Senin, 19 Januari 2015

Mengenang Garuda GA421 Mendarat di Sungai Bengawan Solo [II]

Pilot Abdul Rozaq Mengenang Pramugari yang Mangkat Saat GA421 Mendarathttp://images.detik.com/customthumb/2015/01/19/10/115844_abdulrozaq2.jpg?w=460Pilot Abdul Rozaq (Foto: Nograhany WK/detikcom)

Kapten pilot Abdul Rozaq menghitung jumlah penumpang dan kru setelah pesawat Boeing 737-300 Garuda Indonesia GA421 mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo, 16 Januari 2002. Ternyata ada 1 pramugari yang hilang, Santi Anggraeni. Tak ada firasat sebelumnya, selain Santi sempat menyinggung tentang pulang kampung.

Pada 15 Januari 2002, sebelum pesawat berangkat dengan rute Jakarta-Yogyakarta-Surabaya-Mataram, pilot Abdul Rozaq sempat berbincang-bincang dengan pramugari Santi.

"Tidak sedikitpun ada firasat apa-apa. Almarhumah Santi Anggraeni sempat mengatakan, pulang dari Mataram ingin pulang kampung. Kampungnya itu di Yogyakarta kalau tidak salah. Ternyata, benar-benar 'pulang kampung', tidak ada firasat. Ternyata 'pulang kampung' beneran," kenang pilot Rozaq saat ditemui di rumahnya, Komplek Garuda, Cipondoh, Tangerang, Jumat (16/12015), tepat 13 tahun pendaratan darurat GA421 di Sungai Bengawan Solo.

Tak disangka, ucapan Santi bak firasat setelah pendaratan darurat GA421 terjadi pada keesokan harinya, 16 Januari 2002. Santi yang duduk di bagian belakang pesawat terhisap keluar dan terlempar jauh.

"Dia duduk di belakang. Begitu tail atau ekor pesawat menyentuh batu besar, itu ternyata adalah tempat duduk 2 pramugari. Karena ada bagian pesawat yang terbuka karena menyentuh batu besar itu, mereka tersedot keluar. Satu terlempar jauh, satunya terlempar tidak jauh. Yang terlempar jauh, tidak tertolong," kenang Rozaq.

Bagian ekor pesawat yang terantuk batu membuat lubang terbuka di bagian bawah pesawat, yang efeknya seperti balon yang pecah. Perbedaan tekanan di dalam kabin bertekanan tinggi dan di luar kabin bisa menimbulkan efek penyedotan seperti alat vaccum yang dahsyat. Tak ayal, seragam Santi saat ditemukan sudah terlucuti semua.

"Yang saya tidak habis pikir, 2 pramugari terlempar keluar. Yang selamat itu stocking dan dalamannya terlepas kena pressure itu. Yang terlempar jauh itu uniform-nya (baju seragam) hilang semua. Ternyata setelah terlempar dari luar pesawat yang pecah seperti balon, uniform-nya terlucuti semua. Pada saat malam, ada kabar bahwa ada orang tidak berseragam ditemukan, dipertanyakan, apakah ini pramugari atau penumpang. Karena sama sekali tak ada tanda untuk mengidentifikasi," tuturnya.

"Jadi perbedaan pressure itu, di kabin dan di dalam, menyebabkan uniform pramugari terbuka semua. Tapi saya tidak tahu dia terlempar berapa jauh, juga karena sudah kebawa arus," imbuhnya.

Pramugari Santi Anggraeni, menjadi satu-satunya korban tewas dalam kecelakaan ini dari 54 penumpang, 4 pramugara-pramugari serta pilot dan kopilot. Saat mangkat dalam tugas, usianya 25 tahun dan hendak berencana melangsungkan pernikahan.

"Kapan pun, dimana pun kalau sudah waktunya meninggal sudah tak bisa mengelak lagi. Sedikitpun tidak akan mundur," kata pilot Rozaq mengenang hikmah di balik peristiwa ini.

