Senin, 02 Februari 2015

★ Pesawat CN-235 Pakai Mesin Buatan Bintan

CN235 MPA PT DI [planespotters]

PT Honeywell Aerospace, perusahaan komponen pesawat asal Amerika Serikat (AS) yang berlokasi di Bintan, telah menjalin kerja sama dengan perusahaan lokal di Indonesia. Perusahaan itu adalah PT Dirgantara Indonesia (Persero).

Presiden Direktur Honeywell Indonesia Alex Pollack mengatakan, pihaknya sudah cukup lama bekerja sama dengan PT DI. Honeywell menyediakan mesin turboprop TPE 331.

"Kita sudah MoU dengan PT DI untuk penyediaan mesin TPE 331," ungkapnya di Bintan, akhir pekan lalu.

Diketahui mesin ini dipergunakan sebagai penggerak utama untuk pesawat CN-235 200/220. Pollack menambahkan bahwa mesin ini berteknologi tinggi dan efisien dalam penggunaan bahan bakar.

"Pusat layanan mesin TPE 331 ada di Bandung. Ini satu-satunya di kawasan Asia Tenggara," sebutnya.

Selain itu, kata Pollack, PT DI juga menggunakan piranti avionik ARL-2002 milik Honeywell Aerospace. Masih untuk pesawat CN-235.

"Dua teknologi ini menjadi standar di beberapa pesawat terbang yang diproduksi di Indonesia," terangnya.
Ada Komponen Made in Indonesia di Pesawat Boeing dan Airbus Pabrikan pesawat kelas dunia seperti Boeing dan Airbus merupakan konsumen dari Honeywell Aerospace, perusahaan asal Amerika Serikat (AS) yang pabriknya berlokasi di Bintan, Kepulauan Riau.

"Kita bikin 15% komponen pesawat. Jadi pesawat seperti Boeing dan Airbus itu ada bagian dari Honeywell," ungkap Alex Pollack, Presiden Direktur Honeywell Indonesia, di Bintan, akhir pekan lalu.

Beberapa komponen tersebut antara lain Enhanced Ground Proximity Warning System (EGPWS), KSN (radar digital), KX155A (sistem komunikasi navigasi), dan AV850A (sistem audio). Boeing dan Airbus sudah cukup lama bekerja sama dengan Honeywell.

"Kerja sama ini sudah berlangsung lama, dan berfungsi sangat baik," imbuhnya.

Pollack menambahkan, baik Airbus maupun Boeing biasanya langsung berurusan dengan perusahaan induk di AS. Dia pun mengaku tidak mengetahui harga dari produk tersebut.

"Jadi dari ini ekspor ke AS dan dibeli sama Airbus atau Boeing. Kemudian pesawat itu dijual ke perusahaan seperti Garuda dan Lion. Barang itu pun kembali ke Indonesia," terangnya.

Pollack menyebutkan, dari total karyawan yang mencapai 200 orang hampir 90% adalah tenaga kerja asli Indonesia. Sehingga layak disebutkan bahwa produk yang dihasilkan adalah buatan Indonesia.

"Ada banyak karya teknologi dalam produk ini. Saya menyebutkan bahwa produk ini adalah made in Indonesia," tukasnya.(mkl/hds)

  ♞ detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More