Kamis, 30 Oktober 2014

Cerita Tegangnya Rapat dengan Menteri Susi

Dan Emosi Sindir Malaysia//images.detik.com/content/2014/10/30/4/susidalam.jpgSetelah sejak Senin awal pekan ini dilantik menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti langsung ngebut kerja. Wanita berlatar belakang pengusaha ini bersikap tegas dalam setiap rapat di kementeriannya.

Kemarin, sejumlah kegiatan rapat yang dilakukan Susi bersama pimpinan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berlangsung menarik. Susi tidak segan mencecar soal bisnis di sektor kelautan dan perikanan.

Wanita ini juga terlihat lincah dan melakukan sejumlah aktivitas di kementeriannya. Mari kita ikuti hal menarik saat rapat Susi di kementeriannya kemarin, seperti dirangkum, Kamis (30/10/2014).
1. Ketegasan Susi Bikin Rapat Menegangkan
//images.detik.com/content/2014/10/30/4/105448_susilagi.jpgSusi mempertanyakan pendapatan kapal 30 gross ton (GT) di Indonesia yang hanya Rp 300 miliar/tahun. Kapal ukuran 30 GT di Indonesia jumlahnya hampir mencapai 5.000 unit, sehingga jika dirata-ratakan, pendapatan hanya Rp 60 juta/tahun.

Susi yang rapat dengan Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Gellwyn Yusuf dan Sekjen KKP Syarief Widjaja menilai angka Rp 300 miliar sangat minim. Dengan nada sedikit tinggi, Susi banyak mengeluarkan komentar bernada sindiran.

"Kalau hanya dapat Rp 300 miliar dari sektor perikanan untuk kapal di atas 30 GT, kita minta dinaikkan pendapatannya," ungkap Susi.

Ungkapan Susi lantas membuat rapat saat itu menjadi tegang. Semua peserta rapat hanya duduk diam mendengar Susi berargumentasi.

Susi melanjutkan, kapal 30 GT masih diberikan hak untuk menggunakan solar subsidi. Menurut Susi, dengan penggunaan solar subsidi 1,5-2 ton per hari, sedangkan pendapatan hanya Rp 300 miliar per tahun, negara bisa dibilang rugi.

"Ini orang ambil harta karun kita. Bagaimana tanggung jawab ke anak cucu kita? Luar biasa," tegasnya.

Susi menilai penggunaan solar subsidi kapal 30 GT sebesar 1,5-2 ton per hari boros. Apalagi jumlah tangkapan ikan per kapal hanya Rp 60 juta per tahun. Di sini Susi mengatakan perlunya pola pikir seperti pengusaha.

"Semua harus dihitung ke business case. Kalau tidak masuk (tidak menguntungkan), cari ke bisnis lain," tuturnya.

Ia meminta khusus kepada Dirjen Perikanan Tangkap Gellwyn Yusuf bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya. Ia ingin pendapatan hasil tangkap ikan dari kapal 30 GT dinaikan hingga Rp 6 triliun per tahun.

"Kita minta Rp 5-6 triliun. Wajar tidak? Kok diam? Setuju tidak?" tegas Susi.

"Setuju!" balas para peserta rapat.
2. Sindir Malaysia Klaim Ikan Indonesia
//images.detik.com/content/2014/10/30/4/105529_susirapat.jpgDalam rapat dengan sejumlah pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan kemarin, Susi meluapkan emosinya soal klaim Malaysia terhadap ikan Indonesia. Rapat ini juga diikuti puluhan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Ditjen Perikanan Tangkap KKP.

Emosi Susi meletup saat mengungkapkan spesies ikan mahal di Uni Eropa yang diklaim sebagai milik Malaysia. Padahal ikan tersebut hidup di perairan Indonesia.

"Ada ikan jenis black tiger yang saya beli di supermarket Eropa, ternyata disebut itu dari Malaysia. Di sana terpampang fifty seven zone (zona 57). Memangnya Malaysia punya zona pulau?" tegas Susi.

Susi yang ahli navigasi koordinat kewilayahan ini mengungkapkan, zona 57 adalah Samudera Hindia, artinya ada di wilayah Indonesia.

"Dia (Malaysia) itu declare dan di-packaging. Ikannya besar tetapi produk Malaysia. Wong gendeng (orang gila), itu pulau jadi-jadian. Ini maling tetapi berani terang-terangan. Ini saya temukan di supermarket Eropa. Zone 57 itu Indian Ocean (Samudra Hindia)," papar Susi.

Lebih lanjut Susi menjelaskan, harga ikan tersebut cukup mahal dan Malaysia yang mendapatkan nilai tambah. Dia juga mengungkapkan kasus serupa terjadi antara Indonesia dengan Thailand.

"Laut kita luasnya 15 kali luas laut Thailand, tetapi hasil lautnya hanya 1/5 Thailand. Itu gila," kata Susi dengan nada marah.
3. Sidak 5 Menit yang Bikin Panik
Kemarin sore, Susi Pudjiastuti menggelar inspeksi mendadak (sidak). Inspeksi dilakukan Susi di Gedung Mina Bahari II, tempat operasional Ditjen Perikanan Tangkap.

Sidak cukup cepat, hanya 5 menit. Susi melihat-lihat ruang kerja Ditjen Perikanan Tangkap.

"Saya tidak masalah kerja sampai malam, biasanya saya kerja sampai jam 11 malam," kata Susi.

Ditemani Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Syarief Widjaja dan Dirjen Perikanan Tangkap Gellwyn Yusuf, sidak Susi sempat membuat panik petugas keamanan gedung KKP.

"Tolong koordinasi lapangan, Bu Menteri sidak," kata salah satu petugas sambil berlari.

Puluhan PNS di Gedung Mina Bahari II juga kaget melihat aksi gesit sang menteri. Mereka bahkan melihat langsung aktivitas Susi yang mengecek seluruh ruang kerja Ditjen Perikanan Tangkap.

"Pak Dirjen (Gellwyn Yusuf) dapat predikat kepatuhan tetapi pendapatannya harus diperbesar ya," kata Susi.

Di tempat ini, Susi juga mempunyai permintaan khusus kepada Gellwyn Yusuf. "Saya minta data hari Senin, kapal milik siapa dan berapa izinnya," sebut Susi.
Di Depan Seratusan Pengusaha, Ini Pernyataan Susi Soal Nelayan
//images.detik.com/content/2014/10/30/4/susikadin.jpgPagi ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan pertemuan dengan seratusan pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Pertemuan yang berlangsung di kantor Kadin pukul 09.45 WIB. Pengusaha anggota Kadin yang hadir dipimpin oleh Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto dan Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto.

Dari pantauan detikFinance di Menara Kadin, Jalan Rasuna Said, Kamis (30/10/2014), ruangan pertemuan penuh dengan seratusan anggota Kadin.

Susi pada pertemuan tersebut mengungkapkan soal rencananya mengubah pola pikir kementerian yang dipimpinnya.

"Saya menghargai pertemuan pagi ini. Satu hal saya ingin mengubah mindset (pola pikir) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai pembuat kebijakan dan regulator, tidak hanya membuat program membantu nelayan, tapi membuat kebijakan yang mengandung sense of business," tutur Susi.

Pertemuan tersebut masih berlangsung sampai saat ini. Memang pertemuan ini khusus membahas rencana-rencana Susi di sektor kelautan dan perikanan.(dnl/ang)


  ★ detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More