk para supplier di Indonesia. Akhirnya secara financing sudah tidak ada masalah untuk pengadaan material," ujarnya.

Di sisi lain, Chairman Indonesian Aircraft Components Manufacturers Organization (INACOM), J. Adi Sasongko menilai kehadiran perusahaan asal Turki ini mampu menggerakkan ekosistem industri komponen lokal yang tersebar di wilayah Indonesia.

"Kita beruntung sekarang ini kita ketemu Turkish Aerospace Indonesia yang mencoba membangun ekosistem. Harapannya kita bisa didukung oleh industri yang banyak tersebar di seluruh Indonesia untuk mensupport Turkish Aerospace Indonesia," katanya.

Ia mencontohkan Amerika Serikat yang berhasil mengembangkan industri penerbangannya melalui peningkatan kapabilitas dari industri komponen otomotif.

"Saya rasa industri aviasi ini sangat besar peluangnya. Seperti di Amerika, industri aviasi dibuat pertama kali dengan mengonversi industri komponen otomotif untuk di-upgrade menjadi industri komponen pesawat. Harapannya kita bisa mengikuti seperti Amerika," ujarnya.

Meskipun mengidentifikasi adanya hambatan pada sistem regulasi dan birokrasi domestik, Adi Sasongko menegaskan bahwa hal tersebut tidak boleh menghentikan langkah pengembangan.

"Birokrasi dan regulasi itu tetanggaan, sama-sama ruwet. Kita tidak akan menunggu birokrasi maupun regulasi sampai benar-benar ideal. Karena kalau kita menunggu ideal mungkin tidak akan pernah datang," katanya.

Sektor transportasi udara dinilai memiliki potensi pasar domestik yang sangat besar mengingat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

"Sebenarnya kita merupakan pasar yang sangat besar. Mulai Sabang sampai Merauke membutuhkan transportasi udara yang begitu banyak. Dengan 17.000 pulau, harusnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sekarang yang beterbangan di atas kita ini kebanyakan pesawat impor semua," tutupnya.

  ★  Mata Lokal   

Selasa, 03 Februari 2026

[Video] A Defense Mission with H225M Helicopters

  Upload by Strategis Global Industri Logistics 

SGI
successfully handled the shipment of two H225M helicopters from Marseille, France to Bandung, Indonesia.

These helicopters are the result of a strategic collaboration between PT Dirgantara Indonesia and Airbus Helicopters. Before departure, each unit underwent a thorough inspection by PTDI and SGI teams to ensure full compliance with technical and safety standards. Once cleared, the helicopters were carefully transported by truck to Port Fos-sur-Mer in France.

Supported by the Indonesian Defense Attaché in France, Air Marshal Anang Surdwiyono, the final pre-shipment process was completed smoothly on the day of departure. From there, the helicopters began an almost two-month journey aboard a specific vessel, crossing continents before arriving safely at Tanjung Priok Port, Jakarta. Immediately upon arrival, they were delivered to PTDI’s facility in Bandung.

On September 15, an official flight test and review were conducted at Monas, Central Jakarta, attended by PTDI President Director Gita Amperiawan, Indonesia’s Minister of Defense Sjafrie Sjamsoeddin, and Head of the Defense Logistics Agency, Air Marshal Yusuf Jauhari.

As emphasized by the Minister of Defense, the H225M plays a strategic role as a command and control platform—supporting military operations as well as humanitarian missions. Its arrival marks an important milestone in strengthening Air Force operational readiness, modernizing defense capabilities, and advancing national industry independence through PTDI.

Behind this successful delivery, SGI played a crucial role as the forwarding partner—ensuring precise coordination, uncompromised safety, and seamless execution across borders. Because in defense logistics, every detail matters, and every mission must succeed.

