Jumat, 08 Mei 2015

Kuritsyn: Tanpa Perantara, Perdagangan Rusia-Indonesia Akan Lebih Menguntungkan

Indonesia dan Rusia terus meningkatkan kerja sama di sektor perekonomian dan perdagangan. Berbagai forum bisnis, sidang komisi, hingga kunjungan masing-masing delegasi terus dilakukan secara berkala demi memastikan tercapainya target volume perdagangan bilateral. RBTH Indonesia berkesempatan mewawancarai Direktur Dewan Bisnis Indonesia-Rusia Mikhail Kuritsyn untuk mencari tahu perkembangan kerja sama antara kedua negara di bidang ekonomi, dan hal apa saja yang bisa mendorong perdagangan antara kedua negara agar semakin menguntungkan.Direktur Dewan Bisnis Indonesia-Rusia Mikhail Kuritsyn. Foto:Fauzan Al-Rasyid/RBTH Indonesia

RBTH (R): Investasi seperti apa yang diharapkan Rusia dari para investor, khususnya dari para investor Indonesia?

Mikhail Kuritsyn (M.K.): Kebanyakan investasi pengusaha Indonesia atau perusahaan Indonesia yang diregistrasi di negara lain adalah dalam bentuk portfolio investments. Jadi mereka beli saham dari perusahaan Rusia yang IPO-nya di Hong Kong, London atau Singapura. Hal ini memang lebih mudah dan aman. Namun, kalau kita bicara tentang investasi dalam skala yang lebih besar, sebuah proyek yang bisa menjamin keuntungan untuk masing-masing negara atau pengusaha dalam skala besar, jawabannya adalah investasi penanaman modal langsung (direct foreign investment) oleh pengusaha Indonesia ke Rusia.

R: Menurut Anda, di bidang apa saja Indonesia bisa bersaing di pasar Rusia?


M.K.: Ada beberapa bidang yang saya yakin Indonesia bisa bersaing di pasar Rusia. Tentunya, bukan hanya sebagai investor, tapi juga sebagi negara yang keunggulan dari segi geografis iklim, yaitu berbagai macam komoditas pertanian. Keragaman hasil tani Indonesia adalah sesuatu yang harus Rusia beli. Namun, ini semua dapat terwujud jika didukung dengan adanya pengusaha-pengusaha Indonesia di Rusia, mulai dari bidang produksi hingga pengolahannya. Saya pikir, jika hal itu bisa diusahakan maka akan menarik sekali. Selain pertanian, Indonesia juga bisa unggul dalam bidang perhutanan dan bermacam-macam pengolahan produk kayu, termasuk furnitur.

Ada banyak perusahaan Indonesia yang aktif di Eropa, Jepang, atau AS, tapi yang menjual produk-produk perusahaan tersebut adalah pengusaha dari Tiongkok. Ini sangat tidak wajar. Jika Indonesia melakukan perdagangan ke Rusia secara langsung, termasuk dengan adanya merek-merek produk Indonesia di Rusia sehingga “kehadiran” Indonesia lebih dirasakan di Rusia, hal ini tentu bisa membantu menambah volume perdagangan antara kedua negara. Selain itu, jumlah keuntungan pun bertambah karena tidak perlu perantara.

R: Selain perdagangan langsung, apakah ada faktor lain yang berperan untuk mendorong perdagangan antara kedua negara?

M.K.: Kami harap kegiatan perdagangan antara kedua negara ini juga didukung oleh dunia perbankan. Saya pikir antara bank Rusia dan bank Indonesia perlu dibangun suatu hubungan kerja sama. Sebagai contoh kasus, masalah industri perkapalan. Jika ada dukungan dari bank kedua negara, setiap peralatan perkapalan dari Rusia atau bahkan produksi dari Indonesia ke Rusia dan sebaliknya, bisa didukung dengan fasilitas pinjaman atau suatu struktur pembiayaan dari kedua belah pihak. Hal itu sangat penting untuk dunia pengusaha. Jika tidak ada fasilitas seperti ini, akhirnya kita tetap bergantung dari pihak ketiga, seperti bank dari Singapura, bank dari AS dan Eropa. Ketika kita bergantung dari bank asing maka akan lebih mudah pula bagi mereka untuk memasukkan perantara sendiri. Hasilnya, ongkos menjadi lebih tinggi, harga jual lebih tinggi, dan kemampuan untuk bersaing di pasar pun turun dibandingkan dengan negara yang punya jalur perdagangan langsung.

R: Dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) Indonesia dan Rusia di kota Kazan pada April lalu, Rusia mengusulkan untuk menggunakan mata uang nasional dalam setiap transaksi perdagangan antara kedua negara. Apakah ada kelanjutan mengenai ide ini?

