Sabtu, 20 Desember 2014

Cerita Kapal Pencuri Ikan di Indonesia

Modus Pencuri Ikan Asal Tiongkok imageKapal pencuri ikan Tiongkok (photo: Detik.com)

Ada sekitar tujuh WNI yang menjadi ABK di kapal eks Tiongkok berbendera Indonesia yang ditangkap TNI AL di Ambon. Mereka direkrut dari berbagai wilayah. Ini pengakuan mengejutkan mereka.

Dari tujuh, ada dua yang diwawancarai tim Satgas Pemberantasan Illegal Fishing. Mereka masing-masing bernama Ibson K Rahayan dan Anastasius Mahuze. Keduanya ABK di KM Sino 26, kapal buatan Tiongkok yang tak berdokumen dan ABK-nya didominasi warga Tiongkok.

Ibson bercerita, dia sudah bekerja selama lima bulan di kapal tersebut. Pria asal Merauke itu melaut selama dua bulan dan bisa ‘mencuri’ ikan di laut Indonesia sebanyak 100 ton.

“Sekali melaut per dua bulan dapat 100 ton. Ada layur, bawal, udang juga sering,” kata Ibson di markas Lantamal IX Ambon, Kamis (19/12/2014).

Angka itu tergolong besar. Sementara ikan-ikannya tidak dinikmati oleh bangsa sendiri, namun dikirim ke negara lain. Nilainya bisa mencapai miliaran rupiah hanya dari satu kapal. Yang tertangkap sejauh ini, baru delapan kapal.

Dengan jumlah penangkapan sebanyak itu, lalu berapa pendapatan yang diperoleh oleh Ibson dan kawan-kawan? Ternyata tak banyak-banyak amat.

“Saya digaji bulanan Rp 2.140.000. Pendapatan lainnya paling untuk biaya bongkar, satu ton dibayar Rp 2.500,” kata Ibson.

Mendengar pengakuan tersebut, ketua Satgas Mas Achmad Santosa dan anggota Ida Kusuma Wardaningsih terkejut.

“Jangan lagi ya seperti itu. Itu kan menjarah kekayaan bangsa,” nasihat Mas Achmad Santosa.

“Mending kerja di kapal ikan Indonesia saja nanti ya, kalau urusannya sudah beres,” tambah Ida.

Danlantamal IX Laksma TNI Arusukmono Indra Sucahyo mengatakan, ada modus baru dari para pencuri ikan. Selain menyamarkan bendera, ada juga yang memakai ABK WNI sebagai nakhoda palsu agar terhindar dari hukuman. Untuk diketahui, dalam urusan hukum, lazimnya para nakhoda yang dimintai pertanggungjawaban.

“Nah, ada kasus di mana ABK WNI ini disebut nakhoda. Padahal dia tak bisa membawa kapal, bahkan pas kita amankan dia lagi cuci piring. Jadi ini modus baru,” kata Aruksukmono di ruang kerjanya.

Karena itu, dia berharap para ABK WNI mau membuka siapa nakhoda sebenarnya. Mereka diminta kooperatif agar penyidikan kasus illegal fishing bisa tuntas.
Vietnam Minta Perlindungan Indonesia untuk 1.928 Kapal Nelayan imageKapal Vietnam yang berhasil ditangkap TNI AL Kepri saat mencuri ikan akan ditenggelamkan, Jumat (5/12/2014).

Pemerintah Provinsi Ba Ria-Vung Tau, Vietnam, melalui Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Ho Chi Minh City, memohon izin kepada Pemerintah Indonesia agar 1.928 kapal nelayan dapat berlindung di perairan Indonesia.

Kapal-kapal dengan 13.399 awak kapal itu butuh perlindungan untuk menghindari terpaan badai. "Saya ingin menyampaikan penghargaan ke Kedutaan Besar Vietnam atas good will, atas niat baiknya," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di kantornya, Kamis (18/12/2014).

"Hari ini, kami dapatkan surat dari mereka yang intinya memohon perlindungan untuk 1.928 kapal nelayan Vietnam yang membawa 13.399 awak untuk mereka dapat berlindung dari serangan badai di sekitar Kepulauan Natuna," lanjut Susi.

