Kamis, 08 September 2016

PT DI Tampilkan Simulator Pesawat N219

✈ Indonesia Business and Development (IBD) Expo 2016 ✈ N219  [PTDI]

Gelaran Indonesia Business and Development (IBD) Expo 2016 menjadi ajang BUMN Indonesia untuk memamerkan produk-produk unggulannya ke masyarakat.

Salah satunya adalah PT Dirgantara Indonesia (PTDI), yang memamerkan produksi terbarunya, pesawat N219, pesawat perintis perdana yang menghubungkan wilayah pedalaman dan kepulauan Indonesia.

Dalam display nya di IBD Expo 2016, PTDI memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mencoba pesawat perintis perdana produksi dalam negeri ini. Pengunjung yang hadir berkesempatan untuk langsung mencoba bagaimana mengoperasikan pesawat N219 dari mulai take off hingga landing.

Peserta simulator akan dapat merasakan fungsi utama display, engine di pesawat, dimana keunggulan pesawat menggunakan avionic, sebuah sistem instrumen pesawat yang hanya menggunakan beberapa LCD, namun dengan fitur yang banyak.

"Tapi di simulator tidak ada feel simulator seperti flight simulator untuk engineer di Bandung. Beberapa instrumennya dummy," ujar Simulator Engineer PTDI Bambang Purwo, saat ditemui di stand PTDI IDB Expo 2016, JCC Senayan, Jakarta, Kamis (8/9/2016).

Peserta yang ingin menjajal simulator N219 hanya tinggal melakukan pendaftaran dengan menuliskan data diri dan mengambil nomor urut di meja informasi stand PTDI. Setiap peserta diberikan waktu 3 menit untuk mengoperasikan simulator N219.

"Jadi ini informasi ke masyarakat, kurang lebih seperti ini fitur yang dimiliki oleh N219. Dikendalikan dengan mudah, dan tidak diperlukan landasan yang panjang untuk landing. Jadi di simulator ini bisa tahu perilaku pesawatnya, kendala-kendalanya," tambahnya.

Bahkan bagi peserta yang berhasil mengoperasikan simulator N219 dengan baik, akan mendapatkan sertifikat penggunaan simulator N219.

"Jadi ada semacam piagam penghargaan untuk pengunjung yang bisa mendemonstrasikan take off dan landing simulator dengan baik," tutur dia.

Penerbangan perintis mempunyai nilai ekonomi, serta mampu mempersatukan wilayah Indonesia. Pesawat N219 bahkan diproyeksikan menjadi pesawat multifungsi yang sistem transportasinya sangat fleksibel, yaitu dapat menggunakan moda darat (airport) dan air (amphiport). Hal ini mengingat perairan antar pulau di Indonesia yang relatif tidak tenang, sehingga memerlukan pesawat amphibi yang memiliki kemampuan sea state level 3 (ketinggian ombak 1,5 meter).

Pesawat N219 menjadi pesawat perintis pertama yang memiliki bobot ringan dengan teknologi avionik modern dan berfungsi menghubungkan daerah-daerah terpencil seperti di Papua dan Sulawesi.

Saat ini pengerjaan pesawat N219 sedang dalam tahap rancang bangun, dan pengujian landing gear, dan uji statik sayap pesawat.

"Sayapnya kan mendapat beban, itu yang paling kritikal di pesawat. Kita targetkan akhir tahun ini sudah bisa terbang. Tahun depan sudah sertifikasi dan produksi di 2018," pungkasnya. (ang/ang)

  detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More