 Video from Youtube : 


  🎥 Youtube 

Selasa, 30 Desember 2025

Dubes Achmad Rizal Purnama Jajaki Kerja Sama Industri Pertahanan

Dubes Achmad Rizal Purnama (kiri) dan Corporate Marketing Leader dari Turkish Aerospace Industries Murat Zace di Kedutaan Besar RI (KBRI) Ankara, Turki pada 24 Desember 2025. (Foto X @AchmadRPurnama)

DUTA Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Turki Achmad Rizal Purnama menerima kunjungan Murat Zace, Corporate Marketing Leader dari Turkish Aerospace Industries (TUSAS). Pertemuan tersebut berlangsung di Kedutaan Besar RI (KBRI) Ankara, Turki pada 24 Desember 2025.

Pertemuan dengan pemimpin TUSAS tersebut membahas penguatan kerja sama Indonesia–Turki di bidang industri pertahanan. Khususnya pada pengembangan dan potensi kolaborasi teknologi pertahanan udara.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak mendiskusikan sejumlah platform strategis. Antara lain pesawat tempur Kaan, wahana udara nirawak Anka, serta berbagai platform helikopter.

Diskusi ini merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk memperkuat kemampuan pertahanan nasional sekaligus memperluas kemitraan strategis dengan mitra internasional,” ungkap Dubes Rizal dalam pernyataannya.

Rizal menegaskan, Turki merupakan salah satu mitra penting Indonesia dalam pengembangan industri pertahanan. Utamanya, yang berbasis alih teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta peluang produksi bersama di masa depan.

Kaan adalah pesawat tempur generasi kelima yang dikembangkan Turkish Aerospace Industries. Pesawat ini dirancang dengan teknologi siluman (stealth), kemampuan avionik canggih, serta integrasi sistem persenjataan modern.

Kaan diproyeksikan menjadi tulang punggung pertahanan udara Turki di masa depan. Pesawat ini menarik minat sejumlah negara mitra, termasuk Indonesia, untuk kerja sama pengembangan teknologi dan industri pendukungnya.

Sedangkan Anka merupakan pesawat tanpa awak kelas menengah hingga berat yang mampu melakukan misi pengintaian, pengawasan, serta serangan. Drone ini memiliki daya jelajah panjang dan dapat membawa berbagai sensor serta persenjataan presisi.

Selain pesawat tempur dan drone, pembahasan juga mencakup platform helikopter produksi Turki yang dirancang untuk berbagai misi. Seperti transportasi militer, pencarian dan penyelamatan (Search And Rescue/SAR), hingga operasi taktis.

Helikopter-helikopter ini dikembangkan dengan fokus pada keandalan, fleksibilitas misi, serta kemampuan beroperasi di berbagai medan. Hal ini sejalan dengan kebutuhan geografis Indonesia.

  🛩
RM  

Sabtu, 06 Desember 2025

Prabowo Bakal Beli 200 Helikopter Tahun Depan

Helikoter TNI banyak diturunkan dalam OMSP. (dispenau)

Presiden Prabowo Subianto mengaku akan membeli 200 helikopter mulai Januari 2026.

Menurutnya, pembelian itu akan melengkapi pesawat Hercules C130J dan Airbus A400 yang telah hadir lebih dulu di Indonesia.

"Minggu ini helikopter baru datang 5 buah, dan terus berdatangan. Dan saya sudah perintahkan mulai Januari tahun depan dan seterusnya, kita akan datangkan 200 helikopter di RI ini," kata Prabowo dalam puncak Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Golkar di Istora Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (5/12/2025).

Prabowo menyampaikan, alutsista itu dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk untuk mengevakuasi bencana alam.

Dalam bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera, misalnya, negara sudah mengerahkan 50 helikopter untuk membawa bantuan logistik.

"Mungkin beberapa bulan, beberapa tahun yang lalu, tidak ada yang bisa perkirakan bahwa negara kita mampu mengerahkan 50 helikopter. 50 helikopter sekarang sedang bergerak di daerah musibah," ucap Prabowo.

