blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Tampilkan postingan dengan label LIPI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LIPI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Juni 2023

Mobil Listrik Marlip Mesa Buatan LIPI Tampil Makin Keren

 Bakal Dijual Massal ? 
https://scontent.fcgk30-1.fna.fbcdn.net/v/t39.30808-6/347630949_1291420575089363_5672479731407682070_n.jpg?_nc_cat=110&ccb=1-7&_nc_sid=dbeb18&_nc_ohc=s7eyc6tGFwUAX9eNbr7&_nc_ht=scontent.fcgk30-1.fna&oh=00_AfCTHTiK8ObNfyQ1bmYJeDK9RE147gxJ01uFRDlV4puxYQ&oe=64861562Marlin Mesa LIPI [ist] ★

D
itengah gempuran mobil listrik dari negara lain, ternyata Indonesia juga sedang mempersiapkan mobil listrik terbaru. Mobil ini bakal dinamakan Marlip Mesa, desainnya pun terlihat sangat modern, gak kalah dengan Wuling Air ev.

Informasi akan hadirnya mobil listrik Marlip Mesa terkuak dari Berita Resmi Desain Industri Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum & HAM Republik Indonesia (RI). Dalam kokumen itu terlihat ada beberapa desain sebuah mobil baru yang diajukan oleh PT Marlip Indo Mandiri yang diajukan 23 April 2023 lantas diumumkan pada 5 Mei 2023.

Dalam dokumen pengajuannya tertulis "Mobil Listrik - Marlip Mesa" yang disertai beberapa gambar desain mobil empat pintu berukuran kompak.

 Mobil Listrik Marlip Hasil Kreasi LIPI
https://images.autofun.co.id/file1/ec921fb2b70647fcbe0a29757519a25a_1200.jpgMarlip saat diperkenalkan di Bandung tahun 2012 [ist] ★

Kalau Anda belum familiar dengan nama Marlip, mari kita sedikit kilas balik ke tahun 2012. Saat itu pihak LIPI memperkenalkan mobil listrik yang dinamakan MARLIP (Marmut Listrik LIPI) saat peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat.

Marlip yang saat itu diperkenalkan memakai baterai yang mampu melaju sejauh 300 km dalam sekali cas. Kecepatannya 40 km/jam di jalan datar, dan 20 km/jam sata menghadapi jalan menanjak. Ketika baterai kehabisan daya, maka bisa diisi full 4-5 jam. Mobil listrik ini pun digunakan untuk area padang golf, pabrik, lapangan bola, hotel/resort, dan tempat wisata.

 Mobil Listrik Marlip Mesa Makin Modern
https://scontent.fcgk30-1.fna.fbcdn.net/v/t39.30808-6/347625046_695187012374248_8451950693685198314_n.jpg?_nc_cat=108&ccb=1-7&_nc_sid=dbeb18&_nc_ohc=feQV_wXy8xgAX-SjVHP&_nc_ht=scontent.fcgk30-1.fna&oh=00_AfC6i39GB5B0h6p8Yhoc8_PMEoRyH4WVZkhDwwsVYGgVhw&oe=64863337Mobil Listrik Marlip Mesa [ist] ★

Jika melihat Marlip yang pertama kali diperkenalkan, maka terlihat beda jauh dengan paten desain yang diajukan PT Marlip Indo Mandiri. Produsen yang bermarkas di kawasan Sukajadi, bandung, Jawa Barat itu mendesain Marlip yang lebih modern.

Lihat saja bagaimana tampak depan mobil ini seperti EV yang sedang trend di China. Kemudian tampilan belakangnya juga terlihat futuristik dengan lampu rem yang diberi aksen LED bar sehingga seakan menyatu antara sisi kiri dan kanan. Sayangnya belum ada informasi spesifikasi tentang baterai mobil listrik ini.

  ★ Autofun  

Minggu, 16 Januari 2022

BRIN Ungkap 7 Tim Kembangkan Vaksin Merah Putih

 Unair Tercepat Ruang riset vaksin Merah Putih di Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). BRIN memastikan prosesnya jalan terus hingga kini. (Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan ada tujuh tim yang kini mengembangkan vaksin produk dalam negeri dalam konsorsium nasional untuk pengembangan Vaksin Merah Putih.

Pelaksana Tugas Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati BRIN Iman Hidayat mengungkapkan progres pengembangan Vaksin Merah Putih yang paling cepat adalah dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

"Saat ini tim yang progress-nya paling cepat adalah tim dari Unair bekerja sama dengan PT Biotis sudah menyelesaikan uji praklinis pada makaka (monyet)," katanya, dikutip dari Antara, Sabtu (15/1).

Ia menjelaskan tujuh tim di dalam konsorsium nasional untuk pengembangan Vaksin Merah Putih tersebut adalah Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjadjaran, eks Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

"Masing-masing tim ini mengembangkan Vaksin Merah Putih dengan metode yang berbeda, mulai dari vaksin yang berbasis inaktivasi virus sampai vaksin yang berbasis rekombinan protein," ujarnya.

Iman menuturkan setelah menyelesaikan uji praklinis, selanjutnya Unair dan PT Biotis akan melakukan uji klinis fase 1, 2 dan 3.

Ia menyebut uji klinis tersebut dijadwalkkan selesai pada Juli atau Agustus 2022 bersamaan dengan perkiraan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sementara tim-tim lainnya, kata Iman, masih pada tahap optimasi yield antigen dan sebagian sedang melakukan uji praklinis.

Di samping itu, Iman mengatakan dengan munculnya varian omicron dan mungkin saja varian-varian lain di masa yang akan datang, tentunya diharapkan Vaksin Merah Putih yang dihasilkan dari tim-tim tersebut menjadi tumpuan utama pemerintah.

Apalagi, vaksin Covid-19 untuk penguat sangat diperlukan di kondisi saat ini, selain untuk penggunaan vaksinasi awal.

Sebelumnya, kelanjutan riset Vaksin Merah Putih dipertanyakan seiring peleburan sejumlah lembaga penelitian ke BRIN, terutama Eijkman.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sendiri menargetkan pemberian izin darurat bagi Vaksin Merah Putih produksi Unair pada Juni 2022. (Antara/arh)

  😷 CNN  

Jumat, 13 Agustus 2021

Konsep Radar Nasional

  Kerjasama BUMNIS 
https://asiatoday.id/wp-content/uploads/2019/09/Blok-rokan-Riau.-Ist-702x375.jpgKonsep desain radar GCI nasional [LIPI] ✪

B
erikut ini penampakan desain konsep radar nasional LIPI.

