Kamis, 25 Februari 2016

Kemenperin dorong industri otomotif kembangkan mobil listrik

”Masih terbuka peluang untuk pengembangan mobil listrik secara mandiri oleh industri dalam negeri karena teknologinya masih berkembang dan belum ada pemain yang dominan di industri ini” http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/Fotona-Heli-Apache.jpgDirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan memberikan sambutan pada pembukaan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Mobil Listrik di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 24 Februari 2016. (Antaranews/Humas Kementerian Perindustrian)

Kementerian Perindustrian mendorong pelaku industri otomotif nasional mulai mengembangkan mobil listrik, mengingat tren kendaraan masa depan menuju konsep yang hemat energi dan ramah lingkungan.

Demikian disampaikan Dirjen Industri Logam, Mesin, AlatTransportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan dalam sambutannya pada pembukaan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Mobil Listrik di Jakarta, Rabu.

Masih terbuka peluang untuk pengembangan mobil listrik secara mandiri oleh industri dalam negeri karena teknologinya masih berkembang dan belum ada pemain yang dominan di industri ini,” kata Putu melalui siaran pers.

Di samping itu, pengembangan mobil listrik sebagai salah satu komitmen Pemerintah Indonesia dalam upaya menurunkan emisi sebesar 29 persen di bawah business as usual pada tahun 2030.

Hingga saat ini, populasi mobil listrik di dunia sekitar 4 juta unit dan diperkirakan pada tahun 2020 mencapai 10 juta unit.

Menurut Putu, agar industri otomotif dalam negeri dapat terus berdaya saing, pengembangannya harus sinergi dengan tuntutan pasar. “Mobil listrik ini menjadi target market untuk pengembangan industri otomotif kita ke depan. Kalo tidak diantisipasi perkembangan teknologi ini, hanya menjadikan kitasebagai pengguna,” tuturnya.

Ia menyampaikan, teknologi kendaraan hemat energi dan ramah lingkungan mengarah kepada advance diesel/petrol engine, bahan bakar alternatif (biofuel), bahan bakar gas (CNG atau LGV), kendaraan listrik, hybrid, dual fuel (gasoline-gas) dan fuelcell (hydrogen).

 Perlu sinergi kembangkan mobil listrik 


Diperlukan sinergi dukungan berbagai instansi terkait untukmelakukan penelitian dan pengembangan serta penetapan regulasi terkait perkembangan teknologi tersebut.

Demikian disampaikan Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan dalam sambutannya pada pembukaan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Mobil Listrik di Jakarta, Rabu.

Untuk mobillistrik, teknologi yang perlu dikembangkan antara lain charging station, battery, dan motor listrik,” ungkap Putu.

Saat ini, Kemenperin telah membuat langkah strategis yang disebut triplex helix, merupakan kolaborasi antara pemerintah dengan asosiasi industri dan akademisi. “Bila perlu kerja sama yang selama ini sudah terjalin dapat terus diperkuat dalam pelaksanaan development bersama,” ujarnya.

Putu juga memastikan, pihaknya siap memfasilitasi pembetukan engineering center. “Kita harus berbagi peran agar bisa saling mengisi. Misalnya ada institusi yang fokus pada pengembangan battery, fokus pada pengembangan motor atau fokus pada charging station, dan lain-lain,” pungkasnya.

 Dorong prinsipal bangun industri komponen 
http://blog.anekamotorindo.com/wp-content/uploads/2015/09/mobil-listrik-selo.jpgApa kabar Mobil listrik Indonesia, 'Selo'?

Menteri Perindustrian, Saleh Husin, meminta para prinsipal otomotif untuk membangun industri komponen yang berpusat di Tanah Air agar Indonesia tidak perlu mengimpor dari negara lain.

"Kami meminta pada prinsipal untuk mendorong industri komponennya agar dibangun di Indonesia," kata Husin usai Rapat Koordinasi Ditjen Pengembangan Perwilayahan Industri di Solo, Jawa Tengah, Kamis.

Dia mengatakan, saat ini industri komponen yang ada di Indonesia baru berjumlah 1.000 industri sementara di Thailand sudah mencapai 3.000 industri komponen.

Kekurangan jumlah pemain dalam industri komponen membuat Indonesia terpaksa melancarkan impor suku cadang dari negara lain, Thailand misalnya.

"Saat ini alat-alat komponen lainnya pun masih impor, makanya kami dorong untuk terus bertumbuh," kata Husin.

Kementerian Perindustrian tidak pernah jenuh untuk meminta para pabrikan otomotif Jepang dan Tiongkok alias China yang sedang membangun industri otomotif di Indonesia supaya sekaligus membangun pabrik suku cadang.

"Kami ajak Jepang, atau Tiongkok yang sedang membangun industri otomotifnya di Indonesia," ucap dia.

Husin yang pada pekan lalu mengunjungi pabrik Toyota, Mitsubishi dan pengusaha komponen di Osaka mengatakan siap mengundang mereka ke Indonesia pada bulan depan untuk menjajaki industri kecil menengah di bidang otomotif hingga industri makanan dan minuman.

"Kemarin saya baru pulang dari Jepang, melihat pabrik Toyota dan Mitsubishi dan bertemu dengan beberapa pengusaha UKM di Osaka yang berencana bulan depan akan ke Indonesia," kata dia.

 Pertumbuhan industri otomotif dinilai semakin baik 

Menteri Perindustrian, Saleh Husin, mengatakan, pertumbuhan industri otomotif di Indonesia semakin membaik ditandai dengan penambahan investasi pabrikan otomotif di Tanah Air.

"Industri otomotif memang pertumbuhannya baik. Salah satunya karena Toyota berinvestasi mulai 2015 sampai 2019 dengan nilai sekitar Rp 20 triliun," kata Husin, usai Rapat Koordinasi Ditjen Pengembangan Perwilayahan Industri, di Solo, Jawa Tengah, Kamis.

"Pada 2015 mereka sudah mengeluarkan Rp 5 triliun dan pada 2016 ini akan menambah investasi Rp 5,4 triliun," lanjut Husin.

Menurut data Kementerian Perindustrian, Toyota menguasai 31 sampai 32 persen pasar di Indonesia. Toyota telah mewujudkan investasi Rp 40 triliun di Indonesia hingga 2014 sedangkan untuk periode 2015 sampai 2019 Toyota tengah merampungkan pabrik mesin di Karawang.

Husin juga mengapresiasi langkah pabrikan otomotif lain yang serius berinvestasi di Indonesia dengan membuka pabrik baru baik untuk perakitan maupun suku cadang.

"Mitsubishi sudah membangun pabrik baru dengan nilai investasi Rp 6 triliun, Isuzu Rp 3,5 triliun dan Wuling (pabrikan Tiongkok) mengeluarkan nilai investasi Rp 11 triliun," jelas Husin.

Dia mengaku telah berkoordinasi dengan kementerian lain untuk menjaga iklim investasi di Indonesia tetap kondusif sehingga investor tidak lari ke negara tetangga.

"Jika di Vietnam ada insentif, investornya akan lari ke sana. Jadi kami harus berlomba dengan mereka. Pada intinya kami berkoordinasi lintas kementerian guna menciptakan iklim investasi dunia usaha agar lebih kondusif dan nyaman," kata dia.

  ★ antara  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More