M.K.: Soal ini sebenarnya sudah dibicarakan sejak dulu. Dari segi logika, ide ini memang sangat wajar. Memang, saya pikir untuk merealisasikan hal ini hingga seratus persen akan memakan waktu, tapi setidaknya saya harap dalam beberapa waktu ke depan, minimal lima sampai sepuluh persen dari transaksi perdagangan bilateral dapat menggunakan mata uang nasional, termasuk dalam bentuk imbal beli (counter trade), bukan barter. Artinya, kedua negara saling membeli produk yang dihasilkan satu sama lain dalam jumlah yang imbang. Barang ini tetap barang komersial, tapi jelas ini ada kaitannya. Semakin banyak Rusia bisa menjual produknya ke Indonesia, semakin banyak Rusia bisa membeli dari Indonesia, dan transaksi perdagangan ini bisa menggunakan mata uang nasional masing-masing, yaitu rupiah dan rubel.

R: Untuk meningkatkan kerja sama, baik di bidang perdagangan maupun antara pengusaha kedua negara, dibutuhkan transportasi yang memadai, seperti pesawat. Apakah ada diskusi mengenai dibukanya penerbangan langsung dari Jakarta-Moskow, dan sebaliknya?

M.K.: Dari segi formalitas, lima tahun yang lalu sudah ditandatangani persetujuan untuk dibukanya pertukaran penerbangan sipil secara langsung. Sekarang, ini semua tergantung dari jumlah penumpang. Hal ini masih dibicarakan oleh pihak maskapai Rusia, termasuk oleh Transaero, Aeroflot, dan S7. Sementara dari pihak Indonesia, saya juga tahu bahwa bukan cuma Garuda yang sedang mempertimbangkan peluang ini, tapi juga beberapa maskapai Indonesia lainnya.

Saat ini, jumlah penumpang dari Moskow ke Denpasar sangat banyak. Rata-rata jumlah keberangkatan dari Moskow ke Denpasar mencapai seratus ribu orang dalam setahun. Ini jumlah yang cukup besar. Melihat dari data ini, mungkin kita bisa membuat kombinasi rute penerbangan, misalnya dari Moskow ke Denpasar, tapi melalui Jakarta. Saya pikir, untuk tahap pertama bisa dimulai dengan rute seperti itu. Namun, ini harus dipertimbangkan oleh para ahli profesional dari maskapai masing-masing.

R: Kebutuhan harian bahan bakar Indonesia sangat tinggi. Apakah sempat ada pembicaraan lebih lanjut mengenai peluang kerja sama di bidang perminyakan antara Rusia dan Indonesia?

M.K.: Ada empat perusahaan Rusia yang luar biasa besar yang bergerak di bidang perminyakan, yaitu Rosneft, Lukoil, Gazpromneft, dan TNK-BP. Keempat perusahaan tersebut memiliki fasilitas tersendiri untuk melayani berbagai keperluan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sebagian perwakilan perusahaan-perusahaan perminyakan ini turut hadir dalam Sidang Komisi Bersama dan Forum Bisnis Indonesia-Rusia dengan tujuan untuk mengembangkan hubungan langsung dengan Pertamina.

Rusia sadar bahwa Indonesia sangat memerlukan minyak mentah dan berbagai macam produk turunannya. Kami juga paham bahwa Indonesia adalah pasar yang sangat penting. Oleh karena itu, kami harap Indonesia bisa mengundang pemodal asal Rusia bukan hanya untuk menjual produk Rusia saja, tetapi juga untuk menanamkan modalnya di sini dalam hal infrastruktur pengolahan minyak. Namun, itu hanya jika ide tersebut bisa diterima oleh pihak Indonesia. Jelas, ini tergantung dari kesepakatan bilateral.

R: Menurut Anda, apakah ada kemungkinan di masa depan bagi Indonesia untuk bergabung dengan BRICS?

M.K.: Menurut pendapat saya, Indonesia sebagai salah satu anggota G-20, negara yang begitu besar baik dari segi penduduk maupun pengaruhnya di Asia Tenggara dan di dunia, jelas perlu mencari format hubungan adekuat yang sesuai dengan ukuran dan pengaruhnya. Dari segi ini, menurut saya, jika BRICS menjadi BRIICS (dengan dua huruf “I” di tengah) mungkin akan semakin kuat. Namun, tentu saja ini tergantung dari Indonesia, apakah Indonesia mau, dan juga tergantung dari kelima anggota BRICS itu sendiri, apakah mereka bisa menerima Indonesia. Namun, menurut pendapat saya, itu memang kesempatan yang logis.


  RBTH  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More