Setelah pendaratan darurat di Sungai Bengawan Solo itu, pilot Rozaq juga harus berjuang melawan diri sendiri untuk menaklukkan trauma menerbangkan pesawat.(nwk/try)
Tim SAR yang Evakuasi GA421: Bodi Atas Utuh, Bawah Berantakanhttp://images.detik.com/albums/detiknews/garuda421/AbdulRozaq-Jembatan-2.jpgGA421 di Sungai Bengawan Solo (Foto: KNKT)

Ari Kristyono adalah salah satu orang yang datang cukup awal saat terjadi pendaratan darurat Garuda Indonesoa di Bengawan Solo, 16 Januari 2002. Saat itu Ari adalah adalah anggota SAR Universitas Sebelas Maret Solo (UNS). Saat itu SAR UNS termasuk yang dikontak langsung oleh pihak Garuda dan Basarnas untuk membantu.

Dia tiba di lokasi menjelang petang. Sejumlah pejabat militer dan kepolisian sudah berada di lokasi. Proses rescue belum dimulai. Pesawat terlihat menghadap ke selatan dengan moncong ke barat daya. Dugaan Arie, sayap pesawat kanan membentur bebatuan cadas di tepi sungai sehingga menghentikan laju pesawat dan membelokkan arahnya ke barat daya.

"Mungkin kalau tidak ada rintangan itu, pesawat masuk ke palung sungai cukup dalam di depannya. Atau kalau bisa melewati palung, sayap akan membentur pilar jembatan yang hanya beberapa puluh meter di depannya," kenang Ari, Senin (19/1/2015).

Pihak Garuda, kata Ari, segera memutuskan untuk menambat pesawat dengan tali. Namun pada tengah malam tali itu putus seiring dengan derasnya arus sungai di musim penghujan saat itu. Posisi pesawat agak bergeser. Pagi harinya Ari dan kawan-kawan segera mencari tali sling baru untuk kembali menambat pesawat naas itu.

Ari dan kawan-kawan terlibat melakukan evakuasi hingga akhir. Operasi SAR memang hanya fokus pada pesawat, peralatan vital pesawat, dan barang-barang berharga milik penumpang. Hal itu dikarenakan dalam kecelakaan 'hanya' menelan satu korban jiwa, yaitu salah satu pramugari pesawat. Seluruh penumpang selamat dan telah dievakuasi ke Solo sebelum tim SAR datang.

"Kami turun ke bawah. Memang bodi pesawat bagian atas terlihat utuh. Namun sebenarnya bagian bawah berantakan juga. Peralatan bagian bawah tercecer hingga sekitar 300 - 400 meter dari lokasi berhentinya pesawat. Bahkan kotak hitam juga terlepas dan ditemukan di dasar sungai berlumpur dengan proses pencarian cukup melelahkan dan sulit," lanjutnya.

Seingat Ari, ada empat benda yang saat itu sangat dicari. Kepada personel SAR UNS yang saat itu ikut mencari, Basarnas selalu menekankan prioritas pencarian pada empat benda tersebut yaitu kotak hitam, gear box yang berfungsi untuk mengatur distribusi bahan bakar, aki pesawat dan kursi yang diduduki oleh pramugari yang meninggal. Keempat benda itu akan dijadikan bahan pengkajian bagi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

"Semua ketemu, kecuali kursi pramugari. Kotak hitam ditemukan oleh pasukan dari Kopaska sekitar 3-4 hari setelah kecelakaan. Yang paling akhir ketemu adalah aki pesawat. Aki ditemukan masih menempel ketika sayap pesawat diangkat. Semua roda juga ditemukan. Kami menemukan dua roda belang yang telah terlepas jauh dari badan pesawat. Satu roda ditemukan tim lain," ujarnya.

Pencarian kotak hitam, menurut Ari, sangat rumit. Kotak hitam dipastikan terlepas ketika pesawat mendarat di tengah sungai. Semua alat yang mendeteksi sinyal telah diturunkan namun tetap tidak ada tanda-tanda sinyal kotak hitam.

Akhirnya, pencarian dilakukan secara manual. Caranya, dilakukan 'penyapuan' dasar sungai. Kopaska menyapu daerah sekitar ceceran onderdil pesawat. Dipasang tali-tali di dasar sungai. Daerah yang sudah 'disapu' diberi tanda khusus, sedangkan daerah yang sedang 'disapu' diberi bidang kotak dengan batas tali. Begitu terus selanjutnya.

