Sabtu, 25 Juni 2016

Sabun Made in RI Digemari di Senegal

[dok KBRI Dakar]

Sabun buatan Indonesia ternyata menjadi produk impor yang digemari di Republik Senegal. Para pengusaha negara ini akan ke ajang tahunan Trade Expo Indonesia (TEI) 2016 di Jakarta untuk mencari peluang.

"Produk sabun ini sangat digemari di Senegal. Setiap bulannya diimpor sekitar 6-7 kontainer ukuran 40 kaki. Selain sabun juga deterjen," ujar Duta Besar RI di Dakar Mansyur Pangeran kepada detikcom, Sabtu (25/6/2016).

Dubes baru saja melakukan pertemuan dengan ketua Chambres de Commerce, d'Industrie et d'Agriculture au Senegal (Kamar Dagang, Industri dan Pertanian Senegal, red) Serign Mboup dalam upaya menjajaki peluang untuk produk Indonesia, sebagaimana kebijakan Presiden.

"Ketua Kadin Senegal merupakan salah satu pengusaha yang telah melakukan kerja sama dengan perusahaan Indonesia dan mengimpor produk sabun dan deterjen," imbuh Dubes, seraya menyebutkan merek-merek yang cukup familar di tanah air.

Pada kesempatan tersebut Dubes mengenalkan postur ekonomi Indonesia, komoditi dan produk-produk manufaktur Indonesia yang bisa diimpor Senegal, termasuk produk industri strategis PT. Dirgantara Indonesia, PT PAL, PT. INKA dan PT Pindad.

Dubes juga memanfaatkan pertemuan untuk mempromosikan TEI 2016 pada Oktober mendatang, dan apa manfaatnya bagi pengusaha Senegal.

Ketua Kadin Senegal yang membawahi 14 Kadin Provinsi di negara itu dalam tanggapannya menjanjikan akan menggalang anggotanya untuk mengunjungi TEI 2016 dan mencari peluang kerjasama bisnis dengan pengusaha Indonesia.

"Sebagian besar pengusaha Senegal telah memantau dan mengetahui potensi ekonomi Indonesia yang besar," cetus Serign Mboup.

 Tawarkan Pertambangan 

Selain dengan Ketua Kadin nasional Senegal, Dubes juga melakukan pertemuan dengan Ketua Kadin provinsi Thies, provinsi terbesar kedua di negara itu, Modou Diop.

Diop, yang juga seorang importir kendaraan dan peralatan elektronik, menyampaikan harapannya kepada Dubes agar para pengusaha Indonesia dapat melakukan investasi ke Senegal untuk mengembangkan kota Thies dan wilayah sekitarnya.

"Khususnya di bidang pertambangan, terutama tambang mineral fosfat," harap Diop.

Dubes memilih Thies sebagai titik awal roadshow karena provinsi ini merupakan pintu masuk jalur darat ke ibukota Dakar yang memiliki potensi besar di bidang pertanian, kehutanan, perikanan, industri dan pertambangan. Wilayah Thies juga merupakan salah satu zona industri yang sedang tumbuh pesat.

"Kita terus berupaya mencari peluang untuk menggenjot perdagangan Indonesia-Senegal yang baru mencapai USD 80 juta pada tahun 2015," pungkas Dubes. (hns/hns)

  detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More