Minggu, 07 Desember 2014

Path Mengaku Banyak Terinspirasi dari Indonesia

Jejaring sosial Path menambahkan jumlah jaringan pertemanan menjadi 500 orang karena permintaan pengguna asal Indonesia. (CNN Indonesia/Herman Setiyadi)

Pendiri sekaligus CEO Path, Dave Morin, mengatakan bahwa pengembangan layanan Path banyak terinspirasi dari pengguna asal Indonesia. Yang paling terlihat adalah penambahan cakupan jumlah teman.

Sejak pertama kali diluncurkan, Path hanya memungkinkan satu akun terkoneksi dengan 150 teman. Kala itu, Morin menganggap bahwa 150 orang adalah jumlah ideal untuk sebuah jejaring pertemanan.

Kemudian sekitar Mei 2014, Path memutuskan untuk menambah jumlah pertemanan menjadi 500. "Hal itu memang menjadi permintaan utama dari masyarakat Indonesia," ucap Morin sembari tertawa.

Dalam sebuah diskusi terbuka di Jakarta, Sabtu (6/12), Morin juga mengungkapkan bahwa orang Indonesia punya semangat untuk mau menciptakan perubahan. Di masa depan, Path berencana melibatkan pemrogram dari Indonesia untuk membuat stiker digital.

"Menurut saya, orang Indonesia tidak takut untuk memulai usaha baru. Tidak seperti di AS yang sepertinya butuh banyak waktu untuk tidak meragukan diri sendiri," kata Morin, yang datang ke Jakarta untuk ketiga kalinya.

Hal itu diucap Morin karena Indonesia merupakan pasar penting untuk mereka. Di Indonesia, Path memiliki sekitar 4 juta pengguna. Sebanyak 80 persen di antaranya disebut Morin adalah pengguna aktif.

Tak heran jika mereka punya rencana membuka kantor di Indonesia pada awal 2015 dan saat ini sedang berupaya mencari seorang yang duduk di posisi country manager.

Path juga sempat mendapat investasi dari Bakrie Global Group asal Indonesia dalam pendanaan Seri C pada Januari 2014. Selain Bakrie Global Group, sejumlah investor juga terlibat dalam pendanaan tersebut, antara lain Greylock, Kleiner Perkins, Index Ventures, Insight Venture Partners, Redpoint Venture Partners, dan First Round Capital. Mereka memberi total pendanaan senilai US$ 25 juta atau sekitar Rp 304 miliar.

Perusahaan yang didirikan di San Francisco, California, AS, tersebut berusaha mendapatkan uang dari layanan dengan menjual akun premium, menjual stiker, dan filter foto.(adt)


  CNN  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More