"Akhirnya berhasil ditemukan di dalam lumpur sungai. Setelah semua peralatan vital ditemukan dan dibawa ke Jakarta, selanjutnya proses evakuasi dilanjutkan dengan memotong-motong badan pesawat untuk diangkat dari sungai," kata dia.(mbr/nwk)
Sigapnya Warga Desa Serenan dan Rumah yang Berjasa dalam Evakuasi GA421http://images.detik.com/customthumb/2015/01/19/10/124924_pilotabdulrozaqmuchus.jpg?w=460Rumah kosong tempat evakuasi penumpang. Gambar kiri diambil tahun 2002 (Foto via Pilot Abdul Rozaq) dan gambar kanan diambil hari ini (Foto: Muchus Budi R/detikcom)

Kecelakaan pesawat Garuda di Bengawan Solo menyisakan cerita dan kenangan mendalam, khususnya bagi warga RT 9 RW 4, Desa Serenan, Juwiring, Klaten. Mereka adalah orang yang pertama kali datang dan membantu para penumpang pesawat yang jatuh di sungai, timur rumah mereka.

Umar, saat itu adalah ketua RW setempat. Rumah miliknya paling dekat dengan lokasi, hanya sekitar 100 meter dari bibir sungai. Rumah dua lantai itu memang hanya digunakannya untuk gudang mebel sebelum dipasarkan. Lokasi jatuhnya pesawat memang merupakan kawasan sentra industri mebel dan kerajinan kayu.

"Kami segera datang ke lokasi setelah melihat pesawat jatuh. Kami segera memberikan pertolongan. Seluruh penumpang kami bawa ke pinggir sungai. Setelah dikumpulkan di rumah gudang milik saya ini. Selanjutnya semua dikirim ke Solo untuk mendapatkan perawatan, karena sebagian besar mengalami luka meskipun luka ringan," ujarnya.
http://images.detik.com/albums/detiknews/garuda421/GA421-Lokasi-AbdulRozaq-Muchus.jpgFoto atas diambil tahun 2002 (Foto: via Pilot Abdul Rozaq)

Umar juga memaparkan semua penumpang saat itu masih berada di dalam pesawat. Sedangkan seorang pramugari terpental dari pesawat dalam kondisi luka, terseret arus sungai. Pramugari tersebut berhasil ditolong dan selanjutnya dibawa ke rumah Umar dan dibawa ke Solo untuk dirawat.

Sedangkan seorang pramugari lainnya, ditemukan sekitar 1,5 km dari lokasi jatuh pesawat sudah dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Pramugari yang belakangan diketahui bernama Santi Anggraeni itu ditemukan oleh seorang pemancing di Desa Sidowarno pada Rabu (16/1/2002) sore.

"Pramugari itu ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dan hanya mengenakan pakaian dalam. Mungkin seluruh pakaiannya terlepas saat tersedot keluar an terlempar dari badan pesawat," ujar Umar.

Rumah Umar itu masih berjasa untuk tahapan operasi selanjutnya. Tim SAR dan para penyelam Kopaska menggunakan rumah tersebut sebagai posko hingga operasi selesai.

Kini rumah tersebut tidak hanya digunakan sebagai gudang, namun juga digunakan untuk produksi mebel oleh Umar.
http://images.detik.com/albums/detiknews/garuda421/GA-421-BalaiDesa-2-Muchus.jpg(Foto: Muchus Budi R/detikcom)

Pihak Garuda juga tidak begitu saja melupakan budi baik warga sekitar atas kejadian kecelakaan yang menimpa pesawatnya. Di desa itu, Garuda juga melakukan pengerasan jalan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat.

Garuda membangunkan sebuah gedung serba-guna untuk warga, dan membangun sebuah fasilitas reservoir untuk pengadaan air bersih bagi warga.(mbr/nwk)
Perjuangan Pilot Abdul Rozaq Melawan Trauma Menerbangkan Pesawat http://images.detik.com/customthumb/2015/01/19/10/132237_abdulrozaq2.jpg?w=460Pilot Abdul Rozaq kala ditemui di rumahnya (Foto: Nograhany WK/detikcom)

Trauma menerbangkan pesawat. Itu yang dirasakan kapten pilot Abdul Rozaq setelah berhasil melakukan pendaratan darurat pesawat Garuda Indonesia GA412 pada 16 Januari 2002. Kebanyakan orang yang trauma naik pesawat bisa beralih moda transportasi. Namun, sebagai seorang pilot, tentulah Abdul Rozaq tak bisa 'lari' begitu saja. Sebagai manusia biasa, bagaimana pergulatan pilot Rozaq melawan hambatan psikologisnya itu?

