Jumat, 08 Mei 2015

Tiap Hari Kurang Listrik, Masyarakat Kalbar dan Babel Minta Dibangunkan PLTN

Reuters

S
alah satu hambatan terbesar pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik Nuklir (PLTN) di Indonesia adalah penolakan masyarakat, dengan alasan takut terkena radiasi. Namun ini tidak berlaku pada warga di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Bangka Belitung (Babel), yang justru meminta PLTN.

"Paling agresif sekarang itu Kalbar dan Babel, Gubernurnya minta dan masyarakat siap dibangun PLTN," kata Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM Rida Mulyana, kepada detikFinance, Jumat (8/5/2015).

Pihaknya, kata Rida, juga sudah memastikan sendiri, bahwa masyarakat di dua daerah tersebut mendesak agar pemerintah segera membangun PLTN di daerahnya.

"Kita survei tidak bohongan, beberan masyarakatnya minta segera dibangun PLTN. Karena mereka kesalnya sudah di ubun-ubun tiap hari kekurangan listrik, sudahlah nuklir sekalian saja dibangun," ungkap Rida.

Rida mengakui, apalagi kedua daerah tersebut memang sangat cocok dibangun PLTN, selain pasokan bahan baku tersedia, daerahnya bebas gempa dan tsunami.

"Apalagi masyarakatnya di sana juga merasa lebih aman, karena bukan daerah gempa dan tsunami. Meskipun belum ada satupun PLTN rusak atau meledak gara-gara gempa bumi," ujarnya.

Namun sayangnya, pemerintah sampai saat ini belum memikirkan untuk pembangunan PLTN di Indonesia. Nuklir masih menjadi pilihan terakhir untuk pembangunan kelistrikan, pasalnya pemerintah masih menganggap masih banyak energi lain yang lebih murah dimanfaatkan untuk listrik mulai batu bara, gas bumi, sampai energi baru terbarukan yang potensinya masih sangat besar.(rrd/dnl)
Para Ahli Nuklir RI Surati Jokowi, Minta Dibangun PLTN Mini PLTN di Korea Selatan (Reuters)

I
ndonesia memiliki stok ahli nuklir yang cukup banyak. Namun hingga usia mereka memasuki purnabakti alias pensiun, ilmu yang dimiliki tidak termanfaatkan. Karena sampai saat ini, belum ada keinginan pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

"Karna putus asanya mereka, mereka buat paguyuban PLTN. Bahkan ada anggota mereka yang masih kerja di International Atomic Energy Agency (IAEA) Wina, Austria. Mereka menyurati Pak Presiden Jokowi agar pemerintahan mulai membangun PLTN," kata Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana, kepada detikFinance, Jumat (8/5/2015).

Rida mengatakan, para ahli nuklir Indonesia ini meminta, paling tidak Indonesia bisa membangun PLTN yang kapasitasnya kecil, agar ilmu yang didapatkan dari sekolah di luar negeri yang dibiayai negara termanfaatkan.

"Isi suratnya intinya meminta ke Pak Jokowi, mohon kami diberi kesempatan sebelum pensiun, agar negara tidak rugi-rugi amat sekolahkan kami, bangun PLTN yang kecil-kecil saja," kata Rida.

Rida menambahkan, pihaknya sudah menghitung berapa biaya yang akan dibutuhkan untuk membangun PLTN mini berkapasitas 100 megawatt (MW). Rida memastikan negara punya uangnya. Namun, semua keputusan ada di tangan Presiden.

"Saya sudah hitung, kira-kira butuhnya sekitar Rp 3,5 triliun untuk kapasitas 100 MW, ada dananya itu, tahun depan saja kita Kementerian ESDM dianggarkan Rp 25 triliun. Tapi semua tergantung Presiden," tutupnya. (rrd/ang)
Sejak Zaman Soekarno, RI Sudah Menyatakan Go Nuclear Keinginan Indonesia membangun nuklir ternyata sudah sejak lama, bahkan ketika dipimpin Presiden Soekarno di mana Indonesia baru saja merdeka, sudah menyatakan pembangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

"Zaman Bung Karno sudah menyatakan Indonesia go nuclear," kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM, Rida Mulyana kepada detikFinance, Jumat (8/5/2015).

Rida mengatakan, makanya ketika Presiden Soekarno menyatakan Indonesia harus bangun PLTN, sumber daya manusia (SDM) langsung disiapkan, salah satunya adalah dengan menyekolahkan BJ Habibie.

"Bung Karno juga membentuk Lembaga Tenaga Atom yang sekarang namanya BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) pada 1958, juga membentuk LAPAN pada 1963," ucapnya.

Hasilnya, kata Rida, Indonesia sudah punya 3 reaktor nuklir ada ada di Serpong, Bandung, dan Yogyakarta.

"Sudah beroperasi 50 tahun lebih, aman-aman saja kan," katanya.

Padahal kata Rida, Indonesia saat itu baru merdeka, di mana banyak orang yang meragukan, baik dari sisi SDM maupun teknologi.

"Dulu orang boleh ragu, kita baru merdeka tapi sekarang kan orang makin pintar, teknologi makin maju, pengalaman Fukusima di Jepang kemarin menjadi pelajaran bagi seluruh masyarakat di dunia artinya dari segi keamanan makin maju," tambahnya.

Apalagi dari segi SDM, Indonesia juga memiliki banyak ahli-ahli nuklir yang berasal dari lulusan Amerika, Rusia, dan banyak negara lainnya.

"Namun sayangnya, sebentar lagi para doktor-doktor hingga profesor nuklir kita mau masuk masa pensiun, tapi ilmunya belum termanfaatkan untuk membangun PLTN di Indonesia, sayang sekali kan," tutupnya. (rrd/dnl)

  ★ detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More