Kamis, 02 Juni 2016

Jokowi Resmikan PLTMG

Terbesar di RI [Dana Aditiasari]

Presiden Joko Widodo hari ini dijadwalkan meresmikan beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) yang konstruksinya dibangun oleh PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan berlokasi di Arun, Lhokseumawe, Aceh.

Berkapasitas 184 Mega Watt (MW) menjadikan PLTMG ini sebagai yang terbesar di Indonesia.

"Untuk pembangkit listrik dengan teknologi Mesin Gas, ini adalah yang terbesar di Indonesia. Yang lain, ada di Bangkanai, Kalimantan, bentuknya PLTMG juga hanya 150 MW. Tapi belum beroperasi. Jadi sejauh ini di Indonesia, PLTMG ini yang terbesar di Indonesia," ujar Manager Proyek Adi Widyo Nugroho di lokasi proyek, Arun, Lhokseumawe, Aceh (2/6/2016).

Memakan waktu pembangunan kurang lebih 18 bulan, mesin PLTMG sebagai komponen utamanya didatangkan dari Finlandia.

"Untuk mesin, penyedia kami dari Wartsila OY dari Finlandia. Mesin produksi Wartsila termasuk yang unggul karena punya efisiensi yang tergolong tinggi. Kita juga sebelumnya pernah kerja sama dengan Wartsila untuk pembangunan Pembangkit Diesel di Timor Leste. Sehingga kami sudah tahu kualitasnya," sambung dia.

Pembangunan PLTMG sendiri dimulai sejak 31 Juni 2014 dan telah selesai pada 22 Desember 2015 atau 9 hari lebih awal dibandingkan target kontrak yang ditetapkan rampung 31 Desember 2015.

Adi mengatakan, sejak rampung pada 22 Desember 2015, PLTMG ini sudah beroperasi penuh dengan menghasilkan listrik 184 MW yang langsung bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang tersambung dengan jaringan listrik milik PLN.

Adapun proyek ini memiliki nilai kontrak pembangunan mencapai 81 juta euro ditambah Rp 321 miliar.

"Kalau dengan kurs tahun 2013, total nilai proyek sekitar Rp 1,3 triliun. Kalau dengan kurs sekarang Rp 15.500/euro, berarti sekitar Rp 1,5-1,6 triliun," pungkas dia.

 Bakal Listriki Sumatera Bagian Utara 
Pagi tadi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) yang konstruksinya dibangun oleh PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan berlokasi di Arun, Lhokseumawe, Aceh.

Pembangkit listrik ini diakui sebagai yang terbesar di Indonesia dengan kapasitas 184 Mega Watt (MW).

Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengungkapkan, PLTMG terbesar di Indonesia ini bakal melistriki Aceh, serta wilayah Sumatera bagian Utara.

"Pusat listrik yang berkapasitas 184 MW ini memasok lebih dari 50% kebutuhan daya listrik di Provinsi Aceh pada khususnya, dan untuk memperkuat sistem kelistrikan Sumatera Bagian Utara pada umumnya," ujarnya di lokasi proyek, Arun, Lhokseumawe, Aceh (2/6/2016).

Sofyan menjelaskan, ini merupakan salah satu bagian dari mendorong realisasi program pembangkit listrik 35.000 MW. Program 35.000 MW diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang telah dicanangkan pemerintah.

Ini harus diimbangi dengan pertumbuhan ketenagalistrikan dan rasio elektrifikasi, di mana dalam 5 tahun ke depan kebutuhan listrik harus tumbuh sebesar rata-rata 8,8% per tahun dengan target rasio elektrifikasi sebagaimana telah ditetapkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau "RUPTL" 2015-2024 adalah sebesar 97,4% pada akhir 2019.

"Alhamdulillah pada hari ini satu proyek Pusat Listrik yang berlokasi di Jalan Raya Medan-Banda Aceh Gate 53, Desa Meuria Paloh, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe yang ada dihadapan kita saat ini sudah beroperasi," terang dia.

Pengerjaan pembangkit dengan nilai total investasi sebesar kurang lebih Rp 1,4 triliun yang dibangun semenjak 30 Juni 2014 ini, merupakan model dari sinergi BUMN yang pada tahap konstruksinya melibatkan PT Wijaya Karya (Persero), kemudian pasokan gas untuk operasional pembangkit dilakukan oleh PT Perta Arun Gas yang merupakan anak perusahaan PT Pertamina (Persero).

"Ke depannya, tantangan PLN dalam rangka memenuhi kebutuhan listrik tentunya akan semakin berat setelah pemerintah mencanangkan program pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan 35.000 MW," kata Sofyan.

Dalam program 35.000 MW tersebut, PLN wajib membangun pembangkit sebesar 10.000 MW dan IPP/Swasta sebesar 25.000 MW. Khususnya di Pulau Sumatera, pembangunan pembangkit sebesar 8.700 MW. Komposisi PLN sebesar 1.100 MW dan IPP/Swasta sebesar 7.600 MW. Sedangkan, pembangunan transmisi sepanjang 1.900 km dengan jumlah gardu induk dengan kapasitas 32.000 MVA di 398 lokasi.

Tentunya, lanjut Sofyan, untuk mencapai realisasi investasi tersebut di Sumatera bukanlah pekerjaan yang mudah, karena sudah barang tentu mulai dari tahap perencanaan sampai dengan pelaksanaan konstruksi tidak akan terlepas dari berbagai masalah yang bisa menghadang kelangsungan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya pembebasan lahan.