Pada tahun 2019 BPPT telah merekomendasikan PT Len Industri (Persero) sebagai lead integrator industri radar nasional.

PT Len Industri ingin menjadi pemeran utama dalam pengembangan industri radar di Indonesia.

Mengutip website LEN, Industri radar ini membutuhkan kerjasama dan kolaborasi antara strategic partners dan kegiatan litbangyasa dalam negeri.

Pengembangan Pusat Industri Radar Nasional bertujuan untuk menjaga keamanan wilayah NKRI, penguasaan dan kemandirian teknologi, pemenuhan kebutuhan pasar domestik dan regional.

  Radar GCI 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrBbqIjW3O4hPSvHaMaGbGrsFB7TVOuArUqhi8p0naBVLio3uN80pMY1_6Tt61y9fJw0SJfBrOdBPQMGkgjtQxC3e5WJJKZyEIKhQkjS1fC_4iaI-rqeyRewtvEgPTx4FZYsP8v_3D-Ieg/s1875/LIPI_Radar_4433071079544978505_n.jpgPemenuhan kebutuhan sejumlah Radar GCI TNI AU menjadi target pertama pembangunan Pusat Industri Radar Nasional ini.

PT Len Industri diharapkan akan menjadi strategic partnersip bersama mitra vendor radar ternama dunia agar dapat mengakselerasi penguasaan dan alih teknologi radar GCI melalui proyek pengadaan radar GCI.

Pengembangan Radar Nasional merupakan salah satu dari 7 Program Prioritas Nasional. Sesuai visi Presiden Joko Widodo.

  ⍟
Indonesia Teknologi  

Kamis, 12 Agustus 2021

Ventilator Indonesia Buatan LIPI

 Ventilator Smart Innovated 
https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/590x400/photos/2021/08/ant-202108-001135.jpgVentilator Indonesia buatan LIPI [antara] ✪

P
eneliti Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi (P2ET) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Joni Pristianto menguji coba ventilator Smart Innovated Ventilator Indonesia (Sivenesia) di Kantor LIPI, Cisitu, Bandung, Jawa Barat, Senin (9/8/2021).

Ventilator dengan menggunakan sistem android dan memiliki mode CPAP-BPAP tersebut dapat beroperasi selama empat hingga enam jam tanpa listrik dan akan diproduksi massal usai menjalani uji klinis di RSHS serta mendapatkan ijin edar dari Kementerian Kesehatan guna membantu menanggulangi pandemi COVID-19.


  ⍟ Media Indonesia  

Selasa, 20 September 2016

LIPI kembangkan otomasi konverter kit

LIPI (id.wikipedia.org) ☆

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melirik pengembangan otomasi alat konversi energi atau konverter kit bahan bakar bensin dan solar ke gas generasi kedua.

"Ke depan kami akan mengembangkan otomasi konverter kit ini, untuk mengurangi bunyi letusan terutama pada penerapan konverter kit di mesin diesel," ujar Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, Bambang Subiyanto, usai uji terapi konverter kit generasi kedua di Tegal, Jawa Tengah, Selasa.

Dia menjelaskan dengan sistem otomasi, maka tidak ada lagi bunyi letusan. Suara itu timbul karena alat konversi yang ada saat ini masih manual.

Dalam uji terap tersebut sempat beberapa kali terdengar bunyi letusan pada mesin diesel yang menggunakan konverter kit itu.

"Nantinya, dengan menekan satu tombol maka alat tersebut akan langsung berjalan tanpa ada bunyi letusan."

Alat konversi energi tersebut merupakan karya peneliti binaan LIPI, Abdul Hakim Pane. Alat tersebut dapat mengkonversi penggunaan tujuh jenis bahan bakar yakni bensin, solar, alkohol, LPG, LNG, CNG, dan biogas.

Dengan alat tersebut, nelayan yang sebelumnya melaut dengan menggunakan bensin dan solar, sekarang bisa menggunakan bahan bakar gas.

Berbeda dengan generasi pertama yang mengkonversi bahan bakar yang menggunakan mesin tipe kaburator, untuk generasi kedua lebih canggih karena bisa diterapkan untuk mesin jenis terbaru atau injeksi.

Konverter kit tersebut bisa digunakan untuk alat pertanian dan juga nelayan.

Alat tersebut bisa melakukan penghematan bahan bakar hingga 80 persen.

Satu tabung gas tiga kilogram tersebut bisa digunakan untuk melaut selama 11 hari untuk mesin empat tak. Sedangkan jika menggunakan bensin 10 liter untuk untuk 11 hari dengan asumsi melaut selama dua jam per hari.

Sementara untuk kapal dengan mesin dua tak (kapal yang digunakan untuk laut yang berombak), untuk 10 hari memerlukan 146 liter bensin, sedangkan jika menggunakan gas hanya membutuhkan 10 tabung.

Untuk mesin diesel dua tak, memerlukan 80 liter untuk 10 hari, sedangkan jika menggunakan gas hanya memerlukan 10 tabung.

Alat konverter tersebut juga dilengkapi dengan kotak pengaman, yang aman dari ledakan.

"Kami terbuka bagi industri yang tertarik untuk memproduksi secara massal hasil riset ini," papar dia.

Selain itu pihaknya juga sedang menyiapkan rencana induk untuk sertifikasi produk tersebut.
 

  ☠ Antara  

Rabu, 27 Januari 2016

LIPI Pamerkan Kursi Berteknologi Sinyal Otak

Tya Eka Yulianti/detikcom ☆

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memperlihatkan hasil riset kursi roda elektrik berbasis sinyal otak (brain signal) atau yang biasa dikenal dengan Electro Encephalo Graphy (EEG) yang telah dikembangkan selama 3 tahun terakhir. Kursi roda ini dapat bergerak sesuai dengan perintah sinyal otak penggunanya.

Untuk menggunakan kursi roda ini penggunanya harus menggunakan penutup kepala berbentuk kupluk yang telah dipasangi alat sensor otak yang akan terhubung ke micro controller.

