Kamis, 16 April 2015

Cerita Typhoon, Jet Tempur yang Bakal Diproduksi di Bandung

Mockup Typhoon di Bandung

Produsen jet tempur asal Eropa, Eurofighter, berencana mengembangkan dan memproduksi jet tempur di Bandung, Jawa Barat. Dengan jet andalannya, Typhoon, Eurofighter bakal menggandeng PT Dirgantara Indonesia (Persero). Proses produksi dan perakitan akan memanfaatkan fasilitas milik PTDI.

Sebelum berproduksi di Indonesia, para mekanik pesawat PTDI telebih dahulu dilatih selama beberapa tahun di salah satu fasilitas assembly line (perakitan) Eurofighter di Spanyol.

Jet generasi 4.5 tersebut saat ini baru dimiliki 7 negara. Typhoon juga telah terlibat dalam berbagai misi pertempuran seperti di Libya.

Berikut cerita-cerita tentang Typhoon, si jet tempur yang rencananya diproduksi dan dikembangkan di Bandung seperti dirangkum detikFinance, Kamis (16/4/2015):
1. Pilih Bandung Sebagai Pusat Produksi Eurofighter memiliki rencana membuka pabrik di Indonesia. Eurofighter membuka opsi memproduksi dan merakit jet andalannya yakni Typhoon di Bandung Jawa Barat. Untuk proses produksi dan perakitan, Eurofighter siap menggandeng PT DI.

"Ini peluang untuk membawa PTDI dari produsen pesawat angkut atau penumpang menjadi produsen pesawat tempur," Kata Head of Industrial Offset Eurofighter, Martin Elbourne.

PTDI digandeng bukan tanpa alasan. Airbus Group selaku induk perusahaan Eurofighter telah memiliki hubungan bisnis jangka panjang dengan PT DI. Dimulai dengan pengembangan pesawat sipil NC212 pada tahun 1976 kemudian dilanjutkan pengembangan bersama untuk pesawat CN 235 hingga CN 295.

Hubungan jangka panjang tersebut menjadi satu alasan bagi Eurofighter untuk meminang BUMN produsen pesawat asal Indonesia sebagai basis assembly line jet tempur generasi 4.5 tersebut di luar Eropa. Pesawat sekelas Typhoon dengan generasi serupa seperti Rafale buatan Prancis, JF-17 buatan Tiongkok hingga F-18 buatan Amerika Serikat (AS).

Selain telah memiliki hubungan bisnis dengan induk Eurofighter, BUMN produsen pesawat ini telah memiliki fasilitas produksi pesawat dan fasilitas bandara yang lengkap di kawasan Asia.

"Kerja sama hampir 40 tahun dengan PT DI. Kerja sama telah dimulai sejak 1976," sebut Elbourne.
2. Basis Produksi Pertama di Luar Eropa Basis produksi Eurofighter saat ini terletak di 4 negara, yakni Inggris, Jerman, Italia dan Spanyol. Empat negara tersebut terlibat dalam produksi komponen utama pesawat serta memiliki fasilitas assembly line atau perakitan akhir.

Ternyata Eurofighter berencana melebarkan sayap produksi di luar Eropa. Perusahaan yang terafiliasi dengan Airbus Group ini berencana membuka fasilitas assembly line di Indonesia. Jika rencana ini berjalan mulus maka Indonesia akan menjadi negara ke-5 di luar Eropa, sebagai basis produksi jet tempur yang sukses pada misi di Libya tersebut.

"Indonesia akan menjadi basis produksi yang ke-5," Kata Head of Industrial Offset Eurofighter Martin Elbourne.

Tahap awal bila militer Indonesia membeli jet tempur Typhoon maka Eurofighter bisa memulai program transfer teknologi. Eurofighter akan menggandeng produsen pesawat asal Indonesia yakni PT DI. Selanjutnya para insinyur atau mekanik pesawat asal Bandung Jawa Barat akan dilatih dan terlibat dalam proses pengembangan dan produksi jet tempur Typhoon di Spanyol. Di sana, mereka dilatih selama 2 hingga 3 tahun.

"Kita ajak PT DI engineer untuk untuk ambil bagian di Eropa," ujarnya.

Selanjutnya ialah para insinyur PT DI bersama ahli pesawat asal Spanyol bakal kembali ke tanah air untuk memulai proses produksi. Secara bertahap fasilitas produksi dan perakitan pesawat Typhoon di Spanyol bakal diboyong ke Indonesia.

"Selanjutnya final assembly akan dibawa ke Bandung," ceritanya.
3. Jet Typhoon Telah Dipakai 7 Negara Jet Typhoon sendiri sebelumnya telah diproduksi di 4 negara Eropa. Saat ini, sebanyak 7 negara telah mengoperasikan jet tempur generasi 4.5 tersebut.

"Ada 7 negara yang memakai yakni Inggris, Jerman, Sepanyol, Italia, Arab Saudi, Austria, Oman," Kata Head of Industrial Offset Eurofighter Martin Elbourne.

Dari 7 negara tersebut, hanya 4 negara yang berperan sebagai basis pengembangan dan produksi. Sisanya yaitu Oman, Arab Saudi, dan Austria hanya sebagai pembeli atau pengguna. Total jet tempur Typhoon yang telah diproduksi mencapai 400 unit.
4. Punya Senjata Canggih dan Kecepatan Tinggi Jet tempur Typhoon yang memiliki fasilitas senjata seperti rudal tipe Meteor, ASRAM, IRIS-T, hingga bom Paveway IV. meski telah memiliki persenjataan baku, persenjataan jet tempur Typhoon bisa dikembangkan. Indonesia bisa memasukkan senjata ciptaan sendiri.

Typhoon bisa melaju dengan kecepatan mach 2. Dengan kecepatan seperti ini, Jakarta-Bandung bisa ditempuh dalam waktu 4 menit. Pesawat ini didukung oleh 2 mesin tipe EJ200. Pesawat ini mengkombinasikan airframe nan lincah yang terbuat dari material siluman atau stealth.
5. Digadang-gadang Perkuat Jet Tempur TNI AU TNI AU berencana mengganti armada pesawat tempur F-5 yang telah memasuki usia senja. Pergantian 1 skuadron atau setara minimal 16 jet tempur tersebut menjadi daya pikat bagi produsen jet tempur dunia, termasuk produsen jet tempur asal Eropa yakni Eurofighter. Perusahaan yang terafiliasi dengan Airbus Group ini menawarkan pesawat tempur double engine, Thypoon.

"Saat ini TNI berencana mengganti pesawat F-5. Itu untuk 1 skuadron setara minimal 16 pesawat," kata Export Director Eurofighter GmbH Joe Parker.

Persaingan memperebutkan 'kue' pesawat pengganti F-5 milik TNI AU tidak mudah bagi Eurofighter. Eurofighter harus bersaing dengan Gripen dari Swedia, F16 dari Amerika Serikat, Dessault Rafale dari Prancis, hingga Sukhoi SU 35 dari Rusia.


  detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More