Oleh karena itu, pemerintah menempatkan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan sebagai salah satu program prioritas pemerintah yang tertuang dalam program strategis nasional (PSN).

Sebagai wujud dukungan nyata dalam program strategis nasional (PSN) tersebut, Jokowi pada tanggal 8 Januari 2016 telah menandatangani Perpres Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional dan Perpres Nomor 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan, di mana Pemerintah Pusat menugaskan kepada PT PLN (Persero) dengan memberikan dukungan berupa penjaminan, percepatan perizinan dan non perizinan, penyediaan energi primer, tata ruang, penyediaan tanah, dan penyelesaian hambatan dan permasalahan, serta penyelesaian permasalahan hukum yang dihadapi. (drk/hns)

 Ciptakan Ratusan Ribu Lapangan Kerja 
Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, menyambut gembira beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Arun di Desa Meuria Paloh, Lhokseumawe, Aceh hari ini. Menurutnya, pembangkit ini berkapasitas 184 megawatt (MW) ini akan berkontribusi besar pada peningkatan perekonomian di Aceh.

"Dengan adanya ini, diharapkan Aceh tidak tergantung lagi dengan listrik dari tempat lain. Sehingga lebih banyak investor mau menanamkan investasi di Serambi Mekah ini," ujar dia ditemui di lokasi PLTMG Arun, Aceh, Kamis (2/6/2016).

Ia merincikan, beban puncak pemakaian listrik di Aceh berkisar 204,5 Mega Watt. Sebelum adanya PLTMG ini, sebagian besarnya masih mengandalkan pasokan listrik dari PLN Sumatera Utara lantaran PLN Aceh hanya bisa menghasilkan listrik sekitar 58,2 MW saja.

Padahal, Zaini mengatakan, pihaknya bersama jajaran DPRD Provinsi Aceh punya program besar menghidupkan kawasan industri Lhokseumawe.

"Kami ada Pabrik Kertas Kraft Aceh, lalu ada Pabrik Pupuk Iskandar Muda dan Pabrik Pupuk Asen. Kalau ini bisa mendapat kepastian listrik, produksinya bisa maksimal. Ini bisa menciptakan lapangan kerja hingga lebih dari 100 ribu orang," kata dia.

Dengan demikian, roda perekonomian di Aceh bisa bergerak lebih cepat dan mempercepat pertumbuhan ekonomi di kawasan ini. "Juga menciptakan dampak berantai dengan menciptakan peluang usaha dari kelompok masyarakat, sektor UMKM, Perusahaan Daerah, sampai Perusahaan Negara dan Privat Sektor (pihak swasta)," kata dia.

Zaini mengakui, jumlah listrik yang dihasilkan PLTMG ini sendiri masih kurang untuk memenuhi kebutuhan listrik Aceh. Untuk itu, ia mengharapkan, pembangunan sejumlah pembangkit baru di kawasan ini bisa dipercepat.

Ada pembangunan PLTA Peusangan dengan kapasitas mencapai 88 MW. "Dan juga pembangkit listrik geothermal di Seulawah, Aceh Besar. Kami harapkan bisa rampung sebelum tahun 2019," pungkas dia. (dna/ang)

 PLTMG Arun Langsung Bisa Listriki Aceh 
Diresmikan beroperasi mulai hari ini, listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Arun di Desa Meuria, Lhokseumawe, Aceh sudah bisa langsung dinikmati oleh masyarakat Serambi Mekah.

Manager Proyek, Adi Widyo Nugroho mengatakan, sebenarnya PLTMG ini sudah mulai beroperasi sejak Desember 2015, yang artinya sudah beroperasi penuh menghasilkan listrik selama kurang lebih 6 bulan lamanya.

"Begitu selesai tanggal 22 Desember 2015, itu (PLTMG) sudah langsung beroperasi penuh. Sudah langsung menghasilkan listrik," ujar dia di lokasi PLTMG Arun, Lhokseumawe, Kamis (2/6/2016).

Adapun kapasitas listrik yang diproduksi oleh pembangkit ini mencapai 184 MW, atau bisa memasok 50% lebih dari kebutuhan listrik di Aceh yang tercatat mencapai 204,5 MW.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) selaku kontraktor pelaksana konstruksi menggandeng perusahaan asal Finlandia, Wartsila OY selaku penyedia alias suplier mesin pembangkit tersebut. Ada kurang lebih 19 unit mesin yang ditempatkan di bangunan utama PLTMG ini yang menghasilkan kapasitas total 184 MW.

"Untuk pembangkit listrik dengan teknologi Mesin Gas, ini adalah yang terbesar di Indonesia. Yang lain, ada di Bangkanai, Kalimantan bentuknya PLTMG juga hanya 150 MW. Tapi belum beroperasi. Jadi sejauh ini di Indonesia, PLTMG ini yang terbesar di Indonesia," ujar dia.

Memakan waktu pembangunan kurang lebih 18 bulan, pekerjaan PLTMG ini dimulai sejak 31 Juni 2014 dan telah selesai pada 22 Desember 2015 atau 9 hari lebih awal dibandingkan target kontrak yang ditetapkan rampung 31 Desember 2015.

Adapun proyek ini memiliki nilai kontrak pembangunan mencapai Rp 1,3 triliun.

"Kalau dengan kurs tahun 2013, total nilai proyek sekitar Rp 1,3 triliun. Kalau dengan kurs sekarang Rp 15.500/Euro, berarti sekitar Rp 1,5-1,6 triliun," pungkas dia. (dna/feb)

  detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More