Jumat, 15 Mei 2015

Petral Bubar

Sudirman dan Rini Lapor Jokowi Pembubaran anak usaha PT Pertamina (Persero), yakni Pertamina Energy Trading Limited (Petral) telah diputuskan pekan lalu. Menteri ESDM Sudirman Said melaporkan langkah ini kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sudirman mengatakan, sejak awal, Jokowi sudah meminta dirinya untuk serius menyelesaikan masalah Petral, yang diduga penuh dengan praktik-praktik bisnis tak transparan.

"Jadi baru saja saya bertemu presiden untuk melaporkan keputusan dan proses pembubaran Petral. Sejak awal memang presiden memberi arahan, Petral itu mesti diseriusi, karena memang di masa lalu reputasinya itu sarat dengan praktik-praktik yang tidak transparan begitu. Dan karena itu, sejak awal beliau sangat menaruh perhatian," tutur Sudirman di Istana Negara, Jakarta, Jumat (15/5/2015).

Selain Sudirman, Menteri BUMN Rini Soemarno juga ikut melaporkan keputusan pembubaran Petral tersebut. Jokowi meminta kepada kedua menteri ini untuk melakukan investigasi terhadap Petral. Tujuan investigasi adalah untuk menghilangkan spekulasi penyelewengan di perusahaan yang berdomisili di Singapura dan Hong Kong terebut.

"Begitu diinvestigasi maka semuanya jadi jelas, terang benderang, mana yang baik, buruk, salah. Dan kalau memang ada potensi pelanggaran hukum, ya jangan ragu-ragu dibawa ke ranah hukum, setelah diinvestigasi," jelas Sudirman. (dnl/hen)
3 Bulan Tanpa Petral Impor BBM Hemat Rp 286 M PT Pertamina (Persero) sejak awal tahun sudah tidak lagi menggunakan Pertamina Energy Trading Limited (Petral) untuk mengimpor BBM. Fungsi Peral dilakukan Pertamina langsung dari Jakarta, yaitu Integrated Supply Chain (ISC).

Hari ini, Menteri ESDM Sudirman Said melaporkan langkah pembubaran Petral kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam laporannya, Sudirman mengatakan, impor BBM tanpa Petral ternyata membuat Pertamina berhemat.

"Kami laporkan juga, dalam 3 bulan saja, Pertamina melalui ISC-nya dan setelah Petral berubah bentuk bukan lagi single buyer, itu terjadi penghematan US$ 22 juta (sekitar Rp 286 miliar), itu baru 3 bulan. Belum lagi soal penghematan losses, kebocoran segala macam. Artinya kalau unit ini (ISC) dikelola dengan baik, maka yang mendapat manfaat adalah masyarakat. Dan kalau 3 bulan efisiensi US$ 22 juta, bagaimana kalau setahun, atau 5 tahun," papar Sudirman di Istana Negara, Jakarta, Juamt (15/5/2015).

Ke depan, ISC akan membuka tender pengadaan BBM sendiri untuk pengadaan pasokan ke dalam negeri. Sudirman sendiri juga pernah mengurus ISC saat masih menjadi pegawai Pertamina.

Saat mengurus ISC dulu, Sudirman mengatakan, dia memiliki visi dalam 3-4 tahun agar 70% pembelian minyak dan BBM Indonesia adalah berupa kontrak panjang. Tujuannya ada kepastian harga, ketimbang membeli lewat pasar spot atau langsung.
Temuan Mengejutkan Petral: Diskon Minyak US$ 1,5/Barel Hanya Diambil 30 Sen/Barel Dalam 3 bulan di awal tahun, PT Pertamina (Persero) sudah tidak menggunakan Pertamina Energy Trading Limited (Petral) untuk mengimpor BBM. Alhasil, ada penghematan US$ 22 juta atau sekitar Rp 286 miliar.

Ada temuan mengejutkan pemerintah dan Pertamina, terkait proses pengadaan BBM oleh Petral yang menimbulkan ketidakefisienan. Petral selama ini memang melakukan tender dalam pengadaan BBM, untuk kebutuhan di dalam negeri. Tender ini dilakukan di Singapura, tempat Petral berada.

"Ternyata kesimpulan mereka 3 bulan ini, Petral melakukan price bill up atau pembangunan harga dengan cara standar sampai ketemu diskon yang cukup signifikan. Setiap hari bisa memberikan diskon US$ 1-US$ 1,3/barel, bahkan hingga US$ 1,5/barel. Begitu dilihat di catatan Petral terdahulu sebelum manajemen baru, diskonnya hanya rata-rata 20 sen, 30 sen," kata Menteri ESDM Sudirman Said, dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Jumat (15/5/2015).

Sudirman menegaskan, kejadian ini terjadi pada manajemen lama Petral. Fakta ini membuat pemerintah kaget dan akan melakukan investigasi kepada Petral, pasca keputusan pembubarannya Kamis lalu.

"Ruang efisiensi masih sangat lebar di masa lalu. Ada melalui diskon yang tidak dimanfaatkan secara institusi dan korporasi, entah larinya ke mana. Ini yang akan dilakukan subyek investigasi," jelas Sudirman.

Karena itu, dalam 3 bulan, dalam pengelolaan direksi baru Pertamina pimpinan Direktur Utama Dwi Soetjipto, ada penghematan US$ 22 juta dari pengadaan atau impor BBM tanpa Petral.

"Lalu pengadaan non karbon itu ketemu penghematan US$ 27 juta. Kemudian tim pemasaran memperoleh penghematan dari losses itu US$ 49 juta. Jadi dalam bulan-bulan terakhir setelah Pertamina terbentuk manajemen baru diperoleh penghematan US$ 98 juta," jelasnya.

"Ini satu progres yang sangat baik ketika urusan diurus dengan profesional dan jujur tanpa kepentingan terbukti Pertamina bisa bekerja lebih baik. dan transparan dan bermanfaat bagi masyarakat," kata Sudirman. (dnl/rrd)

  ★ detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More