Senin, 02 Februari 2015

Kapten AirAsia Tinggalkan Kursi, Telat Selamatkan Pesawat

Musibah AirAsia QZ8501 Media AS melansir laporan, bahwa kapten pilot AirAsia meninggalkan tempat duduknya dan terlambat menyelamatkan pesawat. Foto Ilustrasi-Sindonews.

Beberapa media Amerika Serikat (AS) merilis laporan yang menyebut kapten pilot AirAsia QZ8501 meninggalkan tempat duduknya sebelum pesawat kehilangan kendali. Kapten pilot itu juga disebut terlambat untuk menyelamatkan pesawat saat kembali ke tempat duduknya.

Laporan dua media AS, Bloomberg dan Reuters, mengutip dua sumber yang dekat dengan investigasi tragedi AirAsia QZ8501. Pesawat ini jatuh pada 28 Desember 2014 dan menewaskan 162 orang di dalamnya.

Menurut pemberitaan Reuters, pesawat tipe Airbus A320 itu sepekan sebelum tragedi telah mengalami gangguan pada pengendali komputer yang penting. Beberapa hari sebelum kecelakaan, pilot juga menerbangkan pesawat yang sama meski alat yang bernama Flight Augmentation Computer (FAC) rusak.

Sebelum pesawat QZ8501 kehilangan kendali dan jatuh ke Laut Jawa, pilot berusaha mereset sistem itu. Pilot menarik tombol circuit-breaker untuk memutus listriknya.

Masih menurut laporan Reuters, yang dilansir Sabtu (31/1/2015), beberapa pejabat yang mengawasi investigasi kecelakaan ini, mengatakan, bahwa orang yang melakukan prosedur terhadap sistem itu adalah Kapten Iriyanto, bukan co-pilot Remy Plesel asal Prancis yang saat kejadian sedang menerbangkan pesawat.

Langkah pemutusan listrik pada alat itu tidak lantas membuat pesawat jatuh. Namun, akan mematikan sistem perlindungan otomatis yang mencegah pilot menerbangkan pesawat melewati batas kemampuannya. Alhasil, co-pilot yang kurang berpengalaman menerbangkan pesawat itu secara manual.

Keputusan untuk memutus listrik pada FAC dianggap langkah tidak biasa. ”Anda dapat mengatur ulang FAC, tetapi untuk memutus listrik itu sangat luar biasa,” kata seorang pilot pesawat A320, yang menolak untuk diidentifikasi.

”Anda tidak boleh menarik tombol circuit dan memutus listrik kecuali pada keadaan darurat yang mutlak. Saya tidak tahu apakah saat itu terjadi hal ini (keadaan darurat), tapi ini sangat tidak biasa,” lanjut pilot itu.

Sementara itu, Tatang Kurniadi, Ketua KNKT Indonesia, kepada Reuters, membantah jika kapten pilot itu terlambat untuk mengendalikan pesawat. Namun, Tatang menolak berkomentar lebih lanjut.

Sedangkan pihak Airbus menolak berkomentar.

  ✈️ Sindonews  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More