Kamis, 29 September 2016

ITS Tolak Tawaran Galangan Kapal RDM Belanda

Acara penandatanganan MoU antara ITS dengan Rotterdamsche Droogdok Maatschappij terkait pengembangan Technopark, Selasa (27/9/2016).

Sewajarnya saat ujian akhir mahasiswa diwajibkan membuat proposal dan susunan skripsi ide yang mereka teliti, usai masa perkuliahan.

Ini mungkin dilakukan banyak universitas di Indonesia. Tapi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengupayakan hal baru bagi mahasiswanya.

Menurut Ketut Buda Artana, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kerjasama ITS Surabaya, pihaknya sudah merancang model baru. Tujuannya, mahasiswa tidak hanya membuat paper tapi juga memiliki produk inovasi sehingga membuka peluang usaha.

"Tingkat kesiapan tekonologi diukur dari Technology Readyness Level satu sampai sembilan. Kami punya LPPM untuk kebutuhan riset (1 sampai 6) dan untuk produk siap jual masuk technopark (7,8, dan 9). Ini di bawah badan pengelola dan pengembangan usaha ITS. Produk inovasi bisa masuk di LPPM, sementara untuk alumni yang sudah punya produk tinggal memasarkannya di Technopark," jelasnya di sela-sela acara MoU ITS - Rotterdamsche Droogdok Maatschappij (RDM) Belanda, Selasa (27/9/2016).

RDM merupakan pabrik kapal terbesar sejak sebelum Perang Dunia II. Pabrik berbasis di Rotterdam itu telah membua sekitar 355 kapal laut, 18 di antaranya kapal selam.

Mengenai techno park, Ketut Buda Artana mengatakan, ITS agaknya memiliki kesamaan dengan program Rotterdam University of Applied Sciences, yang telah memiliki jaringan dengan RDM.

Sebuah hotspot untuk inovasi di bidang maritim berkelas dunia sehingga kerjasama perguruan tinggi, industri dan pemerintah dalam bidang maritim dilaksanakan.

Kok bisa pas sekali, mereka juga memiliki program yang fokus terhadap pengembangan technopark. Ini membuat kami tertarik untuk melakukan kerjasama. Ada tiga prioritas kerjasama kita pada bidang technopark dengan mereka di antaranya maritim, otomotif dan industri kreatif. ITS juga bekerjasama dengan Kemenristekdikti. Saat ini kami merancang masterplan,” terangnya lagi.

Saat sesi MoU, Bert Hooijer, Direktur RDM sempat menawarkan pada ITS apabila ada produk terbaru, mereka bersedia meneruskan.

Tapi kami tolak, kami pikir kenapa kita harus percayakan ke mereka, sementara kita di Indonesia bisa punya tenaga yang tidak kalah profesionalnya,” kata ketut percaya diri.

Dalam acara MoU tersebut juga turut hadir 10 perusahaan yang juga bergelut di bidang maritim, sebagai bentuk support mereka atas kerjasama yang terjalin antara Indonesia dan Belanda.

MoU selama 5 tahun, isinya terkait riset, edukasi, inovasipengembangan technopark. Dalam waktu dekat dosen-dosen kami juga akan dikirim ke Belanda untuk study banding kesana,” tutup ketut.

  ★ Tribunnews  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More