"Setelah selesai peristiwa itu, saya disidang KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi). Saya di-grounded, tidak boleh terbang 6 bulan," tutur pilot Rozaq berkisah pada detikcom di rumahnya, Komplek Garuda, Cipondoh, Tangerang, Jumat (16/1/2015) lalu.

Hari-hari selama 6 bulan itu, sempat membuat lulusan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug tahun 1979 itu berpikir untuk mengundurkan diri dan pindah profesi. Namun karena berbagai pertimbangan yang matang, maka niat itu diurungkan.

"Saya sempat berpikiran ingin berhenti sebenarnya. Cari karir yang lain. Tapi ya sudahlah dijalani saja," jelasnya.

Pihak Garuda menyediakan psikolog untuk mengawasi ketat perkembangan psikologis pilot Rozaq. Dia juga harus menjalani tes kecemasan.

"Tes pertama, diketahui saya masih trauma, tingkat stresnya masih tinggi. Tes kedua masih (trauma). Barulah di tes ketiga dan keempat, baru dirilis. 6 bulan itu saya ditraining kembali, harus masuk ke kelas, masuk simulator. Harus dijalani," imbuhnya.

Saat masuk simulator pertama kali, instruktur mengkondisikan kasus dalam simulator itu persis seperti pendararan darurat yang dialaminya 6 bulan sebelumnya. Kasus simulatornya adalah kedua mesin pesawat mati.

"Kasusnya sama persis seperti kasus saya 6 bulan lalu. Mesin-mesin dimatikan semua. Saya sangat..sangat takut. Kejadian di simulator itu seperti kasus saya," kata Rozaq.

Setelah menjalani pelatihan terbang, masuk simulator akhirnya Rozaq diizinkan untuk menerbangkan pesawat kembali. Namun, dia tidak langsung menjadi Pilot in Command (PIC) melainkan mesti diawasi instruktur dulu untuk beberapa saat.
http://images.detik.com/albums/detiknews/garuda421/AbdulRozaq-Anak-5.jpgPilot Abdul Rozaq (kiri) sedang terbang bersama putra ketiganya yang mengikuti jejaknya, Trian (kanan). (Foto: Pilot Abdul Rozaq)

"Masih diawasi instruktur, dilihat sudah bisa atau belum. Pertama kali terbang, tangan saya gemetaran. Kedua kali sudah mulai normal kembali, sampai 3-4 kali landing (pendaratan). Pertama gemetaran, kedua ketiga kali sudah mulai normal kembali," tuturnya kalem.

Namun, selain sisi teknis profesional yang harus dilatih, pendaratan darurat di Sungai Bengawan Solo menimbulkan dampak yang besar dari sisi spiritual Rozaq. Rozaq bergabung dengan Emotional Spiritual Quotient (ESQ) Ary Ginanjar.

"Ada salah satu materinya, ada rumusnya satu dibanding nol sama dengan tidak terhingga. Rumus itu menunjukkan bagaimana kepasrahan, kemudian melakukan usaha semaksimal mungkin, hasilnya tidak perlu kita tahu. Berusaha semaksimal mungkin, hanya Tuhan yang menentukan," tutur Rozaq memetik hikmah kejadian yang nyaris merenggut nyawanya itu.

Dari detik-detik menegangkan menjelang pendaratan darurat karena mesin pesawat mati, Rozaq juga menyampaikan peranan doa dan menggantungkan harapan pada Tuhan sangatlah penting. Di saat semua mesin pesawat mati, ilmu-ilmu yang diketahuinya tentang penerbangan serasa tidak berarti.

"Berusaha semaksimal mungkin, berdoa, Tuhan mendengar dan kemudian diputuskan (hasil akhirnya). Saat itu semua ilmu IQ, ilmu apapun tidak ada lagi, kita pasrah saja," pesan Rozaq.

"Kapan pun, dimana pun, kalau sudah waktunya meninggal, sudah tak bisa mengelak lagi. Sedikitpun tidak akan mundur. Pasrah saja untuk mengurangi stres sendiri. Kalau berpikir itu terus (trauma pendaratan darurat GA421), nanti tidak maju-maju," nasihatnya.

Bahkan, Rozaq dan para penumpang GA421 saling membagi pengalaman spiritual itu, yang sebagiannya masih berhubungan baik hingga sekarang, setelah 13 tahun peristiwa itu berlalu.(nwk/try)

  ★ detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More