Menurut Prabowo, hal itu merupakan bentuk negara hadir ketika masyarakat kesulitan akibat bencana.

Menurutnya, Indonesia adalah bangsa yang besar yang mampu mengatasi semua cobaan yang ada.

"Kita menyadari bahwa bangsa kita, negara kita ternyata adalah negara yang besar dan yang kuat. Kita mengalami cobaan-cobaan, kita mengalami badai, kita mengalami bencana, tapi bangsa kita kuat utuh dan bangsa kita mampu mengatasi semua cobaan yang kita hadapi," tutur dia.

Saat ini, menurut Prabowo, masyarakat sudah melihat bagaimana bentuk negara sudah hadir.

"Kita buktikan rakyat melihat reaksi pemerintah cepat, reaksi pemerintah mengatasi masalah. Kita sudah buktikan sekarang rakyat melihat ada musibah di bagian dari wilayah tanah air kita, tapi alat-alat negara segera hadir," tandas Prabowo.

  ⍟
Kompas  

Selasa, 02 Desember 2025

PTDI Selesai Laksanakan Pemeliharaan & Perawatan Helikopter Bell 412 EP TNI AD

Helikopter Bell 412 EP selesai perawatan di Bandung (PTDI)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) melaksanakan ferry flight satu unit helikopter Bell 412 EP yang telah selesai menjalani program Pemeliharaan dan Perawatan (Harwat).

Unit yang diberangkatkan dari Apron Hanggar Helikopter PTDI Bandung menuju Pangkalan Udara Pondok Cabe ini merupakan bagian dari total empat unit helikopter Bell 412 series milik TNI AD yang dipercayakan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI kepada PTDI untuk dilakukan perawatan berkala.

Selanjutnya, helikopter tersebut akan melanjutkan penerbangan menuju home base Skadron 12 Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) di Way Tuba, Lampung, untuk mendukung misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana.

Pengoperasian ini merupakan tindak lanjut dari penugasan Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, selaras dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto terkait percepatan penanganan kesulitan masyarakat serta pemulihan infrastruktur terdampak di wilayah Aceh dan Sumatera Barat.

Selain helikopter Bell 412, operasi dukungan logistik bagi wilayah terdampak juga diperkuat dengan penggunaan helikopter H225M Caracal milik TNI AU yang dikerahkan untuk membawa berton-ton bantuan bagi korban banjir di Sumatera-Aceh, serta mempercepat distribusi bantuan ke daerah yang sulit dijangkau.

Pemanfaatan alutsista produksi PTDI tersebut menunjukkan bahwa produk pesawat dan helikopter PTDI tidak hanya mampu mendukung misi operasi militer, tetapi juga dapat memberikan kontribusi maksimal dalam misi penanganan darurat bencana.

  ✪
PTDI  

Rabu, 17 September 2025

GMF Selesaikan Perawatan Helikopter Bell 412 ke-4 Penerbad

  Siap maintenance empat unit lainnyaHelikopter Bell 412 Penerbad (Jetphotos/Fahmun)

PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) melalui lini bisnis Defense Industry berhasil menyelesaikan pekerjaan perawatan Helikopter Bell 412 dengan kode registrasi HA-5230. Pekerjaan yang meliputi perawatan 5.000 Flight Hours / 5 Years Inspection ini diselesaikan tepat waktu sesuai Turnaround Time (TAT) yang disepakati, yakni 186 hari. Helikopter tersebut secara resmi diserahkan GMF kepada Pusat Penerbangan TNI AD (Puspenerbad) di Markas Pusat Penerbangan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Mako Puspenerbad) dan diterima langsung oleh Komandan Puspenerbad (Danpuspenerbad), Mayor Jenderal TNI Zainuddin.

