Minggu, 08 Februari 2015

Jokowi Diminta Kembangkan Mobil Listrik Nasional

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemarin menyaksikan kerjasama pengembangan mobil nasional antara perusahaan asal Indonesia PT Adiperkasa Citra Lestari dan perusahaan asal Malaysia, Proton Holdings Berhad.

Jokowi juga diminta memperhatikan pengembangan proses mobil listrik nasional yang sudah lama dikembangkan tapi tidak dapat dukungan pemerintah.

Pasalnya, masa depan dunia otomotif diprediksi menggunakan tenaga listrik daripada bahan bakar minyak (BBM). Insinyur-insinyut Indonesia juga sudah lama mengembangkan mobil listrik daripada negara-negara Asia Tenggara.

"Kita sudah kembangkan mobil listrik, sekarang masuk ke tahap sertifikasi. Kalau dikembangkan pasarnya ada. Kalau mobil nasional pasti akan bersaing keras dengan industri otomotif yang sudah eksis," Kata pencipta mobil listrik dalam negeri, Dasep Ahmadi kepada detikFinance, Sabtu (7/2/2015).

Lanjut Dasep, Indonesia bisa menjadi pionir dalam memproduksi mobil listrik di kawasan ASEAN jika ada pengembangan yang serius. Apalagi Indonesia memiliki pasar yang besar.

Meski para insinyur RI telah mampu mengembangkan berbagai purwarupa atau prototype mobil listrik nasional, perhatian pemerintah masih minim. Padahal mobil listrik akan menjadi solusi kendaraan masa depan yang irit dan ramah lingkungan.

"Saya lihat pemerintah kurang aktif. Harusnya pemerintah jemput bola," jelasnya.

Meskipun Indonesia memiliki keunggulan di bidang engineering mobil daripada Malaysia. Cuma Malaysia lebih unggul dari sisi regulasi. Artinya pemerintah Malaysia sangat mendukung industri lokal di dalam mengembangkan dan memproduksi mobil nasional.

"Seharusnya Pak Jokowi berdayakan pengusaha lokal. Kita akui Malaysia pintar bagaimana berdayakan pengusaha lokal dan bagaimana negosiasi dengan perusahaan prinsipal luar," sebutnya.
Pencipta Mobil Listrik RI Heran Jokowi Gandeng Malaysia Kembangkan Mobnas Pencipta mobil listrik dalam negeri, Dasep Ahmadi, mengaku heran atas kerjasama pengembangan mobil listrik nasional antara perusahaan Indonesia dengan perusahaan otomotif Malaysia, Proton Holdings Berhad.

Keheranan muncul karena industri otomotif RI memiliki kemampuan memproduksi dan mengembangkan mobil, yakni kendaraan listrik dan BBM. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyaksikan langsung penandatanganan kerjasama kedua perusahaan.

"Saya heran sama Pak Jokowi, kenapa kita menggandeng Malaysia. Padahal kita memiliki kemampuan. Seolah pemerintah tidak melihat potensi nasional di dalam negeri," kata Dasep kepada detikFinance, Sabtu (7/2/2015).

Lanjut Dasep, industri otomotif nasional hanya membutuhkan dukungan pemerintah. Secara kemampuan teknis, industri otomotif RI jauh lebih unggul dari Malaysia.

"Cuma Malaysia pintar karena bisa berdayakan pengusaha lokalnya. Terus mereka pintar bagaimana negosiasi dengan perusahaan prinsipal luar. Kalau urusan insinyur pencipta mesin dan kendaraan, kita unggul," jelasnya.

Untuk mobil listrik, Dasep bersama pencipta mobil listrik nasional lainnya telah mengembangkan berbagai tipe purwarupa atau prototype mobil listrik. Saat ini, mobil listrik telah masuk tahap sertifikasi. Meski masuk mobil masa depan, Dasep mengaku pemerintah periode Presiden Jokowi kurang menaruh perhatian.

"Sekarang masuk uji sertifikasi. Tapi saya lihat pemerintah kurang aktif. Harusnya pemerintah jemput bola," jelasnya.

Dasep mengingatkan Presiden Jokowi untuk berhati-hati di dalam kerjasama pengembangan proyek mobil nasional bersama produsen luar negeri. Alasannya Indonesia pernah memiliki pengalaman kurang baik saat periode Presiden Soeharto.

Kala itu, Indonesia menggandeng perusahaan otomotif asal Korea Selatan untuk mengembangkan dan memproduksi mobil nasional bernama Timor. Kini proyek mobil nasional tidak berwujud karena pengembangan mobil nasional dikelola oleh broker atau bukan pelaku industri otomotif.

"Bukan tiba-tiba langsung kerjasama dengan Malaysia. Memang zaman Pak Harto mengembangkan Timor. Dulu dengan KIA," ujarnya.(feb/ang)

  ⚓️ detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More