Tya Eka Y/detikcom ☆

"Ada 32 titik di otak yang akan komunikasi mengirim sinyal. Kita tidak tau di daerah mana sinyal yang akan ditangkap dan berubah jadi gerakan," tutur Dr Arjon Turnip, peneliti bidang instrumentasi (teknologi EEG) dari UPT Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI di Bandung, Rabu (27/1/2016).

Alat yang dipasang di kepala pun harus disuntikkan gel elektroda supaya bisa terhubung ke software yang ada di laptop melalui amplifier dan micro controller.

"Kadang sinyal ada noise karena otak manusia kan bisa berubah dengan cepat. Konsentrasinya tidak konsisten," tuturnya.

Untuk pengaman, di kursi roda juga sensor supaya tidak menabrak dalam jarak tertentu.

"Untuk menjaga saat pengguna kursi roda tersebut tidak konsentrasi," jelas Arjon.

Beberapa wartawan pun mencoba kursi roda tersebut dan merasakan bagaimana sensasi menggerakkan kursi roda hanya dengan memerintahkannya di otak. Namun sensor yang dipasang di kursi roda tersebut masih belum bisa menangkap objek di kemiringan tertentu sehingga beberapa kali menabrak.

"Masih perlu pengembangan dan perbaikan seperti sensor dan motor roda supaya bisa berbelok lebih akurasi," tuturnya. (tya/try)

  ☠ detik  

Selasa, 06 Oktober 2015

LIPI arahkan pengembangan ekonomi kreatif berbasis teknologi

http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/Fotona-Heli-Apache.jpgILUSTRASI - LIPI (ANTARANews/Ist) ♙

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengarahkan pemanfaatan teknologi sebagai dasar untuk menciptakan peluang ekonomi kreatif baru yang lebih berkelanjutan.

"Dari pertemuan dalam Festival Sains dan Teknologi yang diadakan di Bandung selama tiga hari (5--7 Oktober 2015) yang ingin dicapai sebenarnya kolaborasi global, tidak peduli bidangnya apa. Tapi dari enam bidang yang dibahas, teknologi tepat guna memang paling dibutuhkan, jika disesuaikan dengan kebutuhan kekinian," kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko di Jakarta, Selasa.

Sekarang ini, menurut dia, yang ingin lebih didorong LIPI adalah penciptaan ekonomi kreatif berbasis teknologi, karena selama ini lebih banyak berbasis kultur.

"Itu tidak salah, tapi lifetimenya pendek. Makanya sekarang kita ingin bekerja sama mulai menciptakan industri kreatif berbasis iptek, dengan dasarnya teknik, itu jadi paling nyata," ujar Handoko.

Kerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf), menurut dia, menjadi pertimbangan yang akan dilakukan LIPI untuk mendukung berkembangnya ekonomi kreatif berbasis iptek di Indonesia.

Indonesia, lanjutnya, terlambat jika ingin mengembangkan manufaktur yang mampu menghasilkan produk global. Industri kreatif baru berbasis iptek dengan diferensiasi produk yang tinggi justru memiliki peluang untuk dikenal secara global.

"Mau bikin manufaktur apalagi? komputer, telepon genggam, telepon pintar, chip, televisi semua sudah ada dan akan sangat sulit bersaing dengan manufaktur global yang sudah ada," ujar dia.

Satu-satunya manufaktur yang masih memiliki peluang berkembang di Indonesia, menurut dia, adalah otomotif mengingat untuk memproduksi block mesin belum bisa juga dilakukan secara mandiri. Kondisi ini pun akan berubah ketika mobil listrik sudah berkembang dan unit usaha kecil sudah mampu membuat motor listrik secara mandiri.

Industri kreatif berbasis iptek, menurut dia, sangat berkembang pesat di Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Kondisi ini terjadi karena dukungan penuh dari pemerintah yang memberikan kemudahan dalam berinovasi dan berkreasi.

Sedangkan di Indonesia, ia mengatakan industri-industri kreatif yang memanfaatkan teknologi masih sedikit dikembangkan.

"Startup-startup dengan kekhasan tersendiri bisa saja mendunia, dan ini yang harus dibantu untuk dikembangkan. LIPI mulai membina beberapa startup seperti radar untuk nelayan, teknologi pengalengan makanan yang tidak homogen juga dimanfaatkan untuk memulai bisnis food truck," ujar dia.


  ♙ antara  

Selasa, 18 Agustus 2015

LAPAN Berambisi Bangun Pusat Riset tentang Roket dan Satelit

Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (Lapan) menyelenggarakan Seminar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dirgantara. Kegiatan itu bertajuk Iptek Penerbangan dan Antariksa untuk Kemandirian Bangsa.

Seminar itu adalah sarana sosialisasi penelitian, pengembangan, dan perekayasaan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan dan antariksa.

Ada 80 makalah didaftarkan. Lapan menerima 42 makalah dengan komposisi 12 makalah sebagai presentasi oral dan 30 makalah presentasi poster.

Lembaga pemerintah nonkementerian ini menyebutkan seminar tersebut diikuti 200 peserta dari berbagai instansi penelitian dan pengembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan dan antariksa, seperti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan dari perguruan tinggi ada Institut Teknologi Bandung serta Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin, mengatakan, seminar itu adalah cara meningkatkan kapasitas intansinya sebagai pusat unggulan di ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan dan antariksa. Tujuannya untuk mendukung dalam mencapai kemandirian nasional di bidang tersebut.

"Cita-cita besarnya, yaitu Indonesia melalui Lapan ingin membangun pusat unggulan di bidang roket, satelit, dan penerbangan. Nantinya di masa depan, Indonesia juga akan membangun bandar antariksa sesuai yang tertuang dalam rencana induk keantariksaan," ujarnya seperti dikutip dari keterangan tertulisnya pada Minggu, 16 Agustus 2015.

Seminar itu, Thomas menambahkan, sebagai semangat bagi para peneliti dan perekayasa bahwa bangsa Indonesia dapat mengembangkan inovasi. Dengan demikian, mereka akan semakin termotivasi untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas penelitian dan perekayasaannya.

Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain, yang ditujuk sebagai narasumber utama pada seminar itu, mengatakan tinjauan konseptual iptek dan kemandirian bangsa terdiri dari tiga komponen, yakni mandiri, berperan, dan berdaulat.

