Sabtu, 18 April 2015

Pesawat Terbaru Habibie Jadi Proyek Nasional

Lebih Efisien dari Boeing dan Airbus Pemerintah menjanjikan akan ikut dalam pengembangan pesawat R80 yang diinisiasi perusahaan Regio Aviasi Industri (RAI) yang didirikan Presiden Ke-3 RI, BJ Habibie. Presiden Joko Widodo sudah menyatakan kesiapan untuk memasukkan dalam program nasional.

”Iya, ini seharusnya mendapat perhatian, menjadi proyek nasional,” kata Presiden Jokowi, di sela-sela menghadiri National Innovation Forum 2015, di Graha Widya Bhakti, Puspitek, Tangerang Selatan, kemarin (13/4).

Presiden menyatakan, pengembangan di bidang teknologi ke depan memang perlu difokuskan pada hal-hal yang menjadi kebutuhan bangsa. Karena itu, dia menyambut baik rencana RAI mengembangkan pesawat R80.

Pada kesempatan itu, perusahaan yang didirikan Habibie bersama putranya Ilham Habibie itu menjadi salah satu peserta event yang diprakarsai Kementerian Riset dan Teknologi. Forum itu diadakan khusus untuk membantu menghubungkan hasil inovasi teknologi dengan dunia usaha dan masyarakat secara umum.

Kepada Jokowi, Habibie sempat mengutarakan kalau perusahaannya membutuhkan dukungan pemerintah dalam hal finansial. Dukungan itu nantinya diharapkan bersinergi dengan support dari pihak swasta dan luar negeri.

”Mereka akan ikut kalau dari pemerintah ikut menyumbang, dalam arti mengatakan ’silakan’. Karena, industri pesawat terbang seperti Boeing dan Airbus dapat bantuan yang sama,” beber Habibie di tempat yang sama.

Sambil menunjukkan miniatur R80, dia menuturkan kepada presiden tentang sejumlah kelebihan yang dimiliki pesawat dengan kapasitas 80-90 orang tersebut. Di antaranya, tentang pilihan penggunaan baling-baling sebagai penggerak. Menurut Habibie, pesawat akan hemat bahan bakar dan akan lebih mudah perawatannya.

Dia menambahkan, pesawat R80 juga dirancang agar bisa sesuai dengan tipe bandara yang banyak ada di Indonesia. ”Pesawat ini tidak akan kalah hebat dengan Boeing 777,” tutur Habibie.

Saat ini, pesawat tersebut masih dalam tahap desain awal. Sejak dua tahun yang lalu, RAI telah bekerja melakukan studi kelayakan di Amerika Serikat. ”Kalau (dukungan pemerintah) itu terjadi, (tahun) 2019, pesawat ini akan mengudara,” imbuh Habibie.

Pesawat R80 didesain sebagai penyempurnaan pesawat N250 buatan anak-anak negeri yang sempat terbang perdana, namun terkendala pengembangannya pada 1995 lalu. Ada banyak perubahan drastis dari sisi teknologi. Misalnya, pesawat telah didesain lebih hemat bahan bakar hingga 30 persen.

Selain itu, pesawat yang juga akan menggunakan teknologi fly by wire, baling-baling di sayap pesawat juga termasuk teknologi baru. Sebab, punya kemampuan menentukan arah angin dingin dan panas yang dihasilkan mesin. Secara garis besar, dengan berbagai teknologi yang dipakai, pesawat dapat melaju dengan kecepatan lebih tinggi, namun tetap efisien.

Sebelumnya, Habibie menyebut R80 akan lebih cepat dan lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dibanding Airbus ataupun Boeing. Sebab, R80 dirancang dengan perbandingan antara angin yang dingin dihasilkan dari udara di bodi pesawat dengan angin yang dikeluarkan pada mesin di belakang pesawat lebih tinggi (bypass ratio).

“Saya menyampaikan bahwa Airbus atau Boeing itu bypass ratio-nya 12. Makin tinggi bypass ratio, makin sedikit konsumsi bahan bakar dan lebih cepat. Ini (R80) bypass ratio-nya 40. Kami perhitungkan pesawat terbang ini lebih sedikit 30 persen (penggunaan bahan bakar, Red),” kata pria kelahiran Parepare, Sulsel, ini.

Meski secara fisik belum mulai dibuat, pesawat R80 sudah mulai banjir pesanan. Terutama, dari maskapai penerbangan komersial dalam negeri. Sudah tiga perusahaan yang menandatangani letter of intent (LoI), yakni Nam Air untuk pemesanan 100 unit, Kalstar (25 unit), dan Trigana Air (20 unit). (dyn/end/jpnn/zal)

  Kaltimpost  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More