Rabu, 06 April 2016

Badak Sumatera di Kutai Barat dalam Kondisi Terancam

imageKementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperkirakan masih terdapat 14 badak Sumatera di Kutai Barat, Kalimantan Timur, yang membutuhkan perlindungan. (ANTARA FOTO/Sugeng Hendratno) ★

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperkirakan masih terdapat 14 badak Sumatera di Kutai Barat, Kalimantan Timur, yang membutuhkan perlindungan segera. Meski dilaporkan sehat, kondisi ke-14 badak terancam dengan rusaknya habitat mereka.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Bambang Dahono Adji mengatakan ke-14 badak tersebut terpencar di bagian hutan sebelah utara dan selatan Kutai Barat.

"Sebanyak 12 ditemukan di wilayah utara dan 2 lainnya di wilayah selatan," kata Bambang di Jakarta, Rabu (5/4).

Bambang mengatakan meski dilaporkan sehat kondisi ke-14 badak Sumatera tersebut sangat terancam. Hal itu disebabkan rusaknya habitat di sekitar mereka dengan adanya pertambangan serta Hutan Tanaman Industri (HTI).

"Untuk badak yang tersisa di Kutai Barat itu memang harus segera diamankan karena kiri kanannya jadi lahan tambang, HTI dan Kavling," kata Bambang.

Untuk menyelamatkan satwa tersebut, Bambang mengatakan telah menbentuk Rhino Protection Unit (RPU) yang terdiri dari 7 orang. Mereka mewakili masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerintah daerah (Badan Konservasi Sumber Daya Alam).

Selain itu, pemerintah juga telah meminta bantuan dokter ahli dari Singapura dan Australia untuk membantu proses karantina badak tersebut.

"Saya sudah mengirimkan surat kepada bea cukai untuk meloloskan perlengkapan apapun yang dibutuhkan demi proses karantina," kata Bambang.

Pemerintah, ujarnya, juga akan menargetkan selesainya suaka Badak (sanctuary) seluas 200 hektar di wilayah Kutai Barat pada Mei tahun ini. Selama ini, pemerintah telah memiliki dua tempat suaka badak yakni di Ujung Kulon dan Way Kambas.

Sementara itu, Widodo S Ramono dari Yayasan Badak Indonesia (YABI) mengatakan tim RPU pada dasarnya bekerja untuk berpatroli di seluruh kawasan dan mempertanggungjawabkan hasil tersebut.

Tak hanya itu, ujarnya, tim juga akan mencatat data di lapangan dari hasil Patroli Tapak Badak untuk mengetahui pasti lokasi beradanya badak.

"Kami juga akan mencatat pelanggaran yang dilakukan masyarakat terhadap satwa dilindungi untuk kemudian dilaporkan ke aparat penegak hukum," kata Widodo.

Widodo menjelaskan di Kutai Barat masyarakatnya terbiasa melakukan penjeratan terhadap satwa dilindungi seperti badak.

"Menjerat badak menjadi bagian hidup di sana," kata Widodo.

Oleh karena itu, dia mengatakan kondisi badak sudah sangat terancam dan satu satunya jalan adalah menyelamatkannya. Adapun, Anwar Purwoto, Direktur WWF Sumatera-Kalimantan mengatakan proses penyelamatan badak tidak bisa dalam waktu singkat.

"Prosesnya lama, ada identifikasi jalur dulu, tidak serta merta lihat badak di kamera lalu ditangkap."

Anwar menjelaskan untuk metode penyelamatan yang digunakan tim RPU di Kutai adalah pit trap atau lubang jebakan, alih-alih bius. Hal itu disebabkan pit trap dinilai lebih aman daripada menggunakan bius yang belum tentu langsung membuat ambruk badak.

"Kalau dibius dan tidak langsung ambruk justru malah lebih berbahaya bagi badak itu. Kalau pit trip badak akan jatuh di atas kasur," katanya menjelaskan.

Sebelumnya, seekor badak betina Sumatera di Kutai Barat, meninggal setelah mengalami koma pada Selasa (5/4) dini hari. Najaq, nama badak tersebut, diduga meninggal akibat luka infeksi pada kaki kirinya.

Kematian Najaq dinilai kehilangan besar oleh pemerintah dan LSM lingkungan hidup. Sebabnya, populasi badak Sumatera di Indonesia diperkirakan hanya mencapai 100 yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. (yul)

  CNN  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More