Mandiri adalah mampu memenuhi kebutuhan sendiri dan sejahtera. Kemandiran akan mengantarkan Indonesia jadi negara berdaulat atau sejajar dengan bangsa lain, dan akhirnya mampu berperan aktif dalam pergaulan global.

"Ketiga komponen ini akan kuat, jika berfondasi pada penyeranan, pengenalan, pengembangan ilmu pengetahuan, dan berdasarkan penyerapan, penguasaan, penciptaan, dan pemanfaatan teknologi," ujarnya.

Dilansir dari laman resmi Lapan, Lapan.go.id, sebagai pusat unggulan di bidang penerbangan, lembaga itu telah mengembangkan pesawat N219. Pesawat memiliki kandungan lokal yang tinggi dan akan meningkatkan konektivitas pulau-pulau kecil Nusantara.

Pesawat itu merupakan upaya lembaga penelitian dan pengembangan untuk mendukung industri penerbangan nasional sekaligus membangkitkan pengembangan teknologi penerbangan di Lapan. “Suatu saat nanti, Indonesia akan mampu membangkitkan kebanggaan 20 tahun silam dan kembali ke posisi yang membanggakan saat berhasil menerbangkan pesawat N250,” kata Thomas.

Selain pesawat transportasi, Lapan juga juga mengembangkan pesawat tanpa awak atau UAV. UAV buatan Lapan telah mendapat penghargaan dalam 20 inovasi pada Hakteknas 2015. Penghargaan tentunya menjadi penyemangat dalam pengembangan UAV dan pemanfaatannya.

Di bidang roket, Lapan berupaya mencapai penguasaan teknologi Roket Pengorbit Satelit. Thomas menjelaskan, target sekarang adalah mampu membangun roket yang dapat mengantarkan satelit kecil hingga ke orbit 300 kilometer.

Di bidang satelit, Lapan telah meluncurkan satelit mikro Lapan-Tubsat (Lapan-A1) pada 2007. Satelit generasi berikutnya, Lapan-A2, telah siap dan rencananya akan diluncurkan pada September 2015 dari India. Ia berharap, tahun depan satelit berikutnya, Lapan-A3 dan Lapan-A5, dapat diluncurkan. Di masa depan, Indonesia akan membuat konsorsium nasional guna membangun satelit operasional.

  ✈️ Vivanews  

Senin, 03 November 2014

Produk nanoteknologi LIPI tembus pasar internasional

"Saat ini kami sudah memasarkan produk nanoteknologi ke Malaysia dan Arab Saudi dan ke depannya dipasarkan ke Jepang dan Tiongkok," LIPI

Produk nanoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menembus pasar internasional karena berkualitas dan mampu bersaing dengan produk dari negara asing lainnya.

"Saat ini kami sudah memasarkan produk nanoteknologi ke Malaysia dan Arab Saudi dan ke depannya dipasarkan ke Jepang dan Tiongkok," kata Kepala Pusat Inovasi LIPI Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M. Eng., Ph.D. di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan saat ini penjualan produk nanoparticle milling machine atau mesin penggiling nano ke pasar Malaysia mencapai 30 unit lebih per tahun.

"Permintaan ini cukup tinggi sehingga kami kesulitan untuk memenuhi permintaan pasar nasional dan internasional," tuturnya.

Sementara itu, LIPI sedang melakukan penjajakan kerja sama dengan Jepang berupa nano bubble atau partikel untuk mengawetkan hasil tangkapan ikan sehingga bisa diekspor ke Jepang.

"Jepang tidak akan bisa mengambil produk-produk ikan tangkapan nelayan kalau tidak dilakukan teknologi yang bisa menjaga kesegaran ikan," tuturnya.

Menurut dia, teknologi itu akan membantu nelayan dalam mengekspor ikan ke Jepang sehingga akan meningkatkan kesejahteraan nelayan.

"Sebenarnya pasar itu bisa lokal dan internasional, cuma permasalahannya bagaimana kita bisa mengantisipasi atau mengelola produk perikanan agar bisa diterima di pasar internasional," ujarnya.

Nanoteknologi merupakan suatu ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mempelajari benda berukuran sangat kecil hingga sepersemiliar meter yang kemudian dimanipulasi atau direkayasa untuk menghasilkan benda-benda baru seperti yang diinginkan.(SDP-82/Z003)

  ★ Antara  

Sabtu, 25 Oktober 2014

Mimpi Visi Maritim Jokowi

Indonesia telah lama memunggungi laut. Memunggungi samudraJokowi harus mendorong nelayan pantai menjadi nelayan lepas pantai. sehingga dapat mencegah pencurian ikan oleh kapal asing.

Hari beranjak siang. Udara di pesisir pantai Bintaro, Ampenan, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai memanas. Namun, Muhamad Saleh (40) tetap bertahan, duduk di bibir pantai beralaskan pasir.

Ia hanya mengenakan kaus butut, celana yang tak lagi utuh dan berselempang sarung yang sudah tampak kusam.

Muhamad Saleh merupakan salah satu nelayan di Kampung Bugis, Ampenan. Siang itu, ia sedang melepas penat, setelah semalaman mengolah lautan mencari ikan. Ia sendirian, hanya ditemani secangkir kopi dan rokok di tangan, serta perahu tempel miliknya yang sudah tampak tua dimakan usia.

"Nelayan di sini yang kaya semakin kaya, yang miskin tetap miskin," ujar Saleh membuka percakapan saat VIVAnews menemuinya Selasa, 21 Oktober 2014.

Ia mengeluh, karena hasil tangkapan ikan terus menurun. Nelayan tradisional macam dia hanya mengandalkan kebaikan alam dan keberuntungan.

Keluhan senada disampaikan Muslim (42), kolega Saleh sesama nelayan di Ampenan. Ia menilai, pemerintah tak serius memperhatikan nelayan. Para nelayan menjadi terkotak-kotak dan mengarah pada persaingan yang tak sehat dan rebutan lahan tangkapan.

Akibatnya, nelayan yang hanya bermodal jala dan perahu kecil macam dia akan tersingkir. Tak jarang, nelayan pulang dengan hasil tangkapan yang tak sebanding dengan pengeluaran.

"Tidak seperti dulu bisa tiap hari dapat ikan, sekarang dapat sehari libur 2 sampai 5 hari, begitu seterusnya," ujarnya saat ditemui VIVAnews di tempat yang sama.

