Jumat, 09 September 2016

Perusahaan Patungan RI-China Bangun Pabrik Serat Optik Pertama di ASEAN

http://images.detik.com/visual/2016/09/09/758affa1-4a0f-49d0-b538-e57fb6e246dc_169.jpg?w=500&q=90Dok. Kementerian Perindustrian

Permintaan serat optik (optical fiber) semakin meningkat seiring kebutuhan industri digital global yang terus mengikuti perkembangan teknologi terkini. Untuk itu, industri serat optik berperan penting dalam memberikan nilai tambah yang signifikan bagi sektor pendukungnya.

"Optical fiber ini untuk modernisasi jaringan operator telekomunikasi yang sebelumnya menggunakan kabel tembaga dan pengembangan jaringan ke perumahan baru," kata Dirjen Industri Logam, Mesin Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan, pada peresmian PT Yangtze Optical Fiber Indonesia (YOFI) di Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/9/2016).

Putu memberikan gambaran, untuk koneksi pita lebar (broadband) rumah tangga, saat ini terdapat 70 juta rumah tangga yang membutuhkan sambungan internet jenis fiber to the home (FTTH).

"Permintaan serat optik juga menjadi besar dengan adanya proyek Palapa Ring yang butuh hingga 36.000 km," tuturnya.

Dengan beroperasinya PT YOFI, naiknya kebutuhan kabel serat optik diharapkan dapat dipasok oleh industri dalam negeri karena selama ini masih dibanjiri produk impor. Dalam hal ini, Kementerian Perindustrian akan menerapkan aturan SNI wajib untuk seluruh produk serat optik di Indonesia.

PT YOFI merupakan perusahaan patungan antara Yangtze Optical Fibre and Cable (YOFC) asal Tiongkok dengan PT Monas Permata Persada.

"PT YOFI sebagai pabrik optical fiber pertama dan satu-satunya di Indonesia, bahkan pertama di Asia Tenggara yang mampu memenuhi 50 persen kebutuhan nasional dan regional Asia Tenggara," jelas Putu.

Kehadiran YOFI membuat tingkat komponen dalam negeri industri kabel serat optik akan melonjak drastis. Terlebih lagi adanya program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN). Program tersebut menyatakan instansi pemerintah dan BUMN wajib menggunakan produk dengan TKDN lebih dari 40%.

Sementara itu, Presiden Komisaris YOFC Jan Bongaerts mengatakan, Indonesia sebagai negara tujuan investasi dan akan menjadikan basis produksinya karena industri kabel di Tanah Air jauh lebih berkembang dibandingkan industri serupa di negara lain di ASEAN.

"Permintaan serat optik di Indonesia mencapai 8–9 juta kilometer (km) per tahun dan berpotensi naik tinggi dalam jangka waktu pendek. Namun, kapasitas produksi kami saat ini mencapai 3 juta km per tahun," paparnya.

Menurut Jan, dengan populasi Indonesia yang mencapai 250 juta penduduk, permintaan broadband untuk internet pasti terus bertumbuh. Apalagi, pemerintah tengah gencar memperluas jaringan internet hingga ke pelosok.

"Kami mengharapkan tahun depan bisa menaikkan kapasitas menjadi double hingga 6 juta km," tuturnya.

 Tambah investasi 

Bahkan, Presiden Direktur PT Monas Permata Persada Santoso meyakinkan, kapasitas pabrik PT YOFI bisa dikembangkan mencapai 12 juta km serat optik per tahun tanpa harus memperluas area produksi. Pada tahap pertama pabrik baru bisa produksi dengan kapasitas 3 juta km serat optik per tahun melalui investasi awal senilai US$ 23 juta untuk pembangunan pabrik dan US$ 7 juta untuk modal kerja.

Santoso menambahkan, PT YOFI berencana menggandakan produksinya mencapai 6 juta km serat optik per tahun pada 2017. Kapasitas produksi tersebut setara kebutuhan untuk tujuh produsen kabel serat optik di Indonesia.

"Saat ini, 100 persen masih untuk memenuhi kebutuhan di Indonesia. Kemudian naik ke 8–9 juta kilometer pada tahap ketiga dan pada tahap keempat maksimal di 12 juta km," ujar Santoso.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Harjanto, memberikan apresiasi kepada PT YOFI atas realisasi investasinya dalam upaya mengembangkan industri di Indonesia.

"Pada tahap pertama, total nilai investasi mereka sebesar US$ 30 juta. Setelah pada tahap penyelesaian pembangunan nantinya, total nilai investasi akan menjadi US$ 80 Juta dengan total kapasitas sebesar 12 juta km optical fiber," paparnya.

Harjanto berharap, akan semakin besar investasi masuk pada sektor-sektor industri strategis yang akan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional.

"Pada kuartal II tahun 2016, total nilai investasi asing di Indonesia mencapai US$ 8,01 miliar atau meningkat 49,11 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2015," ungkapnya.

Dengan telah dilaksanakannya Indonesia Business Forum di Shanghai pada tanggal 3 September 2016, Harjanto meyakinkan, minat investor dari Republik Rakyat Tiongkok akan semakin meningkat untuk berinvestasi di Indonesia pada sektor industri strategis. (hns/hns)

  detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More