Jumat, 12 Desember 2014

Mimpi Menristek, Buat Satelit Telekomunikasi Dalam 5 Tahun

Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi (Menristek dan Dikti) Muhammad Nasir punya mimpi agar lembaga riset nasional mampu memproduksi dan meluncurkan satelit sendiri untuk keperluan telekomunikasi dan penginderaan jarak jauh.

Mimpi ini diharapkan terwujud dalam 5 tahun ke depan. Tugas tersebut akan diserahkan kepada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Republik Indonesia.

"Tapi saya bermimpi, LAPAN dalam masa 5 tahun atau 4 tahun ke depan bisa luncurkan sendiri satelit yang punya manfaat penginderaan jarak jauh sekaligus bisa telekomunikasi," kata Nasir saat acara seminar nasional penerbangan dan antariksa 2014 di Menara BPPT, Thamrin, Jakarta, Rabu (10/12/2014).

Untuk merealisasikan rencana tersebut, pihaknya meminta kepada LAPAN untuk mendata kebutuhan dan komponen dana pengembangan dan peluncuran satelit.

Untuk membantu pembiayaan, Kemenristek Dikti melakukan penghematan anggaran. Alokasi penghematan akan dipakai membiayai pengembangan riset strategis seperti satelit.

"Berapa cost yang harus dikeluarkan selama 5 tahun ke depan untuk luncurkan satelit pakai roket yang ada," ujarnya.

Di tempat yang sama, Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan dalam 5 tahun ke depan akan mengembangkan dan meluncurkan satelit untuk penginderaan jarak jauh. Tahun depan, LAPAN berencana meluncurkan satelit mikro, LAPAN A2.

"LAPAN sudah punya kemampuan khusus untuk pengembangan satelit sendiri atau satelit mikro, tahun depan diluncurkan," ujarnya.

Thomas menerangkan pihaknya belum mampu memproduksi dan meluncurkan satelit telekomunikasi dalam 5 tahun ke depan karena kebutuhan dana cukup besar. Untuk mengembangkan satelit dan fasilitas penunjang, diperlukan dana sekitar Rp 4,5 triliun.

"Bahwa tahapan kita harus jelas. Bisa luncurkan dari wahana sendiri. Cita-cita tampaknya yang mungkin 5 tahun ke depan adalah satelit penginderaan jarak jauh kalau telekomunikasi belum," sebutnya.

 Penggunaan Satelit, RI Ungguli Eropa 

Indonesia dinilai sebagai salah satu negara pemakai satelit terbesar di dunia. Bahkan penggunaan satelit Indonesia mengalahkan negara-negara Eropa.

Saat ini, setidaknya perusahaan nasional memiliki 6 satelit milik sendiri. Plus 30 satelit sewa dari perusahaan asing.

"Kita lebih besar gunakan satelit daripada Eropa dan Asia. Kita pemakai satelit terbanyak," kata Ketua Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Dani Indra Widjanarko saat acara seminar Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional di Menara BPPT, Jakarta, Rabu (10/12/2014).

Negara-negara besar seperti India hingga Tiongkok, kata Dani, lebih mengedepankan pengembangan serat optik untuk mendukung jaringan telekomunikasi daripada satelit. Alasannya, negara tersebut merupakan negara daratan bukan negara kepulauan seperti Indonesia sehingga bisa dengan mudah disambungkan oleh jaringan kabel.

Dani menyebut satelit tetap dipakai untuk mendukung layanan telekomunikasi dan siaran televisi di Indonesia. Meskipun ada jaringan kabel serat optik, jaringan satelit bisa menjangkau lebih jauh untuk pulau-pulau dan daerah terpencil.

"Satelit tetap eksis. Meskipun backbone telekomunikasi digantikan fiber optic, tapi dia bisa pindah ke area yang belum terlayani. Dia yang paling ekonomis untuk area yang sedikit pengguna. Kalau trik kabel nggak ekonomis," jelas Dani.

Meski menjadi salah satu pengguna satelit terbanyak, lanjut Dani, industri atau perusahaan Indonesia belum mampu menyediakan satelit buatan lokal. Akibatnya perusahaan Indonesia dan asing yang beroperasi di dalam negeri memilih membeli atau menyewa satelit dari luar negeri.

"Kita penikmat satelit tapi nggak produksi satelit. Ini tantangan," tegasnya.

Dani menyebut pada 2016 setidaknya ada 3 buah satelit milik perusahaan Indonesia diluncurkan. Satelit bernilai triliunan rupiah tersebut dibeli dan diluncurkan di luar negeri. Ia berpandangan besarnya permintaan satelit bisa menjadi peluang bagi industri dirgantara dan antariksa nasional.

"Pada 2016 akan ada tambahan kapasitas satelit. Ada 3 satelit baru diluncurkan. Kita sekarang dilirik manufatur dunia. Sebenarnya industri rekayasa bisa ambil porsi lebih baik untuk pengembangan berikutnya," paparnya.

  ★ detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More