Kondisi itu diamini Idep (39). Nelayan asal Padang, Sumatera Barat ini mengatakan, pendapatannya sebagai nelayan seringkali tak mampu memenuhi biaya hidup sehari-hari. Padahal, ayah dua anak ini sudah menjadi nelayan sejak 20 tahun silam. Ia menghabiskan waktu 15 sampai 18 hari sekali melaut.

Namun, maksimal ia hanya bisa mendapatkan satu ton ikan. Kadang, hanya separuhnya. Sementara itu, biaya untuk sekali melaut mencapai Rp 9 juta. “Sering kami pulang hanya balik modal,” katanya kepada VIVAnews, Kamis, 23 Oktober 2014.

Idep melaut menggunakan kapal orang lain. Karenanya, hasil tangkapan dibagi dengan pemilik kapal.

“Kami menjalankan kapal saja. Dapat tidak dapat ikan, itu tanggung jawab kami. Kalau dapat banyak, kami dapat uang. Kalau dapat sedikit, kami juga dapat sedikit, bahkan kadang tidak dapat apa-apa,” ujarnya.

Kondisi itu diperparah dengan sulitnya nelayan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) untuk melaut. Soal sulitnya mendapatkan BBM juga dirasakan Bachril (40), nelayan asal Makassar, Sulawei Selatan.

Menurut dia, kebanyakan nelayan mengeluh terkait kebijakan pemerintah yang melarang membeli solar menggunakan jeriken di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN). BBM untuk nelayan jadi sangat terbatas dengan adanya larangan membeli solar menggunakan jeriken.

Lain lagi yang dikeluhkan Hendri, nelayan asal Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Ia menyesalkan banyaknya kapal di atas 15 groos ton (GT) yang beroperasi sekitar tiga mil dari bibir pantai. Menurut dia, hal itu sangat merugikan nelayan yang melaut dengan kapal jukung. Sebab, yang panen ikan adalah kapal besar yang memiliki peralatan lebih memadai.

"Kondisi itu sering kami temui ketika musim ikan tiba. Mereka beroperasi saat malam hari dan aparat tak berbuat banyak," ujarnya saat ditemui VIVAnews, Rabu 22 Oktober 2014.
Nelayan Tradisional Tetap Bertahan di JakartaNelayan yang hanya bermodal jala dan perahu kecil akan tersingkir. Tak jarang, nelayan pulang dengan hasil tangkapan yang tak sebanding dengan pengeluaran. (Foto: VIVAnews/Frenando Randy)

 Kemiskinan Nelayan 

Sebagai negara maritim terbesar di dunia dengan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, nelayan Indonesia seharusnya bisa hidup sejahtera.

Namun, fakta berbicara lain. Jika memasuki kampung-kampung pesisir yang tercium adalah bau amis dengan pemandangan permukiman padat penduduk yang kumuh dan jorok. Kampung nelayan sangat identik dengan kemiskinan.

Serikat Nelayan Indonesia (SNI) menyatakan, sebagian besar nelayan Indonesia adalah nelayan tradisional dengan bobot perahu tak lebih dari 10 GT. Mereka adalah nelayan pantai dengan jangkauan tak lebih dari 12 mil dan hanya mengandalkan alam.

Sekretaris Jenderal SNI, Budi Laksana, mengatakan, sejumlah masalah seringkali dihadapi nelayan mulai dari cuaca, teknologi, ketersediaan bahan bakar, penjualan ikan hingga keamanan di laut. Tengkulak juga masih menjadi momok bagi nelayan. Hampir semua nelayan tradisional secara permodalan sangat tergantung pada tengkulak.

Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Abdul Halim mengatakan, nelayan miskin karena negara absen. Sejumlah program yang diniatkan guna mengatasi kemiskinan nelayan mentok pada oknum Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta elite nelayan.

Ia mencontohkan kasus pengadaan seribu kapal untuk nelayan. Dana untuk program ini cukup besar yakni mencapai Rp 1,5 triliun. Namun, program ini tak banyak membantu nelayan karena penerima kapal bukan nelayan.

Selain itu, speknya tak sesuai dengan kebutuhan. Akibatnya, kapal bantuan pemerintah tersebut mangkrak karena tak digunakan. Tak hanya itu, investasi di sektor perikanan 95 persen dikuasai oleh asing. Maka tak heran jika nelayan nusantara masih berkubang kemiskinan.

Pakar kelautan Rohmin Dahuri mengatakan, kemiskinan nelayan terjadi karena tata niaga perikanan yang memojokkan nelayan. Hal ini membuat nelayan dan masyarakat pesisir semakin termarjinalkan. Bekal nelayan melaut tak seimbang dengan pendapatan.

“Mereka butuh BBM dan kebutuhan lain untuk melaut. Selama ini nelayan maju kena, mundur kena. Kalau minim ikan harganya mahal, kalau lagi panen melimpah harga tangkapan ikan nelayan murah karena daya serap warga setempat,” ujar mantan menteri kelautan dan perikanan ini kepada VIVAnews, Kamis, 23 Oktober 2014.

KKP membantah dianggap abai terhadap nelayan. Sekjen KKP Syarief Widjaja mengatakan, pihaknya telah membantu nelayan. Misalnya, pemerintah membantu proses kepemilikan tanah nelayan. KKP juga mengklaim telah membantu permodalan, peralatan tangkap, serta pendidikan dan kesehatan.

KKP juga mengatakan telah membangun seribu kapal nelayan guna membantu kelompok nelayan. Kredit usaha rakyat juga dikucurkan.

 Potensi Kelautan 

KKP menyatakan, Indonesia memiliki potensi maritim yang sangat besar. Potensi maritim Indonesia berupa 17.504 pulau, garis pantai 95.181 kilometer, dan luas laut 5,8 juta km2. Lalu, 80 persen industri dan 75 persen kota besar terletak di wilayah pesisir.

"Ada 60 cekungan migas yang 70 persennya ada di laut," ujar Sekjen KKP, Syarief Widjaja kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis 23 Oktober 2014.

Tak hanya itu, cadangan migas Indonesia sebanyak 9,1 miliar barel juga ada di laut. Objek wisata laut dan wilayah pesisir juga ada. Indonesia juga dikenal sebagai marine mega biodiversity karena memiliki 8.500 spesies ikan, 555 spesies rumput laut, dan 950 spesies terumbu karang.