Penyelesaian helikopter ke-4 ini merupakan bagian dari kontrak perawatan total 8 unit helikopter Bell 412 milik TNI AD. Setelah empat unit pertama berhasil dituntaskan, GMF akan melanjutkan pengerjaan pada empat unit tersisa, dimulai dengan dua unit pada September 2025 dan disusul unit lainnya secara bertahap.

Direktur Utama GMF, Andi Fahrurrozi, menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terus terjalin antara GMF dan TNI AD. “Kami berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan Puspenerbad kepada GMF dalam mendukung kesiapan operasional alutsista nasional. Dengan pengalaman dan kapasitas yang mumpuni dalam menangani helikopter Bell 412, kami optimis dapat memberikan hasil perawatan sesuai standar tertinggi untuk penyelesaian empat unit selanjutnya. GMF berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan pemeliharaan terbaik, tidak hanya untuk memastikan keselamatan dan keandalan armada, tetapi juga untuk memberikan kontribusi nyata bagi kemandirian ekosistem pertahanan Indonesia,” ungkap Andi.

  Tentang 5.000 Flight Hours / 5 Years Inspection
Perawatan 5.000 Flight Hours / 5 Years Inspection merupakan perawatan besar (heavy maintenance) yang wajib dilakukan pada helikopter Bell 412 setiap mencapai 5.000 jam terbang atau 5 tahun, mana yang tercapai lebih dahulu. Tujuan perawatan ini adalah memastikan seluruh sistem dan komponen dalam kondisi aman (safe) dan laik terbang (airworthy).

Ruang lingkup pekerjaan yang GMF kerjakan meliputi pemeriksaan airframe melalui visual inspection, corrosion prevention, dan NDT; overhaul pada komponen utama termasuk power train, rotors, power plant, dan flight control; perawatan pada electrical dan avionics; serta proses rotor track and balancing. Selain itu dilakukan pula weight and balance, servicing, dan operational check pada setiap sistem untuk memastikan kelayakan terbang helikopter.

Dengan keberhasilan penyelesaian perawatan ini, GMF kembali menegaskan posisinya sebagai mitra strategis pertahanan Indonesia melalui layanan pemeliharaan pesawat yang andal, profesional, dan berstandar internasional. Keberhasilan ini juga membuktikan kapabilitas GMF sebagai MRO terintegrasi yang mampu memenuhi kebutuhan di berbagai sektor, mulai dari defense, general aviation, hingga industrial solutions.
 

 
GMF  

Selasa, 16 September 2025

PT DI Produksi Dua Helikopter VIP H225M

 ⍟ Untuk TNI Helikopter VIP H225M hasil kolaborasi PT Dirgantara Indonesia dan Airbus. (Dok. Tim Media Menhan SS)

PT Dirgantara Indonesia (DI) berkolaborasi dengan perusahaan kedirgantaraan asal Prancis, Airbus, sedang memproduksi dua helikopter VIP H225M untuk TNI.

Helikopter tersebut telah diuji coba Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Senin (15/9).

Direktur Utama PT DI Gita Amperiawan mengatakan, dua helikopter VIP H225M nantinya akan di bawah operasi TNI Angkatan Udara.

Komando pengendalian di TNI. Kami akan delivery dua unit,” ujar Gita kepada Indonesia Defense Magazine (IDM), Senin.

Gita mengatakan, pembangunan dua helikopter itu diupayakan bisa rampung tahun ini.

Rencananya, dua helikopter itu akan memperkuat Skadron Udara 8 di Pangkalan Angkatan Udara (Lanud) Atang Sendjaja, Bogor, dengan prioritas utama pada operasi udara khusus dan dukungan misi kenegaraan.

Helikopter dengan no H-2214 nantinya di bawah operasi TNI AU. (Dok. Tim Media Menhan SS)

Adapun helikopter H225M yang ditinjau Menhan Sjafrie merupakan bagian dari program Blue Book 2014–2019, hasil kerja sama antara PT DI dan Airbus.

