Kamis, 23 April 2015

Indonesia bisa menjadi pusat energi terbarukan

http://img.antaranews.com/new/2015/04/ori/20150422de_villiers_abb.jpgJohan de Villiers, Managing Director ABB South East Asia (berdiri) dalam diskusi mengenai peluang dan tantangan energi di Asia Timur, termasuk Indonesia, di Jakarta (21/04/15). (ANTARA News/HO)

Perusahaan teknologi energi dan otomatisasi, ABB, optimistis bahwa Indonesia bisa menjadi salah satu pusat energi terbarukan di kawasan Asia.

Perlu dukungan semua pihak untuk mengoptimalkan pendayagunaan sumber energi terbarukan di Indonesia, sehingga upaya pemerintah mewujudkan konversi energi dan budidaya seperti tertuang Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi, bisa dicapai, kata ABB dalam siaran persnya, Rabu.

Di Indonesia, ABB telah kerja sama dengan PLN dalam pendayagunaan sumber energi terbarukan untuk memasok listrik bagi masyarakat di Pegunungan Bintang, Oksibil, 3.000 kaki di atas permukaan laut, di wilayah Pegunungan Tengah Papua.

PLN telah membangun salah satu pembangkit listrik tenaga surya tertinggi di dunia, off-grid dengan 1.280 modul surya yang mampu menghasilkan 300 kW tenaga listrik.

Kontribusi ABB dalam proyek ini, kata ABB, adalah dalam hal penyediaan sistem penyimpanan energi (ESS). Dengan ESS, kelebihan listrik yang dihasilkan setiap harinya akan disimpan dan selanjutnya didistribusikan pada malam hari atau bila diperlukan.

"Selama lebih dari satu abad, ABB telah merintis solusi energi yang berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup, serta meminimalkan dampak lingkungan," ujar Johan de Villiers, Managing Director ABB South East Asia.

Peran energi terbarukan menjadi sangat penting menimbang kebutuhan energi global yang diproyeksikan akan meningkat sebelas kali lipat pada tahun 2030.

Untuk negara berkembang seperti Indonesia, kebutuhan terhadap energi juga kian melonjak. Ketergantungan pada minyak dan gas akan berdampak pada masalah kelangkaan energi dan juga masalah lingkungan.

"Pada bulan Desember 2015, para pemimpin dunia akan bertemu di Paris guna membangun kesepakatan tentang langkah-langkah global dalam membatasi emisi karbon. Dengan demikian, 2015 akan tercatat sebagai tahun penting dalam mengatasi perubahan iklim. Di ABB, kami telah menunjukkan bahwa penerapan teknologi baru dapat mengurangi kerugian energi sebanyak setengah dalam rantai nilai listrik," Johan mengklaim.

Menurut IEA, generasi listrik dari sumber terbarukan diatur untuk menjadi dua kali lipat pada 2030. Sebagian besar kenaikan tersebut akan berasal dari tenaga air dan tenaga angin darat, diikuti oleh angin lepas pantai dan tenaga surya.

Energi terbarukan ditetapkan untuk menyusul gas alam sebagai sumber terbesar kedua listrik (setelah batubara) dalam enam tahun kedepan.

Generasi angin global tumbuh sangat cepat dan diproyeksikan naik sebelas kali lipat pada tahun 2030, dengan peningkatan terbesar terjadi di Eropa. Di Eropa, 20 ladang angin telah disetujui untuk Laut Utara pada 2009, dan tujuh untuk Baltik.

Secara keseluruhan, hal ini berarti sekitar 12.000 MW listrik dari pembangkit angin akan hadir pada tahun 2015.

ABB menyediakan teknologi listrik dan otomatisasi untuk industri energi terbarukan. Ini digunakan untuk menghasilkan listrik dari sumber terbarukan, untuk mengontrol pembangkit listrik, dan untuk mendistribusikan ke jaringan listrik (grid).

Daya terbarukan didistribusikan ke jaringan listrik (grid) sedemikian rupa agar stabilitas jaringan dapat dijaga atau ditingkatkan, bahkan ketika kondisi cuaca berubah-ubah menyebabkan pembangkit listrik tidak teratur.

Untuk membantu menghasilkan panas atau menghasilkan biofuel, beragam segmen di industri energi terbarukan memanfaatkan teknologi ini. Namun, pembangkit listrik dan transmisi tetap menjadi aset yang utama.

  ★ Antara  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More