Rabu, 10 Desember 2014

Astronaut adalah Kebanggaan Nasional

Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. (Dok. Thomas Djamaluddin via Facebook)

"Punya astronaut itu bagaikan simbol kebanggaan negara atau national pride, bukan sebagai kemampuan jelajah belaka," ujar Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, ketika ditanya soal profesi astronaut.

Jika berkaca pada badan antariksa negara lain di negara barat, mereka sudah terbangkan banyak awak astronaut untuk eksplorasi antariksa.

"Badan antariksa Malaysia dan Arab Saudi mampu terbangkan astronaut karena mereka punya anggarannya. Indonesia belum ada," lanjut Thomas di sela Seminar Nasional Penerbangan dan Antariksa 2014, Rabu (10/12).

Menurutnya, perihal jasa astronaut bukan sekedar kemampuan atau keahlian, tetapi memang terpaku pada biaya. Prioritas anggaran yang digunakan saat ini lebih difokuskan untuk kepentingan satelit terlebih dahulu ketimbang memikirkan penerbangan astronaut Indonesia ke ruang angkasa.

"Kalau bermimpi punya anggarannya, terbangkan astronaut bukan soal sulit. Kita tinggal lakukan pelatihan bagi mereka yang berminat menjadi astronaut," katanya.

Untuk saat ini yang bisa dilakukan para peneliti di Lapan adalah bergabung dengan komunitas internasional antariksa atau bekerjasama dengan badan antariksa dari berbagai negara, seperti forum Asia Pacific Regional Space Agency.

Biasanya, Thomas menjelaskan, forum atau pertemuan skala internasional seperti itu membahas tentang eksplorasi antar planet.

Sejauh ini, Lapan mengaku punya rencana membangun fasilitas peluncuran wahana antariksa (space port) yang juga akan mengambil lokasi di Indonesia Timur.

"Mungkin akan memakan waktu lebih dari 25 tahun, tapi setidaknya kita harus mulai bangun dari sekarang," lanjut Thomas.

 Satelit penginderaan 

Agenda besar LAPAN saat ini adalah mengembangkan satelit penginderaan jarak jauh yang diharapkan bisa memantau kondisi Indonesia dan memetakan keadaan maritim. Satelit yang diklaim sebagai satelit besar nasional ini, rencananya akan dikembangkan sebanyak dua unit.

"Anggaran pengembangan satelit ini kasarnya 4,5 triliun. Satu satelit seharga 1,5 triliun, sisa anggaran akan digunakan untuk fasilitas pengembangan, uji coba, integrasi, dan lainnya," ujar Thomas.

Satelit tersebut akan diluncurkan menggunakan bantuan wahana antariksa dari negara lain seperti India, Jepang, dan Tiongkok dalam kurun waktu 5 tahun ke depan.

Selain satelit penginderaan jarak jauh, LAPAN memiliki keinginan untuk luncurkan satelit telekomunikasi dan membangun observatorium nasional di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dinilai memiliki kecerahan terbaik di Tanah Air. Observatorium nasional akan dimanfaatkan sebagai sarana penelitian lingkungan antariksa seperti dinamika atmosfer Bumi.(adt/eno)

  CNN  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More