Sementara itu, potensi perikanan laut tangkap sebanyak 6,5 juta ton per tahun, budidaya perikanan payau seluas 2,96 juta hektare, dan budi daya laut seluas 12,55 juta hektare per tahun.

Sayangnya, potensi itu belum tergarap optimal. Swasta maupun pemerintah belum banyak yang memaksimalkan potensi tersebut. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan, ada sejumlah kendala yang dihadapi pengusaha saat akan mengoptimalkan potensi kelautan dan perikanan di Indonesia.

Misalnya, tumpang tindihnya peraturan dan zonasi perikanan serta sulitnya mendapat suntikan modal dari perbankan.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto mengatakan, pengusaha yang berkecimpung di sektor ini sangat kecil. Sebab, sektor ini berisiko tinggi meski perikanan membuahkan keuntungan yang tinggi.

"Industri ini penuh risiko. Perbankan takut investasi besar-besaran,” ujarnya kepada VIVAnews, Selasa 21 Oktober 2014.

Hal itu diamini Rohmin Dahuri. Ia mengatakan, pemanfaatan potensi kelautan terkendala anggaran dan pendanaan. Menurut dia, perbankan hanya memberikan pinjaman untuk sektor kelautan 0,2 persen. Dana di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga kecil. Selain itu, karena keterbatasan teknologi dan sumber daya manusia (SDM).

“Jadi, itu penyebabnya. Kalau kami hitung baru 20 persen tingkat pemanfaatannya,” ujarnya.

 Visi Maritim Jokowi 

Dalam pidato perdananya usai dilantik menjadi presiden, Joko Widodo (Jokowi) menyatakan akan mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai Negara Maritim.

“Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudra, memunggungi selat dan teluk. Kini saatnya kita mengembalikan semuanya.” Demikian, sebagian kutipan pidato Jokowi.

Sejumlah kalangan menyambut baik tekad dan janji Jokowi tersebut. Rohmin Dahuri misalnya. Menurut dia, komitmen Jokowi tersebut merupakan sesuatu yang dahsyat. Sebab, selama ini pembangunan Indonesia lebih fokus ke darat. Padahal 3/4 wilayah Indonesia adalah laut.

Rohmin mengatakan, Jokowi berusaha menghidupkan kembali Tri Sakti-nya Soekarno. Menurut dia, Soekarno pernah memperkuat maritim.

Namun, pada masa Orde Baru tak ada kementerian kelautan. Visi kelautan kembali bangkit era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan berdirinya kementerian kelautan dan berlanjut hingga era Presiden Megawati Soekarnoputri.

Sayangnya, di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kementerian kelautan direduksi lagi. Menurut dia, hal itu berimplikasi pada kebijakan publik.

SNI berharap semangat Jokowi menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia bukan hanya semangat atas petunjuk pengusaha. Poros maritim hanya dijadikan pencitraan dan menguntungkan pengusaha semata.

Sebab, sepanjang garis pantai dari Sabang sampai Merauke ada keluarga nelayan yang menggantungkan hidupnya pada usaha pesisir dan lautan.

Untuk itu, Jokowi harus mendorong nelayan pantai menjadi nelayan lepas pantai. sehingga dapat mencegah pencurian ikan oleh kapal asing. Selain itu, harus ada alih teknologi kepada para nelayan guna meningkatkan sumber daya manusia.

Dari sisi permodalan, nelayan juga harus dikuatkan. Perbaikan infrastruktur atau penambahan pelelangan ikan, SPBN, dan kuota BBM untuk nelayan juga harus ditambah. Selain itu, harus ada perlindungan di wilayah laut Indonesia termasuk mengakui zonasi wilayah tangkap nelayan.

Pakar hukum laut internasional, Hashim Djalal, menambahkan, luas laut di Tanah Air saat ini belum sebanding dengan pengamanannya. Hashim pernah menghitung kebutuhan untuk pengamanan wilayah laut itu.

“Butuh sekian ratus kapal dan sekian ratus prajurit, misalnya. Tapi, kan kita tidak punya sebanyak itu. Menurut saya, ini yang penting diperhatikan,” ujarnya.

Dari dulu sampai sekarang, dia selalu mengingatkan tentang kemampuan untuk memanfaatkan, mempertahankan, dan mengembangkan potensi kelautan yang ada. Tujuan akhirnya adalah pengembangan ekonomi kawasan maritim dapat mendorong perekonomian nasional.

Matahari semakin menyengat. Muhamad Saleh beranjak pulang ke rumahnya yang berjarak sekitar 7 meter dari bibir pantai. Rumah yang tak seberapa besar dengan dinding yang sudah mulai retak serta sisa cat yang tak jelas lagi warnanya. Sementara itu, di depan rumah tampak tumpukan keranjang dan seperangkat alat untuk menjemur ikan.

Bagi Saleh, siapa pun presidennya, ia tetap harus bekerja seperti biasa. Presiden datang dan pergi. Namun, mereka tetap menggantungkan hidupnya di laut. Ia tak berharap uang dari pemerintah, namun alat untuk bekerja.

"Jangan berikan kami sumbangan berupa uang, tapi lebih baik barang atau fasilitas pelayaran berupa perahu, mesin, jala, dan BBM bersubsidi," ujarnya.(art)
Jaga Laut RI Pakai Apa?Pesawat Terbang Tanpa AwakMeski teknologi pemantauan menggunakan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) ini cukup bagus namun jarak terbangnya masih terbatas. (Foto: VIVAnews/Muhamad Solihin)

 Teknologi maritim masih minim, sumber daya pun pas-pasan. 

"Jalesveva Jayamahe...di laut justru kita jaya." Semua hadirin di ruang sidang paripurna MPR bertepuk tangan ketika Presiden Joko Widodo bertekad mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai kekuatan maritim.

Saat itu Jokowi menyampaikan pidato pertama beberapa saat setelah dilantik menjadi presiden baru Republik Indonesia, 20 Oktober 2014. Sebagai negara pemilik belasan ribu pulau, ironis sekali melihat pemerintah sekian puluh tahun tidak sungguh-sungguh menggarap potensi negeri ini sebagai kekuatan maritim.