Dengan kemampuan multifungsi mulai dari transportasi pejabat tinggi, dukungan misi kenegaraan, hingga operasi udara khusus, H225M dirancang untuk memperkuat fleksibilitas dan daya jangkau TNI AU dalam menghadapi tantangan operasional masa kini.

Nilai kontrak pengadaan mencapai puluhan juta Euro yang mencakup dua helikopter, airborne kit, dukungan logistik terpadu (ILS), publikasi teknis, serta pelatihan intensif bagi kru udara dan darat. Setiap unit dilengkapi garansi 24 bulan atau 1.200 jam terbang, menjamin keandalan dan pemeliharaan jangka menengah.

Jika sudah siap terbang, helikopter ini bisa langsung terhubung dengan markas di bawah dan digunakan untuk kepentingan TNI serta Kementerian Pertahanan,” ujar Menhan Sjafrie.

Sebelumnya, pemerintah menyerahkan delapan helikopter H225M buatan Airbus kepada TNI AU pada 2023. Delapan helikopter itu telah melalui proses re-assembly.

Gita memastikan, dua helikopter VIP H225M memiliki teknologi terbaru dibanding delapan helikopter sebelumnya. (nma)

  ⍟
IDM  

Selasa, 17 Juni 2025

Helikopter Bell-412 TNI AL Akan Dimodifikasi

 Tambah Sonar untuk Deteksi Kapal Selam Helikopter Penerbal (Dispenal) ✪

Helikopter milik TNI AL, yakni Bell-412 akan dilakukan modifikasi untuk menambah kemampuan mendeteksi kapal selam.

Hal itu diungkapkan dalam kunjungan Komandan Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Danpuspenerbal) Laksamana Muda Bayu Alisyahbana di pameran alutsista Indo Defence 2024, beberapa waktu lalu.

Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Puspenerbal Kolonel Laut (KH) Rohman Arif, mengatakan rencananya helikopter Bell-412 akan dimodifikasi dengan dilengkapi dipping sonar.

Adapun dipping sonar merupakan jenis sonar portabel yang diturunkan ke laut dari helikopter dan kemudian diangkat setelah melakukan pemindaian. Sistem ini menyediakan sensor deteksi ringan dan mudah dipindahkan untuk menemukan dan melacak kapal selam.

(Dalam kunjungan di Indo Defence) Danpuspenerbal diskusi terkait modifikasi helikopter Bell-412 yang akan dilengkapi dipping sonar Helras dalam program kerja sama dengan PT DI,” kata Rohman dalam keterangannya, dikutip Senin (16/6).

Selain itu, selama kunjungan di Indo Defence, Danpuspenerbal juga meninjau langsung sistem persenjataan helikopter untuk TNI AL di stand PT Mandira Jaya Abadi. Namun, ia tak menjelaskan lebih rinci mengenai persenjataan yang direncanakan terpasang di Bell-412.

Sebelumnya, PT DI dan Bell Textron menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Indo Defence, Rabu (11/6) untuk pengembangan helikopter misi khusus dalam mendukung berbagai jenis operasi yang tidak terbatas pada evakuasi medis, pencarian dan penyelamatan (SAR) hingga pengintaian bersenjata. Direktur Pelaksana Bell Textron untuk Asia-Pasific David F. Sale, mengungkapkan dalam pengembangan helikopter tersebut PT DI akan bertindak sebagai integrator perlengkapan misi.

MoU yang baru kita lakukan adalah terkait helikopter misi khusus. Bell memiliki kapabilitas untuk mempersenjatai helikopter kami agar menjadi platform dengan kemampuan tertentu,” ungkap Sale kepada Indonesia Defense Magazine, Kamis (12/6).

Kami dapat membuatnya menjadi helikopter layanan medis darurat hingga helikopter serang ringan. Semuanya berdasarkan keinginan pengguna akhir, baik itu angkatan darat, angkatan laut dan angkatan udara. Kami bekerja sama dengan PTDI dan bagian integrasi untuk mengembangkan solusi bagi pengguna,” imbuhnya.

