Sabtu, 25 April 2015

Sudah 55 Tahun di RI, Komponen Lokal Produk Panasonic 40%-50%

Perusahaan multinasional PT Panasonic Manufacturing Indonesia sudah 55 tahun mengoperasikan pabriknya di Indonesia. Saat ini, Panasonic mengoperasikan 7 pabrik di dalam negeri.

Produsen elektronika patungan antara perusahaan Jepang dengan perusahaan Indonesia, Gobel Group ini sudah banyak memproduksi produk-produk elektronika. Namun, separuh dari total komponen produksi masih diimpor.

Associate ‎Director PT Panasonic Manufacturing Indonesia, Daniel Suhardiman menuturkan, pasokan komponen elektronika di dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan industri elektronika, seperti Panasonic.

"Kalau kita nilai, kurang lebih kita 40%-50% itu lokal," kata Daniel ditemui di acara Mahakarya 55 Tahun Panasonic, Fairmont Hotel, Jakarta, Jumat (24/4/2015).

Daniel menjelaskan, komponen yang didapatkan perusahaan memang dipasok dari dalam negeri oleh industri komponen. Namun pada dasarnya, industri komponen itu pun mendapatkan bahan baku dari luar negeri dan diproses menjadi komponen di dalam negeri.

"TKDN (tingkat kandungan dalam negeri) ini rancu. Kalau kita bicara bahan baku, 90% itu impor, dari berbagai negara Singapura, Malaysia, China, Korea, Jepang, merata semua. Jadi bahan baku itu diimpor dan diproses di sini," tuturnya.

Dampak dari banyaknya mengimpor komponen, industri manufaktur ini pun mengaku sangat terpukul dengan melemahnya rupiah terhadap dolar beberapa waktu ini. Meski demikian, menurutnya, pertumbuhan penjualan tetap tumbuh.

‎"Saya pikir semua juga berat (karena rupiah menguat), komponen utama, TV itu panelnya, ada nggak produksi di Indonesia, AC kulkas kompresor, nggak ada kan di Indonesia, (komponen) mesin cuci juga nggak ada. Karena key component seperti itu nggak ada, impornya pasti tinggi," tutupnya.
Kalah Saing dengan Produk Korea dan Eropa, Ponsel Panasonic 'Menghilang' di Pasar Ilustrasi

Salah satu produsen elektronika asal Jepang, Panasonic pernah memproduksi ponsel dan dipasarkan di Indonesia. Namun kini ponsel merek Panasonic 'menghilang' dari pasar di dalam negeri.

Penyebabnya karena produk ponsel Panasonic kalah bersaing dengan ponsel merek lain seperti Korea Selatan (Samsung dan LG) hingga Eropa.

Associate Executive Director PT Panasonic Gobel Indonesia Heru Santoso mengatakan, Panasonic memang menghentikan peredaran produk ponselnya‎ di Indonesia. Salah satu produk Panasonic yang dulu sempat beredar di Indonesia adalah ponsel kecil sebesar korek api.

"Di Indonesia sebentar saja, sekarang sudah nggak ada lagi," kata Heru di sela acara Mahakarya Panasonic 55 Tahun di Fairmont Hotel, Jakarta, Jumat (24/4/2015).

Heru menuturkan, produk ponsel besutan Jepang tak kuat bersaing dengan produk ponsel buatan Korea Selatan, Eropa atau Amerika yang kini beredar global termasuk Indonesia. Menurutnya, ponsel Panasonic hanya laku di pasar domestik, yaitu Jepang.

"Kenyataannya demikian (sulit bersaing). Salah satu yang terkendala bukan hanya Panasonic ya, produk Jepang lainnya juga. Mungkin kalau kita lihat produk handphone yang ada di Jepang itu untuk pasar domestik," jelasnya.

Pemerintah bakal ‎menerapkan aturan ponsel-ponsel yang beredar di Indonesia harus memiliki 70% komponen lokal di 2017. Meski ini bisa menjadi pasar potensial bagi Panasonic untuk kembali bersaing di pasaran, namun Heru mengatakan, Panasonic punya cara lain.

"Panasonic lebih mengarahkan ke komputer tablet, seperti iPad begitu. Penekanannya lebih ke sana" tuturnya.(zul/hen)
Panasonic Ekspor Mesin Cuci Dua Tabung Ke Timteng Hingga Kosta Rika Produsen elektronik multinasional PT Panasonic Gobel Indonesia sudah merambah pasar ekspor. Perusahaan patungan antara pengusaha Jepang dan Indonesia ini mengekspor kulkas, mesin cuci, hingga perangkat audio ke luar negeri.

Associate Director PT Panasonic Manufacturing Indonesia, Daniel Suhardiman mengatakan, akhir tahun lalu, Panasonic meluncurkan produk mesin cuci dua tabung baru. Awalnya, produksi tersebut dimaksudkan untuk kebutuhan domestik. Namun kini, pihaknya mengekspor ke Timur Tengah hingga Afrika.

"Mesin cuci diekspor ke Timur Tengah, ke Kosta Rika, ke Panama. Itu tadinya untuk domestik," kata Daniel ditemui di hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, Jumat (24/4/2015).

Dia belum bisa menyebut berapa besaran ekspor yang dilakukan, karena produk tersebut baru saja diluncurkan akhir tahun lalu. "Bulan lalu mulai ekspornya, kita masih menunggu final figurnya berapa unit," katanya.

"Selama ini kita juga ekspor audio, kulkas, dan lain-lain," tuturnya.

Di kesempatan itu, Daniel juga mengatakan, karena kondisi ekonomi global tengah bergejolak sejak 2012 lalu, daya beli masyarakat khususnya untuk peralatan rumah tangga (home appliances) pun mengalami penurunan.

"Di 2012 itu booming produk home appliances, 2013 turun, dan 2014 lebih lesu lagi. Semua produk hampir merata, kira-kira 12% (penurunannya) seingat saya. Tahun ini sudah mulai akan naik lagi," tutupnya.(zul/dnl)

  ✈️ detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More