Tidak mudah mewujudkan ambisi Jokowi. Teknologi di negeri ini masih sangat minim dan riset kelautan masih bisa dihitung dengan jari akibat kurang seriusnya perhatian pemerintah.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang juga baru saja dilantik, Iskandar Zulkarnain, menyatakan seharusnya porsi perhatian negara terhadap kelautan sudah ada sejak dulu. Komitmen Jokowi sulit untuk dilakukan jika riset dan teknologi dianggap tidak penting. Dalam beberapa tahun kemarin saja, dana yang digelontorkan untuk penelitian kelautan tergolong sangat terbatas.

"Penelitian di darat itu lebih mudah daripada di laut, kita berhadapan bukan hanya persoalan dengan perilaku alam, tapi juga kondisi tak berdaya seperti badai," ungkap Iskandar.

Oleh karena itu, lanjut dia, dibutuhkan kapal riset di setiap wilayah. Saat ini kapal riset yang dimiliki Indonesia tak sebanding dengan luas lautan yang ada.

Idealnya, kata Iskandar, dibutuhkan tiga hingga empat kapal riset per wilayah, baik Barat, Tengah, maupun Timur karena karakteristik kelautan yang berbeda-beda. Meski sekarang beberapa lembaga memiliki kapal sendiri, tidak semua diperuntukkan bagi riset.

Selain itu, kebanyakan kapal riset yang dimiliki berusia 16 tahun, tergolong tua. Idealnya, usia kapal riset maksimal 10-12 tahun.

"BPPT punya Baruna Jaya 1,2,3, LIPI punya Baruna Jaya 7,8. (Kementerian) ESDM punya Geomarin 2 buah, KKP ada beberapa, saya kurang tahu pasti. Sayangnya, tidak semua merupakan kapal riset murni, mereka punya tugas dan fungsi masing-masing," ungkap Iskandar.

Hal ini diamini oleh Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam, Ridwan Djamaluddin. BPPT pada tahun 2010 juga memiliki Kapal Riset Baruna II yang sudah dipasangi perangkat seismik, yang kemudian menjadi kapal survei seismik pertama nasional yang memiliki kemampuan eksplorasi migas.

Walaupun bukan sebagai kapal yang paling canggih, tapi sudah bisa eksplorasi migas. Sayangnya, secara nasional kapal ini tidak dijadikan sebagai sebuah aset yang harus dimaksimalkan.

“Jadi ada tiga yang harus diperbaiki, yaitu pemanfaatan teknologi, menghilangkan kesenjangan antara litbang dan pemanfaatan, serta sumber daya manusia yang harus diperbaiki,” kata Ridwan.

Teknologi yang dimiliki oleh armada kapal riset Baruna Jaya tidaklah ketinggalan. Dengan upgrading Multi-beam EM 122 D di Baruna Jaya III, serta instalasi Multi-beam baru Elac SEABEAM 1050 D di Baruna Jaya IV mampu melakukan penjejakan atau pemetaan 3-D (3 Dimensi) secara terinci terhadap dasar laut dan obyek-obyek di laut dari kedalaman 4.5 m sampai ribuan meter.

Menurut dia, selain kapal riset, Indonesia juga membutuhkan kapal pengawas, baik di laut maupun di udara. Tidak heran jika dia menyarankan untuk memperkuat angkatan laut Indonesia, baik dengan memodernisasi kapal, menambah jumlahnya, sampai meningkatkan kemampuan personil dalam memanfaatkan teknologi kelautan.

“Dalam konteks yuridiksi, saya kira Indonesia harus memperkuat angkatan laut. Karena, wilayah laut Indonesia yang sangat luas dan tidak mudah dijangkau, memerlukan teknologi pemantauan dan pengamanan yang handal. Saat ini, saya kira Indonesia belum sampai tahap maksimal sehingga perlu banyak dukungan pengamanan dan keselamatan laut yang kuat,” kata Ridwan.

 Teknologi Pemantau 

Untuk urusan perlengkapan teknologi kelautan yang dimiliki, BPPT, LIPI dan LAPAN telah memiliki banyak fasilitas yang bisa dimanfaatkan. Misalnya drone, satelit, radar, kapal selam, sampai aplikasi pelacak posisi ikan atau sumber alam kelautan lain. Sayangnya, ada beberapa fasilitas yang memiliki fungsi terbatas.

Misalnya, kata Ridwan, adalah drone atau Pesawat Udara Nir Awak (PUNA). Meski teknologi pemantauan menggunakan PUNA ini cukup bagus namun jarak terbangnya masih terbatas, bahkan untuk menerbangkannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, lanjut Ridwan, penggunaan PUNA atau pesawat patroli bisa dibarengi dengan pemanfaatan satelit.

“Satelit akan menjadi pelengkap untuk melakukan pemantauan laut Indonesia yang sedemikian luas. Satelit ini secara berkala yang memantau wilayah perairan dan memberikan informasi yang dibutuhkan.

Jika suatu ketika ada kegiatan mencurigakan di atas laut kita, kapal patroli atau PUNA bisa dikirim untuk memeriksa. Satelit juga bisa memantau ilegal fishing. Dan untuk urusan ilegal fishing ini, harus diperkuat implementasi penegakan hukumnya,” ujar Ridwan.

Untuk PUNA, Lapan telah mengembangkan 5 jenis LSU 01,02,03,04, dan 05 dengan jarak terbang bervariasi, mulai dari 100 sampai 500 kilometer dan beberapa jam durasi terbang. Sedangkan BPPT mengembangkan juga PUNA Wulung bekerja sama dengan TNI AU.

Sedangkan perangkat pemantau lain, Indonesia juga memiliki radar, namun dengan jumlah yang masih minim. Menurut Ridwan, wahana yang digunakan untuk pemantauan bukan hanya yang berada di permukaan laut, tapi dalam konteks pengamanan wilayah dari penyusup asing, kita juga harus melihatnya dari dalam permukaan laut.

“BPPT mengembangkan Akustiktomografi, teknologi radar yang bisa dipasang di selat-selat Indonesia untuk melakukan pemantauan di bawah permukaan air.

Teknologi ini tidak hanya memantau kapal-kapal yang ada di atas permukaan laut, tapi juga kapal-kapal selam. Cara kerjanya mengirim sinyal dari suatu sumber dan diterima oleh sumber lain.