Menurut Susi, permohonan tersebut menunjukkan iktikad baik Vietnam untuk membuka diri dengan banyaknya kapal mereka yang berkeliaran di Laut China sampai Natuna.

"Jadi, dari situ kita melihat jelas bahwa memang sudah terlalu banyak kapal penangkap ikan asing yang merambah dan menjarah lautan kita," kata Susi.

Susi menyebutkan, permohonan tersebut didasarkan kekhawatiran akan adanya badai topan (thyphoon) Hagupit. Southern Hydrometeorology Station memperkirakan, badai ini memiliki kekuatan berlevel 8-9, dengan kecepatan angin setara 62-88 kilometer per jam.

SHS memperkirakan pula, kekuatan badai bisa meningkat sampai level 11-12 dengan lokasi mata badai sekitar 340 kilometer sebelum timur laut Song Tu Tay Island.

"Hari ini saya betul-betul menyampaikan rasa terima kasih atas good cooperation dari Pemerintah Vietnam yang punya iktikad baik supaya kita tidak ada salah paham. Mereka sadari mereka salah, tetapi karena ada masalah badai, mereka minta perlindungan ke kita," kata Susi.

Meski begitu, Susi menegaskan Pemerintah Indonesia juga memberikan penjelasan bahwa kapal-kapal itu selambat-lambatnya harus meninggalkan wilayah perairan Indonesia dalam satu-dua pekan ke depan.

"Untuk sekarang mereka sembunyi dari badai, it’s okay, tetapi tentu untuk waktu tertentu saja dan mereka harus leaving," kata Susi.
13 Kapal Ikan Asing Terpantau Satelit di Perairan Indonesia imageMenteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Kamis (18/12/2014), mengatakan pantauan satelit Automatic Identification System (AIS) mendapati 13 kapal asing diduga mencari ikan secara ilegal di perairan Indonesia.

“Mereka belum tertangkap. Kami menangkap mereka di satelit, tengah melakukan operasi. Mereka eks Taiwan, eks China. Kalau tertangkap AIS berarti (ukuran kapal) di atas 300 gross ton,” ujar Susi.

Susi sangat berharap, kapal-kapal yang terpantau satelit AIS itu segera bisa ditangkap oleh TNI AL. “Tentu kami mohon Bapak Presiden, segera memerintahkan Panglima dan Kepala Staf AL untuk segera menangkap kapal-kapal tersebut,” ujar dia.

Sebanyak sembilan dari 13 kapal yang tertangkap satelit AIS beroperasi di Laut Arafuru. Ketigabelas kapal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Goang Shing Lih No 6
2. Shin Jyi Chyuu No 36
3. Zhen Yuan Yu 805
4. Zhen Yuan Yu 817
5. Zhen Yuan Yu 805
6. Zhen Yuan Yu 808
7. Zhen Yuan Yu 818
8. Jin Yu Cheng
9. Yi Feng No.682
10. Ju Rong Yu 6
11. Zhen Yuan Yu 809
12. Zhen Yuan Yu 819
13. Fu Yuan Yu 383
Ditelepon Menteri Susi, Jokowi dan Menko Maritim Kejar Kapal Asing Pencuri Ikan imageMenteri Indroyono Soesilo mengaku melihat dan menyaksikan kapal asing mencuri ikan di laut Arafura, Maluku. Ia menyaksikan pencurian ikan dari kapal intai TNI AU.

Saat itu, ia terbang bersama Presiden Jokowi serta didampingi oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Ida Bagus Putu Dunia.

Informasi pencurian ikan tersebut diberikan langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

"Waktu ditelpon Bu Susi. Dia bilang ada pencurian ikan di Laut Arafura. Saya minta bantuan skuadron intai TNI AU. Kita pakai pesawat Boeing 737 TNI. Dari penelusuran itu, ketemu 22 kapal. Itu kapal ikan Tiongkok bendera Indonesia. Sama beliau (Presiden) dilihat saja," kata Indroyono di Kemenhub, Jakarta, Jumat(19/12/2014).

Saat pengintaian memakai pesawat khusus TNI AU tersebut, ia bersama Jokowi tidak menemukan kapal patroli TNI AL. Padahal di sana banyak berkeliaran kapal pencuri ikan.