Selain itu, PT DI dan Bell Textron akan bekerja sama dalam kualifikasi sistem, khususnya pada pengembangan sistem persenjataan yang terintegrasi dan disertifikasi oleh Indonesia Military Airworthiness Authority (IMAA) agar dapat memenuhi standar keamanan dan kualitas untuk operasional TNI.

Kami akan bekerja sama dengan PTDI, dengan teknisi mereka dan teknisi kami, sehingga mereka akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Atau mereka akan mendapatkan teknologi tambahan yang mampu membantu mereka mensertifikasi pesawat tersebut,” kata Sale. (at)

  ✪
IDM  

Kamis, 12 Juni 2025

PTDI Teken Kontrak Penjualan 6 Helikopter AW189

 Di Indo Defence 2024Infografik AW 189 (antara)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menegaskan kembali perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan alat utama sistem senjata (alutsista) nasional.

Pada hari pertama pameran Indo Defence 2024 Expo & Forum di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, PT Dirgantara Indonesia menandatangani kontrak penjualan enam unit Helikopter Angkut Berat AW189 dengan Baranahan Kementerian Pertahanan RI.

Penandatanganan kontrak secara simbolis dilakukan oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan. Disaksikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin.

Dalam agenda Penandatanganan Kontrak Bersama Kementerian Pertahanan dengan BUMN & BUMS.

PTDI siap menjawab setiap kebutuhan armada udara nasional. Dengan pengalaman rekayasa dan manufaktur yang teruji, serta jaringan kemitraan global yang solid, kami hadir. Untuk mendukung kemandirian pertahanan Indonesia dengan semangat juang dan dedikasi tinggi,” ujar Gita Amperiawan.

Helikopter AW189 yang akan dikirim merupakan jenis heavy-lift multi-mission. Yang dirancang untuk meningkatkan mobilitas dan jangkauan udara TNI.

Pengadaan ini menjadi bagian penting dalam memperkuat postur pertahanan udara nasional. Yang modern dan adaptif terhadap berbagai misi.

Tak hanya sebatas pengadaan, kontrak tersebut membuka peluang strategis untuk memperluas kapabilitas PTDI. Mulai dari peningkatan kapasitas teknis, layanan pemeliharaan, hingga pengembangan industri pendukung.

Dengan bertambahnya jenis helikopter yang ditangani, capability list (caplist) PTDI pun diperluas, memperkuat posisinya. Sebagai pusat unggulan industri dirgantara di kawasan Asia Tenggara.

  Peran Generasi Muda
Gita juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam transformasi perusahaan.

Kami sedang menyiapkan panggung lahirnya kembali para Habibie masa depan. Anak-anak muda ini bukan hanya mewarisi semangat. Tapi juga membawa energi baru yang akan menjadikan PTDI sebagai kekuatan industri global yang membanggakan,” tambahnya.

Sebagai satu-satunya industri pesawat terbang di Asia Tenggara, PTDI berkomitmen memenuhi kebutuhan armada udara nasional. Baik untuk kepentingan pertahanan maupun sipil.

PTDI terus mendorong peningkatan daya saing. Melalui pengembangan teknologi, pemanfaatan kapasitas industri dalam negeri, dan ekspansi pasar global.

Dengan pengalaman lebih dari 40 tahun, PTDI telah menempatkan diri sebagai pelaku utama industri kedirgantaraan yang terintegrasi. Dari desain hingga pemeliharaan dan pengembangan teknologi.

Momentum penandatanganan kontrak ini menjadi batu loncatan penting dalam penguatan industri strategis nasional. Sekaligus pembuktian bahwa Indonesia mampu bersaing di panggung industri dirgantara global. (*)
 

 
Pas Jabar  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More