Rabu, 27 Mei 2015

Obat dan Vitamin Made in Cimanggis

Bayer Perluas Pabrik dan Gudang Cimanggis, Siapkan Rp 120 M Perusahaan obat asal Jerman, PT Bayer Indonesia akan genjot produksi dengan memperluas pabrik dan gudang di Cimanggis, Depok. Investasi yang digelontorkan tahun ini sebanyak 8,1 juta euro (Rp 120 miliar).

Perluasan pabrik yang terletak di Jawa Barat ini secara resmi dilakukan oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin. Saleh menuturkan, Bayer merupakan salah satu perusahaan multinasional yang menghasilkan produk farmasi dan bahan kimia. Salah satu produknya yang dikenal luas adalah Baygon, tapi sekarang Bayer tidak lagi memproduksi obat anti nyamuk tersebut.

"Patut diapresiasi komitmen Bayer Indonesia yang merupakan perusahaan multinasional di bidang healthcare dan crop science untuk terus tumbuh bersama Indonesia," kata Saleh di acara Inaugurasi of Warehouse Facility Expansion di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Rabu (27/5/2015).

Saleh mengatakan, Bayer dalam hal ini menggelontorkan investasi senilai 8,1 juta euro, yang bakal digunakan untuk menambah fasilitas dan lini produksi.

"Invetasi yang ditanamkan mencapai 60 juta euro, dan bertambah 8,1 juta euro tahun ini yang mampu menyerap tenaga kerja hingga 1.300 karyawan," katanya.

Di tempat yang sama, Presiden Direktur Bayer Indonesia Ashraf Al Ouf mengatakan, saat ini pabrik di Cimanggis merupakan salah satu pabrik strategis di antara 60 pabrik Bayer yang tersebar di seluruh dunia. Pabrik Cimanggis disebutkannya saat ini mempekerjakan 350 orang karyawan.

"Investasi ini untuk fasilitas tambahan, bukan hanya mesin, peralatan tapi juga untuk sumber daya manusia," ‎katanya.

Bayer memproduksi dan memasarkan aneka produk farmasi dan produk obat tanpa resep, serta produk untuk industri agrikultural. Pabrik yang berlokasi di Surabaya memproduksi bahan kimia untuk bidang pertanian, sementara Cimanggis memproduksi produk farmasi dan produk obat tanpa resep, yang dipasarkan di dalam negeri, serta di ekspor ke beberapa negara–negara Asia Pasifik lainnya.

Kapasitas gudang di Cimanggis ini sudah ditambah dari 3.500 palet places menjadi 7.000. Biaya perluasan gudang ini mencapai 5 juta euro.

Sedangkan peningkatan produksi effervescent ditingkatkan dari 36,3 juta tubes menjadi 54 juta di 2016. Dana yang dipakai sebanyak 3,1 juta euro.
Diekspor ke 20 Negara PT Bayer Indonesia memproduksi multivitamin, vitamin, obat-obatan hingga suplemen dan diekspor ke lebih dari 20 negara di dunia. Dalam 3 tahun ke depan, pabrik yang berlokasi di Cimanggis ini bakal mengekspor produknya ke 50 negara.

Head of Supply Center Bayer Indonesia Cimanggis Site, Safak Oner mengatakan, saat ini, Bayer memproduksi beberapa produk seperti Redoxon, CDR, Aspirin, Saridon dan jenis obat dan multivitamin lainnya. Produk-produk tersebut diekspor ke berbagai negara.

"Kita mengekspor ke lebih dari 20 negara. Kita juga sedang menunggu feedback dari beberapa negara tujuan ekspor terkait regulasi, seperti Amerika Serikat (AS), beberapa negara di Eropa," tutur Safak ditemui di sela acara Inauguration Warehouse Facility Expansion Bayer di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Rabu (27/5/2015).

Negara-negara tujuan eskpor obat-obatan made in Cimanggis ini adalah Hong Kong, Filipina, Singapura, Malaysia, Korea, Taiwan, Thailand, Australia, Selandia Baru. Kemudian Vietnam, Kamboja, Inggris, Uni Emirat Arab, Turki, Austria, Rumania, Hungaria, dan Yordania.

Dikatakan Safak, sebanyak 75% semua produksi Bayer di pabrik Cimanggis ini adalah untuk tujuan ekspor, sementara 25% sisanya dijual di dalam negeri.

Dia menuturkan, Bayer akan terus membuka peluang pasar ekspor ke negara-negara lain. Perusahaannya menargetkan akan mengirimkan ‎produk-produk obat dan multivitamin tersebut ke 30 negara lainnya.

"Saya harap 50 negara, dalam 2 sampai 3 tahun ke depan," katanya.

Hari ini, Bayer meresmikan beroperasinya fasilitas gudang baru berkapasitas 7.000 palet dari sebelumnya 3.500 palet dengan nilai investasi 5,1 juta euro‎. Perusahaan juga menggelontorkan 3 juta euro untuk menambah lini produksi effervescent menjadi 54 juta tube per tahun dari kapasitasnya saat ini yang mencapai 36,3 juta tube.

"Itu akan beroperasi sekitar triwulan pertama tahun 2016," tutupnya. (zul/ang)
Bahan Baku Masih Impor Lebih dari separuh hasil produksi obat dan vitamin PT Bayer Indonesia diekspor ke 20 negara di dunia. Namun sayangnya, bahan baku dari produk yang dihasilkan hampir seluruhnya diimpor. Paling banyak impor dari China.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, industri farmasi di Indonesia cukup berkembang, namun sayangnya bahan baku masih banyak yang diimpor. Saleh mengatakan, 90% bahan baku industri farmasi masih diimpor.

"Memang selama ini‎ masih 90% kebutuhan bahan baku masih impor. Tentu Kemenperin berkoordinasi dengan kementerian lainnya agar secara bertahap bahan baku impor kita kurangi," kata Saleh di sela acara Inauguration Warehouse Facility Expansion Bayer Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Rabu (27/5/2015).

Dikatakan Saleh, impor dilakukan terpaksa karena belum ada industri dalam negeri yang mampu memenuhi kebutuhan industri farmasi. Baik dari segi spesifikasi, kualitas ataupun harga.

Saleh menyayangkan hal ini karena ekspor obat-obatan ataupun produk farmasi cukup gemilang. Di tahun 2014, nilai ekspor produk farmasi nasional mencapai US$ 532 juta, tumbuh 16,98% dari tahun 2013 yang mencapai US$ 455 juta.

Sementara itu, Head of Supply Center Bayer Indonesia Cimanggis Site, Safak Oner mengatakan,‎ kebanyakan bahan baku yang diimpor adalah dari negara seperti China, India dan Eropa. Bahan baku utama dan penolong pun masih diimpor.

"Kita sebenarnya ingin pakai material dari lokal. Tapi seperti plastik tube itu impor dari segi kualitas dan harga masih bagus. Kebanyakan dari China sekitar 15%, lalu India dan juga ada dari Eropa," tutupnya. (zul/ang)

  ✈️ detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More