Alhasil Jokowi hanya mengabadikan hasil tinjauan tersebut. "Sama beliau dilihat saja dan diambil fotonya. Karena di sana kapal patroli TNI AL nggak ada di situ," jelasnya.

Melihat fenomena tersebut, TNI AU mengusulkan ide untuk memodifikasi pesawat jet agar bisa mendarat dan terbang di laut. Tujuannya adalah agar cepat bisa menindak kapal pencuri ikan.

"Diusulkan kembangkan jet amphibi yang bisa mendarat di air. KSAU usulkan 3 biji. Mereka punya pesawat Boeing yang bisa dimodifikasi," jelasnya.

Tidak hanya itu, Presiden Jokowi setuju menambah anggaran BBM untuk patroli TNI AL. Namun presiden mengajukan syarat agar tambahan anggaran sejalan dengan tingkat penindakan terhadap kapal asing pencuri hasil laut di perairan Indonesia.

"TNI AL kebutuhan BBMnya Rp 5 triliun. Beliau setuju untuk kasih bahan bakar Rp 5 triliun. Tapi kata beliau, dia ingin lihat ada hasilnya," sebutnya.

Indroyono pada kesempatan tersebut mendorong wadah coast guard atau Badan Koordinasi Keamanan Laut. Badan ini akan didorong sebagai koordinator lembaga keamanan laut yang membawahi Bea Cukai Kementerian Keuangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP) Kemenhub, Polisi hingga TNI AL.

Secara teknis sistem radar dan kapal patroli akan dikoordinasikan di bawah payung Bakorkamla.

"Coast guard organisasi Bakorkamla. Itu unsur KPLP, Bea Cukai, polisi, KKP. Kriminal di laut polisi, TNI AL jaga kedaulatan NKRI di laut," ujarnya.
Tangkap Kapal Ilegal Tidak Mudah imagePenenggelaman kapal ikan Vietnam di Anambas (Kompas)

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Tedjo Edy Purdjianto mengaku satuan keamanan laut di Indonesia kewalahan mengejar kapal nelayan asing yang mencuri kekayaan laut Indonesia.

“Menangkap kapal ikan itu tidak mudah gitu. Tidak mudah seperti yang dibayangkan,” ujar Tedjo dalam acara Hari Ketahanan Nasional di pelataran Monas, Jakarta, Jumat (19/12/2014).

Tedjo mencontohkan yang terjadi di lapangan. Saking banyaknya kapal nelayan asing, TNI kerap terpaksa melepaskan mereka yang tidak terjangkau. Dari segi jumlah, kata dia, kekuatan TNI kalah dibandingkan nelayan asing.

“Misalnya satu kapal ditangkap. Setelah lagi diperiksa, yang lain melarikan, terpaksa dilepas karena tidak cukup satu kapal mengejar itu,” lanjut Tedjo.

Tedjo menegaskan bahwa perburuan kapal ilegal di perairan Indonesia baru tahap awal. Selanjutnya, pihaknya akan mengerahkan TNI atau satuan keamanan laut yang jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya.

“Dengan begitu, meskipun jaraknya jauh, tetap terkejar oleh kami nantinya,” ujar Tedjo.

Presiden Jokowi sebelumnya menyoroti kesiapan jajaran pemerintah dalam melakukan penegakan hukum terhadap mereka yang mencuri kekayaan di perairan Indonesia. Jokowi menyindir instruksinya untuk menenggelamkan kapal-kapal ilegal baru dilaksanakan setelah tiga kali diingatkan.

“Dua bulan lalu, saya perintahkan langsung, kapal-kapal yang masih berani masuk perairan kita dan melanggar, saya perintahkan saat itu langsung tenggelamkan! Tetapi, perintah itu sampai tiga kali, baru ada yang tenggelam,” sindir Jokowi di hadapan para gubernur dan bupati serta wali kota yang hadir di acara Musrenbangnas 2014 di Jakarta, Kamis (18/12/2014).

Jokowi mengaku heran kenapa perintahnya itu baru dituruti setelah tiga kali dia ingatkan. Padahal, lanjut Jokowi, perintah penenggelaman kapal itu seharusnya dilakukan secepat mungkin.

“Harusnya satu kali sudah cukup, ya,” kata dia.

  detik | Kompas  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More