Ada peralatan yang bertugas mengirim sinyal dan ada peralatan yang menerima sinyal. Sinyal-sinyal ini yang kemudian akan terdeteksi dan menampilkan obyek-obyek yang ada di bawah air,” papar Ridwan.

Sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS) juga telah menjadi perhatian penting BPPT dalam beberapa tahun terakhir. Dengan dukungan empat kapal riset Baruna Jaya milik BPPT, selama ini sudah terlaksana pemasangan buoy Tsunami di 9 lokasi perairan laut Indonesia yang berpotensi terjadi gelombang tsunami.

Sayangnya, tidak ada fasilitas pemantau untuk melindungi perangkat ini dari vandalisme yang mengakibatkan tidak berfungsinya early warning system. Tantangan ke depan untuk buoy tsunami Indonesia adalah optimalisasi efektivitas deteksi dan konfirmasi tsunami lokal/jarak dekat (near field tsunami)
Bantu Nelayan 

Selain pemantauan kedaulatan laut di Indonesia, penting juga mengeksplorasi keindahan dalam laut Indonesia. Dalam hal ini, Ridwan menjelaskan, jika BPPT telah melakukan penelitian sejak 2006 untuk membuat terowongan layang bawah air (submerge floating tunnel/SFT) untuk memberikan sensasi wisata maritim.

Dari sekian banyak tempat di Indonesia yang memenuhi prasyarat, Pulau Panggang dan Pulau Karya yang terletak di wilayah Kepulauan Seribu yang paling cocok untuk dijadikan tempat perdana pemasangan SFT. Sayangnya, belum ada keseriusan dari pemerintah untuk merealisasikan proyek ini, termasuk keseriusan pemerintah daerah.

BPPT dan Lapan, keduanya menunjukkan pentingnya pemanfaatan sumber daya alam dengan membantu nelayan mendapat lebih banyak hasil tangkapan, termasuk menghentikan aksi ilegal fishing.

BPPT memiliki Sistem Informasi Knowledge-Based Fishing Ground (SIKBES-FG) merupakan aplikasi database estimasi hasil tangkapan ikan. Aplikasi ini disusun dengan menggunakan pendekatan Knowledge-Based Expert Systems (KB-ES) yang diintegrasikan dengan sistem berbasis spasial (Sistem Informasi Geografis/GIS) untuk menentukan dan mengestimasi lokasi penangkapan ikan (fishing ground), khususnya ikan pelagis ekonomis.

BPPT sudah mengembangkan sebuah teknologi yang dapat membantu nelayan untuk mengetahui posisi ikan. Upaya itu BPPT lakukan untuk meningkatkan efisiensi sumber daya yang dikerahkan oleh para nelayan.

Jadi, teknologi ini bisa menyediakan informasi berdasarkan karakteristik laut. Misalkan, potensi lokasi sumber makanan ikan berupa klorofil di wilayah tertentu.

Dengan teknologi ini kita bisa menginformasikan kepada nelayan bahwa hari ini dan beberapa hari kemudian di daerah ini berpotensi banyak ikannya. Jadi, para nelayan bisa langsung menuju ke posisi yang ikannya banyak tanpa harus mencari-cari tanpa hasil.

Sedangkan di LAPAN, teknologi yang dimiliki masuk ke dalam keantariksaan yang terbagi menjadi 3, yaitu komunikasi, pemantauan dan navigasi. Kemudian, pemantauan satelit, aspek fisika dan biologi laut, suhu, kandungan klorofil dari ikan, bisa juga mengambil informasi terkait potensi tangkapan ikan dengan satelit, jadi tidak hanya sekedar mengarahkan.

Lapan menyebutnya zona potensi penangkapan ikan (ZPPI). Lapan memberikan ke nelayan terakit laporan pencarian ikan di wilayah itu, jadi produktifitasnya bisa ditingkatkan lagi.

Sekarang yang dikembangkan adalah teknologi antariksa dan aeronautika, untuk pengamanan laut. Selama ini kasus pencurian ikan dan kekayaan laut RI oleh pihak asing sulit terkontrol.

"Kapal laut tidak bisa menjelajahi wilayah indonesia dan itu bisa dibantu teknologi antariksa dan teknologi aeronotika, bisa dengan satelit tapi bisa dibantu dengan teknologi aeronautika pesawat yang mahal sekali tapi kalau pesawat kecil tanpa awak itu bisa, yang bisa diinformasikan kepada angkatan laut mengenai penangkapan ikan ilegal,” ungkap Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin.

Ditambahkan Iskandar, fenomena yang terjadi sekarang, adalah peningkatan asam yang memicu kerusakan pada terumbu karang. Selama ini terumbu karang menjadi ekosistem bagi ikan.

Jika rusak maka ikan pergi ke lokasi lain yang terumbunya masih bagus. “Nelayan yang biasa mendapat ikan hanya dengan lokasi berapa mil, sekarang semakin jauh,” kata Iskandar.

 Pengetahuan Minim 

Indonesia, lanjut Iskandar, dipandang terlambat untuk menyadari rencana menjadikan negara ini sebagai poros maritim. Seharusnya sejak dulu sudah berkumandang karena nenek moyang Indonesia adalah seorang pelaut.

“Kita sangat sedikit pengetahuan akan laut, jadi agak lalai. Makanya orang mencuri begitu saja karena kita tidak terlalu memperhatikannya,” ujar dia.

Thomas dan Ridwan sepakat jika yang dibutuhkan Indonesia adalah modernisasi atau peningkatan alutsista serta teknologi pendukungnya. Namun LAPAN lebih mengutamakan teknologi alutsista khusus keantariksaan.

“Untuk tahap pertama, potensi sumber daya alam, pemantauan dan lainnya, kalau menggunakan teknologi konvesional dari kapal-kapal itu, memerlukan jumlah yang sangat banyak.

Menurut saya, pemantauan antariksa menjadi alternatif awal untuk bisa diperkuat dulu. Dengan teknologi antariksa ini pemantauannya bisa dilakukan secara sistematik, integratif, dan relatif murah.

Dari sana bisa menentukan skala prioritas, mana yang mau dikembangkan, atau wilayah mana yang berpotensi dikembangkan,” kata Thomas.(ren)

  ★ VIVAnews  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More